Karakteristik Pedagang
Dalam menyampaikan komoditi ayam petelur afkir dari produsen hingga ke tangan konsumen akan melalui beberapa lembaga pemasaran. Dalam penelitan ini terdapat beberapa lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran dalam pemasaran ayam afkir di Kota Binjai yaitu pedagang pengumpul (agen) dan pedagang pengecer. Teknik pengambilan sampel untuk semua responden pedagang dilakukan dengan menggunakan snowball sampling yang berarti teknik pengambilan dengan mengikuti alur pemasaran ayam afkir di daerah penelitian berdasarkan informasi yang diperoleh dari setiap pedagang yang merupakan pelaku pasar sebelumnya. Responden pedagang yang ditelusuri adalah pedagang pengumpul 2 orang, dan pedagang pengecer 28 orang. Masing-masing pedagang dari seluruh lembaga pemasaran yang terlibat memiliki sifat yang berpengaruh pada aktivitas pemasaran yang dilakukan. Karakteristik pedagang yang meliputi umur, tingkat pendidikan, dan pengalaman berdagang.
Usia Responden
Responden pedagang yang berjumlah 28 pedagang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Rata-rata umur responden adalah berumur 39 tahun dengan pedagang termuda adalah berumur 21 tahun dan pedagang yang tertua adalah berumur 54 tahun. Ini mengindikasikan bahwa pedagang responden yang dipilih masih berusia produktif (36-55 tahun) dan masih memungkinkan untuk mengembangkan usaha pada waktu yang lama.
31
31 Tabel 4. Usia pedagang responden
Kelompok Umur Jumlah Pedagang (orang)
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
Pedagang responden pada umur produktif yaitu pada umur 36-50 tahun adalah sebanyak 23 orang (82,14%) dan pedagang tingkat umur lebih kecil dibawah 35 tahun adalah sebanyak 2 orang (7,14%), sementara itu pada tingkat umur lebih besar dari 51 tahun adalah sebanyak 3 orang (10,71%). Hal ini mengindikasikan bahwa pedagang sebagian besar termasuk dalam umur yang produktif dan sudah cukup berpengalaman.
Tingkat Pendidikan
Pada Tabel 5 menunjukkan tingkat pendidikan dalam bentuk jumlah dan persentasi sebanyak 5 orang (17,9%) responden tamat SMP, sebanyak 23 orang (82,1%) responden tamat SMA. Hal ini menunjukkan sebagian besar dari pedagang responden memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi (di atas SMU). Tingkat pendidikan menentukan kecekatan dalam penyerapan informasi di pasar.
Tabel 5. Tingkat pendidikan formal pedagang Tingkat Pendidikan Jumlah Pedagang
(orang)
%
SMP 5 17,9
SMA 23 82,1
Total 28 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2018) Pengalaman Usaha
Pada Tabel 6 menunjukkan bahwa pedagang responden yang memiliki pengalaman berusaha lebih kecil dari 10 tahun adalah sebesar 10 orang (35,7%), 19
pengalaman berusaha 10-25 tahun adalah sebesar 14 orang (50%), dan pengalaman berusaha di atas 25 tahun sebesar 4 orang (14,2%). Jadi hal ini menunjukkan bahwa pedagang relatif sudah berpengalaman di atas 10 tahun.
Tabel 6. Pengalaman berusaha pedagang Pengalaman Usaha
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
Adanya pedagang responden yang memiliki pengalaman berusaha lebih dari 25 tahun menunjukkan bahwa pengalaman berusaha sangat dibutuhkan oleh pelaku pemasaran ayam petelur afkir karena membutuhkan pengetahuan dan informasi mengenai pemasaran ayam petelur afkir dan juga membutuhkan relasi.
Pengalaman berusaha ini terlihat bahwa umumnya setiap pelaku pasar membangun hubungan kerja yang didasarkan atas kepercayaan dan lamanya hubungan kerja yang terjalin diantara sesama pedagang. Semakin lama dia berusaha maka akan semakin mudah untuk mendapatkan kepercayaan dari pihak pelaku pasar yang lain.
Karakteristik Peternak Responden
Peternak responden dalam penelitian ini berasal dari Kota Binjai berjumlah 3 orang.
Tabel 7. Karakteristik peternak responden berdasarkan umur
Kelompok Umur Jumlah Peternak (orang) %
21-30 - -
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
33
33
Berdasarkan Tabel 7 persentase kelompok umur 41 - 50, 51 - 60, dan > 60 tahun adalah sebesar 33,3%. Hal ini menunjukkan bahwa peternak sudah berusia tua, dan artinya sudah ada penurunan produktivitas peternak untuk ayam ras secara rata-rata adalah 25 tahun, salah satu dari mereka sudah beternak sejak dari remaja.
