• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.1 Gambaran Umum Wilayah

Kabupaten Sampang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Pulau

Madura selain Kabupaten Bangkalan, Pamekasan dan Sumenep. Kabupaten ini

terletak pada 113o08’ hingga 113o39’ Bujur Timur dan 06o05’ hingga 07o13’Lintang Selatan.Batas Daerah, di sebelah utara berbatasan dengan Laut

Jawa. Di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Pamekasan. Di sebelah

selatan berbatasan dengan Selat Madura. Sedangkan di sebelah barat berbatasan

dengan Kabupaten Bangkalan.

Secara umum wilayah Kabupaten Sampang berupa daratan, terdapat satu

pulau yang terpisah dari daratan bernama Pulau Mandangin/Pulau Kambing.Luas

wilayah Kabupaten Sampang yang mencapai 1233,33 km2 habis dibagi menjadi

14 kecamatan dan 186 desa/ Kelurahan.Karena lokasi Kabupaten Sampang berada

di sekitar garis khatulistiwa, maka seperti kabupaten lainya di Madura, wilayah ini

mempunyai perubahan iklim sebanyak 2 jenis setiap tahun, musim kemarau dan

musim penghujan. Bulan Oktober sampai Maret merupakan musim penghujan

sedangkan musim kemarau terjadi pada bulan April sampai September.

Kabupaten Sampang terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan iklim

tropis, musim penghujan biasanya terjadi pada Oktober sampai Maret, musim

kemarau biasanya terjadi pada April sampai September.Rata-rata hari hujan

tertinggi terdapat di Kecamatan Omben dan Ketapang, sedang yang terendah

19

bulanan tertinggi terdapat di Kecamatan Omben dan Banyuates, sedang yang

terendah terdapat di Kecamatan Camplong dan Pangarengan. Bulan-bulan dengan

curah hujan tinggi terjadi pada Juli dan Desember, sedang bulan dengan curah

hujan paling rendah terjadi pada Juni dan Agustus.Area sawah di Kabupaten

Sampang diairi oleh tiga jenis sumber air yaitu air hujan, air sungai dan air tanah.

Sawah yang diairi oleh air hujan seluas 11.082 Ha, air sungai seluas 3.452 Ha dan

sawah yang diairi oleh air tanah seluas 226,70 Ha. Kecamatan yang menggunakan

sumber pengairan air tanah adalah Kecamatan Sampang, Omben, Jrengik dan

Sokobanah.

4.2 Biaya Tetap

Biaya tetap yang terdiri dari biaya peralatan yang digunakan proses

produksi telur asin dan peralatan yang digunakan untuk hasil usaha. Besar

kecilnya biaya tergantung kualitas telur asin yang diproduksi.

4.3 Biaya Oprasional

Biaya oprasional terdiri dari biaya telur bebek, garam, serbuk batu, sekam

dan biaya tenaga kerja.

4.4 Pendapatan Hasil Usaha

Pola penjualan hasil produksi telur asin yaitu dengan pemasaran mengirim

ke pasar Srimangunan yang berada di kota sampang. Hasil pendapatan dipaparkan

tabel sebagai berikut :

Tabel 1 : Pendapatan Produksi Telur Asin H. HamidahDesa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang

BULAN PRODUKSI

TELUR HARGA/BUTIR PENDAPATAN

Agustus 2016 500 2000 1.000.000

20 Oktober 2016 400 2000 800.000 November 2016 400 2000 800.000 Desember 2016 400 2000 800.000 Januari 2017 400 2000 800.000 Februari 2017 400 2000 800.000 Maret 207 500 2000 1.000.000 April 2017 500 2000 1.000.000 Mei 2017 500 2000 1.000.000 Juni 2017 900 2000 1.800.000 Juli 2017 900 2000 1.800.000 Jumlah 6.300 24.000 12.600.000 Rata-Rata 525 2000 1.050.000

Keuntungan (Benefit) yang diperoleh oleh H.Hamidah pengusaha telur asin

di desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang dapat dipaparkan

sebagai berikut :

