• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data

5. Hasil Kemampuan Penalaran dan Kemampuan Pemecahan

Berbasis Masalah (A1)

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil post-test kemampuan penalaran dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa di kelas X MIA-1 yang terdiri dari 60 siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran berbasis masalah secara keseluruhan memiliki skor tertinggi atau nilai maksimum = 88 dan skor yang terendah atau nilai minimum = 65. Nilai rata-rata yang diperoleh (Mean) = 78,150, variansi = 31,056, standart deviasi (SD) = 5,572, dan rentang nilai (Range) = 23. Data tersebut dapat dilihat pada lampiran 21. Distribusi frekuensi data kemampuan penalaran dan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah dapat dilihat pada tabel 4.6.

Tabel 4.6

Distribusi Frekuensi Data Kemampuan Penalaran dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa yang Diajar Menggunakan Model

Pembelajaran Berbasis Masalah (A1)

Kelas Interval Kelas F Fr

1 65 – 69 6 10% 2 69 – 73 3 5% 3 73 – 77 15 25% 4 77 – 81 21 35% 5 81 – 85 10 17% 6 85 – 89 5 8% Jumlah 60 100%

Dari Tabel 4.6 dapat dilihat bahwa data post-test kemampuan penalaran dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah di kelas eksperimen I diperoleh nilai tertinggi sebesar 88 dan nilai terendah sebesar 65. Dapat diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai antara 65 sampai 69 berjumlah 6 orang atau 10%, siswa yang memperoleh nilai antara 69 sampai 73 berjumlah 3 orang atau 5%, siswa yang memperoleh nilai antara 73 sampai 77 berjumlah 15 orang atau 25%, siswa yang memperoleh nilai antara 77 sampai 81 berjumlah 21 orang atau 35%, siswa yang memperoleh nilai 81 sampai 85 berjumlah 10 orang atau 17%, dan siswa yang memperoleh nilai antara 85 sampai 89 berjumlah 5 orang atau 8%. Distribusi frekuensi nilai kemampuan penalaran dan kemampuan pemecahan masalah

0 5 10 15 20 25 65 – 6 9 – 7 3 – 7 7 – 8 1 – 8 5 – 89

matematika siswa yang diajar dengan menggunakan model model pembeljaran berbasis masalah dapat dilihat dalam bentuk histogram pada gambar 4.5.

Gambar 4.5

Histogram Kemampuan Penalaran dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis

Masalah (A1)

6. Hasil Kemampuan Penalaran dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Inkuiri (A2)

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil kemampuan penalaran dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa di kelas X MIA-2 yang terdiri dari 60 siswa yang diajar menggunakan model Inkuiri secara keseluruhan memiliki skor tertinggi atau nilai maksimum = 88 dan skor yang terendah atau nilai minimum = 60. Nilai rata-rata yang diperoleh (Mean) = 75,050 variansi = 52,139, standart deviasi (SD) = 7,220, dan rentang nilai (Range) = 28. Data tersebut dapat dilihat pada lampiran 22. Distribusi frekuensi data kemampuan

penalaran dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri dapat dilihat pada tabel 4.7.

Tabel 4.7

Distribusi Frekuensi Data Kemampuan Penalaran dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa yang Diajar Menggunakan Model

Pembelajaran Inkuiri (A2)

Kelas Interval Kelas F Fr

1 60 – 64 4 6% 2 64 – 68 8 13% 3 68 – 72 10 17% 4 72 – 76 10 17% 5 76 – 80 17 28% 6 80 – 84 1 2% 7 84 – 88 10 17% Jumlah 60 100%

Dari Tabel 4.7 dapat dilihat bahwa data post-test kemampuan penalaran dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri di kelas eksperimen II diperoleh nilai tertinggi sebesar 88 dan nilai terendah sebesar 60. Dapat diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai antara 60 sampai 64 berjumlah 4 orang atau 6% , siswa yang memperoleh nilai antara 64 sampai 68 berjumlah 8 orang atau 13%, siswa yang memperoleh nilai antara 68 sampai 72 berjumlah 10 orang atau 17%, siswa yang memperoleh nilai antara 72 sampai 76 berjumlah 10 orang atau 17%, siswa yang memperoleh nilai antara 76 sampai 80 berjumlah 17 orang atau 28%, siswa yang memperoleh

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 60 – 6 8 – 7 8 – 7 2 – 7 6 – 8 0 – 8 4 – 88

nilai antara 80 sampai 84 berjumlah 1 orang atau 2%, dan siswa yang memperoleh nilai antara 84 sampai 88 berjumlah 10 orang atau 17%. Distribusi frekuensi nilai kemampuan penalaran dan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan menggunakan model inkuiri dapat dilihat dalam bentuk histogram pada gambar 4.6.

