• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS MEKANISME TRANSMISI KEBIJAKAN MONETER DI INDONESIA PERIODE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "EFEKTIVITAS MEKANISME TRANSMISI KEBIJAKAN MONETER DI INDONESIA PERIODE"

Copied!
202
0
0

Teks penuh

(1)

PERIODE 2005.3 - 2015.3

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1)

pada Program Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro

Disusun oleh:

YUKE FIRDAUSI DYAHNINGRUM NIM : 1202011213009

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS DIPONEGORO

SEMARANG

2016

(2)

ii

Nomor Induk Mahasiswa : 12020112130090

Fakultas/Jurusan : Ekonomi / IESP

Judul Skripsi : EFEKTIVITAS MEKANISME

TRANSMISI KEBIJAKAN MONETER DI INDONESIA PERIODE 2005.3 - 2015.3

Dosen Pembimbing : Wahyu Widodo, S.E., M.Si., Ph.D.

Semarang, 8 Agustus 2016 Dosen Pembimbing

(Wahyu Widodo, S.E., M.Si., Ph.D.)

NIP. 19731018 200212 1 001

(3)

iii

Nomor Induk Mahasiswa : 12020112130090

Fakultas/Jurusan : Ekonomi / IESP

Judul Skripsi : EFEKTIVITAS MEKANISME

TRANSMISI KEBIJAKAN MONETER DI INDONESIA PERIODE 2005.3- 2015.3

Telah dinyatakan lulus ujian pada tanggal 29 Agustus 2016

Tim Penguji:

1. Wahyu Widodo, S.E., M.Si., Ph.D. (……….)

2. Akhmad Syakir Kurnia, S.E., M.Si., Ph.D. (……….)

3. Achma Hendra Setiawan, S.E., M.Si. (……….)

Mengetahui, Pembantu Dekan I,

Anis Chariri, SE., M.Com., Ph.D., Akt.

NIP. 19670809 199203 1001

(4)

iv

menyatakan bahwa skripsi dengan Judul: Efektivitas Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Di Indonesia Periode 2005.3-2015.3, adalah hasil tulisan saya sendiri. Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau simbol yang menunjukkan gagasan atau pendapat atau pemikiran dari penulis lain, yang saya akui seolah-olah sebagai tulisan saya sendiri, dan/atau tidak terdapat bagian atau keseluruhan tulisan yang saya salin itu, atau yang saya ambil dari tulisan orang lain tanpa memberikan pengakuan penulis aslinya.

Apabila saya melakukan tindakan yang bertentangan dengan hal tersebut di atas, baik disengaja maupun tidak, dengan ini saya menyatakan menarik skripsi yang saya ajukan sebagai hasil tulisan saya sendiri ini. Bila kemudian terbukti bahwa saya melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain seolah- olah hasil pemikiran saya sendiri, berarti gelar dan ijasah yang telah diberikan oleh universitas batal saya terima.

Semarang, 7 Agustus 2016 Yang membuat pernyataan,

(Yuke Firdausi Dyahningrum)

NIM: 12020112130090

(5)

v

monetary policy framework with inflation as the main target of monetary policy or recognized as Inflation Targeting Framework - ITF. The Implementation of ITF is forward looking, which means that the monetary policy implemented aims to meet the target of inflation in the future despite the existence of an interval or time lag on the effect of an economic variable to the others. With the time lag in a monetary policy, consequently, there is a transmission mechanism of its policy on the real sector, in which is divided into multiple paths or channels, including traditional interest rate channel, asset price channel and lines of credit. This study aims to analyze the effectiveness of monetary policy transmission in the interest rate channel, lines of credit and asset price channel. This study uses a quarterly time series data over the period 2005.3 - 2015.3. To answer the purpose of the study, the Granger Causality Test and Vector Autoregressive (VAR) are applied. The results estimation showed that the transmission mechanism of monetary policy through interest rate channel takes for approximately 35 quarters to get back to the point of equilibrium during a shock. In addition, for the lines of credit and the asset price channel show that the response of inflation to interbank rates takes more than 41 or more than a quarter of the study observation period. Therefore, the interest rate channel is more effective mechanism to respond toward inflation by using the interbank interest rates (PUAB).

Keywords: monetary policy, transmission mechanism, Granger Causality, VAR

(6)

vi

moneter adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah yang bersifat internal tercermin dari tingkat inflasi. Sejak bulan Juli tahun 2005, Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter (Inflation Targeting Framework-ITF) dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan moneter. Pelaksanaan ITF bersifat forward looking, artinya kebijakan moneter yang dilakukan akan bertujuan untuk memenuhi capaian target inflasi di masa yang akan datang, walaupun akan adanya selang waktu (time lag) dari pengaruh perkembangan suatu variabel ekonomi terhadap variabel ekonomi lainnya. Dengan adanya time lag dalam kebijakan moneter, maka terdapat mekanisme transmisi kebijakan moneter terhadap sektor rill. Secara konseptual mekanisme transmisi tersebut terbagi atas beberapa jalur, yaitu: jalur suku bunga tradisional, jalur harga aset dan jalur kredit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas transmisi kebijakan moneter pada jalur suku bunga, jalur kredit dan jalur harga aset.

Penelitian ini menggunakan data runtun waktu (time series) kuartalan dari periode 2005.3 – 2015.3. Untuk menjawab tujuan penelitian, penelitian ini menggunakan metode Uji Kausalitas Granger dan pendekatan Vector Autoregressive (VAR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa transmisi kebijakan moneter jalur suku bunga membutuhkan waktu selama kurang lebih 35 kuartal untuk bisa kembali mencapai titik keseimbangan saat terjadi shock. Sementara itu, pada jalur kredit dan jalur harga aset, respon inflasi terhadap suku bunga PUAB membutuhkan waktu lebih dari 41 kuartal atau lebih dari masa observasi penelitian. Oleh karena itu, jalur suku bunga merupakan jalur yang lebih efektif untuk merespon inflasi dengan menggunakan suku bunga PUAB.

Kata kunci: kebijakan moneter, mekanisme transmisi, kausalitas Granger, vector

autoregressive (VAR)

(7)

vii

limpahan rahmat, hidayah serta inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Efiketivitas Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Periode 2005.3-2015.3”. Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat dalam menyelesaikan Program Sarjana Strata 1 Universitas Diponegoro Semarang.

Penulis menyadari bahwa selama penyusunan skripsi ini banyak mengalami hambatan. Namun, berkat doa, bimbingan, dukungan, dan bantuan dari berbagai pihak, penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Untuk itu secara khusus penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada :

1. Dr. Suharnomo, S.E, M.Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro.

2. Akhmad Syakir Kurnia SE, M.Si, Ph.D. selaku Kepala Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro.

3. Wahyu Widodo SE, M.Si, Ph.D. selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk berdiskusi, memotivasi, memberikan masukan dan saran yang sangat berguna bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

4. Dr. Hadi Sasana S.E., M.Si. selaku dosen wali yang telah memberikan

bimbingan, do’a, pengarahan, perhatian dan motivasi selama penulis menjalani

studi di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro.

(8)

viii

6. Ayahanda dan Ibunda yang tercinta yang selalu memberikan semua dukungan moril maupun materiil serta memberikan curahan kasih sayang, do’a-do’a, dan motivasi yang tak ternilai bagi penulis.

7. Kedua kakak penulis, Okvian Dyah Elma Susanti dan Dera Pranadipa Koestanto yang telah menemani penulis berproses dalam kehidupan dari kecil sampai sekarang dan selalu memberikan motivasi, pengetahuan, dan memberikan pengalaman yang baik kepada penulis.

8. Prissa Deffinika, Ratu Ahdini, Ivana, Hani Permatasari, Annisa Eka, Pria Pandu, Ricko Fernando, Samuel Muliawan, Dio Kris, Agha Syaifullah, Fadhilah Eka, M. Fakhruddin, Anggoro Abdurahman yang setiap saat selalu mengisi waktu luang dengan hiburan canda tawa dan berbagi kisah.

9. Maylasari, Yossi Atika, Afiani Rania, Nadya Ayu, Ria Indriastuti, Wilda Rizkilia, Erthia Fadilla, Sarah Aulia yang telah memberikan dukungan kepada penulis.

10. Teman-teman Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi

Pembangunan (HMJ IESP) periode 2012-2013, Nur Fahmi Rofiq, Rifi Fazrina,

Afief El Ashfahany, Intan Respatining, Silfia Nurul, Citra Sekarwangi,

Bernadhete, Clara Palupi, M.Dzakir Fiqi, Giva Pradipta, Ilham Rusdiansyah,

Joseph Alfredo, Zaka Nurfahrudin

(9)

ix

Zaimah, Rizqia Faradiba, Julisa Dasriani, Devy Desneildawati, Fahmi Ramadhan, Iqbal Bintang, Deny Kurniawan, Nazar Faqih yang telah memberikan motivasi dan semangat agar segera menyelesaikan masa perkuliahan di Semarang

13. TIM KKN I periode 2015 desa Jugo, Jepara yang tidak bisa disebutkan satu- satu atas kebersamaanya dan selalu kompak, sukses selalu kawan .

