HASIL PENELITIAN
F. Hasil Karya Lukis Siswa Sanggar Lukis “Warung Seni”
Hasil karya lukis siswa sanggar lukis “Warung Seni” dapat dilihat dari
masa periodisasi anak. Periodisasi merupakan penggolongan waktu atau tahapan anak dalam perkembangannya. Dengan adanya periodisasi anak ini akan berpengaruh pada hasil karya seni yang dihasilkan anak. Hal tersebut terjadi karena anak mempunyai masa atau waktu dalam hal kemampuan atau keterampilan.
Mengamati hasil karya lukis anak di sanggar lukis “Warung Seni”
berdasarkan periodisasi seni rupa anak, terlihat perbedaan antara anak yang satu dengan yang lain dalam hal kemampuan menampilkan bentuk obyek-obyek yang
commit to user
digambar serta keterampilan menggunakan alat dalam melukis. Sebagai contoh, anak dalam rentang usia 4-7 tahun dalam melukis obyek masih tampak sederhana, banyak garis yang diulang-ulang, dan dalam pewarnaannya masih kasar. Sedangkan anak dalam rentang usia 7-11 tahun rata-rata sudah mampu melukis obyek-obyek dengan detail, luwes dalam membuat garis, dan dalam pewarnaannya sudah rapi sampai memenuhi selurung bidang gambar.
Berikut tabel hasil karya lukis anak di sanggar lukis “Warung Seni” Surakarta dilihat dari masa periodisasi seni rupa anak menurut Viktor Lowenfeld dalam Muharam & Sundaryati (1992):
No. Masa Karya Lukis Keterangan
1. Masa pra bagan (4-7 th)
Karya Djijo (6 th)
Karya di samping dalam menampilkan gradasi warna masih kasar selain itu komposisi dan bentuk obyek yang ditampilkan masih sederhana.
Karya Aqila (7 th)
Karya di samping sudah menampilkan obyek yang beragam dengan
komposisi obyek yang memenuhi bidang gambar. Namun dalam
menampilkan gradasi warna masih kasar.
2. Masa bagan (7-9 th)
Karya Gea (8 th)
Karya di samping sudah menampilkan obyek- obyek yang lebih detail dengan komposisi yang memenuhi bidang gambar. Namun dalam pewarnaan masih kasar.
commit to user Karya Ridwan (9 th)
Karya di samping komposisi yang ditampilkan sudah
memenuhi seluruh bidang gambar dengan bentuk obyek yang detail. Dalam pewarnaan sudah bisa menampilkan gradasi yang lebih halus.
3. Masa permulaan realisme
(9-11 th)
Karya Vona (10 th)
Karya di samping sudah mendekati obyek asli dengan komposisi yang memenuhi bidang obyek. Dalam pewarnaan juga sudah menampilkan gradasi yang halus.
Karya Tsania (11 th)
Karya di samping sudah menampilkan obyek- obyek yang beragam dan detail dengan komposisi yang memenuhi bidang gambar.
Tabel 2. Hasil karya lukis anak berdasarkan masa periodisasi seni rupa anak menurut Viktor Lowenfeld
Secara keseluruhan hasil karya anak-anak sanggar lukis “Warung Seni” sudah mampu membuat obyek-obyek yang detail, seperti obyek manusia, hewan, tumbuhan, serta obyek-obyek yang lain. Sedangkan dari segi pengolahan warna, anak-anak cenderung menggunakan warna yang telah diajarkan pembimbing pada saat bimbingan. Penggunaan warna yang memenuhi latar belakang obyek membuat hasil karya lukis anak semakin mantap.
commit to user
Namun hasil karya lukis siswa sanggar lukis “Warung Seni” juga masih
terdapat kelemahan. Anak-anak belum mampu membuat bentuk dan proporsi obyek dengan baik. Untuk siswa yang dalam melukis bentuk obyek kurang baik, Bapak Luluk Soemitro memberikan tugas melukis sendiri di rumah. Tugas diberikan pada pertemuan hari minggu karena jarak pada pertemuan berikutnya lama sehingga anak bisa maksimal dalam mengerjakan tugas melukis. Tema yang dilukis adalah tema yang belum dikuasai anak seperti aktivitas manusia atau binatang.
G. Pembahasan
Sebagai lembaga pendidikan nonformal, sanggar lukis “Warung Seni” dalam melaksanakan proses pembelajaran dan penggunaan komponen pembelajaran hampir sama dengan lembaga pendidikan formal. Di sanggar ini terdapat siswa, guru, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, model, media pembelajaran, dan sistem evaluasi seperti pada lembaga pendidikan formal. Perbedaannya, penerapan komponen-komponen tersebut dalam proses pembelajarannya bersifat fleksibel.
