BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Karakterisasi Pasir Besi Yang Mengalami Mechanical
Hasil XRD dari pasir besi ditunjukkan oleh gambar 4.2 yang telah dimilling dengan planetary ball mill selama interval waktu 0 jam, 20 jam, 40 jam dan 60 jam. Perubahan yang terjadi pada pasir besi yang dimilling tidaklah terlalu signifikan untuk waktu 0 jam dan 20 jam, namun pada 40 jam dan 60 jam terlihat intensitas peaknya mulai menurun dan agak melebar dari peak 20 jam dan 0 jam
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1000 0 20 40 60 80 100 2 Theta I 60 Jam 40 20 0
Gambar 4.2 Hasil XRD dari pasir besi yang telah di milling dengan planetary ball mill selama interval waktu tertentu.
Penurunan dan pelebaran peak pada XRD dapat disebabkan dari tiga faktor yaitu pengecilan butiran, proses reaksi micro strain, dan kesalahan alat(8,13). Namun penurunan dan pelebaran peak pasir besi pada penelitian ini diakibatkan karena ukuran butiran yang mengecil akibat adanya deformasi mekanis yang hebat ketika proses mechanical milling, dimana selama proses ini terjadi tumbukkan yang sangat hebat antara bola-bola milling, serbuk pasir besi dan dinding vial yang terjadi terus menerus, sehingga dari tumbukkan itu akan dihasilkan energi tumbukkan yang dapat memperkecil ukuran butiran
Dalam proses milling juga terjadi penghancuran dan pengelasan dingin. Hal ini juga dapat menyebabkan pengecilan ukuran butiran dan terjadinya amorfisasi parsial. Dengan mengecilnya ukuran butiran pasir besi, maka data yang terbaca XRD akan menghasilkan peak yang menurun dan melebar.(12)
4.3 Hasil Karakterisasi Campuran Pasir Besi dengan Karbon yang Telah
Mengalami Mechanical Alloying
Dalam penelitian ini juga dilalukan pencampuran karbon terhadap pasir besi selama proses milling, hal ini dilakukan guna mengetahui ada atau tidaknya pengaruh reduktan selama proses milling, adapun komposisi karbon yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10% dan 20%. Tujuan dari penambahan karbon dengan beda komposisi adalah agar mengetahui seberapa besar pengaruh kosentrasi karbon terhadap perubahan pasir besi selama proses milling.
4.3.1 Hasil Karakterisasi Campuran 90% Pasir Besi dengan 10 % karbon yang
Mengalami Mechanical Alloying
Hasil XRD pasir besi yang dicampur karbon dengan komposisi 90% pasir besi dan 10% karbon yang telah mengalami proses milling selama interval 40 jam, 60 jam, dan 100 jam ditunjukkan oleh gambar. 4.3, pada interval waktu 40 sampai 60 jam perubah peak tidak begitu signifikan, akan tetapi selama milling 100 jam terlihat pelebaran/broadening yang terjadi sangatlah drastis dan terlihat ada beberapa peak yang mulai hilang.
XRD 90% P 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 15 35 55 Sudut In te n s it a s B & 10% C 75 40 Jam 60 Jam 100 Jam
Gambar 4.3 Hasil XRD dari pasir besi campuran karbon 90% dan 10% yang telah dimilling dengan planetary ball mill dengan interval waktu tertentu
Jika hasil proses milling pasir besi dengan karbon dibandingkan dengan hasil proses milling pasir besi tanpa karbon terlihat adanya perbedaan hasil peak diantara keduanya, dimana peak pasir besi yang menggunakan karbon terlihat lebih lebar dan menurun, hal ini mungkin disebabkan oleh sifat karbon yang rapuh, sehingga proses penghancuran serbuk dengan bola-bola milling lebih cepat dari pada proses milling pasir besi tanpa karbon(8,13). Dari hasil XRD, peak unsur karbon tak terlihat,hal ini mungkin disebabkan ukuran karbon yangrelatif kecil sehingga ketika proses milling terjadi unsur karbon terintertisi ke dalam unsur Fe.
4.3.2 Hasil Karakterisasi Campuran Pasir Besi dan karbon 80% dan 20 % yang
Mengalami Mechanical Alloying
Hasil Xrd pasir besi yang dicampur karbon dengan komposisi 80% pasir besi dan 20% karbon yang telah mengalami proses milling selama interval 40 jam, 60 jam, dan 100 jam ditunjukkan oleh gambar. 4.4.
XRD 80% P
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 1800 15 35 Su In te n s it a sB & 20 % C
55 75 dut 40 Jam 60 Jam 100 JamGambar 4.4 Hasil XRD dari pasir besi campuran karbon 80% dan 20% yang telah dimilling dengan planetary ball mill selama interval waktu tertentu
Dari gambar hasil XRD pasir besi yang dicampur dengan karbon dengan komposisi 80% dan 20% dibandingkan dengan pasir besi yang dicampur dengan karbon dengan komposisi 90% dan 10% tampak tidak ada perbedaan yang signifikan di antara keduanya, namun pada saat bertambahnya waktu milling tampak adanya
perubahn peak yang berarti dan terlihat adanya perbedaan intensitas peak yang berbeda antara pasir besi yang dicampur dengan karbon 90% dan 10% dengan komposisi 80% dan 20% khususnya pada saat milling 100 jam. Pada pasir besi komposisi 90% dan 10% tampak peak lebih tinggi dibandingkan dengan peak pasir besi komposisi 80 dan 20%, hal ini dapat dimungkinkan karena sifat karbon yang rapuh, sehingga banyaknya campuran karbon akan mempengaruhi kecepatan penghancuran serbuk pasir besi ketika dimilling.
4.4 Indentifikasi Puncak Difraksi dan Persentasi Berat Pasir Besi dengan
Menggunakan XPowder
Dengan menggunakan program X powder senyawa yang terkandung dalam pasir besi dapat diidentifikasi dengan menyesuaikan pola peak pasir besi dengan data pdf dari ICDD. Parameter input yang digunakan untuk analisis X powder adalah data kristalografi dari senyawa hasil indentifikasi manual antara lain magnetite (Fe3O4) yang memiliki space group Fd3m, sistem kristal kubik no set 02 file 1035 dan ilmenite (FeTiO3) yang memiliki space group R3c dengan sistem kristal trigonal no set 83 file 192. Hasil fitting antara kurva pola difraksi dari pasir dengan Fe3O4 dan FeTiO3 menggunakan xpowder mempelihatkan kesesuain pola peak antara pasir besi Fe3O4 dan FeTiO3, hal ini dapat dilihat dari perbandingan d puncak-puncak difraksi pasir besi dengan nilai d senyawa Fe3O4 dan FeTiO3 dari data pdf, Hasil identifikasi pasir besi dengan menggunakan X powder dapat dilihat pada tabel 4.1, dan gambar proses indentifikasi difraksi pasir besi dapat dilihat pada gambar 4.5.
