• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Estimasi dan Pembahasan

Hasil Uji Stasioneritas dengan menggunakan Uji Augmented Dickey-Fuller (ADF) disajikan dalam Tabel 4.1.

Tabel 4. 1

Hasil Pengujian Unit Root Test

Data Tingkat t-statistik Probabilitas Stasioner

PUAB Level -3,28836 0,0221 Stasioner

Deposito Level -4,3157 0,0015 Stasioner

Kredit

Level 1,264223 0,998 Tidak Stasioner

First Difference -1,90811 0,3249 Tidak Stasioner

Second Difference -2,96736 0,048 Stasioner

IHSG

Level -1,12823 0,6952 Tidak Stasioner

First Difference -4,06567 0,003 Stasioner

Investasi

Level 0,246127 0,972 Tidak Stasioner

First Difference -10,1317 0,000 Stasioner

GDP

Level 0,642831 0,989 Tidak Stasioner

First Difference -1,82521 0,3628 Tidak Stasioner

Second Difference -57,3915 0,0001 Stasioner

Inflasi Level -6,0021 0,000 Stasioner

Sumber: Lampiran B, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis), 2016

Model yang digunakan dalam Uji ADF adalah random walk. Hasil

pengujian tersebut menunjukkan bahwa pada tingkat level hanya variabel PUAB,

suku bunga deposito berjangka dan inflasi yang stasioner, variabel IHSG stasioner

second difference. Setelah melakukan uji stasioner, tahap selanjutnya adalah melakukan uji kointegrasi. Uji kointegrasi ini menggunakan metode Johansen’s Cointegration Test. Dalam Uji Johansen ini didapatkan nilai trace statistic dan maximum eigen value lebih kecil daripada critical value dengan tingkat kepercayaan sebesar 5%.

Tabel 4. 2

Hasil Pengujian kointegrasi (Johansen’s Cointegration Test) Jalur Suku Bunga Unrestricted Cointegration Rank Test (Trace)

HO Trace stat Critical Value = 0,05 Prob Hasil

CE=0 93,65594 69,81889 0,0002 Tolak H0

Unrestricted Cointegration Rank Test (Maximum Eigenvalue)

HO Max eigen stat Critical Value = 0,05 Prob Hasil

CE=0 39,91652 33,87687 0,0084 Tolak H0

Sumber: Lampiran C, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis), 2016

Tabel 4. 3

Hasil Pengujian kointegrasi ( Johansen’s Cointegration Test ) Jalur Kredit Unrestricted Cointegration Rank Test (Trace)

HO

Trace stat Critical Value = 0,05 Prob Hasil

CE=0 77,30073 69,81889 0,0112 Tolak H0

Unrestricted Cointegration Rank Test (Maximum Eigenvalue) HO Max eigen stat Critical Value = 0,05 Prob Hasil

CE=0 31,88414 33,87687 0,0848

H0 Tidak Ditolak

Sumber: Lampiran C, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis), 2016

Tabel 4. 4

Hasil Pengujian kointegrasi ( Johansen’s Cointegration Test ) Jalur Harga Aset Unrestricted Cointegration Rank Test (Trace)

HO

Trace stat Critical Value = 0,05 Prob Hasil

CE=0 80,45719 69,81889 0,0056 Tolak H0

Unrestricted Cointegration Rank Test (Maximum Eigenvalue)

HO Max eigen stat Critical Value = 0,05 Prob Hasil

CE=0 34,86699 33,87687 0,038 Tolak H0

Sumber: Lampiran C, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis), 2016

Uji Kausalitas Granger digunakan untuk mengetahui hubungan kausalitas antar variabel penelitian yang terbagi menjadi 3 jalur transmisi yakni jalur suku bunga, jalur kredit dan jalur harga aset. Untuk melakukan Uji Kausalitas Granger, panjang lag optimal perlu ditentukan. Kriteria penentuan panjang lag yang digunakan adalah Akaike Information Criterion (AIC), yaitu model terbaik adalah model yang memiliki nilai AIC terendah. Sesuai dengan kriteria tersebut, panjang lag yang digunakan adalah tiga.

