ANALISIS PEMASARAN DAGING SAPI DI PASAR TRADISIONAL KOTA BINJAI
SKRIPSI
Oleh:
FAISAL HARIANTO PURBA 150306031
PETERNAKAN
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERAUTARA
2020
SKRIPSI
Oleh:
FAISAL HARIANTO PURBA 150306031
PETERNAKAN
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk dapat melaksanakan gelar sarjana di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara
PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERAUTARA
2020
ABSTRAK
FAISAL HARIANTO PURBA, 2021 “Analisis Pemasaran Daging Sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai”, dibimbing oleh ISKANDAR SEMBIRING dan HAMDAN.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik peternak, agen dan pedagang pengecer pemasaran ayam broiler, dan saluran pemasaran ayam broiler, menganalisis margin pemasaran, farmer’s share, rasio keuntungan, dan biaya Pemasaran Daging Sapi, serta menganalisis efisiensi pemasaran Daging Sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2019 – April 2019. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah penarikan sample pedagang pengecer dengan menggunakan sampling jenuh (sensus), sedangkan sampel peternak dan lembaga pemasaran lainnya dengan metode penelusuran. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan kuisioner.
Analisis data meliputi biaya pemasaran, margin pemasaran, share peternak dan rasio keuntungan biaya dari masing-masing saluran pemasaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada dua saluran pemasaran. Margin pemasaran terkecil diperoleh pada saluran pemasaran I, maka dari itu saluran pemasaran I memiliki rasio keuntungan terhadap biaya lebih besar. Farmer’s Share terbesar diperoleh pada saluran pemasaran I. Sehingga dapat disimpulkan bahwa saluran pertama adalah saluran yang paling efesien karena memiliki biaya terkecil dan dengan keuntungan yang besar.
Kata kunci : ayam broiler, saluran pemasaran, efisiensi pemasaran
ABSTRACT
FAISAL HARIANTO PURBA, 2021 "Analysis of Beef Marketing in Binjai Traditional Market", supervised by ISKANDAR SEMBIRING and HAMDAN.
This study aims to identify the characteristics of breeders, agents and retailers of broiler marketing, and broiler marketing channels, to analyze marketing margins, farmer's share, profit ratios, and marketing costs of Beef, and to analyze the efficiency of beef marketing in the Traditional Market of Binjai City. This research was conducted in March 2019 - April 2019. The method used in data collection was sampling of retailers using saturated sampling (census), while samples of breeders and other marketing institutions were using the tracing method. The data was collected by means of interview techniques using a questionnaire.
Data analysis includes marketing costs, marketing margins, farmer shares and cost benefit ratios of each marketing channel. The results of this study indicate that there are two marketing channels. The smallest marketing margin is obtained at marketing channel I, therefore marketing channel I has a greater profit to cost ratio.
The largest farmer's share is obtained in marketing channel I. So it can be concluded that the first channel is the most efficient channel because it has the smallest cost and with the largest profit.
Keywords: broiler chickens, marketing channels, marketing efficiency
ii
Faisal Harianto Purba dilahirkan pada tanggal 09 November 1997 di Kota Sibolga, Tapanuli tengah. Anak Pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Syamsudin Purba dan Ibu Nurhayati Br Tumanggor.
Penulis lulus dari sekolah dasar SD Negeri 101791 Desa Patumbak pada tahun 2009, lulus dari sekolah menengah pertama Yayasan Nurul Hadina di Desa Patumbak pada tahun 2012, lulus dari sekolah menengah atas di MAN 3 Medan pada tahun 2015. Pada tahun 2015 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dari Jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pilihan pertama.
Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif berbagai kegiatan kepanitiaan Hari Susu Nusantara (HSN) 2016, Pekan Olahraga dan Seni Peternakan 2017-2018, dan penulis pernah menjadi ketua Analisis Science Youth Camp 2018. Penulis juga melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada tahun 2018 di Kebun Lada Kota Binjai dan juga melaksanakan Kelompok Kerja Nyata (KKN) pada tahun 2019 di Desa Sinaga Uruk Pandiangan Kecamatan Nainggolan Kabupaten Samosir.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Adapun judul dari skripsi ini adalah “Analisis Pemasaran Daging Sapi Di Pasar Tradisional Kota Binjai”.
Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Ir. Iskandar Sembiring, MM selaku ketua komisi pembimbing dan Bapak Hamdan, S.Pt, M.Si selaku anggota komisi pembimbing yang telah membimbing dan memberikan arahan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada orang tua atas doa, semangat dan pengorbanan materil maupun moril yang telah diberikan selama ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua staf pengajar dan pegawai di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan semua rekan mahasiswa yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran yang membangun demi perbaikan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.
iv
Hl
ABSTRAK ...i
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ...iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ...vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
DAFTAR LAMPIRAN ... viii
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Rumusan Masalah ... 3
Tujuan Penelitian ... 4
Manfaat Penelitian ... 4
TINJAUAN PUSTAKA Letak Geografis Kota Binjai ... 5
Gambaran Umum Daging Sapi ... 6
Bauran Pemasarann (Marketing Mix) ... 7
Produk (Product) ... 7
Harga (Price) ... 7
Promosi (Promotion) ... 7
Tempat ( Place) ... 8
Pemasaran ... 8
Fungsi-Fungsi Pemasaran ... 8
Saluran Pemasaran ... 9
Biaya Pemasaran ... 10
Margin Pemasaran ... 12
Efesiensi Pemasaran ... 12
Kerangka Pemikiran ... 14
BAHAN DAN METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian ... 15
Metode Penelitian... 15
Metode Penentuan Daerah Penelitian ... 15
Penentuan Sampel ... 15
Metode Pengumpulan data ... 16
Metode Analisis Data ... 16
Defenisi dan Batasan Operasional ... 19 HASIL DAN PEMBAHASAN
DAFTAR ISI
Karakteristik Pedagang Pengecer Daging Sapi ... 22
Karakteristik Pedagang Pengumpul Daging Sapi ... 24
Karakteristik Peternak ... 24
Saluran Pemasaran Daging Sapi ... 28
Biaya Pemasaran ... 29
Margin Pemasaran ... 32
Farmer’s Share ... 32
Rasio Keuntungan Terhadap Biaya ... 32
Efisiensi Pemasaran Daging Sapi ... 33
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 34
Saran ... 35 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
