ANALISIS RANTAI PASOK RUMPUT LAUT JENIS EUCHEUMA COTTONII DI KECAMATAN BANTAENG KABUPATEN BANTAENG

78 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

ANALISIS RANTAI PASOK RUMPUT LAUT JENIS

EUCHEUMA COTTONII DI KECAMATAN BANTAENG

KABUPATEN BANTAENG

VICKY FATRA NANDY PRAYUDI 105960187715

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2020

(2)

ANALISIS RANTAI PASOK RUMPUT LAUT JENIS

EUCHEUMA COTTONII DI KECAMATAN BANTAENG

KABUPATEN BANTAENG

VICKY FATRA NANDY PRAYUDI 105960187715

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Strata Satu (S-1)

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2020

(3)

HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Analisis Rantai Pasok Rumput Laut Jenis Eucheuma CottoniiDi Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng Nama : Vicky Fatra Nandy Prayudi

NIM : 105960187715 Program Studi : Agribisnis Fakultas : Pertanian

Disetujui

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Ir. H. Syafiuddin, M. Si. Rahmawati, S.Pi., M.Si.

NIDN. 0011115712 NIDN. 0904118304

Diketahui

Dekan Fakultas Pertanian Ketua Prodi Agribisnis

H. Burhanuddin, S.Pi., M.P. Dr. Sri Mardiyati, S.P., M.P.

(4)
(5)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI

DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul Analisis Rantai Pasok Rumput Laut Jenis Eucheuma Cottonii Di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaengadalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Makassar, 8 Januari 2020

Vicky Fatra Nandy P. 105960187715

(6)

ABSTRAK

VICKY FATRA NANDY P 101560187715. Analisis Rantai Pasok Rumput Laut Jenis Eucheuma Cottonii di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng. Dibimbing oleh SYAFIUDDIN dan RAHMAWATI.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluran, margin dan efisiensi pemasaran serta farmer sharerumput laut jenis Eucheuma cottoniidi Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng.

Populasi dalam penelitian ini terdiri dari petani rumput laut dan pedagang yang terlibat dalam pemasaran rumput laut Eucheuma cottonii di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng. Sampel yang diperoleh yaitu pedagang pengumpul yang berjumlah 1 orang dan pedagang besar berjumlah 1 orang serta petani berjumlah 18 orang. Jadi jumlah keseluruhan responden sebanyak 20 responden. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriktif dan analisis kuantitatif yaitu analisis margin pemasaran, farmer’s share,efisiensi pemasaran.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasaran rumput laut Eucheuma cottonii di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng terdapat 4 saluran pemasaran yang digunakan oleh para petani responden, yaitu: saluran I terdeiri dari Produsen – Konsumen. Pada saluran II terdiri dari Produsen – Pedagang Pengumpul – Konsumen. Pada saluran III terdiri dari Produsen – Pedagang Besar – Konsumen. Pada saluran IV terdiri dari Produsen – Pedagang Pengumpul – Pedagang Besar – Konsumen.

Kata Kunci : Eucheuma cottonii, saluran pemasaran, margin pemasaran, farmer

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur senatiasa penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah yang tiada henti diberikan kepada hamba-Nya. Shalawat dan salam tak lupa penulis kirimkan kepada Rasulullah SAW beserta para keluarga, sahabat dan para pengikutnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Rantai Pasok Rumput Laut Jenis Eucheuma Cottonii di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng”.

Skripsi ini merupakan tugas akhir yng diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Bapak Prof. Dr. Abdul Rahman Rahim, SE., M.M selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

2. Bapak Dr. H. Burhanuddin, S.Pi., M.P selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar;

3. Ibu Dr. Sri Mardiyati, S.P., M.P selaku Ketua Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar

4. Prof. Dr. Ir. H. Syafiuddin, M.Si. selaku pembimbing I dan Rahmawati, S.Pi., M.Si. selaku pembimbing II yang senantiasa meluangkan waktunya

(8)

membimbing dan mengarahkan penulis, sehingga skripsi dapat diselesaikan. 5. Kedua orangtua ayahanda Andi Munawir dan ibunda Muliati Musa, kakak

saya Dicky Aditya Randy dan adik saya Andi Raden Mulya, serta segenap keluarga yang senantiasa memberikan bantuan, baik moril maupun material sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

6. Seluruh Dosen Jurusan Agribisnis di Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali segudang ilmu kepada penulis.

7. Kepada pihak pemerintah Kecamatan Bantaeng khususnya camat Kecamatan Bantaeng yang telah mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian di Daerah tersebut.

8. Semua pihak yang telah membantu penyusunan skripsi dari awal hingga akhir yang penulis tidak dapat sebut satu persatu.

Akhir kata penulis ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang terkait dalam penulisan skripsi ini, semoga karya tulis ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan. Semoga kristal-kristal Allah senantiasa tercurah kepadanya.

Amin.

Makassar, 8 Januari 2020

(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iii

KOMISI PENGUJI ... iv

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL... xi

DAFTAR GAMBAR ...xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

I. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Rumusan Masalah... 5

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6

2.1 Rumput Laut ... 6

2.2 Rantai Pasok ... 9

2.3 Kinerja Rantai Pasok ... 12

2.4 Saluran Pemasaran... 14

2.5 Margin Pemasaran ... 16

(10)

2.7 Kerangka Pikir ... 19

III. METODE PENELITIAN ... 20

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 20

3.2 Populasi dan Sampel... 20

3.3 Jenis dan Sumber Data ... 21

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 22

3.5 Teknik Analisis Data ... 22

3.6 Definisi Operasional ... 24

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 26

4.1 Kondisi Geografis ... 26

4.2 Kondisi Demografis... 27

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 28

5.1 Hasil Penelitian... 28

5.2 Pembahasan Penelitian ... 42

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 45

6.1 Kesimpulan ... 45

6.2 Saran ... 45 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

(11)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Kecamatan

Bantaeng Kabupaten Bantaeng 27 2. Jumlah Petani Berdasarkan Usia di Kecamatan Bantaeng 29 3. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di

Kecamatan Bantaneg 30

4. Karakteristik petani berdasarkan pengalaman bertani di Kecamatan

Bantaeng 31

5. Karakteristik responden berdasarkan luas lahan di Kecamatan

Bantaeng 32

6. Identitas responden pedagang di Kecamatan bantaeng 31 7. Jumlah petani pada setiap saluran pemasaran di Kecamatan

Bantaeng 37

8. Margin pemasaran pada saluran pemasaran rumput laut

Eucheuma cottoniidi Kecamatan Bantaeng 38 9. Biaya dan keuntungan pemasaran rumput laut di Kecamatan

Bantaeng 39

10. Efisiensi Pemasaran Rumput Laut di Kecamatan Bantaeng

(12)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Wilayah Penghasil Rumput Laut 2 2. Produksi Rumput Laut di Kabupaten Bantaeng 4 3. Rumput Laut JenisEucheuma Cottonii 8

4. Bagan Kerangka Pikir 19

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Kuisioner Penelitian Untuk Petani Rumput Laut 49 2. Kuisioner Penelitian Untuk Pedagang Rumput laut 50 3. Dokumentasi Penelitian 51

(14)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rumput laut adalah salah satu komoditas perikanan yang potensial untuk dikembangkan, hal ini didukung oleh kondisi alam Indonesia yang cocok untuk budidaya rumput laut. Rumput laut banyak digunakan oleh berbagai industri terutama industri kosmetika (salep, krem, lipstik dan sabun), industri makanan (saus, es krim, jelly, dan selai), industri farmasi, dan industri tekstil. Hal membuat tingginya permintaan dunia terhadap rumput laut Indonesia.Rumput laut merupakan salah satu komoditas perikanan yang dapat dijadikan salah satu sumber andalan ekonomi perikanan nasional.E Cottonii merupakan salah satu jenis rumput laut yang banyak di produksi di Indonesia. Jenis rumput laut ini dapat di produksi sepanjang tahun dengan potensi lahan budidaya mencapai 1,11 juta Ha (Kementrian Kelautan dan Perikanan, 2018).

Kemampuan Indonesia sebagai salah satu eksportir rumput laut di dunia ditunjang oleh produksi rumput laut yang mengalami peningkatan setiap tahunnya. Selama periode tahun 2012 sampai 2016, terjadi peningkatan produksi yang signifikan yaitu dari 6.51 juta ton tahun 2012 menjadi 11.63 juta ton tahun 2016 atau rata-rata peningkatan sebesar 14.68 persen per tahun (KKP 2016). Produksi rumput laut Indonesia pada tahun 2016 berdasarkan 6 besar provinsi dapat dilihat pada Gambar 1.1 Provinsi Sulawesi Selatan merupakan sentra utama rumput laut di Indonesia dengan kontribusi sebesar 27 persen dari total produksi Indonesia yaitu mencapai 11.63 juta ton. Hal ini didukung oleh panjang garis

(15)

pantai di Sulawesi Selatan yang mencapai 1 900 kilometer. Hingga saat ini, wilayah garis pantai yang dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut hanya sekitar 568 kilometer (Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan 2014). Untuk itu, peluang pengembangan rumput laut di Sulawesi Selatan masih terbuka.

