• Tidak ada hasil yang ditemukan

Indeks Volume Impor dan Volatilitas Nilai Tukar

4.3 Hasil Estimasi Penelitian: Model Seluruh Kawasan

Pada subbab ini akan dibahas apa saja yang memengaruhi impor di seluruh kawasan dengan menggunakan metode kuantitatif. Mengingat semakin pentingnya impor bagi suatu negara maka dalam penelitian ini akan dianalisis faktor-faktor apa saja yang memengaruhi impor suatu negara, khususnya hubungan volatilitas nilai tukar dan impor. Penelitian tentang hubungan volatilitas nilai tukar riil dengan impor telah menjadi banyak perhatian bagi para ekonom di dunia. Hal ini karena dampak volatilitas nilai tukar riil terhadap impor dapat berbeda di setiap negara, sehingga akan berpengaruh terhadap kebijakan apa yang harus diterapkan oleh negara tersebut.

Tabel 4.2 menyajikan hasil estimasi koefisien faktor-faktor yang memengaruhi impor di seluruh kawasan. Dengan menggunakan System- Generalized Method of Moment (SYS-GMM) dalam estimasi twostep.

Untuk menemukan model terbaik, maka harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu penduga yang konsisten, instrumen valid, dan penduga tidak bias. Sifat konsistensi dari penduga ditunjukan oleh hasil estimasi Arellano-Bond (AB). Pada Tabel 4.2, hasil estimasi AB ditujukan oleh nilai statistik m1 (-3,0251) yang

signifikan pada taraf nyata 5 persen dan nilai statistik m2 (0,35796) yang tidak signifikan pada taraf nyata 1 persen, 5 persen, maupun 10 persen. Tidak signifikannya nilai statistik m2 mengindikasikan kurangnya second order serial correlation di dalam residual dari pembedaan spesifikasi, sehingga penduga dapat dikatakan sudah konsisten. Selanjunya, validitas instrumen dapat diperiksa dengan uji Sargan. Nilai statistik pada uji sargan sebesar 16,69518 dengan probabilitas 0,9944 yang tidak signifikan pada taraf nyata 1 persen, 5 persen, maupun 10 persen. Hal ini menunjukan bahwa tidak ada korelasi antar residu dan

over-identifying restrictions, sehingga dapat dikatakan bahwa instrumen sudah valid. Sedangkan sifat tidak bias (unbiased) pada penduga dapat dilihat dari nilai koefisien hasil estimasi yang berada diantara pooled least square (PLS) dan fixed- effects (FE). Dalam penelitian ini, nilai koefisien hasil estimasi dari lag M dengan menggunakan GMM sebesar 0,6539072 yang lebih besar dari nilai koefisien lag

M pada FE (0,5501853) dan lebih kecil dari nilai koefisien lag M pada PLS (0,9791112). Sehingga dapat dikatakan bahwa penduga bersifat tidak bias.

Tabel 4.2: Hasil Estimasi Faktor-Faktor yang Memengaruhi Impor Seluruh Kawasan (ASEAN+6 dan Non ASEAN+6)

Parameter Estimated

Coefficients Standard Error

P-value SYS-GMM Lag M Y RER V _cons

Pooled Least Square

Lag M Fixed Effect

AB Test z Arrelano-Bond m1

Arrelano-Bond m2

Sargan Test

Dari tabel 4.2 terlihat bahwa terdapat tiga variabel yang berpengaruh signifikan terhadap impor dalam kasus seluruh kawasan, yaitu lag impor (lag M), GDP riil (Y), dan volatilitas nilai tukar riil (V) yang masing-masing signifikan pada taraf nyata 5 persen. Sedangkan nilai tukar riil (RER) tidak berpengaruh signifikan terhadap impor pada taraf nyata 5 persen.

