• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: HASIL PENELITIAN

B. Uji Persyaratan Analisis

3. Pengujian Hipotesis

Analisis yang digunakan untuk menguji keempat hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah analisis varians dua jalur. Analisis hipotesis skor tes pada kemampuan penalaran matematika menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan inkuiri dapat dilihat pada lampiran 26, dan analisis hipotesis skor tes pada kemampuan pemecahan masalah matematika menggunakan model pembelajaran berbasis masalah dan inkuiri dapat dilihat pada lampiran 27. Hasil analisis data berdasarkan ANAVA 2 x 2 secara ringkas disajikan pada tabel berikut:

Tabel 4.12

Rangkuman Hasil Analisis Varian

Sumber Varians dk JK RJK FHitung

FTabel α 0,05 α 0,01 Antar Kolom (A) 1 288,300 288,300 6,931

3,923 6,859 Antar Baris (B) 1 2,700 2,700 0,065 Antar Kelompok 3 427,533 142,511 3,426 2,683 3,955 Dalam Kelompok 116 4825,267 41,597 Total di reduksi 119 5252,800 Keterangan : dk = derajat kebebasan

RJK = Rerata Jumlah Kuadrat

Setelah diketahui uji perbedaan melalui analisis varians (ANAVA) 2 x 2 digunakan uji ANAVA yang dilakukan pada kelompok: (1) Main Effect A yaitu A1 dan A2 serta Main Effect B yaitu B1 dan B2 dan (2) Simple Effect A yaitu A1 dan A2 untuk B1 serta A1 dan A2 untuk B2, Simple Effect B yaitu B1 dan B2 untuk A1 serta B1 dan B2 untuk A2. Maka masing – masing hipotesis dan pembahasan dapat dijabarkan sebagai berikut:

1) Hasil Kemampuan Penalaran Matematika Siswa yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah

Hipotesis Statistik

Ho : μA1B1 < μA2B1

Ha : μA1B1 μA2B1

Ho diterima jika: μA1B1 < μA2B1 dan Ho ditolak jika: μA1B1 μA2B1

Berdasarkan hasil analisis sebelumnya, diperoleh nilai rata-rata μA1B1 = 77,233 dan nilai rata-rata μA2B1 = 76,267. Selanjutnya dengan membandingkan nilai rata-rata μA1B1 dan μA2B1 untuk menentukan kriteria penerimaan dan penolakan Ho, diketahui bahwa nilai rata-rata μA1B1 μA2B1. Berdasarkan ketentuan sebelumnya maka menerima Ha dan menolak Ho.

Berdasarkan hasil pembuktian hipotesis pertama ini memberikan temuan bahwa kemampuan penalaran matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi dari pada model pembelajaran inkuri pada materi trigonometri di kelas X. Dimana nilai rata-rata kemampuan penalaran

matematika siswa yang diajar dengan mode pembelajaran berbasis masalah = 77,233 dan model pembelajaran inkuiri = 76,267.

2) Hasil Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Hipotesis Statistik

Ho : μA1B2 < μA2B2

Ha : μA1B2 μA2B2

Ho diterima jika: μA1B2 < μA2B2 dan dan Ho ditolak jika: μA1B2 μA2B2

Berdasarkan hasil analisis sebelumnya, diperoleh nilai rata-rata μA1B2 = 79,067 dan nilai rata-rata μA2B2 = 73,833. Selanjutnya dengan membandingkan nilai rata-rata μA1B2 dan μA2B2 untuk menentukan kriteria penerimaan dan penolakan Ho, diketahui bahwa nilai rata-rata μA1B2 μA2B2. Berdasarkan ketentuan sebelumnya maka menerima Ha dan menolak Ho.

Berdasarkan hasil pembuktian hipotesis kedua ini memberikan temuan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah lebih lebih tinggi dari pada model pembelajaran inkuri pada materi trigonometri di kelas X. Dimana nilai rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah = 79,067 dan model pembelajaran inkuiri = 73,833.

