• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

1. Hasil identifikasi tanaman

Hasil identifikasi tanaman yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lembaga Penelitian dan Pengembangan Biologi Bogor, menunjukkan bahwa tanaman yang diteliti adalah Sambiloto dengan nama ilmiah

Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees, suku Acanthaceae dan Salam dengan nama ilmiah Syzygium polyanthum (Wight) Walp., suku Myrtaceae.

4.2 Hasil Karakterisasi Simplisia

Hasil pemeriksaan makroskopik herba sambiloto segar baunya khas dan rasanya sangat pahit. Batang tidak berambut, tebal 2 - 6 mm dan berbentuk persegi empat. Daun berwarna hijau, berbentuk lanset, panjang 2 - 7 cm, lebar 1 - 3 cm, rapuh, tipis, tidak berambut, ujung daun runcing. Biji agak keras, permukaan luar berwarna cokelat muda.

Hasil pemeriksaan mikroskopik yang dilakukan terhadap daun sambiloto segar pada sayatan melintang melalui tulang daun terlihat rambut penutup, sel epidermis dan sistolit, terdapat juga kolenkim, jaringan pagar, jaringan bunga karang, berkas pembuluh tipe bikolateral dan epidermis bawah. Sayatan membujur permukaan daun sambiloto bagian bawah terdapat stomata tipe bidiasitik, sistolit dan sel kelenjar. Serbuk simplisia herba sambiloto terdapat fragmen mesofil, sistolit, epidermis bawah, berkas pembuluh dan rambut dari kelopak bunga Hasil pemeriksaan dapat dilihat pada Lampiran 5, halaman 56.

Hasil pemeriksaan makroskopik daun salam segar berwarna hijau, licin, mengkilat, helai daun berbentuk jorong memanjang, panjang 10 - 14 cm, lebar 3 - 5 cm. Hasil pemeriksaan makroskopik simplisia daun salam berwarna hijau kecoklatan, bau khas, dan rasa agak kelat.

Hasil pemeriksaan mikroskopik sayatan melintang daun salam segar terlihat kutikula, sel epidermis, kelenjar lisigen, jaringan pagar, jaringan bunga karang dan hablur kalsium oksalat. Sayatan membujur daun salam permukaan bawah tampak stomata tipe parasitik. Serbuk simplisia terdapat epidermis, stomata tipe parasitik, berkas pembuluh, hablur kalsium oksalat dan serabut sklerenkim Hasil pemeriksaan dapat dilihat pada Lampiran 6, halaman 58.

Hasil pemeriksaan karakterisasi dari serbuk simplisia herba sambiloto dan daun salam dapat dilihat pada Tabel 4.1 dan Tabel 4.2.

Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Karakterisasi Serbuk Simplisia Herba Sambiloto

Parameter Hasil (%) Persyaratan

MMI (%) Kadar sari yang larut dalam air

Kadar sari yang larut dalam etanol Kadar abu

Kadar abu yang tidak larut dalam asam

19,20 15,11 7,10 1,25 > 18 > 9,7 < 12 < 2,2 Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Karakterisasi Serbuk Simplisia Daun Salam

Parameter Hasil (%) Persyaratan

MMI (%) Kadar air

Kadar sari yang larut dalam air Kadar sari yang larut dalam etanol Kadar abu

Kadar abu yang tidak larut dalam asam

7,98 12,83 9,54 3,71 0,53 < 10 > 12 > 8 < 5 < 1

Hasil pemeriksaan karakterisasi serbuk simplisia herba sambiloto di atas memenuhi persyaratan monografi yang tertera pada Materia Medika Indonesia Jilid III (Depkes RIb, 1979) dan hasil pemeriksaan karakterisasi serbuk simplisia

daun salam memenuhi persyaratan monografi yang tertera pada Materia Medika Indonesia Jilid IV (Depkes RI, 1980).

