• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL KEGIATAN

Dalam dokumen I PENDAHULUAN a. Latar Belakang (Halaman 89-93)

CLP CYS LAIN PGF2ἀ

6. HASIL KEGIATAN

6.1 Pelaksanaan Sinkronisasi

Kegiatan sinkronisasi berahi BIB Lembang tahun 2014 ditargetkan sebanyak 4000 dosis dan dilaksanakan di 11 provinsi bekerja sama dengan dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di 28 Kab/Kota. Selain dengan provinsi dan kabupaten sinkronisasi berahi oleh BIB Lembang juga dilaksanakan di BPTU-HPT Indrapuri Aceh dan di Instalasi pembibitan sapi Brangus Amoramor BIBD Banyumulek NTB. Hasil pelaksanaan kegiatan sinkronisasi berahi 2014 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 26. Rekapitulasi Kegiatan Sinkronisasi Berahi BIB Lembang 2014

NO PROVINSI+KABUPATEN

Target Prov.

Target

Kab. Realisasi Sapi

Realisasi IB 1 Realisasi IB 2 Jumlah PKb PKb bunting % (ekor) (ekor) (ekor) diseleksi

(ekor) (ekor) (ekor) (ekor) (ekor) bunting

1 PROV. JAWA BARAT 800

a. Kab.Cianjur 100 100 184 100 3 100 44 44 b. Kab.Subang 100 100 359 100 32 100 66 66 c. Kab.Indramayu 150 150 296 150 21 150 58 38,7 d. Kab.Kuningan 100 100 200 100 22 100 66 66 e. Kab.Pangandaran 125 125 257 125 12 125 96 76,8 f. Kab. Sumedang 125 125 266 125 35 125 83 66,4 g. Kab. Ciamis 100 100 232 100 20 100 46 46

2 PROV. JAWA TENGAH 400

a. Kab.Blora 200 200 235 200 6 196 93 47,4 b. Kab.Rembang 200 200 831 200 30 200 93 46,5 3 PROV. NTB 500 a. Kab.Lombok Timur 250 250 342 250 52 231 180 77,9 b. Kab.Lombok Tengah 250 250 349 250 11 250 156 62,4 4 PROV. KALTENG 300 a. Kab.Kobar 100 100 300 100 0 100 77 77,0 b. Kab.Kapuas 100 100 256 100 45 100 46 46

LAPORAN TAHUNAN BIB LEMBANG TAHUN 2014

c. Kab.Pulangpisau 100 100 120 100 60 100 69 69 5 PROV. KALSEL 500 a. Kab.Tabalong 100 100 312 100 21 100 59 59 b. Kab.Banjar 200 200 589 200 48 200 107 53,5 c. Kab.Tanalaut 200 200 347 200 5 200 97 48,5 6 PROV. KALTIM 450 a. Kab.Paser 250 250 400 250 0 250 121 48,4 b. Kab.Kukar 200 200 350 200 21 200 161 80,5 7 PROV. SULUT 200 a. Kab.Minahasa Utara 100 100 138 100 0 100 95 95,0 b. Kab.Minahasa Selatan 100 100 173 100 78 Data belum masuk

8 PROV. SULTENG 300

a. Kab. Donggala 150 150 169 150 6 145 101 69,7

b. Kab. Sigi 100 100 426 87 15 87 40 46,0

c. Kota Palu 50 50 104 50 0 49 30 61,2

9 PROV. SULTRA 200

a. Kab. Konawe Selatan 200 200 633 200 36 188 132 70,2

10 PROV. GORONTALO 200 a. Kab. Gorontalo 200 200 263 200 22 200 142 71,0 11 PROV. PAPUA 150 a. Kab.Keerom 100 100 184 100 0 100 44 44,0 b. Kota Jayapura 50 50 77 50 0 50 20 40,0 12 BPTU-HMT INDRAPURI 34 34 34 0 34 15 44,12 13 BIBD NTB (Pembibitan