Tingkat Pendidikan Peternak
Tabel 8. Karakteristik peternak responden berdasarkan tingkat pendidikan
Tingkat Pendidikan Jumlah
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
Berdasarkan Tabel 8 tingkat pendidikan peternak paling banyak adalah tamatan SMA yaitu sebanyak 2 orang (66,6%), dan diikuti dengan pendidikan S1 yaitu 1 orang (33,3%). Hal ini mengindikasikan dengan tingginya pendidikan peternak, tingkat penerimaan mereka terhadap informasi mengenai ayam afkir adalah cepat.
Pengalaman Beternak Tabel 9. Pengalaman beternak
Pengalaman Jumlah Peternak (orang) %
<15 tahun -
>15 tahun 3 100
Total 3 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
Pada Tabel 9 di atas dapat diketahui bahwa karakteristik peternak responden berdasarkan pengalaman usaha beternak menunjukkan bahwa 100%
peternak responden memiliki pengalaman lebih besar dari 15 tahun. Hal ini 21
menunjukkan bahwa peternak ayam petelur afkir sudah memiliki banyak pengalaman beternak ayam petelur afkir.
Lembaga Pemasaran
Aspek pemasaran ayam petelur afkir yang dikaji dalam penelitian ini meliputi beberapa hal:
1. Bentuk saluran pemasaran oleh beberapa jenis lembaga yang berperan dalam pemasaran ayam petelur afkir
2. Analisis margin pemasaran pada masing-masing saluran pemasaran dengan memaparkan biaya yang dikeluarkan oleh pelaku pasar dan keuntungan yang didapatkan
Lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran ayam petelur afkir di Kota Binjai yakni:
Peternak adalah produsen dari ayam petelur yang memasarkan atau menjual ayam afkir ke pedagang pengumpul atau agen. Peternak langsung menjual ayam afkir tanpa melakukan penyortiran. Jumlah responden peternak adalah 4 orang yang berasal dari lokasi peternakan di Kecamatan Binjai Barat.
Pedagang pengumpul atau agen adalah lembaga pemasaran yang bertindak membeli ayam afkir dari peternak dan menjual ke pedagang pengecer. Pedagang pengumpul atau agen dalam penelitian ini adalah sebanyak 2 orang yang membeli dari peternak langung.
Pedagang pengecer adalah lembaga pemasaran yang melakukan pembelian ayam afkir dengan jumlah yang relatif kecil dan memasarkan kepada konsumen.
Dalam penelitian ini pedagang pengecer yang dipilih sebagai sampel adalah
35
35
Konsumen merupakan pihak terakhir di dalam saluran pemasaran ayam afkir yang terdiri dari dua jenis yaitu konsumen yang mengkonsumsi langsung dan konsumen yang membeli ayam afkir untuk dijual kembali setelah diolah.
Jumlah responden peternak adalah sebesar 3 orang di Kecamatan Binjai Barat. Jadi peternak skala usaha menengah dan besar berada di Kecamatan Binjai Barat dan merekalah yang mensuplai sebagian besar kebutuhan ayam afkir. Dalam penelitian ini tergambar bahwa masing-masing peternak sudah mempunyai langganan sendiri. Hasil penelitian menunjukkan ayam afkir yang berasal dari peternak-peternak di Kecamatan Binjai Barat dibeli oleh pedagang pengumpul untuk memenuhi kebutuhan ayam afkir di kota Kota Binjai. Pedagang pengumpul membeli ayam afkir dari peternak dan menjualnya ke pedagang pengecer di Kota Binjai.
Pedagang pengecer adalah pedagang yang langsung berhubungan dengan konsumen ayam afkir di Kota Binjai. Pedagang pengecer adalam penelitian ini adalah sebanyak 28 orang di pasar Tavip.
Saluran Pemasaran
Dalam kegiatan pemasaran terdapat lembaga pemasaran yang merupakan lembaga perantara yang menghubungkan produsen ke konsumen dalam menyampaikan hasil produksi:
Saluran Pemasaran I
Gambar 1. Skema Saluran Pemasaran I
Berdasarkan gambar di atas merupakan saluran pemasaran dua tingkat karena pemasaran ayam afkir dari peternak ke konsumen melalui 2 lembaga
Peternak Agen Pedagang
Pengecer
Konsumen 23
pemasaran yaitu pedagang pengumpul atau agen dan pedagang pengecer. Peternak berasal dari Kecamatan Binjai Barat dan menjual ayam afkir kepada agen yang datang ke peternak. Agen mengangkut ayam afkir menggunakan sepeda motor dan langsung dijual ke pedagang pengecer di pasar.
