• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komoditas Unggulan

Hasil analisis Location Quotient (LQ) dan Shift Share Analysis (SSA) di empat kecamatan di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan disajikan pada Tabel 8.Tabel 8 memperlihatkan bahwa untuk komoditas unggulan padi sawah terdapat di 3 kecamatan yaitu Kecamatan Bolaang Uki, Pinolosian dan Pinolosian Timur. Komoditas unggulan padi ladang, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kacang hijau berada di satu kecamatan yaitu di Kecamatan Bolaang Uki, komoditas unggulan jagung dan kedelai berada di 2 kecamatan yaitu di Kecamatan Pinolosian Tengah dan Pinolosian Timur.

Tabel 8Nilai LQ dan SSA Komoditas Unggulan di Empat Kecamatan di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan

Sumber : Data Diolah,Badan Pusat Statistik dan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bolang Mongondow Selatan (2012).

Komoditas unggulan kelapa berada di 3 kecamatan yaitu di Kecamatan Bolaang Uki, Pinolosian Tengah dan Pinolosian Timur. Komoditas unggulan cengkeh hanya di Kecamatan Pinolosian dan komoditas unggulan kopi berada di Kecamatan Bolaang Uki serta komoditas unggulan kakao dan lada berada di dua kecamatan yaitu di Kecamatan Pinolosian Tengah dan Pinolosian Timur.

Komoditas padi sawah memiliki sebaran paling luas dibandingkan komoditas tanaman pangan lainnya dan diusahakan petani hampir merata di seluruh kecamatan. Hal ini ditunjukkan dengan nilai LQ > 1 di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Bolaang Uki, Pinolosian dan Pinolosian Timur. Hal ini disebabkan tanaman padi merupakan bahan makanan pokok masyarakat di Indonesia dan dari potensi pengembangannya sangat baik untuk dikembangkan karena tersedia sumber air atau pengairan. Nilai LQ tertinggi terdapat pada komoditas ubi jalar di Kecamatan Bolaang Uki (6,71). Hal ini disebabkan karena

Komoditas Unggulan

Kecamatan

Bol. Uki Pinolosian P. Tengah P. Timur

LQ SSA LQ SSA LQ SSA LQ SSA

Padi sawah 1,20 0,0456 1,22 -0,0142 0,94 0,0230 1,07 0,0244 Padi ladang 2,74 0,0933 0,58 0,0345 0,48 0,1111 0,46 0,1143 Jagung 0,77 0,0126 0,96 0,0095 1,06 0,0177 1,02 0,0098 Ubi kayu 3,58 0,0359 0,22 0,0505 0,18 0,0746 0,13 0,0667 Ubi jalar 7,06 0,1332 0,12 0,1429 0,04 -0,4000 0,04 -0,6000 Kacang tanah 1,46 0,0746 0,68 0,0580 0,83 0,0323 0,64 0,0707 Kedelai 0,71 0,2500 0,26 0,3333 2,00 0,1053 1,91 0,2353 Kacang Hijau 3,22 0,0588 0,63 0,0870 0,65 0,1364 0,42 0,1818 Kelapa 1,42 0,3345 0,59 0,0175 1,26 0,4661 1,02 0,3831 Cengkeh 0,45 0,2333 2,19 1,1520 0,09 0,3521 0,62 0,1176 Kakao 0,17 0,1370 0,64 0,1101 1,79 0,0162 1,92 -0,0103 Kopi 1,55 0,0182 0,07 0,1667 0,73 0,1429 0,31 0,1818 Lada 0,24 0,3750 0,42 0,1500 1,41 0,1500 1,10 0,2000

permintaan ubi jalar dan diversifikasi pangan di Kecamatan Bolaang Uki tinggi dan areal tanam terluas hanya di kecamatan ini.

Untuk tanaman tahunan komoditas kelapa memiliki sebaran di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Bolaang Uki, Pinolosian Tengah dan Pinolosian Timur bahkan di Provinsi Sulawesi Utara sehingga ada julukan Sulawesi Utara sebagai kota Nyiur Melambai.

