5.1 Hasil Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa metode, yaitu metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode observasi digunakan oleh peneliti untuk mengamati kondisi di Kecamatan Bantaeng meliputi penduduk, mata pencaharian penduduk dan produksi pertanian yang dihasilkan serta lembaga pemasaran apa saja yang digunakan petani di Kecamatan Bantaeng. Metode wawancara digunakan untuk memperoleh data dari para responden karakteristik responden dan pemasaran komoditas rumput laut Eucheuma cottonii. Sedangkan metode dokumentasi digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data-data dari Kecamatan Bantaeng selama turun langsung ke lapangan.
Pada metode wawancara peneliti menanyakan berbagai hal yang meliputi kegiatan petani mulai dari proses produksi sampai dengan tahap penjualan rumput laut jenis Eucheuma cottonii.
5.1.1 Identitas Responden 1. Responden Petani
Petani dapat diartikan sebagai pekerjaan yang memanfaatkan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya guna memenuhi kebutuhan hidup dengan menggunakan peralatan yang bersifat tradisional dan modern.
Responden petani adalah produsen atau penghasil rumput laut Eucheuma cottonisebelum menjual ke pedagang pengumpul maupun pedagang besar yang yang ada di Kecamatan Bantaeng. Adapun informasi mengenai responden petani yang ada di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng dapat dilihat pada tabel berikut ini.
a. Umur
Usia atau bias juga disebut umur merupakan satuanwaktuuntuk mengukur keberadaan suatu benda atau makhluk berdasrkan waktu, baik yang hidup maupun yang sudah mati. Umur mulai terhitung sejak lahir atau ada sampai dengan sekarang. Penentuan umur dilakukan dengan menggunakan hitungan tahun. Karakteristik responden berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 2 Jumlah petani berdasarkan usia di Kecamatan Bantaeng
No. Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1. <31 2 10 % 2. 31 – 40 8 40 % 3. 41 – 50 6 30 % 4. 51 – 60 3 15 % 5. >60 1 5 % Total 20 100,00
(Sumber: Data primer setelah diolah. 2019)
Dilihat pada tabel 2 diatas dapat disimpulkan bahwa usia petani rumput laut Eucheuma cottonii terbanyak adalah berada di usia 31 – 4 tahun dengan jumlah 8 orang (40 %) sedangkan yang terendah adalah >60 tahun sebanyak 1 orang (5 %). Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata petani rumput laut Eucheuma
b. Pendidikan
Pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran, pengetahuan, pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Adapun karakteristik responden berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 3 Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan di Kecamatan Bantaeng
No. Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)
1 SMP 1 10 %
2 SMA/Sederajat 19 90 %
Total 20 100,00
(Data primer setelah diolah. 2019)
Pada tabel 3 diatas dapat dilihat bahwa jumlah petani dengan tingkat pendidikan terakhir tertinggi adalah SMA/Sederajat dengan jumlah 19 orang (90%) sedangkan SMP sebanyak 1 orang (10%). Hal ini menunjukkan tingkat pendidikan petani di Kecamatan Bantaeng tergolong tinggi.
c. Pengalaman Bertani
Pengalaman petani dalam mengelolah pertanian merupakan suatu pengetahuan atau pengalaman ekonomi yang diperoleh melalui aktifitas atau rutinitas kegiatannya sehari-hari yang diperoleh yang pernah dialaminya melalui berapa lama pengalamnnya ataupun karena adanya tambahan pengetahuan dari penyuluh setempat. Lama berusahatani akan mempengaruhi pengalaman mereka dalam memproduksi rumput laut. Adapun tabel tentang pengalaman usahatani responden yaitu sebagai berikut.
Tabel 3 Karakteristik petani berdasarkan pengalaman bertani di Kecamatan Bantaeng
No. Lama Bertani (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1. <11 11 55 %
2. 11-20 8 40 %
3. >20 1 5 %
Total 20 100,00
(Data primer setelah diolah. 2019).