Simplisia merupakan bahan baku yang berasal dari tanaman yang belum mengalami pengolahan, kecuali pengeringan. Standardisasi simplisia dibutuhkan karena jumlah kandungan kimia pada tanaman ditentukan oleh banyak faktor, misalnya tempat tumbuh tanaman, iklim, cara pembudidayaan, cara dan waktu panen (Dewoto, 2007).

Penetapan kadar air ditetapkan untuk menjaga kualitas simplisia, karena kadar air mempunyai kaitan dengan kemungkinan bertumbuhnya kapang/jamur. Kadar abu diperiksa untuk mengetahui tingkat pengotoran dari logam-logam dan silikat. Penetapan kadar sari larut air dan etanol dilakukan untuk mengetahui kadar zat-zat yang larut dalam air dan etanol (Depkes RIc, 2000).

4.3 Hasil Ekstraksi Serbuk Simplisia Herba Sambiloto dan Daun Salam Ekstraksi dilakukan terhadap serbuk simplisia herba sambiloto dan daun salam yang masing-masing dilakukan dengan cara perkolasi sehingga diperoleh ekstrak cair. Ekstrak cair yang didapat selanjutnya dipekatkan dengan vacuum rotary evaporator. Hasil penyarian 900 g serbuk simplisia herba sambiloto dengan pelarut etanol 50% diperoleh ekstrak kental 205,28 g (rendemen 22,81%) dan hasil penyarian 900 g serbuk simplisia daun salam dengan pelarut etanol 70% diperoleh ekstrak kental 200,48 g (rendemen 22,27%).

Kandungan kimia dalam ekstrak daun daun salam yang dapat mengendalikan dislipidemia adalah flavonoid dan tanin. Berdasarkan penelitian baik in vivo maupun in vitro menunjukkan bahwa flavonoid dapat menghambat enzim HMG-CoA reduktase sehingga sintesis kolesterol menurun mengakibatkan

kadar kolesterol darah menurun. Adanya tanin dapat menghambat penyerapan lemak di usus dengan cara bereaksi dengan protein mukosa dan sel epitel usus sehingga menurunkan absorpsi lemak ke dalam tubuh (Prahastuti, 2014).

Kandungan andrografolida dalam ekstrak herba sambiloto dapat membantu melindungi atau memperbaiki sel hati yang rusak karena zat toksik. Sel hati yang terlindungi dari kerusakan dapat mempermudah mekanisme kerja sel hati dan sintesis lemak oleh sel hati juga dapat berjalan lancar sehingga kadar lipid plasma dapat turun (Fatmawati, 2008). Ekstrak sambiloto juga mengandung saponin yang bermanfaat menghambat penyerapan kolesterol dengan membentuk ikatan kompleks yang tidak larut dengan kolesterol, berikatan dengan asam empedu membentuk micelles dan meningkatkan pengikatan kolesterol oleh serat serta meningkatkan ekskresinya melalui feses.

4.4 Hasil Formulasi dan Evaluasi Kapsul 4.4.1 Formulasi kapsul

Kapsul diformulasi dengan menggunakan dosis ekstrak herba sambiloto dan daun salam masing-masing sebesar 100 mg. Pemilihan dosis ini berdasarkan konversi dosis terhadap dosis uji praklinis yang telah dilakukan Dinkes Sumut (2007) terhadap marmut dimana dengan dosis sebesar 50 mg/kg BB diperoleh efek penurunan kadar kolestoral total dan trigliserida. Hasil konversi dosis diperoleh dosis untuk manusia sebesar 630 mg (hasil konversi dosis dapat dilihat pada Lampiran 9, halaman 67). Pemberian kapsul dilakukan 3 x sehari sehingga dosis masing-masing ekstrak seharusnya adalah 210 mg namun dengan mempertimbangkan bahwa dosis ini baru pertama kali diberikan pada manusia

dan untuk menghindari efek samping dengan dosis yang tinggi maka pada penelitian ini digunakan dosis sebesar 100 mg.