Hal tersebut terkait dengan banyaknya produk turunan yang dimiliki komoditas kelapa yaitu merupakan tanaman yang sangat bermanfaat karena hampir semua hasil pohon kelapa memiliki nilai ekonomis yang signifikan. Tanaman kelapa menghasilkan buah kelapa dan batang kelapa sebagai produk utama, lidi yang berasal dari daun kelapa, yang juga dapat dimanfaatkan. Sebagai produk utama, buah kelapa menghasilkan empat produk yaitu daging kelapa, air kelapa, tempurung dan sabut kelapa. Daging kelapa dapat diolah menjadi kopra dan kemudian diproses lebih lanjut menjadi minyak kelapa kasar, minyak goreng dan margarin untuk konsumsi masyarakat. Daging kelapa dapat diolah menjadi dessicated coconut. Air kelapa dapat diolah menjadi nata de coco, kecap, dan minuman air kelapa. Bungkil kopra dapat diolah menjadi bahan campuran makanan ternak. Batang kelapa dapat diolah menjadi mebel yang berkualitas tinggi. Sabut kelapa dapat diolah menjadi serat untuk berbagai keperluan, seperti sapu dan jok mobil. Tempurung kelapa umumnya dapat diolah menjadi arang tempurung dan karbon aktif. Dengan demikian komoditi kelapa dapat berperan sebagai penggerak utama perekonomian daerah. Disamping itu juga komoditas kelapa telah memiliki industri pengolahan baik, sebagai minyak kelapa maupun dalam bentuk kopra yang telah di ekspor ke beberapa negara tetangga seperti Filipina, Malaysia dan Singapura.

Tabel 8 menunjukkan bahwa komoditas padi sawah berada di 4 kecamatan. Komoditas padi sawah di Kecamatan Bolaang Uki walaupun dilihat dari luas areal tanamnya memiliki luasan yang terkecil dibandingkan di tiga kecamatan lainnya, namun merupakan komoditas unggulan di Kecamatan Bolaang Uki dan Pinolosian Timur. Sedangkan di Kecamatan Pinolosian memiliki luas areal tanam yang terbesar namun padi sawah bukan merupakan komoditas unggulan di Kecamatan Pinolosian. Hal ini disebabkan di Kecamatan Pinolosian pertumbuhannya negatif/nilai SSA(-0,0142) artinya terjadi penurunan aktivitas usahatani padi sawah. Hal ini disebabkan lahan sawah mengalami alih fungsi lahan menjadi lahan kering, pemukiman dan bangunan perkantoran sehingga lahan sawah luasannya semakin berkurang.

Demikian juga halnya dengan komoditas kakao di Kecamatan Pinolosian Timur dan komoditas ubi jalar di Kecamatan Pinolosian Tengah memiliki laju pertumbuhan yang negatif. Untuk komoditas kakao dilihat dari luas areal tanam memiliki luas yang terkecil dibandingkan dengan ketiga kecamatan lainnya, namun karena di tiga kecamatan tersebut kakao bukan merupakan komoditas unggulan, sementara di Kecamatan Bolaang Uki komoditas unggulannya adalah kakao.

Komoditas cengkeh di Kecamatan Pinolosian memiliki laju pertumbuhan yang paling tinggi dengan nilai SSA sebesar 1,1520.Hal ini menunjukkan bahwa komoditas cengkeh memiliki potensi tinggi untuk dapat dikembangkan dan petani di Kecamatan Pinolosian menganggap cengkeh adalah komoditas yang menguntungkan dan menjanjikan dibandingkan komoditas lainnya. Di samping

itu komoditas cengkeh telah memiliki industri pengolahan yang dikembangkan oleh salah satu anak perusahaan Djarum Kudusyang mampu menyerap tenaga kerja di Kecamatan Pinolosian bahkan di luar kecamatan. Pengamatan di lapang menunjukkan bahwa diKecamatan Pinolosian selain tanaman cengkeh petani juga menanam komoditas lain tetapi bukan merupakan tanaman utama.

Berdasarkan nilai LQ>1 dan shift share>0 pada Tabel 8, maka ada 13 komoditas unggulan di wilayah penelitian. Komoditas unggulan tersebut terdiri dari 8 komoditas unggulan tanaman pangan dan 5 komoditas ungulan tanaman tahunan. Adapun komoditas unggulan masing-masing kecamatan seperti tertera pada Tabel 9.