Berdasarkan tabel 3 diatas dilihat bahwa petani rumput laut Eucheuma cottonii di Kecamatan Bantaeng dengan pengalaman bertani <11 tahun sebanyak 11 orang (55%), pengalaman bertani 11-20 tahun sebanyak 8 orang (40%) dan pengalaman bertani >20 tahun sebanyak 1 orang (5%).
d. Luas Lahan
Luas lahan merupakan salah satu faktor penting dalam usahatani karena sangat mempengaruhi petani dalam mengambil keputusan dalam hal penggunaan pupuk, bibit, obat-obatan dan lainnya. Luas lahan adalah media tumbuh bagi tanaman & tumbuhan, tempat hewan dan manusia melakukan aktivitas kehidupannya. Adapun karakteristik petani respnden berdasarkan luas lahan dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4 Karakteristik responden berdasarkan luas lahan di Kecamatan Bantaeng
No. Luas Lahan (Ha) Jumlah (Orang) Persentase (%)
1. 0,01 – 0,05 5 25 %
2. 0,06 – 0,10 9 45 %
3. 0,11 – 0,15 3 15 %
4. 0,16 – 0,20 3 15 %
Total 20 100,00
(Sumber; Data primer setelah diolah. 2019).
Luas lahan sangat berpengaruh dalam jumlah produksi petani, hal ini juga berdampak dengan seberapa banyak pendapatan dan pengeluaran petani rumput
laut Eucheuma cottonii. Pada tabel 4 diatas terlihat bahwa petani rumput laut
Eucheuma cottonii di Kecamatan Bantaeng yang memiliki luas lahan 0,01 – 0,05
Ha sebanyak 5 orang (25%), luas lahan 0,06 – 0,10 Ha sebanyak 9 orang (45%), 0,11 – 0,15 Ha sebanyak 3 orang (15%) dan 0,16 – 0,20 Ha sebanyak 3 orang (15%).
2. Identitas Responden Lembaga Pemasaran
Lembaga pemasaran atau pedagang yang terlibat dalam porses pemasaran rumput laut Eucheuma cottonii di Kecamatan Bantaeng adalah pedagang pengumpul (kecil) dan pedagang besar. Pengalaman, pendidikan serta umur sangat mempengaruhi keberhasilan dalam berdagang.
Kegiatan pendistribusian suatu barang dari tangan produsen ke konsumen memerlukan peran pedagang perantara atau disebut juga sembagai lembaga pemasaran. Lembaga ini mempunyai peran yang penting dalam kegiatan pemasaran. Identitas responden pedagang pengumpul dan pedagang besar rumput laut Eucheuma cottonii di Kecamatan Bantaeng dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 5 Identitas Responden Pedagang di Kecamatan Bantaeng
No Jenis
Pedagang Nama
Jenis
Kelamin Umur Pendidikan
Pengalaman berdagang
(tahun)
1 Besar Dg. Baso Laki-laki 52 SMA 15 2 Kecil I Dg. Ali Laki-laki 38 SMA 6 3 Kecil II Dg Pudding Laki-Laki 31 SMA 2
(Sumber; Data primer setelah diolah. 2019).
Pada tabel 5 diatas dilihat bahwa terdapat 2 pedagang rumput laut di Kecamatan Bantaeng baik pedagang kecil maupun pedagang besar. Berikut adalah penjelasan karakteristik responden pada tabel 5 diatas.
a. Pedagang Besar
Di lihat pada tabel 5 diatas Dg. Baso yang merupakan pedagang besar masih tergolong dalam usia produktif yaitu 52 tahun. Pada usia ini seseorang masih produktif sehingga pedagang masih mampu bekerja dengan baik didukung dengan fisik yang kuat serta mental dalam melaksnakan peran sebagai penyalur pemasaran rumput laut dari produsen ke konsumen. Pengalaman menjadi seorang pedagang rumput laut Dg. Baso sudah 15 tahun sehingga sudah sangat dikenal oleh petani rumput laut setempat, hal ini juga membuat Dg. Baso telah memiliki mitra atau langganan.
Pedagang besar di Kecamatan Bantaeng merupakan pedagang yang membeli rumput laut dalam volume yang relatif banyak dan memiliki modal yang cukup besar. Biasanya pedagang besar membeli rumput laut dari petani di dalam dan luar Kecamatan Bantaeng dan dari pedagang pengumpul lainnya. Rata-rata petani yang menjual rumput lautnya merupakan langganan sejak lama, keluarga maupun dengan alasan lokasi saling berdekatan.
