• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI : PROSES PENDAMPINGAN

G. Hasil Monitoring dan Evaluasi Pendampingan

Melalui pendekatan berbasis Asset Bassed Community

Development (ABCD) ini perlu kiranya masyarakat membuat aturan dasar untuk melangkah, dari proses perencanaan, perkembangan program, hingga monitoring dan evaluasi apa saja yang sedang di lakukan, serta hasil income yang diperoleh. Langkah dasar yang dilakukan untuk menuju mewujudkan masa depan dan harapan yang cerah. Tahapan ini harus berdasarkan apa saja asset dan potensi yang dimiliki anggota REMAS.

Sedangkan proses pelaksanaan harus berupa partisipasi aktif dari remaja masjid, karena semua proses pendampingan melibatkan langsung peran remaja masjid dari awal sampai akhir bahkan sampai menciptakan keberlanjutan kegiatan (sustainable).

Setelah remaja masjid mulai melihat, memahami, dan

memanfaatkan segala sesuatu potensi yang dimilikinya, perubahan akan terlihat jelas dan bisa dirasakan oleh remaja masjid langsung. Melalui proses pengelolahan dari barang bekas pun mulai berjalan dan dapat diperdagangkan ketika ada event di Desa Candipari. Proses ini dilakukan dengan gotong royong antara anggota kelompok usaha.

Kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan bersama remaja masjid bisa disebut sebagai rangsangan bagi remaja lain untuk lebih mengoptimalisasikan potensi dan asset yang ada di lingkungan sekitar mereka, khususnya untuk kebutuhan mereka dalam sehari-hari. Dengan

dibantu pengetahuan dan kreatifitas yang remaja miliki mampu mengembangkan potensi yang ada pada dirinya dan menimbulkan rasa bahwa setiap manusia mampu dan bisa melakukan berbagai hal apabila mereka mempunyai keinginan untuk merubah kehidupannya. Tugas fasilitator adalah mengembalikan kesadaran remaja Candipari agar aset dan potensi yang sudah ada bisa dikembangkan dengan baik.

Pendekatan berbasis asset mampu mendorong remaja masjid untuk memulai suatu proses perubahan dengan menggunakan asset mereka sendiri. Harapan dan keinginan yang ada mungkin hanya sebatas harapan yang tidak bisa diwujudkan sampai kapanpun. Aset yang dimiliki juga sebatas sumber daya yang tidak memiliki manfaat bagi kehidupan mereka sendiri. Kemudian mereka menyadari jika sumber daya yang ada mampu memberikan kontibusi positif bagi kehidupan mereka tergantung dari usaha dan kerja keras mereka akan kemandirian pemenuhan kebutuhan.

Aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian penting bagi pendamping dan masyarakat. Local leader yang ada menjadi ujung tombak remaja masjid agar apa yang sudah dilakukan mampu melanjutkan pendampingan yang telah dilakukan, supaya dampak yang dirasakan oleh remaja masjid bisa di lanjutkan terus menerus. Kesadaran akan aset yang mereka miliki nantinya bisa berdampak positif terhadap kehidupan mereka, menjaga dan mengfungsikan potensi alam sekitar untuk digunakan dengan sebaik mungkin. Dalam pengelolaan barang bekas yang telah mereka lakukan dalam pendampingan, nantinya membuat mereka

lebih kreatif dalam memanfaatkan asset untuk kesejahteraan diri sendiri dan masyarakat.

Tabel 11. Susunan Pengurus Kelompok Usaha

NO NAMA JABATAN

1 Heru Ahmad H. Ketua

2 Enricho Firmansyah Wakil Ketua

3 Yayan Supratikno Marketing

4 Dicky Rahadian Bendahara

5 Bagus Romadhoni Marketing

6 Seluruh anggota Produksi

BAB VII REFLEKSI

Melalui pendampingan yang berbasis Asset Bassed Community

Development (ABCD) masyarakat akan mengetahui betapa pentingnya aset yang mereka miliki apabila dikelola dengan baik dan sangat disayangkan apabila hanya dibiarkan begitu saja. Dengan menggunakan metode pendampingan ABCD masyarakat bisa mengenali akan aset yang dimilikinya. Dari proses dream, design, define, membuat masyarakat aktif dalam berdiskusi mengenali aset yang sebenarya ada didaerah sekitar, masyarakat bisa melakukan keinginannya mulai dari perencanaan dan menentukan sampai distiny. Masyarakat bisa melakukan apa yang di mimpikan sampai benar-benar terealisasikan. Tidak hanya itu saja, masyarakat akan sadar dan saling belajar satu sama lain bagaimana cara memanfaatkan aset berupa lahan kosong yang pada saat ini sudah ditanami pohon pisang dan diharapkan masyarakat lebih kreatif akan pengelolaan aset-aset yang lainnya.