Tabel 9. Komoditas Unggulan Masing-Masing Kecamatan di Kabupeten Bolaang Mongondow Selatan

Tabel 9 memperlihatkan bahwa Kecamatan Bolaang Uki mempunyai 8 komoditas unggulan yaitu 6 tanaman pangan dan 2 tanaman tahunan. Untuk tanaman pangan umumnya ditanam di wilayah yang relatif datar sampai berombak (0- 25%) sedangkan tanaman tahunan kelapa dan kopi berada di wilayah berombak sampai bergunung (>25%). Kecamatan Pinolosian komoditas unggulannya adalah cengkeh. Kecamatan Pinolosian Tengah mempunyai 5 komoditas unggulan yaitu 2 tanaman pangan (jagung dan kedelai) dan 3 tanaman tahunan (kelapa, kakao dan lada). Kecamatan Pinolosian Timur mempunyai 5 komoditas unggulan yaitu 3 tanaman pangan (padi sawah, jagung dan kedelai) dan 2 tanaman tahunan yaitu kelapa dan lada.

Kesesuaian Lahan Komoditas Unggulan

Dasar penilaian kesesuaian lahan adalah satuan lahan, berdasarkan Peta Satuan Lahan skala 1 : 50.000 (BBSDLP, 2012) Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, jenis satuan lahannya seperti yang disajikan pada Tabel 10. Tabel 10 menunjukkan bahwa wilayah tersebut terdiri dari 4 Landform yaitu Landform Aluvial, Landform Marin, Landform Fluvio-marin dan Landform Volkanik.

Wilayah penelitian ini didominasi oleh landform pegunungan volkan sangat tertoreh dengan luas 45.994 ha (41,07%) dengan relief bergunung (> 40%) dan didominasi tanah Inceptisol 85.005 ha (75,91%).

Tabel 10 menunjukkan bahwa Landformpegunungan volkan sangat tertorehterluas yaitu 25.679 ha (22,93%) dan satuan lahan 5 (pesisir lumpur)

Kecamatan Komoditas

Bolaang Uki : Padi Sawah, Padi Ladang, Ubi Kayu, Ubi Jalar, Kacang Tanah, Kacang Hijau, Kelapa dan Kopi

Pinolosian : Cengkeh

Pinolosian Tengah : Jagung, Kedelai, Kelapa, Kakao dan Lada Pinolosian Timur : Padi sawah, Jagung, Kedelai, Kelapa dan Lada

luasnya paling kecil yaitu sekitar 174 ha (0,15%). Bahan induknya terdiri dari aluvium seluas 9.318 ha (8,33%), aluvium marin seluas 1.548 ha (1,38%), tuf volkan dasit-andesit seluas 85.752 ha (76,57%) dan granodiorit-diorit seluas 15.370 ha (13,73%).

Lereng 0 – 3% dengan relief datar terdapat di 5 macam satuan lahan yaitu satuan lahan 1 (dataran banjir), satuan lahan 2 (dataran koluvial), satuan lahan 5 (pesisir lumpur), satuan lahan 6 (dataran fluvio-marin) dan satuan lahan 7 (pesisir pasir).. Lereng > 40% ada di 3 satuan lahan yaitu satuan lahan 11 (pegunungan volkan sangat tertoreh), satuan lahan 13 (kerucut anakan volkan sangat tertoreh) dan satuan lahan 14 (intrusi volkan). Penggunaan lahan terdiri dari sawah, tegalan, semak belukar, kebun campuran, perkebunan dan hutan.

Landform Aluvial terdiri atas dataran banjir dan dataran koluvial, berbahan induk aluvium dengan relief datar (lereng 0-3%), agak datar (1-3%) , agak landai (lereng 3-8%) dan agak bergelombang (5 – 8%). LandformAluvialmerupakan wilayah yang terbentuk karena proses fluvial dari bahan endapan sungai, biasanya berlapis-lapis dengan tekstur beragam, dicirikan oleh adanya kerikil/batu yang bentuknya membulatdengan relief datar.

Landform Marin berada pada posisi di sebagian garis pantai, dan mempunyai batas yang kontras dengan dataran aluvial atau dataran/perbukitan volkan di belakangnya. Landform Marin terbentuk karena proses pengendapan bahan-bahan dibawah pengaruh atau lingkungan marin pada wilayah datar agak cekung.

Landform ini terdiri atas pesisir pasir dan pesisir lumpur. Grup marin, dijumpai 2landform yaitu pesisir lumpur dengan relief datar (lereng 0 – 3%)dan pesisir pasir dengan relief datar (lereng 0 - 3%).