14. Semua pihak yang telah membantu dan teman-teman penulis lainnya yang tidak dapat diucapkan satu persatu.

Penulis sangat menyadari skripsi ini masih ada kekurangan karena keterbatasan ilmu yang dimiliki. Namun penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat untuk berbagai pihak.

Semarang, 7 Agustus 2016 Penulis,

Yuke Firdausi Dyahningrum

NIM. 12020112130090

(10)

x

PENGESAHAN KELULUSAN UJIAN... iii

PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI ... iv

ABSTRACT ... v

ABSTRAKSI ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ………xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 9

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 11

1.3.1 Tujuan Penelitian... 11

1.3.2 Kegunaan Penelitian ... 11

1.4 Sistematika Penulisan ... 12

BAB II TELAAH PUSTAKA ... 15

2.1 Kebijakan Moneter... 15

2.1.1 Kebijakan Moneter Sebelum UU No.23/1999 ... 16

2.1.2 Kebijakan Moneter Setelah UU No.23/1999 ... 16

2.2 Kerangka Operasi Kebijakan Moneter ... 17

2.2.1 Instrumen Kebijakan Moneter ... 17

2.2.2 Sasaran Operasional ... 18

2.3 Inflation Targeting Framework ... 20

2.4 Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter ... 24

2.5 Teori Fisher Effect ... 29

2. Teori Investasi ... 30

2.7 Keseimbangan Permintaan Agregat dan Penawaran Agregat ... 31

2.7.1 Dampak Validasi Moneter terhadap Demand-Pull Inflation .... 33

2.7.2 Dampak Akomodasi Moneter terhadap Cost-Push Inflation .... 35

(11)

xi

2.11 Hipotesis Penelitian ... 48

BAB III METODE PENELITIAN... 49

3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel ... 49

3.1.1 Variabel Penelitian ... 49

3.1.2 Definisi Operasional ... 49

3.2 Jenis dan Sumber Data ... 52

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 53

3.4 Metode Analisis ... 53

3.4.1 Spesifikasi Model ... 54

3.4.1.1 Kausalitas Granger ………55

3.4.1.2 Model Vector Autoregressive (VAR) ………56

3.4.1.3 Model Empirik ………..58

3.4.1.4 Uji Stabilitas ………..62

3.4.1.5 Penentuan Lag Optimal ……….63

3.4.2 Impulse Response Function (IRF) ... 63

3.4.3 Variance Decomposition (VD)... 65

3.4.4 Uji Stasioneritas ... 67

3.4.5 Uji Kointegrasi ... 70

3.4.6 Uji Asumsi Klasik ... 73

3.4.6.1 Deteksi Normalitas ………73

3.4.6.2 Uji Autokorelasi ………73

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 75

4.1 Gambaran Objek Penelitian ... 75

4.2 Hasil Estimasi dan Pembahasan... 82

4.2. Stasioneritas dan Kointegrasi ... 82

4.2.2 Kausalitas Granger ... 84

4.2.3 Analisis Vector Autoregressive (VAR) ... 87

4.2.4 Impulse Response Function (IRF) ... 92

(12)

xii

4.3.1 Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Jalur Suku Bunga 104

4.3.2 Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Jalur Kredit ... 105

4.3.3 Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Jalur Harga Aset . 106 BAB V PENUTUP ... 108

5.1 Kesimpulan ... 108

5.2 Implikasi Kebijakan ... 109

5.3 Keterbatasan dan Saran Penelitian ... 110

5.3.1 Keterbatasan ... 110

5.3.2 Saran ... 110

DAFTAR PUSTAKA ... 111

LAMPIRAN ………... 114

(13)

xiii

Tabel 4.1 Hasil Pengujian Unit Root Test ……….………82 Tabel 4.2 Hasil Pengujian Kointegrasi ( Johansen’s Cointegration Test)

Jalur Suku Bunga ………..83 Tabel 4.3 Hasil Pengujian Kointegrasi ( Johansen’s Cointegration Test)

Jalur Kredit ………...……83 Tabel 4.4 Hasil Pengujian Kointegrasi ( Johansen’s Cointegration Test)

Jalur Harga Aset ………...83

Tabel 4.5 Hasil Pengujian Kausalitas Granger Jalur Suku Bunga ……..……….84

Tabel 4.6 Hasil Pengujian Kausalitas Granger Jalur Kredit ………...….….85

Tabel 4.7 Hasil Pengujian Kausalitas Granger Jalur Harga Aset …….……..…..86

Tabel 4.8 Uji Lag Optimal ………....…88

Tabel 4.9 Hasil Pengujian Vector Auto Regressive (VAR) Jalur Suku Bunga...90

Tabel 4.10 Hasil Pengujian Vector Auto Regressive (VAR) Jalur Kredit ……….91

Tabel 4.11 Hasil Pengujian Vector Auto Regressive (VAR) Jalur Harga Aset…..92

Tabel 4.12 Hasil Pengujian Variance Decomposition Jalur Suku Bunga ……...97

Tabel 4.13 Hasil Pengujian Variance Decomposition Jalur Kredit ………..98

Tabel 4.14 Hasil Pengujian Variance Decomposition Jalur Harga Aset …..…..100

Tabel 4.15 Hasil Uji Jarque-Bera ………...…....102

Tabel 4.16 Hasil Correlation LM Test Jalur Suku Bunga …………...…...…….103

Tabel 4.17 Hasil Correlation LM Test Jalur Kredit ………...…..……...103

Tabel 4.18 Hasil Correlation LM Test Jalur Harga Aset ………...….…..104

(14)

xiv

Gambar 2.1 Kebijakan Moneter Dengan Sasaran Antara Suku Bunga ……....…19 Gambar 2.2 Skema Determinan Inflasi ………..……..….23 Gambar 2.3 Mekanisme Transmisi Moneter Sebagai “Black Box” ……..…..….24 Gambar 2.4 Fungsi Investasi ………...…..30 Gambar 2.5 Inflasi Tekanan Permintaan (Demand Pull Inflation )………....…...32 Gambar 2.6 Inflasi Dorongan Biaya (Cost Push Inflation) ………...………33 Gambar 2.7 Inflasi Gejolak Perminataan dengan Validasi Moneter ………...…..34 Gambar 2.8 Inflasi Gejolak Penawaran dengan Akomodasi Moneter……...…... 36 Gambar 2.9 Kerangka Pemikiran Teoritis ………47 Gambar 3.1 Alur Proses Estimasi ……….54 Gambar 4.1 Suku Bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB)

Periode 2005-2015 (%) ………..…..………..75 Gambar 4.2 Suku Bunga Deposito Berjangka Periode 2005-2015 (%) …………76 Gambar 4.3 Kredit Perbankan Periode 2005-2015 (Milliar Rupiah) ………77 Gambar 4.4 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

Periode 2005-2015 (Rupiah) ………...….……78

Gambar 4.5 Investasi Periode 2005-2015 (Milliar Rupiah) ………..79

Gambar 4.6 Pertumbuhan Ekonomi Periode 2005-2015 (%) …..……..……...…80

Gambar 4.7 Inflasi Tahunan Periode 2005-2015 (%) ………....……...81

Gambar 4.8 Uji Stabilitas Jalur Suku Bunga ………..……..…………89

(15)

xv

Gambar 4.12 Impulse Response Function Jalur Kredit ……….95

Gambar 4.13 Impulse Response Function Jalur Harga Aset ………...….……….96

(16)

xvi

Lampiran B Uji Stasioneritas (Root Test) ……….………...….…116

Lampiran C Uji Kointegrasi (Johansen’s Cointegration Test) ……….…...…….125

Lampiran D Uji Kausalitas Granger ………...……..………....133

Lampiran E Penentuan Lag Optimal ( Lag Length Criteria) …...136

Lampiran F Uji Stabilitas ………..………..….138

Lampiran G Estimasi Model Vector Auto Regressive (VAR) ……..…..………..141

Lampiran H Impulse Response Function (IRF) ………...….………146

Lampiran I Variance Decomposition ………..………….………149

Lampiran J Uji Asumsi Klasik ……….….………..183

(17)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menurut UU No. 3 Tahun 2004, tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Hal ini memberikan kejelasan peran bagi bank sentral dalam perekonomian, sehingga dalam pelaksanaan tugasnya Bank Indonesia dapat lebih fokus dalam mencapai tujuannya. Kestabilan nilai rupiah yang bersifat internal tercermin dari tingkat inflasi, sedangkan yang bersifat eksternal tercermin dari nilai tukar yang terjadi. Tingkat inflasi tercermin dari naiknya harga barang-barang secara umum yang bersifat terus-menerus dalam periode tertentu. Sementara itu, faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu tekanan inflasi yang berasal dari sisi permintaan dan dari sisi penawaran. Dalam hal ini, Bank Indonesia hanya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi tekanan inflasi yang berasal dari sisi permintaan, sedangkan tekanan inflasi dari sisi penawaran (bencana alam, musim kemarau, distribusi tidak lancar, dll) sepenuhnya berada di luar pengendalian Bank Indonesia.

Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kerangka kebijakan moneter meliputi implementasi kebijakan moneter dan strategi kebijakan moneter.

Implementasi kebijakan moneter meliputi penentuan kombinasi intrumen moneter,

target operasional, dan pelaksanaan operasi pengendalian moneter di pasar

keuangan yang sesuai dengan arah dan respons kebijakan moneter. Sementara itu,

kerangka strategis kebijakan moneter umumnya terkait dengan pencapaian tujuan

(18)

akhir kebijakan moneter (stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi, dan perluasan kesempatan kerja) serta strategi untuk mencapainya (exchange rate targeting, monetary tergeting, inflation targeting, implicit but not explicit anchor) (Warijoyo, 2004)

Exchange rate targeting atau target nilai tukar merupakan strategi kebijakan dengan tiga kemungkinan pelaksanaan, yaitu menetapkan nilai mata uang domestik terhadap harga komoditi tertentu yang diakui secara internasional, menetapkan nilai mata uang domestik terhadap mata uang negara-negara besar yang memiliki laju inflasi yang rendah, atau dengan menyesuaikan nilai mata uang domestik terhadap mata uang negara tertentu pada saat perubahan nilai mata uang diperkenankan sejalan dengan perbedaan laju inflasi di antara kedua negara Masyuhri dkk (2008).

Monetary targeting atau target besaran moneter merupakan strategi kebijakan dengan menetapkan pertumbuhan jumlah uang beredar (M1 dan M2) dengan harapan masyarakat dapat mengetahui arah kebijakan moneter yang ditempuh bank sentral. Kelebihan dari strategi ini adalah kebijakan moneter lebih independen sehingga bank sentral dapat menfokuskan pencapaian tujuan seperti laju inflasi yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambung.

Pemilihan strategi kebijakan ini dimaksudkan untuk melindungi suatu negara dari

terjadinya hiper-inflasi. Kebijakan ini relatif mudah dan transparan untuk

diterapkan. Akan tetapi, pertumbuhan jumlah uang beredar (base money) yang tetap

biasanya dibarengi dengan fluktuasi yang lebar dalam tingkat inflasi dan nilai tukar

Masyuhri dkk (2008).

(19)

Selanjutnya, Masyuhri dkk (2008) menyatakan bahwa Inflation targeting atau target inflasi merupakan strategi kebijakan dengan mengumumkan kepada publik mengenai target inflasi jangka menengah dan komitmen bank sentral untuk mencapai stabilitas harga sebagai tujuan jangka panjang kebijakan moneter, strategi ini merupakan strategi yang terbaik untuk menurunkan inflasi hingga mencapai 4- 5 %. Implicit but not explicit anchor atau kebijakan moneter tanpa jangkar yang tegas merupakan strategi kebijakan tanpa penargetan secara tegas, tetapi tetap memberikan perhatian dan komitmen untuk mencapai tujuan akhir kebijakan moneter.

Dari keempat strategi kebijakan moneter di atas, keseluruhannya bertujuan untuk menciptakan kestabilan makroekonomi. Pada banyak kasus termasuk Indonesia, terdapat beberapa sasaran sebagai indikator kestabilan makroekonomi, yaitu stabillitas harga, pertumbuhan ekonomi, dan ketersediaan lapangan kerja.

Melalui pengalaman empiris yang ada, pencapaian ketiga sasaran ini sangatlah sulit dan hampir mendekati tidak mungkin sehingga beberapa negara mulai menggeser strategi kebijakan moneternya dengan mulai fokus pada sasaran tunggal yaitu kestabilan harga. Adanya kestabilan harga dapat diamati dari tingkat inflasi yang terjadi di suatu negara.

Indonesia, dalam hal ini Bank Indonesia, sampai dengan bulan Juli 2005

masih menerapkan base money targeting dengan menetapkan pertumbuhan jumlah

uang beredar (M1 dan M2) sebagai sasaran antara yang dikenal sebagai inflation

targeting lite. Kemudian mulai Juli 2005, Bank Indonesia mulai menerapkan

(20)

inflation targeting secara eksplisit full fledged sebagai strategi pelaksanaan kebijakan moneter dengan mulai mengumumkan BI rate.

Sejak Bulan Juli 2005 Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan moneter (Inflation Targeting Framework) dengan menganut sistem nilai tukar yang mengambang (free floating). Peran kestabilan nilai tukar sangat penting dalam mencapai stabilitas harga dan sistem keuangan. Oleh karenanya, Bank Indonesia juga menjalankan kebijakan nilai tukar untuk mengurangi volatilitas nilai tukar yang berlebihan, bukan untuk mengarahkan nilai tukar pada level tertentu. Gambar 1.1 menunjukkan perkembangan inflasi sejak tahun 2005 hingga 2015.

Gambar 1.1

Inflasi Periode 2005 hingga 2015 (%)

Sumber: Badan Pusat Statistika (BPS), berbagai tahun, diolah

Gambar 1.1 menjelaskan pergerakan inflasi pada periode penelitian tahun 2005 hingga 2015. Tahun 2005 terjadi kenaikan inflasi dikarenakan adanya kenaikan harga minyak dunia dan menyebabkan naiknya harga BBM, selain itu

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

(21)

pada tahun 2005 harga jual rupiah mengalami penurunan yang berdampak pada perkembangan harga barang dan jasa. Namun, pada tahun 2006 inflasi mengalami penurunan yang disebabkan oleh minimnya kebijakan administered price BBM dan penundaan kenaikan tarif dasar listrik. Pada tahun 2008 kondisi ekonomi global mengalami goncang krisis, yang berawal ketika Amerika serikat gagal mengelola usaha properti, sehingga berdampak terhadap laju inflasi dalam negeri yang meningkat. Penyebab utama inflasi tahun 2013 antara lain adalah kenaikan harga bensin, tarif angkutan dalam kota, bawang merah, daging ayam ras, ikan segar, cabai rawit, beras, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan antar kota.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Bank Indonesia, negara yang menerapkan sistem ITF untuk pertama kalinya adalah New Zealand pada tahun 1990, setelah itu diikuti oleh negara lain seperti Canada pada tahun 1991, Inggris pada tahun 1992, dan Australia pada tahun 1993. Negara berkembang mulai menggunakan kerangka kebijakan ITF dengan diawali oleh Czech Republic dan Chili namun penerapannya tidak secara penuh dan Brazil adalah negara berkembang pertama yang menerapkannya secara penuh.

Pelaksanaan ITF bersifat forward looking, yang artinya bahwa kebijakan

moneter yang dilakukan akan bertujuan untuk memenuhi capaian target inflasi di

masa yang akan datang walaupun akan adanya selang waktu (time lag) dari

pengaruh perkembangan suatu variabel ekonomi terhadap variabel ekonomi

lainnya. Dengan adanya time lag dalam kebijakan moneter, maka terdapat

mekanisme transmisi kebijakan moneter terhadap sektor rill yang terbagi atas

beberapa jalur atau saluran (Sholeh, 1999)

(22)

Mekanisme transmisi moneter dimulai dari tindakan bank sentral dengan menggunakan instrumen moneter dalam pelaksanaan kebijakannya. Tindakan tersebut akan berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi dan keuangan melalui berbagai saluran transmisi kebijakan moneter. Dibidang keuangan, kebijakan moneter akan berpengaruh terhadap perkembangan suku bunga, nilai tukar, dan harga saham selain volume dana masyarakat yang disimpan di bank, kredit yang disalurkan bank kepada dunia usaha, penanaman dana pada obligasi, saham maupun sekuritas lainnya. Sementara itu, di sektor ekonomi rill kebijakan moneter akan mempengaruhi perkembangan konsumsi investasi hingga pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang menjadi sasaran akhir kebijakan moneter (Warijoyo, 2004).

Selanjutnya, Warijoyo (2004) menyatakan bahwa untuk mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi dan inflasi, dibutuhkan tenggang waktu yang cukup lama dan bervariasi karena transmisi moneter berkaitan dengan pola hubungan antara berbagai variabel ekonomi dan keuangan yang selalu berubah sejalan dengan perkembangan ekonomi Indonesia. Namun demikian, pada dasarnya terdapat beberapa jalur transmisi utama yang dapat menunjukkan bagaimana kebijakan moneter dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan inflasi yaitu, jalur suku bunga tradisional , jalur harga aset dan jalur kredit.