Tabel 4. 5

Hasil Pengujian Kausalitas Granger pada Jalur Suku Bunga

Null Hypothesis F Statistik Prob Hasil Uji Hubungan Kausalitas

PUAB does not Granger Cause DEPOSITO 0,90736 0,4131 H0 tidak ditolak Tidak ada hubungan kausalitas antara PUAB

dan deposito berjangka DEPOSITO does not Granger Cause PUAB 0,11526 0,8915 H0 tidak ditolak

DEPOSITO does not Granger Cause

DINVESTASI 0,51739 0,6008 H0 tidak ditolak Tidak ada hubungan

kausalitas antara deposito berjangka dan investasi DINVESTASI does not Granger Cause

DEPOSITO 0,94898 0,3974 H0 tidak ditolak

DINVESTASI does not Granger Cause

DGDP 16,4776 1,00E-05 H0 ditolak Terdapat hubungan

kausalitas dua arah antara GDP dan investasi DGDP does not Granger Cause

DINVESTASI 12,3734 0,0001 H0 ditolak

DGDP does not Granger Cause INFLASI 5,0153 0,0127 H0 ditolak Terdapat hubungan kausalitas satu arah antara

GDP dan Inflasi INFLASI does not Granger Cause DGDP 2,22878 0,1241 H0 tidak ditolak

INFLASI does not Granger Cause PUAB 1,31358 0,2822 H0 tidak ditolak Terdapat hubungan kausalitas satu arah antara

PUAB dan inflasi PUAB does not Granger Cause INFLASI 3,12576 0,0567 H0 ditolak

Keterangan : Distribusi F-tabel untuk α = 0,05 adalah sebesar 2.63

Sumber: Lampiran D, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis), 2016

Hasil pengujian kausalitas granger disajikan dalam Tabel 4.5 menunjukkan

bahwa pada jalur suku bunga, tidak semua variabel yang digunakan memiliki

hubungan kausalitas. Variabel yang memiliki hubungan kausalitas dua arah hanya

yang lebih kecil dibandingkan dengan nilai F-tabel pada tingkat signifikansi 5%.

Dengan begitu maka hipotesis nul tidak adanya hubungan kausalitas antara variabel investai dan GDP ditolak, namun pada variabel lainnya hipotesis nul tidak dapat ditolak. Perlu diingat bahwa adanya segmentasi di pasar uang antarbank membuat suku bunga PUAB tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan permintaan dan penawaran di pasar. Akan tetapi terus berlanjutnya reformasi keuangan dan perbankan diharapkan akan mengurangi segmentasi pasar tersebut.

Tabel 4. 6

Hasil Pengujian Kausalitas Granger pada Jalur Kredit

Null Hypothesis F Statistik Prob Hasil Uji Hubungan Kausalitas

PUAB does not Granger Cause DKREDIT 1,23385 0,3047 H0 tidak ditolak Terdapat hubungan kausalitas satu arah antara

kredit dan PUAB DKREDIT does not Granger Cause PUAB 8,4015 0,0012 H0 ditolak

DKREDIT does not Granger Cause

DINVESTASI 4,36003 0,0212 H0 ditolak Terdapat hubungan

kausalitas dua arah antara kredit dan investasi DINVESTASI does not Granger Cause

DKREDIT 16,8295 1,00E-05 H0 ditolak

DINVESTASI does not Granger Cause

DGDP 16,4776 1,00E-05 H0 ditolak Terdapat hubungan

kausalitas dua arah antara GDP dan investasi DGDP does not Granger Cause

DINVESTASI 12,3734 0,0001 H0 ditolak

DGDP does not Granger Cause INFLASI 5,0153 0,0127 H0 ditolak Terdapat hubungan kausalitas satu arah antara

GDP dan Inflasi INFLASI does not Granger Cause DGDP 2,22878 0,1241 H0 tidak ditolak

INFLASI does not Granger Cause PUAB 1,31358 0,2822 H0 tidak ditolak Terdapat hubungan kausalitas satu arah antara

PUAB dan inflasi PUAB does not Granger Cause INFLASI 3,12576 0,0567 H0 ditolak

Keterangan : Distribusi F-tabel untuk α = 0,05 adalah sebesar 2.63 Sumber: Lampiran D, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis), 2016

Hasil pengujian kausalitas granger disajikan dalam Tabel 4.6 menunjukkan bahwa pada jalur kredit tidak semua variabel memiliki hubungan kausalitas.

Variabel yang memiliki hubungan kausalitas dua arah terjadi pada variabel

ditunjukkan dengan nilai F statistik yang lebih kecil dibandingkan dengan nilai F-tabel pada tingkat signifikansi 5%. Dengan begitu maka hipotesis nul tidak adanya hubungan kausalitas antara variabel investasi dan kredit perbankan serta variabel investasi dan GDP ditolak, namun pada variabel lainnya hipotesis nul tidak dapat ditolak.