Bahan pengikat dalam pembuatan kapsul ini menggunakan 2 macam amilum yaitu amilum manihot dan amilum maidis. Kombinasi kedua amilum ini ditujukan untuk mendapatkan massa granul yang lebih baik sehingga memudahkan untuk pengisian ke dalam kapsul.

4.4.2 Evaluasi kapsul

Kapsul kombinasi ekstrak herba sambiloto dan ekstrak daun salam diformulasi dengan bahan tambahan amilum manihot, amilum maidis dan sakarum laktis lalu dimasukkan ke dalam cangkang kapsul. Kapsul yang telah jadi dievaluasi penyimpangan bobot kapsul. Persyaratan evaluasi kapsul yaitu tiap kapsul tidak mempunyai deviasi diatas 7,5% dan setiap dua kapsul tidak mempunyai deviasi diatas 15%. Hasil evaluasi sediaan kapsul kombinasi ekstrak herba sambiloto dan ekstrak daun salam memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia edisi III. Hasil evaluasi dapat dilihat pada Lampiran 10, halaman 68.

4.5 Uji Klinis Pendahuluan

Uji klinis pendahuluan yang dilakukan pada penelitian ini termasuk pada tahap uji klinis fase II awal dimana pada fase ini obat diberikan kepada pasien dengan jumlah pasien yang sedikit serta tidak menggunakan plasebo maupun obat standar sebagai pembanding. Penelitian uji klinis pendahuluan sebaiknya menggunakan variasi dosis namun dalam penelitian ini penulis menyadari kekurangan yang ada karena keterbatasan penulis.

Jumlah awal calon subyek pada penelitian ini adalah 160 orang yang diukur kadar kolesterolnya dengan menggunakan alat easy touch. Hasil pengukuran tersebut menunjukkan bahwa hanya 40 orang yang positif memiliki kadar kolesterol total > 200 mg/dl. Dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di Laboratorium Kesehatan Daerah, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara untuk mengetahui kadar profil lipid (kadar kolesterol total, TG, LDL dan HDL) dan diperoleh sebanyak 25 orang positif dislipidemia. 5 orang dinyatakan drop out dari penelitian ini sehingga jumlah subyek yang mengikuti penelitian ini dari awal hingga akhir sebanyak 20 orang.

Pemeriksaan vital sign pasien dilakukan sebelum (H0) dan sesudah (H28) pemberian kapsul kombinasi ekstrak herba sambiloto dan daun salam meliputi penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan sehingga diperoleh IMT (Indeks Massa Tubuh) serta pemeriksaan tekanan darah. Hasil pemeriksaan dapat dilihat pada Lampiran 13, halaman 72. Berdasarkan data hasil pemeriksaan vital sign pasien pada H0 serta pengisian kuesioner penelitian oleh pasien maka diperoleh data dasar pasien yang dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Mayoritas pasien dislipidemia berumur 41 - 60 tahun (70%) dan 20 – 40 tahun (30%). Faktor eksternal yang mempengaruhi kadar kolesterol diantaranya adalah usia dan jenis kelamin. Kadar kolesterol meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Kadar kolesterol HDL wanita cenderung lebih tinggi daripada laki-laki (Wijayakusuma, 2008). Laki-laki dengan usia diatas 45 tahun dan perempuan berusia diatas 55 tahun atau yang sudah memasuki masa menopause berkemungkinan memiliki kadar kolesterol yang tinggi (Santoso, dkk., 2009).