Saluran Pemasaran II
Gambar 2. Skema Saluran Pemasaran II
Berdasarkan gambar di atas adalah jenis pemasaran yang termasuk saluran pemasaran satu tingkat karena saluran ini hanya menggunakan satu lembaga perantara yaitu pedagang pengecer. Peternak ayam afkir pada saluran ini berasal dari Kecamatan Binjai Barat yang memproduksi ayam afkir dalam skala kecil dan menjualnya langsung ke pedagang pengecer.
Margin Pemasaran
Margin pemasaran merupakan selisih harga yang diterima oleh peternak ayam afkir dengan harga yang dikeluarkan oleh konsumen yang membeli ayam afkir. Margin pemasaran suatu komoditas terdiri dari biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga pemasaran serta keuntungan yang diterima oleh peternak dan lembaga-lembaga pemasaran. Untuk dapat mengetahui besarnya keuntungan yang didapatkan pelaku pemasaran serta biaya-biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran maka perlu dilakukan analisis margin pemasaran pada setiap saluranpemasaran.
Saluran pertama yaitu melibatkan satu lembaga pemasaran, yaitu agen. Saluran pemasaran ini meliputi
Peternak Agen Pedagang Pengecer Konsumen
Peternak Pedagang
Pengecer
Konsumen
37
37
Saluran pemasaran kedua melibatkan dua lembaga pemasaran meliputi Peternak Pedagang Pengecer Konsumen.
Saluran pemasaran I terdiri dari peternak yang berasal dari Kecamatan Binjai Barat dan pedagang pengecer yang berada di pasar tradisional di Kota Binjai. Biaya pemasaran yang dikeluarkan peternak terdiri dari biaya keranjang sebesar Rp. 2.000,- per bulan, dan biaya tenaga kerja Rp. 150.000 sehingga biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh peternak adalah sebesar Rp. 152.000,-per bulan.
Tabel 10. Biaya pemasaran ayam petelur afkir yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran pada Saluran Pemasaran I
Biaya Saluran Pemasaran I
b. Tenaga Kerja 150.000 150.000
Jumlah 152.000 36,19
d. Plastik (50.000) 200.000
Jumlah 2.016.000 1.680
Total Biaya
Pemasaran 4.460.000 2.261,90
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
25
Biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul pada saluran pemasaran I ini adalah sebesar Rp. 2.292.000,- per bulan meliputi biaya tenaga kerja sebesar Rp. 600.000,- per bulan, biaya tali sebesar Rp. 10.000,- per bulan, biaya bensin sebesar Rp. 840.000,- per bulan, biaya konsumsi sebesar Rp.
840.000,- per bulan, biaya keranjang Rp. 2.000,- per bulan dan dengan jumlah ayam afkir yang dipasarkan 4200 ekor maka biaya per ekor adalah sebesar Rp.
545,71,-.
Biaya pemasaran pedagang pengecer sebesar Rp. 2.016.000,- per bulan dengan jumlah penjualan adalah sebesar Rp. 1200 ekor maka biaya rata-rata per ekor adalah Rp. 1.680. Biaya pemasaran pedagang pengecer meliputi biaya tenaga kerja sebesar Rp. 600.000,- per bulan, biaya sewa toko sebesar Rp. 1.116.000, per bulan, biaya kebersihan sebesar Rp. 14.000,- per bulan, biaya plastik sebesar Rp.
50.000,- per bulan. Total biaya pemasaran untuk saluran pemasaran I adalah sebesar Rp. 4.460.000,- per bulan dan biaya per ekor adalah Rp. 2.261,90.
Saluran pemasaran II terdiri dari peternak yang berasal dari Kecamatan Binjai Barat dan pedagang pengecer yang berada di pasar tradisional di Kota Binjai. Biaya pemasaran yang dikeluarkan peternak terdiri dari biaya keranjang sebesar Rp. 2.000,- per bulan, biaya transportasi sebesar Rp. 100.000,- per bulan, biaya tenaga kerja sebesar Rp. 120.000,- per bulan sehingga biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh peternak adalah sebesar Rp. 222.000,-per bulan.
39
39
Tabel 11. Biaya pemasaran ayam petelur afkir yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran pada Saluran Pemasaran II
Biaya Saluran Pemasaran II
c. Tenaga Kerja 120.000
Jumlah 222.000 370
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
Biaya pemasaran pedagang pengecer sebesar Rp. 1.076.000,- per bulan dengan jumlah penjualan adalah sebesar Rp. 600 ekor maka biaya rata-rata per ekor adalah Rp. 1.793. Biaya pemasaran pedagang pengecer meliputi biaya tenaga kerja sebesar Rp. 280.000,- per bulan, biaya sewa toko sebesar Rp. 540.000, per bulan, biaya kebersihan sebesar Rp. 56.000,- per bulan, biaya plastik sebesar Rp.
