• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Binjai adalah salah satu kota dalam wilayah provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Binjai terletak 22 km di sebelah barat ibukota provinsi Sumatera Utara, Medan. Letak geografis Binjai 03°03'40" - 03°40'02" LU dan 98°27'03" - 98°39'32"

BT. Ketinggian rata-rata adalah 28 meter di atas permukaan laut. Sebenarnya, Binjai hanya berjarak 8 km dari Medan bila dihitung dari perbatasan di antara kedua wilayah yang dipisahkan oleh Kabupaten Deli Serdang. Jalan Raya Medan Binjai yang panjangnya 22 km, 9 km pertama berada di dalam wilayah Kota Medan, Km 10 sampai Km 17 berada dalam wilayah Kabupaten Deli Serdang dan mulai Km 17 adalah berada dalam wilayah Kota Binjai.

Kota Binjai terbagi atas 5 kecamatan yang kemudian dibagi lagi menjadi 37 kelurahan dan desa. Sedianya Binjai hanyalah sebuah kecamatan di dalam lingkup Kabupaten Langkat. Lima kecamatan tersebut masing-masing adalah Binjai Kota, Binjai Utara, Binjai Selatan, Binjai Barat, dan Binjai Timur.

Pedagang Daging Sapi

Pedagang daging sapi yang terdapat di pasar tradisionalmemperoleh daging sapi dari dalam dan luar kota untuk memenuhi kebutuhanakan konsumsi daging sapi. Di Pasar Tavip memiliki 11 pedagang daging sapi yang setiap harinya melakukan kegiatan pemasaran dagingsapi, pedagang daging sapi di Pasar Brahrangsebanyak 9 pedagang,sementara pedagang di Pasar Kebun Lada ada sebanyak 7 pedagang yangmenjual daging sapi.

21

Karakteristik Pedagang Pengecer Daging Sapi

Dalam menyampaikan komoditi daging sapi dari produsen hingga ke tangan konsumen akan melalui beberapa lembaga pemasaran. Dalam penelitan ini terdapat 10 orang responden pedagang pengecer yang berada di pasar tradisional Kota Binjai.

Masing-masing pedagang dari ketiga pasar tradisional yang terlibat memiliki sifat yang berpengaruh pada aktivitas pemasaran yang dilakukan. Karakteristik pedagang yang meliputi jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, dan pengalaman berdagang.

a. Jenis Kelamin Pedagang Pengecer Daging Sapi Tabel 2. Jenis Kelamin Pedagang Pengecer Daging Sapi

Sumber: Hasil survei data diolah (2020)

Responden pedagang pengecer daging sapi berjumlah 10 orang yang terdiri dari 10 orang laki-laki (100,0%). Dari hasil penelitian didapatkan bahwaseluruh jumlah jenis kelamin adalah laki-laki. Hal ini berkaitan dengan aktivitas fisik seperti pemesanan, pengangkutan dan pemotongan yang dilakukan pedagang dengan tenaga yang lebih besar.

b. Umur Pedagang Pengecer Daging Sapi Tabel 3. Umur Pedagang Pengecer Daging Sapi

Sumber: Hasil survei data diolah (2020)

Jenis Kelamin Jumlah Pedagang (orang) %

Laki-laki 10 100,0

Perempuan 0 0

Total 10 100

Kelompok Umur Jumlah Pedagang

(orang) %

< 35 2 20,0

36-50 6 60,0

> 51 2 20,0

Total 10 100

23

Pedagang responden pada umur produktif yaitu pada umur 36-50 tahun adalah sebanyak 6 orang (60,0%) dan pedagang dengan umur dibawah 35 tahun adalah sebanyak 2 orang (20,0%), sementara itu pada tingkat umur lebih besar dari 51 tahun adalah sebanyak 2 orang (20,0%). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pedagang sebagian besar termasuk dalam umur yang produktif dan sudah cukup berpengalaman.

c. Tingkat Pendidikan Terakhir Pedagang Pengecer Daging Sapi Tabel 4. Tingkat Pendidikan Terakhir Pedagang Pengecer Daging Sapi

Sumber: Hasil Survei data diolah (2020)

Berdasarkan dari tabel diatas karakteristik dari pendidikan terakhir pedagang daging sapi dari hasil penelitian yang sudah dilakukan dengan tingkat pendidikan SD berjumlah 5 orang (50,0%), tingkat pendidikan SMP berjumlah 2 orang (20,0%) dan pada tingkatpendidikan SMA/SLTA berjumlah 3 orang (30,0%).