Tabel 4. 7

Hasil Pengujian Kausalitas Granger pada Jalur Harga Aset

Null Hypothesis F Statistik Prob Hasil Uji Hubungan Kausalitas

PUAB does not Granger Cause DIHSG 3,32049 0,0485 H0 ditolak Terdapat hubungan kausalitas dua arah antara IHSG dan

PUAB DIHSG does not Granger Cause PUAB 5,03373 0,0124 H0 ditolak

DIHSG does not Granger Cause

DINVESTASI 3,75814 0,0339 H0 ditolak Terdapat hubungan kausalitas

satu arah antara IHSG dan investasi

DINVESTASI does not Granger Cause

DIHSG 0,86387 4,31E-01 H0 tidak ditolak

DINVESTASI does not Granger Cause

DGDP 16,4776 1,00E-05 H0 ditolak Terdapat hubungan kausalitas

dua arah antara GDP dan investasi DGDP does not Granger Cause

DINVESTASI 12,3734 0,0001 H0 ditolak

DGDP does not Granger Cause INFLASI 5,0153 0,0127 H0 ditolak Terdapat hubungan kausalitas satu arah antara GDP dan

Inflasi INFLASI does not Granger Cause DGDP 2,22878 0,1241 H0 tidak ditolak

INFLASI does not Granger Cause PUAB 1,31358 0,2822 H0 tidak ditolak Terdapat hubungan kausalitas satu arah antara PUAB dan

inflasi PUAB does not Granger Cause INFLASI 3,12576 0,0567 H0 ditolak

Keterangan : Distribusi F-tabel untuk α = 0,05 adalah sebesar 2.63 Sumber: Lampiran D, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis), 2016

Hasil pengujian kausalitas granger disajikan dalam Tabel 4.7 menunjukkan bahwa pada jalur harga aset tidak semua variabel memiliki hubungan kausalitas.

Variabel yang memiliki hubungan kausalitas dua arah terjadi pada variabel PUAB

dan IHSG serta variabel investasi dan GDP. Hal ini ditunjukkan dengan nilai F

statistik yang lebih kecil dibandingkan dengan nilai F-tabel pada tingkat

kausalitas antara variabel PUAB dan IHSG serta variabel investasi dan GDP ditolak, namun pada variabel lainnya hipotesis nul tidak dapat ditolak.

Berdasarkan hasil uji kausalitas granger maka dapat disimpulkan pada ketiga jalur transmisi kebijakan moneter, sebagai berikut:

4.2.3 Analisis Vector Autoregressive (VAR)

VAR digunakan untuk mengetahui respon masing-masing variabel yang digunakan dari ketiga jalur transmisi kebijakan moneter. Hasil estimasi VAR akan disajikan beserta uji – uji yang relevan ( Penentuan Lag Optimal, Uji Stabilitas Data, Uji Stasioneritas, Uji Penyimpangan Asumsi Klasik, Impulse Response Function, dan Variance Decomposition).

Dalam analisis VAR, perlu terlebih dahulu ditentukan panjang lag optimalnya, karena analisis VAR sangat sensitif terhadap panjang lag data yang digunakan. Lag yang terlalu sedikit maka residual dari regresi tidak akan

GDP

Inflasi Investasi Suku Bunga

Deposito Kredit Perbankan

IHSG Suku Bunga

PUAB

error secara tepat. Akibatnya standar kesalahan tidak diestimasi secara baik.

Namun jika memasukkan terlalu banyak lag maka akan dapat mengurangi kemampuan untuk menolak hipotesis nul karena tambahan parameter yang terlalu banyak akan mengurangi degress of freedom (Gujarati, 2013). Penentuan panjang lag optimalnya dapat dilihat dari nilai Akaike Information Criteria (AIC) yang paling rendah. Berdasarkan dari hasil kriteria AIC, panjang lag yang digunakan adalah tiga.