3) Hasil Kemampuan Penalaran Matematika Siswa Yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Inkuiri

Hipotesis Statistik

Ho : μA2B1 < μA1B1 Ha : μA2B1 μA1B1

Ho diterima jika: μA2B1 < μA1B1 dan dan Ho ditolak jika: μA2B1 μA1B1

Berdasarkan hasil analisis sebelumnya, diperoleh nilai rata-rata μA2B1 = 76,267 dan nilai rata-rata μA1B1 = 77,233. Selanjutnya dengan membandingkan nilai rata-rata μA2B1 dan μA1B1 untuk menentukan kriteria penerimaan dan penolakan Ho, diketahui bahwa nilai rata-rata μA2B1 μA1B1. Berdasarkan ketentuan sebelumnya maka menerima Ho dan menolak Ha.

Berdasarkan hasil pembuktian hipotesis ketiga ini memberikan temuan bahwa kemampuan penalaran matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuiri lebih rendah dari pada model pembelajaran berbasis masalah pada materi trigonometri di kelas X. Dimana nilai rata-rata kemampuan penalaran matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah = 77,233 dan model pembelajaran inkuiri = 76,267.

4) Hasil Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Inkuiri

Hipotesis Statistik

Ho : μA2B2 < μA1B2

Ha : μA2B2 μA1B2

Berdasarkan hasil analisis sebelumnya, diperoleh nilai rata-rata μA2B2 = 73,833 dan nilai rata-rata μA1B2 = 79,067. Selanjutnya dengan membandingkan nilai rata-rata μA2B2 dan μA1B2 untuk menentukan kriteria penerimaan dan penolakan Ho, diketahui bahwa nilai rata-rata μA2B2 μA1B2. Berdasarkan ketentuan sebelumnya maka menerima Ho dan menolak Ha.

Berdasarkan hasil pembuktian hipotesis keempat ini memberikan temuan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran inkuri lebih rendah dari pada model pembelajaran berbasis masalah pada materi trigonometri di kelas X. Dimana nilai rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah = 79,067 dan model pembelajaran inkuiri = 73,833.

5) Perbedaan Kemampuan Penalaran Matematika Siswa Yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Dan Model Pembelajaran Inkuiri

Hipotesis Statistik Ho : μA1B1 = μA2B1

Ha : μA1B1 μA2B1

Ho diterima jika: Fhitung < Ftabel dan Ho ditolak jika: Fhitung > Ftabel

Berdasarkan hasil analisis uji F yang terdapat pada rangkuman hasil ANAVA sebelumnya, diperoleh nilai Fhitung = 6,931 dan diketahui nilai pada Ftabel pada taraf (α = 0,05) = 3,923. Selanjutnya dengan membandingkan Fhitung dengan Ftabel untuk menentukan kriteria penerimaan dan penolakan Ho, diketahui bahwa

nilai koefisien Fhitung > Ftabel berdasarkan ketentuan sebelumnya maka menerima Ha dan menolak Ho.

Berdasarkan hasil pembuktian hipotesis kelima ini memberikan temuan bahwa: Terdapat perbedaan kemampuan penalaran matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah dan model pembelajaran inkuiri pada materi trigonometri di kelas X. Dimana nilai rata – rata hasil kemampuan penalaran matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah = 77,233 sedangkan model pembelajaran inkuiri = 76,267.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa: kemampuan penalaran matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah lebih baik dari pada mode pembelajaran inkuiri pada materi trigonometri di kelas X.

6) Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Yang Diajar Menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Dan Model Pembelajaran Inkuiri

Hipotesis Statistik Ho : μA1B2 = μA2B2 Ha : μA1B2 μA2B2

Ho diterima jika: Fhitung < Ftabel dan Ho ditolak jika: Fhitung > Ftabel

Berdasarkan hasil analisis uji F yang terdapat pada rangkuman hasil ANAVA sebelumnya, diperoleh nilai Fhitung = 0,065 dan diketahui nilai pada Ftabel pada taraf (α = 0,05) = 3,923. Selanjutnya dengan membandingkan Fhitung dengan Ftabel untuk menentukan kriteria penerimaan dan penolakan Ho, diketahui bahwa

nilai koefisien Fhitung < Ftabel berdasarkan ketentuan sebelumnya maka menerima Ho dan menolak Ha.

Berdasarkan hasil pembuktian hipotesis keenam ini memberikan temuan bahwa: Tidak Terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah dan model pembelajaran inkuiri pada materi trigonometri di kelas X. Dimana nilai rata – rata hasil kemampuan penalaran matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah = 79,067 sedangkan model pembelajaran inkuiri = 73,833.