1
1
ANALISIS MARGIN PEMASARAN AYAM PETELUR AFKIR DI PASAR TAVIP KOTA BINJAI
SKRIPSI
OLEH LARAS KHALISA
140306060
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
ANALISIS MARGIN PEMASARAN AYAM PETELUR AFKIR DI PASAR TAVIP KOTA BINJAI
SKRIPSI
Oleh:
LARAS KHALISA 140306060
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3
3
Judul : Analisis Margin Pemasaran Ayam Petelur Afkir di Pasar Tavip Kota Binjai
Nama : Laras Khalisa
NIM : 140306060
Fakultas : Pertanian Program Studi : Peternakan
Disetujui oleh:
Komisi Pembimbing
Ir. Edhy Mirwandhono, M.Si Ir. Tri Hesti Wahyuni, M.Sc
Ketua Anggota
Mengetahui,
Prof. Dr. Ir. Hasnudi, MS Ketua Program Studi Peternakan
Tanggal Lulus : 06 Februari 2019
ABSTRAK
LARAS KHALISA, 2019. “Analisis Marjin Pemasaran Ayam Petelur Afkir di
Pasar Tavip Kota Binjai”. Dibimbing oleh EDHY MIRWANDHONO dan TRI HESTI WAHYUNI.
Ayam afkir merupakan ayam ras petelur yang sudah tidak produktif lagi untuk bertelur namun tetap bernilai ekonomis bagi peternak atau produsen dan ayam tersebut distribusikan ke pasar-pasar tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab tingginya harga ayam petelur afkir di Kota Binjai melalui analisis saluran pemasaran beserta marjin pemasaran. Penelitian dilakukan di pasar Tavip dan peternakan ayam petelur pada tanggal 27 Juli sampai dengan 27 Agustus 2018. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode Survey di pasar Tavip yang memiliki 28 responden, Data primer diperoleh dari pedagang pengecer di pasar Tavip, sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai instansi yang terkait seperti badan pusat statistik. Parameter yang diteliti adalah lembaga pemasaran, saluran pemasaran dan marjin pemasaran. Ada dua saluran pemasaran yang terdapat dalam proses pemasaran ayam afkir dari produsen hingga sampai ke konsumen.
Hasil penelitian menunjukkan marjin pemasaran terendah terdapat pada saluran (I) yaitu Rp 7.000,- dan marjin pemasaran tertinggi terdapat pada saluran (II) yaitu Rp 7.600,-. Nilai farmer share tertinggi berada pada saluran (II) sebesar 75% dan terendah berada pada saluran (I) sebesar 66,7%. Dapat disimpulkan bahwa ada dua saluran pemasaran. Saluran pertama: peternak-agen-pengecer- konsumen dan saluran kedua: peternak-pengecer-konsumen. Dari segi farmer‟s share maka saluran II menempati nilai tertinggi dibandingkan saluran pemasaran I yang artinya saluran pemasaran II merupakan saluran pemasaran yang efisien.
Kata Kunci : ayam petelur afkir, pasar tavip, saluran pemasaran, margin pemasaran
5
5
ABSTRACT
LARAS KHALISA, 2019. "Analysis of Marketing Margin of Suspended Laying
Hens in Binjai City Tavip Market". Supervised by EDHY MIRWANDHONO and TRI HESTI WAHYUNI.
Chicken afkir is laying chicken which was not productive any more but still have economic value by the farmers or producens and this chicken distributed to traditional markets. In this study aims to determine the causes of the high price of rejected laying hens in the city of Binjai through analysis of marketing channels along with marketing margins. The research was conducted in the Tavip market and laying hens farms from 27 July to 27 August 2018. The research method was used the Survey method in the Tavip market which had 28 respondents. Primary data was obtained from retailers in the Tavip market, while secondary data was obtained from various agencies which is related to the central statistical body. The parameters studied were marketing agencies, marketing channels and marketing margins. There are two marketing channels contained in the marketing process of chicken afkir from producers to consumers.
The results showed that the lowest marketing margin was found on channel (I), which was Rp. 7,000, and the highest marketing margin was found in channel (II), which was Rp. 7,600. The highest farmer share value is in channel (II) of 75% and the lowest is in channel (I) of 66.7%. It can be concluded that there are two marketing channels. The first channel: consumer-retailer-agent and second channel: consumer-retailers. In terms of farmer's share, channel II occupies the highest value compared to marketing channel I, which means that marketing channel II is an efficient marketing channel.
Keywords: afkir laying hens, tavip market, marketing channels, marketing margins
ii
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 01 April 1996 dari Bapak Maidin dan Ibu Sulastri. Penulis merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar pada tahun 2008 di SD Swasta KARTIKA I-3, pendidikan menengah pertama diselesaikan di SMP Swasta KARTIKA I-2 pada tahun 2011 dan dilanjutkan ke pendidikan menengah atas yang diselesaikan pada tahun 2014 di SMA KARTIKA I-2. Pada tahun 2014 penulis diterima sebagai mahasiswa Universitas Sumatera Utara melalui jalur Ujian Masuk Bersama Perguruan Tinggi (UMBPT) . Penulis memilih program studi Peternakan.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai anggota Ikatan Mahasiswa Peternakan (IMAPET) dan anggota Himpunan Mahasiswa Muslim Peternakan USU (HIMMIP).
Penulis melaksanakan praktik kerja lapangan (PKL) di peternakan rakyat di Kelurahan Sentang Kecamatan Kisaran Timur Kabupaten Asahan dari Juli sampai September 2017.
7
7
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal ini dengan baik yang berjudul “Analisis Margin Pemasaran Ayam Petelur Afkir di Pasar Tavip Kota Binjai”.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada orangtua atas doa, semangat, dan pengorbanan materil maupun moril yang telah diberikan selama ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Edhy Mirwandhono selaku ketua komisi pembimbing dan Ibu Tri Hesti Wahyuni selaku anggota komisi pembimbing yang telah membimbing dan memberikan arahan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini dan semua pihak yang ikut membantu.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada orang tua atas do‟a, semangat dan pengorbanan materil maupun moril yang telah diberikan selama ini.
Disamping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada civitas akademika di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, serta semua rekan mahasiswa yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi.
Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat membantu memberikan informasi yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan serta pelaku usaha bidang peternakan.
DAFTAR ISI
Hal.
ABSTRAK . ... i
ABSTRACT . ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Rumusan Masalah ... 3
Tujuan Penelitian ... 3
Manfaat Penelitian ... 3
Kerangka Pemikiran ... 4
TINJAUAN PUSTAKA Letak Geografis Kota Binjai ... 5
Ayam Petelur Afkir ... 6
Karakteristik Daging Ayam Petelur Afkir ... 7
Permintaan ... 8
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan ... 9
Penawaran ... 9
Kurva Penawaran ... 10
Hukum Penawaran ... 10
METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian ... 13
Penentuan Sampel dan Analisis Harga Daging ... 13
Pengumpulan Data ... 13
Analisis Data ... 14
Pelaku dan Saluran Tataniaga ... 14
Margin Tataniaga ... 14
Farmer‟s Share ... 14 Defenisi dan Batasan Operasional
9
9
Batasan Operasional ... 16
HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Pedagang ... 18
Usia Responden ... 18
Tingkat Pendidikan ... 19
Pengalaman Usaha ... 19
Karakteristik Peternak Responden ... 20
Tingkat Pendidikan Peternak ... 21
Pengalaman Beternak . ... 21
Lembaga Pemasaran ... 22
Saluran Pemasaran ... 23
Margin Pemasaran ... 24
Farmer Share ... 29
Rasio Keuntungan dan Biaya ... 30
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 32
Saran ... 32
DAFTAR PUSTAKA ... 33
LAMPIRAN ... 35
vi
DAFTAR TABEL
No. Hal.