Jalur suku bunga tradisional merupakan pandangan Keynesian yang

menjelaskan suku bunga rill jangka panjang memiliki pengaruh yang signifikan

terhadap perekonomian. Jalur ini menenkankan bahwa kebijakan moneter dapat

mempengaruhi permintaan agregat melalui perubahan suku bunga jangka pendek

(23)

yang ditransmisikan pada suku bunga jangka menengah atau panjang melalui mekanisme penyeimbangan sisi permintaan dan penawaran di pasar uang. Apabila jalur ini merupakan jalur terbaik, maka masyarakat akan mempunyai ekspektasi bahwa laju inflasi akan menurun di waktu yang akan datang, sehingga expected inflation menurun atau suku bunga riil jangka panjang meningkat (Warijoyo, 2004).

Jalur harga aset merupakan pandangan monetaris yang menekankan bahwa kebijakan moneter berpengaruh pada perubahan harga aset dan kekayaan masyarakat, yang kemudian berpengaruh terhadap investasi dan konsumsi.

Kebijakan moneter akan mempengaruhi jumlah dana dalam portfolio para pelaku ekonomi (wealth effect) dan relokasi dari suatu jenis aset ke jenis aset lain dalam portfolio sesuai dengan expected returns and risks dari masing-masing bentuk aset.

Apabila bank sentral melakukan kebijakan moneter kontraktif, maka akan terjadi peningkatan suku bunga dan menekan harga aset perusahaan, dengan demikian penurunan harga aset perusahaan akan mengakibatkan kurangnya kemampuan perusahaan untuk melakukan ekspansi dan mengurangi nilai kekayaan yang akan berakibat pada pengurangan pengeluraan konsumsi dan penurunan pengeluaran agregat (Warijoyo, 2004).

Jalur kredit didasarkan pada asumsi bahwa kegiatan ekonomi terjadi melalui

perubahan perilaku bank dalam menyalurkan kreditnya kepada nasabah. Oleh

karena itu, yang lebih berpengaruh terhadap sektor ekonomi rill adalah kredit

perbankan. Terdapat dua jenis jalur kredit yang akan mempengaruhi transmisi

moneter dari sektor keuangan ke sektor riil, yaitu jalur pinjaman bank (bank lending

channel) dan jalur neraca perusahaan (firms balance sheet channel). Jalur pinjaman

(24)

bank lebih menekankan pengaruh kebijakan moneter pada kondisi keuangan bank, khususnya sisi aset. Sementara itu, jalur neraca perusahaan lebih menekankan pengaruh kebijakan moneter pada kondisi keuangan perusahaan (borrower), dan selanjutnya berpengaruh terhadap akses perusahaan untuk mendapatkan kredit (Warijoyo, 2004).

Dalam rangka mencapai sasaran akhir kebijakan moneter, Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter melalui pengendalian suku bunga (target suku bunga). Stance kebijakan moneter dicerminkan oleh penetapan suku bunga kebijakan (BI Rate). Dalam tataran operasional, BI Rate tercermin dari suku bunga pasar uang jangka pendek yang merupakan sasaran operasional kebijakan moneter.

Namun sejak 9 Juni 2008, BI menggunakan suku bunga Pasar Uang Antara Bank (PUAB) 1 overnight (o/n) sebagai sasaran operasional kebijakan moneter.

Perubahan suku bunga PUAB mempengaruhi inflasi melalui berbagai jalur, diantaranya jalur suku bunga, jalur kredit, dan jalur harga aset. Ketiga jalur tersebut selanjutnya akan mempengaruhi kinerja investasi kemudian posisi dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan pada akhirnya akan mempengaruhi laju inflasi.

Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan Chandra dan Unsal

(2012) dinyatakan bahwa di negara berkembang seperti Asia, jalur transmisi

kebijakan moneter yang efektif adalah jalur suku bunga, khususnya dalam

kehadiran pasar keuangan yang terintegrasi secara global. Penelitian ini

menganalisis sejauh mana suku bunga jangka panjang di Asia yang didorong oleh

pasar global dibandingkan faktor domestik. Analisis menunjukkan bahwa suku

bunga jangka panjang di Asia yang ditentukan oleh faktor global untuk sebagian

(25)

besar, termasuk suku bunga asing dan risiko global. Namun, faktor global ini bervariasi di seluruh negara. Jadi, negara dengan ekonomi terbuka secara financial dipengaruhi oleh siklus suku bunga global.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, penelitian ini akan menguji mengenai efektifitas mekanisme transimisi kebijakan moneter di Indonesia terhadap sasaran tunggal inflasi setelah diberlakukannya Inflation Targeting Framework. Meskipun hasil studi di atas menunjukkan bahwa peranan suku bunga pada mekanisme transmisi kebijakan moneter lebih dominan, namun demikian, terbuka kemungkinan pemikiran lain tentang jalur alternatif yang dapat menjelaskan dan menemukan mekanisme transmisi kebijakan moneter baru.

Diantaranya yang perlu dipertimbangkan adalah jalur kredit dan harga aset. Jalur kredit lahir sebagai kritik terhadap konsepsi mekanisme transmisi kebijakan Keynesian yang menganggap tingkat suku bunga merupakan jalur yang paling penting dalam mekanisme transmisi., sedangkan jalur harga aset lahir dari pandangan monetaris yang menekankan bahwa kebijakan moneter berpengaruh pada perubahan harga aset dan kekayaan masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini berjudul “Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter Di Indonesia Periode 2005.3 – 2015.3”

1.2 Rumusan Masalah

Kajian mengenai mekanisme transmisi kebijakan moneter pada mulanya

mengacu pada peranan uang dalam perekonomian, yang pertama kali dijelaskan

oleh Quantity Theory of Monetary oleh Fisher (dalam Mishkin, 2008). Namun,

dengan semakin berkembangnya perbankan dan pasar keuangan, semakin banyak

(26)

pula produk keuangan dengan jenis transaksi yang semakin bervariasi pula.

Demikian juga dengan perekonomian yang terbuka, perkembangan ekonomi dan keuangan di suatu negara akan dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi dan keuangan negara lain. Pengaruh tersebut antara lain melalui perubahan nilai tukar, volume ekspor dan impor, ataupun besarnya arus dana masuk dan keluar dari negara yang bersangkutan. Dengan demikian, peranan saluran lain seperti suku bunga, kredit, dan harga aset perlu diperhatikan (Warjiyo, 2004).

Efektivitas jalur-jalur transmisi kebijakan moneter menjadi sangat penting, karena hal tersebut digunakan untuk mengetahui saluran transmisi mana yang paling dominan dalam ekonomi untuk dipergunakan sebagai dasar dalam perumusan strategi kebijakan moneter. Juga untuk mengetahui seberapa kuat dan lamanya tenggang waktu masing-masing saluran transmisi tersebut bekerja. Hal ini penting untuk menentukan variabel ekonomi dan keuangan mana yang paling kuat dijadikan leading indicators terhadap pergerakan inflasi serta variabel mana sebagai indikator untuk penentuan sasaran operasional kebijakan moneter (Warjiyo, 2004).

Berdasarkan penjelasan latar belakang yang telah dipaparkan pada sub bab

sebelumnya, terdapat beberapa hal yang mendasari penelitian mengenai efektifitas

transmisi kebijakan moneter pada jalur suku bunga, jalur kredit dan jalur harga aset

dengan sasaran tunggal inflasi pada periode penelitian 2005 kuartal tiga hingga

2015 kuartal tiga. Berdasarkan hal tersebut di atas, masalah penelitian dalam studi

ini diformulasikan sebagai berikut : bagaimana transmisi kebijakan moneter di

Indonesia periode 2005 kuartal tiga hingga 2015 kuartal tiga, berdasarkan jalur suku

(27)

bunga, jalur kredit, dan jalur harga aset dalam mencapai sasaran tunggal inflasi.

Penelitian ini juga akan menganalisa jalur transmisi kebijakan moneter yang paling efektif dalam tiga jalur yang akan diteliti dalam implementasi kebijakan moneter dengan sasaran tunggal inflasi di Indonesia. Dari jalur yang paling efektif tersebut juga akan dicari variabel apa yang paling cocok digunakan sebagai sasaran operasionalnya. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis hubungan kausalitas antar variabel yang digunakan pada jalur suku bunga, jalur kredit, dan jalur harga aset.

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara empiris efektifitas mekanisme transmisi kebijakan moneter dengan sasaran tunggal inflasi.

