PRODUKSI SEMEN BEKU BIB LEMBANG 1976 - 2014
PERSYARATAN PESERTA BIMTEK: a. Inseminator
L. OPTIMALISASI KELAHIRAN MELALUI SINKRONISASI BERAHI
Peningkatan mutu genetik sapi potong dan perah di Indonesia sudah lama diupayakan oleh pihak pemerintah dengan introduksi teknologi reproduksi Inseminasi Buatan (IB) secara komersial sejak 1976. Kendala dalam pelaksanaan aplikasi IB pada sapi perah dan potong milik rakyat di Indonesia yang paling umum terjadi adalah sulitnya pengenalan berahi (estrus). Berahi sapi sering sulit dikenali karena banyaknya kasus anestrus, berahi tenang (silent heat, subestrus) sehingga menimbulkan masalah pengenalan atau deteksi berahi yang tidak tepat, akibatnya terjadi ketidaktepatan waktu IB dan akhirnya terjadi kegagalan fertilisasi.
Tulang punggung penyediaan daging sapi di Indonesia adalah peternak berskala kecil, karena hanya sedikit peternak berskala menengah atau besar, peternak rakyat berskala kecil biasanya merupakan usaha sambilan sehingga kurang mendapat perhatian khususnya kesehatan reproduksinya, apakah ternaknya sudah cukup sehat sehingga dapat beranak setiap tahun atau mengalami gangguan reproduksi yang berdampak pada panjangnya days
open (hari-hari kosong) tingginya services per conception (S/C), panjangnya calving Interval (CI), rendahnya angka kelahiran dan meningkatnya angka
kemajiran. Guna menanggulangi hal tersebut dan juga dalam rangka optimalisasi kelahiran, BIB Lembang pada tahun 2014 ini melaksanakan kegiatan Sinkronisasi Berahi sebanyak 4.000 ekor, diharapkan pelaksanaan kegiatan akan berkontribusi secara langsung maupun tidak langsung dalam pencapaian Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) 2014, dengan semakin banyak sapi yang diinseminasi dan menjadi bunting.
LAPORAN TAHUNAN BIB LEMBANG TAHUN 2014
1. Maksud dan Tujuan 1.1 Maksud
Maksud dari kegiatan sinkronisasi berahi ini adalah optimalisasi dan efisiensi pelaksanaan IBserta percepatan kelahiran.
1.2 Tujuan
a. Optimalisasi dan efisiensi pelaksanaan IB.
Dengan teknik ini pelaksanaan IB dapat dilakukan secara serentak. Kombinasi sinkronisasi berahi dan IB bertujuan untuk meningkatkan mutu genetis, efisiensi pelaksanaan IB dan kelahiran pedet yang relative sama waktunya.
b. Mengatasi masalah kesulitan pengenalan berahi
Subestrus atau berahi tenang yang umumnya terjadi pada sapi potong dapat diatasi dengan teknik ini.
c. Mengatasi anestrus partum (pasca beranak) early
post-partum breeding sehingga memperpendek days open dan jarak
beranak/calving interval.
d. Cocok untuk kondisi geografis Indonesia (kepulauan dan beragam otonomi daerah).
2. PELAKSANAAN KEGIATAN
BIB Lembang sepanjang tahun 2014 melaksanakan kegiatan sinkronisasi berahi dengan target sebanyak 4000 ekor yang dilaksanakan di 11 provinsi dengan total 28 Kab/Kota. Pelaksanaan kegiatan dilakukan bekerja sama dengan Dinas Provinsi/Kab/Kota yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan di antaranya adalah :
1. Jawa Barat (Cianjur, Subang, Indramayu, Kuningan,Pangandaran, Sumedang dan Ciamis).
2. Jawa Tengah(Blora dan Rembang).
3. NTB (Lombok Timur dan Lombok Tengah).
LAPORAN TAHUNAN BIB LEMBANG TAHUN 2014
5. Kalimantan Selatan(Tabalong, Banjar dan Tanah Laut). 6. Kalimantan Timur (Paser dan Kutai Kartanegara).
7. Sulawesi Utara (Minahasa Utara dan Minahasa Selatan). 8. Sulawesi Tengah (Donggala, Sigi dan Palu).
9. Sulawesi Tenggara (Konawe Selatan). 10. Gorontalo (Gorontalo).
11. Papua (Keerom dan Kota Jayapura).
Selain provinsi dan kabupaten di atas sinkronisasi berahi oleh BIB Lembang juga dilaksanakan di BPTU-HPT Indrapuri Aceh dan di Instalasi pembibitan sapi Brangus Amoramor BIBD Banyumulek NTB.
a. Tahapan Persiapan
1.Rapat persiapan dilaksanakan oleh BIB Lembang dan di masing-masing provinsi lokasi kegiatan.
2. Koordinasi dan sosialisasi kegiatan antara BIB Lembang dengan Dinas Povinsi/Kab/Kota yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan dilakukan secara bersamaan di masing masing Provinsi.