Gambar 4.6

Histogram Kemampuan Penalaran dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa yang Diajar Menggunakan Model

Pembelajaran Inkuiri (A2)

7. Hasil Kemampuan Penalaran Matematika Siswa yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Inkuiri (B1)

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil kemampuan penalaran matematika siswa di kelas X MIA-1 dan X MIA-2 yang terdiri dari 60 siswa yang diajar menggunakan dengan model pembelajaran berbasis masalah dan inkuiri secara keseluruhan memiliki skor tertinggi atau nilai maksimum = 88 dan skor yang terendah atau nilai minimum = 63. Nilai rata-rata yang diperoleh (Mean) =

76,750 variansi = 41,228, standart deviasi (SD) = 6,380, dan rentang nilai (Range) = 25. Distribusi frekuensi data kemampuan penalaran matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah dan inkuiri dapat dilihat pada tabel 4.8.

Tabel 4.8

Distribusi Frekuensi Data Kemampuan Penalaran yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Inkuiri (B1)

Kelas Interval Kelas F Fr

1 63 – 67 7 12% 2 67 – 71 5 8% 3 71 – 75 12 20% 4 75 – 79 17 28% 5 79 – 83 7 12% 6 83 – 87 11 18% 7 87 – 91 1 2% Jumlah 60 100%

Dari Tabel 4.8 dapat dilihat bahwa data post-test kemampuan penalaran matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah dan inkuiri di kelas eksperimen I dan II diperoleh nilai tertinggi sebesar 88 dan nilai terendah sebesar 63. Dapat diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai antara 63 sampai 67 berjumlah 7 orang atau 12% , siswa yang memperoleh nilai antara 67 sampai 71 berjumlah 5 orang atau 8%, siswa yang memperoleh nilai antara 71 sampai 75 berjumlah 12 orang atau 20%, siswa yang memperoleh nilai antara 75

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 63 – 7 7 – 7 1 – 7 5 – 7 9 – 8 3 – 8 7 – 91

sampai 79 berjumlah 12 orang atau 28%, siswa yang memperoleh nilai antara 79 sampai 83 berjumlah 7 orang atau 12%, siswa yang memperoleh nilai antara 83 sampai 87 berjumlah 11 orang atau 18%, dan siswa yang memperoleh nilai antara 87 sampai 91 berjumlah 1 orang atau 2%. Distribusi frekuensi nilai kemampuan penalaran matematika siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan inkuiri dapat dilihat dalam bentuk histogram pada gambar 4.7.

Gambar 4.7

Histogram Kemampuan Penalaran Matematika Siswa yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Inkuiri

(B1)

8. Hasil Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Inkuiri (B2)

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil kemampuan pemecahan masalah matematika siswa di kelas X MIA-1 dan X MIA-2 yang terdiri dari 60 siswa yang diajar menggunakan dengan model pembelajaran berbasis masalah

0 5 10 15 20 25 60-64 65-69 70-74 75-79 80-84 85-89

dan inkuiri secara keseluruhan memiliki skor tertinggi atau nilai maksimum = 88 dan skor yang terendah atau nilai minimum = 60. Nilai rata-rata yang diperoleh (Mean) = 76,450 variansi = 41,966, standart deviasi (SD) = 6,411, dan rentang nilai (Range) = 28. Distribusi frekuensi data kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah dan inkuiri dapat dilihat pada tabel 4.9.

Tabel 4.9

Distribusi Frekuensi Data Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah

dan Inkuiri (B2)

Kelas Interval Kelas F Fr

1 60 – 64 3 5% 2 64 – 68 6 10% 3 68 – 72 7 12% 4 72 – 76 7 12% 5 76 – 80 22 36% 6 80 – 84 6 10% 7 84 – 88 9 15% Jumlah 60 100%

Dari Tabel 4.9 dapat dilihat bahwa data post-test kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah dan inkuiri di kelas eksperimen I dan II diperoleh nilai tertinggi sebesar 88 dan nilai terendah sebesar 60. Dapat diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai antara 60 sampai 64 berjumlah 3 orang atau 5% , siswa yang memperoleh

0 5 10 15 20 25 60 – 6 4 – 6 8 – 7 2 – 7 6 – 8 0 – 8 4 – 88

nilai antara 64 sampai 68 berjumlah 6 orang atau 10%, siswa yang memperoleh nilai antara 68 sampai 72 berjumlah 7 orang atau 12%, siswa yang memperoleh nilai antara 72 sampai 76 berjumlah 7 orang atau 12%, siswa yang memperoleh nilai antara 76 sampai 80 berjumlah 22 orang atau 36%, dan siswa yang memperoleh nilai antara 80 sampai 84 berjumlah 6 orang atau 10%, dan siswa yang memperoleh nilai antara 84 sampai 88 berjumlah 9 orang atau 15%. Distribusi frekuensi nilai kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan inkuiri dapat dilihat dalam bentuk histogram pada gambar 4.8.

Gambar 4.8

Histogram Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Inkuiri (B2)