• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Hasil Model Estimasi

Secara matematis model persamaan regresi data panel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

YTMit = 11,45509 – 0,167593Pert.PDRBit + 0,031065INFit – 0,071472ROEit +

0,105594DERit + еit

Berdasarkan hasil regresi data panel dengan menggunakan program Eviews, maka diperoleh hasil estimasi sebagai berikut:

Tabel 4.3 Koefisien Variabel

Variabel Coeficient Std.Error t-Statistic Prob.

C 11,45509 0,785716 14,57918 0.0000

Pert. PDRB -0,167593 0,129410 -1,295054 0.2059

INFLASI 0.031065 0,034890 0,890364 0.3809

ROE -0.071472 0,020041 -3,566248 0.0013

DER 0.105594 0,080615 1,309862 0.2009

Sumber: Hasil Olahan Data Eviews, Lampiran 5

Adapun interpretasi dari hasil estimasi yang diperoleh dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Variabel Konstanta

Berdasarkan hasil estimasi diketahui koefisien konstanta sebesar 11,45509. Hal ini berarti apabila variabel bebas bernilai konstan maka yield to maturity akan meningkat sebesar 11,45509 . Signifikansi yang

diperoleh sebesar 0,0000 < 0,05, maka konstanta berpengaruh terhadap yield to maturity.

2. Variabel Pertumbuhan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto)

Berdasarkan hasil estimasi yang diperoleh maka dapat diketahui bahwa nilai koefisien variabel pertumbuhan PDRB adalah -0,167593. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan PDRB memiliki pengaruh negatif terhadap yield to maturity. Ini berarti apabila pertumbuhan PDRB mengalami peningkatan 1 satuan maka akan menimbulkan terjadinya penurunan yield to maturity obligasi BPD sebesar 0,167593. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan Peter Jacobs, dkk. (2011) bahwa PDB tidak berpengaruh secara signifikan terhadap yield obligasi. Artinya, meningkatnya PDB tidak dapat meningkatkan yield obligasi.

3. Variabel Inflasi

Berdasarkan hasil estimasi yang diperoleh maka dapat diketahui bahwa nilai koefisien variabel inflasi adalah 0.031065. Hal ini menunjukkan bahwa inflasi memiliki pengaruh positif terhadap yield to maturity. Ini berarti apabila inflasi mengalami peningkatan 1 satuan maka akan menimbulkan terjadinya peningkatan yield to maturity 0,027 satuan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hadiasman Ibrahim (2008) bahwa inflasi berpengaruh secara positif terhadap yield obligasi. Artinya, jika tingkat inflasi suatu wilayah mengalami kenaikan maka akan menaikkan yield obligasi yang terdaftar di BEI.

4. Variabel ROE (Return On Equity)

Berdasarkan hasil estimasi yang diperoleh maka dapat diketahui bahwa nilai koefisien variabel ROE adalah -0.071472. Hal ini menunjukkan bahwa ROE memiliki pengaruh negatif terhadap yield to maturity. Ini berarti apabila ROE mengalami peningkatan 1 satuan maka akan menimbulkan terjadinya penurunan yield to maturity 0.071472 satuan.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Peter Jacobs, dkk. (2011) yang mengatakan bahwa ROE berpengaruh negatif terhadap yield obligasi. Artinya, jika ROE suatu perusahaan mengalami peningkatan, maka yield obligasi yang ditawarkan akan kecil.

5. Variabel DER (Debt to Equity Ratio)

Berdasarkan hasil estimasi yang diperoleh maka dapat diketahui bahwa nilai koefisien variabel DER adalah 0.105594. Hal ini menunjukkan bahwa DER memiliki pengaruh positif terhadap yield to maturity. Ini berarti apabila DER mengalami peningkatan 1 satuan maka akan menimbulkan terjadinya peningkatan yield to maturity 0.105594satuan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Hadiasman Ibrahim (2008) yang menyatakan bahwa DER berpengaruh positif terhadap yield obligasi.

Artinya, jika DER suatu perusahaan mengalami kenaikan, maka yield obligasi yang ditawarkan akan besar.

4.5 Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat baik secara simultan maupun parsial, dan untuk mengetahui besarnya pengaruh tersebut.