3. Penyediaan bahan operasional kegiatan dilaksanakan melalui proses lelang terbuka oleh BIB Lembang dengan rincian obat-obatan, alat dan bahansebagai berikut :
Tabel 23. Alat, obat dan bahan kegiatan sinkronisasi berahi BIB Lembang 2014
No Uraian Jumlah
A. Obat-obatan & hormon
1 Prostaglandin @ 10 ml 5 mg/ml 1.860 vial 2 Prostaglandin @ 2 ml 5 mg/2 ml 200 vial
3 hCG @ 5 ml 1500 IU/5ml 60 vial
4 Vitamin A D E 200 vial
5 Vitamin B-Complex 250 vial
6 Obat cacing bolus 2500 mg 500 bolus
7 Povidone Iodine 1-2 % 100 Vial
LAPORAN TAHUNAN BIB LEMBANG TAHUN 2014
B. Alat-alat & bahan
1 Dispossible syringe 5 cc 5 box
2 Plastic steel syringe (mika) 10 cc 80 bh
3 Dispossible syringe 20 cc 5 box
4 Dispossible needle 18G X 1 " 80 box 5 Stainless steel needle 18G X 3/4" 40 pak
6 Plastic sheath IB 125 pak
7 Plastic Glove IB 50 box
8 Artificial Insemination Gun 25 bh
9 Thermos Straw 25 bh
10 Gunting Straw 25 bh
11 Tas IB 25 bh
12 Hand Glove latex 25 box
13 Alkohol 70% 25 botol
14 Kotak plastik 40 bh
15 Kapas 20 kg
16 Tissue gulung 40 roll
17 Pakaian lapangan/wearpack 110 Stel
18 Kaos 110 bh
19 Topi 110 bh
20 Blanko :form 1 (seleksi) 3.000 lembar form 2 (penyuntikan hormon) 1.000 lembar
form 3 (IB) 1.000 lembar
form 4 (PKb) 1.000 lembar
21 Spanduk 2.5 X 1 Meter 50 bh
22 Spidol permanen besar 50 bh
23 Hand soap cair 50 botol
24 Semen Beku breed Bali 0.25 ml 3000 dosis 25 Pengikat kabel warna (plastik nylon) 5500 bh
26 Cool box sterofoam 50 bh
27 Kardus box 30 bh
28 Papan dada 75 bh
29 Sani shield protector untuk IB 50 roll
b.Alokasi pelaksaan kegiatan sinkronisasi berahi BIB Lembang ditargetkan sebanyak 4000 dosis dan dilaksanakan di 11 propinsi dengan rincian sebagai berikut :
Tabel 24. Alokasi dosis per propinsi kegiatan sinkronisasi berahi BIB Lembang 2014
No Propinsi Alokasi (Dosis)
1. Jawa Barat 800
2. Jawa Tengah 400
3. Nusa Tenggara Barat 500
4. Kalimantan Tengah 300 5. Kalimantan Selatan 500 6. Kalimantan Timur 450 7. Sulawesi Utara 200 8. Sulawesi Tengah 300 9. Sulawesi Tenggara 200
LAPORAN TAHUNAN BIB LEMBANG TAHUN 2014
10. Gorontalo 200
11. Papua 150
TOTAL 4000
Jadwal palang pelaksanaan kegiatan sinkronisasi berahi BIB Lembang tahun 2014 terlampir.
2. Metoda sinkronisasi berahi (metode selective single dosis)
2.1 Seleksi Betina Calon Resipien (Akseptor) Sinkronisasi Berahi
a. Sasaran sapi dewasa (dara atau induk).
b. Memiliki catatan waktu IB atau recording yang jelas. c. Tidak dalam keadaan bunting (bunting abortus). d. Kesehatan kelompok (herd health) baik.
e. Skor Kondisi Tubuh (SKT, BCS = Body condition score) optimum, antara 3,0 – 3,5 maksimum 3 sd 2 tulang rusuk saja dari belakang yang terlihat skala SKT 1 - 5 (SKT 1 = sangat kurus, 2 = kurus, 3 = optimum, 4 = gemuk, dan 5 = sangat gemuk).
f. Mempunyai kesehatan alat reproduksi yang baik (tidak ada leleran abnormal dari vulva) dan bersiklus normal.
g. Mempunyai korpus luteum (CL) fungsional (hari ke 7 - 17 dari siklus estrus) pada salah satu ovariumnya.
LAPORAN TAHUNAN BIB LEMBANG TAHUN 2014
3. Pelaksanaan Sinkronisasi berahi
Sinkronisasi menggunakan preparat hormon Prostaglandin (PGF2). Penyuntikan PGF2 diinjeksikan secara intramuskuler (i.m)/tembus daging pada sapi, setelah dilakukan pemeriksaan palpasi rektal untuk memastikan kondisi ternak tidak dalam keadaan bunting serta adanya korpus luteum fungsional. Akseptor yang memenuhi persyaratan akan mengikuti protokol sinkronisasi sbb :
Gambar 1. Bagan pelaksanaan sinkronisasi berahi metode selective singl
a. Akseptor dengan kondisi fase luteal(CL hari ke 7-17) akan langsung dilakukan penyuntikan hormon PGF2 (metode selektif single dosis).
PGF2 72 jam dari PGF2 hari ke 0 1 2 3 4 5 6 90 Palpasi rektal IB PKB ada CL POPULASI BETINA PRODUKTIF