Tabel 4.3 Data dasar pasien dislipidemia

Karakteristik Pasien Jumlah (%)

Usia (tahun): 20-40 41-60 Jenis kelamin: Laki-laki Perempuan IMT (kg/m²): Kurus ( < 18,5) Normal (18,5-24,9)

Kelebihan berat badan (25-29,9) Obesitas ( > 30)

Tekanan darah (mmHg): Normal (<120)

Pra hipertensi (120-139) Hipertensi stage I (140-159) Hipertensi stage II (>160) Kolesterol total (mg/dl): Normal (<200)

Batas tinggi (200-239) Tinggi (>240) Trigliserida (mg/dl): Normal (<150) Batas tinggi (151-199) Tinggi (200-499) Sangat tinggi (500) HDL (mg/dl): Rendah (<40) Sedang ( 41-59) Tinggi (>60) LDL (mg/dl): Optimal (<100) Mendekati optimal (100-129) Batas tinggi (130-159) Tinggi (160-189) Sangat tinggi (>190) 6 14 12 8 1 6 7 6 5 9 3 3 1 6 13 6 5 6 3 2 17 1 3 3 5 7 2 30 70 60 40 5 30 35 30 25 45 15 15 5 30 65 30 25 30 15 10 85 5 15 15 25 35 10

Mayoritas pasien memiliki tekanan darah diatas normal (75%). Menurut Kamso (2002), pasien hiperkolesterolemia lebih sering dijumpai pada penderita hipertensi dibandingkan pada individu dengan tekanan darah normal. Kadar kolesterol sering dihubungkan dengan faktor kegemukan, dari data dasar pasien diatas tampak mayoritas pasien dislipidemia diatas memiliki kelebihan berat badan dan obesitas (65%), walaupun tidak menutup kemungkinan orang dengan tubuh kurus (1%) dan normal (30%) memiliki kadar kolesterol yang tinggi juga. Orang yang memiliki berat badan berlebihan mempunyai kadar kolesterol total,

LDL dan trigliserida yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang berat badannya normal. Mereka yang gemuk memiliki kelebihan lemak yang disimpan di jaringan bawah kulit dalam bentuk trigliserida. Orang yang mempunyai berat badan normal juga belum tentu bebas dari kolesterol tinggi (Wijayakusuma, 2008).

Data kuesioner pasien juga menunjukkan bahwa pasien memiliki gaya hidup yang kurang baik, terlihat dari jarang atau tidak adanya olahraga dan kebiasan merokok (data hasil kuesioner dapat dilihat pada Lampiran 11, halaman 69). Peningkatan terjadinya resiko dislipidemia juga dipengaruhi oleh gaya hidup yaitu olahraga, kebiasaan merokok dan pola makan yang kurang baik.

Menurut US National Institutes of Health (2005), kurang berolahraga berkontribusi untuk meningkatkan berat badan dan dapat meningkatkan LDL dan menurunkan HDL. Berolahraga secara teratur dapat meningkatkan HDL dan menurunkan trigliserida sehingga dapat membantu menurunkan LDL juga. Menurut Murray (2013), rokok mengandung zat kimia yang berpotensi sebagai karsinogen. Zat-zat kimia ini mengganggu sistem kardiovaskuler, dimana zat kimia tersebut dibawa oleh LDL didalam pembuluh darah dan dapat merusak molekul LDL itu sendiri (mengoksidasi LDL).

4.6 Hasil Pengukuran Kadar Ureum dan Kreatinin serta Perhitungan Kreatinin Klirens Pasien Dislipidemia

Hasil pengukuran kadar ureum rata-rata pasien pada hari 0 (35,20 mg/dl), hari ke-14 (35,55 mg/dl) dan hari ke 28 (35,45 mg/dl). Hasil pengukuran kadar kreatinin rata-rata pasien pada hari 0 (0,944 mg/dl), hari ke-14 (0,973 mg/dl), dan hari ke-28 (0,925 mg/dl). Dilakukan perhitungan kadar kreatinin klirens dari

kadar kreatinin pasien yang telah diperoleh dengan menggunakan formula Cockcroft-Gault:

(140 - umur) x BB (kg) kreatinin serum x 72 (hasil diatas dikali dengan 0,85 jika wanita).