Landform Fluvio-Marin terbentuk proses pengendapan marin yang posisinya relatif sudah jauh dari asal pembentukannya dan sudah banyak dipengaruhi oleh bahan fluvial. Landform ini terdiri atas dataran fluvio-marindengan relief datar (lereng 0 – 3%).

Landform Volkanik (wilayah berbukit dan bergelombang) merupakan dataran yang terbentuk dari hasil letusan gunung api. Grup volkanik menutupi sebagian besar daerah penelitian dengan bahan induk tanah secara umum dari tuf dan lava, terdiri dari dataran volkan bergelombang dengan relief bergelombang (lereng 8 – 15%), perbukitan volkan sangat tertoreh dengan relief berbukit (lereng 15 – 25%), pengunungan volkan sangat tertoreh dibedakan 2 satuan lahan dengan relief bergunung (lereng 25 – 40%) dan (lereng >40%), intrusi volkan dibedakan 2 satuan lahan dengan relief berbukit (lereng 25 – 40%) dan bergunung (lereng>40%) serta kerucut anakan volkan sangat tertoreh dengan relief berbukit (lereng >40%) dibedakan 1 satuan lahan.

Tabel 10 dan Gambar 4 memperlihatkan bahwa dari 14 satuan lahan ini masih termasuk kawasan budidaya, kawasan hutan dan suaka alam. Untuk memisahkan kawasan budidaya dan kawasan lindung dilakukan dengan cara mengoverlay peta satuan lahan dari BBSDLP dengan peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten. Hasil yang didapatkan adalah dari 14 satuan lahan tersebut hanya ada 10 satuan lahan yang termasuk dalam kawasan budidaya yaitu satuan lahan 1, 2, 3, 4, 6, 8, 9, 10, 11 dan 12, dan kawasan lindung terdiri dari 4 satuan lahan. Luas kawasan budidaya dan kawasan lindung hasil dari penapisan satuan lahan dengan peta RTRW kabupaten disajikan pada Tabel 11.

Tabel 10. Satuan Lahan di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Propinsi Sulawesi Utara

Sumber : Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (2012) Satuan

Peta Lahan

Landform Relief/Lereng

(%) Bahan Induk Jenis Tanah Penggunaan lahan

Luas

ha %

1 Dataran banjir Datar

(0-3%)

Aluvium

Typic Endoaquepts Typic Endoaquents

Sawah, kebun campuran, tegalan, semak belukar

3.242 2,90

2 Dataran koluvial Datar

(0-3%)

Aluvium Typic Eutrudepts Aquic Eutrudepts Typic Endoaquepts

Sawah, kebun campuran, tegalan, semak belukar

2.842 2,54

3 Dataran koluvial Agak landai (3-8%)

Aluvium Typic Eutrudepts Typic Endoaquepts

Sawah, kebun campuran, tegalan, semak belukar

1.963 1,75 4 Dataran koluvial Agak Bergelombang

(5-8%)

Aluvium Typic Eutrudepts Typic Endoaquepts

Sawah, kebun campuran, tegalan, semak belukar

1.271 1,14

5 Pesisir lumpur Datar

(0-3%)

Aluvium marin Typic Fluvaquents Sulfic Fluvaquents

Sawah, kebun campuran, tegalan, semak belukar, hutan mangrove

174 0,15

6 Dataran fluvio-marin Datar (0-3%)

Aluvium marin Typic Endoaquepts Typic Eutrudepts

Sawah, kebun campuran, tegalan, semak belukar

561 0,50

7 Pesisir pasir Datar

(0-3%)

Aluvium marin Typic Udipsamments Typic Psammaquents

Kebun campuran, tegalan, semak belukar 813 0,73 8 Dataran volkan Bergelombang Bergelombang (8-15%) Tuf volkan dasit-andesit Typic Eutrudepts Typic Hapludalfs

Kebun campuran, hutan, tegalan, semak belukar 9.235 8,25 9 Perbukitan volkan sangat tertoreh Berbukit (15-25%) Tuf volkan dasit-andesit Typic Eutrudepts Typic Hapludalfs Pachic Hapludolls

Kebun campuran, hutan, tegalan, semak belukar 24.843 22,18 10 Pegunungan volkan sangat tertoreh Bergunung (25-40%) Tuf volkan dasit-andesit Typic Eutrudepts Typic Hapludands

