• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Geografis Daerah Penelitian

Dalam dokumen ABDUR RAHMAN 08/276128/PGE/00753 (Halaman 86-92)

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Kondisi Geografis Daerah Penelitian

Batasan Sub DAS Riam Kanan dalam penelitian ini adalah daerah aliran sungai Riam Kanan yang bagian hilirnya dibatasi oleh Stasiun Pengamatan Tinggi Muka Air Waduk Riam Kanan. Daerah penelitian merupakan suatu cekungan yang dikelilingi oleh komplek pegunungan yang terdiri dari Gunung Pampurun (407 m), Gunung Tiwang (476 m), dan Gunung Pahiyangan (516 m) di Sebelah Utara. Di bagian Timur dibatasi oleh Gunung Galang Gulang (630 m), Gunung Tarip Kidangan (668 m), dan Gunung Manjaan (624 m). Di bagian Selatan dibatasi oleh Gunung Aurbunak (1000 m), Gunung Pematang Bikat (500 m), dan Gunung Kahung Amparan (860 m). Sedangkan di bagian Barat dibatasi oleh Gunung Matangkaca Tiwingan (179 m), Gunung Atawang (203 m), Gunung Kaluhin (188 m), Gunung Bapaling (203 m), Gunung Bukit Batas (252 m) dan Gunung Sarang Burung (191 m) (Bakosurtanal, 1999).

Sub DAS Riam Kanan mempunyai luas ± 966,44 km2. Luasan tersebut terbentang pada empat kecamatan yaitu Kecamatan Sungai Pinang, Kecamatan Astambul, Kecamatan Aranio dan Kecamatan Karang Intan dan 12 kelurahan. Wilayah ini dibatasi di sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Pengaron Kabupaten Banjar, di sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kusan Hulu Kabupaten Tanah Bumbu, di sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Kintap Kabupaten Tanah Laut dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar (Kabupaten Banjar Dalam Angka, 2006). Berdasarkan proyeksi penduduk hasil Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjar (2006) jumlah rumah tangga mencapai 24.156 rumah tangga dengan jumlah penduduk sebanyak

83.515 orang. Jumlah penduduk terbanyak di Kecamatan Karang Intan yaitu sebesar 28.453 orang dan yang terkecil terdapat di Kecamatan Aranio yaitu sebesar 8.201 orang. Jika dilihat kepadatannya maka yang terpadat penduduknya adalah Kecamatan Astambul dengan 153 penduduk per km2 sementara kecamatan Aranio hanya 7 km2.

4.1.2. Iklim

Iklim merupakan keadaan cuaca rata-rata pada suatu tempat yang ditentukan berdasarkan perhitungan komponen iklim, yaitu suhu udara dan curah hujan di tempat tersebut dalam kurun waktu yang panjang. Secara umum keadaan iklim pada daerah penelitian tergolong beriklim tropis yang dicirikan dengan adanya dua musim yang berbeda yaitu musim penghujan dan musim kemarau.

Seperti halnya daerah lain yang termasuk dalam wilayah Indonesia, maka di Kabupaten Banjar juga hanya mengenal dua musim, yaitu musim kemarau dan penghujan. Keadaan ini berkaitan erat dengan arus angin yang bertiup di Indonesia. Pada bulan Juni sampai dengan September arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air, sehingga mengakibatkan musim kemarau di Indonesia. Sebaliknya pada bulan Desember sampai dengan Maret arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan Samudera Pasifik setelah melewati beberapa lautan, dan pada bulan-bulan tersebut biasanya terjadi musim hujan. Keadaan seperti ini berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April-Mei dan Oktober-Nopember.

Suhu merupakan faktor terpenting dari penyebaran vegetasi. Suhu rata-rata tertinggi terjadi pada bulan Mei tahun 1998 sebesar 28,40C, sedangkan suhu rata-rata terendah terjadi pada bulan Juli tahun 1994 sebesar 25,30C. Selain itu, sebagai daerah tropis maka kelembaban udara relatif tinggi dengan rata-rata berkisar 56,0 % sampai 98,5 %, dengan kelembaban maksimum pada bulan Januari dan serta minimum pada bulan September.

Curah hujan di daerah penelitian ditentukan berdasarkan pada data curah hujan yang diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika Wilayah III Banjarbaru

selama 10 Tahun, yaitu tahun 2000 sampai dengan tahun 2010, rincian dari data curah hujan tersebut meliputi jumlah curah hujan rata dan hari hujan, Curah Hujan rata-rata di daerah penelitian tertinggi pada bulan Desember yaitu sebesar 552 mm/th yang terjadi pada tahun 2000, sedangkan rata-rata curah hujan terendah terjadi pada bulan Juli sebesar 10 mm/th dan terjadi pada tahun 2001.