Tabel 4. 8 Uji Lag Optimal

Suku Bunga Kredit Harga Aset

Lag AIC Lag AIC Lag AIC

0 69,03279 0 78,72433 0 80,28300

1 62,98314 1 70,74690 1 74,87863

2 61,95812 2 70,70606 2 74,95219

3 61,14862* 3 68,81411* 3 73,89853*

Sumber: Lampiran E, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis),2016

Sebelum hasil VAR diintepretasi, uji stabilitas harus terlebih dahulu dilakukan. Uji stabilitas penting untuk dilakukan karena akan menentukan valid tidaknya Impulse Response Function (IRF) dan Variance Decomposition (VD).

Bila model VAR dalam kondisi tidak stabil maka analisis IRF dan VD menjadi

tidak valid.

Uji Stabilitas Jalur Suku Bunga

-1.5 -1.0 -0.5 0.0 0.5 1.0 1.5

-1.5 -1.0 -0.5 0.0 0.5 1.0 1.5

Inverse Roots of AR Characteristic Polynomial

Sumber: Lampiran F, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis),2016

Gambar 4. 9

Uji Stabilitas Jalur Kredit

-1.5 -1.0 -0.5 0.0 0.5 1.0 1.5

-1.5 -1.0 -0.5 0.0 0.5 1.0 1.5

Inverse Roots of AR Characteristic Polynomial

Sumber: Lampiran F, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis),2016

Uji Stabilitas Jalur Harga Aset

-1.5 -1.0 -0.5 0.0 0.5 1.0 1.5

-1.5 -1.0 -0.5 0.0 0.5 1.0 1.5

Inverse Roots of AR Characteristic Polynomial

Sumber: Lampiran F, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis),2016

Sebelum masuk pada tahapan analisis berikutnya, hasil estimasi sistem persamaan VAR yang telah terbentuk perlu diuji stabilitasnya melalui VAR stability condition check yang berupa roots of characterictic polynomial terhadap seluruh variabel yang digunakan. Berdasarkan hasil uji stabilitas pada penelitian ini, data yang digunakan dalam estimasi VAR dalam kondisi stabil. Hal ini diperkuat dengan hasil Inverse Roots of AR Characteritic Polynomial yang semua titik berada dalam lingkaran.

Berdasarkan pengujian melalui metode VAR yang dibagi menjadi 3 jalur transmisi kebijakan moneter, didapatkan hasil sebagai berikut.

Tabel 4. 9

Hasil Pengujian Vector Autoregressive (VAR) pada Jalur Suku Bunga

Variabel t-statistik

PUAB DEPOSITO DINVESTASI DGDP Inflasi

PUAB(-1) [-0,19436] [ 0,40816] [ 1,85357] [-2,22013] [ 0,57735]

PUAB(-2) [ 1,80321] [-0,53067] [-1,28838] [ 0,11707] [ 2,04262]

PUAB(-3) [-0,05737] [-0,71738] [-1,09264] [ 1,95069] [ 1,84749]

Keterangan : signifikan pada α = 0.05 dengan t-tabel sebesar 1.68830

bunga dengan menggunakan dasar lag tiga, variabel suku bunga PUAB dapat mempengaruhi GDP dan inflasi. Hal tersebut dikarenakan nilai t-statistik lebih besar dibandingkan dengan t-tabel yaitu, GDP (1,95069), inflasi (1,84749).

Sementara itu, variabel suku bungaa PUAB tidak dapat mempengaruhi variabel suku bunga PUAB itu sendiri, suku bunga deposito, dan investasi. Hal tersebut dikarenakan nilai t-statistik lebih kecil dibandingkan dengan t-tabel yaitu, PUAB (-0,05737), Deposito (-0,71738), investasi (-1,90264).

Tabel 4. 10

Hasil Pengujian Vector Autoregressive (VAR) pada Jalur Kredit

Variabel t-statistik

PUAB DKREDIT DINVESTASI DGDP Inflasi

PUAB(-1) [ 1,79476] [-0,10863] [ 2,00494] [-0,87144] [ 0,46804]

PUAB(-2) [ 1,43495] [ 1,14652] [-0,62546] [-0,35327] [ 2,18230]

PUAB(-3) [-0,56252] [ 0,66758] [-0,71143] [ 1,98349] [ 2,20320]

Keterangan : signifikan pada α = 0.05 dengan t-tabel sebesar 1.68830

Berdasarkan tabel 4.10 dapat diketahui bahwa pada transmisi jalur kredit dengan menggunakan dasar lag tiga, variabel suku bunga PUAB dapat mempengaruhi GDP dan inflasi. Hal tersebut dikarenakan nilai t-statistik lebih besar dibandingkan dengan t-tabel yaitu, GDP (1,98349), inflasi (2,20320).