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:

1. Menganalisis efektifitas mekanisme transmisi pada jalur suku bunga, jalur kredit, dan jalur harga aset dalam mengimplementasikan kebijakan moneter dengan sasaran tunggal inflasi

2. Menganalisis hubungan kausalitas antar variabel – variabel penelitian yang digunakan pada jalur suku bunga, jalur kredit, dan jalur harga aset 1.3.2 Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan menghasilkan manfaat bagi keilmuan dan

bagi formulasi kebijakan. Adapun kegunaan dari penelitian ini antara lain:

(28)

1. Secara keilmuan dapat menambah khasanah penelitian mengenai efektifitas mekanisme transmisi kebijakan moneter dengan sasaran tunggal inflasi di Indonesia.

2. Menjadi alternatif bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam mengambil kebijakan dibidang moneter, terutama terkait dibidang mekanisme transmisi.

3. Memperkaya penelitian yang bisa digunakan sebagai bahan referensi dan penerapan pengetahuan yang dihasilkan dari penelitian ini di lingkungan Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Diponegoro.

1.4 Sistematika Penulisan

Penelitian ini ditulis dengan sistematika penulisan sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian serta sistematika penulisan. Dalam bab ini diuraikan pendahuluan mengenai kebijakan moneter di Indonesia, Inflation Targeting Framework (ITF), dan mekanisme transmisi kebijakan moneter. Hal tersebut dipaparkan pada bagian latar belakang masalah yang kemudian dirumuskan pada bagian rumusan masalah. Selain itu, terdapat tujuan dan kegunaan penelitian, serta sistematika penulisan skripsi ini.

BAB II : TELAAH PUSTAKA

Bab ini berisi landasan teori yang relevan sebagai dasar yang digunakan

dalam penyusunan penelitian. Teori yang digunakan untuk mendukung penelitian

ini adalah teori kebijakan moneter, fisher effect, teori investasi, dan teori New

(29)

Keynesian Phillips Curve. Selain landasan teori, bab ini juga menguraikan tentang penelitian terdahulu, serta kerangka pemikiran yang disusun untuk memberi dugaan sementara dari pernyataan penelitian. Dalam bab ini, akan diuraikan tentang berbagai macam hipotesis yang digunakan dalam menganalisis penelitian ini.

BAB III : METODE PENELITIAN

Bab ini menguraikan variabel, metode, dan hipotesis penelitian. Variabel yang digunakan yaitu suku bunga pasar uang antar bank, suku bunga deposito berjangka, indeks harga saham, kredit perbankan, investasi, Gross Domestic Product (GDP), dan inflasi. Variabel tersebut dibagi menjadi tiga jalur, pertama, jalur suku bunga dengan variabel suku bunga pasar uang antar bank, suku bunga deposito berjangka, investasi GDP dan inflasi. Kedua, jalur kredit dengan variabel suku bunga pasar uang antar bank, kredit perbankan, investasi, GDP dan inflasi.

Ketiga, jalur harga aset dengan menggunakan variabel suku bunga pasar uang antar bank, IHSG, investasi, GDP dan inflasi.

Selanjutnya, bab ini menjelaskan mengenai metode penelitian yaitu: metode

Metode Granger Causality dan Vector Autoregressive (VAR) akan digunakan

dalam penelitian ini. Tujuan penggunaan metode Granger Causality untuk

menjawab pertanyaan mengenai hubungan kausalitas antar variabel yang

digunakan pada masing-masing jalur transmisi kebijakan moneter. Metode VAR

untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai efektifitas antara transmisi

kebijakan moneter dalam mencapai sasaran akhir yaitu inflasi

(30)

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini menjabarkan tentang deskripsi objek penelitian untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai objek penelitian yang akan dianalisis. Selain itu, bab ini juga menampilkan analisis data serta menjabarkan hasil dari estimasi beserta analisis ekonomi yang menunjukan hipotesis mana yang diterima di dalam penelitian ini.

BAB V : PENUTUP

Bab ini merupakan bab terakhir dalam penelitian ini. Bab ini berisikan

kesimpulan berdasarkan keseluruhan hubungan antar variabel yang digunakan

dalam penelitian ini dalam kerangka transmisi kebijakan moneter. Bab ini juga

berisikan keterbatasan penelitian dan saran baik untuk penelitian selanjutnya

maupun bagi pengambil kebijakan.yang diperuntukan kepada pihak-pihak yang

berkepentingan.

(31)

15

BAB II

TELAAH PUSTAKA

Bab 2 menjelaskan landasan teori atau tinjauan pustaka beserta studi-studi empiris yang sudah dilakukan sebelumnya. Teori utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Kebijakan Moneter dan Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter, Teori Fisher Effect, Teori Investasi, dan Teori New Keynesian Phillips Curve, Teori Kebijakan Moneter dan Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter. Teori dan penelitian empiris tersebut akan dijadikan dasar dalam membuat kerangka pemikiran teoritis dan menetapkan variabel penelitian yang digunakan.

2.1 Kebijakan Moneter

Menurut Nopirin (2010), kebijakan moneter merupakan salah satu faktor

yang dapat mempengaruhi kegiatan ekonomi. Banyak faktor lain yang dapat

mempengaruhi kegiatan ekonomi namun faktor-faktor ini diluar kontrol

pemerintah. Bank Indonesia selaku bank sentral memiliki kewenangan dalam

melakukan kebijakan moneter, seperti melalui politik diskonto, cadangan

minimum, pasar terbuka ataupun perkreditan yang dapat dipakai untuk

mempengaruhi jumlah uang beredar ataupun kredit perbankan. Kebijakan moneter

memiliki tujuan utama, yaitu menjaga stabilitas ekonomi, dan menjaga stabilitas

harga pasar serta neraca pembayaran internasional. Jika kestabilan ekonomi

moneter terganggu, maka kebijakan moneter dapat digunalan untuk memulihkan

keadaan.

(32)

2.1.1 Kebijakan Moneter Sebelum UU No.23/1999

Menurut Amril (2002), kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia mengalami beberapa perubahan sejalan dengan tujuan yang sebagaimana terkandung dalam Undang-Undang yang mendasarinya. Pada UU No.13 Tahun 1968 berlaku, tujuan Bank Indonesia sangatlah kompleks, yaitu selain menjaga kestabilan nilai Rupiah, Bank Indonesia juga mengemban tugastugas yang terkait dengan sektor riil, yaitu mendorong kegiatan produksi dan memperluas kesempatan kerja. Kebijakan moneter pada saat undang-undang tersebut memperlihatkan besarnya campur tangan bank sentral terhadap sektor riil.

2.1.2 Kebijakan Moneter Setelah UU No.23/1999

Menurut Amril (2002), tujuan bank Indonesia berubah seiring dengan berlakunya UU No.23 1999 sejak tanggal 17 Mei 1999. Tujuan tunggal Bank Indonesia yang baru yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai Rupiah.

Kestabilan nilai Rupiah dapat dilihat dari sisi kestabilan terhadap harga-harga

dalam negeri (laju inflasi) dan kestabilan terhadap harga-harga luar negeri (nilai

tukar). Latar belakang ditetapkannya sasaran tunggal inflasi adalah karena dalam

jangka panjang kebijakan moneter hanya dapat mempengaruhi laju inflasi. Inflasi

yang rendah merupakan prasyarat bagi tercapainya sasaran ekonomi makro lainnya,

seperti pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan tingkat pengangguran yang

rendah. Selanjutnya target inflasi yang ditetapkan tersebut dapat menjadi acuan bagi

kebijakan ekonomi lainnya.

(33)

2.2 Kerangka Operasi Kebijakan Moneter 2.2.1 Instrumen Kebijakan Moneter

Instrumen kebijakan atau instrumen operasional merupakan variabel yang merespon instrumen-instrumen bank sentral dan menunjukkan arah kebijakan moneter (longgar atau ketat) (Mishkin, 2008). Menurut Nopirin (2010), kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu antara lain :

1. Politik Pasar Terbuka

Politik ini meliputi tindakan menjual dan membeli surat-surat berharga oleh bank sentral. Tindakan ini akan mempengaruhi dua hal, pertama menaikkan cadangan bank-bank umum yang berkaitan dalam transaksi. Sebab dalam pembelian surat berharga, bank sentral akan menambah cadangan bank umum yang menjual surat berharga tersebut. Akibatnya, bank umum dapat menambah jumlah uang yang beredar (melalui proses penciptaan kredit). Kedua, tindakan pembelian atau penjualan surat berharga akan mempengaruhi harga (dan dengan demikian juga suku bunga) surat berharga. Akibatnya suku bunga umum juga akan terpengaruh.

2. Politik Diskonto

Tindakan untuk mengubah-ubah suku bunga yang harus dibayar oleh bank

umum dalam hal meminjam dana dari bank sentral. Dengan menaikkan diskonto,

maka biaya meminjam dana dari bank sentral akan naik sehingga akan mengurangi

(34)

keinginan bank untuk meminjam. Akibatnya, jumlah uang yang beredar dapat ditekan atau dikurangi.