1. Pra pendampingan

Sebelum proses pendampingan berlangsung fasilitator melakukan pendampingan, ada sesuatu yang ditakutkan seperti acuh tak acuhnya masyarakat dalam pendampingan, hal ini akan memberikan dampak negatif atas proses pendampingan. Melihat aset masyarakat Desa Candipari sangat memungkinkan akan membawa kehidupan yang lebih maju dengan modal social masyarakat hal ini sangat relevan dengan metode (ABCD). Dalam proses Inkulturasi yang dilakukan dengan penundaan waktu karena sibuknya

remaja Candipari dengan pendidikan mereka namun hal ini tidak mengendurkan rasa semangat fasilitator dalam proses pendampingan

2. Saat pendampingan

Dalam proses pendampingan yang dibantu oleh kepala desa Muhammad Ghozali untuk mengkoordinasi remaja dan menentukan keinginan remaja masjid pada proses dream, design, distiny, berjalan dengan lancar dan ditanggapi dengan baik oleh anggota remaja masjid beserta tokoh yang lain.. Hal ini fasilitator memberikan sedikit maksud dan tujan dalam Forum Group Discussion (FGD) yang sudah dilaksanakan yakni pemberdayaan ekonomi remaja masjid melalui pemanfaatan barang bekas disekitar kita. Merubah

mindset sangat berpengaruh untuk melakukan pergerakan oleh remaja masjid dalam melancarkan proses pendampingan dan merealisasaikan apa yang diinginkan oleh para remaja masjid.

Merencanakan dalam keinginan tersebut sudah dibentuknya Local leader yang akan menggerakan remaja masjid untuk melaksanakan keinginannya. Disitu juga mendata siapa saja yang ikut kedalam kelompok usaha remaja masjid ini dengan melalui pemanfaatan barang bekas merupakan salah satu peningkatan ekonomi nantinya dengan waktu yang lama. Aksi remaja masjid dalam pengelolahan barang bekas sudah terealisasikan hal ini sudah jelas telah menghasilkan pendapatan yang sangat besar.

3. Pasca pendampingan

Pendampingan yang sudah dilakukan tidak hanya sekedar pendampingan setelah itu selesai, tidak hanya menulis laporan saja. Oleh karena itu fasilitator memiliki memililki Local leader selanjutnya yang akan menggerakkan remaja masjid yaitu saudara Heru (18 tahun), hal ini akan adanya keberlanjutan program yang diberikan pendampingan yang bisa bekerjasama nantinya dalam musyawarah dengan remaja lainnya. Namun

local leader disini tidak sendiri tetapi didampingi dengan empat remaja yaitu Dicky, Richo, Yayan dan Bagas.

Merubah mindset remaja masjid Al Maghfur dalam peningkatan ekonomi melalui aset yang dimiliki berupa pengetahuan dan barang bekas, sudah direalisasikan oleh seluruh anggota kelompok remaja masjid. Berdasarkan dalam FGD pendapat yang sudah dikemukakan dalam kesepakatan bersama yakni ingin mendaur ulang barang bekas seperti botol minuman menjadi aksesoris kecantikan yang memiliki nilai barang yang baik.

Semua pendampingan ini bukan akhir proses yang telah dilakukan melainkan awal dari proses yang baru dilakukan, sebelum para remaja nantinya betul-betul merasakan apa yang dilakukan ini membuahkan hasil keuntungan yang akan dirasakan oleh diri mereka sendiri. Pada intinya dari proses pendanpingan yakni mereka mengetahui akan aset yang dimilikinya untuk tidak mengabaikannya, dan bisa memanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk merubah kehidupan yang lebih progresif dan lebih baik.

BAB VIII

Dokumen terkait