Sementara itu, variabel suku bungaa PUAB tidak dapat mempengaruhi variabel

suku bunga PUAB itu sendiri, kredit, dan investasi. Hal tersebut dikarenakan nilai

t-statistik lebih kecil dibandingkan dengan t-tabel yaitu, PUAB (-0,56252),

Deposito (0,66758), investasi (-0,71143).

Hasil Pengujian Vector Autoregressive (VAR) pada Jalur Harga Aset

Variabel t-statistik

PUAB DIHSG DINVESTASI DGDP Inflasi

PUAB(-1) [ 0,37008] [ 1,03419] [ 1,80779] [-2,12815] [ 0,90609]

PUAB(-2) [ 1,33299] [ 3,01613] [-1,26314] [ 0,02049] [ 1,89258]

PUAB(-3) [-0,52930] [ 0,14886] [-1,82096] [ 1,51188] [ 2,00456]

Keterangan : signifikan pada α = 0.05 dengan t-tabel sebesar 1.68830

Berdasarkan tabel 4.11 dapat diketahui bahwa pada transmisi jalur harga aset dengan menggunakan dasar lag tiga, variabel suku bunga PUAB dapat mempengaruhi inflasi. Hal tersebut dikarenakan nilai t-statistik lebih besar dibandingkan dengan t-tabel yaitu sebesar 2,00456. Sementara itu, variabel suku bunga PUAB tidak dapat mempengaruhi variabel suku bunga PUAB itu sendiri, IHSG, investasi, dan GDP, Hal tersebut dikarenakan nilai t-statistik lebih kecil dibandingkan dengan t-tabel yaitu, PUAB (-0,52930), Deposito ( 0,14886), investasi (-1,82096), GDP (1,51188)

Berdasarkan hasil uji vector autoregression (VAR) dalam Eviews 8.0.

Banyak ahli ekonometrika mengatakan bahwa koefisien dalam pemodelan VAR sulit untuk di analisa sehingga peneliti akan lebih fokus untuk menganalisa Impulse Respons dan Variance Decomposition

4.2.4 Impulse Response Function (IRF)

Analisis Impulse Response Function (IRF) digunakan untuk melihat respon

suatu variabel terhadap kejutan (shock) dari variabel tersebut maupun variabel

lainnya. Impulse Response merupakan hasil estimasi VAR yang dapat digambarkan

dengan grafik atau tabel, namun pada penelitian ini IRF digambarkan dengan

shock sebesar satu standar deviasi (S.D) dari variabel-variabel di dalam model.

Sumbu horizontal merupakan waktu dalam periode ke depan setelah terjadinya shock, sedangkan sumber vertikal adalah nilai respon. Secara mendasar dalam analisis ini akan diketahui respon positif atau negatif dari suatu variabel terhadap variabel lainnya. Respon tersebut dalam jangka pendek biasanya cukup signifikan dan cenderung berubah. Dalam jangka panjang respon cenderung konsisten dan terus mengecil. Impulse Response Function memberikan gambaran bagaimana respon dari suatu variabel di masa mendatang jika terjadi gangguan pada satu variabel lainnya.

Estimasi terhadap impulse response function (IRF) bertujuan untuk

menelusuri respon masing-masing variabel dari ketiga jalur transmisi kebijakan

moneter yang digunakan. Asumsi yang digunakan dlam pengujian IRF adalah

masing-masing variabel tidak berkorelasi satu sama lainnya sehingga penelusuran

dampak suatu goncangan dapat bersifat langsung.

Impulse Response Function pada Jalur Suku Bunga

Sumber: Lampiran H, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis), 2016

Gambar 4.11 menunjukkan efek atau pengaruh suku bunga PUAB terhadap inflasi melalui jalur suku bunga. Pada awal periode yaitu 20 periode pertama, respon inflasi terhadap suku bunga PUAB mengalami fluktuasi dengan memberikan respon positif sejak terjadi shock terhadap variabel inflasi.

Selanjutnya, setelah periode ke-20 hingga periode ke-105 gejolak fluktuasi mulai menunjukan penurunan, yang artinya inflasi tidak lagi bergejolak seperti pada peridoe sebelumnya. Pada periode ke 105 hingga periode ke 123 inflasi mencapai keseimbangan yang sama seperti sebelum terjadinya kejutan pada suku bunga PUAB. Jadi, inflasi membutuhkan waktu selama kurang lebih 35 kuartal untuk bisa kembali mencapai titik keseimbangaan saat terjadi shock.

