% daya serap air
4.1.7 Hasil Uji Pre-Klinis
Uji pre-klinis yang dilakukan telah memperlihatkan hasil yang cukup baik pada proses penyembuhan luka mencit. Mencit yang digunakan adalah mencit jantan (
Mus Musculus ). Uji ini dilakukan terhadap 5 ekor mencit dengan perlakuan membuat luka sayatan pada lapisan kulit epidermis pada bagian punggung kiri
bawah mencit dengan besar luka sayatan sebesar 1 x 1 cm. Pada uji tersebut dilakukan pengukuran penyusutan besar luka mencit yang diamati setiap 24 jam, sehingga membran selulosa bakteri coating kitosan – kolagen bersifat aman digunakan untuk aplikasinya. Data hasil pengamatan pada luka mencit dapat dilihat pada tabel
Tabel 4.6 Hasil Pengukuran Panjang Luka Mencit Putih Jantan Hari ke 1-6
Hari ke Panjang luka (cm) LTP(Kontrol) MSBC0% MSBC2% MSBC4% MSBC6% 1 1,5 1 1 1 1 2 1 1 1 0,5 0,2 3 1 0,9 0,8 0,2 0,05 4 0,8 0,7 0,5 0,04 0 5 0,6 0,5 0,3 0 0 6 0,5 0,4 0,2 0 0 Keterangan:
LTP : Luka tanpa perlakuan (kontrol)
MSBC0% : Membran Selulosa Bakteri Tanpa Coating
MSBC2% : Membran Selulosa Bakteri Coating Kitosan – Kolagen 2% MSBC4% : Membran Selulosa Bakteri Coating Kitosan – Kolagen 4% MSBC6% : Membran Selulosa Bakteri Coating Kitosan – Kolagen 6%
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa membran selulosa bakteri coating 6% sangat berpengaruh terhadap proses penyembuhan luka. Dan dari data tersebut diperoleh persentase penyembuhan luka antar perlakuan untuk melihat bagaimana perbandingan penyembuhan luka antar perlakuan terhadap panjang luka sebelum perlakuan dimana hari ke-1 dianggap 0,00% kemudian dapat dikatakan bahwa persentase penyembuhan luka sebelum perlakuan pada semua subjek penelitian adalah sama (Pongsipulung, G.R.2010). Hasil Persentase dapat dilihat pada tabel dibawah ini
Tabel 4.7 Hasil Persentase Luka Mencit Putih Jantan Hari ke 1-6 Hari ke Persentase luka (%)
LTP(Kontrol) MSB 0% MSBC2% MSBC4% MSBC6% 1 0 0 0 0 0 2 0 0 0 75 96 3 0 19 36 96 99,75 4 36 51 75 99,84 100 5 64 75 91 100 100 6 75 84 96 100 100 Keterangan:
LTP : Luka tanpa perlakuan (kontrol)
MSBC0% : Membran Selulosa Bakteri Tanpa Coating
MSBC2% : Membran Selulosa Bakteri Coating Kitosan – Kolagen 2% MSBC4% : Membran Selulosa Bakteri Coating Kitosan – Kolagen 4% MSBC6% : Membran Selulosa Bakteri Coating Kitosan – Kolagen 6%
Perbedaan persentase penyembuhan luka terbuka dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Gambar 4.6 Grafik Persentase Penyembuhan Luka Mencit
Dari Tabel 4.6 dapat dilihat perbandingan persentase antara membran selulossa bakteri coating Kitosan – Kolagen 4% dan 6% waktu yang diperlukan untuk dapat
-20 0 20 40 60 80 100 120 0 1 2 3 4 5 6 7 Per sen tase Pe n y e m b u h an Lu ka Hari Pengamatan LTP(Kontrol) MSB 0% MSBC2% MSBC4% MSBC6%
menyembuhkan luka hampir sama sehingga menghasilkan perbandingan persentase pada hari ke-4 yaitu 99,84% : 100% dimana proses penyembuhan terbaik adalah dengan menggunakan membran selulosa bakteri coating Kitosan –
kolagen 6% karena hasil yang diperoleh cukup baik dan luka sudah terlihat sembuh pada hari ke-3 dan luka sudah sembuh total pada hari ke-4 yang dapat dilihat dari gambar 4.8.
