BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.13. Hasil Klasifikasi Tutupan Lahan
Tutupan lahan adalah istilah yang digunakan ahli geografi untuk menggambarkan kelas vegetasi (alami) dan konsentrasi buatan (artificial) yang menutupi permukaan lahan. Melalui citra satelit tutupan lahan secara umum dapat dilihat melalui kenampakan rona/warna hanya tiga yaitu vegetasi, tanah dan air. Interpretasi tutupan lahan diperoleh dari klasifikasi multispektral, dimana dalam penelitian ini klasifikasi multispektral dilakukan dengan sistim klasifikasi sub-piksel dengan menggunakan metode Linear Spectral Unmixing (LSMA).
Berdasarkan hasil interpretasi dan klasifikasi multispektral dengan menggunakan metode analisis sub-piksel dari citra Terra-MODIS komposit RGB143, hanya diperoleh 3 tutupan lahan meliputi Air, Tanah dan Vegetasi. Terbatasnya hasil klasifikasi tutupan lahan pada citra Terra-MODIS resolusi spasial 500 x 500 meter disebabkan julat nilai spektral yang digunakan hanya sebatas pada saluran 1(620 – 670 nm), saluran 2 (841 – 876 nm), saluran 3 (459 – 479 nm) dan saluran 4 (545 – 565 nm) yang dianggap mewakili endmember air, tanah, kedap air dan vegetasi. Selain itu beberapa pendekatan interpretasi dengan melihat hubungan ekologis dengan bentuk lahan serta dikontrol dengan cek lapangan dan peta tutupan lahan terkini juga diterapkan untuk meningkatkan interpretasi dari citra yang digunakan dalam penelitian ini.
Hasil yang diperoleh pada proses pasca klasifikasi dengan menggunakan Rule Classifier dengan input hasil analisis Linear Spektral Campuran (LSMA) merupakan gambaran luasan setiap fraksi endmember tutupan lahan dalam tiap piksel di Sub DAS Riam Kanan dan sekitarnya seperti dapat dilihat pada Tabel 4.12., Tabel 4.13 dan Tabel 4.14, serta divisualisasikan pada Gambar 4.17, Gambar 4.18 dan Gambar 4.19.
Tabel 4.12. Lokasi Sampling berdasarkan Global Positioning System (GPS)
Koordinat UTM
Lokasi Satuan Lahan
X Y 1 D1 II HKR 2 271136 9589809 2 D1 III HKR 2 275781 9592021 3 S5 II PMK 2 273421 9594454 4 D1 III PMK 2 284406 9594454 5 D1 III PMK 2 281384 9597034 6 S3 III TB 2 287282 9597845 7 D1 IV SB 2 293622 9599098 8 D1 III HKR 2 278730 9600425 9 D1 III HKR 2 297996 9601672 10 S4 I HKR/HCAM 17 284869 9602310 11 D1 IV LT 2 291815 9602732 12 F3 II HKR 1 287240 9603902 13 S4 I SB 19 280862 9604506 14 S5 II HKR 18 278287 9605218 15 S4 II HKR 17 292811 9605586 16 S4 III HKT 1 285480 9606648 17 D1 II SB 2 303234 9607294 18 S5 II PMK 17 290318 9607722 19 S4 IV LT 17 297615 9607757 20 S4 IV HKT 2 307664 9608606 21 F3 III HKT 1 285439 9609641 22 S4 IV AL 5 301880 9609715 23 S4 II PMK 10 293468 9610368 24 S5 III Danau 15 279741 9610803 25 S5 III HKR 15 282436 9611064 26 S4 II AL 10 296392 9613216 27 S1 III HKT 5 307460 9612272 28 S4 II AL 14 292171 9610901 29 S4 III HKS 7 300122 9614235 29 S1 II HCAM 5 311056 9614543 30 S5 III LD 16 285247 285247 31 D1 III TB 2 316924 9615301 32 S4 II HKS 5 307460 9615490 33 S5 II AL 13 289544 9615902 34 S5 I D 14 293208 9611706 35 S4 I HKS 9 298193 9616571 36 D1 I HKR 2 321845 9617572 37 S1 III HKS 3 304269 9618273 38 S5 I AL 12 290184 9617144 39 S5 III HKR 15 291053 9619412 40 S5 II SB 13 295214 9619838 41 S1 II HKS 3 312571 9620790 42 S4 II HKT 7 304976 9621142 43 S5 IV SB 33 291095 9621555 44 S4 II HKS 7 301151 9622151 45 S3 II HKS 3 315077 9623575 46 S3 IV HKT 2 320331 9624008 47 S4 III HKR 7 306229 9624976 48 S5 III PMK 13 297309 9625492 49 S5 II HKS 12 297551 9621697 50 D1 II HKR 2 271136 9589809
Tabel 4.13. Interpretasi dan Identifikasi Tutupan Lahan berdasarkan Warna, Tekstur, rata-rata nilai spektral/reflektansi Hasil Analisis hasil cek lapangan dengan Citra RGB 143