Hasil perhitungan kadar kreatinin klirens rata-rata pasien pada hari ke 0 (96,27 ml/mnt), hari ke 14 (90,47 ml/mnt) dan hari ke 28 (97,34 ml/mnt).

Data pengukuran kadar ureum dan kreatinin serta hasil perhitungan klirens kreatinin dianalisis secara statistik dengan uji Paired Sample T-Test dan Wilcoxon Test untuk membandingkan perubahan kadar ureum, kreatinin serta kreatinin klirens sebelum dan sesudah pemberian kapsul kombinasi ekstrak herba sambiloto dan daun salam pada pasien.

Tabel 4.4 Hasil pengukuran kadar ureum dan kreatinin serta perhitungan kreatinin klirens dari 20 orang pasien dislipidemia pada hari ke 0, 14, 28

Parameter Rata-Rata Hasil Pengukuran Nilai P

H0 H14 H28

Kadar Ureum (mg/dl) Kadar Kreatinin (mg/dl)

Kadar Kreatinin Klirens(ml/mnt)

35,20 0,944 96,27 35,55 0,973 90,47 35,45 0,925 97,34 0,876 0,730 0,881 Hasil analisis statistik pada H0 - H28 kadar ureum menunjukkan nilai signifikansi p = 0,876, kadar kreatinin menunjukkan nilai signifikansi p = 0,730 dan kadar kreatinin klirens menunjukkan nilai signifikansi p = 0,881. Nilai ini menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan (p > 0,05) yang berarti penggunaan kapsul kombinasi ekstrak herba sambiloto dan daun salam tidak memberikan pengaruh terhadap kadar ureum dan kreatinin pasien. Grafik pengukuran kadar ureum dan kreatinin serta perhitungan kreatinin klirens pasien terhadap hari pengamatan dibuat untuk memperjelas Tabel 4.4.

Gambar 4.1 Grafik hasil pengukuran kadar ureum rata-rata dari 20 orang pasien dislipidemia pada hari ke 0, 14 dan 28

Gambar 4.2 Grafik hasil pengukuran kadar kreatinin rata-rata dari 20 orang pasien dislipidemia pada hari ke 0, 14 dan 28

H0 H14 H28 0,0 0,2 0,4 0,6 0,8 1,0 0,944 0,973 0,925 Hari Pengamatan K ada r K re at in in R at a- R at a ( m g/ dl ) H0 H14 H28 0 5 10 15 20 25 30 35 40 35,20 35,55 35,45 Hari Pengamatan K ada r U re um R at a- R at a ( m g/ dl ) P= 0,818 P= 0,730 P= 0,876 P= 0,730 P= 0,357

Gambar 4.3 Grafik hasil perhitungan kadar kreatinin klirens rata-rata dari 20 orang pasien dislipidemia pada hari ke 0, 14 dan 28

Berdasarkan hasil analisis statistik dengan mengunakan Paired Sample T- Test dan Wilcoxon Test menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan yang signifikan (p > 0,05) yang berarti pemberian kapsul kombinasi ekstrak herba sambiloto dan daun salam tidak berpengaruh terhadap kadar ureum, kreatinin dan kreatinin klirens pasien

Fungsi utama dari ginjal adalah mengeliminasi produk sisa baik itu dari metabolisme endogen maupun metabolisme xenobiotik (Hodgson, 2004). Obat atau zat kimia yang beredar dalam sirkulasi sistemik akan dibawa ke ginjal untuk diekskresikan. Perubahan pada hasil ekskresi ginjal ini dapat digunakan sebagai salah satu pengukur fungsi ginjal dan keamanan obat-obat yang diberikan secara per oral (Manggarwati, 2010). Pemeriksaan kadar urea dan kreatinin merupakan uji skrining awal untuk mengetahui fungsi ginjal (Hosten, 1990).