Gambar 1. Wilayah Penghasil Rumput Laut di Indonesia

Upaya pengembangan rumput laut sebagai produk unggulan daerah Sulawesi Selatan terus diupayakan pemerintah untuk memenuhi permintaan dunia yang semakin besar. Langkah-langkah pengembangan yang telah dilakukan pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten melalui dana APBN dan APBD antara lain seperti pengadaan kebun bibit dan penyaluran paket penguatan modal pengembangan budidaya. Selama kurun lima tahun terakhir mulai tahun 2012 sampai 2016, produksi rumput laut Sulawesi Selatan menunjukkan trend produksi yang semakin meningkat (Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel 2017).

Rumput laut merupakan komoditas unggulan ekspor dari Provinsi Sulawesi Selatan, ekspor terbesar ke Negara China dengan jumlah 70%. Ekspor rumput laut sebagaian masih tergolong raw material (KKP Sulsel 2018). Potensi

(16)

pengembangan budidaya rumput laut di Sulawesi Selatan masih sangat tinggi. Upaya pengembangan terutama di wilayah pulau-pulau kecil dan wilayah perbatasan sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Pada tahun 2013 terjadi peningkatan terbesar sebesar 598 182 ton dari tahun sebelumnya. Tahun 2016, produksi rumput laut menjadi sebesar 3 218 073 ton atau naik sebesar 440 915 ton. Hal ini menunjukkan bahwa produksi terus meningkat meskipun dalam volume yang tidak sebesar tahun sebelumnya.

Peningkatan produksi terjadi terutama karena adanya peningkatan luas lahan budidaya rumput laut.Upaya pengembangan rumput laut seharusnya tidak hanya difokuskan pada peningkatan produksi namun juga memperhatikan subsistem hilir yaitu sistem pemasaran dan pengolahan. Pemasaran produk pertanian memiliki peranan penting dalam sistem agribisnis terutama dalam pengembangan suatu daerah sentra komoditas pertanian (Suprabowo et al. 2017). Upaya peningkatan efisiensi sistem pemasaran sangat diperlukan agar dapat memenuhi permintaan dan kepuasan konsumen akhir serta memaksimalkan nilai yang diterima nelayan.

Pengolahan subsistem pertanian menjadi penting karena kegiatan pengolahan dapat meningkatkan nilai tambah, meningkatkan kualitas hasil, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, dan meningkatkan pendapatan produsen baik tingkat petani maupun industri. Namun, jika melihat ekspor rumput laut pada tahun 2013-2017 menunjukkan bahwa ekspor rumput laut Indonesia di dominasi oleh rumput laut kering sehingga nilai tambah di peroleh dari negara pengimpor. Industri pengolahan rumput laut yang berkembang pesat saat ini adalah industri

(17)

tepung karagenan yang merupakan bahan baku berbagai jenis industri hilir seperti industri tekstil, kosmetik, es krim, flavour, meat products, pasta ikan, produk saos, industri sutera, dan lain-lain (Sulaeman 2006).

Sebagai sentra rumput laut di Indonesia, Provinsi Sulawesi Selatan sudah memiliki pabrik pengolahan tepung karagenan dan menunjukkan tren peningkatan yang positif. Melihat permintaan yang tinggi terhadap rumput laut dan olahannya menjadikan komoditas ini perlu untuk dikembangakan. Salah satu upaya pengembangan rumput laut yaitu penerapan manajemen yang baik di dalam rantai pasok rumput laut. Konsep ini menuntut seluruh anggota yang berada di sepanjang rantai pasok saling terintegrasi karena persaingan tidak lagi terjadi antara pelaku usaha secara individu, tetapi antara rantai pasok.

Gambar 2 Produksi rumput laut di Kabupaten Bantaeng (dalam ton)

Pada gambar 2 diatas terlihat produksi rumput laut basah di Kecamatan Bantaeng mengalami perubahan secara fluktuatif (BPS Kabupaten Bantaeng 2018). Ketersediaan rumput laut harus terjaga di dalam rantai pasok agar aliran produk dapat berjalan lancar yang akan mempegauhi kelancaran aliran infromasi

(18)

dan finansial. Permasalahan dalam industri rumput laut ialah masih rendahnya kualitas rumput laut yang dihasilkan serta minimnya diversifikasi produk, persyaratan pasar global, persaingan antar produsen, efesiensi biaya, dukungan teknologi serta permasalahan penanganan limbah (Kementrian Kelautan dan Perikanan Sulsel 2018). Oleh karena itu hal inilah yang menjadi latar belakang penelitian berjudul “Analisis Pemasaran Rumput Laut JenisEucheuma Cottoniidi Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng”.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah berdasarkan latar belakang di atas ialah bagaimana margin, efesiensi pemasaran dan farmer share rumput laut di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui margin, efesiensi pemasaran serta farmer share rumput laut di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng.

(19)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rumput Laut

Rumput laut (seaweeds) secara ilmiah dikenal dengan istilah alga atau ganggang. Rumput laut termasuk salah satu anggota alga yang merupakan tumbuhan berklorofil. Dilihat dari ukurannya, rumput laut terdiri dri jenis mikroskopik dan makroskopik. Jenis makroskopik inilah yang sehari-hari kita kenal sebagi rumput laut (Poncomulyo, 2006).

Rumput laut merupakan salah satu komoditi sub-sektor perikanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi karena menghasilkan alginat, agar-agar dan karaginan. Pemanfaatan rumput laut telah meluas di berbagai bidang, misalnya industri pertanian, kedokteran, farmasi dan industri lainnya. Jenis rumput laut Eucheuma cottoni, karaginannya sangat penting sebagai bahan stabilisator, bahan pengental, pembentuk gel, pengemulsi dan lain sebagainya (Maryani, 2006). Seiring dengan berkembangnya industri tersebut, menyebabkan permintaan rumput laut terus meningkat baik untuk keperluan dalam negeri maupun ekspor. Di samping itu, budidaya rumput laut ternyata mampu mengubah tingkat social ekonomi masyarakat pantai dan meningkatkan pendapatan serta dapat melindungi sumberdaya pesisir melalui pengalihan kegiatan yang dapat merusak lingkungan misalnya pengambilan karang dan penggunaan bahan peledak untuk penangkapan ikan (Basmal, 2011).

Peluang pengembangan usaha rumput laut Eucheuma cottonii sangat menjanjikan seiring dengan meningkatnya permintaan pasar sehingga peluang ini

(20)

dimanfaatkan oleh masyarakat dengan melakukan usaha budidaya. Tujuan utama dalam usaha yaitu memperoleh keuntungan. Semakin banyak keuntungan yang diperoleh, maka usaha akan semakin berkembang. Petani atau pengusaha dapat mengetahui seberapa besar keuntungan yang akan atau telah diperoleh dengan membuat suatu analisis usaha. Hasil analisis nantinya dapat digunakan untuk menilai kelayakan usaha yang dijalankan.

Menurut Anggadireja (2011), taksonomi dari rumput laut jenis Eucheuma cottonii adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae, Divisio : Rhodophyta, Kelas : Rhodophyceae, Ordo : Gigartinales, Famili : Solieriaceae, Genus : Eucheuma, Spesies : Eucheuma cottonii (Kappaphycus alvarezii).

Menurut Anggadiredja (2011), Eucheuma cottonii masuk kedalam marga Euchema dengan ciri-ciri umum adalah :

1. Berwarna merah, merah-coklat, hijau-kuning.

2. Thalli (kerangka tubuh tanaman) bulat silindris atau gepeng.

3. Substansi thalli “gelatinus” dan atau “kartilagenus” (lunak seperti tulang rawan).

4. Memiliki benjolan-benjolan dan duri.

Karakteristik gel kappa-karaginan dicirikan oleh tipe gel yang lebih kuat dan rapuh dengan sineresis dan memiliki efek sinergis yang tinggi dengan locust been gum. Pada umumnya rumput laut jenis Eucheuma cottonii (karaginan) dapat melakukan interaksi dengan makromolekul yang bermuatan misalnya protein 7 sehingga mempengaruhi peningkatan viskositas, pembentukan gel dan pengendapan (Anggadiredja, 2011).

(21)

Budidaya rumput laut sangat menguntungkan karena dalam proses budidayanya tidak banyak menuntut tingkat keterampilan tinggi dan modal yang besar, sehingga dapat dilakukan oleh semua orang. Pangsa pasar rumput laut pun sangat luas baik dalam maupun luar negeri. Bahkan dalam tingkat konsumsi (pasar) taraf lokal pun pada pembudidaya masih kualahan untuk mencukupinya, belum lagi ditambah permintaan luar negeri yang kian hari semakin meningkat, bahkan bisa dikatakan tidak terbatas (Suparman, 2014).

