• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Uji beda Mann-Whitney U

BAB I PENDAHULUAN

4.3. Hasil Uji beda Mann-Whitney U

Hasil uji beda Mann-Whitney U bertujuan untuk mengetahui pengaruh otonomi daerah terhadap kemampuan keuangan dan pendapatan daerah. Hasil uji beda

Tabel 4.15

Hasil Uji Beda Mann-Whitney U

Test Statisticsa 7882.000 30037.000 -14.795 .000 31628.500 53783.500 -.849 .396 1879.500 24034.500 -18.322 .000 1879.500 24034.500 -18.322 .000 25919.000 48074.000 -2.244 .025 25756.000 47911.000 -2.349 .019 11174.500 33329.500 -11.750 .000 29398.500 68738.500 -.001 .999 10446.000 32601.000 -12.220 .000 P RASIO PAD RASIO PAJAK RASIO RESTRIBUSI e INDEKS GROWTH INDEKS ELASTISITAS INDEKS SHARE IKK

Mann-Whitney U Wilcoxon W Z Asymp. Sig. (2-tailed)

Grouping Variable: OTDA-NON OTDA a.

Sumber : Data sekunder yang diolah, 2010 Berdasarkan Tabel 4.15 dapat diketahui bahwa: 1. Kontribusi Pajak dan Retribusi

Nilai U hitung = 7882 (p < 0,05), yang berarti Ho ditolak atau Ha diterima, yaitu ada perbedaan kontribusi pajak dan retribusi yang signifikan antara sebelum otonomi daerah dengan sesudah otonomi daerah. Nilai mean rank kontribusi pajak dan retribusi sesudah otonomi daerah (342,98) lebih tinggi daripada sebelum otonomi daerah (143,03). Adanya peningkatan kontribusi pajak dan retribusi sesudah otonomi daerah, antara lain disebabkan daerah sangat agresif dalam mengeluarkan peraturan daerah yang berkaitan dengan PAD, khususnya retribusi dan pajak daerah (Lewis, 2003).

2. Rasio PAD

Nilai U hitung = 7882 (p > 0,05), yang berarti Ho diterima atau Ha ditolak, yaitu tidak ada perbedaan rasio PAD antara sebelum otonomi daerah dengan sesudah otonomi daerah, meskipun nilai mean rank rasio PAD sesudah otonomi daerah (267,59) lebih tinggi daripada sebelum otonomi daerah (256,11). Peningkatan PAD tidak secara otomatis meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang disebabkan

peningkatan PAD belum tentu dapat digunakan untuk membiayai seluruh biaya pembangunan. Hasil penelitian Makhfatih (2000) menemukan bahwa pemerintah daerah masih mengandalkan dana dari pusat meskipun mengalami peningkatan PAD.

3. Rasio Pajak

Nilai U hitung = 1879,5 (p < 0,05), yang berarti Ho ditolak atau Ha diterima, yaitu ada perbedaan Rasio Pajak yang signifikan antara sebelum otonomi daerah dengan sesudah otonomi daerah. Nilai mean rank rasio pajak sesudah otonomi daerah (362,03) lebih tinggi daripada sebelum otonomi daerah (114,45). Peningkatan penerimaan pajak akan mendukung pertumbuhan ekonomi.

4. Rasio Retribusi

Nilai U hitung = 1879,5 (p < 0,05), yang berarti Ho ditolak atau Ha diterima, yaitu ada perbedaan Rasio Retribusi yang signifikan antara sebelum otonomi daerah dengan sesudah otonomi daerah. Nilai mean rank rasio retribusi sesudah otonomi daerah (362,03) lebih tinggi daripada sebelum otonomi daerah (114,45). Peningkatan penerimaan retribusi akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Hasil penelitian Marina (2006) menemukan bahwa retribusi memberikan kontribusi bagi PAD sehingga pemerintah lebih leluasa dalam membangun infrastruktur yang merangsang pertumbuhan ekonomi.

5. Elastisitas Pajak dan Retribusi

Nilai U hitung = 25919 (p < 0,05), yang berarti Ho ditolak atau Ha diterima, yaitu ada perbedaan elastisitas yang signifikan antara sebelum otonomi daerah dengan sesudah otonomi daerah. Nilai mean rank elastisitas pajak dan retribusi sesudah otonomi daerah (257,93) lebih tinggi daripada sebelum otonomi daerah (228,92).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan pajak dan retribusi sejak otonomi daerah akan mendukung pertumbuhan ekonomi.

6. Indeks Growth

Nilai U hitung = 25756 (p < 0,05), yang berarti Ho ditolak atau Ha diterima, yaitu ada perbedaan indeks growth yang signifikan antara sebelum otonomi daerah dengan sesudah otonomi daerah. Nilai mean rank indeks growth sesudah otonomi daerah (258,51) lebih tinggi daripada sebelum otonomi daerah (228,15). Hasil ini menunjukkan bahwa sejak otonomi daerah, daerah mengalami peningkatan PAD dibandingkan sebelum otonomi daerah. Peningkatan PAD ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah berupaya untuk meningkatkan penerimaan pajak dan retribusi, serta kekayaan daerah yang lain.

7. Indeks Elastisitas

Nilai U hitung = 11174,5 (p < 0,05), yang berarti Ho ditolak atau Ha diterima, yaitu ada perbedaan indeks elastisitas yang signifikan antara sebelum otonomi daerah dengan sesudah otonomi daerah. Nilai mean rank indeks elastisitas sesudah otonomi daerah (310,59) lebih tinggi daripada sebelum otonomi daerah (158,71). Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan PAD sejak otonomi daerah mendukung belanja modal, karena biaya dalam belanja modal daerah salah satunya bersumber dari PAD.

8. Indeks Share

Nilai U hitung = 29398,5 (p > 0,05), yang berarti Ho diterima atau Ha ditolak, yaitu tidak ada perbedaan indeks share antara sebelum otonomi daerah dengan sesudah otonomi daerah, meskipun nilai mean ra nk indeks share sesudah otonomi

daerah (245,49) lebih tinggi daripada sebelum otonomi daerah (245,51). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan PAD sejak otonomi daerah tidak secara otomatis meningkatkan kontribusinya dalam APBD. Hasil penelitian ini sesuai dengan temuan Mardiasmo (2000) bahwa indikator keberhasilan otonomi tidak semata-mata ditunjukkan peningkatan PAD.

9. IKK

Nilai U hitung = 10446 (p < 0,05), yang berarti Ho ditolak atau Ha diterima, yaitu ada perbedaan IKK yang signifikan antara sebelum otonomi daerah dengan sesudah otonomi daerah. Nilai mean rank IKK sesudah otonomi daerah (313,19) lebih tinggi daripada sebelum otonomi daerah (155,24). Hasil ini menunjukkan bahwa sejak otonomi daerah, kemampuan kemandirian daerah mengalami peningkatan yang ditunjukkan dengan peningkatan PAD dan kontribusi PAD terhadap belanja modal.

Tabel 4.16

Rangkuman Hasil Uji Hipotesis

Variabel Indikator U p Rata-rata Keterangan Sebelum Otonomi Sesudah Otonomi Penerimaan Daerah

Kontribusi Pajak & Retribusi

7882 0,000 143,03 342,98 Ha diterima Rasio PAD 31628,5 0,396 256.11 267,59 Ha ditolak Rasio Pajak 1879,5 0,000 114,45 362,03 Ha diterima Rasio Retribusi 1879,5 0,000 114,45 362,03 Ha diterima Elastisitas Pajak &

Retribusi

25919 0,025 228,92 257,93 Ha diterima Kemampuan

Keuangan Daerah

Indeks Growth 25756 0,019 228,15 258,51 Ha diterima Indeks Elastisitas 11174,5 0,000 158,71 310,59 Ha diterima Indeks Share 29398,5 0,999 245,51 245,49 Ha ditolak IKK 10446 0,000 155,24 313,19 Ha diterima Sumber: Data sekunder yang diolah, 2010

Berdasarkan Tabel 4.16 dapat diketahui bahwa secara umum, ada perbedaan penerimaan daerah yang signifikan antara sebelum dengan sesudah otonomi daerah, kecuali dalam hal rasio PAD. Hasil tersebut menunjukkan bahwa setelah otonomi daerah, pemerintah daerah berusaha untuk meningkatkan penerimaan PAD melalui peningkatan penerimaan pajak dan retribusi. Meski demikian, peningkatan

penerimaan PAD tidak secara otomatis meningkatkan kontribusi PAD dalam APBD, karena (1) Pemerintah daerah masih kurang realistis dalam menyusun APBD, sehingga penerimaan PAD yang tinggi masih belum bisa mencukupi biaya yang dibutuhkan dalam pembangunan, dan (2) pemerintah daerah dalam meningkatkan penerimaan daerah cenderung mengandalkan pajak dan retribusi, padahal jenis-jenis pajak dan retribusi daerah sudah ditetapkan secara limitatif, sehingga menyulitkan daerah untuk berkreasi dalam menggali sumber keuangan sendiri (Arifin, 2000).

Berdasarkan Tabel 4.16 juga diketahui bahwa secara umum ada perbedaan kemampuan keuangan daerah yang signifikan antara sebelum dan sesudah otonomi daerah, kecuali dalam hal indeks share. Hasil tersebut menunjukkan pemerintah daerah pada era otonomi daerah mampu meningkatkan penerimaan PAD dan hal tersebut mempengaruhi sensitivitas dalam belanja modal. Meski demikian, meningkatnya penerimaan PAD belum memberikan kontribusi yang besar dalam APBD. Dengan demikian, keberhasilan keberhasilan otonomi daerah adalah bukan semata-mata pada usaha peningkatan PAD, akan tetapi pada bagaimana pemerintah daerah dapat memiliki kewenangan dan keleluasaan untuk menggunakan dana yang berasal dari dalam (PAD) maupun dana yang berasal dari luar (misalnya dana perimbangan) (Mardismo, 2000).

Dokumen terkait