Antara curah hujan dan keadaan angin biasanya ada hubungan erat satu sama lain. Keadaan angin pada musim hujan biasanya lebih kencang dan angin bertiup dari barat dan barat laut. Oleh karena itu musim tersebut dikenal dengan sebutan musim barat. Pada tahun 2006 kecepatan angin yang terjadi rata-rata sebesar 2,875 knots per bulan (Kabupaten Banjar Dalam Angka, 2006)

Pada Tabel 4.1. dapat dilihat rekapitulasi perhitungan jumlah Bulan Basah (BB) dan Bulan K (BK) dimana ditentukan jumlah BB yaitu jumlah CH berkisar antara 60 mm – 100 mm sedangkan jumlah BK adalah jumlah CH yang kurang dari 60 mm.

Tabel 4.1. Data jumlah bulan basah, bulan lembab dan bulan kering selama 10 tahun

No. Tahun ∑ Bulan basah ∑ Bulan Lembab ∑ Bulan Kering

1. 2000 3 3 0 2. 2001 3 1 2 3. 2002 5 1 0 4. 2003 2 1 3 5. 2004 4 2 0 6. 2005 2 4 0 7. 2006 2 4 0 8. 2007 3 3 0 9. 2008 3 3 10. 2009 3 1 2 Rerata 3 2 1

Sumber : Pengolahan data Primer(2010)

Menurut klasifikasi Schmidt dan Fergusson, iklim di Indonesia dibagi menjadi 8 Tipe seperti dirincikan pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Klasifikasi type iklim menurut Schmidt dan Ferguson

No. Tipe Nilai Q (%) Keterangan

1. A 0 ≤ Q ≤ 14,3 Sangat basah, vegetasi hutan hujan tropik 2. B 14,3 ≤ Q ≤ 33,3 Basah, vegetasi hutan hujan tropik 3. C 33,3 ≤ Q ≤ 60,0 Agak basah, vegetasi hutan rimba 4. D 60,0 ≤ Q ≤ 100,0 Sedang, vegetasi hutan musim 5. E 100,0 ≤ Q ≤ 167,0 Agak kering, vegetasi hutan saban 6. F 167,0 ≤ Q ≤ 300,0 Kering, vegetasi hutan saban 7. G 300,0 ≤ Q ≤ 700,0 Sangat kering, vegetasi alang-alang 8. H 700,0 ≤ Q Ekstrim kering, vegetasi alang-alang

Jumlah bulan basah sebanyak 84 bulan (rata-rata 3) dan jumlah bulan kering sebanyak 24 bulan (rata-rata 1). Dari data pada Tabel 4.2., dapat ditentukan nilai Q, diperoleh dari hasil perhitungannya sebagai berikut:

% 100 ker x bulanbasah rata rata Jumlah ing bulan rata rata Jumlah Q − − = % 100 3 1 x Q= =33,3%

Berdasarkan klasifikasi dari Schmidt dan Fergusson tersebut, maka nilai Q untuk lokasi penelitian sebesar 33,3 % terletak antara 14,3 % - 33,3 %. Hal ini berarti iklim di Kecamatan Aranio termasuk kedalam tipe iklim B.

4.1.3. Topografi

Dari analisis DEM (Digital Elevation Model) yang diturunkan dari peta kontur digital 1 : 25.000, diperoleh informasi bahwa DAS Riam Kanan berada pada elevasi antara 0 – 1.878m dpl, dengan 35 % berada di ketinggian 0 – 7 m, 55,54 % pada ketinggian 50–300 m, sisanya 9,45 % berada pada ketinggian lebih dari 300 m. Kemiringan lereng Kabupaten Banjar relatif bergelombang, dengan didominasi kemiringan lereng 0 – 8% seluas ± 2,12%, 8 – 15% seluas ± 14,72%, 15 – 25% seluas

± 19,44%, 25 – 40% seluas ± 18,88 %. Secara lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Kemiringan Lereng menurut Klasifikasi Departemen Kehutanan, 1993

No. Kemiringan (%) Kemiringan Kelas Keterangan Luas Total (Ha) (%)

1 I 0 – 8 % Datar 798,409 2,12

2 II 8 – 15 % Landai 5.548,793 14,72 3 III 15 – 25 % Agak Curam 16.826,010 44,63 4 IV 25 – 40 % Curam 7.327,010 19,44 5 V > 40 % Sangat Curam 7.118,224 18,88

6 Danau 79,108 0,21

Luas Total (Ha) 37.697,554

Sumber : Hasil Analisis 2010

4.1.4. Geologi

Kondisi geologis kawasan Kabupaten Banjar terbentuk dari lempung, pasir, debu, dan kerikil hasil dari patahan pegunungan dan intrusi berumur holosen. Berdasarkan Peta Geologi tahun 1970, batuan di Kabupaten Banjar sebagian besar terdiri dari batuan beku, batuan endapan dan metamorf yang termasuk dalam anggota formasi Manunggul dan Formasi Paniungan serta batuan vulkanik (basalt, lanau, dolerit) anggota Formasi Paau.