1. Luas Wilayah Kota Binjai Menurut Kecamatan ... 5
2. Populasi Ayam Petelur Kota Binjai ... 6
3. Produksi Daging Ayam Petelur Kota Binjai ... 9
4. Usia Pedagang Responden ... 19
5. Tingkat Pendidikan Formal Pedagang ... 19
6. Pengalaman Berusaha Pedagang ... 20
7. Karakteristik Peternak Responden ... 20
8. Tingkat Pendidikan Beternak ... 21
9. Pengalaman Beternak ... 21
10. Biaya Pemasaran Ayam Afkir yang dikeluarkan oleh Setiap Lembaga Pemasaran pada Saluran Pemasaran I ... 25
11. Biaya Pemasaran Ayam Afkir yang dikeluarkan oleh Setiap Lembaga Pemasaran pada Saluran Pemasaran II ... 27
12. Margin Pemasaran ... 28
13. Farmer‟s Share ... 29
14. Rasio Keuntungan dan Biaya . ... 30
11
11
DAFTAR GAMBAR
No. Hal.
1. Kerangka Pemikiran ... 4 2. Skema Saluran Pemasaran I ... 23 3. Skema Saluran Pemasaran II ... 24
viii
DAFTAR LAMPIRAN
No. Hal.
1. Data Pedagang Pengecer pada Saluran Pemasaran I ... 33
2. Data Pedagang Pengecer pada Saluran Pemasaran II ... 35
3. Data Peternak Telur Ayam Ras ... 36
4. Data Agen Telur Ayam Ras ... 36
5. Dokumentasi Penelitian ... 37
13
13
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ayam petelur merupakan ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Asal mula ayam petelur adalah dari ayam hutan yang telah didomestikasi dan diseleksi sehingga bertelur cukup banyak. Arah seleksi ayam hutan ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari seleksi tadi mulai spesifik.
Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Ayam petelur yang sangat efisien untuk menghasilkan telur dan mulai bertelur umur ± 5 bulan dengan jumlah telur 250 butir setiap tahun produksi. (Muhamad, 2008).
Salah satu ternak unggas yang populer di kalangan masyarakat yaitu ayam petelur yang biasa dikenal dengan ayam layer. Pemanfaatan ayam petelur afkir sebagai pengganti ayam potong adalah salah satu cara untuk memenuhi permintaan terhadap konsumsi daging ayam. Ayam petelur afkir adalah ayam betina petelur dengan produksi telur rendah sekitar 20 sampai 25% 2 dari produksi dan berumur sekitar 96 minggu dan siap untuk diafkir dari kandang (Gellespie dan Flanders, 2010).
Ayam afkir merupakan ayam ras petelur yang sudah tidak produktif lagi untuk bertelur namun tetap bernilai ekonomis bagi peternak atau produsen ketika distribusikan ke pasar-pasar tradisional. Ayam ras afkir memiliki berat tubuh
1
antara 2 kg – 2,5 kg dan berusia antara 18 – 20 bulan. Kualitas karkas ayam jenis ini relatif kurang baik, karena memiliki kandungan lemak relatif tinggi, meskipun jaringan ikat daging relatif baik.
Daging ayam afkir pada dasarnya memiliki kualitas yang dikenal alot dan banyak kandungan lemaknya. Jika ditinjau dari aspek kesehatannya, ayam afkir memiliki kandungan gizi yang kurang bila dibandingkan dengan ayam-ayam lain.
Ayam petelur afkir sering disetarakan dengan ayam pedaging, namun ayam petelur afkir memiliki kualitas daging yang rendah, boleh dikatakan kualitas daging yang alot dan banyak kandungan lemak. Dengan kualitas seperti itu, seharusnya konsumen berasumsi untuk tidak membeli ayam ras petelur afkir, tetapi kenyataannya masih banyak masyarakat yang berminat untuk mengkomsumsi. Masyarakat kebanyakan lebih memilih ayam petelur afkir dibanding broiler karena pada ayam broiler itu tidak diakui sebagai daging ayam yang sehat karena dipelihara hanya dalam waktu sebulan, sedangkan pada ayam lokal jika masih berumur sebulan ukurannya tidak layak konsumsi, dan juga banyak anggapan bahwa pertumbuhan yang cepat itu akibat suntikan hormon dan penggunaan obat-obatan yang kelak akan menyebabkan gangguan kesehatan pada konsumen.
Populasi ternak unggas terbanyak ada di Kecamatan Binjai Barat pada tahun 2016 sebanyak 653.382 ekor dan di Kecamatan Binjai Utara terdapat 202.600 ekor. Permintaan masyarakat terhadap daging ayam afkir sebanyak 13.610 pada tahun 2016. Masyarakat di Kota Binjai memiliki 5 kecamatan yang sangat berbeda perkembangannya terutama dari segi perekonomian masyarakat di tiap kecamatannya. Salah satu penyebab harga daging ayam afkir mahal adalah
15
15
margin pemasaran yang terlalu panjangnya saluran pemasaran akibat jarak antara produsen dengan pasar tujuan yang jauh mengakibatkan oknum-oknum dalam pemasaran yang akan menyertakan biaya transportasi, biaya pemotongan dan pengelolaan sehingga berdampak harga daging ayam layer afkir mahal di pasar tradisional Binjai.
Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul „Analisis margin pemasaran ayam layer afkir di pasar tradisional Kota Binjai‟.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka yang menjadi rumusan masalah adalah 1. Bagaimana bentuk saluran pemasaran ayam petelur afkir di pasar tradisional
Kota Binjai ?
2. Berapa total margin pemasaran ayam petelur afkir di Kota Binjai ? Tujuan Penelitian
1. Mengetahui bentuk saluran pemasaran ayam petelur afkir di pasar tradisional Kota Binjai.
2. Mengidentifikasi saluran tataniaga, margin pemasaran serta rasio keuntungan ayam petelur afkir di pasar tradisional Kota Binjai.
Kegunaan Penelitian
1. Informasi bagi pemerintah dan pihak terkait yang membutuhkan.
2. Sumber informasi dan bahan pertimbangan kepada produsen dan distributor ayam petelur afkir dalam mengantisipasi kepuasan dan permintaan konsumen.
3. Menjadi literatur untuk penelitian-penelitian yang sejenis.
3
Kerangka Pemikiran
Perbedaan harga jual di tingkat peternak dan di tingkat konsumen
Produsen Lembaga Pemasaran
- Agen
- Pedagang besar - Pedagang pengecer
Konsumen
Analisis Margin Pemasaran
1. Margin pemasaran 2. Share harga (farmer
share)
17
17
TINJAUAN PUSTAKA
Letak Geografis Kota Binjai
Secara geografis Kota Binjai terletak pada 3˚31‟40‟‟ - 3˚40‟22” Lintang Utara dan 98˚27‟3” - 98˚32‟32” Bujur Timur dan terletak pada ketinggian 28 m di atas permukaan laut. Luas wilayah Kota Binjai 90,23 km yang terdiri dari 5 kecamatan, yaitu Binjai Selatan, Binjai Timur, Binjai Utara dan Binjai Barat yang terbagi atas 37 kelurahan dan 284 lingkungan. Kota Binjai memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat dan Kecamata Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang.
Sebelah Timur : Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang.
Sebelah Selatan : Kecamatan Sei Bingei Kabupaten Langkat Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deli Serdang.
Sebelah Barat : Kecamatan Selesai Kabupaten Langkat.
