• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pajak dan Retribusi Daerah

BAB I PENDAHULUAN

2.1 Landasan Teori

2.1.6 Pajak dan Retribusi Daerah

2.1.6.1 Pajak Daerah

Menurut UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah pasal 1 ayat (10) adalah pajak daerah yang selanjutnya disebut pajak, adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan UU, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Sementara itu ada beberapa hal yang dianggap sebagai kriteria yang harus dipenuhi agar sesuatu dapat dianggap sebagai pajak, yaitu :

1. Bersifat pajak dan bukan retribusi

2. Objek pajak terletak atau terdapat di wilayah daerah kabupaten / kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah daerah kabupaten / kota yang bersangkutan

3. Objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum 4. Objek pajak bukan merupakan objek pajak propinsi dan atau objek pajak pusat 5. Potensinya memadai serta tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif

6. Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat serta menjaga kelestarian lingkungan

Berdasarkan ketentuan yang ada penetapan tarif pajak daerah harus diusulkan dan ditetapkan melalui perda kemudian tarif pajak yang ditetapkan oleh perda haruslah disetujui oleh pemerintah pusat dan disetujui oleh gubenur. Tarif pajak yang dapat dipungut oleh pemerintah daerah diatur dalam UU No. 28 Tahun 2009 yang ditetapkan dengan pembatasan tarif paling tinggi yang berbeda untuk setiap jenis pajak daerah, yaitu :

1. Tarif PKB dan KAA ditetapkan paling tinggi 5%. 2. Tarif BBNKB dan KAA ditetapkan paling tinggi 10%. 3. Tarif PBBKB ditetapkan paling tinggi 20%.

4. Tarif PPPABTAP ditetapkan paling tinggi 20%. 5. Tarif pajak hotel ditetapkan paling tinggi 10%. 6. Tarif pajak restoran ditetapkan paling tinggi 10%. 7. Tarif pajak hiburan ditetapkan paling tinggi 35%. 8. Tarif pajak reklame ditetapkan paling tinggi 25%.

9. Tarif pajak penerangan jalan ditetapkan paling tinggi 10%.

10.Tarif pajak pengambilan bahan galian golongan C ditetapkan paling tinggi 20%. 11.Tarif pajak parkir ditetapkan paling tinggi 20%.

Penetapan tarif pajak kabupaten/kota diatur dalam PP No. 65 mengenai Peraturan Daerah yaitu tarif pajak paling tinggi. Dalam UU No. 28 Tahun 2009 mengenai tarif pajak yang paling tinggi yang dapat dipungut oleh daerah untuk setiap jenis pajak, dimana penetapan tarif paling tinggi tersebut bertujuan memberikan perlindungan kepada masyarakat dari penetapan tarif yang terlalu membebani. Sedangkan tarif paling rendah tidak ditetapkan untuk memberi peluang kepada

pemerintah daerah untuk mengatur sendiri besarnya tarif pajak yang sesuai dengan kondisi masyarakat didaerahnya, termasuk membebaskan pajak bagi masyarakat yang tidak mampu (Siahaan, 2005: 62-63).

2.1.6.2 Retribusi Daerah

Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian ijin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Menurut UU No. 28 Tahun 2009, jenis retribusi dapat dibedakan menjadi :

1. Retribusi jasa umum

Retribusi jasa umum merupakan pelayanan yang disediakan atau diberikan pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh barang pribadi atau badan, misalnya retribusi pelayanan kesehatan, persampahan, akta catatan sipil, dan KTP.

Kriteria jasa umum adalah :

a. Retribusi jasa umum bersifat bukan pajak dan bersifat bukan retribusi jasa usaha atau retribusi perijinan tertentu.

b. Jasa yang bersangkutan merupakan kewenangan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

c. Jasa tersebut memberikan manfaat khusus bagi orang pribadi atau badan yang harus membayar retribusi disamping untuk melayani kepentingan dan kemanfaatan umum

d. Jasa tersebut layak untuk dikenakan retribusi

e. Retribusi tidak bertentangan dengan kebijakan nasional mengenai penyelenggaraannya

Retribusi jasa usaha merupakan retribusi atas jasa yang disediakan oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial yang meliputi pelayanan dengan menggunakan atau memanfaatkan kekayaan daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal, dan/atau pelayanan oleh pemerintah daerah sepanjang belum disediakan secara memadai oleh pihak swasta, misalnya retribusi pasar grosir, terminal, dan rumah potong.

Kriteria retribusi jasa usaha adalah :

a. Retribusi jasa usaha bersifat bukan pajak dan bersifat bukan retribusi jasa umum atau retribusi perijinan tertentu

b. Jasa yang bersangkutan adalah jasa yang bersifat komersial yang seyogyanya disediakan oleh sektor swasta tetapi belum memadai atau terdapatnya harta yang dimiliki daerah yang belum dimanfaatkan secara penuh oleh pemerintah daerah

3. Retribusi perijinan tertentu

Retribusi perijinan tertentu merupakan pelayanan perijinan tertentu oleh pemerintah daerah kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pengaturan dan pengawasan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana, atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan, misalnya IMB dan Ijin Pengambilan Hasil Hutan Ikutan.

Kriteria retribusi perijinan tertentu adalah :

a. Perijinan tersebut termasuk kewenangan pemerintah yang diserahkan kepada daerah dalam rangka asas desentralisasi

c. Biaya yang menjadi beban daerah dalam penyelenggaraan ijin tersebut dan biaya untuk mengevaluasi dampak negatif dari pemberian ijin tersebut cukup besar sehingga layak dibiayai dari retribusi perijinan

Berdasarkan ketentuan yang ada penetapan tarif retribusi daerah harus diusulkan dan ditetapkan melalui perda kemudian tarif retribusi yang ditetapkan oleh perda haruslah disetujui oleh pemerintah pusat dan disetujui oleh gubernur. Tarif retribusi daerah ditetapkan oleh pemerintah daerah dengan memperhatikan prinsip dan sasaran penetapan tarif yang berbeda antar golongan retribusi daerah. Kewenangan daerah untuk meninjau kembali tarif retribusi secara berkala dan jangka waktu penetapan tarif tersebut, dimaksudkan untuk mengantisipasi perkembangan perekonomian daerah berkaitan dengan objek retribusi yang bersangkutan. Dalam PP No. 66 Tahun 2001 ditetapkan bahwa tarif retribusi kembali paling lama lima tahun sekali (Siahaan, 2005: 449).

Dokumen terkait