200.000,- per bulan. Total biaya pemasaran untuk saluran pemasaran II adalah sebesar Rp. 1.298.000,- per bulan dan biaya per ekor adalah Rp. 2.163.
Margin pemasaran terbesar terdapat pada jalur pemasaran I yaitu sebesar
Rp. 5.000 karena jalur I merupakan rantai terpanjang dari pada jalur pemasaran II, adanya perbedaan harga jual yang lebih tinggi mulai dari agen hingga pedagang pengecer, serta konsumen akhir pada jalur I bukan hanya untuk dikonsumsi 27
langsung tetapi sebagian besar ayam afkir dijual kembali dalam bentuk olahan makanan dalam jumlah besar.
Margin pemasaran terkecil terdapat pada jalur pemasaran I yaitu sebesar
Rp. 7.000 dimana pada jalur ini peternak menjual ayam afkir kepada agen lalu agen menjualnya ke pedagang pengecer dan rata-rata konsumen yang membeli ayam afkir adalah untuk dikonsumsi secara langsung. Pada jalur I dan II besar margin pemasaran ditentukan oleh jarak distribusi dan panjang pendeknya rantai
pemasaran.
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
Pada kedua jalur pemasaran ayam afkir yang ada di Pasar Tavip biaya terbesar ditanggung oleh jalur pemasaran I yaitu Rp. 2.261. Hal ini karena rantai pemasaran yang melalui dua lembaga pemasaran dan jumlah yang
41
41
diperjualbelikan sangat banyak. Sementara biaya yang ditanggung oleh jalur pemasaran II yaitu sebesar Rp. 2.163 yang merupakan rantai pemasaran yang paling pendek.
Keuntungan pemasaran terbesar terdapat pada jalur pemasaran II yaitu sebesar Rp. 5.806,- karena merupakan rantai pemasaran terpendek serta konsumen yang membeli sebagian besar ayam afkir dijual kembali dalam bentuk olahan makanan dalam jumlah besar. Keuntungan terkecil terdapat pada jalur pemasaran I yaitu sebesar Rp. 5.320,-, hal ini karena rantai pemasarannya lebih panjang
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
Farmer’s share merupakan perbandingan antara harga yang diterima oleh
peternak dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen, dan pada umumnya dinyatakan dalam persentase. Farmer’s share berhubungan terbalik dengan margin pemasaran, artinya semakin tinggi margin pemasaran maka akan semakin lebih rendah farmer’s share. Besarnya bagian yang diterima peternak ayam afkir dapat dilihat pada Tabel 13.
Farmer’s share tertinggi pada saluran pemasaran II yaitu sebesar 75%, artinya peternak menerima harga 75%, dari harga yang dibayarkan konsumen.
29
Selain itu saluran pemasaran I memperoleh nilai farmer’s share terendah yaitu sebesar 66,67%.
Rasio Keuntungan dan Biaya
Biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran dalam menyalurkan ayam afkir dari peternak ke konsumen akhir yang dinyatakan dalam rupiah per ekor. Sedangkan keuntungan lembaga pemasaran merupakan selisih antara margin pemasaran dengan biaya yang dikeluarkan selama proses pemasaran. Analisis rasio keuntugan per biaya dapat digunakan untuk mengetahui apakah kegiatan pemasaran yang dilakukan memberikan keuntungan kepada pelaku pemasaran
Tabel 14. Analisis rasio keuntungan terhadap biaya Lembaga Pemasaran Keuntungan
Biaya (Rp/Ekor) π/C (Rp/Ekor)
Saluran I
Peternak 32.400
Agen 5.054,28 545,72 9,26
Pedagang Pengecer 5.320 1.680 3,16
Total 10.374,28 2.225,72 4,66
Saluran II
Peternak 32.400
Pedagang Pengecer 5.806,67 1.793,33 3,24
Total 5.806,67 1.793,33 3,24
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
Pada saluran II total biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer adalah sebesar Rp. 1.793,33 per ekor sedangkan keuntungan adalah sebesar Rp.
5.806,67 per ekor. Maka rasio keuntungan biaya adalah sebesar Rp. 3,24 per ekor.
Pada saluran I total biaya yang dikeluarkan per ekor adalah sebesar Rp.
2.225,72 Biaya terbesar ditanggung oleh pedagang pengecer yaitu sebesar Rp.
1.680 per ekor, biaya pemasaran terendah ditanggung oleh agen adalah sebesar
43
43
Rp. 545,72 per ekorr. Keuntungan terbesar diperoleh pedagang pengecer yaitu sebesar Rp. 5.320 per ekor, sedangkan keuntungan terendah diperoleh agen yaitu sebesar Rp. 5.054,28 per ekor.
31