Bab III Metode Penelitian, berisi uraian mengenai penentuan sampel, jenis data, sumber data, metode pengumpulan data, variabel penelitian dan definisi operasional serta metode analisis.
Bab IV Hasil dan Pembahasan, menjelaskan tentang deskripsi objek penelitian, analisis data dan pembahasan yang dilakukan sesuai dengan alat analisis yang digunakan.
Bab V Penutup, menjelaskan kesimpulan, keterbatasan penelitian dan saran yang diberikan untuk penelitian selanjutnya.
8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS
A. Telaah Teori
1. Teori Sinyal (Signalling Theory)
Signalling Theory menjelaskan tentang bagaimana sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada investor atau pengguna laporan keuangan.
Signaling theory menyatakan bahwa perusahaan yang berkualitas baik dengan sengaja akan memberikan sinyal pada pasar yang berupa informasi, dengan demikian pasar diharapkan dapat membedakan perusahaan yang berkualitas baik dan buruk. Brigham dan Houston (2014) menjelaskan bahwa signalling theory merupakan perilaku manajemen dalam memberikan informasi kepada investor atau calon investor terkait pandangan manajemen pada prospek perusahaan pada masa yang akan datang. Informasi yang dipublikasikan sebagai suatu pengumuman akan memberikan signal bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi. Saat informasi diumumkan, pelaku pasar terlebih dahulu menginterpretasikan dan menganalisis infor mas i tersebut sebagai sinyal baik (good news) atau sinyal buruk (bad news) Jogiyanto (2014). Salah satu jenis informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan yang dapat menjadi sinyal bagi pihak di luar perusahaan adalah laporan tahunan. Informasi yang diungkapkan dalam laporan tahunan dapat berupa informasi akuntansi yaitu informasi yang
9
berkaitan dengan laporan keuangan maupun informasi yang tidak berkaitan dengan laporan keuangan.
2. Return Saham
Saham adalah bukti kepemiilikan pada keuntungan dan aset dari suatu perusahaan. Secara sederhana, saham dapat didefinisikan sebagai surat berharga yang menjadi bukti penyertaan atau kepemilikan individ u maupun industri dalam suatu perusahaan.Legiman (2015) berpendapat bahwa return saham merupakan hasil yang diperoleh dari investas i.
Suatu asset financial menunjukkan kesediaan investor menyediaka n sejumlah dana pada saat ini untuk memperoleh sebuah aliran dana pada masa yang akan datang sebagai kompensasi atas faktor waktu selama dana ditanamkan dan risiko yang ditanggung. Dengan demikian para investor sedang mempertaruhkan suatu nilai sekarang untuk sebuah nilai yang diharapkan pada masa mendatang. Dalam konteks manajemen investasi, return atau tingkat keuntungan merupakan imbalan yang diperoleh dari investasi.
3. Faktor yang mempengaruhi return saham
Menurut Samsul (2006), faktor-faktor yang mempengaruhi return saham terdiri atas faktor makro dan faktor mikro.
a. Faktor makro yaitu faktor yang berada di luar perusahaan, yaitu:
1) Faktor makro ekonomi yang meliputi tingkat bunga umum domestik, tingkat inflasi, kurs valuta asing dan kondisi ekonomi internasional.
10
2) Faktor non ekonomi yang meliputi peristiwa politik dalam negeri, peristiwa politik di luar negeri, peperangan, demonstrasi massa dan kasus lingkungan hidup.
b. Faktor mikro yaitu faktor yang berada di dalam perusahaan itu sendiri, yaitu:
1. Laba bersih per saham 2. Nilai buku per saham
3. Rasio utang terhadap ekuitas 4. Dan rasio keuangan lainnya.
4. Rasio Keuangan
Rasio keuangan digunakan untuk membandingkan risiko dan tingkat imbal hasil dari berbagai perusahaan untuk membantu investor dan kreditor membuat keputusan investasi dan kredit yang baik. Ada beberapa kategori rasio yang digunakan untuk mengukur berbagai aspek dari hubungan risiko dan return White (2002), yaitu sebagai berikut.
a) Analisis likuiditas: mengukur kecukupan sumber kas perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang berkaitan dengan kas dalam jangkapendek.
b) Analisis solvency dan long term debt (leverage): menelaah struktur modal perusahaan, termasuk sumber dana jangka panjang dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban investasi dan hutang jangkapanjang.