Kadar ureum rata-rata pasien pada H0, H14 dan H28 adalah 35,20 mg/dl, 35,55 mg/dl dan 35,45 mg/dl, kadar ini masih berada didalam rentang kadar

H0 H14 H28 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 96,27 90,47 97,34 Hari Pengamatan K re at in in K lir en s R at a- R at a ( m l/m nt ) P= 0,376 P= 0,881

ureum normal yaitu antara 10 - 50 mg/dl. Diperoleh pada 20 pasien kadar ureum yang tidak melebihi batas normal selama pemberian kapsul kombinasi ekstrak herba sambiloto dan daun salam. Hal ini menunjukkan tidak adanya pengaruh pemberian kapsul terhadap kadar ureum pasien.

Penurunan fungsi ginjal akan mengakibatkan kadar nitrogen urea darah meningkat. Urea adalah produk akhir metabolisme protein dan asam amino yang mengandung nitrogen. Salah satu fungsi ginjal adalah mengeliminasi zat toksik dari tubuh. Pengukuran kadar urea dapat memberikan petunjuk mengenai keadaan kesehatan ginjal (Corwin, 2009).

Kadar kreatinin rata-rata pasien pada H0, H14 dan H28 adalah 0,944 mg/dl, 0,973 mg/dl dan 0, 925 mg/dl. Kadar kreatinin dari ke-20 pasien tersebut mengalami penaikan dan penurunan dimana beberapa diantaranya melebihi batas normal. Kadar normal kreatinin untuk wanita adalah 0,6 - 0,9 mg/dl dan pria 0,7 - 1,1 mg/dl. Namun kelebihan kadar kreatinin pasien masih dapat diterima karena tidak ada kadar kreatinin pasien yang berada diatas 1,5 mg/dl.

Kreatinin adalah suatu produk penguraian otot. Kreatinin diekskresikan oleh ginjal melalui kombinasi filtrasi dan sekresi. Konsentrasi kreatinin dalam plasma relatif tetap dari hari ke hari. Konsentrasi tersebut bervariasi sedikit dari sekitar 0,7 mg per 100 ml darah pada seorang wanita bertubuh kecil hingga 1,5 mg per 100 ml darah pada seorang pria berotot (Corwin, 2009). Peningkatan kadar kreatinin dapat terjadi jika banyak mengonsumsi daging yang dimasak karena pemasakan daging dapat mengubah kreatin menjadi kreatinin (Hosten, 1990).

Kreatinin serum merupakan indikator kuat bagi fungsi ginjal. Peningkatan dua kali lipat kadar kreatinin serum dapat dijadikan petunjuk kasar adanya

indikasi penurunan fungsi ginjal sebesar 50%, demikian juga peningkatan tiga kali lipat kadar kreatinin serum mengindikasikan penurunan fungsi ginjal sebesar 75% (Corwin, 2009). Dalam penelitian ini tidak ditemukan peningkatan dua kali lipat kadar kreatinin pasien yang menunjukkan tidak adanya penurunan fungsi ginjal pasien.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa pemberian kapsul kombinasi ekstrak herba sambiloto dan daun salam tidak mempengaruhi fungsi ginjal pasien yang dapat dilihat dari tidak adanya perubahan yang signifikan kadar ureum dan kreatinin pada pasien dislipidemia.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan uji klinis pendahuluan yang dilakukan pada pasien dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

a. karakteristik simplisia herba sambiloto dan simplisia daun salam yang diteliti sesuai dengan monografi yang terdapat pada Materia Medika Indonesia.

b. pemberian kapsul kombinasi ekstrak herba sambiloto dan daun salam pada pasien dislipidemia menunjukkan tidak ada pengaruhnya terhadap fungsi ginjal.

5.2 Saran

Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melanjutkan uji klinis ke tahap selanjutnya dengan jumlah subyek yang lebih besar serta menggunakan variasi dosis.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, S., Hakim, E., Makmur, L., Syah, Y., Juliawaty, L., dan Mujahidin, D. (2009). Tumbuh-Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid I. Bandung: Penerbit ITB. Halaman 27.

