• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Hasil Pasir Dari Para Penambang

Penambangan pasir yang di lakukan masyarakat Wakatobi, khususnya di kelurahan Mandati III bisa dijadikan sumber mata pencaharian karena pemanfaatan SDA sebagai factor utama karena wilayah Wakatobi memiliki pasir putih yang sangat bagus untuk dijadikan sebagai bahan bangunan khususnya rumah. Masyarakat penambang pasir yang sudah mengambil pasir dari dasar laut, kemudian akan di angkut ke permukaan atau daratan agar di kumpulkan di tempat yang di sediakan oleh pemilik tempat yang bernama La Buri. Pasir yang sudah di angkut dari perahu ke permukaan/daratan akan tertampung seperti gambar yang ada di bawah ini:

54

Gambar 2.1 Para penambang mengangkut pasir dari perahu ke daratan

Gambar 2.2 pasir yang telah di kumpulkan para penambang

Gambar 2.3 hasil dari penambang pasir

Dari hasil penambangan pasir di atas masyarakat lain bisa memanfaatkan pasir yang di peroleh para penambang, karena bisa di jadikan sebagai bahan bangunan rumah dan lain-lain. Namun disisi lain kegiatan para penambang merusak biota-biota laut yang mengakibatkan kerusakan ekosistem laut, sehingga masyarakat yang bekerja di sector penambang harus memikirkan kelestarian lingkungan baik di darat maupun di laut.

E. Dampak Penambangan Pasir bagi Masyarakat dan Lingkungan

Kegiatan penambangan pasir dilakukan di kelurahan Mandati III, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan. Daerah ini memang dikelilingi oleh lautan dan wilayah pesisir yang menghasilkan pasir berlimpah. Dengan berlimpahnya pasir mendorong para pelaku usaha untuk mendapatkan pasir tersebut. Mengingat pasir sangat dibutuhkan untuk membangun rumah maupun gedung-gedung yang lain.

Penambang adalah warga lokal yang memang sudah sejak lama bekerja menambang pasir di daerah tersebut dan mereka bertempat tinggal tidak jauh dari laut. Sedangkan pengepul pasir sendiri berasal dari daerah lain yang datang menggunakan mobil truk kecil untuk mengangkut. Setiap pagi-sore para penambang pasir mulai mengambil pasir yang ada di dasar laut. Dahulu masih menggunakan cara yang sederhana, yaitu dengan cangkul dan serok. Kegiatan ini menjadi mata pencaharian warga di sekitar laut yang di kelurahan Mandati III.

Kebanyakan dari mereka adalah penambang yang sudah melakukan pekerjaan tersebut sejak lama.Seiring dengan kemajuan teknologi dan peningkatan

56

kepentingan muncul cara penambangan pasir yang lebih modern, yaitu menggunakan alat mekanik. Alat-alat yang lebih modern tentu akan meningkatkan hasil dari penambangan, dan secara otomatis meningkatkan penghasilan dalam rupiah. Hal ini berdampak negatif pula terhadap laut dan daratan di sekitarnya.

Karena hasil yang didapat banyak tanpa mengeluarkan tenaga yang cukup besar, mereka cenderung ingin memperoleh lebih dan lebih banyak lagi. Akibatnya terjadi eksploitasi yang tidak terkendali dan merusak lingkungan. Namun penggunaan alat tersebut memungkinkan terjadinya kesenjangan antar penambang pasir, sehingga tidak digunakan lagi.Pasir-pasir yang mereka kumpulkan akan diangkut oleh kendaraan, umumnya bak terbuka atau truk. Kendaraan-kendaraan tersebut adalah milik pengepul atau pelaku usaha daerah lain. Kemungkinan kerja sama mereka sudah terjalin sejak lama, antara penambang, sopir kendaraan, serta pelaku usaha/pemilik. Namun tidak jelas perjanjian seperti apa yang mereka buat dan sepakati bersama. Hal ini terlihat ketika terjadi dampak dari akibat penambangan pasir yang tidak kunjung diatasi dan diselesaikan. Masalah yang muncul terus saja terjadi dan belum ada pemecahannya. Masyarakat lain yang bukan penambang hanya menjadi pengamat dan ikut merasakan dampak dari kegiatan yang mereka lakukan. Kegiatan penambangan yang dilakukan di kelurahan Mandati III ini pada awalnya tidak menimbulkan dampak bagi lingkungan, tetapi karena terlalu lama hal ini dilakukan terus menerus, lama kelamaan menimbulkan dampak yang besar. Hal ini terjadi karena kegiatan itu sendiri dilakukan terus-menerus dengan skala yang bertambah setiap harinya.