Hal ini menunjukkan sebagian besardari pedagang pengecer responden memiliki tingkat pendidikan yang palingbanyak adalah SMP.

d. Pengalaman Usaha Pedagang Pengecer Daging Sapi Tabel 5. Pengalaman Usaha Pedagang Pengecer Daging Sapi

Sumber: Hasil survey data diolah (2020)

Berdasarkan dari tabel karakteristik dari pengalaman usaha pedagang daging sapi di pasar tradisional Kota Binjai dari hasil penelitian yang sudah

Tingkat Pendidikan Jumlah Pedagang (orang)

dilakukan yang memiliki pengalaman usaha dibawah dari 10 tahun berjumlah 3 orang (30,0%) dan yang memiliki pengalaman usaha dari 11-20 tahun berjumlah 70,0 orang (70,0%).

Karakteristik Pedagang Pengumpul Daging Sapi

Pedagang pengumpul dalam penelitian ini adalah pedagang yang berperan sebagai penyalur dari peternak hingga sampai ke pedagang pengecer. Pedagang pengumpul yang terlibat dalam pemasaran ini adalah sebanyak 6 orang.

a. Jenis Kelamin Pedagang Pengumpul Daging Sapi Tabel 6. Jenis Kelamin Pedagang Pengumpul Daging Sapi

Sumber: Hasil survei data diolah (2020)

Pedagang pengumpul yang mengangkut adalah 100% berjenis kelamin laki- laki. Hal ini disebabkan pengangkutan hendaklah menggunakan tenaga yang maksimal dan menggunakan kecekatan dalam hal fisik untuk mengurangi resiko dalam hal kerusakan produk pada masa pengangkutan.

b. Umur Pedagang Pengumpul Daging Sapi Tabel 7. Umur Pedagang Pengumpul Daging Sapi

Sumber: Hasil survei data diolah (2020)

Berdasarkan tabel di atas pedagang pengumpul yang berjumlah 4 orang, termasuk dalam golongan umur yang masih produktif 36-50 tahun dan masih dalam kondisi yang bugar untuk melakukan proses pengangkutan.

Jenis Kelamin Jumlah Pedagang (orang) %

Laki-laki 6 100,0

Perempuan 0 0

Total 6 100

Kelompok Umur Jumlah Pedagang

(orang) %

< 35 1 16.67

36-50 4 66,66

> 51 1 16,67

Total 6 100

25

c. Tingkat Pendidikan Terakhir Pedagang Pengumpul Daging Sapi Tabel 8. Tingkat Pendidikan Terakhir Pedagang Pengumpul Daging Sapi

Sumber: Hasil Survei data diolah (2020)

Berdasarkan Tabel 8, menunjukkan tingkat pendidikan dalam bentuk jumlah dan persentasi sebanyak 3 orang (50,0%) tamat SD , sebanyak 1 orang (16,67%) tamat SMP dan sebanyak 2 orang (33,33%) pedagang pengumpul tamat SMA/SLTA.

d. Pengalaman Usaha Pedagang Pengumpul Daging Sapi Tabel 9. Pengalaman Usaha Pedagang Pengumpul Daging Sapi

Sumber: Hasil survey data diolah (2020)

Berdasarkan dari tabel karakteristik dari pengalaman usaha pedagang pengumpul daging sapi di pasar tradisional Kota Binjai dari hasil penelitian yang sudah dilakukan yang memiliki pengalaman usaha dibawah dari 10 tahun berjumlah 2 orang (33,33%) dan yang memiliki pengalaman usaha dari 11-20 tahun berjumlah 4 orang (66,67%).

