BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
5.1.4 Hasil uji hipotesis
5.1.4.1 Hasil uji koefisien determinasi (R2)
Nilai koefisien determinasi (R2) atau adjusted R2 pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat. Nilai R2 berada diantara nol dan satu. Hasil pengukuran koefisien determinasi (R2) dapat dilihat pada tabel 5.9 sebagai berikut:
Tabel 5.9 Hasil uji koefisien determinasi (R2)
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the
Estimate
1 ,667a ,444 ,419 2,13391
a. Predictors: (Constant), Pengendalian Intern, Kompetensi, Pelatihan, Pemanfaatan SIPKD.
Dependent Variable: Kualitas Laporan Keuangan
Sumber: Hasil Penelitian, 2017 (Diolah)
Dari tabel 5.9 diketahui nilai R square (R2) sebesar 44,4%, namun jika independen variabel lebih dari satu maka sebaiknya untuk melihat kemampuan variabel memprediksi variabel dependen, nilai yang digunakan adalah nilai
adjusted R2. Nilai adjusted R2 sebesar 0,419 mempunyai arti bahwa variabel dependen mampu dijelaskan oleh variabel independen sebesar 41,9%.
Dengan kata lain 41,9% perubahan atas variabel kualitas laporan keuangan mampu dijelaskan oleh pelatihan, pemanfaatan SIPKD, kompetensi dan
Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF 1. (Constant) Pelatihan 0,860 1,162 Pemanfaatan SIPKD 0,823 1,215 Kompetensi 0,906 1,104 Pengendalian Intern 0,923 1,083
pengendalian intern, sedangkan sisanya sebesar 58,1% dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diikutkan dalam penelitian ini.
5.1.4.2 Hasil uji F (F-Test)
Tabel 5.10 Hasil uji F (F-Test)
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 324,190 4 81,048 17,799 ,000b
Residual 405,267 89 4,554
Total 729,457 93
a. Dependent Variable: Kualitas Laporan Keuangan
b. Predictors: (Constant), Pengendalian Intern, Kompetensi, Pemanfaatan SIPKD, Pelatihan.
Sumber: Hasil Penelitian, 2017 (Diolah)
Berdasarkan tabel uji F, nilai Fhitung (17,799) > Ftabel (2,47) dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 dengan demikian maka Ho ditolak dan H1 diterima. Hal ini berarti semua variabel independen (Pelatihan, Pemanfaatan SIPKD, Kompetensi dan Pengendalian Intern) secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel dependen (Kualitas Laporan Keuangan).
5.1.4.3 Hasil uji t (t-Test)
Tabel 5.11 Hasil uji t (t-Test) Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -5,617 5,434 -1,034 0,304 Pelatihan 0,347 0,090 0,328 3,846 0,000 Pemanfaatan SIPKD 0,510 0,118 0,377 4,335 0,000 Kompetensi 0,282 0,086 0,274 3,295 0,001 Pengendalian Intern 0,175 0,072 0,201 2,441 0,017
Dependent Variable: Kualitas Laporan Keuangan
Sumber: Hasil Penelitian, 2017 (Diolah)
Dari Tabel 5.11 dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Konstanta sebesar -5,617 artinya walaupun tidak ada penambahan dari variabel pelatihan, pemanfaatan SIPKD, kompetensi, dan pengendalian intern maka kualitas laporan keuangan adalah sebesar -5,617.
2. Variabel pelatihan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas laporan keuangan pada SKPD di Kabupaten Bireuen, hal ini terlihat dari nilai thitung
(3,846) > ttabel (1,987) dan signifikan pada 0,000 < 0,05.
Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima, hal ini berarti jika terjadi peningkatan pelaksanaan pelatihan sebesar 1 poin maka akan terjadi peningkatan kualitas laporan keuangan sebesar 0,347.
Semakin baik persepsi responden atas pelaksanaan pelatihan maka semakin berkualitas laporan keuangan pada SKPD di Kabupaten Bireuen.
3. Variabel pemanfaatan SIPKD berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas laporan keuangan pada SKPD di Kabupaten Bireuen, hal ini terlihat dari nilai thitung (4,335) > ttabel (1,987) dan signifikan pada 0,000 < 0,05.
Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima, hal ini berarti jika terjadi peningkatan pemanfaatan SIPKD sebesar 1 poin maka kualitas laporan keuangan akan meningkat sebesar 0,510.
Semakin baik persepsi responden atas pemanfaatan SIPKD maka semakin berkualitas laporan keuangan pada SKPD di Kabupaten Bireuen.