11
c) Analisis aktivitas: mengevaluasi revenue dan output yang dihasilkan oleh aset perusahaan.
d) Analisis profitabilitas: mengukur earnings (laba) perusahaan relative terhadap revenue (sales) dan modal yang diinvestasika n.
5. Jenis-Jenis Rasio Keuangan a. Rasio Likuiditas
Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangan jangka pendeknya, current ratio merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat likuid itas perusahaan. Rasio ini menunjukkan kesanggupan perusahaan dalam membayar utang jangka pendek. Konsep modal kerja atau operasi ini didasarkan atas klasifikasi aset dan kewajiban perusahaan dalam bentuk kategori lancar dan tidak lancar.
b. Rasio Aktivitas
Aktivitas operasi perusahaan membutuhkan investasi, baik untuk aset yang bersifat jangka pendek maupun jangka panjang. Rasio aktivitas menggambarkan hubungan antara tingkat operasi perusahaan dengan aset yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan operasi perusahaan tersebut. Rasio aktivitas juga dapat digunakan untuk memprediksi modal yang dibutuhkan perusahaan. Misalnya untuk meningkatkan penjualan akan membutuhkan tambahan aset.
Rasio aktivitas memungkinkan para analis menduga kebutuhan ini
12
serta menilai kemampuan perusahaan untuk mendapatkan aset yang dibutuhkan untuk mempertahankan tingkat pertumbuhannya.
c. Rasio Leverage
Leverage adalah kemampuan perusahaan dalam menggunaka n aktiva dan atau dana yang mempunyai beban tetap dalam rangka mewujudkan tujuan perusahaan untuk memaksimisasi kekayaan pemilik perusahaan. Semakin tinggi proporsi hutang relatif terhadap ekuitas meningkatkan risiko perusahaan. Faktor industri dan ekonomi sangat mempengaruhi, baik tingkat hutang maupun sifat hutangMisalnya industri dengan modal yang intensif cenderung untuk menggunakan tingkat hutang yang tinggi untuk mendanai hutang jangka panjang. Hutang digunakan untuk mendanai kegiatan semacam itu harus bersifat jangka panjang agar sesuai dengan jangka waktu aset yang diperoleh.
d. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas adalah rasio yang menunjukkan besarnya laba yang diperoleh sebuah perusahaan dalam periode tertentu. Rasio ini digunakan untuk menilai seberapa efisien pengelola perusahaan dapat mencari keuntungan atau laba untuk setiap penjualan yang dilakukan. Investor di pasar modal sangat memperhat ika n kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba.
13
6. Kebijakan deviden
Martono dan Harjito (2013) menyatakan bahwa kebijakan dividen merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan keputusan pendanaan perusahaan. Kebijakan dividen (dividend policy) merupakan keputusan yang diambil perusahaan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang. Hanya perusahaan yang memiliki tingkat kemampuan laba yang tinggi dan prospek ke depan cerah, mampu untuk membagikan dividen. Banyak perusahaan yang selalu mengkomunikasikan bahwa perusahaannya mampu membayar dividen.
7. Teori Kebijakan deviden
Brigham dan Houston (2014) menyatakan bahwa ada beberapa teori kebijakan dividen antara lain,
a) Teori dividen tidak relevan dari Modigliani dan Miller, (1991) berpendapat bahwa kebijakan deviden tidak mempunyai pengaruh terhadap harga saham perusahaan. Nilai perusahaan hanya di tentukan oleh kemampuan menghasilkan laba, bukan pada pembagian laba perusahaan untuk deviden atau sebagai laba di tahan.
b) Teori the bird in the hand, Gordon dan Lintner, (1963) berpendapat bahwa, biaya modal sendiri perusahaan akan naik jika dividen
14
payout ratio rendah karena investor lebih suka menerima dividen dibanding capital gain.
c) Teori perbedaan pajak, teori ini diajukan oleh Litzenberger dan Ramaswamy. Karena adanya pajak terhadap dividen dan capital gain, para investor lebih menyukai capital gain karena dapat menunda pembayaran pajak.
d) Teori signaling hypothesis, Teori ini menjelaskan bahwa infor mas i tentang deviden yang dibayarkan dianggap investor sebagai sinyal prospek perusahaan dimasa depan. Apabila terjadi peningkata n dividen akan dianggap sebagai sinyal positif yang berarti perusahaan mempunyai prospek yang baik, sehingga menimbulka n reaksi harga saham yang positif.
e) Teori clientele effect, Kelompok (Clientele) pemegang saham yang berbeda akan memiliki preferensi yang berbeda terhadap kebijakan dividen perusahaan. Kelompok pemegang saham yang membutuhkan penghasilan pada saat ini lebih menyukai suatu dividend payout ratio yang tinggi. Jika ada perbedaan pajak bagi individu dapat menunda pembayaran pajak.