51 Fe3O4 Fe3O4 Fe(TiO3) Fe(TiO3) Fe3O4 Fe3O4
Gambar 4.5 Pola difraksi sinar-x dari sampel pasir besi dan senyawa penyusun
Berdasarkan tabel 4.3 tersebut, nilai d hasil fitting umumnya memiliki kesesuaian sampai 2 angka desimal di belakang koma dengan nilai d senyawa Fe3O4 dan FeTiO3. Disamping berhasil mengindentifikasi senyawa dalam pasir besi, dengan menggunakan x powder juga bisa ditentukan persentasi berat dari senyawa yang ada. Dari hasil penelitian didapat hasil persentasi berat Fe3O4 dan Fe(TiO)3 yang berbeda-beda.
Tabel 4.3 Hasil identifikasi puncakdifraksi pasir besi
Titik dhkl
No
Peak 2θ X powder File hkl Senyawa 1 30,108 2,9670 2,9665 2 0 0 Fe3O4 2 35,484 2,5320 2,5306 3 1 1 Fe3O4 3 35,484 2,56167 2,5306 1 1 0 Fe(TiO3) 4 42,887 2,0993 2,1027 4 0 0 Fe3O4 5 53,484 1,7146 1,7165 4 2 2 Fe3O4 6 53,484 1,7086 1,7165 1 1 6 Fe(TiO3) 7 56,912 1,6158 1,6159 5 1 1 Fe3O4 8 62,367 1,4845 1,4848 4 4 0 Fe3O4 9 62,367 1,4789 1,4848 3 0 0 Fe(TiO3)
Hasil identifikasi fraksi berat dari masing-masing sampel pasir besi yang mengalami mechanical milling dan mechanical alloying menggunakan karbon dapat dilihat pada tabel 4.4 dan 4.5
Tabel 4.4 Persentasi berat pasir besi yang mengalami mechanical milling
Persentasi Berat (W%) No Lama Milling Fe3O4 Fe(TiO)3
1 0 jam 74% 26%
2 20 jam 80,3% 19,7%
3 40 jam 72,3% 27,7%
4 60 jam 74% 26%
Tabel 4.5 Persentasi berat pasir besi yang mengalami mechanical alloying dengan karbon
W%
No Lama milling Komposisi karbon Fe3O4 Fe(TiO)3
1 40 jam 10% 86,7% 13,3% 2 40 jam 20% 87,5% 12,5% 3 60 jam 10% 87,2% 12,8% 4 60 jam 20% 84,7% 15,3% 5 100 jam 10% 84,1% 15,9% 6 100 jam 20% 85,1% 14,9%
Dari Tabel 4.4 dan 4.5 terlihat kandungan senyawa magnetite pada pasir besi cukup besar berkisar antara 85% sedangkan senyawa Fe(TiO3) yang terkandung
dalam pasir besi berkisar antara 15%. Hal ini menunjukkan pasir besi mempunyai kandungan unsur besi yang cukup besar. Adapun perbedaan persentasi fraksi berat kandungan magnetite dalam pasir besi yang hampir 10% antara pasir besi yang mengalami mechanical milling dan pasir besi campuran karbon yang mengalami mechanical alloying pada tabel diatas dapat dijelaskan, bahwa hal ini disebabkan penggunaan alat XRD yang berbeda sehingga terjadi danya perbedaan letak peak antara data XRD pasir besi yang mengalami mechanical milling dan data XRD pasir besi campuran karbon yang mengalami mechanical alloying.
4.5 Identifikasi Ukuran Kristal Pasir Besi dengan Xpowder Berdasarkan
Persamaan Scherrer
Identifikasi ukuran kristal suatu bahan yang diuji menggunakan XRD dapat dilakukan dengan menggunakan program yang mendukung seprti GSAS, Xpowder dan lain-lain, adapun dalam penelitian ini dilakukan pengukuran ukuran kristal menggunakan program Xpowder, dan perhitungan manual untuk menentukan ukuran kristal dalam penelitian ini dilakuakn mengunakan persamaan scherrer.
4.5.1. Menentukan Perubahan Ukuran Kristal Pasir Besi dengan X Powder
Belum banyaknya pemanfaatan pasir besi dalam industri logam karena disebabkan masih banyaknya pengotor yang terkandung dalam pasir besi sehingga ketika proses metalisasi berlangsung masih banyak slag yang mengganggu
terbentukya ingot besi, hal lain yang menyebabkan belum bayaknya pemanfaatan pasir besi dalam industri logam adalah belum seragamnya ukuran butiran sehingga ketika proses metalisasi tidak berjalan sempurana hal ini disebabkan karena kontak reduksi yang kecil akibat ukuran butiran yang besar, penelitian tentang meningkatkan reduksi pasir besi telah banyak dilakukan(8), yaitu dengan dilakunnya penecilan butiran pasir besi, seperti yang telah dilakukan Nurul TR dkk.(8,13)
Dalam penelitian ini dilakukan analisis terhadap perubahan ukuran Kristal pada pasir besi menggunakan persamaan scherrer. Data dari ukuran butiran pasir pesi yang mengalami mechanical milling dan mechanical alloying dapat dilihat pada tabel 4.6 dan 4.7 dan diagram pada gambar 4.6 dan 4.7
Tabel 4.6 Ukuran kristal pasir besi yang mengalami mechanical milling
No Jam 2θ FWHM B (scherrer) 1 0 36,01 0.930o 10 nm 2 20 36,23 0.811o 11 nm 3 40 36,15 1,859o 5 nm 4 60 36,09 1,900o 5 nm 55
56 Gambar 4.6 Grafik ukuran kristalin pasir besi yang mengalami Mechanical Milling
Gambar 4.7 Grafik ukuran kristalin pasir besi yang mengalami mechanical alloying dengan karbon komposisi 10% dan 20%
Tabel 4.7 Ukuran kristal pasir besi yang mengalami mechanical alloying dengan karbon
No Jam Komposisi Karbon 2θ FWHM B (scherrer) 1 40 10 35,46 1,655 6 nm 2 40 20 35,38 4,740 5 nm 3 60 10 35,44 1,549 6 nm 4 60 20 35,40 4,480 3 nm 5 100 10 35,36 11,250 3 nm 6 100 20 35,44 8,342 2 nm
Untuk menetukan ukuran butiran dari pasir besi dalam penelitian ini dilakukan analisis data XRD menggunakan program Xpowder, setiap sampel diambil peak yang tertinggi dan dianalisis menggunakan persamaan scherrer. Dari data tabel 4.6 terlihat adanya pengecilan ukuran dengan bertambahnya waktu milling. Namun dari data telihat adanya ukuran Kristal pasir besi yang bertambah besar pada waktu milling 20, hal ini dapat dijelaskan karena pegaruh agglomerasi (agglomeration) selama proses milling(14)
Dari tabel 4.6, dapat dibandingkan hasil XRD pasir besi yang mengalami mechanical milling dengan pasir besi yang mengalami mechanical alloying dengan karbon. Terlihat ukuran butiran pada pasir besi yang mengalami mechanical alloying
dengan karbon lebih kecil jika dibandingkan dengan pasir besi yang hanya mengalami mechanical milling.