vi
No. Hal 1. Jumlah Ternak yang Dipotong Menurut Kecamatan dan jenis
Ternak di Kota Binjai 2017 ... 6
2. Jenis Kelamin Pedagang Pengecer Daging Sapi ... 22
3. Umur Pedagang Pengecer Daging Sapi ... 22
4. Tingkat Pendidikan Terakhir Pedagang Pengecer Daging Sapi ... 23
5. Pengalaman Usaha Pedagang Pengecer Daging Sapi ... 23
6. Jenis Kelamin Pedagang Pengumpul Daging Sapi ... 24
7. Umur Pedagang Pengumpul Daging Sapi ... 24
8. Tingkat Pendidikan Terakhir Pedagang Pengumpul Daging Sapi ... 25
9. Pengalaman Usaha Pedagang Pengumpul Daging Sapi ... 25
10. Jenis Kelamin Peternak ... 25
11. Umur Peternak ... 26
12. Tingkat Pendidikan Terakhir Peternak ... 27
13. Pengalaman Beternak ... 27
14. Biaya Pemasaran Daging Sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai... 29
15. Margin Pemasaran Daging Sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai ... 31
16. Analisis farmer’s share pada saluran pemasaran daging sapi di Kota Binjai ... 32
17. Rasio Keuntungan Daging Sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai ... 32
18. Efisiensi Pemasaran Daging Sapi Pada Setiap Saluran Pemasaran dan Lembaga Pemasaran ... 33
DAFTAR GAMBAR
No. Hal
1. Bagan Kerangka Pemikiran Penelitian ... 14 2. Skema Saluran Pemasaran I ... 28 3. Skema Saluran Pemasaran II ... 28
v
No. Hal 1. Profil Pedagang Pengecer Daging Sapi di Pasar Tradisional Kota
Binjai ... 39
2. Profil Pedagang Pengumpul Daging Sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai ... 39
3. Profil Peternak ... 40
4. Data Pedagang Pengecer ... 41
5. Data Pedagang Pengumpul ... 42
6. Data Peternak ... 42
7. Kuesioner... 44
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Daging Sapi sangatlah berpotensi untuk memenuhi kebutuhan gizi terhadap manusia karena daging sapi memiliki sumber protein yang cukup tinggi, serta memiliki kandungan asam amino essensial tinngi sehingga memiliki kandungan nutrisi baik bagi pertumbuhan. Daging Sapi juga berfungsi sebagai sumber energy berupa lemak. Person dan Young (1989) menyatakan pada penelitian daging sapi mengandung Protein 18-20%, karbohidrat 1%, mineral, lemak 0,5 - 1% dan material terlarut lainnya (nonprotein dan non karbohidrat) sekitar 3-5% Oleh karena itu daging sapi sangat dibutuhkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan gizi dan selanjutnya akan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia.
Dalam sistem pemasaran daging sapi, bandar daging adalah individu/lembaga yang menyalurkan daging ke pengecer daging atau Horeka.
Banyak juga terdapat penjual daging yang merangkap sebagai pengecer di pasar, karena keuntungan akan lebih maksimal. Untuk daging sapi akan disalurkan ke pedagang pengecer. Pedagang pengecer adalah individu/lembaga yang melakukan penjualan daging sapi langsung ke konsumen, baik konsumen di pasar tradisional.
Didalam menjalankan usaha penjualan daging sapi tentunya diperlukan modal. Modal bisa menentukan seberapa banyak produk yang bisa dikuasai di pasar.
Semakin besarnya modal yang diberikan para pedagang, tentu mereka akan berusaha untuk mengembalikan modal tersebut dengan secepat mungkin. Dalam upaya mengembalikan modal tersebut para pedagang akan menjual produk mereka sebanyak mungkin guna mendapatkan keuntungan yang banyak. Namun usaha
1
penjualan daging sapi tidak terlepas dari beberapa kendala yang dihadapi. Kendala tersebut merupakan hambatan yang cukup kompleks dalam menjalankan usaha.
Resiko harga yang dihadapi adalah berfluktuatifnya harga input produbksi berupa sapi yang masih hidup dan harga output berupa daging sapi yang siap jual.
Harga sapi hidup cenderung naik terutama pada saat sebulan menjelang hari-hari besar seperti pada saat Iduladha karena banyaknya peternak musiman yang mengharapkan keuntungan. Pasca hari-hari besar tersebut harga daging sapi akan kembali turun.
Semakin bertambahnya jumlah penduduk di Kota Binjai, maka kebutuhan akan daging sapi di Kota Binjai akan semakin meningkat. Dengan demikian maka semua aspek yang terkait dengan produksi dan distribusi/pemasaran daging sapi harus menjadi perhatian dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Binjai adalah salah satu kota dalam wilayah provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Binjai terletak 22 km di sebelah barat ibukota provinsi Sumatera Utara, Medan. Letak geografis Binjai 03°03'40" - 03°40'02" LU dan 98°27'03" - 98°39'32" BT.
Ketinggian rata-rata adalah 28 meter di atas permukaan laut. Sebenarnya, Binjai hanya berjarak 8 km dari Medan.
Kota binjai salah satu sentra penjualan daging sapi bila dihitung dari perbatasan di antara kedua wilayah yang dipisahkan oleh Kabupaten Deli Serdang.
Jalan Raya Medan Binjai yang panjangnya 22 km, 9 km pertama berada di dalam wilayah Kota Medan, Km 10 sampai Km 17 berada dalam wilayah Kabupaten Deli Serdang dan mulai Km 17 adalah berada dalam wilayah Kota Binjai. Di Kota binjai terdapat 3 pasar besar yang memasarkan daging sapi yaitu : Pasar Tavip, Pasar
3
Kebun Lada, Dan Pasar Brahrang. Dari ketiga pasar tersebut hanya terdapat 27 (dua tujuh) pedagang sapi di Kota Binjai diantaranya ; 11 (sebelas) pedagang sapi di pasar Tavip , 9 (sembilan) pedagang sapi di pasar Kebun Lada, dan 7 (tujuh) pedagang sapi di pasar Brahrang.
Daging Sapi harus menjadi perhatian utama dalam memenuhi kebutuhan masyarakat produksi adalah kegiatan untuk menghasilkan barang/jasa, sedangkan distribusi / pemasaran / tataniaga adalah kegiatan untuk menyampaikan barang/jasa dari produsen ke konsumen. Saluran pemasaran memberikan gambaran tentang rute atau jalur perjalanan suatu produk. Saluran pemasaran didefenisikan sebagai saluran distribusi yang terdiri dari sejumlah pedagang yang melakukan semua kegiatan (fungsi) untuk menyalurkan produk dari produsen ke konsumen. Saluran pemasaran ada yang panjang dan ada yang pendek. Panjang pendeknya saluran pemasaran dipengaruhi oleh: jarak antara produsen dan konsumen, cepat atau tidaknya produk rusak, skala produksi dan posisi keuangan perusahaan. Daging sapi merupakan salah satu produk peternakan yang mudah rusak, sehingga memerlukan proses pemasaran yang cepat dan efisien.
Oleh karena itu dengan adanya analisis usaha ini, mampu melihat peluang dalam menjual produk yang ingin kita jual, melihat risiko dalam usaha pemasaran daging sapi, melihat faktor-faktor yang mampu mempengaruhi keuntungan didalam usaha daging sapi. Dengan analisis usaha diharapkan mampu menjadi pertimbangan yang baik dalam membangun usaha penjualan daging sapi khususnya di Kota Binjai Sumatera Utara.
Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana karakteristik lembaga-lembaga pemasaran daging sapi?