4. Variabel kompetensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas laporan keuangan pada SKPD di Kabupaten Bireuen, hal ini terlihat dari nilai
thitung (3,295) > ttabel (1,987) dan signifikan pada 0,001 < 0,05.
Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima, jika terjadi peningkatan kompetensi sebesar 1 poin maka kualitas laporan keuangan akan meningkat sebesar 0,282.
Semakin baik persepsi responden atas kompetensi maka semakin berkualitas laporan keuangan pada SKPD di Kabupaten Bireuen.
5. Variabel pengendalian intern berpengaruh positif dan signifikan terhadap kualitas laporan keuangan pada SKPD di Kabupaten Bireuen, hal ini terlihat dari nilai thitung (2,441) > ttabel (1,987) dan signifikan pada 0,017 < 0,05.
Dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima, hal ini berarti jika terjadi peningkatan pengendalian intern sebesar 1 poin maka kualitas laporan keuangan akan meningkat sebesar 0,175.
Semakin baik persepsi responden atas pengendalian intern maka semakin berkualitas laporan keuangan pada SKPD di Kabupaten Bireuen.
6. Persamaan regresi yang dapat dibentuk sebagai berikut:
Y = -5,617 + 0,347 X1 + 0,510 X2 + 0,282 X3 + 0,175 X4
KPLK = -5,617 + 0,347 P + 0,510 PSIPKD + 0,282 KPPK + 0,175 PI 5.1.4.4 Hasil uji residual (moderating)
Pengujian hipotesis kedua menggunakan uji residual untuk membuktikan hipotesis kedua yang menyatakan bahwa gaya kepemimpinan dapat memoderasi hubungan antara variabel independen (pelatihan, pemanfaatan SIPKD, kompetensi dan pengendalian intern) dengan variabel dependen kualitas laporan keuangan pada SKPD di Kabupaten Bireuen.
Uji residual dapat menunjukkan apakah suatu variabel dapat dikatakan sebagai variabel moderating. Jika suatu variabel dilakukan uji residual dengan hasil nilai koefisien signifikansi lebih kecil dari 0,05 yang berarti signifikan dan bernilai negatif maka variabel ini dapat dijadikan sebagai variabel moderating (Ghozali, 2013). Untuk dapat mengetahui pengaruhnya dilakukan persamaan regresi dengan 2 (dua) tahap sebagai berikut:
Seluruh variabel independen harus diregresikan dengan variabel moderating agar diketahui pengaruhnya. Hasil regresi dapat dilihat dalam Tabel 5.12.
Tabel 5.12 Hasil uji regresi hipotesis variabel moderating Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1,730 3,508 ,493 0,623 Pelatihan 0,157 0,058 0,143 2,705 0,008 Pemanfaatan SIPKD 0,003 0,076 0,002 0,035 0,972 Kompetensi 0,029 0,055 0,027 0,532 0,596 Pengendalian Intern 0,766 0,046 0,842 16,541 0,000
Dependent Variable: Gaya Kepemimpinan
Sumber: Hasil Penelitian, 2017 (Diolah)
Persamaan regresi berganda antara variabel independen terhadap variabel moderating dengan menggunakan data pada Tabel 5.12 dapat diformulasikan dalam bentuk persamaan berikut ini :
Z = 1,730 + 0,157 X1 + 0,003 X2 + 0,029 X3 + 0,766 X4
Tahap II:
Angka residual dari hasil persamaan tahap pertama akan ditransformasikan untuk menghasilkan nilai absolut residual. Nilai absolut tersebut akan diregresikan dengan variabel dependen yaitu kualitas laporan keuangan sehingga akan menghasilkan persamaan berikut:
|e| = 0,908 – 0,005 Y
Hasil persamaan regresi diatas dapat dilihat pada tabel 5.13 di bawah ini:
Tabel 5.13 Hasil uji residual Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 0,908 1,667 0,545 0,587 Kualitas Laporan Keuangan -0,005 0,042 -,011 -0,107 0,915
a. Dependent Variable: AbsRes_Moderasi Sumber: Hasil Penelitian, 2017 (Diolah)
0,915 lebih besar dari α = 0,05 dan koefisien regresi yang bernilai -0,005 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel gaya kepemimpinan tidak mampu memoderasi hubungan antara pelatihan, pemanfaatan SIPKD, kompetensi dan pengendalian intern dengan kualitas laporan keuangan pada SKPD di Kabupaten Bireuen.