Siswa sanggar lukis “Warung Seni” paling banyak diikuti oleh anak-anak
usia 3-12 tahun. Siswa sanggar ini berasal dari berbagai daerah di Surakarta. Karena bentuk pembelajarannya berupa bimbingan, siswa di sanggar lukis
“Warung Seni” terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini sesuai dengan
pengertian siswa menurut Dimyati dan Mudjiono (2006: 22) yang menyatakan bahwa siswa adalah subjek yang terlibat dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Dalam kegiatan tersebut siswa mengalami tindak mengajar, dan merespons dengan tindak belajar.
Walaupun siswa terdiri dari umur yang berbeda-beda, namun tidak ada pengelompokan berdasarkan usia siswa dalam proses belajarnya padahal materi yang disampaikan sama. Hal ini mengurangi rasa percaya diri pada anak-anak yang usianya masih sangat muda karena merasa kalah dengan anak yang usianya lebih tua. Selain itu hasil karyanya pun juga terlihat lebih bagus pada anak yang usianya lebih tua. Inilah salah satu perbedaan sanggar lukis “Warung Seni”
commit to user
dengan lembaga pendidikan formal dimana pada lembaga pendidikan formal anak dikelompokkan berdasarkan tingkatan usia dan materi yang diajarkan.
Guru dalam sanggar lukis “Warung Seni” saat ini adalah Bapak Luluk
Soemitro dan dibantu beberapa putrinya yaitu Bu Uryn, Bu Unik, dan Bu Atik. Walaupun bukan lulusan dari jurusan seni rupa namun Bapak Luluk Soemitro dan putri-putrinya mampu mengajarkan teknik melukis pada anak-anak bimbingannya. Hal ini sesuai dengan pengertian guru bahwa dalam kegiatan belajar-mengajar guru berusaha menyampaikan sesuatu hal yang disebut “pesan”. Pesan atau sesuatu hal tersebut dapat berupa pengetahuan, wawasan, keterampilan, atau isi ajaran yang lain seperti kesenian, kesusilaan, dan agama (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 170-171). Tetapi pembelajaran ini terlihat kurang baik karena siswa yang dibimbing selalu diberi contoh dalam melukis. Anak tidak diberi kebebasan dalam menampilkan bentuk-bentuk visual yang diinginkan dan anak juga tidak diberi kebebasan dalam memilih warna yang digunakan untuk mewarnai lukisan yang mereka buat.
Setiap lembaga pendidikan tentu memiliki tujuan dari pembelajaran yang dilakukan. Tujuan dari pembelajaran adalah memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Kegiatan pembelajaran mengembangkan kemampuan untuk mengetahui, memahami, melakukan sesuatu, hidup dalam kebersamaan dan mengaktualisasikan diri (Majid, 2008: 24). Begitu juga dengan sanggar lukis “Warung Seni” yang juga memiliki tujuan pembelajaran sebagai berikut: (1) Sebagai lembaga pendidikan nonformal yang membantu tercapainya tujuan dari pendidikan seni rupa secara utuh, sehingga kekurangan yang ada dalam pendidikan formal bisa terpenuhi oleh lembaga pendidikan nonformal ini, (2) Untuk memajukan seni lukis di Surakarta. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Bapak Luluk Soemitro melalui sanggar lukis
“Warung Seni” membimbing anak didiknya untuk memahami dunia seni lukis.
Dengan adanya bimbingan tersebut diharapkan dapat melahirkan pelukis-pelukis baru di Surakarta, (3) Untuk memberikan tempat atau wadah bagi seniman, pengamat seni maupun pecinta seni untuk mengadakan komunikasi. Ditempat
commit to user
tersebut para seniman bisa membahas kegiatan yang akan dilakukan maupun sekedar sharing tentang perkembangan dunia seni lukis.