Dampak-dampak dari kegiatan penambangan pasir ini antara lain:

a. Air laut semakin keruh karena pasirnya terus-terusan diambil bahkan sebelum laut kembali memproduksi pasir tersebut. Hal ini terjadi sebagai akibat dari pengambilan pasir di dasar laut dalam jumlah besar.

b. Dataran di pinggiran pesisir laut yang semakin sedikit. Hal ini terjadi karena pasir-pasir di pinggiran pesisir laut tidak luput dari kegiatan penambangan.

c. Hancurnya terumbu karang dan terganggunya biota laut lainnya yang di akibatkan dari penambangan sehingga biota-biota laut kecil ada yang terangkut atau terambil.

Dampak-dampak diatas tidak memberikan kompensasi terhadap warga lokal, hal ini menjadi tidak adil melihat dampak yang harus diterima oleh warga sebagai akibat dari kegiatan penambangan di lingkungan rumah mereka. Dalam hal ini, sebaiknya kita sebagai masyarakat sebenarnya mempunyai hak untuk melakukan penambangan tersebut, tetapi kita juga sebagai masyarakat harus sadar bahwa apa yang kita lakukan selama ini akan berdampak baik pada lingkungan, dan keadaan tersebut malah sebaliknya, lingkungan menjadi rusak dan tidak menjaga lingkungan sekitar. Sebaiknya, kita tidak perlu terlalu takut dan merasa bahwa kehidupan kita hanya sampai pada hari ini saja. Sebaiknya, pemanfaatan ini harus dikurangi, sebab semakin sering dilakukan maka semakin berdampak buruk bagi lingkungan. Kita harus menyadari bahwa lingkungan ini adalah milik bersama, kita harus bisa menjaga kelestarian lingkungan dan menjaga lingkungan ini jadikan sebagai tanggung jawab bersama. Semua warga desa/kelurahan harus memiliki kesadaran tinggi akan bahayanya atau dampak yang akan ditimbulkan

58

bagi lingkungan, bukan hanya kerusakan saja tetapi sampai laut pun bisa tercemar karena adanya kegiatan penambangan pasir yang tidak ada habisnya. Kita juga berkewajiban untuk menjaga kelestarian agar di masa yang akan datang sumber daya alam tersebut tetap ada dan generasi selanjutnya dapat merasakan manfaat dari apa yang kita rasakan sekarang. Intinya adalah bahwa penambangan pasir ini sebaiknya tidak terlalu sering dilakukan jika tidak ingin lingkungannya tercemar dan berdampak buruk bagi lingkungan.

F. Solusi Masyarakat Dan Pemerintah

Berdasarkan hasil penelitian yang di ambil dari berbagai wawancara dengan para informan yang ada di kelurahan Mandati III, kurangnya kesadaran dalam diri masyarakat dalam memelihara kelestarian lingkungan yang ada di darat dan di lautan. Penambangan pasir yang di lakukan masyarakat di kelurahan Mandati III harus memikirkan kondisi lingkungan pesisir dan laut, karena dengan memelihara lingkungan pesisir dan laut para generasi bangsa juga bisa menikmati kekayaan alam yang ada di masa mendatang.

Solusi masyarakat mengenai dari kegiatan penambangan pasir, yaitu adalah sebagai berikut:

1.Masyarakat harus memikirkan generasi bangsa yang akan datang dengan menjaga kelestarian lingkungan yang di darat maupun di lautan.

2.Masyarakat mengambil kekayaan alam tak harus bersifat merusak

3.Menjaga dan memelihara lingkungan pesisir maupun di laut dengan baik.

Solusi dari pemerintah dengan adanya kegiatan penambangan pasir yang bersifat merusak ekosistem laut, yaitu adala sebagai berikut:

1.Para penambang pasir yang melakukan kegiatan penambangan pasir yang merusak habitat laut harus di hukum atau dijatuhi sanksi yang berlaku.

2.Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama dalam upaya menanggulangi para penambang pasir yang bersifat merusak.

60 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan Rumusan masalah penelitian yaitu tentang Penambangan Pasir dan kerusakan ekosistem Laut Kelurahan Mandati III Kecamatan Wangi-Wangi Selatan Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara (Tinjauan Sosiologi Lingkungan). Maka berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti dapat menyimpulkan bahwa : di dalam penambangan pasir dan kerusakan ekosistem laut terkhusus di kelurahan Mandati III Kecamatan Wangi-Wangi Selatan Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara yang menjadikan penambangan pasir sebagai sumber mata pencaharian masyarakat. Dengan demikian untuk memperoleh penghasilan para penambang pasir harus terus-menerus bekerja tanpa mengenal lelah, agar bisa memenuhi kebutuhan hidup.