Agoes. A. (2010). Tanaman Obat Indonesia. Buku 2. Jakarta: Salemba Medika. Halaman: 25-27.

Brashers. (2007). Aplikasi Klinis Patofisiologi. Alih bahasa oleh Kuncara, H.Y. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. Halaman 17.

Benoy, G., Datta, K., Mandal, A., Dubey, K., dan Halder, S. (2012). “An Overview On Andrographis paniculata (Burm. F.) Nees”. International Journal of Research Ayurveda and Pharmacy. 3(6):752-760.

BPOM RI. (2010). Acuan Sediaan Herbal. Volume Kelima. Edisi Pertama. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. Halaman 112-116.

BPOM RI. (2013). Formularium Ramuan Etnomedisin Obat Asli Indonesia. Volume Ketiga. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. Halaman: 9-10.

Corwin, E.J. (2009). Buku Saku Patofisiologi. Alih bahasa oleh Nike B.S. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. Halaman 680-681, 704-705.

Depkes RI1a. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 5-6.

Depkes RIb. (1979). Materia Medika Indonesia. Jilid Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 25.

Depkes RI. (1980). Materia Medika Indonesia. Jilid Keempat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 109, 154-158.

Depkes RIa. (2000). Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Jilid I. Jakarta: Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. Halaman 29 dan 105. Depkes RIb. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:

Departemen Kesehatan RI. Halaman 1, 10-11.

Depkes RIc. (2000). Pedoman Pelaksanaan Uji Klinik Obat Tradisional. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 29-30.

Depkes RI. (2008). Farmakope Herbal Indonesia. Edisi Pertama. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 121 dan 124.

Dewoto, H.R. (2007). “Pengembangan Obat Tradisional Indonesia Menjadi

Fitofarmaka”. Majalah Kedokteran Indonesia. 57(7):205-210.

Dinkes Sumut. (2007). Uji Efek Kombinasi Herba Sambiloto dan Daun Salam Terhadap Penurunan Kadar Kolesterol dan Trigliserida Secara Praklinis.

Medan: Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.

Dirjen Bina Kesmas. (2004). Pedoman Teknis Penelitian Pengobatan Tradisional untuk Sentra P3T. Jakarta: Direktorat Kesehatan Komunitas. Halaman 28- 29, 46-47.

Fatmawati (2008). Pengaruh Lama Pemberian Ekstrak Daun Sambiloto (Andrographis paniculata Ness) Terhadap Kadar Kolesterol, LDL, HDL, dan Trigliserida Darah Tikus (Rattus norvegicus) Diabetes. Skripsi. Malang: Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Malang. Hariana, A. (2011). Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Seri 3. Jakarta: Penebar

Swadaya. Halaman 27.

Hodgson, E., dan Patricia, E. (2004). Nephrotoxicity. Dalam buku A Textbook of Modern Toxicology. Edisi Ketiga. Editor oleh Ernest, H. USA: John Wiley & Sons, Inc. Halaman 273.

Hosten, A.O. (1990). BUN and Creatinine. Dalam Buku Clinical Methods: The History, Physical and Laboratorium Examination. Edisi Ketiga. Editor oleh Kenneth, W. Boston: Butter Worth Publisher. Halaman 874-877. Johnson, R., Feehally, J., dan Floege, J. (2011). Comprehensive Clinical

Nephrology. Edisi Keempat. Kanada: Elsevier. Halaman 33-36.

Kamso, S., Purwantyastuti., dan Ratna, J. (2002). “Dislipidemia pada Lanjut Usia

di Kota Padang”. Makara Kesehatan. 6(2):55-58.

Kemenkes RI. (2011). Interpretasi Data Klinik. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Halaman 51-52.

Leblanc, G. A. (2004). Elimination of Toxicant. Dalam buku A Textbook of Modern Toxicology. Edisi Ketiga. Editor oleh Ernest, H. USA: John Wiley & Sons, Inc. Halaman 206.