Brangus) 7 10 7 0 Data belum masuk

T O T A L (11 Prov & 28 kab) 4000 4000 4041 8436 4028 601 3880 2337

Persentase (%) 101,03 187,50 99,68 15 96,33 60,23

Berdasarkan data dari Tabel 4, kegiatan sinkronisasi berahi telah dilaksanakan di 11 propinsi dengan hasil sebagai berikut :

a. Kegiatan sinkronisasi berahi BIB Lembang 2014 telah terealisasi sebanyak 4.041ekor atau 102 % dari jumlah akseptor yang telah ditargetkan yaitu sebanyak 4.000 ekor.

b. Jumlah calon akseptor yang diseleksi untuk mendapatkan 4.041 dosis adalah sebanyak 8.436 ekor (termasuk calon akseptor yang bunting, Bali dara, fase folikular, gangguan reproduksi dan baru melahirkan).

c. Jumlah akseptor yang di IB ke-1 setelah dilakukan penyuntikan PGF2 adalah sebanyak 4.028 ekor atau 99,68% dan sebanyak 601 ekor yang di IB ulang (IB ke-2) 15 % dari akseptor yang telah disinkron (4.041 ekor). d. Kegiatan PKb dimulai 3 bulan setelah penyuntikan PGF2 dan total jumlah

akseptor yang telah di PKb sebanyak 3.880 ekor atau sebanyak 96,33 % dari total akseptor yang di IB ( 4.028 ekor) hal tersebut dikarenakan

LAPORAN TAHUNAN BIB LEMBANG TAHUN 2014

adanya beberapa akseptor yang sudah dijual oleh pemilik ternak atau megalami kematian.

e. Jumlah akseptor yang bunting sebanyak 2.337 ekor atau 60,23 % dari total sapi yang di PKb (3.880 ekor).

f. Hingga laporan ini dibuat Kab. Minahasa Selatan dan BIBD Banyumulek NTB (Instalasi pembibitan sapi Brangus) belum menyerahkan data PKb.

6.2 Evaluasi Kegiatan

a. Kegiatan sinkronisasi berahi merupakan program Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui Direktorat Budidaya Ternak yang diarahkan untuk daerah-daerah introduksi IB dengan wilayah pengembangan sapi lokal dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat : 1. Meningkatkan pengetahuan peternak dalam mendeteksi birahi secara

visual.

2. Meningkatkan keterampilan inseminator, PKb dan ATR.

3. Mengoptimalkan penggunaan N2 cair khususnya untuk wilayah dimana ketersediaan N2 cair yang masih terbatas.

4. Pelaksanaan sinkronisasi pada daerah introduksi dapat memotivasi peternak untuk mengaplikasikan teknik IB dalam reproduksi ternaknya. 5. Melestarikan plasma nutfah ternak lokal Indonesian serta

menjadikannya sebagai ternak unggulan dan andalan nasional.

Tahun 2014 merupakan tahun ke-2 BIB Lembang melaksanakan kegiata sinkronisasi berahi sudah tentu sebagai output dari kegiatan tersebut adalah berapa persentase jumlah kebuntingan yang terjadi setelah dilakukan sinkronisasi berahi. Data laporan yang dikumpulkan dari semua kabupaten setelah dilakukan pemeriksaan kebuntingan (PKb) terhadap sapi-sapi hasil sinkronisasi berahi telah terjadi kebuntingan sebesar 60,23 % atau sebanyak 2.337 ekor yang artinya akan ada 2.337 ekor pedet yang akan dilahirkan di tahun 2015 sebagai outcome dari sinkronisasi berahi. Terlepas dari berhasil tidaknya kegiatan tersebut karena berbagai literatur menyebutkan angka keberhasilan yang sangat bervariasi (35-90%) dengan metode sinkronisasi yang berbeda-beda