4.5.2 Menentukan Perubahan Ukuran Kristal Pasir Besi dengan Persamaan
Scherrer
Ukuran suatu Kristal dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan Scherrer yang merujuk berdasarkan sudut dan setengah dari nilai peak yang tertinggi (FWHM), persamaan scherrer dapat ditulis dengan(13,17):
Dimana k adalah ketetapan dengan nilai 0,9 λ adalah panjang sinar x yang mempunyai nilai 0,154 nm, t adalah FWHM.
Gambar 4.8 FWHM (Full Width at Half Maximum)
a. Menentukan ukuran Kristal pasir besi yang mengalami mechanical milling dengan cara manual menggunakan persamaan scherrer
• 0 jam
K = 0,9 λ = 0.154 nm θ = ½ x 36,01 = 18,005 t = 0.930o Untuk perhitungan t diubah ke dalam satuan radian (rad) t = 0,930 x 2 x 3,142/360 = 0,0162 rad B = 0,9 x 0,154 nm/0,0623 x cos 18,005 = 0,1386 x 10-9/0,0162 x 0,9603 = 0,1386 x 10-9/0,0156 = 8,884 nm dibulatkan menjadi 9 nm • 20 jam: K = 0,9 λ = 0.154 nm θ = ½ x 36,23 = 18,115 t = 0.811o = 0.811o x 2 x 3,142/360 = 0,0142 B = 0,9 x 0,154 nm/ 0,0142 x cos 18,115 = 0,1386 x 10-9/0,0142 x 0,9504 = 0,1386 x 10-9/0,0135 = 10,2667 nm • 40 jam K = 0,9 λ = 0.154 nm θ = ½ x36,15 = 18,075 t = 1,859o = 1,859 x 2 x 3,142/360 = 0,03245 B = 0,9 x 0,154 nm/0,03245 x cos 18,075 = 0,1386 x 10-9/0,03245 x 0,9506 = 0,1386 x 10-9/0,0308 = 4,5 nm • 60 jam K = 0,9 λ = 0.154 nm θ = ½ x 36,09 = 18,045 t = 1,900o 59
= 1,900 x 2 x 3,142/360 = 0,0331
B = 0,9 x 0,154 nm/0,0331 x cos 18,045 = 0,1386 x 10-9/0,0331 x 0,960 = 0,1386 x 10-9/0,02976 = 4,657 nm atau dibulatkan menjadi 5 nm.
Dari perhitungan manual didapatkan hasil B scherrer mendekati hasil yang didapat dengan menggunakan program x powder dan hanya selisih 3 nm, perbedaan nilai yang kecil ini masih dalam batas toleransi.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari pembahasan dan uraian analisis diatas dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu:
1. Pemisahan pasir besi dari unsur pengotornya berdasarkan sifat kemagnetannya dengan magnet separator dapat meningkatkan fraksi beratt unsur Fe hingga 5%
2. Proses milling pasir besi hanya memperkecil ukuran butiran pasir besi dengan seiring bertambahnya waktu dan tidak terjadi perubahan fasa
3. Proses milling pasir besi dengan menggunakan campuran karbon dapat mempercepat penghancuran butiran pasir besi yang sebagian besar mengandung Fe3O4. Hal ini disebabkan karena karbon memiliki sifat yang getas.
4. Pola difraksi pasir besi menunjukkan pasir besi tersusun dari Fe3O4 dan Fe(TiO3)
62
5.2 Saran
Dalam penelitian ini penulis menyarankan adanya pengujian SEM guna mengetahui ukuran butiran dan morfologi dari pasir besi, dan adanya proses metalisasi terhadap pasir besi yang mengalami milling tanpa karbon dan milling yang menggunakan karbon guna mengetahui perbandiangan ingot besi yang terbentuk.