Karakteristik Warna dan Tekstur Teridentifikasi Kenampakan/ Reflektansi/ Spektral Rata-rata nilai band 1 : 4 : 3
Warna Citra
Biru berlokasi umumnya ditemukan di dataran alluvial atau sepanjang dataran memiliki tekstur yang halus sampai sedang
Air 76 : 0 : 255
coklat cerah, cakupan luas, umumnya
membentuk batas yang tidak teratur Tanah/Lahan Kering 154 : 108 : 197 Merah muda dengan tekstur sedang
tidak memiliki batas secara alami, umumnya terdapat dekat sungai, jalan, daerah pemukiman dan terdapat pantulan cerah
Permukaan Kedap Air 227 : 106 : 197
Hijau, dengan tekstur halus, umumnya
ditemukan disepanjang bentang lahan Vegetasi 64 : 119 : 193
Sumber: Hasil Cek Lapang April 2010.catatan: nilai reflektansi/spektral citra terendah 0 (berwarna hitam/gelap) dan tertinggi 255 (berwarna putih).
Untuk memperoleh hasil tutupan lahan yang digunakan sebagai parameter masukan dalam mengestimasi limpasan permukaan, terlebih dahulu citra fraksi endmember hasil LSMA dikelaskan kembali dengan menggunakan fasilitas Rule Classifier. Rule Classifier merupakan metode klasifikasi pasca pengkelasan (post classification) yang digunakan untuk mengkelaskan kembali atau menggabungkan beberapa kelas dengan batas ambang yang baru, dengan asumsi bahwa satu piksel dikelaskan berdasarkan endmember yang paling dominan, yaitu endmember yang mempunyai nilai fraksi atau persentase terbesar dalam satu piksel.
Selanjutnya untuk menentukan bobot baru pembentuk koefisien limpasan permukaan pada variabel vegetasi, diperoleh dari persamaan Linier Spectral Mixture Analysis (LSMA) seperti pada persamaan 3 dan 4 sebagai berikut (A.Klein, 1998):
0 ≤ fin ≤ 1 ...(23)
∑
= = n j j F 1 1 ... 13 2 1+ i + + + in = i f f f fHasil dari persamaan Linier Spectral Mixture Analysis (LSMA) tersebut merupakan kombinasi linier tertimbang (terbobot) dari nilai piksel citra dari masing-masing proporsi (persentasi) kehadiran obyek dalam setiap piksel. Bobot (proporsi) masing-masing obyek yang dihasilkan dari persamaan 23 tersebut sudah merupakan nilai bobot yang dijadikan sebagai parameter masukan untuk menentukan parameter tutupan lahan pada klasifikasi metode Cook dengan Modifikasi.
Penyesuaian klasifikasi penggunaan lahan terhadap klasifikasi vegetasi penutup hasil dari klasifikasi dengan menggunakan analisis Linier Spectral Mixture Analysis (LSMA) selanjutnya disesuaikan Tabel U.S. Forest Service (1980 dalam Asdak, 2004) dan Schwab, dkk (1981 dalam Arsyad, 2000) dapat dilihat pada Tabel 4.1.4.
Tabel 4.1.4. Penyesuaian klasifikasi penggunaan lahan terhadap klasifikasi vegetasi penutup dalam metode Cook Dengan Modifikasi
Karakteristik Tutupan Lahan Metode Cook Harkat Koefisien C Tanah terbuka tidak tertutup oleh vegetasi, daerah pertanian
dan dataran banjir yang ditumbuhi oleh tanaman 0,31 0,20 – 0,50 Campuran antara gedung dan tanaman termasuk perumahan
dan tempat tinggal yang tidak tertutupi tumbuhan 0,44 0,40 – 0,60 Hutan, vegetasi campuran khususnya pohon buah-buahan,
status hutan 0,43 0,05 – 0,55
Sumber : Modifikasi Metode Linsley (1959); Meijerink (1970); Gunawan (1991) dan U.S. Forest
Service (1980 dalam Asdak, 2004) dan Schwab, dkk (1981 dalam Arsyad, 2000)
Untuk mengetahui luasan per hektar hasil klasifikasi dengan menggunakan Rule Classification, terlebih dahulu dilakukan penyuntingan basis data atribut dengan menggunakan SIG (Arc.GIS 9.2) dalam arti menambah atau menyunting jumlah field. Untuk keperluan pengisian beberapa field seperti melakukan operasi tumpang susun (overlay), pengisian atribut score pada masing-masing variabel, dilakukan model konversi Raster-Vektor-Raster dengan catatan hasil akhir tetap berbasis Raster.
