BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
1 Hasil identifikasi tumbuhan
Hasil identifikasi tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Bogoriense,
Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bogor, menunjukkan bahwa sampel termasuk ke dalam suku Asteraceae, spesies Enydra fluctuans Lour.
4.2Hasil Pemeriksaan Mikroskopik Herba Kurmak Mbelin
Hasil pemeriksaan mikroskopik dari penampang melintang daun kurmak mbelin memperlihatkan adanya rambut penutup, kutikula, berkas pengangkut, stomata, jaringan epidermis atas dan epidermis bawah serta jaringan mesofil yang terdiri dari jaringan pagar dan jaringan bunga karang. Pada penampang melintang batang tampak adanya sel epidermis, jaringan korteks dengan rongga udara yang besar (rexogen), berkas pembuluh tipe kolateral terbuka dan jaringan parenkim.
4.3Hasil Pemeriksaan Karakteristik Simplisia 4.3.1Hasil pemeriksaan makroskopik
Hasil pemeriksaan makroskopik dari simplisia menunjukkan bahwa simplisia berupa daun kering menggulung tidak beraturan dan keriput, memiliki warna hijau tua, bau aromatik, rasa agak pahit, ukuran panjang 4,5 – 6 cm dan lebar 1 – 1,5 cm, batang menyusut dan keriput berwarna hijau kecoklatan.
33
4.3.2 Hasil pemeriksaan mikroskopik
Hasil pemeriksaan mikroskopik dari serbuk simplisia terdapat fragmen mesofil, stomata tipe anomositik, xilem dengan dinding berpenebalan spiral, dan rambut penutup.
4.3.3 Hasil pemeriksaan karakteristik serbuk simplisia
Hasil penetapan kadar air serbuk simplisia herba kurmak mbelin memenuhi persyaratan dari buku Materia Medika Indonesia yaitu tidak lebih dari 10%. Kadar air yang melebihi persyaratan memungkinkan terjadinya pertumbuhan jamur. Penetapan kadar sari larut air untuk mengetahui kadar sari yang larut dalam air. Senyawa-senyawa yang dapat larut dalam air adalah glikosida, gula, gom, protein, enzim, zat warna, dan asam organik. Penetapan kadar sari larut etanol untuk mengetahui kadar sari yang larut dalam pelarut polar. Senyawa-senyawa yang dapat larut dalam etanol adalah glikosida, antrakinon, steroid terikat, klorofil, dan dalam jumlah sedikit yang larut yaitu lemak dan saponin (Depkes, 1986). Penetapan kadar abu total untuk mengetahui kadar zat anorganik yang terdapat pada simplisia, sedangkan penetapan kadar abu tidak larut asam untuk mengetahui kadar zat anorganik yang tidak larut dalam asam (Depkes, 1995). Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut ini.
Tabel 4.1 Hasil pemeriksaan karakteristik serbuk simplisia herba kurmak mbelin
No. Parameter Hasil Pemeriksaan (%)
1. 2. 3. 4. 5. Kadar air
Kadar sari larut air Kadar sari larut etanol Kadar abu total
Kadar abu tidak larut asam
5,2 20,63 17,24 14,28 0,54
34
4.4 Hasil Skrining Fitokimia
4.4.1 Hasil skrining fitokimia serbuk simplisia
Hasil skrining fitokimia terhadap serbuk simplisia diketahui bahwa serbuk simplisia herba kurmak mbelin mengandung golongan senyawa-senyawa kimia seperti yang terlihat pada Tabel 4.2 berikut ini.
Tabel 4.2 Hasil skrining fitokimia serbuk simplisia herba kurmak mbelin
No. Pemeriksaan Hasil
1. Alkaloida - 2. Flavonoida + 3. Tanin + 4. Glikosida + 5. Glikosida antraquinon - 6. Saponin + 7. Steroida/Triterpenoida +
Keterangan: ( + ) positif : mengandung golongan senyawa ( - ) negatif: tidak mengandung golongan senyawa
Penentuan golongan senyawa kimia terhadap serbuk simplisia herba kurmak mbelin dilakukan untuk mendapatkan informasi golongan senyawa metabolit sekunder yang terdapat di dalamnya. Skrining flavonoid dengan penambahan serbuk Mg, HCl pekat dan amil alkohol memberikan warna jingga pada lapisan amil alkohol. Ini dianggap bahwa flavonoid positif pada herba kurmak mbelin. Sedangkan skrining tanin dengan penambahan FeCl3 memberikan warna biru kehitaman yang menunjukan adanya tanin yaitu pirogalol (Farnsworth, 1966).