PK ! Ⓓㄠ¨ [Content_Types].xml
¢ (
´UÉjÃ0 ½ ú F×b+é¡” ;‡.Ç6Ðô iœˆÚ’ &Ûßwì8¦
BDÓ&¤l…èž8 r ¥ ‰u`èKn}) ^ý’;!¿Å øýhôÀ¥5 c¬0X6ù ^+ˆfÂã»(‰‡o-W<· E
Á±èù0WQ§L8Wh) „ó Q Hc›çZ‚²r] URÁ9o%„@ÖÊ"i¡ï*hžM^ ë £× i;Äá¡ ÿcml&4Y+
+íB C·-FÙÙxZwÝ0 ¤Ó"—B›£þ³: î‹!Îè€ÛK F T œ yuM ’#r— Šjæ- ¶ÿÒú ¡*Ÿ SW xÔжç|ú€H -àŽ„ ¹Ë~{OÁ ¯¶ ò–‚ïåGÚ;Àëçõ"j˜^ÊœvÑ\, Ât Ý+b ‹ÏÁNÿ x— Â8nÌjúDëyýŸÉ~ ÿÿ PK ! -‘ ·ó N _rels/.rels ¢ ( Œ’ÛJ A
†ï ßaÈ}7Û "ÒÙÞH¡w"ë „™ì w
̤ھ½£
ºPÛ^æôçËOÖ›ƒ›Ô;§< ¯aYÕ Ø›`Gßkxm·‹ PYÈ[š‚g GΰinoÖ/<‘”¡<Œ1«¢â³†A$>"f S ‘Ì
3°£\…ȾTº I
]7 ~
fïØË‰ È aoÙ.b*lIÆr j)õ, l0Ï% ‘b¬
6ài¢ÕõDÿ_‹Ž…, ¡ ‰Ïó|uœ Z^
tÙ¢yǯ;-!Y, }{ûCƒ³/h> ÿÿ PK ! H<ÑÇ· word/_rels/document.xml.rels ¢ ( ¬UÉNÃ0 ½#ñ ‘%Ž‰Û²£¦\ ) .P$®“x’˜:vd;”þ=Ci , / ŠžÑ:itÊÆÉˆE¨ #¤®Rö0¿‰ÏXä<h ÊhLÙ |‰2 gÞ›7‹§— »œíïMïP §Ÿ\-[ Q íRV{ß^pîŠ p‰iQÓ—ÒØ <™¶â-
¨ OF£ n·c°Ù—˜Q&Rf3AøóUKÈ Ç6e)
¼2E× ö¿@ðÒ –
"‚-ЧìÝ-'D’ñßñ Câ/1¿GïI\÷IbË9Dä4$‘š$µJêÅ' ¾Ëå2i N ò®U ŸßóÇØÂê`2 ²,- ou'+˲¤
e-âÖ *Óõ
)¬a§ž“ i¸böž!%ÇA)ø•¢™øh)·¶‡àOBÂï.$ k"µ0naiBeR˜†oÞ¹ó 1M§€ºS èØ¢è NÆ
™?¥ i¦·
Ð{†J0¦5 n«xÚvØk ²µÉ×ÏÁÍr ’ÃÛ&û&ćkH‰ó°$´ŸC®¶Ä(ÍÆÕ“à_.ŽÙ+ ÿÿ PK ! {—
ÐÓD Ì word/document.xmlì]Ûnã8 }_`ÿA0°À4Ðvì8 '˜h`Çq·;7ÃNÏÎ Ñ ŒÅØjË’ K¼ž§ù
‡}Z`÷çæK¶¨‹-»HZJÔiÏämYd±X¬*ž* þå_KExƆ)kêE-ÕhÖ ¬N5IVg µÏ ƒz§&˜ R%¤h*¾¨-±YûEüûß
Ìé /‘ÙÐt¬ÂÃ'ÍX"
> ³ƒ%2 ¶^ŸjK Yò£¬ÈÖúà°Ù<©yÍh 5ÛPϽ&êKyjh¦öd‘Wε§'yн?þ M¿î›} d§Ç +@ƒ¦šsY7ýÖ–
¼-Á ç~#ÏYƒx^*þïV:Mo’ V0KÅ%{¥ ’nhSlšðmß}¸i±ÕÌêÛc ibó
HV7Í éˆÌÿfò 0y nß ¤©í@€ "ÈÒ£&-É_]X ƒ,Jã‹Z³Ùì¶ ºÇ5ÿ« LtìË>~B¶bÅŸŒ _9-á>}J–
òÇÔÑ ¸ m*2¡¸} ï~ Û
| lK« ŸÊªDžà'hý°sD~6GêÌY ä³ó£oSøú ) µ), l¸ß ng ð“ ù u÷[ ÞpÆ é1áµÕ¹%ö»ƒ‡îX
è
§‘²'óQƒÅìΞ?k¤_G×92 ’¢ ØÄÆ3®‰_Z_…ëû«ÉÝýÇn („f †mhÚÓ•A¦ÝZëð¢©cE™XȰ<iqš %¤R ½y¥JÁ÷ˆÞŒ“$t Âäs¯{×6r
š h £'¹Ý¿þüons)ã i VM™mŒ1æ Zé8@ÕQlØâÄ^>bƒêåRéè£5z}*n´ R^ŸŒÏªe/^ŸŒ[¼| ` ¹P
©F Ókð°TI6äBµ '1Ū.N"ª±`&à ͨF@§=†ªd›–± zè âU½w \Å"×q¾MI1
}ÙDàúË‹*ˆm-)hYà\Q5 _ÊcP)‹
èúkMÑd{Y·°u; wÿúó #¬ÊQ]·q_‰«Ù;>:
¤ðÒÓÃÆ
- Y…)º Õ¹°ÕY h™àG4«‚ÀtUK6e 4x BCÕT| ]ãGù ª„î¾Z˜ºV äÄ6d
€è´çY›-xÅ BBl ìÁïM$ ¶
7½‡ b'Ýr¦j*>3ÿDªU¤Z‰ x ;ë
sÉØ× ŒÉyÁB3@ÖVçXÁ *„M³‚¦°c&HL1 ^
? 2Ùy më;Æ1Ê@a q2FhåðkÔ²Í D1 ½[ ƹ,]ÔŒ¡ è1€s²iiÆ PlW-à« Ì6è´ >rŸx8ÜÄZ+ ~åÀw-ýV=ØÇÃâ,ÑÃ4 ýnÀH5sa Z,;ˆ¦÷ï Ó²%¹
['ƒ«
l ô IVp|èËèÞ?«û˜Îˆ 7©› ´0± ¡>ùíRµ¨Ž¤0÷ÓÐ;:*Z'QÙM-S\ ƒnÄV ü =v jŽF ¸øôU¯yØ æ¬¦l
›P ù %øì –»ªj
;3²˜ M 1 ø/¸V »< 樈̗Àüýá7uØv»6ÿ¸4ÃßA“¾ LÞÿ|iÇ sDÝœ´Úݦ§‹3) ô%Ž !1 é0O ó‡ h4y
<þá àä‘-ck4
¿).Üb
)¶1cÝW—Æ„›áˆ#x¸;9 ydÇAwï¶J a¿ §`DBJOˆ ®}SÂÐ#[5*»´Ý ¼- À.õG-ÿ r Ø ºoj Œ
d0g ½-¡ä µ¼ ü ô·Kxd Í(¨½m¸% Îp¡ =´°CV
%# ò˜~l/y¿Mª ÒÊiA«`˜iwÝ$VI%¾ŠF´9’’wç{…`³[¬Úê7 qS‰ß uÍ}“P -ðå ï.—
"I2ÖØ³Œwï9yEäÇõÊð’.e Ï4µ*Â@ ˜ŽÙ ˜ÜÈ¿ Àõ'h-p'³êDÅᯠp' I(:ëØâžm1¶Å¢ú<© É«þËÑWrôí¶{× äk ‘}'eŠ.‘#õ„!» Ô!!^ã™Ì-÷‰í¼ã‡ó*>î Ù" º Õ5 o“å´ì åA°¿ƒaqàÒEŒê§¡¡©Â R‹ÍweÏœÄ {+b€T ¸ dêTü¬ÊN ñ$y ¬C|Ä üš] Ú© û?c 6è?2 mgÅ–ß z R 2Ä ! Ý &îÓÞ¨J&i8 @ ŸÐx`å¥XÓ e '<ype1à< ±*ƒ € -e¤ÿØÐ‘— €ìÈ> U ©¾3p{ Äâ‚Z
€¶ll†- ¤)›r8‡5 ¤eë !