Materi yang diajarkan di sanggar lukis “Warung Seni” meliputi teknik
pembuatan sketsa obyek dan teknik pewarnaan. Untuk materi sketsa obyek dilakukan oleh Bapak Luluk Soemitro dan untuk pewarnaan oleh Bu Uryn, Bu Atik, dan Bu Unik. Obyek yang digambar antara lain aktivitas manusia, hewan, tumbuhan, dan pemandangan alam. Untuk pemandangan alam tidak dibuatkan sketsa sebagai contoh tetapi siswa diajak mengunjungi tempat yang memiliki pemandangan alam yang bagus. Di sana anak diajarkan melukis obyek secara langsung. Pemandangan alam yang dituju biasanya persawahan, pantai, air terjun, dan sungai. Dari materi yang diberikan, anak yang tidak tahu menjadi tahu bagaimana melukis sebuah obyek dengan benar dan anak juga tahu bagaimana menggunakan alat lukis yang benar. Perubahan tingkah laku dari materi yang diajarkan sesuai dengan pendapat Majid (2008: 170) yang menyatakan bahwa sumber belajar atau materi diartikan sebagai segala tempat atau lingkungan sekitar, benda, dan orang yang mengandung informasi, dapat digunakan sebagai wahana bagi peserta didik untuk melakukan proses perubahan tingkah laku. Namun dalam memberikan materi anak selalu diberi contoh. Hal ini berdampak pada kurangnya kemandirian dan kreativitas siswa pada saat membuat karya lukis.
Dalam melaksanakan proses pembelajarannya, sanggar lukis “Warung
Seni” menggunakan beberapa metode pembelajaran. Metode yang digunakan
antara lain ceramah, praktik atau demonstrasi, tanya jawab, pemberian ampunan dan bimbingan, pemberian tugas, dan karya wisata. Penggunaan metode-metode ini tidak semuanya dilakukan dalam satu kali bimbingan, penggunaannya menyesuaikan keadaan siswa dan keinginan pembimbing. Penggunaan metode pembelajaran pada proses pembelajaran ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa, metode pembelajaran adalah cara atau jalan yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran (http://hipni.blogspot.com/2011/09/pengertian-definisi-metode-pembelajaran.html diakses 01/12/2011).
commit to user
Menurut Winataputra (2001) dalam Sugiyanto (2008: 7) model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran. Pada sanggar lukis “Warung Seni” tidak ada kerangka konseptual dalam model pembelajaran yang digunakan. Namun secara tidak langsung peneliti menemukan beberapa model pembelajaran yang digunakan walaupun model pembelajaran tersebut tidak direncanakan sebelumnya. Model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran kontekstual dan model pembelajaran quantum learning. Model pembelajaran kontekstual terlihat dari tema materi yang diajarkan yaitu pada saat pembimbing mengajak siswanya untuk melukis aktivitas manusia yang pernah mereka lihat maupun aktivitas yang mereka alami. Untuk model pembelajaran quantum learning terlihat pada cara mengajar pembimbing sanggar tersebut yaitu yang selalu memotivasi siswanya saat mengajar. Selain itu juga memotivasi siswa melalui lukisan yang dipajang di ruang bimbingan.
Untuk menyampaikan materi pelajaran, Bapak Luluk Soemitro menggunakan media visual yaitu berupa gambar sketsa obyek yang digambar dipapan white board. Dalam membuat media ini Bapak Luluk Soemitro menggunakan spidol boardmarker hitam. Media pembelajaran ini termasuk media visual yang tidak diproyeksikan yaitu media yang sederhana, tidak membutuhkan proyektor dan layar untuk meproyeksikan perangkat lunak (Anitah, 2009: 7).
Lukisan yang telah selesai dibuat selanjutnya dievaluasi. Di sanggar ini dalam mengevaluasi karya siswa hanya sebatas mengukur kemampuan siswa dengan cara pembahasan tanpa menggunakan angka-angka untuk menilai. Obyek yang sering dibahas adalah teknik pewarnaan dan keluwesan anak dalam membuat garis outline. Pewarnaan yang tidak memenuhi seluruh bidang gambar dan garis outline yang terlihat kasar biasanya terlihat pada karya lukis anak usia 3- 6 tahun. Evaluasi ini berbeda dengan pendapat Sudijono (2007: 4-5) yang mengatakan bahwa evaluasi mencakup dua kegiatan, yaitu pengukuran dan penilaian. Mengukur pada hakikatnya adalah membandingkan sesuatu dengan
commit to user
atau atas dasar ukuran tertentu. Menilai adalah mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mendasarkan diri atau berpegang pada ukuran baik atau buruk, pandai atau bodoh, dan sebagainya.
Pelaksanan evaluasi sanggar lukis “Warung Seni dilakukan di sela-sela saat proses pembelajaran berlangsung. Obyek yang di evaluasi antara lain, keluwesan membuat garis, pewarnaan bidang gambar, komposisi, dan kerapian. Karena siswa yang belajar anak-anak, Bapak Luluk Soemitro tidak mempermasalahkan bentuk atau proporsi obyek yang digambar siswa.
commit to user
66 BAB V