3. Politik Perubahan Cadangan Minimum

Cadangan minimum dapat mempengaruhi jumlah uang yang beredar.

Apabila ketentuan cadangan minimum diturunkan, jumlah uang beredar cenderung naik, dan sebaliknya jika cadangan minimum dinaikkan maka jumlah uang beredar cenderung turun.

4. Margin Requirement

Instrumen ini digunakan untuk membatasi penggunaan kredit untuk tujuan- tujuan pembelian surat berharga (yang biasanya bersifat spekulatif). Caranya, dengan menetapkan jumlah minimum kas down payment untuk transaksi surat berharga.

5. Moral Suasion

Instrumen ini dimaksudkan untuk mempengaruhi sikap lembaga moneter dan individu yang bergerak di bidang moneter dengan pidato Gubernur Bank Sentral, atau publikasi-publikasi, supaya mereka bersikap seperti apa yang dikehendaki oleh penguasa moneter.

2.2.2 Sasaran Operasional a. Sasaran Antara

Menurut Sudirman (2014), sasaran antara (intermediate targets) yaitu suatu

sasaran yang tercapai dahulu sebelum mencapai sasaran akhir. Sasaran memberi

(35)

petunjuk ada atau tidaknya kendala dalam ekonomi makro dan juga sebgaai petunjuk apakah suatu kebijakan yang sedang diterapkan perlu diteruskan atau disesuaikan kembali. Oleh karena itu, intermediate targets merupakan suatu indikator ekonomi.

Gambar 2 1

Kebijakan Moneter dengan Sasaran Suku Bunga

Sumber: Sudirman (2014)

Kebijakan moneter dengan sasaran antara (intermediate targets) tingkat suku bunga yang ideal adalah untuk mendorong pertumbuhan investasi, namun juga menimbulkan dampak inflasi seperti dalam Gambar 2.1. Jika pada suatu saat, suku bunga uang menunjukkan kenaikan hingga melampaui angka yang ditetapkan, maka bank sentral akan segera melakukan kebijakan ekspansi moneter sehingga tingkat suku bunga uang menjadi turun kembali sampai pada tingkat suku bunga yang ditetetapkan.

Ekspansi Moneter UPAYA

Kontraktif Moneter

Ekspansi M Suku Bunga Naik

SASARAN

Suku Bunga Turun

Gejolak Moneter Agregat DAMPAK

Gejolak Moneter Agregat

Perubahan Tingkat Suku Bunga

(36)

b. Sasaran Akhir

Sasaran akhir Bank Indonesia selaku bank sentral telah diatur dalam Undang Undang Nomor 3 tahun 2004 Tentang Bank Indonesia Pasal 7 Ayat 1, yaitu tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah yang tercemin dari tingkat inflasi yang rendah dan stabil. Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Bank Indonesia melaksanakan kebijakan moneter secara berkelanjutan, konsisten, transparan, dan harus mempertimbangkan kebijakan umum pemerintah di bidang perekonomian.

2.3 Inflation Targeting Framework

Inflasi merupakan pembahasan yang krusial karena mempunyai dampak

yang amat luas dalam perekonomian makro. Inflasi yang tinggi akan menyebabkan

memburuknya distribusi pendapatan, menambah angka kemiskinan, mengurangi

tabungan domestik, menyebabkan defisit neraca perdagangan, menggelembungkan

besaran utang luar negeri serta menimbulkan ketidakstabilan politik. Mengingat

begitu krusialnya inflasi ini, Bank Sentral dalam tugasnya menjaga stabilitas

ekonomi menetapkannya sebagai tujuan utama dalam pelaksanaan kebijakan

moneternya (Sholeh, 1999). Beberapa tahun terakhir, terdapat kecenderungan

sejumlah bank-bank sentral di dunia menggunakan inflation targeting dalam

kerangka kebijakan moneter sebagai rasa ketidakpuasan terhadap penggunaan

besaran-besaran moneter ataupun exchange rate targeting. Inflation targeting

adalah strategi kebijakan moneter yang bersifat forward looking dengan

memfokuskan secara langsung pada kestabilan harga atau inflasi yang rendah

sebagai sasaran tunggal akhir.

(37)

Menurut Debelle dan Lim (dalam Santoso, 1999), secara garis besar terdapat tiga kegiatan utama dalam melaksanakan kerangka kerja kebijakan moneter di Negara yang menganut inflation targeting, diantanya:

 Penetapan Target Inflasi

Dalam penetapan target inflasi terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti misalnya, penentuan inflasi yang digunakan harus menjadi komitmen nasional karena ketidak berhasilan bank sentral dalam mencapai sasaran yang ditetapkan akan mengurangi kredibilitas masyarakat terhadap bank sentral. Selain itu, Besarnya inflasi yang ditargetkan hendaknya disesuaikan dengan potensi aktivitas ekonomi di masa yang akan dating dan jangka waktu pencapaian inflasi yang ditargetkan berbeda untuk masingmasing negara tergantung dari inflasi awal yang terjadi.

 Proyeksi Inflasi

Inflation targeting bersifat kedepan, yang artinya bahwa sebelum melaksanakan kebijakan ini, otoritas moneter harus mempunyai model yang mampu dengan akurat memprediksikan inflasi dalam suatu jangka waktu tertentu. Ketidakakuratan dalam memprediksi inflasi ke depan tidak hanya menyangkut kredibilitas otoritas moneter tetapi juga akan dapat menjadi beban yang mahal bagi sektor riil apabila kebijakan moneter yang dilakukan terlalu ketat.

 Penetapan Target Operasional

Umumnya negara-negara yang menganut rezim inflation targeting

menggunakan suku bunga jangka pendek sebagai sasaran operasional.

(38)

Sementara yang secara eksplisit menggunakan Monetary Condition Index (MCI) sebagai sasaran antara.

Menurut Bank Indonesia inflasi merupakan single objective, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain. Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain. Perumusan tujuan tunggal ini dimaksudkan untuk memperjelas sasaran yang harus dicapai oleh Bank Indonesia serta batas-batas tanggung jawabnya. Dengan demikian, tercapai atau tidaknya tujuan Bank Indonesia ini kelak akan dapat diukur dengan mudah. Dalam upaya pencapaian tujuannya, Bank Indonesia menyadari bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi perlu diselaraskan untuk mencapai hasil yang optimal dan berkesinambungan dalam jangka panjang.

Penetapan target inflasi yang dilakukan Bank Indonesia berdasarkan UU Bank Indonesia yang dilakukan oleh Pemerintah. Dalam Nota Kesepahaman antara Pemerintah dan Bank Indonesia, sasaran inflasi ditetapkan untuk tiga tahun ke depan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Berdasarkan PMK No.66/PMK.011/2012 tentang Sasaran Inflasi tahun 2013, 2014, dan 2015 tanggal 30 April 2012 sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk periode 2013 – 2015, masing-masing sebesar 4,5%, 4,5%, dan 4% masing-masing dengan deviasi

±1%. Gambar 2.4 menjelaskan mengenai skema determian inflasi menurut Bank

Indonesia.

(39)

Gambar 2 2

Skema Determinan Inflasi

Sumber: Bank Indonesia

Gambar 2.2 di atas dapat dijelaskan sebagai berikut. Inersia inflasi atau

kesulitan ekspektasi inflasi untuk diubah akibat adanya kecenderungan untuk

menjadikan tingkat inflasi atau perkembangan nilai tukar dan perkembangan harga

tahun lalu sebagai dasar ekspektasi inflasi tahun berikutnya, target inflasi yang

diumumkan Bank Indonesia, nilai tukar rupiah akan berpengaruh langsung terhadap

ekspektasi inflasi dari para pelaku pasar. Ekspektasi pelaku pasar terhadap inflasi

juga akan dipengaruhi oleh inflasi harga-harga yang ditentukan pemerintah

(administered price). Sementara itu, nilai tukar rupiah dan inflasi yang terjadi di

mitra dagang akan berpengaruh terhadap kenaikan harga barang impor (inflasi

barang impor) yang akan menimbulkan output gap. Ekspetasi inflasi, output gap

dan inflasi harga impor akan mempengaruhi inflasi inti. Jika inflasi inti

(40)

digabungkan dengan inflasi administered, dan inflasi volatile foods, maka akan terbentuk inflasi IHK (Masyuhri dkk 2008).

