4.7. Implementasi Program K3
4.7.2. Hasil Evaluasi Sesudah Dilakukan Implementasi (Kondisi Baru
Workshop)
Proses implementasi yang dilakukan adalah menjalankan prosedur mutu workshop, instruksi kerja semua mesin dan perubahan layout. Kemudian dilakukan pemantauan pada para teknisi workshop untuk mengetahui apakah program K3 yang diimplementasikan tersebut sudah berjalan dengan baik. Selain pemantauan juga dilakukan sosialisasi khusus pada tiap teknisi yang ada di workshop agar saat menjalankan program K3, mereka melakukannya tidak dengan paksaan, tetapi dengan kesadaran.
Setelah dilakukan evaluasi hasil implementasi, ada dua hasil yang didapat, yaitu ada yang menjalankan program K3 dengan baik dan ada juga yang tidak menjalankan program K3 dengan baik. Berikut penjabaran lebih lanjut pada hasil implementasi di workshop.
Menjalankan program K3 dengan baik
Dalam menunjukkan kesadaran akan pentingnya K3, para teknisi workshop mau bekerja sama untuk menjalankan program K3 ini dengan baik. Ada beberapa hal dari program K3 yang sudah dilakukan oleh teknisi, yaitu:
- Ada beberapa teknisi saat mengoperasikan mesin menggunakan safety glasses, safety shoes, safety gloves dan safety helmet sesuai dengan mesin yang digunakan. Meskipun pemakaian APD (Alat Pelindung Diri) masih belum
83
Universitas Kristen Petra
lengkap, namun mereka mau untuk diarahkan menggunakan APD lengkap secara perlahan.
- Saat melakukan proses pengelasan dan gerinda, teknisi mempunyai kebiasaan mengerjakannya dengan posisi jongkok tanpa adanya alat bantu, seperti kursi kecil. Namun sekarang, semua teknisi saat bekerja selalu menggunakan bantuan kursi kecil agar menghindari posisi jongkok.
- Setelah selesai menggunakan alat brander cutting, teknisi sudah membiasakan diri untuk merapikan kembali alat kerja ke tempat semula, seperti mengembalikan selang brander cutting ke tempat asalnya.
- Teknisi bubut juga mulai membiasakan diri untuk membersihkan sisa-sisa kotoran bubut setelah selesai bekerja atau saat sedang menunggu material, sehingga kondisi lingkungan yang awalnya kotor dan berdebu, kini menjadi lebih bersih.
Tidak menjalankan program K3 dengan baik
Selama melakukan pengimplementasian program K3, ada 6 hal yang belum terpenuhi dengan baik atau tidak sesuai dengan dokumen HIRAS, yaitu:
- Penggunaan APD. Masih ditemui banyak teknisi yang tidak menggunakan APD secara lengkap. Misalnya pada penggunaan mesin las argon, APD yang seharusnya digunakan adalah welding helmet, safety shoes, welding gloves, masker, baju lengan panjang dan apron. Namun faktanya, APD yang digunakan hanya welding helmet dan safety shoes.
- Kondisi lingkungan. Kondisi lingkungan workshop masih kurang rapi dan teratur. Hal ini dapat dilihat dari peletakan material yang berceceran di lantai. Setelah adanya pengimplementasian, kondisi lingkungan workshop bisa dikatakan menjadi lebih baik dibandingkan kondisi lingkungan awal. Pada kondisi awal, semua area terlihat tidak rapi. Banyak material-material yang dicecer di lantai. Sedangkan untuk sekarang ini, material yang tercecer hanya di bagian gerinda saja. Kedua, ruang jalan di dalam area workshop menjadi
84
Universitas Kristen Petra
sempit. Hal ini dikarenakan banyaknya mesin-mesin yang rusak diletakkan di sepanjang jalan, sehingga saat melintasi daerah tersebut harus dilakukan dengan hati-hati. Ketiga, kondisi lingkungan workshop cukup bising dikarenakan penggunaan dari alat gerinda. Alat gerinda menghasilkan bunyi yang cukup bising dan bunyi bising tersebut sangat tidak baik bagi kesehatan teknisi. Keempat, kondisi udara di ruang mesin bubut sangat panas dikarenakan ruangan mesin bubut tertutup. Dengan adanya ventilasi pada ruangan tersebut, hal ini masih belum bisa mengatasi rasa panas.