Volume pembelian rumput laut oleh pedagang besar rata-rata sebanyak kurang lebih 3.000 kg (3 ton) setiap tiga sampai satu minggu sekali dipengaruhi oleh musim dan transaksi yang terjadi. Pedagang besar menjual rumput laut langsung ke pedagang yang lebih besar yang biasanya berada di Kawasan Industri Makassar (KIMA).
b. Pedagang Kecil
Responden pedagang kecil di Kecamatan Bantaeng bernama Dg. Ali, berusia 38 tahun dan tergolong usia produktif. Pengalaman berdagang sudah 6
tahun sehingga Dg. Ali juga sudah memiliki pelanggan tetap. Semakin lama pengalaman berdagang, semakin mudah bagi mereka untuk memasarkan produksi rumput laut. Hal ini disebabkan karena mereka sudah cukup dikenal oleh konsumen dan mempunyai penjual dan pembeli atau pelanggan tetap.
Tingkat pendidikan responden pedagang kecil adalah tamat SMA. Tingkat pendidikan pada pedagang pengumpul ini mengalami peningkatan yakni sampai pada pendidikan tingkat lanjut sehingga akan berdampak besar terhadap cara pandang pedagang pengumpul dalam menganalisis kebutuhan pasar lebih dalam lagi khususnya yang berkaitan dengan mekanisme pemasaran. Hal ini akan menigkatkan keuntungan pedagang.
5.2 Saluran Pemasaran
Saluran pemasaran merupakan bagian-bagian yang menyelenggarakan atau melaksanakan kegiatan serta fungsi dari pemasaran yang saling berkaitan, dengan maksud barang-barang bergerak mulai dari pihak produsen sampai ke pihak konsumen. Proses pemasaran rumput laut Eucheuma cottonii di Kecamatan Bantaeng dapat dilihat pada bagan berikut.
I II III IV
(I)
Gambar 4 Bagan saluran pemasaran rumput laut di Kecamatan Bantaeng Pada gambar 4 diatas dapat dilihat bahwa saluran pemasaran yang ada di Kecamatan Bantaeng terbagi menjadi 4, yaitu :
1. Produsen – Konsumen
2. Produsen – Pedagang Besar – Konsumen 3. Produsen – Pedagang Kecil – Konsumen
4. Produsen – Pedagang Kecil – Pedagang Besar – Konsumen
Berikut akan dijelaskan lebih dalam mengenai saluran-saluran pemasaran yang terbentuk berdasarkan alur pemasaran rumput laut Eucheuma cottonii di Kecamatan Bantaeng.
1. Saluran I (Produsen – Konsumen)
Saluran yang pertama terbentuk dimana produsen (petani rumput laut) langsung menjual rumput laut Eucheuma cottonii kering ke konsumen yaitu KIMA (Kawasan Industri Makassar). Produsen langsung didatangi konsumen
Produsen (Petani Rumput Laut Eucheuma Cottonii) Pedagang Besar Pedagang Kecil Konsumen (Mitra Perusahaan ) Ekspor Pedagang Besar Pedagang Kecil
dengan pedagang-pedagang rumput laut yang ada di Kecamatan Bantaeng. Jadi petani atau produsen bebas memasarkan rumput lautnya ke konsumen yang datang ke daerahnya.
2. Saluran II (Produsen – Pedagang Besar – Konsumen)
Saluran kedua terbentuk dimana produsen (petani) menjual hasil rumput laut baik masih basah atau sudah kering ke pedagang besar terlebih dahulu. Alasannya karena mereka sudah menjalin kerja sama ataupun jarak dari rumah mereka dekat sehingga dapat menekan biaya produksi. Kemudian dari Pedagang Besar itu dijual ke Konsumen yang mendatanginya yaitu KIMA (Kawasan Industri Makassar).
3. Saluran III (Produsen – Pedagang Kecil – Konsumen)
Saluran pemasaran ketiga terbentuk dimana produsen (petani) menjual hasil rumput lautnya terlebih dahulu ke pedagang kecil baik basah ataupun kering. Dari pedagang kecil tersebut kemudian menjual langsung ke konsumen Kemudian dari Pedagang Kecil itu dijual ke Konsumen yang mendatanginya yaitu KIMA (Kawasan Industri Makassar).
4. Saluran IV (Produsen – Pedagang Kecil – Pedagang Besar – Konsumen) Saluran pemasaran keempat terbentuk dimana produsen (petani) menjual hasil rumput lautnya terlebih dahulu ke pedagang kecil baik basah ataupun kering. Dari pedagang kecil tersebut kemudian menjual kembali ke Pedagang Besar, lalu pedagang besar menjual kembali ke konsumen yang mendatanginya yaitu Kawasan Industri Makassar (KIMA).