2.2 Rantai Pasok

Rantai pasokan berkaitan dengan integrasi organisasi jaringan yang terdiri dari pemasok, manufaktur, penyedia logistik, pedagang grosir atau distributor, dan pengecer. Tujuan rantai pasok adalah mengkolaborasikan dan mengelola arus produk, layanan, keuangan, dan informasi dari pemasok kepada pelanggan untuk mencapai kepuasan pelanggan, keuntungan, nilai tambah, dan untuk menciptakan efisiensi dan efektivitas. Menurut (Hamery dan Palsson dalam Ummy Qalsum 20019) rantai pasok produk perikanan sama seperti rantai pasokan komoditas lain pada umumnya dengan aktor-aktor yang terlibat bekerja sama dalam menghantarkan barang atau jasa sampai ke tangan konsumen. Rantai pasokan produk perikanan memiliki karakteristik yang agak berbeda dibandingkan rantai pasokan lainnya (Aramyan et al. 2006; Aramyan etal. 2007; Austin 1992; Brown 1994 dalam Ummy Qalsum 2019).Perbedaan ini meliputi umur simpan bahan baku yang terbatas; produksi berfluktuasi karena proses biologis; budidaya dan panen musiman; produk fisik yang kompleks dengan atribut sensorik seperti rasa, bau, penampilan, warna, dan ukuran; ketidakpastian permintaan dan harga;

(22)

kondisi khusus untuk transportasi dan penyimpanan bahan baku dan produk; dan perilaku konsumen tertentu terhadap kualitas, keamanan produk, kesejahteraan hewan, dan produk ramah lingkungan.

Tantangan yang harus dihadapi pada aktivitas rantai pasok yaitu diperlukan manajemen rantai pasok yang memadai untuk mencegah inefisiensi serta kerugian dan pemborosan karena penanganan pasca panen yang tidak tepat. Kerugian ini dapat dihindari dengan menyediakan fasilitas cold chain yang tepat, seperti cold storage, fasilitas pengolahan dan sistem transportasi berpendingin untuk petani di pasar lokal atau regional dan dengan menarik sejumlah besar pemain agribisnis swasta untuk mendirikan fasilitas infrastruktur tersebut. Oleh sebab itu, peran pemerintah dan organisasi swasta sangat diperlukan dalam upaya memperbaiki infrastruktur untuk mengurangi tingkat pemborosan dan meningkatkan efisiensi aliran pada rantai pasok. Kesuksesan rantai pasok sangat tergantung dari komitmen yang terjalin antar anggotanya. Aliran dan keterbukaan informasi yang baik antar anggota rantai pasok menjadi kunci suksesnya kolaborasi rantai pasok, karena dapat membantu meningkatkan hubungan antar anggota rantaipasok melalui integrasi sistem informasi dan sistem pengambilan keputusan, sehingga mengarah pada peningkatan kinerja dan penghapusan inefisiensi dalam rantai pasok. Selain akses informasi yang terbuka.

Menurut Shi (2004) adanya gangguan yang terjadi dalam sebuah aliran rantai pasokan karena kurangnya kepercayaan yang terbangun antar anggota rantai pasok, yang paling nyata berdampak pada pendapatan dan laba, disamping itu juga akan menggangu hubungan dagang dengan mitra usaha , mengingat

(23)

keterkaitan sebuah rantai pasokan memiliki efek gelombang yang dapat memengaruhi semua ekosistem rantai pasok. Terjalinnya kolaborasi yang baik antar rantai pasok dapat memberikan nilai tambah bagi anggota yang tergabung di dalamnya. Kolaborasi yang tercipta dapat berupa keakuratan informasi serta kesesuian jadwal. Kolaborasi dalam rantai pasok dapat menekan kelebihan persediaan dan memberikan respon yang cepat atas permintaan konsumen akhir.

Mathuramaytha (2011) menambahkan bahwa kolaborasi rantai pasok akan memberikan keuntungan lebih bagi anggotanya, meningkatkan penerimaan dan pangsa pasar, serta mempercepat proses pengambilan keputusan dalam menghantarkan produk yang tepat ke lokasi yang tepat pada waktu dan kondisi yang tepat dengan biaya yang rendah. Namun, pelaksanaan aktivitas kolaborasi dalam rantai pasok memiliki beberapa hambatan (Ronchi 2011). Hambatan tersebut meliputi ketakutan akan terjadinya kegagalan, kompetisi yang ketat di antara rantai pasok, krisis kepercayaan, kompleksitas kegiatan operasional, ketidakmampuan mengakses teknologi, dan kurannya standar proses komunikasi dalam rantai pasok. Hambatan dalam pelaksanaan aktivitas rantai pasok tersebut apabila tidak diantisipasi dapat mengakibatkan struktur rantai pasok kurang terintegrasi dengan baik dan menimbulkan inefisiensi dalam proses penyaluran produk atau jasa. Pentingnya akses yang dapat diandalakan dan terkini mengenai informasi dalam rantai juga menjadi salah satu kunci dalam rantai pasok.

Penelitian mengenai jenis informasi yang mendukung terciptanya nilai tambah pada rantai pasok telah dilakukan oleh Husni (2005), hasil penelitiannya menemukan bahwa dukungan informasi yang berguna (bermanfaat) dan

(24)

memberikan nilai tambah bila informasi tersebut berisikan tentang harga jual, jumlah dan waktu yang dibutuhkan yang diiringi dengan adanya standar yang diinginakan secara berkesinambungan, didukung oleh teknologi yang lebih baik, memberikan informasi mengenai waktu pembayaran ke pemasok dan memberikan informasi insentif kepada pedagang pengecer.

2.3 Kinerja Rantai Pasok

Istilah kinerja atau performance mengacu pada hasil output dan sesuatu yang dihasilkan dari proses yang telah dilakukan sebelumnya. Menurut Wibowo (2009), kinerja adalah melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai dari pekerjaan tersebut, tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya. Kinerja rantai pasok didefinisikan oleh Fischer dan Hartman (2006) sebagai titik temu antara konsumen dan pemangku kepentingan dimana syarat keduanya telah tepenuhi dengan relevensi atribut indikator kinerja dari waktu ke waktu. Keberhasilan rantai pasok dapat dilihat dari tingkat kinerja yang dimilikinya. Suatu manajemen rantai pasok dituntut untuk dapat melakukan integrasi antar fungsi dan proses yang terjadi didalamnya, agar manajemen rantai pasok tersebut dapat berjalan dengan baik dan dapat melayani costumer sebagai tujuan akhirnya, serta menghasilkan benefit dari proses tersebut. Indikator berhasilnya suatu pengelolaan rantai pasok khususnya pada komoditi perikanan dikemukakan oleh Roekel et al. (2002) yaitu (1) meningkatnya margin dan pengetahuan pasar bagi produsen, (2) penurunan hilangnya produk selama penyimpanan dan transportasi, (3) kualitas produk meningkat, (4) meningkatnya produk pangan yang terjamin

(25)

yang dapat menghasilkan penerimaan. Dalam konteks manajemen rantai pasok pengukuran tidak hanya melibatkan proses internal pelaku bisnis, tetapi terhadap seluruh pihak yang terlibat dalam rantai pasoknya.

Seluruh faktor yang mempengaruhi kinerja akan menghasilkan kinerja seseorang dan kemudian menentukan baik tidaknya kinerja organisasi keseluruhan karena organisasi merupakan kumpulan dari individu yang memiliki kesamaan visi atau tujuan. Kinerja organisasi dapat terlihat dari pencapaian tujuan atau visi bersama, apakah tercapai atau tidak. Kinerja salah satu organisasi dapat mempengaruhi kinerja organisasi lainnya. Hal tersebut dapat terlihat dalam kinerja rantai pasok. Sebuah rantai pasok terdiri dari kumpulan organisasi atau perusahaan yang saling bermitra.Tujuan akhir rantai pasok adalah memaksimalkan nilai yang diperoleh serta memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen akhir. Jika salah satu organisasi (perusahaan) sebagai pemasok tidak baik dalam hal kinerjamisalkan kualitas produk yang dipasok tidak sesuai kesepakatan dengan mitra, maka akan mempengaruhi kinerja mitra sebagai organisasi (perusahaan) dalam menjual kembali produk. Selanjutnya, akan berakibat pada kinerja rantai pasok keseluruhan yang tidak dapat memenuhi kepuasan konsumen yang menginginkan produk berkualitas sehingga nilai yang diperoleh rantai pasok berkurang. Oleh karena persaingan dihadapi oleh rantai pasok saat ini, maka harus diintegrasikan seluruh anggota rantai pasok sehingga menghasilkan kinerja yang baik dilihat dari pencapaian tujuan rantai pasok.