4.1.5. Jenis Tanah

Pada umumnya tanah di wilayah ini bertekstur halus (77,62%) yaitu meliputi tanah liat, berlempung, berpasir dan berdebu Sementara 4,93 % bertekstur sedang yaitu jenis lempung, berdebu, liat berpasir, sisanya 5,39 % bertekstur kasar yaitu pasir berlempung, pasir berdebu. Kedalaman tanah yang efektif bagi akar untuk leluasa mengambil air bagi tumbuhnya tanaman, di wilayah ini pada umumnya (66,45%) lebih dari 90 cm, sementara kedalaman 60-90 cm meliputi 8,72 %, dan 30-60 cm hanya 4,83 %.

Menurut peta tanah eksplorasi tahun 1974 skala 1 : 250.000 dari Lembaga Penelitian Bogor di wilayah Kabupaten Banjar terdapat 5 (lima) kelompok jenis tanah yaitu tanah Organosol-Gleihumus, Aluvial, Kompleks Podsolik Merah Kuning-Laterit, Latosol dan Kompleks Podsolik merah Kuning-Latosol. Jenis tanah organosol gleihumus dengan bahan induk bahan aluvium dan fisiografi dataran yang meliputi 28,57%, tanah aluvial dengan bahan induk lahan aluvium dan fisiografi dataran meliputi 3,72%. Tanah komplek podsolik merah kuning dan laterit dengan bahan induk batuan baku dengan fisiografi dataran meliputi 4,29%, latosol dengan bahan induk batuan beku dan fisiografi intrusi meliputi 24,84%. Dan jenis tanah komplek podsolik merah kuning, latosol dengan batu induk endapan dan metamorf meliputi 28,57%.

4.1.6. Keadaan Hidrologi dan Sarana Pengairan

Pada Sub-sub DAS Riam Kanan dengan luas wilayah ± 96,644 ha terdapat sungai yang bermuara ke sungai Martapura dan terdapat 2 buah bendungan/dam, yaitu yang berada di bagian hulu Sungai Riam Kanan dengan fungsi sebagai Pusat Pembangkit Listrik Tenaga Air yang terletak di Desa Tiwingan Lama Kec. Aranio Kabupaten Banjar dengan luas genangan 5.891 ha, meliputi Sungai Hajawa, Pa’au, Malino, Artain, Kalaan, Anawit, Tayub, Mandimaro, Tabatan, dan Sungai Tunjungan. Sedangkan bendungan berada di Desa Mandikapau Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar dengan luas genangan 462 ha, berfungsi sebagai irigasi percetakan sawah dan sarana air bersih yang sumber airnya dari limpahan Sungai Riam Kanan (Bendungan Riam Kanan), Sungai Aranio, Mandikaleng, Mandikapau, Mandiangin dan Sungai Batuampar (BPDAS Barito, 2003).

Keadaan anak sungai yang mengalir ke Sub DAS Riam Kanan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.4. berikut:

Tabel 4.4. Panjang Anak Sungai yang Bermuara ke Sub DAS Riam Kanan No. Nama Anak Sungai Panjang (Km) Keterangan

1. Hajawa 25 Nomor 1 s/d 10 mengalir ke

2. Pa’au 28 Danau Riam Kanan

3. Malino 9

4. Artain 15 Nomor 11 s/d 15 mengalir ke 5. Kalaan 21 Dam irigasi Mandikapau

6. Anawit 4

7. Tayub 15 Momor 16 s/d 18 mengalir ke 8. Mandimaro 6 Sungai Riam Kanan Hilir

9. Tabatan 16 10. Tunjungan 20 11. Aranio 3,5 12. Mandikaleng 6 13. Mandikapau 3,5 14. Mandiangin 4 15. Batuampar 7 16. Tawing 12 17. Besar 17 18. Lakan 10

Sumber : Laporan Tahunan BPDAS Barito (2003)

Dalam dokumen ABDUR RAHMAN 08/276128/PGE/00753 (Halaman 86-92)

Dokumen terkait