Kota Binjai adalah daerah yang beriklim tropis dengan 2 musim hujan dan musim kemarau. Kecamatan Binjai Selatan curah hujannya cukup besar dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kota Binjai yaitu 241 mm/15 hari hujan, diikuti dengan Kecamatan Binjai Barat 102 mm/8 hari hujan.
Tabel 1 . Luas wilayah kota Binjai menurut kecamatan, 2016
Kecamatan Luas Persentase
(1) (2) (3)
Binjai Selatan Binjai Kota Binjai Timur Binjai Utara Binjai Barat
29,96 4,12 21,70 23,59 10,86
33,20 4,57 24,05 26,14 12,04
Jumlah Total 90,23 100,00
Sumber : Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Binjai 5
Tabel 2. Populasi ayam ras petelur di Kota Binjai
Kecamatan 2012 2013 2014 2015 2016
Binjai Selatan 54 900 64 295 116 291 194 585 150 390 Binjai Kota - - - - - Binjai Timur 46 151 47 394 48 100 - - Binjai Utara 443 269 417 371 415 009 210 000 7 000 Binjai Barat 524 124 457 701 398 650 547 113 259 212 Sumber : Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Binjai
Ayam Petelur Afkir
Ayam petelur merupakan ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Asal mula ayam petelur adalah dari ayam hutan yang telah didomestikasi dan diseleksi sehingga bertelur cukup banyak. Arah seleksi ayam hutan ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari seleksi tadi mulai spesifik.
Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Ayam petelur yang sangat efisien untuk menghasilkan telur dan mulai bertelur umur ± 5 bulan dengan jumlah telur 250 butir setiap tahun produksi. (Muhammad Rasyaf, 2008).
Ternak unggas merupakan salah satu ternak yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani, karena ternak tersebut mampu menghasilkan pangan dalam waktu singkat dan harganya yang relatif murah dibandingkan dengan ternak sapi atau daging ternak besar lainnya. Salah satu ternak unggas yang populer di kalangan masyarakat yaitu ayam petelur yang biasa dikenal dengan ayam layer. Pemanfaatan ayam petelur afkir sebagai pengganti ayam potong adalah salah satu cara untuk memenuhi permintaan terhadap konsumsi
19
19
daging ayam. Ayam petelur afkir adalah ayam betina petelur dengan produksi telur rendah sekitar 20 sampai 25% dari produksi dan berumur sekitar 96 minggu dan siap untuk diafkir dari kandang (Gillespie dan Flanders, 2010).
Karakteristik Daging Ayam Petelur Afkir
Daging ayam petelur afkir memiliki tekstur yang kasar, alot dan juicy.
Tekstur merupakan ukuran ikatan-ikatan serabut otot yang dibatasi oleh septum- septum perimiseal jaringan ikat yang membagi otot secara longitudinal. Tekstur otot dibagi menjadi dua kategori yang tekstur kasar dengan ikatan-ikatan serabut yang besar dan tekstur halus. Tingkat kekasaran tekstur meningkat seiring bertambahnya umur (Soeparno, 2005). Ayam petelur afkir mengandung air 56%, protein 25,4% sampai 31,5% dan lemak 1,3 sampai 7,3%. Kandungan nutrisi daging petelur afkir tidak jauh berbeda dengan daging broiler, namun demikian ayam petelur afkir memiliki kelemahan yaitu dagingnya keras dan liat dikarenakan umur yang tua (Mountney dan Parkhurst, 1995).
Tingkat kealotan daging dipengaruhi oleh kolagen yang merupakan protein struktural pokok dalam jaringan ikat. Jumlah dan kekuatan kolagen dapat meningkat sesuai dengan umur, oleh karena itu ternak yang lebih tua akan menghasilkan daging yang cenderung lebih alot daripada ternak yang lebih muda pada bagian karkas ayam yang sama (Soeparno, 2005). Karkas adalah bagian tubuh unggas yang telah disembelih tanpa darah, bulu, kepala, kaki, dan organ dalam (R. Tien et al., 2011).
Daging yang dihasilkan oleh ayam petelur afkir pada dasarnya memiliki tingkat kealotan yang tinggi. Hal tersebut diakibatkan oleh ikatan silang kolagen pada ayam yang berumur tua akan bersifat lebih stabil pada saat pemasakan bila 7
dibandingkan dengan ayam-ayam yang berumur muda, sehingga daging ayam petelur afkir yang dihasilkan akan alot.
Permintaan
Permintan adalah banyaknya jumlah barang yang diminta pada suatu pasar tertentu dengan tingkat harga tertentu pada tingkat pendapatan tertentu dan dalam periode tertentu.
Permintaan masyarakat terhadap daging fluktuatif pada saat-saat tertentu, permintaan masyarakat akan daging sangat tinggi pada saat hajatan, hari-hari besar dan sebagainya. Terdapat kecendurungan permintaan terhadap danging selalu ada setiap saat, karena potensi pasar cukup besar dalam peranannya sebagai bahan baku pembuatan makanan lain (bakso, nugget, sosis, dan lain-lain).
Sehingga permintaan daging akan meningkat (Sudiyono, 2001).
Menurut Gilarso (2001) hal-hal yang berhubungan dengan permintaan adalah pertama kemauan dan kemampuan untuk membeli suatu barang. Kemauan dan kemampuan saja tidak cukup untuk membeli suatu barang, harus disertai adanya keinginan dan kemampuan untuk membeli barang tersebut dan didukung uang yang cukup untuk membayar harga barang itu. Kedua, jumlah barang yang mau di beli adalah jumlah yang diinginkan. Jumlah barang yang mau dibeli harus dinyatakan dalam jangka waktu tertentu (per tahun, per bulan, per hari). Ketiga, cateris paribus yang berarti banyaknya jumlah barang/ jasa yang mau dibeli oleh masyarakat selama priode tertentu yang dipengaruhi oleh faktor harga barang itu sendiri, harga barang lain, pendapatan, dan lainnya dianggap konstan.
21
21
Tabel 3. Produksi daging ayam ras petelur di Kota Binjai
Tahun Ayam Ras Petelur
(ton)
2012 55 850
2013 58 350
2014 -
2015 2 270
2016 13 610
Sumber : Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Binjai Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan
Permintaan suatu barang ditentukan oleh banyak faktor. Diantaranya adalah (1) harga barang itu sendiri, (2) harga barang lain yang berkaitan dengan barang tersebut, (3) pendapatan masyarakat, (4) konsumsi, (5) jumlah penduduk, (6) ketersediaan barang (produksi) (Sukirno, 2004).
Penawaran
Penawaran (supply) diartikan sejumlah barang, produk atau komoditi yang tersedia dalam pasar yang siap untuk di jual kepada konsumen yang membutuhkannya. Penawaran juga dapat diartikan sebagai sejumlah barang (goods), jasa (service) atau komoditi yang tersedia di pasar dengan harga tertentu pada waktu tertentu serta penawaran adalah banyaknya barang yang ditawarkan oleh penjual pada suatu pasar tertentu, pada periode tertentu, dan pada tingkat harga tertentu. Diantara pakar ekonomi ada pula yang mengartikan penawaran sebagai sejumlah barang ekonomi yang tersedia di pasar dengan maksud untuk dijual dengan harga tertentu. Penawaran dapat juga diartikan bermacam-macam barang atau produk yang ditawarkan untuk dijual dengan bermacam-macam harga di pasar.
9
22
Kurva Penawaran
Kurva penawaran dapat didefinisikan sebagai : “Yaitu suatu kurva yang menunjukkan hubungan diantara harga suatu barang tertentu dengan jumlah barang tersebut yang ditawarkan”.