Berikut adalah presentase atau jumlah petani rumput laut Eucheuma
cottonii di Kecamatan Bantaeng berdasarkan saluran pemasaran yang
digunakan untuk mendistribusikan hasil rumput lautnya.
Tabel 6 Jumlah petani pada setiap saluran pemasaran di Kecamatan Bantaeng.
No Saluran Pemasaran Jumlah Petani Presentase (%)
1 Saluran I 1 5%
2 Saluran II 11 55%
3 Saluran III 7 35%
4 Saluran IV 1 5%
Jumlah 20 100%
(Sumber; Data primer setelah diolah. 2019)
Pada tabel 6 diatas dapat dilihat bahwa petani yang menggunakan saluran pemasaran I (Produsen – Konsumen) adalah berjumlah 1 orang (5%). Hal ini digunakan oleh petani rumput laut yang sudah lama (berpengalaman) dimana petani tersebut sudah memiliki langganan langsung di KIMA dan tidak terikat oleh pedagang-pedagang yang ada di daerahnya.
Saluran pemasaran II (Produsen – Pedagang Besar – Konsumen) merupakan saluran pemasaran yang paling banyak digunakan oleh petani dengan jumlah 11 orang (55%). Petani lebih banyak memilih saluran pemasaran ini dikarenakan biasanya harga beli yang ditawarkan pedagang terbilang tinggi serta alasan karena sudah menjadi langganan dan terikat karena dimodali oleh pedagang tersebut.
Saluran pemasaran III (Produsen – Pedagang Kecil – Konsumen) digunakan sebanyak 7 orang petani (35%). Saluran ini dipilih karena jarak antara petani dan pedagang terbilang dekat sehingga dapat menekan biaya produksi serta
alasan seperti sudah menjalin kerja sama yang cukup lama antara petani dan pedagang kecil.
Saluran pemasaran IV (Produsen – Pedagang Kecil – Pedagang Besar – Konsumen) digunakan sebanyak 1 orang petani (5%). Saluran ini dipilih karena jarak antara petani dan pedagang kecil terbilang dekat sehingga dapat menekan biaya produksi serta alasan seperti sudah menjalin kerja sama yang cukup lama antara petani dan pedagang kecil. Dan pedagang kecil menjual kembali rumput lautnya tersebut karena dimodali atau bekerja sama dengan Pedagang Besar yang ada di daerahnya. Lalu rumput laut di jual ke konsumen.
5.3 Margin Pemasaran
Margin pemasaran adalah selisih harga yang terjadi antara yang sesuatu barang atau jasa yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima produsen. Analisis dari margin pemasaran serta pembagian harga merupakan salah satu cara untuk mengetahui tingkat efisiensi suatu pemasaran. Adapun margin pemasaran pada setiap saluran pemasaran rumput laut di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 7 Margin pemasaran pada saluran pemasaran rumput laut Eucheuma
cottonii di Kecamatan Bantaeng Saluran Pemasaran Harga Beli (Rp/Kg) Harga Jual (Rp/Kg) Margin (Rp/Kg) Saluran I a. Produsen - Rp. 14.000 Rp 7.000 b. Konsumen Rp.21.000 -Saluran II a. Produsen - Rp. 17.000 -b. Pedagang Besar Rp. 17.000 Rp. 21.000 Rp.4.000 c. Konsumen Rp.21.000 - -Saluran III a. Produsen - Rp.16.000 -b. Pedagang Kecil Rp.16.000 Rp.21.000 Rp.5.000 c. Konsumen Rp.21.000 - -Saluran IV a. Produsen - 16.000 -b. Pedagang Kecil 16.000 18.000 2.000 c. Pedagang Besar 18.000 21.000 3.000 d. Konsumen 21.000 -
-(Sumber; Data primer setelah diolah. 2019)
Pada tabel 7 diatas terlihat bahwa margin pemasaran tertinggi terdapat di saluran pemasaran I (Produsen –Konsumen) yaitu sebesar Rp 7.000 per kg. Dan margin terendah terdapat pada saluran pemasaran II (Produsen – Pedagang Besar – Konsumen) yaitu sebesar Rp.4000/kg.