Perkebunan, hutan, tegalan, semak belukar 25.679 22,93 11 Pegunungan volkan sangat tertoreh Bergunung (>40%) Tuf volkan dasit-andesit Typic Hapludands Typic Eutrudepts

Kebun campuran, hutan, semak belukar

20.315 18,14

12 Intrusi volkan Berbukit

(25-40%)

Granodiorit dan diorite

Typic Eutrudepts Typic Hapludalfs

Kebun campuran, hutan 14.185 12,67 13 Kerucut anakan volkan

sangat tertoreh Berbukit (>40%) Tuf volkan dasit-andesit Typic Hapludands Typic Eutrudepts

Kebun campuran, hutan, semak belukar

5.680 5,07

14 Intrusi volkan Bergunung

(>40%) Granodiorit dan diorite Typic Eutrudepts Typic Hapludalfs Hutan 1.185 1,06 Jumlah 111.987 100,00 53

31 Gambar 4. Peta Satuan Lahan di Empat Kecamatan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan

Tabel 11. Luas Kawasan Budidaya dan Kawasan Lindung di Empat Kecamatan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan

Sumber : Bappeda Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (2010).

Tabel 11 menunjukkan bahwa berdasarkan peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan tahun 2010, alokasi lahan yang dapat dikembangkan untuk pertanian (kawasan budidaya) seluas 69.694,0ha (62%) dan kawasan lindung seluas 42.293,1 ha (38%). Kawasan budidaya merupakan kawasan yang akan dianalisis lebih lanjut dalam penelitian ini.

Satuan lahan yang berada pada kawasan budidaya itulah yang akan dinilai kesesuaian lahannya. Hasil evaluasi kesesuaian lahan untuk komoditas unggulan untuk masing-masing kecamatan disajikan pada Tabel 12 sedangkan hasil evaluasi kesesuaian lahan komoditas unggulan pada setiap satuan lahan dapat dilihat pada Lampiran 10 dan 11.

Tabel 12. Kesesuaian Lahan Komoditas Unggulan di Empat Kecamatan di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan

Keterangan : S1 = Sangat Sesuai ; S2 = Agak Sesuai; S3 = Sesuai Marginal; N = Tidak Sesuai

Kecamatan Kawasan Budidaya (ha) Kawasan Lindung Jumlah (ha) HL (ha) SA (ha) KA (ha) Jumlah (ha) B. Uki 25.044,9 6.297,6 7.694,9 - 13.992,5 39.037,4 Pinolosian 14.239,9 11.305,0 1.283,5 - 12.588,5 26.828,4 P.Tengah 11.323,1 8369,9 1.620,0 1.081,8 11.071,7 22.394,8 P.Timur 19.086,0 4.529,7 - 110,7 4.640,4 23.726,4 Jumlah 69.694,0 42.293,1 111.987,0 Komoditas Unggulan

Kelas kesesuaian lahan S1 (ha) S2 (ha) S3 (ha) S N (ha) % (ha) % BOLAANG UKI Padi sawah 2.536,6 4.941,1 4.925,9 12.403,6 49,5 12.641,3 50,3

Padi Ladang & K. Hijau 2.536,6 3.838,4 6.028,6 12.403,6 49,5 12.641,3 50,3

U. Jalar, U. Kayu & K.Tanah 2.536,6 3.838,4 4.925,9 11.300,9 45,1 13.743,9 54,9

Kopi 0,0 11.342,7 9.470,7 20.771,6 82,9 4.273,3 17,1

Kelapa 2.536,6 4.941,1 13.294,0 20.771,6 82,9 4.273,3 17,1

PINOLOSIAN

Cengkeh 3.402,7 5.511,9 5,239,0 14.153,6 99,4 86,3 0,6

PINOLOSIAN TENGAH

Jagung, Kedelai, & Lada 831,3 1.789,7 2.330,4 4.951,4 43,7 6.371,7 56,3

Kakao 2.621,0 1.805,5 1.875,6 6.302,1 55,7 5.021,0 44,3

Kelapa 831,3 2.314,7 3.156,1 6.302,1 55,7 5.021,0 44,3

PINOLOSIAN TIMUR

Padi sawah 406,6 6.047,0 2.233,2 8.686,8 45,5 10.399,2 54,5

Jagung, Kedelai, & Lada 406,6 5.682,1 2.598,1 8.686,8 43,6 10.399,2 54,5

Tabel 12 menunjukkan bahwa ada komoditas yang memiliki kesesuaian lahan yang sama yaitu komoditas padi ladang dan kacang hijau, komoditas ubi jalar, ubikayu dan kacang tanah serta komoditas jagung kedelai dan lada. Hal ini disebabkan karena kriteria kesesuaian lahan pada komoditas tersebut memiliki perbedaan yang sangat kecil atau hampir sama.