Dengan pertambahnya jumlah penduduk, maka kebutuhan masyarakat pun bisa di katakan semakin meningkat. Para penambang pasir harus memperhatikan kondisi lingkungan yang ada serta menjaga SDA yang dimiliki, khususnya di daerah kelurahan Mandati III, karena dengan memelihara dan melestarikan lingkungan yang di daratan maupun di laut dari berbagai tindakan masyarakat yang bersifat merusak, seperti penambangan pasir yang mengakibatkan kerusakan ekosistem laut. Perlunya ada kesadaran dari diri manusia untuk memanfaatkan SDA yang ada dengan sebaik-baiknya, agar generasi bangsa yang akan datang bisa merasakan kekayaan alam yang ada di bumi ini, khsusnya pasir yang di wilayah pesisir dan laut di daerah kelurahan Mandati III yang di kelola oleh

masyarakat setempat dengn cara menggali pasir yang ada di laut atau penambangan pasir.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka peneliti memberikan beberapa saran yang dapat dijadikan masukan dan pertimbangan bagi pihak terkait yaitu :

1. Pada masyarakat khususnya penambangan pasir di kelurahan Mandati III Kecamatan Wangi-Wangi Selatan seperti yang kita lihat bahwa dalam proses penambanga masyarakat juga harus memperhatikan kondisi lingkungan dan tidak mengambil secara berlebihan pasir yang ada di wilayah pesisir maupun di laut, agar terjaga dan tidak tercemari dari kegiatan penambangan yang bersifat merusak.

2. Kepada masyarakat diharapkan adanya kesadaran dan kecintaan dalam mempertahankan kondisi lingkungan baik di darat maupun di laut.

3. Pada generasi muda diharapkan dapat memelihara dan melestarikan kondisi lingkungan yang ada dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, sperti para penambang pasir yang bersifat merusak.

4. Kepada pemerintah setempat khususnya pemerintah Kabupaten Wakatobi diharapkan ikut berperan aktif dalam pengawasan lingkungan di berbagai desa/kelurahan, agar para masyarakat yang melakuakan kegiatan penambangan pasir secara berlebihan dan merusakan ekosistem laut bisa di hentikan.

62

DAFTAR PUSTAKA

Adrian Sutedi. 2012. Hukum Pertambangan. Jakarta: Sinar Grafika Alfabeta(2010). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Christopher Lloyd. (1986). TEORI Sosial dan Praktik Politik. Jakarta: Rajawali Dardiri Hasyim. 2004. Hukum Lingkungan. Surakarta: Sebelas Maret University

Press

Faisal, Sanapiah.(1990). “Penelitian Kualitatif, Dasar dan Aplikasi”. Malang:

YA3

Gunawan, Suratmo.(1992). Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta : Gajah Mada University Press

Hartiwiningsih. 2008. Hukum Lingkungan Dalam Perspektif Kebijakan Hukum Pidana. Surakarta : UNS Press

Husein Umar. (1999). Metodologi penelitian : aplikasi dalam pemasaran..

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

James S. Coleman. (2008). Dasar Dasar Teori Sosial. Bandung: Nusa Media K.j. Veger M.A.(1958).REALITAS SOSIAL Reflesi filsafat social atas hubungan

individu-masyarakat dalam cakrawala sejarah sosiologi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Klaus Krippendorff. (1991). Analisis Isi, Teori dan Metodologi. Jakarta: Raja grafindo Persada.

Lexy J. Moleong. (2008). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Maman Kh. (2002). ”Menggabungkan Metode Penelitian Kuantitatif dengan Kualitatif”. Makalah Pengantar Filsafat Sain, Program Pasca Sarjana/S3, IPB

Matthew. B.Milles, Michael Huberman. (2008). Analisis data Kualitatif. Jakarta:

UI Press.

Nana Syaodah Sukmadinata. (2007). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Nasikun. (1984). Sistem Sosial Indonesia. Jakarta : CV. Rajawali

Pareto, Vilfredo, (1963) Trattato di sosiologia generale, terjemah inggris: the Mind and Society: A Treatise on General Sociologi, 4 Jilid, New York:

Dover.

Santoso, U. (2008). Dampak Negatif Pertambangan. Blog Urip Santoso Soerjono, Soekanto. (1987). Masyarakat dan kekuasaan. Jakarta:Rajawali.

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif dan R & D. Bandung Suharsimi, Arikunto.(2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.

Jakarta Rineka Cipta.(2002). Prosedur Penelitian ( Suatu Pendekatan praktek ) edisi revisi V. Jakarta: Rineka Cipta.