- Peletakan material. Peletakan APAR di area workshop ini tidak tepat karena letaknya terlalu dalam atau jauh dari pintu masuk/keluar, sehingga saat mengambil APAR harus masuk ke dalam ruangan dan melewati area-area mesin terlebih dahulu. Kedua, banyak teknisi yang meletakkan sarung tangan tidak pada tempatnya, melainkan di lantai. Teknisi workshop mempunyai kebiasaan setelah menggunakan mesin, sarung tangan langsung diletakkan di atas lantai. Ketiga, di ruang mesin bubut tidak terdapat pengelompokkan material, yang mana material-material bercampuran menjadi satu. Banyak material diletakkan di atas lantai dan sedikit material yang diletakkan di dalam lemari. Jadi saat hendak mengambil material, harus mencari-cari terlebih dahulu. Saat mencari material, kabel-kabel menjadi ikut terinjak. Keempat, fire extinguisher di ruang mesin bubut diletakkan tanpa adanya pengait, sehingga hal ini akan menjadi berbahaya apabila fire extinguisher tidak sengaja tersenggol dan jatuh mengenai anggota tubuh teknisi.
- Penggunaan material. Para teknisi mempunyai kebiasaan untuk tidak langsung mengembalikan tabung gas yang sudah dalam keadaan kosong ke tempat tabung. Namun kebiasaan yang dilakukan adalah mengambil tabung gas yang baru tanpa mengembalikan terlebih dahulu tabung gas yang kosong. Hal ini membuat kondisi tempat kerja menjadi lebih sempit. Selain itu, teknisi juga tidak merantai tabung gas yang masih baru atau yang sedang tidak digunakan. Kondisi tabung dibiarkan begitu saja tanpa adanya rantai.
85
Universitas Kristen Petra
- Posisi dan cara kerja. Teknisi bubut mempunyai kebiasaan mengambil serabut/sisa hasil bubut dengan menggunakan jari pada saat mesin sedang berputar. Hal ini sangat berbahaya dilakukan karena jika jari sampai masuk ke dalam mesin bubut, jari teknisi bisa terlepas dan terluka. Selain itu, jarak antar teknisi yang bekerja dengan menggunakan alat gerinda dengan teknisi lainnya sangat berdekatan. Hal ini cukup berbahaya karena gerinda menghasilkan banyak percikan api, yang mana percikan api dapat mengenai teknisi lainnya yang berada dekat dengan teknisi yang menggunakan alat gerinda.
- Layout. Workshop telah melakukan sedikit perubahan layout, namun perubahan layout saat ini masih belum dikategorikan aman. Hal ini dapat dilihat dari peletakan mesin cutting dan welding yang masih berdekatan dengan panel listrik, serta peletakan APAR yang masih di tempat semula (peletakan APAR terlalu jauh dengan pintu masuk/keluar). Sedangkan yang mengalami perubahan adalah peletakan mesin plasma cutting sudah dijauhkan dengan area tabung gas. Perubahan layout dapat dilihat pada gambar 4.4 di bawah ini.