Tabel 12 menunjukkan bahwa berdasarkan luasannya, lahan yangsesuai untuk padi sawah seluas 21.090,3 ha (33%) yang berada di Kecamatan Bolaang Uki dan di Kecamatan Pinolosian Timur dimana kesesuaian lahan S1 seluas 2.943,2 ha, S2 seluas 10.988,1 ha, S3 seluas 7.159,1 ha. Dari luasan tersebut terlihat bahwa kesesuaian lahan S2 > S3 > S1. Kelas kesesuaian lahan S1 terbesar di Kecamatan Bolaang Uki. Kelas kesesuaian lahan S2 terbesar di Kecamatan Pinolosian Timur dan untuk kelas kesesuaian S3 berada di Kecamatan Bolaang Uki.

Hal ini disebabkan karena faktor pembatas utamanya adalah drainase dan bahaya erosi (lereng) karena komoditas padi sawah membutuhkan lereng yang datar dan sangat membutuhkan air.Untukdapat dikembangkan bagi pertanian lahan basah diperlukan usaha-usaha perbaikanterhadap kondisi tanah dan irigasi sehingga bisa didapat kelas kesesuaian lahanyang lebih baik.

Sub kelas kesesuaian lahan beserta peta kesesuaian lahan untuk komoditas unggulan padi sawah disajikan pada Tabel 13 dan Gambar 5, dan untuk komoditas lainnya peta kesesuaian lahan dan sub kelas kesesuaian lahan beserta luasannya dapat dilihat pada Lampiran 25 sampai 38.

Tabel13. Subkelas Kesesuaian Lahan untuk Komoditas Padi Sawah di Kecamatan Bolaang Uki dan Pinolosian Timur

Sub Kelas Faktor

Pembatas Satuan lahan LUAS Ha % S1 Sangat Sesuai - 2, 3 2.943,2 4,69

S2oa Agak Sesuai Draenase 1, 6 1.467,5 2,34 S2eh Agak Sesuai Bahaya erosi 4,8 9.520,5 15,17 S3eh Sesuai Marginal Bahaya erosi 9 7.159,1 11,40 Neh Tidak Sesuai Bahaya erosi 10, 11 23.040,4 36,71

SA Suaka Alam - 7.694,9 12,26

KA Konservasi Air - 110,9 0,18

HL Hutan Lindung - 10.827,3 17,25

Lahan yang sesuai untuk komoditas unggulan untuk padi ladang dan kacang hijau seluas 12.403,6 ha (49,5%) dimana kelas kesesuaian S1 seluas 2.536,6 ha, S2 seluas 3.838,4 ha dan S3 seluas 6.028,5 ha. Lahan yang sesuai untukkomoditas unggulan untuk ubi kayu, ubi jalar dan kacang tanah seluas 11.300,9 ha (45,1%) dimana S1 seluas 2.536,6 ha, S2 seluas 3.838,4 ha dan S3 seluas 4.925,9 ha. Komoditas ini berada di Kecamatan Bolaang Uki dan dari luasan tersebut terlihat bahwa kesesuaian lahan S3 > S2 > S1. Hal ini disebabkan karena faktor pembatas utamanya adalah bahaya erosi (lereng) dan drainase yang membutuhkan lereng yang relatifdatar (Lampiran 25, 26, 27 dan 28).

Lahan yang sesuai untuk komoditas unggulan kopi di Kecamatan Bolaang Uki seluas 20.771,6 ha (82,9%) dengan kelas kesesuaian lahan S1 tidak ada, S2 seluas 11.300,9 ha dan S3 seluas 8.368 (Lampiran 29 dan 30).