Á•ylfQ ÒwTCy«l ÜÇY „çHËî¼§“‚‚–Ø>βqÊ ô9w ‚J Šû8
)nÂîï
>¨¶ ³ˆû8Ë>ÎÂ\ºa÷%HgŽc @ ˜ê>β ³X¢o ¨¶ª/ kÚÇYÜâgù(k :á; ³ô›Ç½3ç´rô0eø‰S½0~˜r{Rñ» 9Ø * \µ »W5ßZ B%á'o‡ ^ iuN}¤3fb£A
R8cX OÌØ-PBµÞèT USÑ ’%Þx%R¨^/•’ <CŒš7K>H°„]\}_hÄ€*à;0a-Äpjð' Ðw¢( µ¹6ÎãN °?,²©Óž–’½Õg»¯ûd tÄØ 1BÅê_Å$íƒ û Æ>ˆÁê\– e ^E ì ‹ J· b¸;¦ýa ‚ÙV2ˆ V
‰' :-æU§ Û‡Ÿü¸°} l˨¤)³]Uå×—ôc3 ”paTú ÂI ®É B¾ 7 áæ³ éÓÂmC¸‡ ]Þ[‰È á O¡|¦<Í÷(â Ò`´®¢hk ù ¨‚Ë…Ú$ ðq¨ëZ±W…^-Ô " Ã-kÂÈ~„ és¸Ç¯¼¸HA©—/–7m‘´s ‘¤ ´‚âôû Ƀí ß/JFV Û!Z¼‡«ÏNÛ‡g—
K L„…MA{ ºKˆ¯LiÓ£¿¯E¼§¶t © ( ŒU‰Tì-¡ î
-œÚ½iZ…^¡ž2)ÔKr»Ûøw8å6î’ÿç ÍÉQã²µ©«óe ʵ—ªYûX‡ë
È 6Æ4³ @ÜÂnYA@P T-Å =oiÑ,j ëéT¦CŠù^¸$%¡
“é\Ó ¢ÝÈM0ð䃦@iyøÅ½Ði-5ë-Nç´òVa{æ¥<3ã99Ÿ'ÝÐ
ô$ó^•Pá s¯^¢b^¡6!€\1› Fí¸Å³þ uþó[
ö 2¬‘¡ Ǧ vNŒÿn·|ì2FªµÅäØ„ÆÆžSž«pƒí§L\Ƀ"·ó¸ Œ¿ÅÕ6Ô-Ì褳)ª×™´±l2ßÔö Èâµ¶Ô± w =Q =ƒ•¤Xgä"œ¨ÑŠí-ˆ
-¶[ª‘2é¬à~]œ`CטkMåÊJ° ”%@ª ž° U
›Õ ü‚DYîÕÏž<Üá•ð»f„ ž„D"Òâƒ÷° v)îUb} W¤n4R«+D|hä¡ yqˆÖÙY‡³. ÜoœŸEÁ 3k× £S [À1ÜÏe
»OŸµöÏNë-V;Ê૵îmžoE¼Eý¥ ây$ª :ˆÜŒþ2c>¿
ãÆ ½o»7CˆLTCÆÆ OBo8ùx?Ê¥'Q '»k;œ!æŒ;ÇVhطΘ–Üq§¬õ l z*ôVƒ¤Œ|óžBM±š'"Õ1æ¦ 1Æ
´Ff89)ÿÜPÖäÜzé <‘(o9_ ä ûY‘T}"7YYHø)¨Ðn¿w|t28«eŒ
vÙqÍDŠÆ‹(xZ*n´ ZR½K P5 Ç;*!¤=» ¥D ž’w õH`#}øN€ ñi»Þ9
•4c}Qk9îäÆÍtgëê¸Õ? ¸O\8Ô˜Xk ûÃúè·JpTà WŒÞ W«Uc‰æ غ¢!éàarð[Ý@ë 6¥-æ Ÿ†ÃaC—
‘ hjC0QåYŠô=¯]‘d´01OÍý´„öКHó,âºTGR‘[ N*,g+£P½í™–Ä5Ó<;i ÙŠVñ£ZáÁÓZí“f>@Ÿ% Âá
žë&Ò¤ã°ÙjF¸»Ynd±· Úƒ³Ž³Ø,1 áKdt˜ ¡½ÅnÊ)±7¯Þ¢¯ XU¡©£)d[Âë „ ä ™ZïÃØVà
s j0¾+R$ çSRr"q €R ‰½ŽÂì
†oEšðWÌu÷Û‹YÓ{Ý‚ztÜ·ÔFÛK “ˆ€ä;ù©ôêœ5ÚÒ L!x¨Î4‹]g¦õ"Jì:4-- Š‹c1ϵP¯FìŽiµÁu]:cy P¾-c $ P Õvƒ½
ÖÖõ·ždôn Ë|xº£ÓÕC [è)Ú‚] 8° x
å€Xg ð àËz;Óõ
O\@j¡Æ“ZHÍ 7§oHB$¯ªy@s»HUû2Õ ¸.’ žr## É 3¦ ÌÖ RK l‚ 3_ù¶Ø§7- q€-Ž }Z{)¾ °Ÿ#Õ'- Ñ„Coˆ ‹Hk-…dªÙ
•´öÅ åK„Ðn wÚ3쉰
Fõ †5ªèN‘•̾Éwm”8²MÄzD a çïg]«Æ}Ú¦ Zœìš"ñVb Þ
=ÙÐÂ’H fŠ:E**Ô 0/hw®* Ù»Æ6˜Ä" â.^B%XRêRNÔšWýöÕir%»~»ÓÜDñÊÒšÿ ÿÿÄUÍnÓ
p€:Ió«ÆRÚ˜Ö" ¬¤ !ÄÁµÇÎ g×¬Ç åÔ —
ë“0kÇmlœPNÜvwþ¾ùæg-³íèÎgÛÑÆ‹ÇÆ-Ä•qb lG‰«´,QR†¶R¤ ÷
Œ 4 8^¢§P+nG¹ ZŽ ¥Z{È¿zÚ sG<Ø"Ø·gß×ñ(M<Ÿ"$
@ ~••O
.Â{&C†+`sˆ`S¥yoä OuQq µ‹k
Aq/N™-Z/ÉHOÞÞœ‡R È „ @ø@¤ ßCPì^ƒ© Ɔr‚A±Ü’hùƒ´¶c£ÕnŸšz}®èÜ Ð
ÝîwµŠÒ+ ÔzÃ|½Óÿ„rý| !$i©¼ / Z }s m
RP 0,6s\çmÅŸF–ã"@*åÁbl˜f¯ÛëO†Fù4…ÐËbüSâê§Á´30{Fî¤Èñpþ ÑìiÇîwš¢U% ¢y Ê¥Îtj—
´› Ï’y] Üe).x´BG 5áaøOÕùܪ Hï%Wš‘©Ù= Œ uZ×ÔD¡õ¥þ¼ïà|Ðz×-æ”â JÖÍ
¯ËÙäã„]\9 WölîÜ,ß b ?ëÊe,Wi¸;– ×<޹ˆØ$eõÆ+:óexþÞæG0Ì=! îÇPƒÞì÷¹ù {=€ÛU@¡hΤ`7௠ÿ– Õƒ-Küñá «`llñ]A Ñ• {Sö úžç“ r•⌠Z Þn ŽND‰¿¡™ÎAT¸)ç§¹ o.3¥ËðAð Ð "ÊŒ."ú `ìU›vâëŠEYæ |t+Óÿ‚ 9ÿH’èÚÓÀP&c£