Skrining glikosida dengan penambahan pereaksi Molish dan asam sulfat pekat akan terbentuk cincin ungu. Pereaksi Molish merupakan pereaksi umum yang digunakan untuk identifikasi karbohidrat, dalam hal ini adalah gula. Sedangkan skrining saponin menghasilkan busa yang stabil dengan tinggi busa 3
35
cm dan tidak hilang dengan penambahan HCl 2 N (Depkes, 1995). Skrining steroid dengan penambahan Liebermann-Burchard memberikan warna merah ungu (Harborne, 1987).
Hasil di atas menunjukkan bahwa kurmak mbelin memiliki potensi sebagai antioksidan dengan adanya senyawa yang mempunyai potensi sebagai antioksidan yaitu flavonoida dan tanin (Rahman dan Choudhary, 2001).
4.4.2Hasil skirining fitokimia ekstrak dan fraksi
Hasil skrining fitokimia terhadap ekstrak dan fraksi herba kurmak mbelin mengandung golongan senyawa-senyawa kimia seperti yang terlihat pada Tabel 4.3 berikut ini.
Tabel 4.3 Hasil skrining fitokimia ekstrak dan fraksi herba kurmak mbelin
No. Pemeriksaan Hasil Ekstrak etanol Fraksi n-heksana Fraksi etilasetat Fraksi air 1. Alkaloida - - - - 2. Glikosida + - + + 3. Saponin + - + + 4. Flavonoida + - + + 5. Tanin + - + + 6. Steroida/Triterpenoida - + - - 7. Antrakinon - - - -
Keterangan: (+) positif: mengandung golongan senyawa (-) negatif: tidak mengandung golongan senyawa
Skrining fitokimia terhadap ekstrak etanol, fraksi n-heksana, etilasetat dan
air menunjukkan adanya distribusi golongan senyawa kimia berdasarkan kepolaran pelarut yang digunakan. Dalam proses fraksinasi, senyawa yang bersifat polar yaitu glikosida, flavonoid, saponin dan tanin terdapat dalam ekstrak etanol, fraksi etilasetat dan air, sedangkan steroid terdapat dalam fraksi n-heksana
36
herba kurmak mbelin memiliki potensi sebagai antioksidan, yaitu dengan adanya senyawa-senyawa yang mempunyai potensi sebagai antioksidan antara lain tanin dan flavonoida (Rahman dan Choudhary, 2001).
4.5 Hasil Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum
Hasil pengukuran serapan maksimum larutan DPPH 40 ppm dalam metanol dengan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa larutan DPPH dalam metanol menghasilkan serapan maksimum sebesar 0,991 ppm pada panjang gelombang 516 nm dan termasuk dalam kisaran panjang gelombang sinar tampak (400 nm - 800 nm) (Rohman, 2007). Data hasil pengukuran dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1 Kurva serapan maksimum larutan DPPH 40 ppm dalam metanol secara
37
4.6 Hasil Analisis Aktivitas Antioksidan
Aktivitas antioksidan ekstrak etanol, fraksi n-heksana, etilasetat dan air
dari herba kurmak mbelin diperoleh dari hasil pengukuran absorbansi DPPH pada menit ke-60 dengan adanya penambahan larutan uji dengan konsentrasi 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, dan 40 ppm yang dibandingkan dengan kontrol DPPH (tanpa penambahan larutan uji). Untuk melihat hubungan absorbansi DPPH terhadap pertambahan konsentrasi larutan uji dalam menganalisis aktivitas antioksidan dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2 Hasil analisis aktivitas antioksidan ekstrak etanol, fraksi n-heksana, etilasetat dan air dari herba kurmak mbelin pada menit ke-60.
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 0 10 20 30 40 A b so rb a n si Konsentrasi (ppm) Ekstrak Etanol Fraksi n-Heksana Fraksi Etilasetat Fraksi Air
38
Pada gambar di atas hasil analisis aktivitas antioksidan ekstrak etanol, fraksi n-heksana, etilasetat dan air dari herba kurmak mbelin dapat dilihat adanya
penurunan nilai absorbansi DPPH yang diberi larutan uji dibandingkan terhadap kontrol pada setiap kenaikan konsentrasi.