4.5.1 Uji Hipotesis Simultan (Uji F)

Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Hasil perhitungan uji F dapat terlihat pada tabel 4.4 berikut ini:

Sumber: Eviews setelah diolah pada Lampiran 5

Pada pengujian simultan didapatkan nilai F hitung sebesar 3,96 dan nilai signifikansi sebesar 0,001. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari alpha 5%

(0.001566<0,050), maka hipotesis Haditolak dan dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama terdapat pengaruh yang nyata dari variabel pertumbuhan PDRB, inflasi, ROE, DER terhadap YTM dengan tingkat batas kesalahan 5%.

4.5.2 Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variabel dependennya. Nilai R2 yang mendekati satu berarti variabel-variabel independennya memberikan hampir

semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen. Hasil perhitungan koefisien determinasi dapat terlihat pada tabel 4.5 berikut ini:

Tabel 4.5 Koefisien Determinasi

Variabel Independen Variabel Dependen R-square Pert. PDRB, Inflasi,

ROE, DER

YTM 0,608776

Sumber: Hasil Olahan Data Eviews, Lampiran 5

Nilai koefisien determinasi (R2) yang didapatkan adalah 0,608776, maka besarnya pengaruh total variabel pertumbuhan PDRB, inflasi, ROE, DER terhadap variabel YTM adalah 60,87% dan sisanya sebesar 39,13% dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian.

4.5.3 Uji Hipotesis Parsial (Uji t)

Uji t adalah pengujian secara parsial untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari setiap variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil pengujian secara parsial disajikan pada tabel dibawah ini

Tabel 4.6 Hasil Uji t Variabel

Independen

Koefisien t-Statistic Prob. Keterangan

Konstanta 11,45509 14,57918 0.0000 Signifikan

Pert.PDRB -0,167593 -1,295054 0.2059 Non Signifikan Inflasi 0.031065 0,890364 0.3809 Non Signifikan

ROE -0.071472 -3,566248 0.0013 Signifikan

DER 0.105594 1,309862 0.2009 Non Signifikan

Sumber: Hasil Olahan Data Eviews, Lampiran 5

1. Pertumbuhan PDRB

Berdasarkan hasil estimasi diperoleh nilai t-statistik yang bertanda negatif sebesar -1,295054. Sedangkan nilai probability sebesar 0,2059 dimana tingkat signifikansi > 0,05 maka hipotesis Ho diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel pertumbuhan PDRB secara parsial berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap yield to maturity obligasi BPD yang terdaftar di BEI.

2. Inflasi

Berdasarkan hasil estimasi diperoleh nilai t-statistik yang bertanda positif sebesar 0,890364 dan nilai probability sebesar 0,3809 dimana 0,3809 >

0,05 maka hipotesis Ha diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inflasi secara parsial berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap yield to maturity obligasi BPD yang terdaftar di BEI.

3. Return On Equity

Berdasarkan hasil estimasi diperoleh nilai t-statistik yang bertanda negatif sebesar -3,566248 dengan nilai probability sebesar 0,0013. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari alpha 5% (-3,640 < 0,050), maka hipotesis Ho diterima dan dapat dikatakan bahwa ROE secara parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap yield to maturity obligasi BPD yang terdaftar di BEI pada tingkat kepercayaan 95%.

4. Debt to Equity Ratio

Berdasarkan hasil estimasi diperoleh nilai t-statistik yang bertanda positif sebesar 1,309862 dan nilai probability sebesar 0,2009. Karena nilai probability lebih besar dari alpha 5% (0,997 > 0,050) maka hipotesis Ha diterima dan dapat dikatakan bahwa DER secara parsial berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap yield to maturity obligasi BPD yang terdaftar di BEI pada taraf signifikansi (alpha) 5%.

4.6 Pembahasan

4.6.1 Pengaruh Pertumbuhan PDRB terhadap Yield to Maturity

Setelah mengalami beberapa pengujian dalam penelitian ini dapat dijelaskan bahwa pertumbuhan PDRB selama periode penelitian secara parsial berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap yield to maturity obligasi di BPD. Hal tersebut menunjukkan bahwa kenaikan pertumbuhan PDRB yang diperoleh tidak mampu menaikkan yield obligasi yang diterbitkan BPD. Artinya, jika pertumbuhan PDRB mengalami kenaikan maka suku bunga akan turun. Jika suku bunga turun maka pertumbuhan kredit akan meningkat dan terbukanya lapangan kerja baru dimana dapat mengurangi pengangguran sehingga pertumbuhan ekonomi akan meningkat. Oleh karena itu, berinvestasi obligasi akan kurang menguntungkan karena bunga yang akan diterima investor akan kecil. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jacobs, dkk. (2011) bahwa meningkatnya PDB tidak dapat meningkatkan yield obligasi.