Lindarto, D. (2014). Prinsip Farmakologi Endokrin-Infeksi. Jakarta: PT. Sofmedia. Halaman 136-137.

Mahley, R.W., dan Bersot, T.P. (2012.) Terapi Obat Untuk Hiperkolesterolemia dan Dislipidemia. Dalam buku Goodman dan Gilman Dasar Farmakologi Terapi. Edisi Kesepuluh. Volume Kedua. Editor oleh Aisyah, C. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Halaman 956-966.

Manggarwati, A. F. (2010). Uji Toksisitas Subkronis Ekstrak Valerian Pada Tikus Wistar: Studi Terhadap Gambaran Mikroskopis Ginjal dan Kadar Kreatinin. Skripsi. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Murray, M.T. (2013). Cholesterol and Heart Disease. Kanada: Mind Publishing. Halaman 12, 46-47.

Pearce, E. C. (2008). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia. Halaman 245.

Prahastuti, S., Susy, T., dan Entin H. (2011). “Efek Infusa Daun Salam (Syzygium

polyanthum (Wight) Walp) Terhadap Penurunan Kadar Kolesterol Total

Darah Tikus Model Dislipidemia Galur Wistar”. Jurnal Medika Planta.

1(4):27-32.

Rahman, A. (2003). “Toksisitas dan Teratogenisitas Ekstrak Etanol Campuran

(1:1) Herba Sambiloto dan Daun Salam”. Media Majalah Farmasi

Airlangga. 3(2):1.

Riansari, A. (2008). Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Salam (Eugenia polyantha) Terhadap Kadar Kolesterol Total Serum Tikus Jantan Galur Wistar Hiperlipidemia. Skripsi. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.

Ritter, J.M., Lionel, D.L., Timothy, G.K., dan Albert, F. (2008). A Textbook of Clinical Pharmacology and Therapheutics. Edisi Kelima. Britania Raya: Hodder Arnold Ltd. Halaman 31.

Santoso, A., Erwinanto., Andriantoro, H., Suryawan, I., dan Rifqi, S. (2009). Lipid dan Jantung Koroner. Jakarta: Centra Comunication. Halaman 24-29, 48, 69-70.

Sastroasmoro, S., dan Sofyan, I. (2011). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: CV. Sagung Seto. Halaman: 187-216.

Setiawati, A., Suyatna, F.D., dan Gan, S. (2007). Pengantar Farmakologi. Dalam buku Farmakologi dan Terapi. Edisi Kelima. Jakarta: FK UI Press. Halaman 24-26.

Suharmiati., dan Betty, R. (2012). “Studi Pemanfaatan dan Keamanan Kombinasi

Metformin dengan Ekstrak Campuran Andrographis paniculata dan

Syzygium polyanthum Untuk Pengobatan Diabetes Mellitus”. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan. 15(2):110-119.

Sweny, P., dan Vargheze. (1988). Clinical Test: Renal Disease. London: Wolfe Medical Publications Ltd. Halaman 34-36.

US National Institutes of Health. (2005). Lowering Your Cholesterol With Therapeutic Lifestyle Changes. USA: NIH Publication. Halaman 12 dan 16.

Wijayakusuma, M.H. (2008). Ramuan Herbal Penurun Kolesterol. Jakarta: Pustaka Bunda. Halaman 4-5.

Wilson, D. D. (2008). Manual of Laboratory and Diagnostic Tests. New York: McGraw-Hill Companies Inc. Halaman 196, 565-566 dan 577.

World Health Organization. (1998). Quality Control Methods For Medicinal Plant Materials. Geneva: WHO. Halaman 29.

World Health Organization. (2002). Monograph on Selected Medicinal Plants. Geneva: WHO. Halaman 16-20.

World Health Organization. (2011). Global Atlas on Cardiovascular Disease Prevention and Control. Geneva: WHO. Halaman 8.

Dokumen terkait