Dari grafik juga dapat dilihat semakin tinggi konsentrasi dari proses coating maka waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan luka semakin cepat. Hal ini dipengaruhi oleh Kitosan dan kolagen yang di coating pada membran selulosa bakteri. Kitosan mempunyai sifat yang biokompatibel, biodegradable, tidak beracun, antimikroba, dan hydrating agen. Karena sifat ini, kitosan menunjukkan biokompatibilitas yang baik dan efek positif pada penyembuhan luka. Serta kolagen memegang peranan yang sangat penting pada setiap tahap proses penyembuhan luka. Kolagen mempunyai kemampuan antara lain homeostasis, interaksi dengan trombosit, interaksi dengan fibronektin, meningkatkan eksudasi cairan, meningkatkan komponen seluler, meningkatkan faktor pertumbuhan dan mendorong proses fibroplasia dan terkadang pada proliferasi epidermis (Triyono, 2005). Manfaat kolagen dalam bidang medis adalah mempercepat tumbuhnya jaringan baru.
4.2 Pembahasan
Selulosa bakteri yang dihasilkan melalui proses fermentasi oleh bakteri
Acetobacter xylinum dalam air kelapa dengan penambahan sukrosa berwarna putih, kenyal dan struktur permukaan yang halus.
(a) (b) (c)
Gambar 4.7 (a) selulosa bakteri basah, (b) selulosa bakteri setelah di press, (c) selulosa bakteri kering
Jaringan selulosa bakteri yang berbentuk lembaran yang mengapung di permukaan medianya telah terbukti mempunyai daya regang, elastisitas, kekenyalan, daya tahan, ketahanan bentuk, dan kapasitas serap air yang tinggi. Kapasitas serap air selulosa bakteri mencapai 100-120 kali bobot keringnya, lebih banyak daripada yang mampu diserap oleh pulp kayu. Kedua sifat itu membuat selulosa bakteri banyak diaplikasikan dalam bidang medis. Selulosa bakteri bersifat mudah terdegradasi, dapat didaur ulang, biocompatible, karena memiliki kelembaman metabolik, nontoksik, dan nonalergenik (Geyer et al. 1994, Schmitt et al. 1991dalam[Skripsi] Rufian,F.,2006).
Dari hasil penelitian membran selulosa bakteri yang di coating kitosan –
kolagen dengan perbandingan kitosan dan kolagen 1:1 (w/w) dan variasi konsentrasi 2%, 4%, 6% menghasilkan karekteristik yang tidak jauh berbeda yang dapat dilihat dari hasil uji daya serap, uji kadar air, uji biodegredable dan hasil spektrum dari analisa FT-IR.
Digunakan perbandingan 1:1 (w/w) karena memenuhi syarat untuk diaplikasikan sebagai pembalut luka sehingga membran selulosa bakteri yang dihasilkan bersifat tidak kaku dan tidak mudah robek serta bersifat biodegredable.
Pada pengamatan hasil uji pre-klinis pada mencit dengan menggunakan membran selulosa bakteri coating kitosan – kolagen 2%, 4% dan 6% menunjukkan waktu dan persentase penyembuhan luka yang berbeda – beda. Semakin tinggi konsentrasi kitosan – kolagen yang digunakan maka kandungan dari kitosan dan kolagen juga bertambah hal ini dikarenakan kitosan yang bersifat antibakteri tinggi sehingga dapat mempercepat pengeringan dan mencegah infeksi dan kolagen yang berperan dalam pembentukan jaringan baru. Kolagen memegang peranan yang sangat penting pada setiap tahap proses penyembuhan luka. Kolagen mempunyai kemampuan antara lain homeostasis, interaksi dengan trombosit, interaksi dengan fibronektin, meningkatkan eksudasi cairan, meningkatkan komponen seluler, meningkatkan faktor pertumbuhan dan mendorong proses fibroplasia dan terkadang pada proliferasi epidermis (Triyono, 2005).