4.6.2 Pengaruh Inflasi terhadap Yield to Maturity

Setelah mengalami beberapa pengujian dalam penelitian ini dapat dijelaskan bahwa tingkat inflasi selama periode penelitian secara parsial berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap yield to maturity obligasi BPD. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat inflasi suatu provinsi maka akan meningkatkan yield obligasi namun pengaruhnya tidak signifikan. karena kurangnya ketertarikan investor untuk berinvestasi di BPD.

Kondisi ini disebabkan oleh kurangnya mina minat investor untuk berinvestasi di BPD dimana BPD merupakan bank pemerintah yang risiko investasinya sangat kecil sehingga imbal hasil yang ditawarkan tidak terlalu besar. Walaupun hasil penelitian ini tidak signifikan, tetapi hasilnya sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jacob, dkk. (2011) yang menyatakan bahwa inflasi berpengaruh positif terhadap yield obligasi. Di sisi lain penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Linda (2015) yang menyatakan bahwa inflasi berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap yield obligasi. Perbedaan hasil kedua penelitian di atas disebabkan perbedaan tempat penelitian. Ini ditunjukkan dengan pengaruh dan hasil signifikansi yang berbeda-beda.

4.6.3 Pengaruh Return on Equity terhadap Yield to Maturity

Setelah mengalami beberapa pengujian dalam penelitian ini dapat dijelaskan bahwa ROE selama periode penelitian secara parsial berpengaruh negatif dan signifikan terhadap yield to maturity obligasi BPD. Semakin tinggi nilai ROE maka akan menyebabkan kecilnya yield obligasi yang dihasilkan. ROE

merupakan rasio yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga memberikan gambaran tentang tingkat efektifitas manajemen dalam melaksanakan kegiatan operasinya.

Artinya, jika perusahaan mampu menghasilkan laba yang tinggi, maka risiko untuk berinvestasi di perusahaan tersebut akan kecil. Hal ini akan membuat harga obligasi naik dan yield yang ditawarkan akan kecil sebab risiko gagal bayar akan relatif kecil. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Linda (2015) bahwa rasio profitabilitas berpengaruh negatif terhadap yield obligasi.

4.6.4 Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Yield to Maturity

Setelah mengalami beberapa pengujian dalam penelitian ini dapat dijelaskan bahwa DER selama periode penelitian secara parsial berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap yield to maturity obligasi BPD. Hasil yang tidak signifikan disebabkan oleh kurangnya ketertarikan investor untuk berinvestasi di BPD. Kemudian, penelitian ini menunjukkan bahwa semakin besar rasio DER suatu bank maka yield obligasi akan meningkat. Artinya, investor akan mempertimbangkan seberapa besar hutang yang dimiliki bank dalam struktur modalnya yang tercermin pada besarnya rasio DER atau dengan kata lain berlebihan atau tidak hutang yang dimilki bank tersebut. Jika rasio DER cukup besar, maka hal ini menunjukkan hutang yang dimiliki oleh bank berlebihan dan mengindikasikan adanya kemungkinan bahwa emiten obligasi atau bank tidak mampu untuk membayar kewajiban obligasinya di masa yang akan datang. Oleh

karena itu, untuk menutupi resiko gagal bayar tersebut investor akan meminta yield yang lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hadiasman (2008) dan Bhoraj et.al (2003) yang menyatakan bahwa DER berpengaruh positif terhadap yield obligasi. Di sisi lain penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ayu (2013) yang menyatakan bahwa DER berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap yield obligasi. Perbedaan hasil ketiga penelitian di atas disebabkan perbedaan tempat penelitian. Ini ditunjukkan dengan pengaruh dan hasil signifikansi yang berbeda-beda.

BAB V

Dokumen terkait