2.4 Mekanisme Transmisi Kebijakan Moneter

Mekanisme transmisi kebijakan moneter pada dasarnya menggambarkan bagaimana kebijakan moneter ditempuh oleh bank sentral dalam mempengaruhi berbagai aktifitas ekonomi dan keuangan sehingga pada akhirnya dapat mencapai tujuan akhir yang ditetapkan. Dalam kenyataanya, mekanisme transmisi kebijakan moneter merupakan proses yang kompleks dan sering disebut dengan “black box”

(Mishkin, 2008).

Gambar 2.3

Mekanisme Transmisi Moneter sebagai “Black Box”

Sumber: Mishkin (2008)

Mekanisme transmisi kebijakan moneter banyak dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu (1) perubahan perilaku banksentral, perbankan, dan para pelaku ekonomi dalam berbagai aktivitas ekonomi dan keuangannya, (2) lamanya tenggang waktu (lag) sejak kebijakan moneter ditempuh sampai sasaran inflasi tercapai, serta (3) terjadinya perubahan pada saluran-saluran transmisi moneter itu sendiri sesuai dengan perkembangan ekonomi dan keuangan di negara yang bersangkutan (Warijoyo, 2004).

Kebijakan

Moneter ? Tujuan Akhir:

Inflasi

(41)

Bank Indonesia menetapkan suku bunga kebijakan suku bunga Bank Indonesia sebagai instrumen kebijakan utama untuk mempengaruhi aktivitas kegiatan perekonomian dengan tujuan akhir pencapaian inflasi. Namun jalur atau transmisi dari keputusan suku bunga Bank Indonesia sampai dengan pencapaian sasaran inflasi tersebut sangat kompleks dan memerlukan waktu (time lag).

Menurut Bank Indonesia mekanisme ini menggambarkan tindakan yang harus dilakukan oleh Bank Indonesia melalui perubahan-perubahan instrumen moneter dan target operasionalnya mempengaruhi berbagai variabel ekonomi dan keuangan sebelum akhirnya berpengaruh ke tujuan akhir inflasi. Mekanisme tersebut terjadi melalui interaksi antara Bank Sentral, perbankan dan sektor keuangan, serta sektor riil. Perubahan suku bunga Bank Indonesia mempengaruhi inflasi melalui berbagai jalur yang akan mempengaruhi laju investasi domestik.

a. Jalur Suku Bunga Tradisional

Menurut Mishkin (2008), pandangan komponen tradisional dari mekanisme transmisi moneter dapat ditentukan dengan persamaan yang menunjukan pengaruh kebijakan moneter ekspansioner:

Kebijakan moneter ekspansioner → i

r

↓ →I↑ → Y↑

Dimana kebijakan moneter ekspansioner menyebabkan penurunan suku

bunga rill (i

r

), selanjutnya menurunkan biaya modal, yang menyebabkan

meningkatnya pengeluaran investasi (I↑), sehingga mendorong peningkatan

permintaan agregat dan kenaikan output (Y↑).

(42)

Suku bunga rill dianggap lebih mempengaruhi keputusan konsumen dan bisnis dibandingkan dengan suku bunga nominal. Selain itu seringkali suku bunga rill jangka panjang yang dianggap memberikan dampak besar pada pengeluaran, walaupun suku bunga nominal menyentuh nol selama periode deflasi. Dengan suku bunga nominal mencapai nol, komitmen terhadap kebijakan moneter ekspansif di masa mendatang dapat menaikkan perkiraan tingkat harga (P

e

↑) dan demikian pula dengan perkiraan inflasi (π

e

↑), sehingga menurunkan suku bunga rill ( i

r

= [I - π

e

] ↓ ) bahkan ketika suku bunga nominal tetap sebesar nol dan menstimulasi pengeluaran melalui jalur suku bunga:

Kebijakan moneter eskpansioner : P

e

↑ π

e

↑ → i

r

↓ → I↑ → Y↑

Selain jalur suku bunga, terdapat dua mekanisme lainnya yang menjadi kategori dasar, yaitu melalui jalur harga aset, dan melalui informasi asimetris yang mempengaruhi pasar kredit.

b. Jalur Kredit

Menurut Mishkin (2008), jalur kredit menyatakan bahwa terdapat dua macam jalur transmisi moneter akibat masalah informasi pasar kredit: yaitu jalur yang bekerja melalui pengaruh kredit bank dan jalur yang bekerja melalui pengaruh neraca perusahaan dan rumah tangga.

Jalur kredit bank menunjukkan bahwa bank-bank memiliki peranan khusus

dalam sistem keuangan karena pada khususnya bank-bank cocok untuk

mengatasi masalah informasi yang asimetris di pasar kredit. Oleh karena itu,

(43)

peminjam tidak akan mempunyai akses ke pasar kredit kecuali meminjam dari bank.

Kebijakan moneter ekspansioner yang meningkatkan cadangan bank dan simpanan bank, meningkatkan tersedianya kredit bank, dengan begitu banyak peminjam bergantung pada kredit bank untuk membiayai kegiatannya, kenaikan kredit ini akan menyebabkan pengeluaran investasi meningkat.

Secara skematis, pengaruh kebijakan moneter tersebut adalah:

Kebijakan moneter ekspansioner: Simpanan bank ↑ → kredit bank ↑ → I↑ → Y↑

Terdapat tiga alasan yang menganggap jalur kredit merupakan mekanisme transmisi moneter yang penting. Pertama, ketidaksempurnaan pasar kredit yang penting untuk bekerjanya jalur kredit memang mempengaruhi keputusan terhadap penambahan tenaga kerjaa dan pengeluaran perusahaan. Kedua, perusahaan kecil yang memiliki potensi terkena hambatan kredit akan mengalami kesulitan lebih besar akibat kebijakan moneter ketat dibandingkan perusahaan besar yang tidak memiliki hambatan kredit. Ketiga, jalur kredit merupakan pembentukan suatu teori yang telah terbukti bermanfaat dalam menjelaskan fenomena penting.

c. Jalur Harga Aset

Mekanisme transmisi melalui jalur harga aset menjelaskan bahwa terdapat

pengaruh kebijakan moneter yang terjadi melalui pergeseran portfolio investasi

yang dimiliki masyarakat. Kebijakan moneter akan mempengaruhi jumlah

dalam portfolio para pelaku ekonomi dan relokasi dari suatu jenis aset ke jenis

(44)

aset lain dalam portfolio sesuai dengan expected returns and risks dari masing- masing bentuk aset (Sholeh, 1999)

Menurut Mishkin (2008), Teori Tobins’q yang dikembangkan oleh James Tobin menjelaskan bahwa kebijakan moneter dapat mempengaruhi perekonomian melalui valuasi saham. Tobin mendefinisikan q sebagai nilai pasar perusahaan dibagi dengan biaya penggantian modal (replacement cost of capital). Jika q tinggi, maka perusahaan dapat menerbitkan saham dan mendapatkan harga saham yang relatif lebih tinggi terhadap biaya fasilitas dan peralatan yang mereka beli. Pengeluaran investasi akan meningkat, karena perusahaan dapat membeli modal baru dengan hanya menerbitkan saham dalam jumlah yang sedikit.

Apabila bank sentral melakukan kebijakan moneter ekspansif, maka masyarakat akan lebih cenderung mengkonsumsi lebih banyak dari sebelumnya. Salah satu tempat untuk mengonsumsikan kelebihan uang tersebut adalah pasar modal, yang meningkatkan permintaan atas saham dan akibatnya menaikkan harga saham. Kenaikan harga saham (P

s

) akan mendorong kenaikan q dan akibatnya pengeluaran investasi I yang lebih tinggi mendorong mekanisme transmisi kebijakan moneter:

Kebijakan moneter ekspansioner : P

s

↑ → g↓ → I↑ → Y↑

Menurut Modigliani (dalam Mishkin, 2008) komponen penting sumber

daya lamanya hidup konsumen adalah kekayaan dalam bentuk aset keuangan

dan komponen terbesar dari kekayaan tersebut adalah saham biasa (common

stock). Ketika harga saham naik, nilai kekayaan finansial meningkat, sehingga

(45)

menaikkan sumber daya lamanya hidup konsumen dan konsumsi akan meningkat.

2.5 Teori Fisher Effect

Teori Fisher Effect diperkenalkan oleh Irving Fisher (1867-1947). Menurut Mankiw (2006), para ekonom menyebutkan bahwa tingkat bunga yang dibayar bank adalah tingkat bunga nominal (nominal interest rate) dan kenaikan daya beli adalah tingkat bunga rill (real interest rate). Jika i menyatakan tingkat bunga nominal, r tingkat bunga rill, dan π tingkat inflasi, maka hubungan di antara ketiga variabel tersebut bisa ditulis sebagai

𝑖 = 𝑟 + 𝜋 (2.1) Persamaan di atas menunjukkan tingkat bunga dapat berubah karena dua alasan: karena tingkat bunga rill berubah atau karena tingkat inflasi berubah.