Penurunan nilai absorbansi ini menunjukkan telah terjadi penangkapan/peredaman radikal bebas DPPH oleh larutan uji sehingga menunjukkan adanya aktivitas antioksidan dari sampel. Interaksi antioksidan dengan DPPH baik secara transfer elektron atau radikal hidrogen kepada DPPH, akan menetralkan radikal bebas DPPH. Jika semua elektron pada radikal bebas DPPH menjadi berpasangan, maka warna larutan berubah dari ungu tua menjadi kuning terang dan absorbansi pada panjang gelombang maksimumnya akan hilang. Perubahan ini dapat diukur secara stoikiometri sesuai dengan jumlah elektron atau atom hidrogen yang ditangkap oleh molekul DPPH akibat adanya zat antioksidan (Molyneux, 2004).
4.7 Hasil Analisis Peredaman Radikal Bebas DPPH oleh Sampel Uji
Kemampuan antioksidan diukur pada menit ke-60 sebagai penurunan serapan larutan DPPH (hilangnya warna ungu DPPH) akibat adanya penambahan larutan uji. Nilai serapan larutan DPPH sebelum dan sesudah penambahan larutan uji tersebut dihitung sebagai persen peredaman. Hasil analisis peredaman radikal bebas oleh ekstrak dan fraksi herba kurmak mbelin dapat dilihat pada Tabel 4.4 berikut ini.
39
Tabel 4.4 Hasil analisis peredaman radikal bebas oleh ekstrak dan fraksi herba kurmak mbelin
No. Jenis Ekstrak Konsentrasi Larutan Uji
(ppm)
% Peredaman
1. Ekstrak etanol 0 (Blanko) -
10 35,93
20 48,57
30 57,83
40 63,49
2. Fraksi n-heksana 0 (Blanko) -
10 59,62
20 59,83
30 64,06
40 69,99
3. Fraksi etilasetat 0 (Blanko) -
10 37,64
20 61,90
30 89,31
40 95,88
4. Fraksi air 0 (Blanko) -
10 34,50
20 36,67
30 45,75
40 49,64
Hasil analisis peredaman radikal bebas oleh ekstrak dan fraksi herba kurmak mbelin menunjukkan bahwa semakin meningkat konsentrasi ekstrak maka semakin meningkat aktivitas peredaman DPPH karena semakin banyak atom hidrogen dari ekstrak kurmak mbelin yang berpasangan dengan elektron pada radikal bebas DPPH sehingga serapan DPPH semakin menurun.
4.8 Hasil Analisis Nilai IC50 (Inhibitory Concentration) Sampel Uji
Nilai IC50 diperoleh berdasarkan persamaan regresi linier yang didapatkan dengan cara memplot konsentrasi larutan uji dan persen peredaman DPPH sebagai parameter aktivitas antioksidan dengan konsentrasi larutan uji (ppm) sebagai
40
absis dan nilai persen peredaman sebagai ordinat. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.5 dan Tabel 4.6 berikut ini.
Tabel 4.5 Hasil persamaan regresi linier dari ekstrak dan fraksi herba kurmak mbelin
No. Larutan Uji Persamaan Regresi
1. Ekstrak etanol Y = 1,49X + 11,36
2. Fraksi n–heksana Y = 1,44X + 21,9
3. Fraksi etilasetat Y = 2,43X + 8,35
4. Fraksi air Y = 1,1X + 11,31
Tabel 4.6 Nilai IC50 dari ekstrak dan fraksi herba kurmak mbelin
No. Sampel IC50 (ppm)
1. Ekstrak etanol 25,93 ppm
2. Fraksi n-heksana 19,51 ppm
3. Fraksi etilasetat 17,14 ppm
4. Fraksi air 35,18 ppm
Hasil di atas menunjukkan bahwa ekstrak etanol, fraksi n-heksana,
etilasetat dan air dari herba kurmak mbelin memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat dengan nilai IC50 kurang dari 50 ppm. Perbedaan nilai IC50 pada masing-masing fraksi disebabkan oleh adanya distribusi golongan senyawa metabolit sekunder yang bersifat sebagai antioksidan (flavonoid dan tanin) berdasarkan kepolaran pelarut yang digunakan.