Margin pemasaran didapatkan dari total perhitungan biaya yang dkeluarkan dengan keuntungan alur pemasaran yang ikut berperan dalam proses pemasaran. Proses berpindahnya barang atau produk dari produsen ke konsumen memerluarhan biaya, dengan adanya biasa maka harga suatu produk akan meningkat. Untuk mengetahui besarnya biaya, keuntungan serta margin pemasaran pada lembaga pemasaran terhadap keempat saluran yang digunakan
Tabel 8 Biaya dan keuntungan pemasaran rumput laut di Kecamatan Bantaeng Saluran Pemasaran Biaya Pemasaran (RP/Kg) Margin (Rp/Kg) Keuntungan (Rp/Kg) Farmer’s Share (%) Saluran I a. Produsen b. Konsumen 6.324 7.000 676 66,67 Saluran II a. Produsen b. Pedagang Besar c. Konsumen -1.897,7 -4.000 -2.102,3 -80,95 Saluran III a. Produsen b. Pedagang Pengumpul c. Konsumen -100 -5.000 -4.900 -76,19 Saluran IV a. Produsen b. Pedagang Kecil c. Pedagang Besar d. Konsumen -1.176 21.823,46 -2.000 3.000 -824 -18.823, -76,19
(Sumber;Data primer setelah diolah. 2019)
Pada tabel 8 diatas menunjukkan bahwa biaya pemasaran tiap saluran berbeda-beda, pada saluran I pemasaran memiliki margin Rp 7000 tiap kg nya dan keuntungan RP 676 tiap kg nya. Sedangkan saluran pemasaran II memiliki margin Rp 4.000 dan keuntungan Rp 2.102,3 per kg nya. Saluran pemasaran III memiliki margin Rp. 5.000 per kg nya dengan keutungan Rp. 4.900 per kg nya. Dan saluran pemasaran IV memiliki margin sebesar Rp 2.000 dan Rp 3.000 jadi total margin saluran IV sebesar Rp 5.000 per kg.
Margin pemasaran pada saluran keempat mengalami angka dalam keadaan minus yang berarti rugi jika membeli dalam jumlah kecil dari pedagang kecil dan mengeluarkan biaya yang bernilai besar. Namun pedagang besar tetap meraut
keuntungan karena memiliki banyak langganan.
Farmer’s share adalah bagian yang diterima petani atau produsen,
semakin besar farmer’s share dan semakin kecil margin pemasaran maka dapat dikatakan suatu saluran pemasaran berjalan secara efisien. Saluran pemasaran I memiliki farmer share sebesar 66,67%, saluran pemasaran II sebesar 80,95% sedangkan saluran pemasaran III dan IV sebesar 76,19%.
Adapun acuan untuk mengukur seberapa besar efisiensi pemasaran adalah dengan cara menghitung farmer’s share atau bagian yang diterima petani dengan kriteria apabila bagian yang diterima produsen kurang dari 50% berarti pemasaran belum efisien. Dan bila bagian yang diterima produsen lebih dari 50% maka pemasaran dikatakan efisien. Jadi dari keempat saluran pemasaran ini bias dikatakan sudah efisien, karena bagian yang diterima petani sudah mencapai lebih dari 50%. Hal ini membuat produsen atau petani mendapat bagian yang lebih besar dari harga yang diterima oleh konsumen. Dengan mendapatkan bagian yang besar ini, diharapkan produsen dapat mensejahterahkan dan mencukupi keluarganya.
5.4 Efisiensi
Efisiensi pemasaran adalah perbandingan antara biaya pemasaran dengan harga jual yang ada di tingkat konsumen yang dinyatakan dalam persen (%). Untuk dapat menentukan efisiensi pemasaran rumput laut di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng terlebih dahulu harus diketahui seberapa besar biaya yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran dalam memasarkan rumput laut dan
efesiensi pemasaran rumput laut di Kecamatan Bantaeng dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 9 Efisiensi Pemasaran Rumput Laut di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng No. Uraian Saluran I Saluran II Saluran III Saluran IV 1. Total Biaya (Rp/Kg) 6.324 1.897,7 100 22.999,46 2. Harga di Tingkat Konsumen 21.000 21.000 21.000 21.000 Efisiensi (%) 0,3 0,09 0,005 1,097
(Sumber;Data primer setelah diolah. 2019)
Menurut Soekartawi (2002), bahwa tingkat efisiensi pemasaran pada masing-masing saluran pemasaran dikatakan efisien jika efisiensi pemasaran kurang dari 50%, saluran pemasaran tersebut efisien. Dan jika efisiensi pemasaran lebh dari 50 %, saluran pemasaran tersebut tidak efisien.