Luas lahan yang sesuai untuk komoditas unggulan kelapa seluas 41.419 ha (78,63%) dimana kelas kesesuaian lahan S1 seluas 3.774,5 ha, S2 seluas 13.302,8 ha, S3 seluas 24.339,8 ha. Hampir sebagian besar dari total luas lahan yang sesuai untuk kelapa terbesardi tiga kecamatan yaitu Kecamatan Bolaang Uki, Kecamatan Pinolosian Timur dan Kecamatan Pinolosian Tengah, dimana potensi kesesuaian lahannyaadalah S3 >S2 > S1. Kelas kesesuaian S1 dan S3 terbesar di Kecamatan Bolaang Uki, S2 terbesar di Kecamatan Pinolosian Timur (Lampiran 31 dan 32).

Lahan yang sesuai untuk komoditas unggulan cengkeh seluas 14.153,6 ha (99,4%) dimana kelas kesesuaian lahan S1 seluas 3.402,7 ha, S2 seluas 5.511,9 ha dan S3 seluas 5.239 ha. Komoditas ini berada di Kecamatan Pinolosian dengan kesesuaian lahan S2 >S3> S1 (Lampiran 33 dan 34).

Lahan yang sesuai untuk komoditas unggulan jagung, kedelai dan lada seluas 13.638,3 ha (29,57%) dimana kelas kesesuaian S1 seluas 1.237,9 ha, S2 seluas 7.471,8 ha dan S3 seluas 4.928,6 ha berada di Kecamatan Pinolosian Tengah dengan luasan S1 terbesar di Kecamatan Pinolosian Tengah dan kelas kesesuaian S2 dan S3 terbesar di Kecamatan Pinolosian Timur (Lampiran 35 dan 36).

Lahan yang sesuai untuk untuk komoditas unggulan kakao seluas 6.302,1 ha (55,7%) dimana kelas kesesuaian lahan S1 seluas 2.621 ha, S2 seluas 1.805,5 ha dan S3 seluas 1.875,7 ha. Komoditas unggulan kakao ini berada di

Kecamatan Pinolosian Tengah dengan kelas kesesuaian S1>S3> S2 ( Lampiran 37 dan 38).

Hal ini disebabkan karena tanaman kelapa ini memang merupakan salah satu komoditas sudah menjadi budaya masyarakat Sulawesi Utara karena sudah diusahakan oleh penduduk secara turun temurun dan hasil dari kelapa mudah untuk dipasarkan.

Hasil evaluasi kesesuaian lahan ini menunjukkan bahwa Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan memiliki potensi lahan yang cukup besar untuk pengembangan tanaman tahunan/perkebunan, karena sebagian besar dari wilayahnya berombak yang sangat cocok untuk pengembangan tanaman tahunan/perkebunan. Pada umumnya semua komoditas unggulan, faktor pembatas utamanya adalah drainase dan bahaya erosi/lereng curam.

Pewilayahan Komoditas Pertanian

Analisis Kelayakan Finansial

Hasil analisis kelayakan usahatani pada Tabel 14 menunjukkan bahwa

seluruh komoditas secara ekonomis menguntungkan terlihat dari nilai R/C ratio >1 untuk tanaman pangan dan untuk tanaman tahunan dari B/C ratio > 1 dan lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 40– 52.

Tabel 14. Analisis Kelayakan Usahatani Komoditas Unggulan di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan

Dari segi teknis agronomis, komoditas unggulan ini memiliki tingkat toleransi yang tinggi terhadap kondisi tanah dan iklim.Dilihat dari peluang pasar yang ada, komoditas-komoditas tersebut memiliki permintaan pasar yang tinggi, baik pasar lokal maupun pasar lintas daerah. Khususnya komoditas jagung, merupakan salah satu serealia yang strategis dan bernilai ekonomi serta mempunyai peluang untuk dikembangkan karena kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat dan protein setelah beras. Hampir seluruh bagian tanaman jagung dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Batang dan daun tanaman yang masih muda dapat digunakan untuk pakan ternak, daun tanaman yang tua (setelah dipanen) dapat digunakan untuk pupuk hijau atau kompos. Saat ini cukup banyak yang memanfaatkan batang jagung untuk kertas. Kegunaan lain dari jagung adalah sebagai pakan ternak, bahan baku farmasi, dextrin, perekat, tekstil, minyak goreng, dan etanol dan sudah ada permintaan dari Provinsi Gorontalo yang selanjutnya di ekspor ke negara tetangga Malaysia walaupun masih dalam jumlah yang relatif sedikit.