Pentingnya sistem pengukuran kinerja yang terintegrasi, bukan hanya di dalam suatu organisasi, tetapi juga antar pemain organisasi pada suatu rantai

(26)

pasokan. Artinya, sistem pengukuran kinerja harus memiliki alat ukur yang dapat digunakan untuk memonitor kinerja secara bersama-sama antara satu organisasi dengan organisasi lainnya pada sebuah rantai pasokan. Sistem pengukuran kinerja haruslah sesuai dengan sistem yang berjalan, bisa jadi satu rantai pasok dan rantai pasok lainnya memiliki perbedaan sistem pengukuran. Penentuan kinerja rantai pasok sendiri dapat diambil berdasarkan evaluasi dan perkembangan rantai pasok, perkembangan prosedur dan model dari rantai pasok,isu-isu terkait yang mempengaruhhi rantai pasok, dan juga teknik umum yang telah ditentukan

Menurut Pettersson (2008), kinerja rantai pasok dapat diukur melalui perhitungan biaya total rantai pasok yang terdiri atas penjumlahan harga di tingkat petani, biaya transportasi dan pengemasan, biaya mark-up, serta pemborosan akibat barang rusak dan biaya kehilangan dalam trasnportasi. Pengukuran kinerja rantai pasok yang umum digunakan adalah pengukuran biaya atau pengukuran dengan kombinasi antara pengukuran biaya dan respon pelanggan. Selain pengukuran biaya dan respon pelanggan, pengukuran kinerja rantai pasok juga dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa pendekatan.

2.4 Saluran Pemasaran

Menurut Hanafiah dan Saefuddin (2006), saluran pemasaran adalah badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi pemasaran dengan mana barang-barang bergerak dari pihak produsen sampai pihak konsumen. Sebagian besar produsen tidak menjual barang mereka kepada pengguna akhir secara langsung. Di antara mereka terdapat sekelompok perantara yang melaksanakan

(27)

salauran dagang atau saluran distribusi). Saluran pemasaran (marketing channel) adalah sekelompok organisasi yang saling bergantung dan terlibat dalam proses pembuatan produk atau jasa yang disediakan untuk digunakan atau dikosumsi. Saluran pemasaran merupakan seperangkat alur yang diikuti produk atau jasa setelah produksi, berakhir dalam pembelian dan digunakan oleh pengguna akhir.

Menurut Amirullah (2002), bentuk saluran pemasaran dan distribusi ada dua, yaitu:

1. Saluran pemasaran langsung

Adalah suatu cara yang dilakukan perusahaan untuk menyalurkan barang kepada konsumen secara langsung. Dalam distribusi ini pengusaha berusaha untuk menyalurkan produk yang dibeli oleh konsumen secara langsung ke tempat konsumen, dengan demikian maka diharapkan konsumen akan merasa puas karena tidak perlu lagi memikirkan masalah pengangkutan barang yang dibelinya itu ke rumah mereka. Di samping masalah transportasi barang konsumen juga akan mendapatkan keuntungan lain yaitu mereka dapat mengecek keutuhan barang tersebut.

2. Saluran pemasaran tidak langsung

Adalah suatu proses produksi yang dilakukan perusahaan untuk menyalurkan barang produksinya secara tidak langsung, yaitu dengan cara menggunakan perantara dagang, misalnya dengan menggunakan bantuan pedagang besar atau pengecer untuk mengrimkan barang kepada konsumen. Dalam hal ini pengusaha bekerjasama dengan pihak lain untuk membantu menyalurkan

(28)

barangnya kepada konsumen. Pihak luar tersebut merupakan pedagang perantara.

2.5 Margin Pemasaran

Hanafiah dan Saefuddin (2006) mendefinisikan margin pemasaran sebagai perbedaan harga yang dibayarkan penjual pertama (produsen) dan harga yang dibayar oleh pembeli terakhir. Pengertian analisis margin pemasaran dan share harga merupakan salah satu cara untuk mengetahui tingkat efisiensi suatu pemasaran. Margin pemasaran dapat diketahui dari perhitungan biaya yang dikeluarkan dan keuntungan lembaga pemasaran yang ikut berperan dalam proses pemasaran. Margin pemasaran dengan kata lain juga dapat diartikan sebagai perbedaan harga yang diterima petani dengan pedagang perantara (Zubaidi, 2008). Margin pemasaran dapat didefinisikan sebagai selisih harga antara yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima produsen. Panjang pendeknya sebuah saluran pemasaran dapat mempengaruhi marginnya, semakin panjang saluran pemasaran maka semakin besar pula margin pemasarannya, sebab lembaga pemasaran yang terlibat semakin banyak. Besarnya angka marjin pemasaran dapat menyebabkan bagian harga yang diterima oleh petani produsen semakin kecil dibandingkan dengan harga yang dibayarkan konsumen langsung petani, sehingga saluran pemasaran yang terjadi atau semakin panjang dapat dikatakan tidak efisien (Istiyanti, 2010).

(29)

2.6 Efisiensi Pemasaran

Efisiensi pemasaran merupakan tolak ukur atas produktiitas proses pemasaran dengan membandingkan sumberdaya yang digunakan terhadap keluaran yang dihasilkan selama berlangsungnya proses pemasaran (Downey dan Steven, 1994 dalam Hastuti dan Rahim, 2007). Pengukuran efisiensi pemasaran pertanian yang menggunakan perbandingan output pemasaran dengan biaya pemasaran pada umumnya dapat digunakan untuk memperbaiki efisiensi pemasaran dengan mengubah rasio keduanya. Upaya perbaikan efisiensi pemasaran dapat dilakukan dengan meningkatkan output pemasaran atau mengurangi biaya pemasaran. Potensi-potensi perbaikan efisiensi dapat dilakukan dengan mengacu pada perbandingan output pemasaran dan biaya pemasaran (Sudiyono, 2001).

Masalah pemasaran komoditi pertanian pada dasarnya meliputi, bagaimana menerjemahkan permintaan konsumen akhir kepada produsen dan menginformasikan produk-produk yang diproduksikan oleh produsen kepada konsumen bagaimana menyalurkan produk-produk pertanian dan jasa-jasa pemasaran dan produsen kepada konsumen dengan biaya minimal dengan teknologi dan keadaan lingkungan yang ada, serta masalah bagaimana menyelaraskan proses pemasaran akibat perubahan permintaan konsumen. Maka untuk menilai proses pemasaran digunakan konsep efisiensi. Secara sederhana konsep efisiensi ini didekati dengan rasio output-input. Suatau proses pemasaran dikatakan efisien apabila:

(30)

2. Output meningkat sedangkan input yang digunakan tetap konstan.

3. Output dan input sama-sama mengalami kenaikan, tetapi laju kenaikan output lebih cepat daripada laju input, dan

4. Output dan input sama-sama mengalami penurunan, tetapi laju penurunan output lebih lambat daripada laju penurunan input.

Dari sudut pandang marketing mix, efisiensi pemasaran menurut Downey dan Steven (1994) dalam Hastuti dan Rahim (2007) dapat dilihat dari masing-masing elemen, yaitu:

1. Efisiensi produk merupakan usaha untuk menghasilkan suatu produk melalui penghematan harga serta penyederhanaan prosedur teknis produksi guna keuntungan maksimum.

2. Efisiensi distribusi dinyatakan sebagai produk dari produsen menuju ke pasar sasaran melalui saluran distribusi yang pendek atau berusaha menghilangkan satu atau lebih mata rantai pemasaran yang panjang dimana distribusi produk berlangsung dengan tindakan penghematan biayadan waktu.

3. Efisiensi harga yang menguntungkan pihak produsen dan konsumen diikuti dengan keuntungan yang layak diambil oleh setiap mata rantai pemasaran sehingga harga yang terjadi ditingkat petani tidak berbeda jauh dengan harga yang terjadi ditingkat konsumen.

4. Efisiensi promosi mencerminkan penghematan biaya dalam melaksakan pemberitahuan di pasar sasaran mengenai produk yang tepat, meliputi penjualan perorangan atau massal dan promosi penjualan.

(31)

Pada dasarnya menentukan suatu pemasaran efisiensi ataupun tidak efisien sangat sulit karena dalam proses pemasaran pada umumnya melibatkan empat komponen besar yakni produsen, lembaga perantara, konsumen dan pemerintah. Dalam pemasaran hasil pertanian tidak hanya keempat komponen tersebut saja tetapi karakteristik dasar dari hasil-hasil pertanian juga terlibat di dalamnya.Efisiensi pemasaran yang efisien jika biaya pemasaran lebih rendah daripada nilai produk yang dipasarkan, semakin rendah biaya pemasaran dari nili produk yang dipasarkan semakin efisien melaksanakan pemasaran.

2.7 Kerangka Pemikiran

Kerangka pikir adalah pola pikir yang ditetapkan untuk mendapat gambaran atau fokus perhatian sebuah penelitian. Berdasarkan pada uraian sebelumnya maka dalam kerangka pikir pada dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(32)

Gambar 3 Bagan Kerangka Pikir

Usaha Tani Rumput Laut

Eucheuma cottonii

(Petani Rumput Laut Eucheuma cottoni)

Proses Rantai Pasok

Konsumen Rumput Laut (Mitra Perusahaan Ekspor) Margin Pemasaran

Rumput Laut

Efesiensi Pemasaran Rumput Laut

(33)

III. METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive), dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Bantaeng merupakan salah satu daerah penghasil rumput laut di Kabupaten Bantaeng. Penelitian ini akan berlangsung pada bulan September 2019.