ˆO×(CBLi á|IünË?G›ä( é_*®W,- p9ú„r×XÄaA_þ¹ÝÊà>? I¦Kgý ÿÿ PK ! rT_©i
÷ '•ºX±sh” èò ã ØnÞ¾ãµi EV{Áf–oþaf³ýÒ*ª…ó LJV˘DÂpÈ¥9¤äým¿x$‘ ÌäL )9 O¶ÙíͦI
¤¤r&
-¹ EhS (
x¥… ]Eê„B `|)
ïѺë q _«=<`‹˜2æHø]sT¢™4 ¦] ³ùOÃ[âðh_›¶¨ŸFð²“eŠš$
-’¼°Ì± Ž Iæ)‰»8‹7\Öü ñÝÃúéyß t¦ (X¥Â‰§%»ö˜h4ÛÐΆ§íþÇ5¾¨‚ƒ ÒTÝ–
¼ž+ZýGÑEò5u(x”ê³o ÿÿ PK ! º#Œ<i ² word/endnotes.xml¤“Û
-iú¯4l± !õµ&j-ƸÆÎ©–;Öà@´êe7àrë€
†ï'í "î[ÒNÚ!jÒ‹U}€ -€ Ò iÖ·ŸsìVUUµÝ `ãÏ¿±Y-¿L í•ó !e‹yÌ" s » òl ÝÞ¬šDA
Á&œ{Y*#ü - r èŒ ´u;n„û¬íL¢±"è ]épàË8¾g SV;H ÄÌhéÐc Ú ‹BK5|Æ wMÞ>rƒ²6
¥òž¬›Þ9 ñ¥Üà ¶ˆ)â ¿sŽJŒÐ0aÚé8éÿÔ¼95 ÷¹y‹: Bw‘ g)j’p° òÊ
' :F& §,îŽYÚѨæ/dˆï-–OÏÛö@gÚ¨BÔUøáiÁ®]& ÏV¼³Ñj»ÿaˆÏi ACÝ È멞Šôœ%_ÐFjÇÇ–
} ÿÿ PK ! ò ¨
‡BšcJÞ^óÙšD>0S0 F¤ä$<Ùe÷wÛ6)ƒ‹Pm|Ò`¢ Á&”z^ Íü ¬0˜,Ái ðÓ ©f3
¤¤v& 3-¹ eè$ ”¥äb8F…»Æ·Wî ×Z˜pv¤N(¬ Œ¯¤õ#Mÿ—†-V#¤¹ÔD£Õx¯µ×¸ ޵8
-ú²[p…uÀ…÷ Ý÷ɉ¸ˆ/y Ø!&Å5%üô +ÑLš
Ó-ƯùOÛãðhïM;Ôw#ø ®‘ Ú ×¯xNI ?=.Wù†Œ¡½(Y-ÂßÌ¡
„#4ÛR´éntçížgÅ- hƒ?Gö ÿÿ PK ! –µ-â–
P word/theme/theme1.xmlìYOoÛ6 ¿ Øw toc'v uŠØ±›-M Än‡-i‰–
!)OÚ^ýrÍC$ñy@“°íÝ-ö/-yH*œ ˜ñ„´½)‘Þµ ÷ß»Š×UDb‚`}"×qÛ‹”J×—–
¤ ÃX^æ)I`nÌEŒ ¼Šp) ø èÆli¹V[]Š1M<”à ÈÞ ©OÐP“ô6râ= ¯‰’zÀgb I g…Á u SÙe bÖö€OÀ
†ä¾ò ÃRÁDÛ«™Ÿ·´qu ¯g‹˜Z°¶´®o~ÙºlAp°lxŠpT0-÷ -+[ } `j-×ëõº½zAÏ °ïƒ¦V–
- ÚïgÔ
ð:Á¥ ;ä˹!Í I_ÐTµ½ S
1£÷êù÷¯ž?EÇ ž ?øéøáÃã
?ZBΪmœ„åU/¿ýìÏÇ-£?ž~óòÑ ÕxYÆÿúÃ'¿üüy5 Òg&΋/ŸüöìÉ‹¯>ýý»G ðM Geø ÆD¢›ä íó 3Vq%'#q¾ à ÓòŠÍ$”8ÁšK
ýžŠ ôÍ)f™w 9:ĵà å£
x}rÏ x ‰‰¢ œw¢Ø îrÎ:\TZaGó*™y8IÂjæbRÆíc|XÅ»‹ Ç¿½I u3 KGñnD 1÷ N
IB Òsü€
þvl³{ u8«Òz‹ ºHÈ
Ì*„ æ˜ñ:ž( W‘ ☕ ~ «¨JÈÁ }KNßÁP±*ݾ˦±‹ Š-TѼ 9/#·
Tøe\O*ðtH G½€HYµæ–
%Ž»O¯ ·ièˆ4 =3 Ú—Pª ÓäïÊ1£P m
\\9† øâëÇ ‘õ¶ âMØ“ª2aûDù]„;Yt»\ ôí¯¹[x’ì óù ç]É}Wr½ÿ|É]”Ïg-´³Ú eW÷ ¶)6-r¼°C-SÆ jÊÈ išd ûDЇA½Îœ
IqbJ#xÌ꺃
Ö„ AÛ V^…ó¹f
é" á€d>ÒzÏû¨nœ”ÇŠ¹ €Ø©ð‘>ä bµ ·– &û ÜÎâ¤2»Æ v¹÷ÞÄKy ϼ¤óöD:²¤œœ,AGm¯Õ\n
ûœÂN H…T[XF64ÌT ,Ñœ¬üËM0ëE)`#ý5¤XYƒ`ø×¤ ;º®%ã1ñUÙÙ¥ m;ûš•R>QD
ÌH ín÷ÞÜ-Æ
UÐ' ®&LEÐ/p ¦-m¦Üâœ%]ùöÊàì8fi„³r«S4Ïd 7y\È`ÞJâ n•² åίŠIù
R¥ Æÿ3Uô~ 7 + ö€ ׸ # ¯m q¨BiDý¾€ÆÁÔ
ê ¸ª÷v E ꦚdeÀàNÆŸûžeÐ(ÔMN9ßœ Rì½6 þéÎÇ&3(åÖaÓÐäö/D¬ØUíz³<ß{ËŠè‰Y›Õȳ ˜•
 ¢ú’m< . vp “
´Á¤IYÓf-“¶Z¾Y_p§[ð=al-ÙYü}Nc Í™ËÎÉÅ‹4vfaÇÖvl¡©Á³'S †ÆùAÆ8Æ|Ò*
Ç
Ý'‘÷Ü=w< ïøîý3g“3QšJ±ö‚ ß› QHLE¹ö¾<fÓÄ›hƒ FL ²ö.D{ïo ýå]“jb
¨é P ʵW+‘êâD8ÒSN
%µ<ši!y* GZ þãõ jí Œ©ÒÙ¬7º‘ Àv”Š#£o¤*g åN 5'ÂÌBß_Ì aÈ@ÀúD+íØø e W'GrþÑ!Μ9½&ð ¤
Ù·‘
¿X¼%<kP)Y -!³œuÇåˆ
G£Ù[xº|~¢¹BêòŠä ~ÛW)ù¤I+¢