-.4 -.3 -.2 -.1 .0 .1 .2 .3 .4

10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120

Response of INFLASI to PUAB

Gambar 4. 12

Impulse Response Function pada Jalur Kredit

-.4 -.3 -.2 -.1 .0 .1 .2 .3 .4

10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120

Response of INFLASI to PUAB

Sumber: Lampiran H, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis), 2016

Gambar 4.12 menunjukkan efek atau pengaruh suku bunga PUAB terhadap

inflasi melalui jalur kredit. Pada awal periode yaitu 30 periode pertama, respon

inflasi terhadap suku bunga PUAB mengalami fluktuasi dengan memberikan

respon positif sejak terjadi shock terhadap variabel inflasi. Selanjutnya, setelah

periode ke-30 hingga periode ke-123 gejolak fluktuasi mulai menunjukan

penurunan, yang artinya inflasi tidak lagi bergejolak seperti pada peridoe

sebelumnya, namun tidak menunjukkan inflasi akan kembali pada keseimbangan

yang sama sebelum terjadinya shock. Jadi inflasi membutuhkan waktu lebih dari 41

kuartal untuk kembali pada keseimbangan awal.

Gambar 4. 13

Impulse Response Function pada Jalur Harga Aset

-.4 -.3 -.2 -.1 .0 .1 .2 .3 .4

10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 120

Response of INFLASI to PUAB

Sumber: Lampiran H, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis), 2016

Gambar 4.13 menunjukkan efek atau pengaruh suku bunga PUAB terhadap inflasi melalui jalur harga aset. Pada awal periode yaitu 10 periode pertama, respon inflasi terhadap suku bunga PUAB mengalami fluktuasi dengan memberikan respon positif sejak terjadi shock terhadap variabel inflasi. Selanjutnya, setelah periode ke-10 hingga periode ke-95 gejolak fluktuasi mulai menunjukan penurunan, yang artinya inflasi tidak lagi bergejolak seperti pada peridoe sebelumnya, namun belum menunjukkan inflasi akan kembali pada keseimbangan yang sama sebelum terjadinya shock. Jadi, inflasi membutuhkan waktu lebih dari 41 kuartal untuk kembali pada keseimbangan semula..

4.2.5 Variance Decomposition (VD)

Fungsi impulse response bertujuan untuk menelusuri dampak respon suatu

variabel karena goncangan variabel lainnya mengasumsikan bahwa

variabel-inovasi saling berkorelasi, sehingga sebenarnya tidak bisa dilihat dampak goncangan secara individual terhadap suatu variabel. Variance Decomposition bertujuan untuk memisahkan dampak masing-masing variabel inovasi tersebut secara individual terhadap respon yang diterima suatu variabel. Analisis Variance Decomposition dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk tabel untuk lebih memudahkan dalam memberikan gambaran varians dari sebuah variabel akibat adanya shock (kejutan) variabel lainnya maupun terhadap dirinya sendiri.

Tabel 4. 12

Variance Decomposition Jalur Suku Bunga

Variance Decomposition of INFLASI:

Period PUAB DEPOSITO DINVESTASI DGDP INFLASI

1 0,007222 7,328505 12,67727 5,805199 74,18181

13 22,72537 8,883291 14,81321 13,26893 40,30921

23 23,01671 8,487051 15,41487 14,37033 38,71104

33 22,97712 8,399501 15,55997 14,70812 38,35529

43 22,97256 8,367256 15,61363 14,82247 38,22408

53 22,9696 8,356228 15,63009 14,86274 38,18134

63 22,96866 8,352771 15,63635 14,87467 38,16754

73 22,96804 8,351493 15,63825 14,87965 38,16257

83 22,96789 8,351058 15,63883 14,8814 38,16083

93 22,96767 8,35087 15,63894 14,88236 38,16015

103 22,96752 8,350768 15,6389 14,88303 38,15978

113 22,96738 8,350701 15,63883 14,88352 38,15957

123 22,96722 8,350635 15,63872 14,88406 38,15936

Sumber: Lampiran I, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis), 2016