3.2 Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono 2016:61). Populasi merupakan kelompok subkjek yang memiliki ciri-ciri atau karakteristik-karakteristik bersama yang membedakannya dari kelompok subjek lain (Saifuddin 2013:77). Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah seluruh petani rumput laut di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng. Terdapat 1193 jumlah rumah tangga petani rumput laut di Kecamatan Bantaeng (Badan Pusat Stastistik Kabaputen Bantaeng 2018)

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono 2016:62). Sampel terdiri dari beberapa anggota populasi. Sub set ini diambil karena dalam banyak kasus tidak mungkin kita meneliti

(34)

seluruh anggota populasi, oleh karena itu kita membentuk sebuah perwakilan populasi yang disebut sampel yang diharapkan hasilnya harus representatif. Dalam penelitian suatu sampel yang representatif ialah sampel yang kira-kira memiliki karakteristik-karakteristik populasi yang relevan dengan penelitian yang bersangkutan (Kerlinger 2006:190).

Penentuan populasi dan sampel dilakukan secara sengaja (purposive) sehingga diperoleh 28 responden dari populasi petani rumput laut. Kemudian yang ikut berperan dalam saluran pemasaran rumput laut yakni yang terlibat langsung dengan petani atau produsen, yaitu pedagang pengumpul yang berjumlah 1 orang dan pedagang besar berjumlah 1 orang. Jadi jumlah keseluruhan responden sebanyak 30 responden.

3.3 Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data kualitatif. Jenis data kualitatif adalah data yang berbentuk kalimat, kata atau gambar (Sugiyono, 2016). Data kualitatif dapat didapatkan dengan cara pengamatan secara langsung untuk melakukan observasi dan wawancara dengan responden.

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ada dua, yaitu :

1. Sumber data primer adalah data yang diperoleh dari responden melalui observasi maupun wawancara.

2. Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari laporan atau dokumen yang dikeluarkan oleh instansi terkait seperti : BPS Kabupaten Bantaeng, Dinas Pertanian Bantaeng, Kantor Kecamatan dan Kantor Desa, dan kepustakaan yang relevan dengan penelitian ini.

(35)

3.4 Teknik Pengumpulan Data

1. Observasi

Metode pengamatan langsung terhadap kegiatan petani responden dan pedagang responden. Kegiatan ini meliputi proses distribusi atau pemasaran rumput lautEucheuma cottonii.

2. Wawancara

Metode ini dilakukan peneliti dengan petani responden dengan menggunakan media kuisioner sebagi alat bantu untuk mendapatkan gambaran dan penjelasan terkait kegiatan pemasaran rumput lautEucheuma cottonii..

3. Dokumentasi

Dokumentasi yang dimaksud dalam pengumpulan data adalah terkait dengan pengambilan gambar/foto, penelusuran, serta sumber kepustakaan yang mendukung kevalidan data di lapangan.

3.5 Teknik Analisis Data

Untuk menjawab permasalahan pada penelitian ini maka akan digunakan metode analisis sebagai berikut :

1. Untuk mengkaji rantai pasok rumput laut di Kecamatan Bantaeng maka digunakan analisis deskriptif.

2. Untuk menghitung margin dan efesiensi pemasaran rumput laut di Kecamatan Bantaeng digunakan metode analisis deskriptif dan kuantitatif.

(36)

a. Menurut Sudiyono (2001) margin pemasaran merupakan selisih harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima petani. Margin pemasaran dihitung dengan formulasi (Sudiyono, 2001):

Keterangan:

MP = Margin Pemasaran (Rp/kg) Pr = Harga ditingkat konsumen (Rp/kg) Pf = Harga ditingkat petani (Rp/kg)

b. Untuk menghitung bagian yang diterima petani (Farmer’s share) dihitung dengan menggunakan rumus:

Keterangan :

Fs = Bagian atau persentase yang diterima petani (%) Pf = Harga di tingkat produsen (Rp/Kg)

Pr = Harga di tingkat konsumen (Rp/Kg)

3. Menurut Soekartawi (2002), untuk mengetahui tingkat efisiensi pemasaran pala pada masing-masing saluran pemasaran, digunakan rumus sebagai berikut:

MP = Pr – Pf

Fs=

X 100%

(37)

Keterangan :

Eps = Efisiensi Pemasaran (%) Bp = Biaya Pemasaran (Kg/Rp)

HK = Harga di tingkat Konsumen (Kg/Rp) Dengan Kriteria : 1) Ep < 50 % Efisien.

2) Ep > 50 % tidak Efisien.

3.6 Defenisi Operasional

Defenisi operasional variabel penelitian adalah batasan atau spesifikasi dari variabel-variabel penelitian yang secara konkret berhubungan dengan realitas yang akan diukur dan merupakan manifestasi dari hal-hal yang akan diamati peneliti. Dalam pelaksanaan penelitian, batasan atau defenisi suatu variabel tidak dapat dibiarkan ambiguous, yakni tidak memiliki makna ganda, atau tidak menunjukkan indikator yang jelas (Saifuddin 2013:72)

1. Rumput laut merupakan salah satu produk pertanian yang diproduksi dan dikembang oleh petani di Kecamatan Bantaeng

2. Petani rumput laut merupakan orang yang berperan dalam memproduksi dan mengembangkan rumput laut dari mulai proses pembibitan hingga pemasaran 3. Proses rantai pasok merupakan proses mengelolah arus produksi, layanan,

keuangan, informasi dari pemasok hingga sampai ketangan konsumen.

4. Pemasaran merupakan tahapan dimana petani menawarkan produk rumput laut sehingga mendapatkan keuntungan

5. Efisiensi pemasaran merupakan tolak ukur atas produktivitas proses pemasaran dengan membandingkan sumberdaya yang digunakan terhadap

(38)

keluaran yang dihasilkan selama berlangsungnya proses pemasaran.

6. Margin pemasaran Merupakan perbedaan harga yang diterima petani dan pedagang perantara

7. Konsumen rumput laut merupakan pihak pemakai rumput laut, dalam penelitian ini konsumen rumput laut adalah perusahaan ekspor.

(39)

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Kondisi Geografis

4.1.1 Luas dan Letak Wilayah

Kabupaten Bantaeng secara geografis terletak kurang lebih 120 km arah selatan Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan dengan posisi 5˚21’13” -5˚35’26” Lintang Selatan dan 119˚51’42” - 120˚05’27” Bujur Timur. Luas wilayah daratan Kabupaten Bantaeng adalah 395,83 km2.

Wilayah administrasi Kabupaten Bantaeng terbagi menjadi 8 wilayah Kecamatan, luas daratan masing-masing kecamatan yaitu; Bissappu (32,84 km2), Uluere (67,29 km2), Sinoa (43 km2), Bantaeng (28,85 km2), Eremerasa (45,01 km2), Tompobulu (76,99 km2), Pa’jukukang (48,9 km2) dan Gantarangkeke (52,95 km2).

Wilayah Kabupaten Bantaeng terletak di bagian selatan Provinsi Sulawesi Selatan yang pada bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Bulukumba, bagian timur berbatasan dengan Kabupaten Bulukumba, bagian selatan berbatasan dengan Laut Flores, dan bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Jeneponto. (Badan Pusat Statistik Kabupaten Bantaeng. 2018).

4.1.2 Iklim

Kabupaten Bantaeng terkhusus wilayah Kecamatan Bantaeng sebagaimana wilayah di Indonesia lainnya memiliki iklim tropis dengan 2 jenis musim dalam 1 tahun yakni musim kemarau dan musim hujan. Musim kemarau terjadi pada bulan April sampai bulan September dan musim hujan terjadi pada bulan Oktober

(40)

sampai Maret. Hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap mata pencaharian masyarakat yang ada di Kecamatan Bantaeng.

4.2 Kondisi Demografis

4.2.1 Karakteristik Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin

Populasi penduduk di Kecamatan Bantaeng diklarifikasikan ke dalam jumlah kepala keluarga dan jumlah penduduk per jiwa. Adapun jumlah penduduk di Kecamatan Bantaeng dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1 Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di Kecamatan Bantaeng

No Jenis Kelamin Jumlah Jiwa (jiwa) Presentase (%)

1 Perempuan 19.794 51,33 % 2 Laki-laki 18.767 48,66 %

TOTAL 38.561 100%

(Sumber BPS Kab. Bantaeng. 2018)

Pada tabel 1 diatas menunjukkan bahwa jumlah penduduk berjenis kelamin perempuan sebanyak 19.794 jiwa dengan presetanse 51,33% sedangkan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 18.767 jiwa dengan presentase 48,66% dengan jumlah total penduduk di Kecamatan Bantaeng sebanyak 38.561 jiwa.

(41)

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa metode, yaitu metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Metode observasi digunakan oleh peneliti untuk mengamati kondisi di Kecamatan Bantaeng meliputi penduduk, mata pencaharian penduduk dan produksi pertanian yang dihasilkan serta lembaga pemasaran apa saja yang digunakan petani di Kecamatan Bantaeng. Metode wawancara digunakan untuk memperoleh data dari para responden karakteristik responden dan pemasaran komoditas rumput laut Eucheuma cottonii. Sedangkan metode dokumentasi digunakan oleh peneliti untuk memperoleh data-data dari Kecamatan Bantaeng selama turun langsung ke lapangan.