LAPORAN TAHUNAN BIB LEMBANG TAHUN 2014

pula ada beberapa catatan penting yang dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi selama kegiatan ini berlangsung yang sepertinya masih merupakan permasalahan klasik dan juga yang menyebabkan terdapat variasi keberhasilan antar kabupaten dengan range antara 38-98 % kebuntingan diantaranya :

b. Beberapa daerah masih merupakan wilayah introduksi IB sehingga pengetahuan peternak maupun petugas mengenai ATR masih minim, terbatasnya tenaga Inseminator dimana kegiatan IB setelah kegiatan sinkronisasi berahi terjadi secara serentak dan mengharuskan inseminator melakukan IB dari kandang ke kandang karena sulit untuk mengumpulkan kembali sapinya setelah di sinkronisasi sehingga IB dilaksanakan tidak tepat waktu, terbatasnya sarana prasarana IB seperti kurang lancarnya pasokan N2 cair dimana sebagian besar Kabupaten/Kota mengandalkan pasokan dari dana Dinas Propinsi (APBD I).Sebagai ilustrasi di kab. Sigi (Prov. Sulteng) hanya sebanyak 87 ekor akseptor saja yang berhasil ter IB dari 100 akseptor yang telah disinkron.

c. Sistem pencatatan yang masih minim di kalangan peternak dimana daerah dengan sistem pemeliharaan yang masih ekstensif dan semi intensif memperbesar kemungkinan terjadinya kawin alam dan berahi yang tidak terlaporkan oleh peternak karena beternak masih merupakan usaha sampingan.

d. Kesulitan dalam handling/restrain ternak terutama di wilayah introduksi dimana sistem pemelihraan yang masih dilepas tanpa adanya tali brongsong/pengikat sapi.

Pelaksanaan IB pada akseptor setelah dilakukan sinkronisasi dilaksanakan dengan SOP standar yang dikombinasikan dengan metode TAI (Timed

artificial insemination) atau IB terjadwal dengan batasan IB sebanyak 2 (dua)

kali dimana hingga IB ke-2 pasca sinkronisasi masih dimasukan ke dalam akseptor, jika akseptor sinkronisasi mengalami IB lebih dari 2 kali maka akseptor tersebut dikatagorikan mengalamai gangguan reproduksi (repat

LAPORAN TAHUNAN BIB LEMBANG TAHUN 2014

Sebagai evaluasi penggunaan metode selective single dosispada tabel 4, dapat dilihatdengan target 4.000 dosis akan disinkron pada 4.041 ekor (tiap ekor hanya mendapat suntikan hormon sebanyak 1 kali) dan ter-IB sebanyak 4.028 ekor (99,68 %), dengan keberhasilan kebuntingan sebesar 60,23 % dari 4.028 ekor yang di IB, maka jumlah sapi yang bunting akan sebanyak 2.337 ekor, jika dibandingkan dengan sinkronisasi menggunakan metode double

dosis untuk 4.000 dosis akan disinkron dan di IB sebanyak 2000 ekor saja

(50%) karena tiap ekor mendapatkan suntikan hormon sebanyak 2 dosis (double dosis) walaupun dengan keberhasilan kebuntingan sebesar 70 % jika dihitung dari 2.000 ekor (sapi yang ter-IB) maka jumlah sapi yang bunting hanya sebanyak 1.400 ekor. Hal tersebut menunjukan bahwa metode

selective single dosis walaupun nilai presentase kebuntingannya relative lebih

kecil namun secara kuantitas jumlah sapi bunting yang dihasilkan akan lebih banyak, sehinga BIB Lembang untuk tahun 2015 masih akan menggunakan metode selective single dosis.

Secara umum kegiatan sinkronisasi berahi di BIB Lembang tahun 2014 telah selesai dilaksanakan,akseptor yang bunting diharapkan akan lahir seluruhnya di tahun 2015 sehingga maksimalisasi produktifitas ternak menuju kemandirian pangan dapat tercapai.

Dalam dokumen I PENDAHULUAN a. Latar Belakang (Halaman 89-93)

Dokumen terkait