• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

C. Komponen Pembelajaran Sanggar Lukis “Warung Seni”

4. Metode yang digunakan

Untuk menyampaikan materi seni lukis, peneliti menemukan bahwa Bapak Luluk Soemitro menggunakan beberapa metode pembelajaran. Metode pembelajaran yang digunakan antara lain:

a. Ceramah

Metode ceramah digunakan pembimbing saat mengawali pelaksanaan pembelajaran, yaitu pada saat pengucapan salam dan membahas tema obyek yang akan digambar pada pertemuan itu. Tema yang akan digambar oleh siswa disampaikan dulu oleh pembimbing. Setelah semua siswa mengerti dan paham yang akan digambar, maka pembimbing

commit to user

langsung melakukan demonstrasi melukis sketsa obyek. Pada saat melakukan demonstrasi, pembimbing juga menjelaskan gambar yang sedang dibuat sehingga siswa mudah memahami saat ikut melukis.

b. Praktik atau Demonstrasi

Metode praktik atau demonstrasi digunakan pembimbing dalam pembuatan sketsa dari tema yang telah ditentukan. Sketsa tersebut nantinya ditiru siswa untuk digambar, jadi obyek dari semua siswa di sanggar itu adalah sama. Untuk membuat sketsa, Bapak Luluk Soemitro menggunakan spidol boardmarker dan sebuah papan white board. Sketsa obyek yang digambarkan pembimbing tidak langsung selesai, tetapi bertahap. Misal untuk membuat obyek manusia, pembimbing melukis kepalanya dulu dan memberikan waktu sekitar 30 detik untuk dicontoh siswa. Setelah semua siswa selesai melukis kepala, pembimbing melanjutkan membuat badan dan memberi waktu sekitar 30 detik untuk dicontoh siswa, dan begitu seterusnya sampai sketsa obyek benar-benar selesai.

c. Tanya Jawab

Siswa yang mengalami kesulitan dalam melukis kebanyakan masih malu untuk bertanya kepada pembimbing. Melihat hal tersebut pembimbing selalu menanyakan kepada siswa bila ada yang mengalami kesulitan saat melukis. Selain untuk menanyakan kesulitan siswa, metode ini juga digunakan untuk sekedar basa basi kepada siswa, misal menanyakan perkembangan siswa atau sekedar menanyakan kabar siswa. Selain itu juga digunakan untuk menanyakan pendapat siswa saat menentukan tema obyek yang akan digambar pada awal bimbingan.

d. Pemberian Ampunan dan Bimbingan

Metode ini dilakukan saat ada anak yang membuat kesalahan atau keributan, maka pembimbing memberikan peringatan dan mengajaknya

commit to user

untuk kembali melakukan aktivitas yang seharusnya. Dalam membimbing, Bapak Luluk Soemitro selalu memperhatikan siswanya saat melukis. Beliau juga membantu bila ada siswa yang merasa kesulitan dalam membuat gambar. Obyek gambar yang biasanya dianggap sulit adalah pada saat melukis proporsi manusia dan hewan. Apabila Bapak Luluk Soemitro sedang sibuk melukis di depan, maka yang membantu siswa dalam melukis adalah Bu Uryn.

e. Pemberian Tugas

Metode ini digunakan pembimbing untuk memberikan tugas melukis kepada siswa saat di rumah. Tugas tersebut diberikan saat akhir pelajaran dan nantinya dikumpulkan pada pertemuan berikutnya. Untuk tema gambar ditentukan Bapak Luluk Soemitro. Tujuan dari pemberian tugas ini adalah melatih siswa menggunakan waktu luangnya dengan hal yang bermanfaat dan juga melatih keterampilan siswa dengan teknik-teknik yang telah diajarkan.

f. Karya Wisata

Metode ini dilakukan Bapak Luluk Soemitro dan siswanya untuk melukis pemandangan di luar lingkungan sanggar. Biasanya karya wisata dilakukan setiap tiga bulan sekali dan mengunjungi tempat-tempat yang memiliki pemandangan yang bagus. Karya wisata juga dapat melatih anak untuk belajar melukis obyek secara langsung karena selain menemukan obyek diam, anak juga akan menemukan obyek bergerak. Selain untuk belajar melukis pemandangan, karya wisata juga dimanfaatkan untuk melepas kejenuhan saat belajar melukis di sanggar. Namun kegiatan karya wisata ini tidak selalu rutin tiga bulan sekali dilakukan karena bila ada siswa yang tidak bisa ikut maka kegiatan ini dibatalkan.

commit to user 5. Model yang digunakan

Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas pembelajaran.

Dalam sanggar lukis “Warung Seni” secara tidak langsung peneliti menemukan model pembelajaran kontekstual yang digunakan dalam pembelajaran melukis. Model pembelajaran kontekstual menurut Nurhadi (2003) dalam Sugiyanto (2008: 18) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa, dan juga mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sendiri-sendiri. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketia ia belajar.

Penerapan model pembelajaran ini pada sanggar lukis “Warung

Seni” terlihat pada saat pembimbing mengajak siswanya untuk melukis

aktivitas manusia yang pernah mereka lihat maupun aktivitas yang mereka alami. Sehingga siswa menjadi terdorong untuk segera melukis karena tema yang akan digambar pernah dilihat atau dialami sendiri oleh siswa. Anak- anak pada dasarnya lebih suka bercerita, secara tidak langsung model pembelajaran ini mendorong siswa untuk bercerita melalui lukisan yang mereka buat.

Selain model pembelajaran kontekstual, peneliti juga menemukan model pembelajaran quantum learning yang digunakan dalam proses pembelajaran. Prinsip model pembelajaran quantum learning adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apa pun memberikan sugesti positif maupun negatif (Surtikanti dan Santoso, 2008: 81). Sugesti bisa datang dari ucapan guru, suasana belajar, dan lingkungan belajar.

commit to user

Penerapan model pembelajaran quantum learning di sanggar ini terlihat pada saat Bapak Luluk Soemitro menyapa setiap siswa yang datang. Hal ini memberikan kesan hangat dari seorang guru kepada siswa sehingga siswa merasa nyaman saat mengikuti bimbingan. Hal lain yang dilakukan Bapak Luluk Soemitro adalah mendongeng saat melukis sketsa obyek di depan siswa. Dengan dongeng siswa akan mudah memahami suasana obyek yang akan digambarnya dan membuat siswa merasa senang dan nyaman. Selain itu Bapak Luluk Soemitro juga memajang lukisan-lukisan di sekeliling tempat belajar. Teknik ini digunakan agar suasana belajar menyenangkan dan secara tidak langsung lukisan tersebut dapat memotivasi siswa untuk semangat melukis.

Dokumen terkait