Karakteristik Peternak

Peternak dalam penelitian ini berjumlah 15 orang. Karakteristik peternak adalah sebagai berikut :

a. Jenis Kelamin Peternak

Tingkat Pendidikan Jumlah Pedagang (orang)

Tabel 10. Jenis Kelamin Peternak

Jenis Kelamin Jumlah Peternak (orang) %

Laki-laki 14 93,33

Perempuan 1 6,67

Total 15 100

Sumber: Hasil survei data diolah (2019)

Berdasarkan tabel diatas karakteristik dari jenis kelamin peternak di pasar tradisional Kota Binjai dari hasil penelitian yang sudah dilakukanpeternak yang berjenis kelamin laki-laki adalah sebanyak 14 orang (93,33%) dan yang berjenis kelamin perempuan adalah sebanyak 9 orang (6,67%) . Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada jenis kelamin perempuan. Hal ini disebabkan karena dalam prosesbeternak membutuhkan tenaga kerja yang maksimal dalam pemeliharaan yangdimana dalam peran ini lebih baiknya laki-laki.

b. Umur Peternak Tabel 11. Umur Peternak

Kelompok Umur Jumlah Peternak (orang) %

< 35 9 60,0

36-50 6 40,0

> 51 0 0

Total 15 100

Sumber: Hasil survei data diolah (2019)

Berdasarkan tabel diatas karakteristik umur dari peternak di pasar tradisional Kota Binjai dari hasil penelitian yang sudah dilakukan terhadap 15 orang didapatkan peternak yang memiliki umur dibawah dari 35 tahun adalah 9 orang (60,0%), umur 36-50 tahun berjumlah 6 orang (40,0%) sementara umur peternak iatas 51 tahun berjumlah 0 orang (0%). Hal ini menyatakan sebagian besar dari peternak yang ada di pasar tradisional Kota Binjai memiliki usia diatas usia produktif.

27

c. Pendidikan Terakhir Peternak

Tabel 12. Tingkat Pendidikan Terakhir Peternak

Tingkat Pendidikan Jumlah Peternak (orang) %

SD 2 13,33

Sumber: Hasil survei data diolah (2020)

Berdasarkan tabel diatas karakteristik tingkat pendidikan peternak yang ada di pasar tradisional Kota Binjai dari hasil penelitian yang sudah dilakukan adalah dalam bentuk jumlah dan persentasi yang memiliki pendidikan terakhir SD (Sekolah Dasar) sebanyak 2 orang (13,33%), pendidikan terakhir SMP (Sekolah Menengah Pertama) berjumlah 3 orang (13,33%), pendidikan terakhir SMA(Sekolah Menangah Atas) 10 orang (66,67%), dan peternak yang memiliki pendidikan S1 1 orang (6,67%). Hal diatas menyatakan bahwa sebagian besar dari peternak di pasar tradisional Kota Binjai berpendidikan terakhir SMA (Sekolah Menengah Atas). Meskipundemikian tingkat pendidikan tidak memebatasi mereka dalam bidang peternakandan memiliki pengalaman yang cukup untuk bersaing dibidang peternakan.

d. PengalamanPeternak

Tabel 13. Pengalaman Beternak

Tingkat Pendidikan Jumlah Peternak (orang) %

<10 4 26,67

11-20 10 66,67

>21 1 6,66

Total 15 100

Sumber: Hasil survei data diolah (2020)

Berdasarkan tabel diatas karakteristik dari pengalaman beternak di pasar tradisional Kota Binjai dari hasil penelitian yang sudah dilakukan yang memiliki pengalaman dibawah dari 10 tahun berjumlah 4 peternak (26,67%), yang memiliki

Pedagang

pengalaman 11-20 tahun berjumlah 10 peternak (66,67%) kemudian peternak yang memiliki pengalaman beternak diatas 21 tahun adalah 1 peternak (6,66%). Hal ini menyatakan bahwa peternak sebagian besar sudah memiliki pengalaman usaha diatas 10 tahun dalam bidang beternak.