H(üsß÷f Çòx0È €uE k‹ ` û&- â ÁOë$- 6 F>#A²ö—e” ¢@÷Œ
b‡
tÊÁ‹2Õ C—Aq7Xï¡’/Î"ì| '¤P aõ„[`W’9-,ÿ”f+y¥
é ÅQJ#¤!Ÿ•M‹Û Åk¯ ù i{ÎÙ Ü™
uîÀé´ 4GŒepÿ ±C0\ã 9¶Äì ©r`nË‹§jT
Ö-£åÉ ¶ƒ Øa¤žÚM^†= ¶ ì,ÖnPaO ÚýÂ*tKÐê ƒ,r²h ÅN ²¹“Í ÙÂÉ VvºÀX€¶ÿ CÆ--ü( “ Á
pí}'ê’жÓ{Q° ¨ ,
}/ìPÑmŽ - Œ ò ˆ€W N4ôyR+ú†yÚZ TÂÌïl×^;¯:×? » 5ŒŠËT‘ - ÿ“ ˜eE{‹`æþìäl©¹ôaŸPEàºÙ)
-÷^¦Ú
ú±¬'ç”<ÃS€`jà¹WQÌѳ} „m÷éµaèÊÚ\éZ&«\]I' æÖõìÊ öpÌëXš “‚BŸ8\x>ÌåߺÀ Õæ@* áF*øëí
Ãâ÷–yx Þþ ÿÿ PK ! p^‚K\
¸-word/styles.xmlÌšÛnÛ8 †ï Øw tßú”: Ô-²I½ Цiœ`¯i‰Žµ‘E¯(7IŸ¾Ã‘DÓ ‘ Ó Ø+Û¤æ#9œ $‹óþã
–Å, Ÿ„O\†?üùÇû‡ Y<¥\ ÈäI>
\.“µ
ã* ~ð\&"›„ƒ·ý0àY$â$»›„·7Ó7Ga
+ÚC ÚƒÈãu.".%Ìv•–¼ K²ð L/ Ñ9_°MZHõ3¿Ê«ŸÕ/ü˜Š¬ Áà “Q’L›d +ºä ÁµX±,„-Îdq* ÖÚ¹<Íd»Y$©AO ™²ì
°?X: yöæv¶;ˆnš'1 Yþfv ‚a WP +Yëu•W5–
Î WÏÊ- §ðÅ ÝóxV@Ç$„íÆÆÛ‹«< yR<mÛf|•|Nâ˜C`èë²e ó –
R5ü µí@- <Ôvù’3 “ÁÀÛb¨,¤± Dl ñçŽ^‰{ðJÜw¯Ä ¿ ÷𕸠Ð^%-Ž_˜ 1 Ì
So’"åŠÙIu³Í¼ð3(r‘Ýuæ Z-—L& ÷;Nè*e _Š4æypËvï$Ûdv|ìH*—
"˜-Y yEq6†Y÷tð%¹[ Ál‰é©‰ ÷ £—–_ ‰«0G»2aiöwžÄd´¡c´¯<N6«z¢e-Ý sÔÝ SêŽñÁ~cµÐ– aßu´¤cŽ÷[*/µŒyØÑ’ŽyÔÑ o
;-rÅá9Ë@8tÅÏ™HE¾Ø¤õž6ÃáÐ EÚ¸uXW i˶ <tEÑŽT‚Ó(‚'“– Ýq-y« »½kÙ[ñØí]‹oªÈNq9¢A Ú) ueG¸ vÍ $êÉ_…
}D2ò¡3 ¢²¯XÎîr¶^6Ãp„ 4 n7ß7¢À›“©œ!ÞX;Ù_dð°+yÐÊ á3l'Nµ?¸.ÇætN@öÍ霉ìˆÎ)ÉŽè”›¬æ^IÊ NqÉVç Ü [æ8t)W#ðž`E¸dÛš¿è=Â/ Q{—#hþ¢ö./42Ï Þ
Jq9¢AÑ ¡ ïüE ®üÕ*TŠð *Ex
•"¼…J ^B%æÏ *¥¸âS«Ì *E¸BT#L¡R„+>[…JÉü„Jí]Ž B¥ö./4$¦…J).G4(Z¨”â-TŠð *Ex •"¼…J ÞB¥ /¡ óg •R\ñ©Uf
•"\!ª ¦P) Ÿ-BÅçEó °ã¿èú^Fí]Ž B¥ö./4$¦…J).G4(Z¨”â-TŠð *Ex
•"¼…J ÞB¥ /¡ óg •R\ñ©Uf
•"\!ª ¦P)Â Ÿ-BÅ7Ê¿!Tjïr *µwy¡!1-TJq9¢AÑB¥ o¡R„·P)Â[¨ á-TŠð *Ex
•˜?K¨”âŠO-2S¨ á
Q 0…J ®øl *-Ñü†P©½Ë T¨ÔÞ兆ĴP)Ååˆ E
üßzÚPÃî‡YÕ¤®ù‚çP ÂÉ»Üî¨ú]¬ …ÿé;½ ýKˆû@Ÿ\šn áÿ n dž& _Q?í}ß=ÂÓgZ$`/P¸ùv |.‹ öÓqs)
œ‚BÕ‡YÀ¡ª#°ê .,žÖPE±6ߺCq‡*w 2-œ ªù¸€ ªÒB «Ò
°Å⓪ WT9 ¿C)P\_Óï÷OG §Uzƒ œÁϺ{X¥NùóL Ñ ¶l3ÊUpÂtæÑ ¦- <WsµÌ¼*sÑG
ªZ +JÌuT úª /õlC¥ž^• ¶‡ åu;Õ Ð ó·Ì»`óò Ý2ç Õïty€—
ýg<M¿2ÜÊB¬í—¦|Q”½ƒ> M4PsQ be·Ïñd gÒ ›“) ªEØ}ŸmVsžWÇõ ÿ_ •ÖI”ÀQ?¶[¢«×ísÛQb´‘à ¬ºjª±
W2Áº 'h× ”{)-±M!Té ?ÿ €Â«Þfn{.›=ñ¿0-kµ+eˆlÍ`Y ¸Òx¤Î–µ=¤ ~…—/"þ g¡ÐT¢š
8þˉg e3:fÎ ì웪"#9,M²ûº½$ AŠ)£~¯?AÕX% Ÿ5C
˜ï`|T¹À¸ C\%0¼äxT¾©R¡Œ¼Ú-ö¨Ùɂލ1 ÔÌãeW°]lÃGU`éô¸ÍŽÔcUu V î D ›ÁK =Z²ñŽÿt
}†{c®VGbiÛÓ NvWÙ ¨òC^W’Z ?‰¤¦Óê-PGœ*c…{
¹öÀiW z iQ *ž„æ¶%›O f<”¤mPí:àxz08ª-ô«Äñ W ± ¦‚Ê®ßUPI) l÷–‡lh Ôá