Biaya = Biaya Tetap + Biaya Tidak Tetap

= 23.123 + 933.330

= 956.453

Keuntungan = Pendapatan Rata Rata – Biaya

= 1.050.000 – 956.453

= 93.517

4.5 Analisa Usaha

Data yang diperoleh dilakukan analisis usaha dengan menghitung Analisa

21

Analisa R/C Rasio

Tabel 2 Hasil Analisa R/C Rasio Usaha Telur Asin

Uraian Nilai

Penerimaan Usaha (Rp) 1.050.000

Total Biaya (Rp) 956.453

R/C Ratio 1,09

Nilai R/C Rasio adalah perbandingan antara penerimaan dengan biaya

produksi. Berdasarkan penerimaan dan biaya yang dikeluarkan, nilai R/C rasio

atas biaya total yang diperoleh adalah sebesar 1,09 dengan R/C sebesar 1,09

berarti untuk setiap Rp 100.000 biaya yang dikeluarkan, maka usaha telur asin

memberikan penerimaan sebesar Rp. 109.000,-. Dengan rasio sebesar 1,09

menunjukkan bahwa usaha telur asin menguntungkan.

Berdasarkan teori yang ditemukan Harmono dan Andoko, bahwa jika nilai

R/C rasio lebih besar dari satu (R/C > 1). Hal ini menunjukkan bahwa setiap nilai

rupiah yang dikeluarkan dalam produksi akan membeikan manfaat sejumlah nilai

penerimaan yang diperoleh. Dari hasil perhitungan R/C rasio yang didapat sebesar

1,09. Hal tersebut menunjukkan bahwa R/C rasio > 1. Maka usaha telur asin

H.Hamidah di Desa Taddan Kecamatan Camplong Kabupaten Sampang layak

22

4.3 Analisis B/C Rasio

Tabel 3 Hasil Analisis B/C Rasio Usaha Telur Asin

Uraian Nilai

Pendapatan (Rp) 93,517

Total Biaya (Rp) 956.453

B/C Rasio 0,09

Nilai B/C Rasio adalah perbandingan antara pendapatan dengan biaya

produksi. Berdasarkan penerimaan dan biaya yang dikeluarkan, nilai B/C rasio

atas biaya total yang diperoleh adalah sebesar 0,09. Halini menunjukan bahwa

dengan B/C sebesar 0,06 berarti untuk setiap Rp 100.000 biaya yang dikeluarkan,

maka usaha telur asin akan memperoleh keuntungan atau pendapatan sebesar Rp.

9000,. Dengan B/C rasio sebesar 0,09 menunjukkan bahwa usaha telur asin

menguntungkan untuk dijalankan.

Berdasarkan teori yang ditemukan Harmono dan Andoko (2003) , bahwa

suatu usaha dikatakan layak dan memberikan manfaat apabila nilai B/C lebih

besar dari nol (B/C > 0). Semakin besar nilai B/C maka semakin besar nilai

manfaat yang diperoleh dari usaha tersebut. Dari hasil perhitungan nilai B/C rasio

usaha telur asin diH.Hamidah di Desa Taddan Kecamatan Camplong sebesar 0,09.

Dengan kata lain B/C > 0, berarti usaha tersebut layak untuk dijalankan dan dapat

23

4.4 Analisa BEP (Break Event Point)

Tabel 4 Hasil analisa BEP (Break Event Point)Usaha Telur Asin

Uraian Nilai Jumlah

A.Total Biaya (Rp) 956.453 B.Harga Jual Per Telur (Rp) 2000 C.Total Produksi (Kg) 6300

BEP Produksi (A/B) (Kg) 478,2

BEP Harga (A/C) (Rp) 151,8

Berdasarkan analisa pada tabel 3, dapat diketahui bahwa BEP yang

diperoleh pada usaha telur asin sebesar 478,2 kg artinya usaha telur asin tersebut

tidak untung dan tidak rugi pada level output 478,2 kg, usaha tersebut baru akan

mendapat keuntungan dari jika output lebih besar dari 478,2 kg. Usaha telur asin

mendapat keuntungan dari selisih produksi yang dihasilkan. Sedangkan BEP

harga sebesar 151,8,- artinya usaha telur asn tidak untung dan tidak pula rugi pada

harga 1.518 dan baru akan dimulai mendapat keuntungan dari selisih jumlah per

24

BAB V

Dokumen terkait