Saluran Pemasaran Daging Sapi

Saluran pemasaran adalah serangkaian pelaku yang menyalurkan semua fungsi yang digunakan untuk menyalurkan produk barang atau jasa kepemilikannya dari produsen sampai ke konsumen. Proses penyaluran produk dari produsen ke konsumen harus dilakukan jarak diantara keduanya berjahuan namun memikirkan factor-faktor umum yang berlaku sehingga tidak terjadi kerugian. Berdasarkan hasil penelitian daging sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai memiliki dua saluran pemasaran. Hal tersebut dapat dilihat pada saluran pemasaran dibawah ini:

Gambar 2. Skema Saluran Pemasaran I

Berdasarkan gambar di atas adalah jenis pemasaran yang termasuk saluranpemasaran satu tingkat karena saluran ini hanya menggunakan satu lembaga perantara yaitu pedagang pengecer. Peternak Daging Sapi pada saluran ini berasal dari Kota Binjai dan diambil langsung oleh pedagang pengecer dengan menggunakan mobil.

Gambar 3. Skema Saluran Pemasaran II

Berdasarkan gambar di atas saluran pemasaran kedua merupakan saluran pemasaran dua tingkat karena pemasaran daging sapi dari peternak ke konsumen

29

melalui 2 lembaga pemasaran yaitu pedagang pengumpul dan pedagang pengecer.

Peternak menjual sapi kepada pedagang pengumpul yang datang ke peternak.

Kemudian pedagang pengumpul menjualnya ke pedagang pengecer di pasar.

Biaya Pemasaran

Biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh pelaku pasar umumnya meliputi biaya pengangkutan, biaya parkir, biaya surat izin, biaya transportasi, biaya tenaga kerja, biaya penginapan, biaya bongkar muat, dan biaya plastik.

Tabel 14. Biaya Pemasaran Daging Sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai Saluran

Jumlah 2.016.000 354,24

II Peternak

Jumlah 5.616.000 986,81

Dari hasil tabel penelitian yang sudah dilakukan di atas bahwa biaya pemasaran daging sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai pada saluran pemasaran I berjumlah sebesar Rp.354,24. Pada saluran pemasaran II berjumlah sebesar Rp.986,81/ kg.

Margin Pemasaran

Margin pemasaran merupakan selisih harga yang diterima oleh pedagang daging sapi dengan harga yang dikeluarkan oleh konsumen yang membeli daging sapi. Margin pemasaran suatu komoditas terdiridari biaya pemasaran yang dikeluarkan olehmasing-masing lembaga pemasaran sertakeuntungan yang diterima oleh pedagang daging sapi dan lembaga-lembagapemasaran. Untuk dapat mengetahui besarnya keuntungan yang didapatkan pelaku pemasaran serta biaya- biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran maka perlu dilakukan analisis margin pemasaran pada setiap saluran pemasaran.

Saluran pemasaran yang terlibat di Pasar Tradisional Kota Binjai penelitian ini ada dua saluran pemasaran yaitu :

Saluran pemasaran pertama yaitu saluran produsen langsung ke konsumen.

Saluran pemasaran ini meliputi Peternak Pedagang pengecer Konsumen. Saluran pemasaran kedua melibatkan satu lembaga pemasaran yang ada di pasar yaitu pedagang yang meliputi Peternak

Pedagang Pengumpul Pedagang pengecer Konsumen.

31

Tabel 15. Margin Pemasaran Daging Sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai

Uraian Saluran Pemasaran

I II

Nilai (Rp/Kg) Nilai (Rp/Kg) Peternak

Biaya Pemasaran 354,24 354,24

Keuntungan 34.645,76 24.145,76

Harga Jual 110.000 110.000

Margin 35.000 24.500

Total Biaya Pemasaran 354,24 986,81

Total Keuntungan 34.645,76 33.513,19

Total Margin 35.000 34.500

Margin pemasaran pada jalur pemasaran II yaitu sebesar Rp. 34.500/Kg (Tabel 15). Nilai margin pemasaran pada saluran II lebih kecil dibandingan nilai margin pada saluran I karena saluran pemasaran II merupakan rantai terpancang dari pada jalur pemasaran.