Sutarno NS. (2006). Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: CV. Sagung Seto Sutopo HB. (2002). Metodologi Penelitian. Surakarta: UNS Press

Kamus Besar Berbahasa Indonesia (KBBI)

UUD pasal 33 Ayat 3 Tahun 1945 Tentang Pengelolaan SDA Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 Tentang Pokok Pokok Pertambangan Golo Agustiawan, Susanti Sri. 2015. “ Dinamika Masyrakat Penambang “ ( Suatu Penelitian Di Desa Puncak Jaya, Kecematan Taluditi, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo ). Fakultas ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo 2015.

DAFTAR INFORMAN

Berikut ini merupakan daftar informan yang ditemui oleh peneliti dalam melakukan penelitian di Kabupaten Wakatobi, khususnya di kelurahan Mandati III Kecamatan Wangi-Wangi Selatan.

NO NAMA PEKERJAAN/JABATAN

1 La Ode Muh. Rahmat R. S.Sos Kepala Lurah

2 La Gono Penambang Pasir

3 La Onde Penambang Pasir

4 La Sahari Penambang Pasir

5 La Harufia Penambang Pasir

6 La Buri Masyarakat/sekaligus

pemilik modal

7 La Parisi Penambang Pasir

8 La Jaru Penambang Pasir

9 Wa biru Masyarakat setempat

10 La Acca Masyarakat Setempat

Kecamatan Wangi-Wangi Selatan Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara (Tinjauan Sosiologi Lingkungan).

A. Identitas

Nama :

Umur :

Pendidikan :

Status perkawinan :

Agama :

Pekerjaan :

Alamat :

B. Pertanyaan

1. Sejak kapan kegiatan penambangan di lakukakan….?

2. Bagaimana proses pengambilan pasir yang di kakukan ketika di dasar laut…?

3. Berapakah penghasilan perbulan dari hasil penambangan pasir…?

4. Apakah alat-alat yang di gunakan dalam penambangan pasir…?

5. Apakah penambangan pasir di jadikan sebagai sumber mata pencaharian…?

6. Apakah dalam penambangan pasir kalian sudah memikirkan dampak yang akan di timbulkan akibat dari penambangan…?

7. Apakah sejauh ini sudah ada tindakan langsung dari pemerintah untuk mengatasi permasalahan tersebut,yakni penambangan pasir…?

Gambar 2.1 wawancara dengan penambang pasir yang memindahkan pasirnya.

Gambar 2.2 wawancara dengan penambang pasir yang baru saja mengangkut pasir dari tempat penggalian.

Gambar 2.3 wawancara dengan penambang pasir

Gambar 2.4 wawancara dengan 2 orang penambang yang mengangkut pasirnya ke permukaan atau di daratan.

Gambar 2.6 wawancara dengan masyarakat setempat yang mengetahui informasi mengenai kegiatan para penambang pasir

Gambar 2.7 wawancara dengan masyarakat setempat yang mampu memberi informasi megenai tentang kegiatan para penambang.

Gambar 2.8 wawancara dengan kepala lurah Mandati III

Gambar 2.10 hasil pasir dari para penambang

RIWAYAT HIDUP

Sudarliyanto Dilahirkan di Desa Boka, Kabupaten Banggai pada tanggal 28 November 1993, dari buah cinta kasih pasangan Ayahanda Darwin La Du’a dan Ibunda Wa Sui. Penulis masuk sekolah dasar pada tahun 2000 di SDN Pada Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi dan tamat pada tahun 2006, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Wangi-Wangi dan tamat pada tahun 2009, setelah lulus SMP penulis melanjutkan pendidkkan di SMA Negeri 1 Wangi-Wangi dan tamat pada tahun 2012. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan pada program Strata Satu (S1) Progran Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

RIWAYAT HIDUP

Sudarliyanto Dilahirkan di Desa Boka, Kabupaten Banggai pada tanggal 28 November 1993, dari buah cinta kasih pasangan Ayahanda Darwin La Du’a dan Ibunda Wa Sui. Penulis masuk sekolah dasar pada tahun 2000 di SDN Pada Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi dan tamat pada tahun 2006, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Wangi-Wangi dan tamat pada tahun 2009, setelah lulus SMP penulis melanjutkan pendidkkan di SMA Negeri 1 Wangi-Wangi dan tamat pada tahun 2012. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan pada program Strata Satu (S1) Progran Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

RIWAYAT HIDUP

Sudarliyanto Dilahirkan di Desa Boka, Kabupaten Banggai pada tanggal 28 November 1993, dari buah cinta kasih pasangan Ayahanda Darwin La Du’a dan Ibunda Wa Sui. Penulis masuk sekolah dasar pada tahun 2000 di SDN Pada Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi dan tamat pada tahun 2006, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Wangi-Wangi dan tamat pada tahun 2009, setelah lulus SMP penulis melanjutkan pendidkkan di SMA Negeri 1 Wangi-Wangi dan tamat pada tahun 2012. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan pada program Strata Satu (S1) Progran Studi Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Dokumen terkait