Tabel 4.12 menjelaskan hasil estimasi variance decomposition pada jalur

suku bunga yang mempengaruhi variabel inflasi dalam alur mekanisme transmisi

kebijakan moneter. Pada periode pertama terlihat bahwa inflasi dapat dijelaskan

oleh suku bunga PUAB sebesar 0,01% dan meningkat hingga pada periode akhir

inflasi dapat dijelaskan oleh suku bunga PUAB sebesar 22,97%. Selanjutnya, dapat

7,32% dan meningkat hingga pada periode akhir sebesar 8,35%. Selanjutnya, dapat dilihat periode pertama inflasi dapat dijelaskan oleh investasi sebesar 12,67% dan meningkat hingga periode akhir sebesar 15,64%. Selanjutnya, dapat dilihat periode pertama inflasi dapat dijelaskan oleh GDP sebesar 5,80% dan meningkat hingga periode akhir sebesar 14,89%.

Pada periode pertama inflasi dapat dijelaskan oleh inflasi itu sendiri sebesar 74,19% dan semakin menurun pada periode akhir sebesar 38,16%. Jadi pada jalur suku bunga, variabel inflasi sebagian besar dipengaruhi oleh suku bunga PUAB sebesar 22,97%. Hal ini mengindikasikan bahwa sepanjang periode penelitian pengaruh variabel suku bunga PUAB, suku bunga deposito, investasi, GDP, terhadap inflasi akan semakin besar. Hal ini dikarenakan inflasi mendapatkan pengaruh langsung dari seluruh variabel penelitian sebagai instrumen dari transmisi jalur suku bunga yang berpengaruh pada transmisi moneter.

Tabel 4. 13

Variance Decomposition Jalur Kredit

Variance Decomposition of INFLASI:

Period PUAB DKREDIT DINVESTASI DGDP INFLASI

1 0,349787 1,11105 17,31435 6,421941 74,80287

13 19,18108 9,854994 12,40913 11,52729 47,02751

23 19,3725 10,17259 12,66322 13,81772 43,97397

33 18,84179 10,69364 12,69476 14,9956 42,7742

43 18,45904 10,98055 12,7473 15,85407 41,95904

53 18,20869 11,17394 12,76393 16,38989 41,46356

63 18,04375 11,2902 12,76651 16,78824 41,11131

73 17,92866 11,36536 12,7735 17,05299 40,87949

83 17,84169 11,40764 12,76233 17,29152 40,69682

93 17,77883 11,43131 12,76122 17,45788 40,57077

103 17,71926 11,43838 12,74185 17,6529 40,44762

113 17,67258 11,43672 12,73269 17,80343 40,35458

123 17,61759 11,42464 12,70614 18,00862 40,24301

Sumber: Lampiran I, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis), 2016

kredit yang mempengaruhi variabel inflasi dalam alur mekanisme transmisi kebijakan moneter. Pada periode pertama terlihat bahwa inflasi dapat dijelaskan oleh suku bunga PUAB sebesar 0,35% dan meningkat hingga pada periode akhir inflasi dapat dijelaskan oleh suku bunga PUAB sebesar 17,61%. Selanjutnya, dapat dilihat periode pertama inflasi dapat dijelaskan oleh kredit perbankan sebesar 1,11% dan meningkat hingga pada periode akhir sebesar 11,42%. Selanjutnya, dapat dilihat periode pertama inflasi dapat dijelaskan oleh investasi sebesar 17,31%

dan menurun hingga periode akhir sebesar 12,70%. Selanjutnya, dapat dilihat periode pertama inflasi dapat dijelaskan oleh GDP sebesar 6,42% dan meningkat hingga periode akhir sebesar 18,00%.

Pada periode pertama inflasi dapat dijelaskan oleh inflasi itu sendiri sebesar

74,80% dan semakin menurun pada periode akhir sebesar 40,24%. Jadi pada jalur

kredit, variabel inflasi sebagian besar dipengaruhi oleh GDP sebesar 18,00%. Hal

ini mengindikasikan bahwa sepanjang periode penelitian pengaruh variabel suku

bunga PUAB, kredit perbankan, GDP, terhadap inflasi akan semakin besar. Namun,

pengaruh dari variabel investasi menunjukkan hal sebaliknya, yaitu mengalami

penurunan pada akhir periode. Hal ini dikarenakan inflasi mendapatkan pengaruh

langsung dari seluruh variabel penelitian, kecuali variabel investasi sebagai

instrumen dari transmisi jalur kredit yang berpengaruh pada transmisi moneter.