Biaya pemasaran pada jalur pemasaran I yaitu Rp. 354,24/Kg (Tabel 15) dan total biaya pemasaran pada jalur pemasaran II yaitu Rp. 986,81/Kg (Tabel 15).

Pada kedua jalur pemasaran daging sapi biaya pemasaran jalur II lebih besar jalur II hal ini dikarenakan jalur pemasaran II merupakan rantai pemasaran

terpanjang serta daging sapi yang di perjual belikan dalam jumlah yang lebih banyak.

Farmer’s Share

Farmer’s share yaitu persentase harga yang diterima peternak dibandingkan

dengan harga jual pada pedagang. Farmer’s share dalam suatu kegiatan pemasaran dapat dijadikan dasar atau tolak ukur efisiensipemasaran. Semakin tinggi tingkat persentase farmer’s share yang diterima peternak maka dikatakan semakin efisien kegiatan pemasaran yang dilakukan dansebaliknya semakin rendah tingkat persentase Farmer’s share yang diterima peternak, maka akan semakin rendah pula tingkat efisiensi dari suatu pemasaran.

Tabel 16. Analisis farmer’s share pada saluran pemasaran daging sapi di Kota Binjai

Saluran Pemasaran Harga di Tingkat Peternak

Dari tabel 16 di atas dapat diketahui bahwa persentase harga yang diterima oleh peternak (Farmer’s Share) pada saluran pemasaran ke I yaitu sebesar 77,72%

dan saluran pemasaran II memperoleh nilai farmer’s share yaitu sebesar 88,23%.

Rasio Keuntungan Terhadap Biaya

Rasio keuntungan terhadap biaya dapat digunakan untuk mengetahuitingkat efisiensi sistem pemasaran dengan membandingkan keuntungan pemasaran yang diperoleh terhadap biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran.

Pemasaran dapat dikatakan efisien jika rasio keuntungan terhadap biaya merata pada semua lembaga pemasaran dan bernilai positif.

33

Tabel 17. Rasio Keuntungan Daging Sapi di Pasar Tradisional Kota Binjai

Saluran Pemasaran Keuntungan Biaya π/C (%)

I 34.645,76 354,24 97,80

II 33.513,19 986,81 33,96

Pada Saluran I total biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer adalah sebesar Rp. 354,24 per kg sedangkan keuntungan adalah sebesar Rp. 24.145,76 per kg. Maka rasio keuntungan biaya adalah sebesar Rp. 68,16 per kg. Pada Saluran II total biaya yang dikeluarkan per kg daging sapi adalah sebesar Rp.986,81 kg sedangkan keuntungan adalah sebesar Rp. 33.513,19per kg. Maka rasio keuntungan biaya adalah sebesar Rp. 33,96 per kg.

Efisiensi Pemasaran Daging Sapi

Efiisiensi pemasaran adalah nisbah antara total biaya yang dikeluarkandengan total nilai produk yang dipasarkan (Soekartawi, 1989).

Tabel 18. Efisiensi Pemasaran Daging Sapi Pada Setiap Saluran Pemasaran dan Lembaga Pemasaran

Saluran Pemasaran Biaya Nilai Jual Produk Nilai Efisiensi (%)

I 354,24 110.000 0,322

II 986,81 195.000 0,506

Berdasarkan tabel diatas dengan nilai efesiensi saluran I yaitu sebesar 0,322 dan pada saluran II nilai efesiensinya yaitu 0,506. Hal ini sesuai dengan rumus Downey dan Erickson (1992) sistem pemasaran dapat dikatakan efisien apabila nilai efisiensi pemasarannya adalah < 1, dengan melihat hasil analisis yang ada pada tabel diatas, bahwa nilai efisiensi dari semua lembaga pemasaran yang terlibat dalam kegiatan pemasaran daging sapi adalah < 1 yang artinya efisien. Jadi dari kedua lembaga pemasaran tersebut, maka lembaga pemasaran yang paling efisien adalah lembaga pemasaran I. Hal ini ditunjukkan oleh biaya pemasaran yang kecil

yaitu sebesar Rp.354,24,-, sedangkan nilai produk yang dipasarkan yaitu sebesar Rp.110.000,- .

Dokumen terkait