Terdapat kesamaan antara teori kuantitas uang yang dikemukakan oleh Irving

Fisher dan persamaan fisher yang menyatakan bahwa pertumbuhan uang

mempengaruhi tingkat bunga nominal. Menurut teori kuantitas, kenaikan tingkat

pertumbuhan uang sebesar 1 persen menyebabkan kenaikan 1 persen dalam tingkat

inflasi. Menurut persamaan Fisher, kenaikan 1 persen tingkat inflasi sebaliknya

menyebabkan kenaikan 1 persen dalam tingkat bunga nominal. Hubungan satu

untuk satu antara tingkat inflasi dan tingkat bunga nominal disebut Efek Fisher

(Fisher Effect) (Mankiw, 2006).

(46)

2.6 Teori Investasi

Jumlah barang-barang modal yang diminta bergantung pada tingkat bunga yang mengukur biaya digunakan untuk investasi. Agar proyek investasi dapat menguntungkan, maka biaya yang digunakan lebih rendah dibandingkan hasil yang diperoleh. Jika suku bunga meningkat, maka lebih sedikit proyek investasi yang menguntungkan dan jumlah barang-barang investasi yang diminta akan turun.

Menurut Mankiw (2006), tingkat bunga nominal (nominal interest rate) adalah tingkat bunga yang biasa dilaporkan atau tingkat bunga yang dibayar investor untuk meminjam uang. Tingkat bunga rill (real interest rate) adalah tingkat bunga nominal yang dikoreksi untuk menghilangkan pengaruh inflasi. Tingkat bunga rill dapat mengukur biaya pinjaman yang sebenarnya dan dapat menentukan jumlah investasi. Jika I menyatakan investasi dan r tingkat suku bunga rill maka:

𝐼 = 𝐼(𝑟) (2.2) Gambar 2.4

Fungsi Investasi

Sumber: Mankiw (2006)

Gambar 2.4 menunjukan fungsi investasi yang mengaitkan jumlah investasi pada tingkat bunga rill (r). Investasi bergantung pada tingkat bunga rill karena

I(r)

Nilai Investasi (I)

Suku Bunga Riil (r)

(47)

tingkat bunga rill merupakan biaya pinjaman. Fungsi investasi miring kebawah karena ketika tingkat bunga naik, maka semakin sedikit proyek investasi yang menguntungkan.

2.7 Keseimbangan Permintaan Agregat dan Penawaran Agregat

Keseimbangan pendapatan nasional dalam analisis AD-AS akan menunjukkan tingkat harga yang berlaku pada keseimbangan dan pendapatan nasional yang dicapai. Selanjutnya, dengan memperhatikan berbagai kemungkinan perubahan kurva AD dan AS, dapat pula ditunjukkan akibat dari perubahan tersebut kepada tingkat harga dan kegiatan perekonomian negara. Apabila terjadi kenaikan tingkat harga, maka diindikasikan akan terjadi kenaikan inflasi. Jika ditinjau berdasarkan faktor penyebabnya, inflasi diklasifikasikan ke dalam dua golongan yaitu demand pull inflation dan cost push inflation (Sukirno, 2010).

Demand pull inflation terjadi pada masa perekonomian sedang berkembang

pesat. Kesempatan kerja yang tinggi menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi

dan selanjutnya daya beli sangat tinggi. Selanjutnya, daya beli yang tinggi juga akan

mendorong permintaan melebihi total produk yang tersedia. Permintaan agregat

meningkat lebih cepat dibandingkan dengan potensi produktif perekonomian ,

akibatnya terjadi inflasi (Sukirno, 2010).

(48)

Gambar 2.5

Inflasi Tekanan Permintaan (Demand-Pull Inflation)

Sumber: Mankiw (2006)

Gambar 2.5 menjelaskan terjadinya inflasi sebagai akibat kenaikan permintaan. Perekonomian dimulai pada P dan tingkat output rill dimana (P,Y) berada pada perpotongan antara kurva permintaan AD dan kurva penawaran AS.

Kurva permintaan bergeser dari AD menjadi AD” sehingga terjadi peningkatan output rill dari Y menjadi Y” dan tingkat harga dari P menjadi P” maka inilah yang disebut demand pull inflation (inflasi tarikan permintaan) yang disebabkan pergeseran kurva permintaan menarik ke atas tingkat harga dan menyebabkan inflasi (Mankiw, 2006).

Cost push inflation terjadi apabila biaya produksi mengalami kenaikan secara terus-menerus. Kenaikan biaya produksi dapat berawal dari kenaikan harga input seperti kenaikan upah minimum, kenaikan bahan baku, kenaikan tarif listrik, kenaikan BBM, dan kenaikan-kenaikan input lainnya yang mungkin semakin langka dan harus diimpor dari luar negeri (Sukirno, 2010).

Y”

Y P

AD P

Y AD”

AS

P”

(49)

Gambar 2.6

Inflasi Dorongan Biaya (Cost-Push Inflation)

Sumber: Mankiw (2006)

Gambar 2.6 menjelaskan terjadinya inflasi sebagai akibat dari kenaikan

biaya produksi. Hal ini terlihat dari adanya pergeseran kurva penawaran agregat dari AS menjadi AS” yang mendorong harga naik dari P menjadi P”. Kenaikan

harga ini menyebabkan produk nasional berkurang dari Y menjadi Y” (Mankiw, 2006).

2.7.1 Dampak Validasi Moneter terhadap Demand-Pull Inflation

Kebijakan moneter dalam hal ini Bank Indonesia dapat mempengaruhi inflasi dari sisi permintaan. Apabila Bank Indonesia bereaksi terhadap gejolak permintaan dengan meningkatkan penawaran uang, maka Bank Indonesia dianggap mengesahkan (validasi) gejolak. Misalkan sesudah gejolak permintaan menciptakan senjang inflasi, maka Bank Indonesia memberlakukan mekanisme

AD AS AS”

P P

Y P”

Y” Y

(50)

penyesuaian moneter dengan meningkatkan jumlah uang beredar pada saat output mulai menurun (Lipsey, Steiner, dan Purvis, 1993).

Gambar 2.7

Inflasi Gejolak Permintaan dengan Validasi Moneter

Sumber: Lipsey, Steiner, dan Purvis (1993)

Gejolak permintaan awal akan menggeser ekuilibrium dari AD

0

-AS

0

menjadi AD

1

-AS

0

dan mengubah pendapatan menjadi Y

1

dan harga menjadi P

1

. Senjang inflasi yang muncul akan menggeser kurva AS ke kiri. Akan tetapi, saat ini jumlah uang beredar meningkat sehingga menggeser kurva AD ke kanan. Pada saat kurva penawaran agregat mencapai AS

1

, kurva permintaan mencapat AD

2

. Dengan begitu, maka ekuilibrium menjadi AD

2

-AS

1

. Tingkat pendapatan tetap konstan pada Y

1

, dan senjang inflasi juga konstan sebesar Y*Y

1

, sementara itu tingkat harga naik menuju P

2

. Tingkat harga akan semakin meningkat seiring berjalannya waktu, namun karena adanya mekanisme penyesuaian moneter, senjang inflasi tetap saja tidak berubah pada Y

1

-Y*. Validasi atau gejolak permintaan dilakukan dengan

Y*

P

2

P

1

P

AD

2

AD

0

AD

1

AS

1

AS

0

P

0

Y

1

Y

Referensi

Dokumen terkait

1. Instrumen moneter dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter untuk lebih efektif digunakan. Bank Indonesia sejak tahun 2005 sudah menggunakan suku bunga sebagai sasaran operasional

Herna Nababan: Peranan pinjaman perbankan mekanisme transmisi kebijakan moneter, 2001 USU e-Repository © 2008... Herna Nababan: Peranan pinjaman perbankan mekanisme transmisi

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti secara empiris tentang keberadaan mekanisme transmisi kebijakan moneter di Indonesia melalui saluran kredit, pengaruhnya

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perbandingan peranan dari suku bunga dan nilai tukar pada mekanisme transmisi kebijakan moneter di Indonesia,

Tujuan penelitian ini untuk menganalisa efektivitas mekanisme transmisi ganda melalui jalur syariah yaitu pembiayaan dan bagi hasil, sedangkan jalur konvensional yaitu kredit dan

Definisi operasional variabel pada penelitian ini, antara lain: (1) BI Rate , merupakan suku bunga yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia sebagai suku bunga acuan bagi penetapan

Berdasarkan permasalahan yang dijelaskan diatas, penulis termotivasi untuk melakukan penelitian terhadap mekanisme transmisi kebijakan moneter terhadap suku bunga

Di sektor keuangan, seperti dijelaskan sebelumnya, kebijakan moneter bank sentral akan mempengaruhi perkembangan suku bunga jangka pendek (misalnya SBI dan PUAB), yang