Pada metode wawancara peneliti menanyakan berbagai hal yang meliputi kegiatan petani mulai dari proses produksi sampai dengan tahap penjualan rumput laut jenisEucheuma cottonii.

5.1.1 Identitas Responden 1. Responden Petani

Petani dapat diartikan sebagai pekerjaan yang memanfaatkan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya guna memenuhi kebutuhan hidup dengan menggunakan peralatan yang bersifat tradisional dan modern.

(42)

Responden petani adalah produsen atau penghasil rumput laut Eucheuma cottonisebelum menjual ke pedagang pengumpul maupun pedagang besar yang yang ada di Kecamatan Bantaeng. Adapun informasi mengenai responden petani yang ada di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng dapat dilihat pada tabel berikut ini.

a. Umur

Usia atau bias juga disebut umur merupakan satuanwaktuuntuk mengukur keberadaan suatu benda atau makhluk berdasrkan waktu, baik yang hidup maupun yang sudah mati. Umur mulai terhitung sejak lahir atau ada sampai dengan sekarang. Penentuan umur dilakukan dengan menggunakan hitungan tahun. Karakteristik responden berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 2 Jumlah petani berdasarkan usia di Kecamatan Bantaeng

No. Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1. <31 2 10 % 2. 31 – 40 8 40 % 3. 41 – 50 6 30 % 4. 51 – 60 3 15 % 5. >60 1 5 % Total 20 100,00

(Sumber: Data primer setelah diolah. 2019)

Dilihat pada tabel 2 diatas dapat disimpulkan bahwa usia petani rumput laut Eucheuma cottonii terbanyak adalah berada di usia 31 – 4 tahun dengan jumlah 8 orang (40 %) sedangkan yang terendah adalah >60 tahun sebanyak 1 orang (5 %). Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata petani rumput laut Eucheuma cottoniimasih didominasi pada usia produktif.

(43)

b. Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran, pengetahuan, pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Adapun karakteristik responden berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 3 Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan di Kecamatan Bantaeng

No. Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)

1 SMP 1 10 %

2 SMA/Sederajat 19 90 %

Total 20 100,00

(Data primer setelah diolah. 2019)

Pada tabel 3 diatas dapat dilihat bahwa jumlah petani dengan tingkat pendidikan terakhir tertinggi adalah SMA/Sederajat dengan jumlah 19 orang (90%) sedangkan SMP sebanyak 1 orang (10%). Hal ini menunjukkan tingkat pendidikan petani di Kecamatan Bantaeng tergolong tinggi.

c. Pengalaman Bertani

Pengalaman petani dalam mengelolah pertanian merupakan suatu pengetahuan atau pengalaman ekonomi yang diperoleh melalui aktifitas atau rutinitas kegiatannya sehari-hari yang diperoleh yang pernah dialaminya melalui berapa lama pengalamnnya ataupun karena adanya tambahan pengetahuan dari penyuluh setempat. Lama berusahatani akan mempengaruhi pengalaman mereka dalam memproduksi rumput laut. Adapun tabel tentang pengalaman usahatani responden yaitu sebagai berikut.

(44)

Tabel 3 Karakteristik petani berdasarkan pengalaman bertani di Kecamatan Bantaeng

No. Lama Bertani (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1. <11 11 55 %

2. 11-20 8 40 %

3. >20 1 5 %

Total 20 100,00

(Data primer setelah diolah. 2019).

Berdasarkan tabel 3 diatas dilihat bahwa petani rumput laut Eucheuma cottonii di Kecamatan Bantaeng dengan pengalaman bertani <11 tahun sebanyak 11 orang (55%), pengalaman bertani 11-20 tahun sebanyak 8 orang (40%) dan pengalaman bertani >20 tahun sebanyak 1 orang (5%).

d. Luas Lahan

Luas lahan merupakan salah satu faktor penting dalam usahatani karena sangat mempengaruhi petani dalam mengambil keputusan dalam hal penggunaan pupuk, bibit, obat-obatan dan lainnya. Luas lahan adalah media tumbuh bagi tanaman & tumbuhan, tempat hewan dan manusia melakukan aktivitas kehidupannya. Adapun karakteristik petani respnden berdasarkan luas lahan dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4 Karakteristik responden berdasarkan luas lahan di Kecamatan Bantaeng

No. Luas Lahan (Ha) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1. 0,01 – 0,05 5 25 %

2. 0,06 – 0,10 9 45 %

3. 0,11 – 0,15 3 15 %

4. 0,16 – 0,20 3 15 %

Total 20 100,00

(Sumber; Data primer setelah diolah. 2019).

Luas lahan sangat berpengaruh dalam jumlah produksi petani, hal ini juga berdampak dengan seberapa banyak pendapatan dan pengeluaran petani rumput

(45)

laut Eucheuma cottonii. Pada tabel 4 diatas terlihat bahwa petani rumput laut

Eucheuma cottonii di Kecamatan Bantaeng yang memiliki luas lahan 0,01 – 0,05 Ha sebanyak 5 orang (25%), luas lahan 0,06 – 0,10 Ha sebanyak 9 orang (45%), 0,11 – 0,15 Ha sebanyak 3 orang (15%) dan 0,16 – 0,20 Ha sebanyak 3 orang (15%).

2. Identitas Responden Lembaga Pemasaran

Lembaga pemasaran atau pedagang yang terlibat dalam porses pemasaran rumput laut Eucheuma cottonii di Kecamatan Bantaeng adalah pedagang pengumpul (kecil) dan pedagang besar. Pengalaman, pendidikan serta umur sangat mempengaruhi keberhasilan dalam berdagang.

Kegiatan pendistribusian suatu barang dari tangan produsen ke konsumen memerlukan peran pedagang perantara atau disebut juga sembagai lembaga pemasaran. Lembaga ini mempunyai peran yang penting dalam kegiatan pemasaran. Identitas responden pedagang pengumpul dan pedagang besar rumput lautEucheuma cottoniidi Kecamatan Bantaeng dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 5 Identitas Responden Pedagang di Kecamatan Bantaeng

No Jenis

Pedagang Nama

Jenis

Kelamin Umur Pendidikan

Pengalaman berdagang

(tahun)

1 Besar Dg. Baso Laki-laki 52 SMA 15 2 Kecil I Dg. Ali Laki-laki 38 SMA 6 3 Kecil II Dg Pudding Laki-Laki 31 SMA 2

(Sumber; Data primer setelah diolah. 2019).

Pada tabel 5 diatas dilihat bahwa terdapat 2 pedagang rumput laut di Kecamatan Bantaeng baik pedagang kecil maupun pedagang besar. Berikut adalah penjelasan karakteristik responden pada tabel 5 diatas.

(46)

a. Pedagang Besar

Di lihat pada tabel 5 diatas Dg. Baso yang merupakan pedagang besar masih tergolong dalam usia produktif yaitu 52 tahun. Pada usia ini seseorang masih produktif sehingga pedagang masih mampu bekerja dengan baik didukung dengan fisik yang kuat serta mental dalam melaksnakan peran sebagai penyalur pemasaran rumput laut dari produsen ke konsumen. Pengalaman menjadi seorang pedagang rumput laut Dg. Baso sudah 15 tahun sehingga sudah sangat dikenal oleh petani rumput laut setempat, hal ini juga membuat Dg. Baso telah memiliki mitra atau langganan.

Pedagang besar di Kecamatan Bantaeng merupakan pedagang yang membeli rumput laut dalam volume yang relatif banyak dan memiliki modal yang cukup besar. Biasanya pedagang besar membeli rumput laut dari petani di dalam dan luar Kecamatan Bantaeng dan dari pedagang pengumpul lainnya. Rata-rata petani yang menjual rumput lautnya merupakan langganan sejak lama, keluarga maupun dengan alasan lokasi saling berdekatan.

Volume pembelian rumput laut oleh pedagang besar rata-rata sebanyak kurang lebih 3.000 kg (3 ton) setiap tiga sampai satu minggu sekali dipengaruhi oleh musim dan transaksi yang terjadi. Pedagang besar menjual rumput laut langsung ke pedagang yang lebih besar yang biasanya berada di Kawasan Industri Makassar (KIMA).

b. Pedagang Kecil

Responden pedagang kecil di Kecamatan Bantaeng bernama Dg. Ali, berusia 38 tahun dan tergolong usia produktif. Pengalaman berdagang sudah 6

(47)

tahun sehingga Dg. Ali juga sudah memiliki pelanggan tetap. Semakin lama pengalaman berdagang, semakin mudah bagi mereka untuk memasarkan produksi rumput laut. Hal ini disebabkan karena mereka sudah cukup dikenal oleh konsumen dan mempunyai penjual dan pembeli atau pelanggan tetap.