- Kalau penawaran bertambah diakibatkan oleh faktor-faktor di luar harga, maka supply bergeser ke kiri atas.
- Kalau berkurang kurva supply bergeser ke kiri atas
- Terbentuknya harga pasar ditentukan oleh mekanisme pasar Hukum Penawaran
Semakin tinggi harga, semakin banyak jumlah barang yang bersedia ditawarkan. Sebaliknya, semakin rendah tingkat harga, semakin sedikit jumlah barang yang bersedia ditawarkan.
Hukum penawaran akan berlaku apabila faktor-faktor lain yang memengaruhi penawaran tidak berubah (ceteris paribus).
Pemasaran
Pemasaran merupakan salah satu kegiatan penting yang perlu dilakukan perusahaan untuk meningkatkan usaha dan menjaga kelangsungan hidup perusahaan tersebut.Disamping kegiatan pemasaran perusahaan juga perlu mengkombinasikan fungsi-fungsi dan menggunakan keahlian mereka agar perusahaan berjalan dengan baik.
Pengertian pemasaran menurut Kotler (1997) adalah suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk dengan pihak lain .
10
23
23
Strategi pemasaran terdiri dari prinsip-prinsip dasar yang mendasari manajemen untuk mencapai tujuan bisnis dan pemasarannya dalam sebuah pasar sasaran, strategi pemasaran mengandung keputusan dasar tentang pemasaran, bauran pemasaran, bauran pemasaran dan alokasi pemasaran. (Kotler, 2004).
Dalam Strategi pemasaran terdiri atas lima elemen-elemen yang saling berkait. Kelima elemen tersebut adalah : (Tjiptono Fandy, 2000).
a. Pemilihan pasar b. Perencanaan produk c. Penetapan harga d. Sistem distribusi
e. Komunikasi pasar (promosi)
Saluran pemasaran (marketing channels) adalah sekelompok organisasi saling bergantung dan terlibat dalm proses pembuatan produk atau jasa yang disediakan untuk digunakan atau dikonsumsi.
Saluran distribusi mencakup distributor, pedagang grosir, pengecer dan agen. Saluran yang dipilih mempengaruhi semua keputusan pemasaran lainnya.
Penetapan harga perusahaan tergantung pada apakah perusahaan menggunakan pedagang massal atau bukti berkualitas tinggi.
Saluran ayam ras pedaging (broiler) meliputi saluran dari peternak mandiri dan peternak inti-plasma. Pada peternak mandiri, ayam disalurkan kepada lembaga tata niaga ayam hidup seperti pedagang pengumpul. Kemudian masuk ke pedagang pemotong sebagai prosesor. Dari prosesor ayam disimpan dalam cold storage untuk selanjutnya masuk ke saluran tata niaga ayam broiler beku. Selain itu, dari prosesor ayam disalurkan ke lembaga tata niaga karkas ayam seperti 11
24
grosir, pedagang pengecer, dan kemudian ke konsumen. Saluran tata niaga peternak ayam broiler inti plasma hampir sama dengan saluran tata niaga peternak mandiri. Dari peternak plasma, ayam diserahkan kepada peternak inti yang berperan sebagai lembaga tata niaga ayam hidup.
Marjin pemasaran didefinisikan sebagai selisih harga di tingkat produsen dengan di tingkat konsumen. Marjin pemasaran berbeda dengan biaya pemasaran meskipin ada kemungkinan besarnya marjin pemasaran sama dengan biaya pemasaran. Terkadang marjin pemasaran lebih kecil dari pada biaya pemasaran karena ada pelaku pasar yang menanggung kerugian.
Analisis margin pemasaran digunakan untuk mengetahui distribusi biaya dari setiap aktivitas pemasaran dan keuntungan dari setiap lembaga perantara serta bagian harga yang diterima peternak. Atau dengan kata lain analisis margin pemasaran dilakukan untuk mengetahui tingkat kompetensi dari para pelaku pemasaran yang terlibat dalam pemasaran/disribusi (Shinta, 2011).
12
25
25
METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di pasar tradisonal Kota Binjai, Sumatera Utara.
Lokasi penelitian yaitu Pasar Tavip di Kecamatan Binjai Kota. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 27 Juli sampai 27 Agustus 2018.
Penentuan Sampel dan Analisis Harga Daging
Penentuan sampel dilakukan secara purpose sampling dimana responden terdiri dari seluruh penjual ayam ras petelur afkir dipasar-pasar tradisional Kota Binjai. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dan wawancara dengan unit resonden yang menjual ayam ras petelur afkir. Responden berasal dari pasar tradisional yang dipilih secara tersendiri berdasarkan kemampuan pasar tiap kecamatan. Masing-masing kecamatan terdiri dari 1 pasar dan tiap pasar terdiri dari seluruh pedagang ayam ras petelur afkir. Dari masing-masing pasar, responden dipilih secara accidental sampling yaitu responden yang ada saat didatangi ke pasar dan bersedia untuk diwawancarai serta memiliki data yang diperlukan (Khoinnisa, 2008).
Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan pada penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data hasil wawancara dengan pedagang di pasar-pasar tradisional Kota Binjai. Sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai instansi yang terkait, seperti Badan Pusat Statistik, agen dan peternakan ayam ras petelur.
13
Analisis Data
1. Pelaku dan Saluran Tataniaga
Saluran tataniaga serta peran pelaku tataniaga yang terlibat dalam tataniaga daging ayam ras petelur afkir dapat diketahui melalui wawancara langsung terhadap pedagang daging ayam ras petelur afkir dan pelaku tataniaga yang terlibat di dalamnya.
2. Margin Tataniaga
Untuk menganasisis suatu kinerja pasar sehingga dapat diketahui apakah ada kesesuaian antara proporsi kerja yang dilakukan dengan pendapatan yang diperoleh dilihat dari analisis margin pemasaran.
Rumus:
Keterangan :
M = Margin tataniaga
Hk = Harga tingkat konsumen
Hp = Harga tingkat produsen (Sudiyono, 2001).
3. Farmer Share
Untuk mencari efisiensi pemasaran digunakan rumus :
Keterangan:
Fs = Farmer Share/Efisiensi Tataniaga M=Hk−Hp
Fs =
27
27 Hp = Harga yang diterima peternak Hk = Harga yang dibayar konsumen
Apabila perbandingan share keuntungan tiap lembaga yang terlibat dalam pemasaran tidak merata, maka sistem pemasaran dikatakan tidak efisien, apabila perbandingan share keuntungan dengan biaya pemasaran tiap lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran merata dan cukup logis, maka pemasaran dikatakan efisien (Shinta, 2011).
Suatu saluran tataniaga dianggap lebih efisien dibanding dengan saluran tataniaga yang lain apabila margin tataniaganya lebih rendah dan pembagian keuntungannya adil sesuai dengan jumlah pengorbanan yang disumbangkan pada saluran tataniaga tersebut (Yogi dan Rantaningtyas, 2016).
Defenisi dan Batasan Operasional
Defenisi dan batasan operasional dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman istilah-istilah yang terdapat pada proposal ini.
Defenisi
1. Margin pemasaran adalah pertambahan harga ayam layer afkir akibat adanya pelaku pemasar yang ikut serta dalam penjualan produk.
2. Ayam ras petelur afkir (layer afkir) adalah ayam ras yang dipelihara dan dikhususkan untuk diambil telurnya sampai pada umur tertentu, ternak ini mengalami penurunan produksi dan dijual oleh peternak.
3. Saluran pemasaran/saluran tataniaga adalah seluruh proses berupa jalur yang melibatkan pelaku pasar ataupun tidak dalam penyampaian suatu produk dari produsen sampai pada konsumen.
15
4. Pelaku pemasaran adalah orang-orang yang melibatkan diri dalam penyampaian suatu produk dari produsen sampai ke konsumen dan mengambil keuntungan dari pengorbanan yang dilakukannya.
5. Penawaran adalah banyaknya barang yang ditawarkan oleh penjual pada suatu pasar tertentu, pada periode tertentu, dan pada tingkat harga tertentu.
6. Permintaan konsumen adalah banyaknya jumlah suatu produk yang dibeli oleh para konsumen.
7. Farmer‟s share (share harga) adalah suatu ukuran dimana pelaku-pelaku pemasaran akan diketahui efisiensinya melalui perbandingan keuntungan dan biaya produksi yang dikeluarkan dengan total pertambahan harga produk dari peternak dikalikan 100%.
Batasan Operasional
1. Penelitian dilakukan di Kota Binjai.
2. Penelitian dilakukan mulai dari 27 Juli sampai 27 Agustus 2018.
3. Penelitian yang akan diteliti adalah faktor penyebab terjadinya kenaikan harga ayam ras petelur afkir dari produsen ke konsumen.
4. Objek penelitian adalah faktor yang dianggap penyebab kenaikan harga proses pemasaran yang meliputi: saluran pemasaran, pelaku pemasaran dan marjin tataniaga.
5. Sampel yang diteliti adalah:
a. Pedagang ayam ras petelur afkir di kecamatan Binjai Kota
b. Pelaku pemasaran yang ikut ambil bagian dalam penjualan ayam petelur
29
29
c. Perusahaan ayam petelur afkir yang menjadi titik awal penentuan harga.
17
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Pedagang
Dalam menyampaikan komoditi ayam petelur afkir dari produsen hingga ke tangan konsumen akan melalui beberapa lembaga pemasaran. Dalam penelitan ini terdapat beberapa lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran dalam pemasaran ayam afkir di Kota Binjai yaitu pedagang pengumpul (agen) dan pedagang pengecer. Teknik pengambilan sampel untuk semua responden pedagang dilakukan dengan menggunakan snowball sampling yang berarti teknik pengambilan dengan mengikuti alur pemasaran ayam afkir di daerah penelitian berdasarkan informasi yang diperoleh dari setiap pedagang yang merupakan pelaku pasar sebelumnya. Responden pedagang yang ditelusuri adalah pedagang pengumpul 2 orang, dan pedagang pengecer 28 orang. Masing-masing pedagang dari seluruh lembaga pemasaran yang terlibat memiliki sifat yang berpengaruh pada aktivitas pemasaran yang dilakukan. Karakteristik pedagang yang meliputi umur, tingkat pendidikan, dan pengalaman berdagang.
Usia Responden
Responden pedagang yang berjumlah 28 pedagang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Rata-rata umur responden adalah berumur 39 tahun dengan pedagang termuda adalah berumur 21 tahun dan pedagang yang tertua adalah berumur 54 tahun. Ini mengindikasikan bahwa pedagang responden yang dipilih masih berusia produktif (36-55 tahun) dan masih memungkinkan untuk mengembangkan usaha pada waktu yang lama.
31
31 Tabel 4. Usia pedagang responden
Kelompok Umur Jumlah Pedagang (orang)
%
Dibawah 35 2 7,14
36-50 23 82,14
Diatas 51 3 10,71
Total 28 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
Pedagang responden pada umur produktif yaitu pada umur 36-50 tahun adalah sebanyak 23 orang (82,14%) dan pedagang tingkat umur lebih kecil dibawah 35 tahun adalah sebanyak 2 orang (7,14%), sementara itu pada tingkat umur lebih besar dari 51 tahun adalah sebanyak 3 orang (10,71%). Hal ini mengindikasikan bahwa pedagang sebagian besar termasuk dalam umur yang produktif dan sudah cukup berpengalaman.
Tingkat Pendidikan
Pada Tabel 5 menunjukkan tingkat pendidikan dalam bentuk jumlah dan persentasi sebanyak 5 orang (17,9%) responden tamat SMP, sebanyak 23 orang (82,1%) responden tamat SMA. Hal ini menunjukkan sebagian besar dari pedagang responden memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi (di atas SMU). Tingkat pendidikan menentukan kecekatan dalam penyerapan informasi di pasar.
Tabel 5. Tingkat pendidikan formal pedagang Tingkat Pendidikan Jumlah Pedagang
(orang)
%
SMP 5 17,9
SMA 23 82,1
Total 28 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2018) Pengalaman Usaha
Pada Tabel 6 menunjukkan bahwa pedagang responden yang memiliki pengalaman berusaha lebih kecil dari 10 tahun adalah sebesar 10 orang (35,7%), 19
pengalaman berusaha 10-25 tahun adalah sebesar 14 orang (50%), dan pengalaman berusaha di atas 25 tahun sebesar 4 orang (14,2%). Jadi hal ini menunjukkan bahwa pedagang relatif sudah berpengalaman di atas 10 tahun.
Tabel 6. Pengalaman berusaha pedagang Pengalaman Usaha
(tahun)
Jumlah Pedagang (orang)
%
< 10 10 35,7
10-25 14 50
>25 4 14,2
Total 28 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
Adanya pedagang responden yang memiliki pengalaman berusaha lebih dari 25 tahun menunjukkan bahwa pengalaman berusaha sangat dibutuhkan oleh pelaku pemasaran ayam petelur afkir karena membutuhkan pengetahuan dan informasi mengenai pemasaran ayam petelur afkir dan juga membutuhkan relasi.
Pengalaman berusaha ini terlihat bahwa umumnya setiap pelaku pasar membangun hubungan kerja yang didasarkan atas kepercayaan dan lamanya hubungan kerja yang terjalin diantara sesama pedagang. Semakin lama dia berusaha maka akan semakin mudah untuk mendapatkan kepercayaan dari pihak pelaku pasar yang lain.
Karakteristik Peternak Responden
Peternak responden dalam penelitian ini berasal dari Kota Binjai berjumlah 3 orang.
Tabel 7. Karakteristik peternak responden berdasarkan umur
Kelompok Umur Jumlah Peternak (orang) %
21-30 - -
31-40 - -
41-50 1 33,3
51-60 1 33,3
>60 1 33,3
Jumlah 3 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
33
33
Berdasarkan Tabel 7 persentase kelompok umur 41 - 50, 51 - 60, dan > 60 tahun adalah sebesar 33,3%. Hal ini menunjukkan bahwa peternak sudah berusia tua, dan artinya sudah ada penurunan produktivitas peternak untuk ayam ras secara rata-rata adalah 25 tahun, salah satu dari mereka sudah beternak sejak dari remaja.
Tingkat Pendidikan Peternak
Tabel 8. Karakteristik peternak responden berdasarkan tingkat pendidikan
Tingkat Pendidikan Jumlah
Peternak (orang) %
Tamat SMP -
Tamat SMA 2 66,6
Tamat S1 1 33,3
Total 3 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
Berdasarkan Tabel 8 tingkat pendidikan peternak paling banyak adalah tamatan SMA yaitu sebanyak 2 orang (66,6%), dan diikuti dengan pendidikan S1 yaitu 1 orang (33,3%). Hal ini mengindikasikan dengan tingginya pendidikan peternak, tingkat penerimaan mereka terhadap informasi mengenai ayam afkir adalah cepat.
Pengalaman Beternak Tabel 9. Pengalaman beternak
Pengalaman Jumlah Peternak (orang) %
<15 tahun -
>15 tahun 3 100
Total 3 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
Pada Tabel 9 di atas dapat diketahui bahwa karakteristik peternak responden berdasarkan pengalaman usaha beternak menunjukkan bahwa 100%
peternak responden memiliki pengalaman lebih besar dari 15 tahun. Hal ini 21
menunjukkan bahwa peternak ayam petelur afkir sudah memiliki banyak pengalaman beternak ayam petelur afkir.
Lembaga Pemasaran
Aspek pemasaran ayam petelur afkir yang dikaji dalam penelitian ini meliputi beberapa hal:
1. Bentuk saluran pemasaran oleh beberapa jenis lembaga yang berperan dalam pemasaran ayam petelur afkir
2. Analisis margin pemasaran pada masing-masing saluran pemasaran dengan memaparkan biaya yang dikeluarkan oleh pelaku pasar dan keuntungan yang didapatkan
Lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran ayam petelur afkir di Kota Binjai yakni:
Peternak adalah produsen dari ayam petelur yang memasarkan atau menjual ayam afkir ke pedagang pengumpul atau agen. Peternak langsung menjual ayam afkir tanpa melakukan penyortiran. Jumlah responden peternak adalah 4 orang yang berasal dari lokasi peternakan di Kecamatan Binjai Barat.
Pedagang pengumpul atau agen adalah lembaga pemasaran yang bertindak membeli ayam afkir dari peternak dan menjual ke pedagang pengecer. Pedagang pengumpul atau agen dalam penelitian ini adalah sebanyak 2 orang yang membeli dari peternak langung.
Pedagang pengecer adalah lembaga pemasaran yang melakukan pembelian ayam afkir dengan jumlah yang relatif kecil dan memasarkan kepada konsumen.
Dalam penelitian ini pedagang pengecer yang dipilih sebagai sampel adalah
35
35
Konsumen merupakan pihak terakhir di dalam saluran pemasaran ayam afkir yang terdiri dari dua jenis yaitu konsumen yang mengkonsumsi langsung dan konsumen yang membeli ayam afkir untuk dijual kembali setelah diolah.
Jumlah responden peternak adalah sebesar 3 orang di Kecamatan Binjai Barat. Jadi peternak skala usaha menengah dan besar berada di Kecamatan Binjai Barat dan merekalah yang mensuplai sebagian besar kebutuhan ayam afkir. Dalam penelitian ini tergambar bahwa masing-masing peternak sudah mempunyai langganan sendiri. Hasil penelitian menunjukkan ayam afkir yang berasal dari peternak-peternak di Kecamatan Binjai Barat dibeli oleh pedagang pengumpul untuk memenuhi kebutuhan ayam afkir di kota Kota Binjai. Pedagang pengumpul membeli ayam afkir dari peternak dan menjualnya ke pedagang pengecer di Kota Binjai.
Pedagang pengecer adalah pedagang yang langsung berhubungan dengan konsumen ayam afkir di Kota Binjai. Pedagang pengecer adalam penelitian ini adalah sebanyak 28 orang di pasar Tavip.
Saluran Pemasaran
Dalam kegiatan pemasaran terdapat lembaga pemasaran yang merupakan lembaga perantara yang menghubungkan produsen ke konsumen dalam menyampaikan hasil produksi:
Saluran Pemasaran I
Gambar 1. Skema Saluran Pemasaran I
Berdasarkan gambar di atas merupakan saluran pemasaran dua tingkat karena pemasaran ayam afkir dari peternak ke konsumen melalui 2 lembaga
Peternak Agen Pedagang
Pengecer
Konsumen 23
pemasaran yaitu pedagang pengumpul atau agen dan pedagang pengecer. Peternak berasal dari Kecamatan Binjai Barat dan menjual ayam afkir kepada agen yang datang ke peternak. Agen mengangkut ayam afkir menggunakan sepeda motor dan langsung dijual ke pedagang pengecer di pasar.
Saluran Pemasaran II
Gambar 2. Skema Saluran Pemasaran II
Berdasarkan gambar di atas adalah jenis pemasaran yang termasuk saluran pemasaran satu tingkat karena saluran ini hanya menggunakan satu lembaga perantara yaitu pedagang pengecer. Peternak ayam afkir pada saluran ini berasal dari Kecamatan Binjai Barat yang memproduksi ayam afkir dalam skala kecil dan menjualnya langsung ke pedagang pengecer.
Margin Pemasaran
Margin pemasaran merupakan selisih harga yang diterima oleh peternak ayam afkir dengan harga yang dikeluarkan oleh konsumen yang membeli ayam afkir. Margin pemasaran suatu komoditas terdiri dari biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga pemasaran serta keuntungan yang diterima oleh peternak dan lembaga-lembaga pemasaran. Untuk dapat mengetahui besarnya keuntungan yang didapatkan pelaku pemasaran serta biaya-biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran maka perlu dilakukan analisis margin pemasaran pada setiap saluranpemasaran.
Saluran pertama yaitu melibatkan satu lembaga pemasaran, yaitu agen. Saluran pemasaran ini meliputi
Peternak Agen Pedagang Pengecer Konsumen
Peternak Pedagang
Pengecer
Konsumen
37
37
Saluran pemasaran kedua melibatkan dua lembaga pemasaran meliputi Peternak Pedagang Pengecer Konsumen.
Saluran pemasaran I terdiri dari peternak yang berasal dari Kecamatan Binjai Barat dan pedagang pengecer yang berada di pasar tradisional di Kota Binjai. Biaya pemasaran yang dikeluarkan peternak terdiri dari biaya keranjang sebesar Rp. 2.000,- per bulan, dan biaya tenaga kerja Rp. 150.000 sehingga biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh peternak adalah sebesar Rp. 152.000,-per bulan.
Tabel 10. Biaya pemasaran ayam petelur afkir yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran pada Saluran Pemasaran I
Biaya Saluran Pemasaran I
No. Jenis
Jumlah Ayam Afkir (Ekor/Bulan)
Biaya Pemasaran
(Rp)
Biaya Rata-Rata (Rp/Ekor) 1. Peternak (1.050
ekor) 4.200
a. Keranjang 2.000
b. Tenaga Kerja 150.000 150.000
Jumlah 152.000 36,19
2. Agen (1.050 ekor) 4.200 a. Tenaga Kerja
(150.000) 600.000
b. Bensin
(210.000) 840.000
c. Tali (2.500) 10.000
d. Konsumsi 840.000
e. Keranjang 2.000
Jumlah 2.292.000 545,71
3 Pedagang Pengecer
(300 ekor) 1.200
a. Tenaga Kerja
(150.000) 600.000
b. Sewa Toko
(290.000) 1.160.000
c. Kebersihan
(14.000) 56.000
d. Plastik (50.000) 200.000
Jumlah 2.016.000 1.680
Total Biaya
Pemasaran 4.460.000 2.261,90
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
25
Biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul pada saluran pemasaran I ini adalah sebesar Rp. 2.292.000,- per bulan meliputi biaya tenaga kerja sebesar Rp. 600.000,- per bulan, biaya tali sebesar Rp. 10.000,- per bulan, biaya bensin sebesar Rp. 840.000,- per bulan, biaya konsumsi sebesar Rp.
840.000,- per bulan, biaya keranjang Rp. 2.000,- per bulan dan dengan jumlah ayam afkir yang dipasarkan 4200 ekor maka biaya per ekor adalah sebesar Rp.
545,71,-.
Biaya pemasaran pedagang pengecer sebesar Rp. 2.016.000,- per bulan dengan jumlah penjualan adalah sebesar Rp. 1200 ekor maka biaya rata-rata per ekor adalah Rp. 1.680. Biaya pemasaran pedagang pengecer meliputi biaya tenaga kerja sebesar Rp. 600.000,- per bulan, biaya sewa toko sebesar Rp. 1.116.000, per bulan, biaya kebersihan sebesar Rp. 14.000,- per bulan, biaya plastik sebesar Rp.
50.000,- per bulan. Total biaya pemasaran untuk saluran pemasaran I adalah sebesar Rp. 4.460.000,- per bulan dan biaya per ekor adalah Rp. 2.261,90.
Saluran pemasaran II terdiri dari peternak yang berasal dari Kecamatan Binjai Barat dan pedagang pengecer yang berada di pasar tradisional di Kota Binjai. Biaya pemasaran yang dikeluarkan peternak terdiri dari biaya keranjang sebesar Rp. 2.000,- per bulan, biaya transportasi sebesar Rp. 100.000,- per bulan, biaya tenaga kerja sebesar Rp. 120.000,- per bulan sehingga biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh peternak adalah sebesar Rp. 222.000,-per bulan.
39
39
Tabel 11. Biaya pemasaran ayam petelur afkir yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran pada Saluran Pemasaran II
Biaya Saluran Pemasaran II
No. Jenis
Jumlah Ayam Afkir (Ekor/Bulan)
Biaya Pemasaran
(Rp)
Biaya Rata- Rata (Rp)
1. Peternak (150 ekor) 600
a. Keranjang 2.000
b. Transportasi 100.000
c. Tenaga Kerja 120.000
Jumlah 222.000 370
2
Pedagang Pengecer
(150 ekor) 600
a. Tenaga Kerja
(70.000) 280.000
b. Sewa Toko
(135.000) 540.000
c. Kebersihan
(14.000) 56.000
d. Plastik (50.000) 200.000
Jumlah 1.076.000 1.793,33
Total Biaya
Pemasaran 1.298.000 2.163,33
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
Biaya pemasaran pedagang pengecer sebesar Rp. 1.076.000,- per bulan dengan jumlah penjualan adalah sebesar Rp. 600 ekor maka biaya rata-rata per ekor adalah Rp. 1.793. Biaya pemasaran pedagang pengecer meliputi biaya tenaga kerja sebesar Rp. 280.000,- per bulan, biaya sewa toko sebesar Rp. 540.000, per bulan, biaya kebersihan sebesar Rp. 56.000,- per bulan, biaya plastik sebesar Rp.
200.000,- per bulan. Total biaya pemasaran untuk saluran pemasaran II adalah sebesar Rp. 1.298.000,- per bulan dan biaya per ekor adalah Rp. 2.163.
Margin pemasaran terbesar terdapat pada jalur pemasaran I yaitu sebesar
Rp. 5.000 karena jalur I merupakan rantai terpanjang dari pada jalur pemasaran II, adanya perbedaan harga jual yang lebih tinggi mulai dari agen hingga pedagang pengecer, serta konsumen akhir pada jalur I bukan hanya untuk dikonsumsi 27
langsung tetapi sebagian besar ayam afkir dijual kembali dalam bentuk olahan makanan dalam jumlah besar.
Margin pemasaran terkecil terdapat pada jalur pemasaran I yaitu sebesar
Rp. 7.000 dimana pada jalur ini peternak menjual ayam afkir kepada agen lalu agen menjualnya ke pedagang pengecer dan rata-rata konsumen yang membeli ayam afkir adalah untuk dikonsumsi secara langsung. Pada jalur I dan II besar margin pemasaran ditentukan oleh jarak distribusi dan panjang pendeknya rantai
pemasaran.
Tabel 12. Margin Pemasaran Uraian
Saluran Pemasaran 1 2 Nilai (Rp/ekor) Nilai (Rp/ekor) Peternak
Harga Jual 32.400 32.400
Biaya Pemasaran 36,19 370
Agen
Harga Beli 32.400
Biaya Pemasaran 545,72
Keuntungan 5.054,28
Harga Jual 38.000
Margin 5.600
Pedagang Pengecer
Harga Beli 38.000 32.400
Biaya Pemasaran 1.680 1.793,33
Keuntungan 5.320 5.806,67
Harga Jual 45.000 40.000
Margin 7.000 7.600
Total Biaya Pemasaran 2.261,91 2.163,33
Total Keuntungan 5.320 5.806,67
Total Margin 7.000 7.600
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
Pada kedua jalur pemasaran ayam afkir yang ada di Pasar Tavip biaya terbesar ditanggung oleh jalur pemasaran I yaitu Rp. 2.261. Hal ini karena rantai pemasaran yang melalui dua lembaga pemasaran dan jumlah yang
41
41
diperjualbelikan sangat banyak. Sementara biaya yang ditanggung oleh jalur pemasaran II yaitu sebesar Rp. 2.163 yang merupakan rantai pemasaran yang paling pendek.
Keuntungan pemasaran terbesar terdapat pada jalur pemasaran II yaitu sebesar Rp. 5.806,- karena merupakan rantai pemasaran terpendek serta konsumen yang membeli sebagian besar ayam afkir dijual kembali dalam bentuk olahan makanan dalam jumlah besar. Keuntungan terkecil terdapat pada jalur pemasaran I yaitu sebesar Rp. 5.320,-, hal ini karena rantai pemasarannya lebih panjang dibandingkan saluran II.
Farmer’s Share
Tabel 13. Analisis famer’s share pada saluran pemasaran ayam petelur afkir di Kota Binjai
Saluran Pemasaran
Harga di Tingkat Peternak (Rp/ekor)
Harga di Tingkat Konsumen (Rp/ekor)
Farmer's Share (%)
I 32.400 45.000 66,67
II 32.400 40.000 75
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
Farmer’s share merupakan perbandingan antara harga yang diterima oleh
peternak dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen, dan pada umumnya dinyatakan dalam persentase. Farmer’s share berhubungan terbalik dengan margin pemasaran, artinya semakin tinggi margin pemasaran maka akan semakin lebih rendah farmer’s share. Besarnya bagian yang diterima peternak ayam afkir dapat dilihat pada Tabel 13.
Farmer’s share tertinggi pada saluran pemasaran II yaitu sebesar 75%, artinya peternak menerima harga 75%, dari harga yang dibayarkan konsumen.
29
Selain itu saluran pemasaran I memperoleh nilai farmer’s share terendah yaitu sebesar 66,67%.
Rasio Keuntungan dan Biaya
Biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran dalam menyalurkan ayam afkir dari peternak ke konsumen akhir yang dinyatakan dalam rupiah per ekor. Sedangkan keuntungan lembaga pemasaran merupakan selisih antara margin pemasaran dengan biaya yang dikeluarkan selama proses pemasaran. Analisis rasio keuntugan per biaya dapat digunakan untuk mengetahui apakah kegiatan pemasaran yang dilakukan memberikan keuntungan kepada pelaku pemasaran
Tabel 14. Analisis rasio keuntungan terhadap biaya Lembaga Pemasaran Keuntungan
Biaya (Rp/Ekor) π/C (Rp/Ekor)
Saluran I
Peternak 32.400
Agen 5.054,28 545,72 9,26
Pedagang Pengecer 5.320 1.680 3,16
Total 10.374,28 2.225,72 4,66
Saluran II
Peternak 32.400
Pedagang Pengecer 5.806,67 1.793,33 3,24
Total 5.806,67 1.793,33 3,24
Sumber: Hasil survei data diolah (2018)
Pada saluran II total biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer adalah sebesar Rp. 1.793,33 per ekor sedangkan keuntungan adalah sebesar Rp.
5.806,67 per ekor. Maka rasio keuntungan biaya adalah sebesar Rp. 3,24 per ekor.
Pada saluran I total biaya yang dikeluarkan per ekor adalah sebesar Rp.
2.225,72 Biaya terbesar ditanggung oleh pedagang pengecer yaitu sebesar Rp.
1.680 per ekor, biaya pemasaran terendah ditanggung oleh agen adalah sebesar
43
43
Rp. 545,72 per ekorr. Keuntungan terbesar diperoleh pedagang pengecer yaitu sebesar Rp. 5.320 per ekor, sedangkan keuntungan terendah diperoleh agen yaitu sebesar Rp. 5.054,28 per ekor.
31
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
. Saluran pertama: peternak-agen-pengecer-konsumen dan saluran kedua:
peternak-pengecer-konsumen
.
Dari segi farmer‟s share maka saluran II menempati nilai tertinggi dibandingkan saluran pemasaran I yang artinya saluran pemasaran II merupakan saluran pemasaran yang efisien.Saran
Konsumen perlu mengetahui informasi mengenai penambahan harga dan hal-hal yang mempengaruhi harga karna tidak menutup kemungkinan adanya pelaku pemasar yang sengaja meningkatkan harga dengan harga yang tidak sewajarnya demi keuntungan yang melimpah.
45
45
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, A.J, D.H. Utami, dan A.B. Nugroho. 2013. Analisis pemasaran usaha ayam broiler skala kecil dan besar pada pola Kemitraan PT Sinar Sarana sentosa Malang, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya
Fandy Tjiptono. 2000. Manajemen Jasa, Edisi Kedua, Andy offset, Yogyakarta Gilarso. 2001 : Pengantar Ilmu Ekonomi, Kanisius, Yogyakarta
Gillespie, J.R, dan F.B, Flanders. 2010. Modern Livestock and Poultry Production. 8th edition. Delmar Cengage Learning. NY
Indriyo Gitosudarmo. 2008. Manajemen Pemasaran, edisi pertama, cetakan keempat, Penerbit : BPFE – Yogyakarta
Khoinnisa. 2008. Analisis Permintaan Daging Ayam Broiler Konsumen Rumah Tangga di Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok. Skripsi. Program Studi Sosial Ekonomi Peternakan Fakultas Peternakan, IPB, Bogor.
Kohls, R.L. dan J.N. Uhl. 1990. Marketing of Agricultural Products. Seventh Edition. Macmillan Company, New York.
Kotler, Philip. 1997. Manajemen Pemasaran. Jakrta. PT Prenhallindo. 330 hal.
Kotler, Philip. 2004. Manajemen Pemasaran Jilid 2. Jakarta : PT.Indeks.
Mountney G. J. dan G. R. Parkhurst. 1995. 3rd ed. Poultry Product Technology.
The Haworth Press, Inc. New York.
Muhamad. 2008. Ilmu Pengetahuan Pangan. Bandung: AlfaBeta.
Prayitno, A.S, B. Hartanto, dan B.A. Nugroho. 2014. Efisiensi pemasaran ayam broiler di Kabupaten Bojonegoro. UniversitasBrawijaya Malang Indonesia
Rasyaf, M. 2008. Panduan Beternak Ayam Petelur. Jakarta : Penebar Swadaya Shinta, A. 2011. Manajemen Pemasaran. UB Press : Malang
Soeparno. 2005. Ilmu dan Teknologi Daging. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.
Sudiyono, A. 2001. Pemasaran Pertanian. Penerbit Universitas Muhamadiyah Malang. (UMM Press). Malang.
Sukirno. 2004. Makro Ekonomi. Edisi Ketiga. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Tien R, Muchtadi dan Sugiyono. 2010. Ilmu Pengetahuan Pangan. Bandung:
AlfaBeta.
Yogi dan Rantaningtyas, 2016. Dalam Penayunus,Efisiensi Tataniaga.Diakses melalui: https://penayunus.wordpress.com/2015/02// 26.[20februari 2016].
47
47 LAMPIRAN
Lampiran 1.Data Pedagang Pengecer pada Saluran I
No. Nama
Jumlah Beli Ayam Afkir (Ekor/Minggu)
Dari Harga Beli
(Rp/Ekor) Biaya (Minggu) Harga Jual
(Rp/Ekor)
Jumlah Ayam Afkir yang Terjual (Ekor/Minggu)
1 Heri 15 Agen 40000
Sewa toko: 288500, Tenaga kerja: 80000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000 5
2 Bayu Utomo 20 Agen 40000
Sewa toko: 185000, Tenaga kerja: 120000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000 10
3 Murni 18 Agen 40000
Sewa toko: 288500, Tenaga kerja: 100000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000 8
4 Hengki 15 Agen 40000
Sewa toko: 185000, Tenaga kerja: 100000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000 10
5 Ani 8 Agen 40000
Sewa toko: 245000, Tenaga kerja: 100000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000 5
6 Arif 15 Agen 40000
Sewa toko: 245000, Tenaga kerja: 85000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000 8
7 Iyan 12 Agen 40000
Sewa toko: 135000, Tenaga kerja: 90000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000 7
8 Mulyadi 15 Agen 40000
Sewa toko: 125000, Tenaga kerja: 80000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000 8
9 Abeng 10 Agen 40000
Sewa toko: 375000, Tenaga
kerja: 100000, Kebersihan: 45000 7
49
49
10 Bu Wati 12 Agen 40000
Sewa toko: 75000, Tenaga kerja:
100000, Kebersihan: 14000, Plastik: 50000
45000
8
11 Adi 12 Agen 40000
Sewa toko: 100000, Tenaga kerja: 120000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000
6
12 Edi 12 Agen 40000
Sewa toko: 250000,Tenaga kerja: 120000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000 10
13 Marta 10 Agen 38000
Sewa toko: 150000, Tenaga kerja: 80000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
43000 10
14 Buyung 7 Agen 40000
Sewa toko: 185000, Tenaga kerja: 80000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000 5
15 Ari 7 Agen 40000
Sewa toko: 100000, Tenaga kerja: 100000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000 7
16 Nana 20 Agen 40000
Sewa toko: 250000,Tenaga kerja: 85000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000 17
17 Dodi 18 Agen 38000
Sewa toko: 125000, Tenaga kerja: 100000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
42000 13
18 Riris 15 Agen 40000
Sewa toko: 175000, Tenaga kerja: 80000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000 45000 8
37
19 Nina 8 Agen 40000
Sewa toko: 125000, Tenaga kerja: 90000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000
8
20 Sukar 12 Agen 38000
Sewa toko: 125000, Tenaga kerja: 80000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
42000
12
21 Bambang 8 Agen 40000
Sewa toko: 225000, Tenaga kerja: 100000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000 8
22 Oji 10 Agen 40000
Sewa toko: 285000, Tenaga kerja: 90000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000 6
23 Iwan 7 Agen 40000
Sewa toko: 285000, Tenaga kerja: 100000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000 7
24 Dadang 14 Agen 40000
Sewa toko: 225000, Tenaga kerja: 100000, Kebersihan:
14000, Plastik: 50000
45000 10
Total 300 954000 1072000 203
Rata-rata 39750 44666.66667
Lampiran
2. Data Pedagang Pengecer pada Saluran II
No Nama
Jumlah beli ayam afkir (Ekor/Minggu)
Dari Harga Beli
(Rp/Ekor) Biaya (Minggu) Harga jual
(Rp/Ekor)
Jumlah Ayam Afkir yang
Terjual (Ekor/Minggu)
1 Rilam 25 Peternak 35000
Sewa toko: 185000, Tenaga kerja:
70000, Kebersihan: 14000,
Plastik: 50000 40000 18