86
Universitas Kristen Petra
87
Universitas Kristen Petra
4.7.3. Rekomendasi
Ada beberapa rekomendasi yang diberikan untuk mengatasi hasil implementasi yang belum tepat dari sisi K3, yaitu:
- Penggunaan APD. Penggunaan APD secara lengkap ini tidak bisa dilakukan dengan sekejap, tetapi bisa dilakukan secara perlahan-lahan. Membutuhkan pantauan, pemberitahuan dan sosialisasi pada tiap teknisi melalui pola PDCA. - Kondisi lingkungan. Untuk kondisi lingkungan yang tidak rapi dan teratur, yang
mana dikarenakan banyaknya material yang tercecer di lantai bisa diatasi dengan cara mengumpulkan material-material tersebut menjadi satu bagian dan diletakkan di pinggir mesin apabila material tersebut masih digunakan kembali. Jadi sebisa mungkin material tidak dicecer di atas lantai. Sedangkan untuk ruang jalan yang sempit dikarenakan banyaknya mesin-mesin di sepanjang jalan dapat diatasi dengan cara menata mesin secara rapi dan rata supaya hal ini tidak memakan banyak tempat. Selain itu, kondisi ruangan yang cukup bising dikarenakan penggunaan alat gerinda dapat diatasi dengan cara penggunaan ear plug. Teknisi harus dibiasakan menggunakan ear plug supaya ketajaman pendengaran mereka tidak berkurang. Sebaiknya perusahaan memberikan fasilitas ear plug supaya teknisi workshop bisa menggunakan ear plug di saat kondisi lingkungan bising.Kondisi udara di ruang mesin bubut yang panas ini dikarenakan ruangan mesin bubut tertutup dapat diatasi dengan cara memberikan exhaust fan atau kipas angin pada ruangan tersebut supaya teknisi bubut dapat bekerja dengan nyaman. - Peletakan material. Peletakan APAR yang tidak strategis ini sebaiknya dipindah
dekat pintu masuk/keluar supaya saat mengambil APAR dapat dilakukan dengan cepat dan lebih mudah dijangkau. Kedua, sarung tangan yang diletakkan dengan sembarangan oleh para teknisi, dapat diatasi dengan cara kepala area workshop harus memberi peringatan kepada para teknisi untuk selalu meletakkan sarung tangan pada tempatnya. Ketiga, di ruang mesin bubut yang tidak terdapat pengelompokan material, sehingga material bercampuran menjadi satu dapat diatasi dengan cara memberikan wadah khusus untuk meletakkan
material-88
Universitas Kristen Petra
material yang berukuran kecil sampai sedang. Sedangkan untuk material yang berukuran besar dapat diletakkan di dalam lemari. Hal ini bertujuan untuk membuat lebih ringkas dan rapi, sehingga proses pencarian barang dapat dilakukan dengan cepat.Keempat, fire extinguisher di ruang mesin bubut yang diletakkan tanpa adanya pengait dapat diatasi dengan cara memberikan pengait pada fire extinguisher supaya tidak mudah tersenggol ataupun jatuh.
- Penggunaan material. Para teknisi mempunyai kebiasaan untuk tidak langsung mengembalikan tabung gas yang sudah dalam keadaan kosong ke tempat tabung dapat diatasi dengan cara memberi peringatan kepada para teknisi untuk selalu membiasakan mengembalikan tabung gas yang kosong terlebih dahulu pada tempat tabung gas dan mengambil tabung gas yang baru. Untuk tabung gas yang masih baru atau sedang tidak digunakan dalam keadaan yang tidak di rantai, maka sebaiknya mulai dibiasakan untuk merantai tabung-tabung gas supaya lebih aman. - Posisi dan cara kerja. Untuk mengatasi teknisi bubut yang mempunyai kebiasaan mengambil serabut/sisa hasil bubut dengan menggunakan jari adalah dengan cara melarang teknisi untuk mengambil serabut dengan menggunakan anggota tubuhnya. Serabut boleh diambil pada saat mesin dimatikan atau menggunakan alat bantu, seperti sumpit dan lain sebagainya. Sedangkan jarak antar teknisi yang bekerja dengan menggunakan alat gerinda dengan teknisi lainnya sangat berdekatan dapat diatasi dengan cara memberitahukan kepada para teknisi untuk tidak bekerja terlalu dekat dengan teknisi yang sedang menggerinda.
- Penyediaan APD. Fasilitas APD yang ada di workshop masih belum lengkap. Masih ada beberapa APD yang seharusnya digunakan, namun dikarenakan tidak diberi fasilitas, sehingga teknisi tidak menggunakan APD tersebut. APD yang diperlukan oleh teknisi workshop, antara lain ear plug, apron dan masker khusus (bukan masker kain).
- Layout. Layout yang sudah mengalami perubahan sebaiknya diperbaharui kembali karena masih ditemukan beberapa sumber bahaya yang letaknya saling berdekatan, seperti peletakan mesin cutting dan welding berdekatan dengan panel listrik,
89
Universitas Kristen Petra
peletakan APAR yang terlalu dalam, mesin-mesin yang menghasilkan percikan api dan asap berjauhan dengan ventilasi dan exhaust fan, serta meja finisih job diletakkan di bagian yang cukup dalam. Usulan layout baru akan dibuat dengan bantuan Activity Relationship Chart atau biasa dikenal dengan Rel Chart. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 4.5 di bawah ini.