Pada tabel 9 diatas menunjukkan bahwa saluran pemasaran rumput laut sama-sama efisien namun memiliki tingkat efisien yang bervariasi yaitu saluran pemasaran I dengan efesiensi sebesar 0,3%, Saluran pemasaran II memiliki nilai efisiensi yaitu sebesar 0,09%, Saluran pemasaran III yaitu dengan efesiensi 0,005% dan saluran pemasaran IV sebesar 1,097%. Namun saluran pemasaran yang paling efektif adalah saluran pemasaran III yaitu sebesar 1,005%. Dan yang kurang efektif adalah saluran pemasaran IV yaitu sebesar 1,097%.
5.5 Pembahasan Penelitian 1. Saluran Pemasaran
Pada prinsipnya pemasaran merupakan porses distribusi barang yang dimulai dari produsen hingga sampai ke tangan konsumen. Pemasaran merupakan
kegiatan yang pentng dalam siklus produksi barang/jasa. Produksi yang baik tidak akan maksimal ketika harga pasar rendah. Oleh karena itu, tingginya produksi tidak mutlak memberikan keuntungan yang tinggi tanpa disertai pemasaran yang baik.
Untuk memasarkan komoditas pertanian memerlukan keberadaan saluran atau lembaga pemasar yang dapat membantu menyalurkan barang hingga akhirnya sampai pada tangan konsumen. Keberadaan suatu lembaga pemasaran sangatlah penting,dengan adanya lembaga pemasaran, produsen dapat menjual hasil produksinya dan konsumen bisa mendapatkan kebutuhannya melalui pedagang perantara.
Terdapat 4 jenis saluran pemasaran yang terdapat di Kecamatan Bantaeng yaitu meliputi produsen (petani rumput laut), pedagang kecil (pengumpul) sebanyak 2 orang, pedagang besar sampai akhirnya ke tangan konsumen. Berikut adalah penjelasan masing-masing dari saluran pemasaran yang tersedia.
1. Saluran I
Saluran pemasaran ini dipilih oleh 1 orang dari 20 orang responden. Petani sebagai produsen langsung menjual rumput laut (Eucheuma cottonii) kering-nya ke konsumen Kawasan Industri Makassar yang mendatangi kecamatan Bantaeng.
2. Saluran II
Saluran pemasaran ini dipilih oleh 11 orang dari 20 responden petani di Kecamatan Bantaeng. Petani sebagai produsen rumput laut menjual melalui
pedagang besar didatangi oleh produsen dan kemudian rumput laut dijual kembali ke konsumen yang mendatanginya.
3. Saluran III
Saluran pemasaran ini dipilih oleh 7 orang dari 20 responden petani di Kecamatan Bantaeng. Produsen (petani) menjual rumput laut melalui pedagang kecil dengan mendatangi pedagang kecil dan disalurkan ke konsumen Kawasan Industri Makassar (KIMA).
4. Saluran IV
Saluran pemasaran ini dipilih oleh 1 orang dari 20 responden petani di Kecamatan Bantaeng. Produsen (petani) menjual rumput laut melalui pedagang kecil dengan mendatangi pedagang kecil, kemudian pedagang kecil menjual kembali ke pedagang besar, lalu pedagang besar menyalurkan ke konsumen Kawasan Industri Makassar (KIMA).
2. Margin Pemasaran
Margin pemasaran didapatkan dari total perhitungan biaya yang dkeluarkan dengan keuntungan alur pemasaran yang ikut berperan dalam proses pemasaran. Proses berpindahnya barang atau produk dari produsen ke konsumen memerluarhan biaya, dengan adanya biasa maka harga suatu produk akan meningkat.
3. Efisiensi Pemasaran
Efisiensi pemasaran adalah perbandingan antara biaya pemasaran dengan harga jual yang ada di tingkat konsumen yang dinyatakan dalam persen (%). Untuk dapat menentukan efisiensi pemasaran rumput laut di Kecamatan Bantaeng
Kabupaten Bantaeng terlebih dahulu harus diketahui seberapa besar biaya yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran dalam memasarkan rumput laut dan berapa harga ditingkat konsumen dari tiap saluran pemasaran.