Luasan tutupan lahan pasca klasifikasi dengan menggunakan Rule Classifier pada Citra Terra MODIS tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 4.15. berikut.
60.679,89 28.382,37 7.733,51 0 10000 20000 30000 40000 50000 60000 70000 Luas ( ha)
endmember Tutupan Lahan
Citra Terra-MODIS Tahun 2009
Vegetasi Tanah terbuka Air
Tabel 4.15. Luas Tutupan Lahan Hasil Rule Classifier Citra Terra-MODIS Tahun 2009
Area Endmember
Tutupan Lahan (ha) (%)
Vegetasi 60.679,89 62,69
Tanah Terbuka 28.382,37 29,32
Air 7.733,51 7,99
Total 96.795,77 100,00
Sumber : Analisis Data Primer dan Cek Lapang April 2010
Pada Tabel 4.15 di atas dapat dilihat bahwa tutupan lahan di daerah Sub DAS Riam Kanan dan sekitarnya terdiri dari Vegetasi seluas 60.679,89 ha (62,69%), tanah terbuka seluas 28.382,37 (29,01 %), dan air seluas 7.733,51 (7,99%).
Gambar 4.19. Endmember Tutupan Lahan Hasil Klasifikasi LSMA Citra Terra-MODIS Tahun 2009
Untuk menentukan keberadaan piksel murni (pure pixel) selain menggunakan Pure Pixel Index yang diperoleh dalam analisis LSMA, peneliti juga menggunakan citra resolusi sedang (Citra Landsat7 ETM+ Tahun 2009) sebagai acuan kemudian
dengan bantuan GPS posisi/koordinat daerah-daerah yang dicurigai mempunyai piksel murni diplotting, piksel murni inilah yang kemudian dijadikan acuan untuk menentukan piksel murni yang terdapat pada citra Terra MODIS. Penentuan piksel murni pada citra Terra MODIS selain menggunakan citra Landsat7 ETM+ dengan tahun yang sama dengan asumsi perubahan tutupan lahan yang terjadi tidak mengalami perubahan pada saat dilakukan penelitian, juga dipandu dengan peta penggunaan lahan yang dikeluarkan oleh BPKH Wilayah V Propinsi Kalimantan Selatan, hasil penelitian terdahulu dan pengamatan dengan menggunakan Google Earth, dan pengetahuan peneliti pada daerah penelitian (unknowlege research). Hal ini dilakukan untuk menghindarkan kesalahan interpretasi dalam menentukan piksel murni yang dijadikan input/masukan dalam analisis LSMA.
Berdasarkan asumsi-asumsi diatas maka diperoleh interpretasi tutupan lahan di daerah Sub DAS Riam Kanan dan sekitarnya secara umum terdiri dari Vegetasi yang dibagi menjadi Hutan Kerapatan Sedang (HKS), Hutan Kerapatan Rendah/Hutan Campuran (HKT/HCAM), Sawah Berpindah (SB), AL (Alang-alang) serta Tanah (Tanah terbuka/TB), Lapisan Kedap Air (Pemukiman/PMK) dan Tubuh Air (Danau). (Terlampir pada Tabel 4.12 dan Lampiran 4).
No. 10 No. 7
No. 41 No. 25
No. 24 No. 48
6 No. 34 No. 4 No. 22 23
Legenda :
No. 4. Hutan Pinus/PMK No. 34. Waduk Riam Kanan
No. 7. Sawah/Tegalan Desa Bunglai No. 41. Htn Krptn Rdh/Bungur
No. 10. Hutan Kerapatan Rendah/ TW. Lama No. 48. Pemukiman Desa B.Riam
No. 22. Alang-Alang Desa Apuai No. 34 No. 37 No. 39 No. 23. Pemukiman Desa Kalaan
No. 24. Tanah Terbuka Desa Rantau Bujur No. 6. Tanah Terbuka D.Awang
No. 25. Hutan Kerapatan Rendah/ Rantau Balai