Demikian juga dengan komoditas kelapa, memiliki prospek yang baik di masa yang akan datang karena multifungsi yang dimiliki komoditas kelapa, petani yang biasanya hanya menjual kopra, sekarang mereka juga telah membuat Virgin

Tanaman Pangan Periode Analisis (Tahun) Biaya Produksi (Rp.) Penerimaan (Rp.) Keuntungan (Rp.) R/C ratio Padi Sawah 1 3.499.500 13.812.500 10.313.000 3,95 Padi Ladang 1 4.568.000 14.400.000 9.832.000 3,94 Jagung 1 3.870.000 7.917.500 4.047.500 2,05 Ubi kayu 1 3.852.000 9.916.950 6.064.950 2,57 Kedelai 1 3.835.250 7.330.000 3.494.750 1,91 Ubi jalar 1 5.058.750 13.800.000 8.741250 2,73 Kacang tanah 1 3.257.600 7.170.000 3.912.400 2,20 Kacang Hijau 1 4.985.000 7.165.000 2.180.000 1,44 Tanaman Tahunan Investasi (Rp/ha) NPV (Rp) (i = 15%) IRR (%) B/C ratio Cengkeh 30 63.300.000 50.576.373 38,75 3,31 Kopi 8 32.380.000 67.905.617 57,41 3,95 Kakao 25 152.890.000 110.462.059,5 55,96 3,92 Lada 8 42.800.000 20.310.757 43,99 1,76 Kelapa 30 21.770.000 17.806.293,2 35,04 2,96 Nilai standar > 1,0

Coconut Oil (VCO), nata de coco, dan lain-lain yang bisa menambah penghasilan bagi petani.

Nilai R/C ratio untuk komoditas tanaman pangan tertinggi adalah komoditas padi sawah yaitu 3,95 dengan keuntungan sebesar Rp. 10.313.000. Nilai R/C ratio yang terendah adalah komoditas kacang hijau yaitu 1,44 dengan keuntungan sebesar Rp.2.180.000. Dilihat dari penggunaan biaya produksinya kacang hijau lebih tinggi dibandingkan dengan padi sawah, namun pendapatan padi sawah lebih tinggi dibandingkan dengan kacang hijau. Dikatakan layak untuk diusahakan karena nilai dari R/C ratio > 1 dan keuntungan yang didapatkan lebih besar daripada biaya produksinya.

Nilai B/C ratio tertinggi untuk komoditas tanaman tahunan adalah komoditas kopi yaitu 3,95. Dikatakan layak untuk diusahakan karena nilai dari B/C ratio > 1 dan nilai dari IRR lebih tinggi dari bunga bank (discount rate) yang ditetapkan dan nilai NPV yang hampir dua kali lipat dari investasi (biaya produksi).

Pewilayahan Komoditas Unggulan

Komoditas unggulan yang dibudidayakan di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan jenisnya cukup banyak yaitu 13 komoditas. Luas kepemilikan lahan usahatani berkisar antara 0,5 sampai 3,5 ha, terdiri dari lahan

sawah berkisar antara 0,25– 1,0 ha dan lahan kering (tegalan) berkisar dari 0,25 - 2,5 ha. Lahan sawah pada umumnya ditanami padi 2 kali dalam setahun

dan kemudian diberakan. Sumber air diperoleh dari hujan dan pada saat musim kemarau sumber airnya diambil dari sungai kecil menggunakan pompa air untuk mengairi sawah mereka.

Pengusahaan tanaman pangan dan tanaman perkebunan di lahan kering pada umumnya dilakukan dengan sistem tumpang sari atau tumpang gilir, sehingga dalam penyusunan pewilayahan komoditas, beberapa komoditas unggulan tanaman pangan dan tanaman perkebunan diusahakan/cocok dikembangkan di wilayah tersebut, kecuali di Kecamatan Pinolosian, komoditas cengkeh hanya ditanam secara monokultur.

Atas dasar sistem tumpangsari dan tumpang gilir itu, untuk memudahkan penyusunan pewilayahan maka komoditas yang sering di tanam dengan sistem tumpangsari dan tumpang gilir kemudian dikelompokkan menjadi komoditas

Dokumen terkait