90
Universitas Kristen Petra
Gambar 4.5 Activity Relationship Chart Usulan Layout Baru
Tabel 4.18 Tabel Kode Alasan Activity Relationship Chart Usulan Layout Baru
Nilai Alasan
1 Safety
2 Healthy
3 Special condition
Pada gambar diagram di atas, peletakan mesin dan material dikelompokkan dalam beberapa hubungan, yaitu A untuk hubungan yang mutlak harus didekatkan, I untuk hubungan yang harus didekatkan karena penting, O untuk hubungan yang didekatkan karena cukup penting, U untuk hubungan yang tidak perlu didekatkan karena tidak penting dan X untuk hubungan yang tidak boleh didekatkan karena
91
Universitas Kristen Petra
berbahaya. Penjelasan diagram Rel Chart lebih lanjutnya dapat dilihat pada bab 2.5.
Welding area mempunyai hubungan A dengan fitting table karena setelah melakukan pengelasan, teknisi selalu mengepaskan/mencocokkan hasil las dengan komponen mesin lainnya di fitting table. Jika dilihat dari sisi K3, peletakkan mesin welding yang berdekatan dengan fitting table kurang tepat karena proses welding menghasilkan asap, sehingga perlu didekatkan dengan ventilasi. Sedangkan apabila welding area didekatkan dengan fitting table, maka hal tersebut berjauhan dengan ventilasi. Fitting table tidak bisa dipindahkan, sehingga welding area yang harus didekatkan dengan fitting table. Maka dari itu, diberikan alasan special condition untuk welding area dengan fitting table.
Snei pipa area, cutting area, plasma cutting area dan argon welding area mempunyai hubungan I dan harus didekatkan antara satu dengan yang lainnya karena mesin-mesin tersebut menghasilkan asap, sehingga harus didekatkan ventilasi. Maka dari itu, alasan pendekatan mesin-mesin tersebut adalah untuk kesehatan (healthy) para teknisi supaya ruangan terhindar dari bau asap.
Finish job mempunyai hubungan O dengan semua mesin dikarenakan semua material/komponen mesin yang sudah selesai dikerjakan akan diletakkan di meja finish job. Maka dari itu, meja finish job cukup penting untuk didekatkan dengan mesin-mesin yang ada di workshop.
Terdapat beberapa mesin yang mempunyai hubungan U dengan mesin lainnya. Hal itu menandakan bahwa tidak ada hubungan yang penting mesin tersebut didekatkan.
Selain itu, ada beberapa mesin yang tidak diperbolehkan berdekatan dengan area lain dikarenakan sangat berbahaya, seperti welding area berbahaya apabila didekatkan dengan panel listrik, plasma cutting area berbahaya apabila didekatkan dengan bottle area dan lain sebagainya. Mesin tersebut tidak diijinkan berdekatan dengan panel listrik maupun bottle area karena alasan keselamatan (safety). Maka dari itu, hubungan penempatan area tersebut adalah X.
92
Universitas Kristen Petra
Langkah berikutnya setelah dibuatnya diagram Rel Chart adalah penggambaran layout. Layout yang dibuat tidak mutlak sesuai dengan keadaan diagram Rel Chart, tetapi ada beberapa penempatan yang dilakukan adjustment khusus. Hal ini dikarenakan ada beberapa kondisi nyata yang tidak memungkinkan dilakukan perubahan letak sesuai dengan diagram Rel Chart. Area-area yang tidak bisa dipindah, antara lain fitting table, bottle area, panel listrik, rak barang teknik, tool inventory dan lain sebagainya.
Selain itu, terdapat beberapa area yang tidak berkaitan dengan sisi K3 yang dilakukan perubahan letak, yaitu mushola, loker teknisi dan penambahan meja koordinasi. Perubahan letak dilakukan berdasarkan keinginan dari pihak HRD sendiri tanpa adanya hubungan dengan sisi K3. Usulan layout baru dapat dilihat lebih jelasnya pada gambar 4.6 di bawah ini.
93
Universitas Kristen Petra