Tingkat pendidikan responden pedagang kecil adalah tamat SMA. Tingkat pendidikan pada pedagang pengumpul ini mengalami peningkatan yakni sampai pada pendidikan tingkat lanjut sehingga akan berdampak besar terhadap cara pandang pedagang pengumpul dalam menganalisis kebutuhan pasar lebih dalam lagi khususnya yang berkaitan dengan mekanisme pemasaran. Hal ini akan menigkatkan keuntungan pedagang.

5.2 Saluran Pemasaran

Saluran pemasaran merupakan bagian-bagian yang menyelenggarakan atau melaksanakan kegiatan serta fungsi dari pemasaran yang saling berkaitan, dengan maksud barang-barang bergerak mulai dari pihak produsen sampai ke pihak konsumen. Proses pemasaran rumput laut Eucheuma cottonii di Kecamatan Bantaeng dapat dilihat pada bagan berikut.

(48)

I II III IV

(I)

Gambar 4 Bagan saluran pemasaran rumput laut di Kecamatan Bantaeng Pada gambar 4 diatas dapat dilihat bahwa saluran pemasaran yang ada di Kecamatan Bantaeng terbagi menjadi 4, yaitu :

1. Produsen – Konsumen

2. Produsen – Pedagang Besar – Konsumen 3. Produsen – Pedagang Kecil – Konsumen

4. Produsen – Pedagang Kecil – Pedagang Besar – Konsumen

Berikut akan dijelaskan lebih dalam mengenai saluran-saluran pemasaran yang terbentuk berdasarkan alur pemasaran rumput laut Eucheuma cottonii di Kecamatan Bantaeng.

1. Saluran I (Produsen – Konsumen)

Saluran yang pertama terbentuk dimana produsen (petani rumput laut) langsung menjual rumput laut Eucheuma cottonii kering ke konsumen yaitu KIMA (Kawasan Industri Makassar). Produsen langsung didatangi konsumen

Produsen (Petani Rumput LautEucheuma Cottonii) Pedagang Besar Pedagang Kecil Konsumen (Mitra Perusahaan ) Ekspor Pedagang Besar Pedagang Kecil

(49)

dengan pedagang-pedagang rumput laut yang ada di Kecamatan Bantaeng. Jadi petani atau produsen bebas memasarkan rumput lautnya ke konsumen yang datang ke daerahnya.

2. Saluran II (Produsen – Pedagang Besar – Konsumen)

Saluran kedua terbentuk dimana produsen (petani) menjual hasil rumput laut baik masih basah atau sudah kering ke pedagang besar terlebih dahulu. Alasannya karena mereka sudah menjalin kerja sama ataupun jarak dari rumah mereka dekat sehingga dapat menekan biaya produksi. Kemudian dari Pedagang Besar itu dijual ke Konsumen yang mendatanginya yaitu KIMA (Kawasan Industri Makassar).

3. Saluran III (Produsen – Pedagang Kecil – Konsumen)

Saluran pemasaran ketiga terbentuk dimana produsen (petani) menjual hasil rumput lautnya terlebih dahulu ke pedagang kecil baik basah ataupun kering. Dari pedagang kecil tersebut kemudian menjual langsung ke konsumen Kemudian dari Pedagang Kecil itu dijual ke Konsumen yang mendatanginya yaitu KIMA (Kawasan Industri Makassar).

4. Saluran IV (Produsen – Pedagang Kecil – Pedagang Besar – Konsumen) Saluran pemasaran keempat terbentuk dimana produsen (petani) menjual hasil rumput lautnya terlebih dahulu ke pedagang kecil baik basah ataupun kering. Dari pedagang kecil tersebut kemudian menjual kembali ke Pedagang Besar, lalu pedagang besar menjual kembali ke konsumen yang mendatanginya yaitu Kawasan Industri Makassar (KIMA).

(50)

Berikut adalah presentase atau jumlah petani rumput laut Eucheuma cottonii di Kecamatan Bantaeng berdasarkan saluran pemasaran yang digunakan untuk mendistribusikan hasil rumput lautnya.

Tabel 6 Jumlah petani pada setiap saluran pemasaran di Kecamatan Bantaeng.

No Saluran Pemasaran Jumlah Petani Presentase (%)

1 Saluran I 1 5%

2 Saluran II 11 55%

3 Saluran III 7 35%

4 Saluran IV 1 5%

Jumlah 20 100%

(Sumber; Data primer setelah diolah. 2019)

Pada tabel 6 diatas dapat dilihat bahwa petani yang menggunakan saluran pemasaran I (Produsen – Konsumen) adalah berjumlah 1 orang (5%). Hal ini digunakan oleh petani rumput laut yang sudah lama (berpengalaman) dimana petani tersebut sudah memiliki langganan langsung di KIMA dan tidak terikat oleh pedagang-pedagang yang ada di daerahnya.

Saluran pemasaran II (Produsen – Pedagang Besar – Konsumen) merupakan saluran pemasaran yang paling banyak digunakan oleh petani dengan jumlah 11 orang (55%). Petani lebih banyak memilih saluran pemasaran ini dikarenakan biasanya harga beli yang ditawarkan pedagang terbilang tinggi serta alasan karena sudah menjadi langganan dan terikat karena dimodali oleh pedagang tersebut.

Saluran pemasaran III (Produsen – Pedagang Kecil – Konsumen) digunakan sebanyak 7 orang petani (35%). Saluran ini dipilih karena jarak antara petani dan pedagang terbilang dekat sehingga dapat menekan biaya produksi serta

(51)

alasan seperti sudah menjalin kerja sama yang cukup lama antara petani dan pedagang kecil.

Saluran pemasaran IV (Produsen – Pedagang Kecil – Pedagang Besar – Konsumen) digunakan sebanyak 1 orang petani (5%). Saluran ini dipilih karena jarak antara petani dan pedagang kecil terbilang dekat sehingga dapat menekan biaya produksi serta alasan seperti sudah menjalin kerja sama yang cukup lama antara petani dan pedagang kecil. Dan pedagang kecil menjual kembali rumput lautnya tersebut karena dimodali atau bekerja sama dengan Pedagang Besar yang ada di daerahnya. Lalu rumput laut di jual ke konsumen.

5.3 Margin Pemasaran

Margin pemasaran adalah selisih harga yang terjadi antara yang sesuatu barang atau jasa yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima produsen. Analisis dari margin pemasaran serta pembagian harga merupakan salah satu cara untuk mengetahui tingkat efisiensi suatu pemasaran. Adapun margin pemasaran pada setiap saluran pemasaran rumput laut di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng dapat dilihat pada tabel berikut ini.

(52)

Tabel 7 Margin pemasaran pada saluran pemasaran rumput laut Eucheuma cottoniidi Kecamatan Bantaeng

Saluran Pemasaran Harga Beli (Rp/Kg) Harga Jual (Rp/Kg) Margin (Rp/Kg) Saluran I a. Produsen - Rp. 14.000 Rp 7.000 b. Konsumen Rp.21.000 -Saluran II a. Produsen - Rp. 17.000 -b. Pedagang Besar Rp. 17.000 Rp. 21.000 Rp.4.000 c. Konsumen Rp.21.000 - -Saluran III a. Produsen - Rp.16.000 -b. Pedagang Kecil Rp.16.000 Rp.21.000 Rp.5.000 c. Konsumen Rp.21.000 - -Saluran IV a. Produsen - 16.000 -b. Pedagang Kecil 16.000 18.000 2.000 c. Pedagang Besar 18.000 21.000 3.000 d. Konsumen 21.000 -

-(Sumber; Data primer setelah diolah. 2019)

Pada tabel 7 diatas terlihat bahwa margin pemasaran tertinggi terdapat di saluran pemasaran I (Produsen –Konsumen) yaitu sebesar Rp 7.000 per kg. Dan margin terendah terdapat pada saluran pemasaran II (Produsen – Pedagang Besar – Konsumen) yaitu sebesar Rp.4000/kg.

Margin pemasaran didapatkan dari total perhitungan biaya yang dkeluarkan dengan keuntungan alur pemasaran yang ikut berperan dalam proses pemasaran. Proses berpindahnya barang atau produk dari produsen ke konsumen memerluarhan biaya, dengan adanya biasa maka harga suatu produk akan meningkat. Untuk mengetahui besarnya biaya, keuntungan serta margin pemasaran pada lembaga pemasaran terhadap keempat saluran yang digunakan

(53)

Tabel 8 Biaya dan keuntungan pemasaran rumput laut di Kecamatan Bantaeng Saluran Pemasaran Biaya Pemasaran (RP/Kg) Margin (Rp/Kg) Keuntungan (Rp/Kg) Farmer’s Share (%) Saluran I a. Produsen b. Konsumen 6.324 7.000 676 66,67 Saluran II a. Produsen b. Pedagang Besar c. Konsumen -1.897,7 -4.000 -2.102,3 -80,95 Saluran III a. Produsen b. Pedagang Pengumpul c. Konsumen -100 -5.000 -4.900 -76,19 Saluran IV a. Produsen b. Pedagang Kecil c. Pedagang Besar d. Konsumen -1.176 21.823,46 -2.000 3.000 -824 -18.823, -76,19

(Sumber;Data primer setelah diolah. 2019)

Pada tabel 8 diatas menunjukkan bahwa biaya pemasaran tiap saluran berbeda-beda, pada saluran I pemasaran memiliki margin Rp 7000 tiap kg nya dan keuntungan RP 676 tiap kg nya. Sedangkan saluran pemasaran II memiliki margin Rp 4.000 dan keuntungan Rp 2.102,3 per kg nya. Saluran pemasaran III memiliki margin Rp. 5.000 per kg nya dengan keutungan Rp. 4.900 per kg nya. Dan saluran pemasaran IV memiliki margin sebesar Rp 2.000 dan Rp 3.000 jadi total margin saluran IV sebesar Rp 5.000 per kg.