2. Bagaimana bentuk saluran pemasaran daging sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai?
3. Bagaimana analisis pemasaran dilihat dari margin, farmer share, rasio keuntungan, dan biaya pemasaran?
4. Apakah sistem saluran pemasaran daging sapi di pasar tradisional Kota Binjai sudah efisien?
Tujuan Penelitian
Adapu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik lembaga-lembaga pemasaran daging sapi, dan mengetahui saluran pemasaran daging sapi, menganalisis margin pemasaran, farmer share, rasio keuntungan dan pemasaran daging sapi, serta menganalisis efisiensi pemasaran daging sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai.
Manfaat Penelitian
1. Sebagai Informasi untuk para pelaku bisnis dan pedagang mengenai pemasaran daging sapi.
2. Sebagai sumber informasi dan pengetahuan untuk pihak yang membutuhkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Letak Geografis Kota Binjai
Binjai adalah salah satu kota dalam wilayah provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Binjai terletak 22 km di sebelah barat ibukota provinsi Sumatera Utara, Medan. Letak geografis Binjai 03°03'40" - 03°40'02" LU dan 98°27'03" - 98°39'32"
BT. Ketinggian rata-rata adalah 28 meter di atas permukaan laut. Sebenarnya, Binjai hanya berjarak 8 km dari Medan bila dihitung dari perbatasan di antara kedua wilayah yang dipisahkan oleh Kabupaten Deli Serdang. Jalan Raya Medan Binjai yang panjangnya 22 km, 9 km pertama berada di dalam wilayah Kota Medan, Km 10 sampai Km 17 berada dalam wilayah Kabupaten Deli Serdang dan mulai Km 17 adalah berada dalam wilayah Kota Binjai.
Kota Binjai terbagi atas 5 kecamatan yang kemudian dibagi lagi menjadi 37 kelurahan dan desa. Sedianya Binjai hanyalah sebuah kecamatan di dalam lingkup Kabupaten Langkat. Lima kecamatan tersebut masing-masing adalah: Binjai Kota, Binjai Utara, Binjai Selatan, Binjai Barat, Binjai Timur. Jumlah penduduk kota binjai mencapai 273.892 jiwa terdiri dari laki laki = 136.714 jiwa dan perempuan
=137.178 jumlah rumah tangga sebanyak 62.894 (BPS 2018).
Kecamatan Binjai Kota, Binjai Timur dan Binjai Selatan baru dibentuk pada tahun 1981. Kota Binjai sebelumnya merupakan tempat bermarkas Kepolisian Resort Langkat yang mengurusi urusan kepolisian Kota Binjai dan Kabupaten Langkat. Pada tahun 2001, Polres Langkat kemudian dipindahkan bermarkas di Stabat, ibukota Kabupaten Langkat. Sedangkan untuk Kota Binjai dibentuk Kepolisian Resort Kota Binjai (Polresta Binjai). Tepat di depan kantor wali kota, terdapat Lapangan Merdeka dan Pendopo Umar Baki di Jalan Veteran. Lapangan
5
Merdeka merupakan alun-alun warga Kota Binjai sedangkan Pendopo Umar Baki adalah gedung serba guna untuk melangsungkan banyak acara resmi maupun tidak resmi.
Tabel 1. Jumlah Ternak yang Dipotong Menurut Kecamatan dan jenis Ternak di Kota Binjai 2017
Kecamatan Sapi Potong
Binjai Selatan -
Binjai Kota 11
Binjai Timur 18
Binjai Utara 1.457
Binjai Barat 84
Kota Binjai 1.570
Sumber : Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Binjai.
Karakteristik Daging Sapi
Daging sapi merupakan salah satu bahan pangan asal ternak yang mengandung nutrisi berupa air, protein, lemak, mineral, dan sedikit karbohidrat sehingga dengan kandungan tersebut menjadikan medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri dan menjadikan mudah mengalami kerusakan (Nurwantoro, 2012). Bahan pangan asal ternak menjadi berbahaya dan tidak berguna apabila tidak aman, oleh karena itu, perlu penjagaan yang mutlak dalam keamanan pangan supaya menjadikan berguna bagi tubuh (Bahri, 2008). Komposisi daging sapi terdiri dari 19% protein, 5% lemak, 70% air, 3,5% zat-zat non protein, dan 2,5% mineral.
Sumber lain menyatakan bahwa daging sapi terdiri dari 75% air, 19% protein, 3,5%
substansi non protein yang larut, dan 2,5% lemak. Selain itu bila ditinjau dari asam aminonya, daging memiliki komposisi asam amino yang lengkap dan seimbang (Lawrie, 2003).
Bauran Pemasaran (Marketing Mix)
7
Bauran pemasaran adalah perangkat pemasaran yang baik meliputi produk, penentuan harga, promosi, dan distribusi digabungkan untuk mendapatkan respon yang diinginkan dari pasar sasaran (Kotler dan Amstrong, 2012).
Produk (Product)
Product adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepada konsumen atau pengunjung barang atau jasa untuk dilihat, dipegang, dibeli atau dikonsumsi.
Mengelola unsur produk termasuk perencanaan dan pengembagan produk atau jasa yang tepat untuk dipasarkan (Bagus, 2002).Daging merupakan bahan pangan yang bisa diolah menjadi produk makanan yang menarik, pengolahan produk daging tersebut mampu meningkatkan harga jual. Bahan makanan yang berasal dari produk olahan daging sapi antara lain bakso daging, korned, dendeng,dan abon (Hanif, 2011)
Harga (Price)
Price sejumlah uang yang konsumen bayar untuk membeli suatu produk atau mengganti hak milik produk. Harga meliputi last price, discount, payment period, credit terms, dan retail price (Bagus, 2002). Harga daging dan ternak sapi relatif masih tinggi dan akan tetap stabil jika pemerintah bisa menstabilkan harga.
Cara menstabilkan harga ini bisa dilakukan dengan meningkatkan tata kelola beternak sapi. Memperbaiki tata kelola beternak sapi jauh lebih penting dan baik daripada mengimpor sapi (Shantoso, 2010).
Saat ini untuk menstabilakan harga daging dan ternak sapi, pemerintah memilih jalan impor daging dan ternak sapi siap potong. Jika hal ini terus menerus dilakukan, peternak yang akan mendapatkan masalahnya. Harga daging sapi akan
cenderung turun karena banyak daging dan sapi siap konsumsi sehingga ada persaingan harga dengan peternak lokal (Huitema, 1985).
Promosi (Promotion)
Promotion merupakan salah satu perubah di dalam bauran pemasaran yang sangat penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan produknya.
Sebagus apapun suatu produk, bila konsumen belum pernah mendengarnya dan tidak yakin produk itu akan berguna bagi mereka, maka mereka tidak akan membelinya. Pada dasarnya promosi adalah semua kegiatan yang bermaksud mengomunikasikan atau menyampaikan suatu produk kepada pasar sasaran untuk memberi informasi tentang keistimewaan, kegunaan dan yang paling penting adalah tentang keberadaannya, untuk mengubah sikap ataupun mendorong orang untuk bertindak (dalam hal ini membeli). Tujuan utama dari promosi adalah untuk menginformasikan, mempengaruhi dan membujuk serta member kepercayaan kapada konsumen supaya konsumen tertarik dengan barang atau jasan yang sedang dipasarkan (Hermawan, 2015).
Tempat (Place)
Place merupakan berbagai kegiatan perusahaan untuk membuat produk yang dihasilkan dan dijual dengan tempat yang terjangkau dan tersedia bagi pasar sasaran (Bagus, 2002).
Pemasaran
Pemasaran adalah suatu proses dan manajerial yang membuat individu atau kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai kepada pihak
9
lain atau segala kegiatan yang menyangkut penyampaian produk atau jasa mulai dari produsen sampai konsumen (shita, 2011).
Menurut Kotler dan Amstrong (1994) pemasaran merupakan salah satu proses sosial dan manajerial dengan nama individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka inginkan dengan cara menciptakan dan mempertukarkan produk dan nilai dengan pihak lain.
Fungsi-Fungsi Pemasaran
Fungsi dan peranan pemasaran adalah mengusahakan agar pembeli memperoleh barang yang di inginkan pada tepat, waktu, bentuk dan harga yang tepat, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah pada barang yang ditawarkan.
Pemasaran mempunyai 4 fungsi utama yaitu fungsi pengangkutan, penyimpanan dan pengolahan serta fungsi pembiayaan (Mubyarto, 1989).
Proses pemasaran memiliki fungsi yang harus dilakukan oleh produser dan prilaku agribisnis. Fungsi-fungsi pemasaran meliputi fungsi pertukaran, fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Fungi perputaran adalah tindakan memperlancar pemindahan hak milik barang atau jasa (pembelian dan penjualan). Fungsi fisik adalah tindakan penanganan pemindahan, dan perubahan fisik komoditi (penyimpanan, transportasi, dan pengolahan). Fungsi fasilitas adalah mempermudah fungsi pertukaran dan fungsi fisik (penanggungan resiko dan penggolongan) (Koals dan Uhls, 1985).
Fungsi perputaran dalam pemasaran meliputi kegiatan yang menyangkut pengalihan kepemilikan dalam system pemasaran. Fungsi pertukaran ini terdiri dari fungsi penjualan dan pembelian. Fungsi fisik meliputi kegiatan-kegiatan yang secara langsung di perlakukan terhadap komoditi, sehinggan komoditi tersebut mengalami tambahan guna tempat dan guna waktu. Berdasarkan definisi fungsi
fisik diatas, maka fungsi fisik ini meliputi pengangkutan dan penyimpanan. Fungsi penyedia fasilitas pada hakikatnya adalah intuk memperangkap fungsi pertukaran dan fungsi fisik, meliputi standarisasi, menanggung resiko, informasi harga, dan penyediaan dana (Sudiyono, 2002).
Saluran Pemasaran
Pemasaran adalah suatu system keseluruhan dari kegiatan-kegiatan usaha/aktivitas dengan tujuan untuk menyampaikan produk baru dan atau biasa dari produsen (penghasil) kekonsumen (pemakai) akhir dan segala upaya yang telah dilakukan untuk memperlancar kegiatan arus barang dan jasa tersebut mewujudkan permintaan yg efektif (Kotler, 1996).
Saluran pemasaran kadang-kadang orang yang menyebutnya juga dengan saluran disstribusi atau saluran perdagangan. Soekartawi (1993) mengatakan bahwa saluran pemasaran adalah saluran atau jalur yang digunakan baik secara langsung ataupun tidak langsung untuk emudahkan pemilihan suatu produk itu bergerak dari produsen sampai berada ke tangan konsumen.
Hanafiah dan Saefudin (1986) mengatakan bahwa saluran pemasaran merupakan badan-badan atau Lembaga yg menyelenggarakan kegiatan atau fungsi pemasaran dengan cara menggerakan aliran barang dagangan tersebut atau hanya bertindak sebagai agen dari pemilik barang. Urutan dari badan ini membentuk rangkaian yang disebut dengan rantai pemasaran.
Penetapan saluran pemasaran oleh produsen sangatlah penting sebab dapat mempengaruhi kelancaran penjualan, tingkat keuntungan, model, resiko dan sebagainya. Oleh karena itu setiap produsen atau perusahaan hendaknya dapat menetapkan saluran pemasaran yang paling tepat. Karena pertambahan jumlah dan
11
proporsi biaya pemasaran terhadap total biaya, maka sangat diperlukan strategi dan kebijakan pengendalian atas biaya pemasaran yang tepat. Dalam strategi dan kebijakan pengendalian biaya pemasaran diperlukan analisis biaya pemasaran yang memadai (Fanani, 2000).
Biaya Pemasaran
Menurut Fanani (2000) analisis pemasaran merupakan aktivitas pemasaran sangat penting untuk menunjang kegiatan pemasaran dalam upaya mencapai tujuannya, untuk itu sampai tingkat tertentu hal itu diimbangi pula dengan besarnya biaya pemasaran yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Pengertian analisa pemasaran dibedakan menjadi dua kategori yaitu : Dalam arti sempit, analisa pemasaran diartikan sebagai biaya penjualan, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menjual produk ke pasar. Dalam arti luas biaya pemasaran meliputi semua biaya yang terjadi sejak saat produk selesai diproduksi dan di simpan dalam gudang sampai dengan produk tersebut diubah kembali dalam bentuk uang tunai ( Mulyadi, 1992).
Untuk indikator efesiensi pemasaran relatif digunakan analisis margin dan korelasi harga yang mencerminkan tingkat keterpaduan pasar. Margin pemasaran terdiri dari biaya pemasaran dan keuntungan biaya pemasaran. Biaya pemasaran akan semakin besar apabila terdapat unsur-unsur biaya yang sifatnya non kompetitif pada sistem pemasaran sehingga tidak efesien (Limbong dan Sitorus, 1987).
Berbagai laporan mengemukakan perbedaan harga disebabkan oleh variasi saluran dan margin pemasaran ternak di Indonesia baik dari jumlah pelaku maupun distribusi biaya dan margin yang diperoleh pelaku pasar. Kariyasa dan Faisal (2004) menyatakan bahwa penyebabnya adalah biaya pemasaran akibat pemberlakuan
berbagai peraturan daerah seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah dan kurangnya fasilitas pemasaran. Disamping itu berbagai laporan mengemukakan bahwa hingga saat ini diperoleh kesan peranan blantik sangat dominan dalam menentukan harga, terlebih dalam kondisi pasar akhir-akhir ini dimana lebih banyak blantik dari pada ternak (Rusastra et al., 2006). Pendapat tersebut berlawanan dengan laporan Kariyasa dan Faisal (2004) dimana biaya pemasaran lebih banyak ditanggung oleh blantik sehingga ia memperoleh manfaat paling sedikit dari aktivitas pemasaran sementara margin/keuntungan lebih banyak dinikmati oleh pejagal.
Masalah pemasaran komoditi pertanian pada dasarnya adalah bagaimana menyalurkan produk-produk pertanian dari produsen kepada konsumen dengan harga yang wajar dan biaya pemasaran minimal. Menurut Downey dan Erickson (1992) bahwa pemasaran hasil pertanian ditinjau dari bagian harga yang diterima oleh petani produsen dikatakan efisien apabila harga jual petani lebih dari 40% dari harga tingkat konsumen.
Margin Pemasaran
Menurut Nainggolan (2017) margin pemasaran dalah perbedaan harga yang diterima oleh peternak penghasil dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir. Margin pemasaran sebagai perbedaan antara harga dibayarkan oleh konsumen akhir dengan harga diterima oleh lembaga pemasaran dan (biaya dari jasa-jasa pemasaran yang dibutuhkan sebagai akibat permintaan dan penawaran jasa-jasa pemasaran. Biaya dari jasa-jasa tersebut terdiri atas biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran yang terlibat dalam melakukan fungsi pemasaran keuntungan yang diperoleh sebagai imbalan jasa melakukan fungsi
13
pemasaran tersebut. Jadi komponen margin pemasaran terdiri atas biaya pemasaran dari keuntungan pemasaran, sehingga pemasaran, sehingga margin dapat dituliskan sebagai berikut :
Efesiensi Pemasaran
Efiisiensi pemasaran adalah nisbah antara total biaya dengan total nilai produk yang dipasarkan (Soekartawi, 1989). Dapat dirumuskan dengan :
Dalam perhitungan total biaya trasnfortasi dilakukan dengan menghitung rata-rata transfortasi yang dikeluarkan kemudian dibagi dengan rata-rata volume pembelian. Untuk perhitungan total biaya produk dilakukan dengan menghitung margin pemasaran kemudian ditambahkan dengan harga jual produser.
Masalah pemasaran komoditi pertanian pada dasarnya adalah bagaimana menyalurkan produk-produk pertanian dari produsen kepada konsumen dengan harga yang wajar dan biaya pemasaran minimal Menurut Downey dan Erikson (1992) bahwa sistem pemasaran dikatakan efisien kalau nilai efisiensi pemasarannya adalah < 1.
Sistem pemasaran akan efesien apabila dapat memberikan suatu balas jasa yang seimbang kepada semua pelaku pemasaran yang terlibat yaitu peternak sebagai produsen, pedagang perantara dan konsumen akhir (Azzaino, 1981).
Efisiensi pemasaran didefenisikan sebagai optimasi dari nisbah antara output dengan input. Suatu perubahan yang dapat mengurangi biaya input dalam melakukan kegiatan pemasaran tanpa mengurangi kepuasan konsumen dari output, yang dapat berupa barang dan jasa, menunjukkan suatu perbaikan dari tingkat efisiensi pemasaran (Feed, 1972).
Analisis Analisis pemasaran Daging Sapi Daging Sapi Kerangka Pemikiran Penelitian
Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran
Analisis Kuantitatif
Efisiensi Pemasaran
Margin Pemasaran
Share Biaya dan Keuntungan
Famers share Analisis Kualitatif
Karakteristik Lembaga
Saluran Pemasaran
Penetapan Hargakalitatif
Karekteristik
Lembaga Pemasaran
Pedagang pengumpul
Pedagang Besar
Konsumen PPeternak/Produsen
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di 3(Tiga) pasar yaitu pasar Tavip, pasar Kebun Lada, dan Pasar Brahrang Kota Binjai provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai April 2019.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan responden pelaku pemasaran Pedagang daging Sapi . Survei adalah metode pengumpulan data primer dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada respoden individu dalam bentuk kuisioner (Erlina, 2011).
Metode Penentuan Daerah Penelitian
Daerah penelitian kajian pemasaran daging sapi di Kota Binjai, dimana daerah ini merupakan salah satu tempat pemasaran daging sapi yang ada di Sumatera Utara. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive (sengaja) di 3 pasar yang ada di Kota Binjai. Alasan memilih pasar Tavip, Pasar Kebun Lada dan pasar Brahrang tersebut sebagai lokasi penelitian dikarenakan pasar tradisional tersebut menjual komoditi yang akan diteliti di Kota Binjai.
Penentuan Sampel
Penentuan sampel diilakukan secara purpose sampling dimana responden terdiri dari seluruh pedagang daging sapi di pasar Tavip, pasar Kebun Lada dan pasar Brahrang Kota Binjai. Dari 3(tiga) pasar tersebut , responden dipilih secara accidental sampling yaitu responden yang ada saat didatangi ke pasar dan bersedia untuk di wawancarai serta memiliki data yang di perlukan (Khoinnisa, 2008).
15
Sedangkan peternak/produsen dan lembaga pemasaran lainnya seperti agen dapat ditentukan dengan snowball sampling dengan cara mengikuti aliran pemasaran berdasarkan informasi yang didapatkan dari pedagang daging sapi sebelumnya.
Metode Pengumpulan Data
Data primer dan sekunder dikumpulkan pada saat penelitian berlansung.
Data-data primer dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi langsung dan awancara dengan responden menggunakan angket atau kuisioner. Data-data sekunder dikumpulkan dari data BPS (Badan Pusat Statistik) Kota Binjai Sumatera Utara dan dari instansi lain yang tterkaitdengan penelitian serta dari literatur, buku atau jurnal.
Metode Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah secara kualitatif dan kuantitatif, dan disajikan dalam bentuk uraian dan tabulasi angka. Pengolahan data dilakukan dengan metode deskriptif.
Analisis kualitatif digunakan untuk menegetahui karakteristik lembaga pemasaran, dan saluran pemasaran ternak kerbau.
1. Analisis margin pemasaran.
Menurut soekartawi (1995), untuk mencari margin pemasaran dapat digunakan rumus :
MP = Pr – Pf Keterangan :
MP: Margin pemasaran (Rp/Kg)
Pr : Harga di tingkat konsumen (Rp/Kg) Pf : Harga di tingkat peternak (Rp/Kg)
2. Analisis Farmer`s Share yang diterima produsen
17
Menurut Sudiyono (2002), untuk mencari Share harga yang diterima produsen dapat digunakan rumus :
Pf
Spf = x 100%
Pr Keterangan :
Spf : Farmer`s Share (%)
Pr : Harga di tingkat konsumen (Rp/Kg) Pf : Harga di tingkat Peternak (Rp/Kg)
3. Analisis share biaya pemasaran dan share keuntungan lembaga pemasaran Menurut Sudiyono (2002), untuk mencari share biaya pemasaran dan share keuntungan lembaga pemasaran dapat digunakan rumus :
Kpi Kbi
Ski = x 100 % Sbi = x 100%
(Pr – Pf) (Pr – Pf)
Keterangan :
Ski : Share keuntungan lembaga pemasaran ke-i (i=1) (Rp/Kg) Kpi : Keuntungan lembaga pemasaran ke-i (Rp/Kg)
Sbi : Share biaya pemasaran ke-i(Rp/Kg) Kpi : Biaya pemasaran ke-i (Rp/Kg) Pr : Harga di tingkat konsumen (Rp/Kg) Pf : Harga di tingkat produsen (Rp/Kg) 4. Efisiensi Pemasaran
Efisiensi pemasaran =
Total Biaya Pemasaran Total Harga produk
x 100%
Menurut Downey dan Erickson (1992) bahwa sistem pemasaran dikatakan efisien kalau nilai efesiensi pemasarannya < 1.
Tolak ukur yang digunakan untuk mengukur efisiensi pemasaran adalah dengan melihat perbandingan share keuntungan dari masung-masing lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran dibandingkan dengan biaya
pemasaran dari masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat dengan kriteria sebagai berikut :
a. Margin pemasaran
Pemasaran dikatakan efisien apabila margin pemasaran peternak lebih besar dari margin pemasaran yang diterima oleh lembaga pemasaran secara keseluruhan dan sebaliknya.
b. Berdasarkan share biaya dan share keuntungan
Pemasaran dikatakan efisien jika share keuntungan > dari share biaya dan sebaliknya.
c. Berdasarkan farmer`s share
Dikatakan efisien jika farmer`s share > 50 %. Nilai farmer`s share memiliki hubungan negatif dengan margin pemasaran artinya semakin tinggi margin pemasaran maka farmer`s share semakin rendah.
d. Rasio keuntungan biaya
Dikatakaan efesien jika rasio kentungan biaya > 1 dan sebalikya.
Defenisi dan Batasan Operasional
Untuk menghindari kekeliruan dan kesalah pahaman dalam menafsirkan penelitian, maka dibuat definisi dan batasan operasional sebagai berikut : Defenisi
1. Daging Sapi adalah daging yang diperoleh dari sapi yang biasa dan umum digunakan untuk keperluan konsumsi makanan.
2. Pemasaran adalah kegiatan ekonomi yang berfungsi menyampaikan barang dari produser ke konsumen melalui perantara atau lembaga pemasaran.
19
3. Pasar adalah tempat untuk bertransaksi jual beli yaitu meliputi sapi kambing dan domba.
4. Lembaga pemasaran adalah orang atau badan usaha yang terlibat dalam proses pemasaran Daging Sapi di Kota Binjai Provinsi Sumatera Utara.
5. Saluran pemasaran adalah penjualan barang-barang dan volume arus barang pada setiap saluran dari peternak/produser ke konsumen.
6. Margin pemasaran adalah selisih harga jual daging sapi ke lembaga pemasaran berikutnya dengan harga beli dari lembaga sebelumnya.
7. Farmer`s shere adalah persentase harga daging yang diterima oleh peternak yaitu dengan membandingkan daging sapi dari peternak dengan harga beli daging sapi pada konsumen dikalikan 100%.
8. Efesiensi pemasaran adalah suatu ukuran dimana pembagian antara biaya yang dikeluarkan untuk memasarkan tiap unit produk dengan harga produk yang dipasarakan dan dinyatakan dalam persen.
9. Produse/peternak adalah orang yang menghasilakan produk dan terlibatt dalam saluran pemasaran daging sapi.
10. Pedagang adalah lemabaga pemasaran yang membeli ternak kerbau dari peternak dan menjual nya kembali dengan tingkat keuntungan tertentu.
Batasan Operasional
1. Penelitian dilakukan di pasar Tavip, pasar Kebun Lada dan pasar Brahrang hewan di Kota Binjai.
2. Penelitian dilakukan mulai bulan Maret-April 2019.
3. Objek penelitian adalah lembaga-lembaga pemasaran daging sapi di Pasar Tavip, pasar Kebun Lada dan pasar Brahrang yang menjual daging sapi di Kota Binjai
4. Ruang lingkup penelitian ini adalah analisis pemasaran daging Sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai. Analisis pemasran ini dilakukan dengan melihat lembaga dan saluran pemasaran, analisis margin pemasaran, analisis farmer`s share, biaya pemasaran, dan share keuntungan, serta menganalisis efisiensi pemasaran.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Binjai adalah salah satu kota dalam wilayah provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Binjai terletak 22 km di sebelah barat ibukota provinsi Sumatera Utara, Medan. Letak geografis Binjai 03°03'40" - 03°40'02" LU dan 98°27'03" - 98°39'32"
BT. Ketinggian rata-rata adalah 28 meter di atas permukaan laut. Sebenarnya, Binjai hanya berjarak 8 km dari Medan bila dihitung dari perbatasan di antara kedua wilayah yang dipisahkan oleh Kabupaten Deli Serdang. Jalan Raya Medan Binjai yang panjangnya 22 km, 9 km pertama berada di dalam wilayah Kota Medan, Km 10 sampai Km 17 berada dalam wilayah Kabupaten Deli Serdang dan mulai Km 17 adalah berada dalam wilayah Kota Binjai.
Kota Binjai terbagi atas 5 kecamatan yang kemudian dibagi lagi menjadi 37 kelurahan dan desa. Sedianya Binjai hanyalah sebuah kecamatan di dalam lingkup Kabupaten Langkat. Lima kecamatan tersebut masing-masing adalah Binjai Kota, Binjai Utara, Binjai Selatan, Binjai Barat, dan Binjai Timur.
Pedagang Daging Sapi
Pedagang daging sapi yang terdapat di pasar tradisionalmemperoleh daging sapi dari dalam dan luar kota untuk memenuhi kebutuhanakan konsumsi daging sapi. Di Pasar Tavip memiliki 11 pedagang daging sapi yang setiap harinya melakukan kegiatan pemasaran dagingsapi, pedagang daging sapi di Pasar Brahrangsebanyak 9 pedagang,sementara pedagang di Pasar Kebun Lada ada sebanyak 7 pedagang yangmenjual daging sapi.
21
Karakteristik Pedagang Pengecer Daging Sapi
Dalam menyampaikan komoditi daging sapi dari produsen hingga ke tangan konsumen akan melalui beberapa lembaga pemasaran. Dalam penelitan ini terdapat 10 orang responden pedagang pengecer yang berada di pasar tradisional Kota Binjai.
Masing-masing pedagang dari ketiga pasar tradisional yang terlibat memiliki sifat yang berpengaruh pada aktivitas pemasaran yang dilakukan. Karakteristik pedagang yang meliputi jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, dan pengalaman berdagang.
a. Jenis Kelamin Pedagang Pengecer Daging Sapi Tabel 2. Jenis Kelamin Pedagang Pengecer Daging Sapi
Sumber: Hasil survei data diolah (2020)
Responden pedagang pengecer daging sapi berjumlah 10 orang yang terdiri dari 10 orang laki-laki (100,0%). Dari hasil penelitian didapatkan bahwaseluruh jumlah jenis kelamin adalah laki-laki. Hal ini berkaitan dengan aktivitas fisik seperti pemesanan, pengangkutan dan pemotongan yang dilakukan pedagang dengan tenaga yang lebih besar.
b. Umur Pedagang Pengecer Daging Sapi Tabel 3. Umur Pedagang Pengecer Daging Sapi
Sumber: Hasil survei data diolah (2020)
Jenis Kelamin Jumlah Pedagang (orang) %
Laki-laki 10 100,0
Perempuan 0 0
Total 10 100
Kelompok Umur Jumlah Pedagang
(orang) %
< 35 2 20,0
36-50 6 60,0
> 51 2 20,0
Total 10 100
23
Pedagang responden pada umur produktif yaitu pada umur 36-50 tahun adalah sebanyak 6 orang (60,0%) dan pedagang dengan umur dibawah 35 tahun adalah sebanyak 2 orang (20,0%), sementara itu pada tingkat umur lebih besar dari 51 tahun adalah sebanyak 2 orang (20,0%). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pedagang sebagian besar termasuk dalam umur yang produktif dan sudah cukup berpengalaman.
c. Tingkat Pendidikan Terakhir Pedagang Pengecer Daging Sapi Tabel 4. Tingkat Pendidikan Terakhir Pedagang Pengecer Daging Sapi
Sumber: Hasil Survei data diolah (2020)
Berdasarkan dari tabel diatas karakteristik dari pendidikan terakhir pedagang daging sapi dari hasil penelitian yang sudah dilakukan dengan tingkat pendidikan SD berjumlah 5 orang (50,0%), tingkat pendidikan SMP berjumlah 2 orang (20,0%) dan pada tingkatpendidikan SMA/SLTA berjumlah 3 orang (30,0%).
Hal ini menunjukkan sebagian besardari pedagang pengecer responden memiliki tingkat pendidikan yang palingbanyak adalah SMP.
d. Pengalaman Usaha Pedagang Pengecer Daging Sapi Tabel 5. Pengalaman Usaha Pedagang Pengecer Daging Sapi
Sumber: Hasil survey data diolah (2020)
Berdasarkan dari tabel karakteristik dari pengalaman usaha pedagang daging sapi di pasar tradisional Kota Binjai dari hasil penelitian yang sudah
Tingkat Pendidikan Jumlah Pedagang (orang)
%
SD 5 50,0
SMP 2 20.0
SMA/SLTA 3 30,0
Total 10 100
Pengalaman Usaha (tahun)
Jumlah Pedagang (orang)
%
< 10 3 30,0
11-20 7 70,0
Total 10 100
dilakukan yang memiliki pengalaman usaha dibawah dari 10 tahun berjumlah 3 orang (30,0%) dan yang memiliki pengalaman usaha dari 11-20 tahun berjumlah 70,0 orang (70,0%).
Karakteristik Pedagang Pengumpul Daging Sapi
Pedagang pengumpul dalam penelitian ini adalah pedagang yang berperan sebagai penyalur dari peternak hingga sampai ke pedagang pengecer. Pedagang pengumpul yang terlibat dalam pemasaran ini adalah sebanyak 6 orang.
a. Jenis Kelamin Pedagang Pengumpul Daging Sapi Tabel 6. Jenis Kelamin Pedagang Pengumpul Daging Sapi
Sumber: Hasil survei data diolah (2020)
Pedagang pengumpul yang mengangkut adalah 100% berjenis kelamin laki- laki. Hal ini disebabkan pengangkutan hendaklah menggunakan tenaga yang maksimal dan menggunakan kecekatan dalam hal fisik untuk mengurangi resiko dalam hal kerusakan produk pada masa pengangkutan.
b. Umur Pedagang Pengumpul Daging Sapi Tabel 7. Umur Pedagang Pengumpul Daging Sapi
Sumber: Hasil survei data diolah (2020)
Berdasarkan tabel di atas pedagang pengumpul yang berjumlah 4 orang, termasuk dalam golongan umur yang masih produktif 36-50 tahun dan masih dalam kondisi yang bugar untuk melakukan proses pengangkutan.
Jenis Kelamin Jumlah Pedagang (orang) %
Laki-laki 6 100,0
Perempuan 0 0
Total 6 100
Kelompok Umur Jumlah Pedagang
(orang) %
< 35 1 16.67
36-50 4 66,66
> 51 1 16,67
Total 6 100
25
c. Tingkat Pendidikan Terakhir Pedagang Pengumpul Daging Sapi Tabel 8. Tingkat Pendidikan Terakhir Pedagang Pengumpul Daging Sapi
Sumber: Hasil Survei data diolah (2020)
Berdasarkan Tabel 8, menunjukkan tingkat pendidikan dalam bentuk jumlah dan persentasi sebanyak 3 orang (50,0%) tamat SD , sebanyak 1 orang (16,67%) tamat SMP dan sebanyak 2 orang (33,33%) pedagang pengumpul tamat SMA/SLTA.
d. Pengalaman Usaha Pedagang Pengumpul Daging Sapi Tabel 9. Pengalaman Usaha Pedagang Pengumpul Daging Sapi
Sumber: Hasil survey data diolah (2020)
Berdasarkan dari tabel karakteristik dari pengalaman usaha pedagang pengumpul daging sapi di pasar tradisional Kota Binjai dari hasil penelitian yang sudah dilakukan yang memiliki pengalaman usaha dibawah dari 10 tahun berjumlah 2 orang (33,33%) dan yang memiliki pengalaman usaha dari 11-20 tahun berjumlah 4 orang (66,67%).
Karakteristik Peternak
Peternak dalam penelitian ini berjumlah 15 orang. Karakteristik peternak adalah sebagai berikut :
a. Jenis Kelamin Peternak
Tingkat Pendidikan Jumlah Pedagang (orang)
%
SD 3 50,0
SMP 1 16,67
SMA/SLTA 2 33,33
Total 6 100
Pengalaman Usaha (tahun)
Jumlah Pedagang (orang)
%
< 10 2 33,33
11-20 4 66,67
Total 6 100
Tabel 10. Jenis Kelamin Peternak
Jenis Kelamin Jumlah Peternak (orang) %
Laki-laki 14 93,33
Perempuan 1 6,67
Total 15 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2019)
Berdasarkan tabel diatas karakteristik dari jenis kelamin peternak di pasar tradisional Kota Binjai dari hasil penelitian yang sudah dilakukanpeternak yang berjenis kelamin laki-laki adalah sebanyak 14 orang (93,33%) dan yang berjenis kelamin perempuan adalah sebanyak 9 orang (6,67%) . Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada jenis kelamin perempuan. Hal ini disebabkan karena dalam prosesbeternak membutuhkan tenaga kerja yang maksimal dalam pemeliharaan yangdimana dalam peran ini lebih baiknya laki-laki.
b. Umur Peternak Tabel 11. Umur Peternak
Kelompok Umur Jumlah Peternak (orang) %
< 35 9 60,0
36-50 6 40,0
> 51 0 0
Total 15 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2019)
Berdasarkan tabel diatas karakteristik umur dari peternak di pasar tradisional Kota Binjai dari hasil penelitian yang sudah dilakukan terhadap 15 orang didapatkan peternak yang memiliki umur dibawah dari 35 tahun adalah 9 orang (60,0%), umur 36-50 tahun berjumlah 6 orang (40,0%) sementara umur peternak iatas 51 tahun berjumlah 0 orang (0%). Hal ini menyatakan sebagian besar dari peternak yang ada di pasar tradisional Kota Binjai memiliki usia diatas usia produktif.
27
c. Pendidikan Terakhir Peternak
Tabel 12. Tingkat Pendidikan Terakhir Peternak
Tingkat Pendidikan Jumlah Peternak (orang) %
SD 2 13,33
SMP 2 13,33
SMA S1
10 1
66,67 6,67
Total 15 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2020)
Berdasarkan tabel diatas karakteristik tingkat pendidikan peternak yang ada di pasar tradisional Kota Binjai dari hasil penelitian yang sudah dilakukan adalah dalam bentuk jumlah dan persentasi yang memiliki pendidikan terakhir SD (Sekolah Dasar) sebanyak 2 orang (13,33%), pendidikan terakhir SMP (Sekolah Menengah Pertama) berjumlah 3 orang (13,33%), pendidikan terakhir SMA(Sekolah Menangah Atas) 10 orang (66,67%), dan peternak yang memiliki pendidikan S1 1 orang (6,67%). Hal diatas menyatakan bahwa sebagian besar dari peternak di pasar tradisional Kota Binjai berpendidikan terakhir SMA (Sekolah Menengah Atas). Meskipundemikian tingkat pendidikan tidak memebatasi mereka dalam bidang peternakandan memiliki pengalaman yang cukup untuk bersaing dibidang peternakan.
d. PengalamanPeternak
Tabel 13. Pengalaman Beternak
Tingkat Pendidikan Jumlah Peternak (orang) %
<10 4 26,67
11-20 10 66,67
>21 1 6,66
Total 15 100
Sumber: Hasil survei data diolah (2020)
Berdasarkan tabel diatas karakteristik dari pengalaman beternak di pasar tradisional Kota Binjai dari hasil penelitian yang sudah dilakukan yang memiliki pengalaman dibawah dari 10 tahun berjumlah 4 peternak (26,67%), yang memiliki
Pedagang Pengecer Pedagang
Pengumpul
Peternak Pedagang
Pengecer Konsumen
Peternak Konsumen
pengalaman 11-20 tahun berjumlah 10 peternak (66,67%) kemudian peternak yang memiliki pengalaman beternak diatas 21 tahun adalah 1 peternak (6,66%). Hal ini menyatakan bahwa peternak sebagian besar sudah memiliki pengalaman usaha diatas 10 tahun dalam bidang beternak.
Saluran Pemasaran Daging Sapi
Saluran pemasaran adalah serangkaian pelaku yang menyalurkan semua fungsi yang digunakan untuk menyalurkan produk barang atau jasa kepemilikannya dari produsen sampai ke konsumen. Proses penyaluran produk dari produsen ke konsumen harus dilakukan jarak diantara keduanya berjahuan namun memikirkan factor-faktor umum yang berlaku sehingga tidak terjadi kerugian. Berdasarkan hasil penelitian daging sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai memiliki dua saluran pemasaran. Hal tersebut dapat dilihat pada saluran pemasaran dibawah ini:
Gambar 2. Skema Saluran Pemasaran I
Berdasarkan gambar di atas adalah jenis pemasaran yang termasuk saluranpemasaran satu tingkat karena saluran ini hanya menggunakan satu lembaga perantara yaitu pedagang pengecer. Peternak Daging Sapi pada saluran ini berasal dari Kota Binjai dan diambil langsung oleh pedagang pengecer dengan menggunakan mobil.
Gambar 3. Skema Saluran Pemasaran II
Berdasarkan gambar di atas saluran pemasaran kedua merupakan saluran pemasaran dua tingkat karena pemasaran daging sapi dari peternak ke konsumen
29
melalui 2 lembaga pemasaran yaitu pedagang pengumpul dan pedagang pengecer.
Peternak menjual sapi kepada pedagang pengumpul yang datang ke peternak.
Kemudian pedagang pengumpul menjualnya ke pedagang pengecer di pasar.
Biaya Pemasaran
Biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh pelaku pasar umumnya meliputi biaya pengangkutan, biaya parkir, biaya surat izin, biaya transportasi, biaya tenaga kerja, biaya penginapan, biaya bongkar muat, dan biaya plastik.
Tabel 14. Biaya Pemasaran Daging Sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai Saluran
Pemasaran
Jenis Jumlah
Daging (Rp/kg)
Biaya Pemasaran (Rp/bulan)
Biaya Rata- Rata (Rp/kg) I Peternak
Pedagang Pengecer a. Transportasi b. Tenaga Kerja c. Pajak pasar d. Surat Izin e. Plastik f. Penginapan
- 5.691
- 328.000 1.344.000 56.000 56.000 112.000 120.000
Jumlah 2.016.000 354,24
II Peternak
Pedagang Pengumpul a, Bensin
b. Konsumsi Pedagang Pengecer
a. Transportasi b. Tenaga Kerja c. Pajak pasar d. Surat Izin e. Plastik f. Penginapan
- 5.691
4.973
- 2.000.000 1.600.000 328.000 1.344.000 56.000 56.000 112.000 120.000
632,57
354,24
Jumlah 5.616.000 986,81
Dari hasil tabel penelitian yang sudah dilakukan di atas bahwa biaya pemasaran daging sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai pada saluran pemasaran I berjumlah sebesar Rp.354,24. Pada saluran pemasaran II berjumlah sebesar Rp.986,81/ kg.
Margin Pemasaran
Margin pemasaran merupakan selisih harga yang diterima oleh pedagang daging sapi dengan harga yang dikeluarkan oleh konsumen yang membeli daging sapi. Margin pemasaran suatu komoditas terdiridari biaya pemasaran yang dikeluarkan olehmasing-masing lembaga pemasaran sertakeuntungan yang diterima oleh pedagang daging sapi dan lembaga-lembagapemasaran. Untuk dapat mengetahui besarnya keuntungan yang didapatkan pelaku pemasaran serta biaya- biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran maka perlu dilakukan analisis margin pemasaran pada setiap saluran pemasaran.
Saluran pemasaran yang terlibat di Pasar Tradisional Kota Binjai penelitian ini ada dua saluran pemasaran yaitu :
Saluran pemasaran pertama yaitu saluran produsen langsung ke konsumen.
Saluran pemasaran ini meliputi Peternak Pedagang pengecer Konsumen. Saluran pemasaran kedua melibatkan satu lembaga pemasaran yang ada di pasar yaitu pedagang yang meliputi Peternak
Pedagang Pengumpul Pedagang pengecer Konsumen.