Penyembuhan luka dapat dilakukan dengan cara menutup luka tersebut dengan pembalut luka untuk menghindari terjadinya infeksi. Pembalut luka yang ideal haruslah menciptakan keadaan atau suasana yang menunjang penyembuhan luka. Menurut karakterisasinya balutan luka yang ideal adalah menciptakan suasana atau keadaan yang lembab untuk kesembuhan luka, mengontrol eksudat yang berlebih, menjaga kondisi suhu yang stabil, dan tidak dapat dilalui mikroorganisme (Adimasmw, 2008).
Proses penyembuhan luka menggunakan membran selulosa bakteri coating
kitosan – kolagen 6% berlangsung cepat. Hal ini dibuktikan dengan adanya pengamatan setiap harinya pada luka mencit yang dapat dilihat pada gambar dibawah ini :
Hari – 1 Hari – 2
Hari - 3 Hari – 4 Gambar 4.8 Hasil pengamatan penyembuhan luka pada mencit
Dari hasil pengamatan pada gambar 4.9 terlihat pada hari ke-2 luka yang diberikan perawatan dengan menggunakan membran coating kitosan – kolagen 6% sudah menunjukkan penyembuhan luka mencapai 96% , kandungan kitosan yang membuat luka lebih cepat mengering dan kolagen yang membantu dalam pembentukan benang – benang halus atau fibroblast pada luka. Fibroblast-fibroblast ini kemudian membentuk kolagen hingga terjadi jaringan ikat yang menghubungkan dengan erat tepi-tepi luka. Jaringan ini dinamakan jaringan parut (Rukmono 1996). Jaringan parut adalah salah satu tanda bahwa penyembuhan luka sedang berjalan. Dalam prosesnya, jaringan parut yang terbentuk dari hasil pembekuan darah akan menutupi area luka. Saat kondisi luka sudah membaik, penyembuhan luka masuk ke tahap berikutnya, yaitu tahap fibroblastik dan retraksi jaringan. Jaringan parut akan hilang atau hancur dengan sendirinya
sementara sel-sel fibroblast akan masuk ke area luka untuk melakukan proses re-epitelisasi (Mahesa,A dalam skripsi 2009).
Restorasi epitel (reepitelisasi) permukaan pada kulit dicapai dengan meningkatkan aktivitas mitosis epitel di dekat tepi luka, terutama pada lapisan yang lebih dalam. Epitel merupakan salah satu komponen yang berperan dalam penyembuhan luka. Regenerasi lapisan epitel merupakan serangkaian peristiwa yang sangat terkoordinasi dan terstruktur (Spector dan Spector 1989). Lapisan epitel yang terbentuk sangat tipis dan rapuh, sehingga mudah kambuh lagi apabila ada tekanan atau jilatan hewan (Pavletic 1992 diacu dalam Hapsari 2006).
Pengamatan penyembuhan luka dilakukan dengan mengamati jumlah fibroblast yang ada di sekitar daerah luka. Jumlah fibroblast dianggap setara dengan terbentuknya jaringan ikat pada daerah luka. Pengamatan pada hari ke-2 menunjukkan adanya fibroblast yang berperan dalam penyembuhan luka. Aktifitas dari pertumbuhan sel fibroblast yang tinggi akan membuat proses reepitelisasi pada daerah luka menjadi lebih cepat.
Luka dikatakan sembuh jika terjadi kontinuitas lapisan kulit dan kekuatan jaringan kulit mampu atau tidak mengganggu untuk melakukan aktivitas yang normal. Meskipun proses penyembuhan luka sama, namun outcome atau hasil yang dicapai ternyata tidak sama dengan manusia, bahkan tidak sama untuk masing-masing individu tikus putih. Hal ini sangat tergantung dari kondisi biologi masing-masing individu, lokasi serta luasnya luka (Hoyt dkk, 2007).
Pada Hari ke-3 luka sudah sembuh 99,75 % ini menunjukkan bahwa membran selulosa bakteri yang digunakan dapat merangsang penyembuhan luka dengan cepat karena pada hari ke-4 sudah menunjukkan persentase penutupan atau penyembuhan luka mencapai 100%. Hal ini menunjukkan bahwa membran selulosa bakteri coating kitosan – kolagen 6% sangat baik digunakan dalam pengaplikasiannya untuk penyembuhan luka pada mencit.
BAB 5