E÷HüÃ({š E…F ©„PÙP¨ÄcŸf< H‰ Ù Ð~=æ±aÇòÚWÇÇ«õGŠÍ;° ÂÞ\.ZÓ z -zóò¼¹¸6 ‡£‹„Л#ˆY çg«ÚUØ?A)Ú”F)( ÷f.%wÖŠŸ!9YP ÔÝDœ\ÑÈ KÓ <Ü’ K€Å^µíÒ2DWÔ@æ ÅüÒê h•xÌL-DT$Å-^r Í Ž”KHá â ¦*Àök¬÷Ž øº½ÿN.Fª»‡; ö É docProps/app.xml ¢ ( ´UMOã0 ½¯´ÿ!Ê=M Ï[Ã' ÿÿ PK ! ËÁ¤ – —æYv’“ YA•è]Á¸¯x¾vÿZ´R¥×gï‹ FÁ” ÐhÁ Ð_^Ž é.@ Ï È5ª@ i?¨¶ În2M½ulËv å×ï8)Å¥ Њíéyæiòüf<% O ˆÖ`,Wr Y ,UÅe=ŽïŠëä4ެc²bBI Ç °ñ ýú…L Ò` a iÇñÒ9}ž¦¶\BÃì Ó 3 e æðhêT- ¼„+U¶ H
å˜(x ôä ã» ™² ,ÍIÚ ò LeéÑ #=$—KfXéÐ=š ŽOH ÈDkÁKæÐXú“—FYµpÑmgAä
4¤ ´e ek¸ÛÐŒ¤á‘üàÒKÁp P›aµazié± ¸;‘YÉ \âåé‚
i!æ#:ì ö‰¾@¯ ûêº/ØÛ Þͽ#v Ší4ôR{9W“ëbò;šÞÍŠÉ÷É ÎîÖøÅ7߸T frƒ‰ B»WöN êÊ ÏÖÑý`0 Ü-gš•¾WßÎpš^ç!H‘ Ž TØà—‚¯ rÓ ?lÎðcÝA‡Gg§Ùi6zßð7ÍD:ªÄàAg
‰8|#â@~€(ô£¤íÒxä+®¡âlPª&í l
¸¬”] ®-ïLÚâÔº¶â
.ÛŠ-[Ñ2™àpµ+Ë Ádm[Y'sþ‡/“9t1\WÜ% È ©¸Â·ä9sí ÷Èçy¿ÿ¸·s}ƒÛÅ ÿªðmÈ ª— 7p˜ð ô¾ÿg¢Ã| á¯[™/1Ü{»¿
ú ÿÿ PK ! |÷ C§ ) docProps/core.xml
¢ (
|’MO 1 †ï•ø +ß7^ RÀJŒRP.-RT ¨z3ö$¸ìz-ÛaÉ¿¯íÍ ‚ª-gÞw-χçWomS¼‚uªÓ
D& *@‹N*½] ûzU^ Ây®%o:
´ ‡®ØÉ—¹0Tt Ö¶3`½ W ’vT˜ zöÞPŒ x†–»Ipè n:ÛrB»Å†‹ ¾ |ZU_q
žKî9ŽÀÒd": ¥ÈH³³M H ¡ ´w˜L ~÷z°-ûgAR>8[å÷&Ìth÷#[ŠAÌî7§²±ï
þuûã. Z* w% ±¹ Ô+ß »Y®êåÏb} W/¿/ç8 ÑâvO @x–Ò9 ‚°À}g™² ®“:fâæ_`ßwVºPw …B
NXe|¸ç@=J wà ¿ Þ( ßöìAY¿ãM±¾N¬Oj|Ì«ŠßƒÍ’#‡Q‹öµUÚƒda çeE
†a@ EX, Î0* Óë›z…"ï²$¤$ç59£32ðFWZGx5 ÛÃLÿ'æ
ûI?Mm„þ
/éYuL ÃR ?7û
ÿÿ PK ! «œäŸ ’ word/fontTable.xmlÜ’Ýn›@ …ï+õ V{ß°&njYÁQ’ÊwÍ
ƒYi ÐÎbê·ïÀbW Ôö2 $ö왳ÃÇÜ?ü´Fœ0 ö® « % ºÊ×Ú ù£Ü ÚHA \ Æ tã;t¼×ø`!ò2 3ß4ºÂ¯¾ê-º˜åJÝe D> É &¾ð&{N`––l ;,ä I>ì>~¸¶ w‘ ×;Ú†B¶1vÛ,£ªE
éÀyÂÕÅ£r¾ïÔ-ú¬Öüäü¶–“±j! Æ«Q%¹ «Íù¢†éì ¬cÕ^ô ¹ae¼f%/dZ+þOSÕíU™<Õ”3y ƒ©†ô‘7z:¨B2"•?n¾È¤¬ Vûýèa…s檩Ï,ýË µg° îlÂùŠÖ3 MÑ‹oejz j ”@ Àòÿ å|,C å¹Ã%¸ èM\r»~Ý•Û+å7· É·¹qé¿r3šÁý‰Û#ó4<„½«±fzâÉ›ú-„ûiÆÆ™[¿{„ó
Òî ÿÿ PK - ! Ⓓㄠ¨ [Content_Types].xmlPK -! -‘ ·ó N ½ _rels/.relsPK -! H<ÑÇ· á word/_rels/document.xml.relsPK -! {—ÐÓD ÌÂ Ú word/document.xmlPK -! rT_©i ¸ M- word/footnotes.xmlPK -! º#Œ<i ² æ word/endnotes.xmlPK - ! ò ¨ W ] ~! word/footer1.xmlPK - ! –µ-â– P # word/theme/theme1.xmlPK - ! f°1[
Ç Ì) word/settings.xmlPK - ! p^‚K\ . word/styles.xmlPK - ! (‡q¥Ï -’5 word/webSettings.xmlPK - ! ËÁ¤ – É “6 docProps/app.xmlPK -! |÷ C§ ) _: docProps/core.xmlPK -! «œäŸ ’ == word/fontTable.xmlPK
DAFTAR PUSTAKA
[1] KOESNOHADI dan A. SUBANDI. “ Potensi Sumber Daya Lokal Untuk Membangun Kemandirian dan Daya Saing Industry Baja Nasinal. Disampaikan Dalam Rangka Koloium-tetMIRA”Peningkatan Nilai Tambah Mineral Berwawasan Lingkungan Sebagai Antisipasi Kebijakan Ekspor Bahan Wantah. Bandung (2008)
[2]