4.3.1 Variabel Lag Impor

Pada Tabel 4.2 terlihat bahwa lag impor berpengaruh positif dan signifikan terhadap impor. Lag impor memiliki nilai koefisien 0,6539702 yang signifikan pada taraf nyata 5 persen. Nilai koefisien tersebut menjelaskan bahwa jika terjadi peningkatan impor pada periode sebelumnya sebesar 1 persen, cateris paribus, maka akan menyebabkan peningkatan impor sebesar 0,6539702 persen. Hal ini berarti bahwa impor untuk periode selanjutnya berkorelasi dengan impor pada periode sebelumnya. Korelasi antara impor periode sebelumnya dengan periode selanjutnya dapat digunakan oleh pemerintah dalam meramalkan impor periode selanjutnya sehingga pemerintah dapat mengambil kebijakan yang tepat agar neraca pembayaran tetap seimbang.

4.3.2 Variabel GDP Riil

Pada Tabel 4.2, variabel GDP riil berpengaruh positif dan signifikan terhadap impor. Nilai koefisien dari GDP riil adalah 0,1886631 yang signifikan pada taraf nyata 5 persen. Hal ini berarti bahwa jika terjadi peningkatan GDP riil sebesar 1 persen, cateris paribus, maka akan meningkatkan impor sebesar 0,1886631 persen. Hal ini sesuai dengan teori yang yang dikemukakan oleh Delong (2002). Secara teori antara impor dengan pendapatan riil berhubungan positif. Jika semakin tinggi pendapatan riil maka ini sama saja dengan semakin

tinggi daya beli masyarakat, sehingga semakin banyak uang yang dimiliki atau digunakan oleh konsumen dan investor yang dapat dihabiskan atau digunakan untuk impor, sehingga impor akan meningkat.

Hubungan positif dan signifikan antara impor dan GDP riil dalam penelitian ini memiliki hasil yang sama dengan penelitian-penelitian sebelumnya, diantaranya penelitian dari Akpokodje dan Omojimite (2009), yang menjelaskan bahwa terdapat dua alasan kenapa impor dapat meningkat karena GDP riil meningkat. Pertama, jika peningkatan dalam GDP riil akan meningkatkan konsumsi riil, peningkatan konsumsi riil ini akan menyebabkan peningkatan dalam permintaan agregat. Jika penawaran domestik tidak dapat memenuhi peningkatan dalam permintaan agregat maka impor akan meningkat untuk memenuhi peningkatan permintaan agregat tersebut. Kedua, jika peningkatan GDP riil menyebabkan peningkatan dalam investasi riil sehingga investasi untuk barang-barang yang tidak diproduksi secara domestik harus dibeli dari luar negeri, hal ini berarti impor akan meningkat

4.3.3 Variabel Volatilitas Nilai Tukar Riil

Pada Tabel 4.2 untuk kasus seluruh kawasan, volatilitas nilai tukar riil berpengaruh positif dan signifikan terhadap impor. Nilai koefisien dari volatilitas nilai tukar riil adalah 0,3061796 yang signifikan pada taraf nyata 5 persen. Artinya, jika volatilitas nilai tukar riil meningkat sebesar 1 persen, cateris paribus, maka akan menyebabkan impor meningkat sebesar 0,3061796 persen.

Hubungan volatilitas nilai tukar riil terhadap impor di kasus seluruh kawasan memiliki hubungan yang signifikan dan positif. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Inggris oleh Choudhry (2008) dengan menggunakan

Error Correction Model. Pada penelitiannya, ditemukan hubungan yang positif dan signifikan antara volatilitas nilai tukar riil dan volume impor di Inggris dari Kanada, Jepang, dan New Zealand. Hubungan positif antara volatilitas nilai tukar riil dan volume impor dapat disebabkan karena pedagang bersikap risk-neutral, maka volatilitas nilai tukar dapat dijadikan kesempatan bagi mereka untuk meningkatkan keuntungan sehingga akan menyebabkan peningkatan terhadap impor (Cheong, 2004). Menurut De Grauwe (1988), bahwa jika efek pendapatan

lebih mendominasi efek substitusi maka akan menyebabkan hubungan positif antara perdagangan dan volatilitas.

Dokumen terkait