Fraksi etilasetat dengan nilai IC50 terendah yaitu 17,14 ppm memiliki aktivitas antioksidan terkuat karena adanya senyawa flavonoid dan polifenol. Konsentrasi fenol dalam ekstrak dinyatakan sebagai μg pirokatekol per mg sampel. Polifenol dalam fraksi etilasetat menghasilkan aktivitas yang kuat dalam menangkap radikal bebas. Fenol dikenal sebagai antioksidan penghancur rantai kuat dan adanya gugus hidroksil dalam polifenol atau flavonoid memberikan kontribusi langsung kepada efek antioksidan, juga memiliki peran dalam
41
mencegah oksidasi lipid (Sannigrahi, et al., 2010). Flavonoid merupakan antioksidan yang dapat mengatasi berbagai macam radikal bebas. Senyawa ini memberikan perlindungan kepada sel secara menyeluruh, baik di luar sel (ekstraseluler) ataupun di dalam sel (intraseluler) (Lingga, 2012).
Aktivitas antioksidan ekstrak herba kurmak mbelin juga ditentukan oleh adanya senyawa ß-karoten (Swain, et al., 2012). Senyawa ß-karoten yang larut dalam pelarut non polar ikut tersari pada fraksi n-heksana. Hal tersebut tidak
memberikan efek yang begitu besar karena ß-karoten tidak stabil terhadap udara dan cahaya (Ditjen POM, 1979).
42
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Hasil karakterisasi simplisia diperoleh kadar air 5,2%, kadar sari yang larut dalam air 20,63%, kadar sari yang larut dalam etanol 17,24%, kadar abu total 14,28% dan kadar abu yang tidak larut dalam asam 0,54%.
2. Hasil skrining fitokimia pada simplisia diperoleh bahwa simplisia herba kurmak mbelin mengandung senyawa glikosida, flavonoida, saponin, steroida/triterpenoida dan tanin.
3. Hasil pengujian aktivitas antioksidan dengan menggunakan spektrofotometer visibel pada panjang gelombang 516 nm diperoleh nilai IC50 dari masing- masing ekstrak etanol, fraksi n-heksana, fraksi etilasetat dan fraksi air sebesar
25,93, 19,51, 17,14 dan 35,18 ppm.
5.2 Saran
Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk melakukan isolasi terhadap senyawa yang berkhasiat sebagai antioksidan pada masing-masing ekstrak.
43
DAFTAR PUSTAKA
Akter, R., Satter, M.A., Khan, M.S., Rahman, M.S., dan Ahmed, N.U. (2012). Cytotoxic Effect of Five Medicinal Plants Extracts Using Brine Shrimp (Artemia salina) Test. Bangladesh Journal of Scientific and Industrial Research. 47(1): 133-136.
Anief, M. (2000). Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Halaman 107, 169, 219-210.
Anonima. (2009). Helancha (Enhydra fluctuans). Tanggal akses: 3 Oktober 2013. http://findmeacure.com/2009/04/04/helanchaenhydra-fluctans/
Anonimb. (2012). Kankong Kalabau. Tanggal akses: 3 Oktober 2013. http://www.stuartxchange.com/kankong-kalabau.html
Anonimc. (1995). Indeks Tumbuh-Tumbuhan Obat di Indonesia. Edisi II. Jakarta: P.T. Eisai Indonesia. Halaman 223.
Brand, W.W., Cuvelier, M.E., dan Berset, C. (1995). Use of a Free Radical Method to Evaluate Antioxidant Activity. Lebensmittel-wissenschaft und Technologie. 28(1): 25-30.
Dalimartha, S. (2000). Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid I. Jakarta: Trubus Agriwidya. Halaman 130-132.
Day, R.A., dan Underwood, A.L. (1986). Analisis Kimia Kualitatif. Edisi IV. Terjemahan Iis Sopyan. Jakarta: Penerbit Erlangga. Halaman 382.
Departemen Kesehatan RI. (1995). Materia Medika Indonesia. Jilid VI. Jakarta: Depkes RI. Halaman 299-306, 321, 325-326, 333-336 .
Departemen Kesehatan RI. (1986). Sediaan Galenik. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 8-11.
Departemen Kesehatan RI. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 1, 9-12, 17.
Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 100, 649-653, 659, 696, 733, 772.
Djauhariya, E., dan Hernani. (2004). Gulma Berkhasiat Obat. Jakarta: Seri Agrisehat. Halaman 4.
44
Eneh, P.N., Horien, C.L., Ashraf, W., Bakken, A.J., dan Bath, J.L. (2013). A Randomized Survey of Medicinal Plants Used as Natural Remedies by the Local People of Manikganj District of Bangladesh to Treat Intestinal Worms. Journal of Medicinal Plants Research. 7(9): 543-550.
Farnsworth, N.R. (1966). Biological and Phytochemical Screening of Plants.
Journal of Pharmaceutical Sciences. 55(3): 241-269.
Fessenden, R.J., dan Fessenden, J.S. (1986). Kimia Organik. Jilid 1. Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga. Halaman 223-226.
Gupta, A.K. (2011). Enydra fluctuans. Tanggal akses: 3 Oktober 2013. http://www.iucnredlist.org/details/168994/0
Harborne, J.B. (1987). Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisa Tumbuhan. Penerjemah: Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Terbitan Kedua. Bandung: ITB. Halaman 71, 147.
Hattenschwiller, S., dan Vitousek, P.M. (2000). The Role of Polyphenols in Terrestrial Ecosystem Nutrient Cycling. Review PII: S0169- 5347(00)01861-9 TREE. 15(6): 238-243.
Houghton, P.J., dan Raman, A. (1998). Laboratory Handbook for the Fractination of Natural Extracts. London: Chapman and Hall. Halaman 14.
Ionita, P. (2005). Is DPPH Stable Free Radical a Good Scavenger for Oxygen Active Species?. Chem. Pap. 59(1): 11-16.
Khopkar, S.M. (2008). Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press. Halaman 90, 106.
Kosasih, E.N., Setiabudhi, T., dan Heryanto, H. (2004). Peranan Antioksidan Pada Lanjut Usia. Jakarta: Pusat Kajian Nasional Masalah Lanjut Usia. Halaman 48-49, 56-59.
Kramer, P. (2004). Melawan Polusi Tubuh. Toronto: Pro Impressions 18 Wynford Drive Suite 711-B. Halaman 21-22.
Kumalaningsih, S. (2006). Antioksidan Alami. Cetakan Pertama. Surabaya: Trubus Agrisarana. Halaman 17-18.
Leopoldini, M., Russo, N., dan Toscano, M. (2011). The Molecular Basis of Working Mechanism of Natural Polyphenolic Antioxidants. Journal of Food Chemistry. 125(2): 288-306.
Lingga, L. (2012). The Healing Power of Antioxidant. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Halaman 111.
45
Mardawati, E., Achyar, C.S., dan Marta, H. (2008). Kajian Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Manggis (Garcinia mangostana L.) dalam Rangka Pemanfaatan Limbah Kulit Manggis di Kecamatan Puspahiang Kabupaten Tasikmalaya. Laporan Akhir Penelitian. Bandung: Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran. Halaman 17.
Marinova, G., dan V. Batchvarov. (2011). Evaluation of the Methods for Determination of the Free Radical Scavenging Activity by DPPH. Bulgaria: Bulgarian Journal of Agricultural Science. 17(1): 11-24.
Molyneux, P. (2004). The Use of The Stable Free Radical DPPH For Estimating Antioxidant Activity. Songklanakarin J. Sci. Technol. 26(2): 211-219.
Patil, K.S., Majumder, P., dan Wadekar, R.R. (2008). Effect of Enhydra fluctuans
Lour. Leaf Extract on Phagocytosis by Human Neutrophils. Journal of Natural Remedies. 8(1): 76-81.
Rahman, A., dan Choudhary, M.I. (2001). Bioactive Natural Products as a Potential Source of New Pharmacophores. Pure and Applied Chemistry.
73(3): 555-560.
Rohman, A. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Halaman 222.
Sannigrahi, S., Mazuder, U.K., Pal, D.K., Parida, S., dan Jain, S. (2010). Antioxidant Potential of Crude Extract and Different Fractions of Enhydra fluctuans Lour. Iranian Journal of Pharmaceutical Research. 9(1): 75-82.
Silalahi, J. (2006). Makanan Fungsional. Yogyakarta: Kanisius. Halaman 38-55.
Silalahi, Y.K.O. (2014). Karakterisasi Simplisia dan Skrining Fitokimia serta Isolasi Steroid/Triterpenoid dari Fraksi n-Heksana Herba Kurmak Mbelin (Enydra fluctuans L.). Skripsi. Medan: Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Swain, P.K., Dinda, S.C., Nayak, D.P., Kar, B., dan Patro, V.J. (2012). Antioxidant Activity of Enhydra fluctuans Lour. Aerial Parts. Journal of Phytotherapy and Pharmacology. 1(2): 23-34.
Tjitrosoepomo, G. (2007). Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Halaman 11.
Uddin, S.B. (2011). Enhydra fluctuans Lour. Tanggal akses: 3 Oktober 2013.
WHO. (2011). Quality Control Methods for Herbal Materials. Switzerland: Geneva. Halaman 33-35.
46
47