Variance Decomposition Jalur Harga Aset Variance Decomposition of INFLASI:

Period PUAB DIHSG DINVESTASI DGDP INFLASI

1 0,05343 4,719459 16,54059 1,050988 77,63554

13 26,61427 6,740614 12,58701 10,85997 43,19813

23 26,22388 6,864054 13,25481 11,74431 41,91294

33 26,14039 6,92909 13,37368 12,02752 41,52932

43 26,114 6,940322 13,42981 12,13419 41,38167

53 26,10668 6,946581 13,447 12,16728 41,33245

63 26,10171 6,947268 13,45418 12,18357 41,31327

73 26,09901 6,948072 13,45572 12,19069 41,30651

83 26,09605 6,947845 13,45662 12,19624 41,30324

93 26,09292 6,947718 13,45639 12,2017 41,30127

103 26,08945 6,947445 13,45629 12,20708 41,29973

113 26,08527 6,947063 13,4559 12,21379 41,29798

123 26,08054 6,946688 13,4555 12,22109 41,29619

Sumber: Lampiran I, hasil olah data dengan Eviews 8.0 (Penulis), 2016

Tabel 4.14 menjelaskan hasil estimasi variance decomposition pada jalur harga aset yang mempengaruhi variabel inflasi dalam alur mekanisme transmisi kebijakan moneter. Pada periode pertama terlihat bahwa inflasi dapat dijelaskan oleh suku bunga PUAB sebesar 0,05% dan meningkat hingga pada periode akhir inflasi dapat dijelaskan oleh suku bunga PUAB sebesar 26,08%. Selanjutnya, dapat dilihat periode pertama inflasi dapat dijelaskan oleh IHSG sebesar 4,71% dan meningkat hingga pada periode akhir sebesar 6,94%. Selanjutnya, dapat dilihat periode pertama inflasi dapat dijelaskan oleh investasi sebesar 16,54% dan meningkat hingga periode akhir sebesar 13,45%. Selanjutnya, dapat dilihat periode pertama inflasi dapat dijelaskan oleh GDP sebesar 1,05% dan meningkat hingga periode akhir sebesar 12,22%.

Pada periode pertama inflasi dapat dijelaskan oleh inflasi itu sendiri sebesar

77,63% dan semakin menurun pada periode akhir sebesar 41,29%. Jadi pada jalur

sebesar 26,08%. Hal ini mengindikasikan bahwa sepanjang periode penelitian pengaruh variabel suku bunga PUAB, IHSG, investasi, GDP, terhadap inflasi akan semakin besar. Hal ini dikarenakan inflasi mendapatkan pengaruh langsung dari seluruh variabel penelitian sebagai instrumen dari transmisi jalur harga aset yang berpengaruh pada transmisi moneter.

Hasil estimasi variance decomposition menunjukkan bahwa pada transmisi jalur suku bunga variabel yang digunakan menyumbang 61,82% terhadap inflasi, sedangkan pada transmisi jalur kredit, variabel yang digunakan menyumbang 47.03% dan pada transmisi jalur harga aset, variabel yang digunakan menyumbang 58,69%. Dapat disimpulkan bahwa transmisi jalur suku bunga merupakan transmisi jalur terbaik untuk mengendalikan inflasi dibandingkan dengan jalur kredit dan jalur harga aset..

4.2.6 Uji Asumsi Klaksik

Selain melihat stabilitas VAR, uji asumsi klasik juga dilakukan. Tujuan

pengujian asumsi klasik ini adalah untuk memberikan kepastian bahwa persamaan

regresi yang didapatkan memiliki ketepatan dalam estimasi, tidak bias dan

konsisten atau bersifat Best Linier Unbiased Estimate (Gujarati, 2013). Deteksi

autokorelasi dengan menggunakan Uji LM (Lagrange Multiplier) menunjukkan

bahwa model tidak mengalami masalah autokorelasi. Di samping deteksi

autokorelasi, uji normalitas dengan Jarque-Bera menunjukkan bahwa residual

terdistribusi normal.

Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah residual berdistribusi normal atau tidak berdistribusi normal. Jika asumsi normalitas dilanggar, maka uji statistik (uji t dan uji F) menjadi tidak valid atau bias terutama untuk sampel kecil

Tabel 4. 15 Hasil Uji Jarque-Bera

Suku Bunga Kredit Harga Aset

Suku Bunga Kredit Harga Aset

Dokumen terkait