Margin pemasaran pada saluran keempat mengalami angka dalam keadaan minus yang berarti rugi jika membeli dalam jumlah kecil dari pedagang kecil dan mengeluarkan biaya yang bernilai besar. Namun pedagang besar tetap meraut

(54)

keuntungan karena memiliki banyak langganan.

Farmer’s share adalah bagian yang diterima petani atau produsen, semakin besar farmer’s share dan semakin kecil margin pemasaran maka dapat dikatakan suatu saluran pemasaran berjalan secara efisien. Saluran pemasaran I memiliki farmer share sebesar 66,67%, saluran pemasaran II sebesar 80,95% sedangkan saluran pemasaran III dan IV sebesar 76,19%.

Adapun acuan untuk mengukur seberapa besar efisiensi pemasaran adalah dengan cara menghitung farmer’s shareatau bagian yang diterima petani dengan kriteria apabila bagian yang diterima produsen kurang dari 50% berarti pemasaran belum efisien. Dan bila bagian yang diterima produsen lebih dari 50% maka pemasaran dikatakan efisien. Jadi dari keempat saluran pemasaran ini bias dikatakan sudah efisien, karena bagian yang diterima petani sudah mencapai lebih dari 50%. Hal ini membuat produsen atau petani mendapat bagian yang lebih besar dari harga yang diterima oleh konsumen. Dengan mendapatkan bagian yang besar ini, diharapkan produsen dapat mensejahterahkan dan mencukupi keluarganya.

5.4 Efisiensi

Efisiensi pemasaran adalah perbandingan antara biaya pemasaran dengan harga jual yang ada di tingkat konsumen yang dinyatakan dalam persen (%). Untuk dapat menentukan efisiensi pemasaran rumput laut di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng terlebih dahulu harus diketahui seberapa besar biaya yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran dalam memasarkan rumput laut dan

(55)

efesiensi pemasaran rumput laut di Kecamatan Bantaeng dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 9 Efisiensi Pemasaran Rumput Laut di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng No. Uraian Saluran I Saluran II Saluran III Saluran IV 1. Total Biaya (Rp/Kg) 6.324 1.897,7 100 22.999,46 2. Harga di Tingkat Konsumen 21.000 21.000 21.000 21.000 Efisiensi (%) 0,3 0,09 0,005 1,097

(Sumber;Data primer setelah diolah. 2019)

Menurut Soekartawi (2002), bahwa tingkat efisiensi pemasaran pada masing-masing saluran pemasaran dikatakan efisien jika efisiensi pemasaran kurang dari 50%, saluran pemasaran tersebut efisien. Dan jika efisiensi pemasaran lebh dari 50 %, saluran pemasaran tersebut tidak efisien.

Pada tabel 9 diatas menunjukkan bahwa saluran pemasaran rumput laut sama-sama efisien namun memiliki tingkat efisien yang bervariasi yaitu saluran pemasaran I dengan efesiensi sebesar 0,3%, Saluran pemasaran II memiliki nilai efisiensi yaitu sebesar 0,09%, Saluran pemasaran III yaitu dengan efesiensi 0,005% dan saluran pemasaran IV sebesar 1,097%. Namun saluran pemasaran yang paling efektif adalah saluran pemasaran III yaitu sebesar 1,005%. Dan yang kurang efektif adalah saluran pemasaran IV yaitu sebesar 1,097%.

5.5 Pembahasan Penelitian

1. Saluran Pemasaran

Pada prinsipnya pemasaran merupakan porses distribusi barang yang dimulai dari produsen hingga sampai ke tangan konsumen. Pemasaran merupakan

(56)

kegiatan yang pentng dalam siklus produksi barang/jasa. Produksi yang baik tidak akan maksimal ketika harga pasar rendah. Oleh karena itu, tingginya produksi tidak mutlak memberikan keuntungan yang tinggi tanpa disertai pemasaran yang baik.

Untuk memasarkan komoditas pertanian memerlukan keberadaan saluran atau lembaga pemasar yang dapat membantu menyalurkan barang hingga akhirnya sampai pada tangan konsumen. Keberadaan suatu lembaga pemasaran sangatlah penting,dengan adanya lembaga pemasaran, produsen dapat menjual hasil produksinya dan konsumen bisa mendapatkan kebutuhannya melalui pedagang perantara.

Terdapat 4 jenis saluran pemasaran yang terdapat di Kecamatan Bantaeng yaitu meliputi produsen (petani rumput laut), pedagang kecil (pengumpul) sebanyak 2 orang, pedagang besar sampai akhirnya ke tangan konsumen. Berikut adalah penjelasan masing-masing dari saluran pemasaran yang tersedia.

1. Saluran I

Saluran pemasaran ini dipilih oleh 1 orang dari 20 orang responden. Petani sebagai produsen langsung menjual rumput laut (Eucheuma cottonii) kering-nya ke konsumen Kawasan Industri Makassar yang mendatangi kecamatan Bantaeng.

2. Saluran II

Saluran pemasaran ini dipilih oleh 11 orang dari 20 responden petani di Kecamatan Bantaeng. Petani sebagai produsen rumput laut menjual melalui

(57)

pedagang besar didatangi oleh produsen dan kemudian rumput laut dijual kembali ke konsumen yang mendatanginya.

3. Saluran III

Saluran pemasaran ini dipilih oleh 7 orang dari 20 responden petani di Kecamatan Bantaeng. Produsen (petani) menjual rumput laut melalui pedagang kecil dengan mendatangi pedagang kecil dan disalurkan ke konsumen Kawasan Industri Makassar (KIMA).

4. Saluran IV

Saluran pemasaran ini dipilih oleh 1 orang dari 20 responden petani di Kecamatan Bantaeng. Produsen (petani) menjual rumput laut melalui pedagang kecil dengan mendatangi pedagang kecil, kemudian pedagang kecil menjual kembali ke pedagang besar, lalu pedagang besar menyalurkan ke konsumen Kawasan Industri Makassar (KIMA).

2. Margin Pemasaran

Margin pemasaran didapatkan dari total perhitungan biaya yang dkeluarkan dengan keuntungan alur pemasaran yang ikut berperan dalam proses pemasaran. Proses berpindahnya barang atau produk dari produsen ke konsumen memerluarhan biaya, dengan adanya biasa maka harga suatu produk akan meningkat.

3. Efisiensi Pemasaran

Efisiensi pemasaran adalah perbandingan antara biaya pemasaran dengan harga jual yang ada di tingkat konsumen yang dinyatakan dalam persen (%). Untuk dapat menentukan efisiensi pemasaran rumput laut di Kecamatan Bantaeng

(58)

Kabupaten Bantaeng terlebih dahulu harus diketahui seberapa besar biaya yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran dalam memasarkan rumput laut dan berapa harga ditingkat konsumen dari tiap saluran pemasaran.

(59)

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian yang telah diuraikan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

1. Pemasaran rumput laut Eucheuma cottonii di Kecamatan Bantaeng Kabupaten Bantaeng memiliki 4 saluran pemasaran yang umumnya digunakan oleh para petani responden, yaitu :

a) Saluran Pemasaran I (Produsen – Konsumen).

b) Saluran Pemasaran II (Produsen – Pedagang Besar - Konsumen). c) Saluran Pemasaran III (Produsen – Pedagang Kecil/Pengumpul –

Konsumen).

d) Saluran Pemasaran IV (Produsen – Pedagang Kecil/Pengumpul – Konsumen).

2. Margin pemasaran rumput laut Eucheuma Cottonii di Kecamatan Bantaeng yang tertinggi terdapat di saluran pemasaran I yaitu sebesar Rp 7.000 per kg. Dan margin terendah terdapat pada saluran pemasaran II yaitu sebesar Rp.4000/kg. Efesiensi pemasaran rumput laut Eucheuma Cottonii di Kecamatan Bantaeng yang paling efektif adalah saluran pemasaran III yaitu sebesar 1,005%. Dan yang kurang efektif adalah saluran pemasaran IV yaitu sebesar 1,097%. Adapunfarmer’s share yang terbesar terdapat pada saluran pemasaran II sebesar 80,95% sedangkan

farmer’s share yang terkecil terdapat pada saluran pemasaran I sebesar 66,67%.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :