BAB IV DESKRIPSI, ANALISIS DATA DAN
B. Hasil Observasi
2. Hasil Observasi Siklus II
Beberapa kegiatan pada siklus II yang akan dilaksanakan pada proses pembelajaran yang merupakan kelemahan pada siklus I sesuai dengan rencana perbaikan.
Tabel IV. 6 Detail Kegiatan Perbaikan Proses Pembelajaran pada Siklus II
No Data dari Observer Rencana Perbaikan Detil Kegiatan Perbaikan 1
2
Guru tidak menyampaikan
kompetensi yang akan dicapai sesuai dengan rencana kegiatan
Guru belum memberikan instruksi/perintah yang jelas kepada siswa, sehingga siswa masih bingung memahami perintah sehingga harus diulang Guru akan menyampaikan kompetensi yang akan dicapai pada pertemuan
berikutnya
Guru akan
memberikan instruksi dengan jelas dan berurutan pada pertemuan
berikutnya, sehingga siswa tidak bingung lagi
Sebelum masuk pada materi, setelah apersepsi guru akan menyampaikan kepada siswa tentang kompetensi yang akan dicapai selama 3 menit dan
mengatakan pada siswa bahwa mereka akan belajar dengan nyaman dan
menyenangkan ketika belajar nanti
Sebelum meminta siswa untuk belajar, guru menjelaskan dahulu tujuan dari pembelajaran, sehingga
pemahaman siswa tidak berbeda tentang makna pelajaran yang siswa dapat melaksanakan
perintah guru dengan baik.
No Data dari Observer Rencana Perbaikan Detil Kegiatan Perbaikan 3 4 5 Guru membiarkan siswa mengobrol di luar materi pelajaran sehingga waktu belajar menjadi lebih lama
Guru membuat rangkuman tidak melibatkan siswa (lupa) terhadap materi pelajaran
Siswa belum pernah menggunakan media pembelajaran gambar, sehingga ketika mereka pertama kali menggunakan media gambar siswa sering bermain-main dan mengobrol dengan temannya sehingga waktu belajar menjadi lebih lama
Guru akan
mengingatkan siswa agar tidak mengobrol di luar materi pelajaran Guru membuat rangkuman melibatkan siswa terhadap materi pelajaran Guru mengingatkan siswa agar menggunakan media belajar sesuai dengan perintah guru untuk belajar
Agar siswa tidak mengobrol di luar materi pelajaran dan untuk mengantisipasi ini guru memberikan arahan agar
berkonsentrasi pada pelajaran yang diberikan guru Guru akan aktif
bertanya
(menggunakan kata tanya) kepada siswa tentang apa yang telah siswa pelajari, sehingga siswa akan menjawab
pertanyaan guru dan guru membantu siswa menyebutkan poin-poin utama yang telah disebutkan siswa Sebelum kegiatan inti dimulai, guru memberikan penjelasan bahwa alat peraga yang akan digunakan adalah media gambar dan teks bacaan dan hanya digunakan untuk belajar sesuai dengan perintah guru. Agar lebih berkonsentrasi guru memberikan
No Data dari Observer Rencana Perbaikan Detil Kegiatan Perbaikan 6
7
8
Siswa belum bisa sepenuhnya memahami teks bacaan pada LKS, siswa masih minta bantuan guru untuk memahami teks bacaan
Siswa belum terbiasa memahami materi pelajaran
menggunakan gambar dan teks bacaan, sehingga perlu latihan Hasil observasi
kegiatan guru dan siswa siklus I belum terjadi mastery learning
Guru akan lebih sering memberikan latihan dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sehingga siswa menjadi lebih mandiri
Guru akan lebih sering memberikan latihan agar siswa lebih memahami materi pelajaran
Tindakan akan dilanjutkan pada siklus II. Proses pembelajaran menggunakan teknik jigsaw dengan memperhatikan kekurangan pada siklus I Guru memberikan waktu untuk membaca di luar materi pelajaran, sehingga waktu belajar menjadi lebih efektif, misalnya setelah pulang sekolah, atau waktu istirahat yang sebelumnya ditanyakan dahulu kepada siswa kapan waktu yang tepat
Guru bersama siswa membaca materi setelah pelajaran selesai dengan waktu 15 menit
Guru akan
menyesuaikan materi dan proses
pembelajaran sesuai dengan hasil diskusi antara observer dan guru kelas serta sesuai dengan RPP yang telah dibuat
Hasil pengamatan peneliti dan observer menunjukkan bahwa pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan sudah berjalan sesuai dengan rencana pembelajaran, walaupun terdapat beberapa langkah pembelajaran yang belum dilaksanakan oleh guru.
Aktivitas pengamatan yang dilakukan observer tehadap guru, guru sangat antusias membuka pelajaran pada kegiatan awal pembelajaran yang diawali
dengan kegiatan yang sangat menyenangkan. Guru bersama siswa bergerak bersama melakukan kegiatan membaca. Kegiatan ini membuat guru semakin bersemangat mengajar. Tidak lupa guru memberikan semangat kepada siswa sehingga siswa juga semakin antusias dalam belajar.
Materi pelajaran yang disampaikan guru dengan cara membaca teks bacaan, sehingga siswa semakin mudah menerima pelajaran, walaupun ada beberapa tahapan/penjelasan. Keterbatasan guru dalam mengajar perlu diperbaiki. Guru selalu memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk langsung bertanya tentang materi pelajaran sampai siswa menemukan jawaban yang benar.
Aktivitas pengamatan yang dilakukan terhadap siswa pada proses pembelajaran pada awal kegiatan, siswa sangat antusias mengikuti setiap perintah guru. Siswa selalu bersemangat dalam membaca. Walau materi pelajaran menjadi sangat mudah dipahami oleh siswa, tetapi karena selama ini siswa membaca tidak menggunakan teknik jigsaw maka siswa sedikit kesulitan dalam memahami isi bacaan. Namun guru berhasil meyakinkan siswa agar percaya diri dan tidak menggunakan metode lain, guru memastikan setiap soal yang diberikan secara lisan, guru selalu meminta siswa menyebutkan makna bacaan.
Suasana kelas tercipta sangat nyaman dan kondusif untuk kegiatan pembelajaran karena guru selalu menciptakan kelas dengan tepuk semangat sehingga siswa selalu gembira dan antusias dalam belajar. Walaupun terkadang dalam pembelajaran siswa ada yang mengobrol.
Data hasil tes evaluasi siswa pada siklus II ini sesuai dengan indikator keberhasilan hasil belajar siswa yaitu siswa yang mendapat skor di atas KKM, ≥
70 dengan kategori tuntas sebanyak 26 siswa atau 86,67% dan siswa yang
mendapat skor ≤ 70 dengan kategori tidak tuntas sebanyak 4 siswa atau 13,33%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hanya 26 siswa yang mencapai KKM sekolah, yakni 70. Dan menunjukkan adanya peningkatan persentase dari siklus I sebesar 60% menjadi 86,67% pada siklus II.
Pada tahap perencanaan tindakan, peneliti telah merancang langkah-langkah pembelajaran secara maksimal. Pada tahap siklus II ini peneliti lebih menekankan pada pemahaman siswa dengan menjawab pertanyaan. Sebagian
besar siswa mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam bentuk essay dan pilihan ganda. Siswa lebih cepat memahami materi pelajaran dengan teknik Jigsaw. Pencapaian nilai rata-rata yang ditunjukkan pada tabel lebih menguatkan bahwa teknik Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa. Melihat hasil
yang sudah mencapai indikator penilaian ≥ 70 di atas KKM (70) dan adanya
peningkatan persentase dari 60% (pada siklus I) hingga 86,67% (pada siklus II). Kelebihan/keberhasilan tindakan pada siklus II terdapat pada tabel berikut ini:
Tabel IV.7 Kelebihan/Keberhasilan Tindakan Siklus II
No Kelebihan/Kelemahan Keterangan 1 Guru lebih antusias dalam
mengajar
Penyampaian materi dilakukan oleh guru kepada siswa sehingga guru menjadi lebih semangat dalam mengajar
2 Pemahaman materi Ilmu Pengetahuan Sosial menjadi mudah
Bagi guru, dengan
menggunakan teknik jigsaw mengajar lebih efektif karena guru tidak harus mengajarkan satu persatu siswa
Bagi siswa, menggunakan teks bacaan menjadi lebih mudah dalam memahami materi bacaan, walaupun pada awal proses membaca siswa harus menyesuaikan diri dengan teknik jigsaw, tetapi guru dapat meyakinkan siswa bahwa mereka bisa
menggunakan teknik jigsaw untuk memahami teks bacaan
Data aktivitas guru menunjukkan bahwa pada siklus 1 secara umum sudah baik, namun dalam hal memotivasi siswa guru masih kurang optimal, sehingga siswa kurang aktif dan dalam mengikuti KBM. Kekurangan pada siklus 1 ini kemudian diperbaiki pada siklus 2 dan aktivitas guru pada siklus 2 secara umum sudah baik.
Data yang dianalisis adalah data kualitatif dan data kuantitatif berkaitan dengan hasil observasi proses pembelajaran melalui teknik jigsaw yang mencakup data observasi aktivitas guru dan siswa, catatan lapangan, hasil dokumentasi dan rekaman serta hasil wawancara yang diperoleh selama proses pembelajaran siklus I dan II.
Sesuai dengan hasil observasi aktivitas guru dan siswa terhadap pelaksanaan siklus I, dapat dianalisis bahwa masih ditemukannya berbagai kekurangan yang dilakukan guru dan siswa selama proses pembelajaran, melalui teknik jigsaw yang digunakan.
Selain itu berdasarkan jumlah skor yang dicapai berdasarkan lembar observasi aktivitas guru dan siswa, ternyata belum mencapai skor maksimal seperti ditargetkan. Dari observasi aktivitas guru pada siklus I, baru 6 butir pernyataan yang dicentang () oleh observer pada pernyataan “ya”. Berarti masih
terdapat 9 butir pernyataan yang belum dilakukan oleh guru. Sedangkan pada siklus 2, butir pernyataan yang dicentang oleh observerpada pernyataan “ya” naik
menjadi 11 pernyataan. Hal ini berarti pada siklus I jumlah skor yang diperoleh baru mencapai 40%, sedangkan pada siklus II jumlah skor yang diperoleh sudah mencapai 73,33%.
Selanjutnya dari observasi aktivitas siswa pada siklus I sebanyak 7 butir pernyataan yang dicentang oleh observerpada pernyataan “ya”. Berarti masih ada
8 butir pernyataan yang belum nampak dilakukan siswa. Sedangkan pada siklus II, butir pernyataan yang dicentang oleh observer pada pernyataan “ya” terdapat 10
butir pernyataan. Hal ini berarti pada siklus I jumlah skor yang diperoleh sebesar 46,67% dan siklus II sebesar 66,67%.
Tabel IV. 8 Penilaian Hasil Observasi Aktivitas Guru dan Siswa (Siklus I)
No Sumber Data
Ya Tidak Maksimal
Skor Persentase Skor Persentase Skor Persentase 1 Lembar observasi aktivitas guru 6 40% 9 60% 15 100% 2 Lembar observasi aktivitas siswa 7 46,67% 8 53,33% 15 100%
Tabel IV. 9 Penilaian Hasil Observasi Aktivitas Guru dan Siswa (Siklus II)
No Sumber Data
Ya Tidak Maksimal
Skor Persentase Skor Persentase Skor Persentase 1 Lembar observasi aktivitas guru 11 73,33% 4 26,67% 15 100% 2 Lembar observasi aktivitas siswa 10 66,67% 5 33,33% 15 100%
Berdasarkan paparan penilaian hasil analisis tindakan siklus I di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan belum tuntas, sehingga masih diperlukannya upaya untuk membenani kekurangan yang ada, dan diputuskan
untuk melanjutkan tindakan pada siklus II, dengan melakukan revisi yang sesuai dan melanjutkan materi pada siklus II.
Selanjutnya sesuai dengan hasil observasi tindakan terhadap pelaksanaan siklus II, secara keseluruhan dapat dianalisis bahwa pelaksanaan kegiatan pembelajaran melalui teknik jigsaw, masih ditemukannya berbagai kekurangan yang dilakukan guru dan siswa selama proses pembelajaran.
Selain itu berdasarkan jumlah skor yang dicapai berdasarkan lembar observasi aktivitas guru dan siswa, ternyata belum mencapai skor maksimal seperti ditargetkan. Dari observasi aktivitas guru pada siklus I, baru 6 butir pernyataan yang dicentang () oleh observer pada pernyataan “ya”. Berarti masih
terdapat 9 butir pernyataan yang belum dilakukan oleh guru. Sedangkan pada siklus 2, butir pernyataan yang dicentang oleh observer pada pernyataan “ya” naik
menjadi 11 pernyataan. Hal ini berarti pada siklus I jumlah skor yang diperoleh baru mencapai 40%, sedangkan pada siklus II jumlah skor yang diperoleh sudah mencapai 73,33%.
Selanjutnya dari observasi aktivitas siswa pada siklus I sebanyak 7 butir pernyataan yang dicentang oleh observer pada pernyataan “ya”. Berarti masih ada
8 butir pernyataan yang belum nampak dilakukan siswa. Sedangkan pada siklus II,
butir pernyataan yang dicentang oleh observer pada pernyataan “ya” terdapat 10
butir pernyataan. Hal ini berarti pada siklus I jumlah skor yang diperoleh sebesar 46,67% dan siklus II sebesar 66,67%.