B. Telaah Penelitian Sebelumnya
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Tahun Variabel yang diteliti Peneliti Alat Analisis Hasil
1. 2016 Financial Ratio, Stock Return, Multiple
DER, Current Ratio berpengaruh signifikan terhadap return saham, sedangkan ROA, TATO dan PER tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham.
2. 2017 Financial signifikan terhadap return sham, sedangkan TATO berpengaruh signifikan terhadap return saham. Hasil analisis regresi moderasi menunjukkan bahwa kebijakan deviden tidak memoderasi pengaruh kinerja keuangan terhadap return saham.
3. 2017 Current Ratio, Debt secara bersama-sama berpengaruh terhadap return saham. Hasil pengujian secara parsial menunjukka n current ratio, dan total asset turnover tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap return saham. Sedangkan variabel debt to equity ratio, return on equity dan earning per share menunjukka n pengaruh signifikan terhadap return saham.
16
No Tahun Variabel yang diteliti Peneliti Alat Analisis Hasil
4. 2017 Debt to equity ratio, earning per share, return on asset , total asset turn over, return
Debt to Equity Ratio, Earning Per Share, Return on Asset, dan TATO berpengaruh positif signif ika n terhadap return saham, sedangkan current ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham.
5. 2014 CR, TATO, DER,
Current ratio tidak mempunyai pengaruh terhadap return saham, TATO berpengaruh terhadap return saham, DER tidak berpengaruh terhadap return saham, ROA berpengaruh terhadap return saham, dan Earning per Share tidak berpengaruh terhadap return saham.
Current Ratio, Debt to Equity Ratio, Return on Asset, dan TATO merupakan variabel penjelas dari return saham. Hasil pengujian hipotesis menunjukka n bahwa ROA berpengaruh positif signifikan terhadap return saham, sedangkan Current Ratio, Debt to
Hasil pengujian tingkat signifikan (uji t) menunj uka n hanya ROA dan PER yang berpengaruh signif ika n terhadap return saham. Adapun yang lainnya CR, DER, dan TATO tidak mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap return saham.
C. Perumusan Hipotesis
1. Pengaruh current ratio (CR) terhadap return saham
Current ratio digunakan sebagai alat untuk mengukur keadaan likuiditas suatu perusahaan. Current ratio yang rendah menunjukka n terjadinya masalah dalam likuiditas dan dapat diartikan sebagai indikator ketidakmampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Current ratio yang tinggi berarti bahwa likuid itas menunjukkan bahwa perusahaan mampu mengelola money to creat money, yang pada akhirnya dapat mengurangi kemampuan perusahaan.
Farda (2016) menyatakan bahwa current ratio (CR) berpengaruh terhadap return saham, maka dibuat hipotesis sebagai berikut:
H1 : Current ratio berpengaruh terhadap return saham.
2. Pengaruh return on assets (ROA) terhadap return saham
Semakin meningkat ROA akan meningkatkan return saham.
Perusahaan dengan ROA yang besar akan menarik minat para investor untuk menanamkandananya ke dalam perusahaan. Hal ini disebabkan karena, ROA yang besar menunjukkan kinerja semakin baik yaitu ROA yang besar, harga saham juga besar, return saham juga semakin besar. Wahid (2014) menunjukkan bahwa ROA berpengaruh terhadap return saham., maka dibuat hipotesis sebagai berikut :
H2 : Return on assets berpengaruh terhadap return saham.
18
3. Pengaruh dept to equity ratio (DER) terhadap return saham
Dari pandangan para investor, semakin tinggi DER menunjukka n semakinbesar ketergantungan perusahaan terhadap pihak luar sehingga tingkat risiko perusahaan semakin besar dalam memenuhi kewajiban hutangnya, yaitumembayar harga pokok hutang ditambah dengan bunganya. Hal ini membawa dampak pada menurunnya harga saham, return saham akan menurun sehingga investor tidak responsif terhadap informasi ini dalam pengambilan keputusan investasi pada saham yang mungkin dikarenakan krisis keuangan global. Arifah (2017) yang menyatakan DER berpengaruh terhadap return saham, maka dibuat hipotesis sebagai berikut :
H3 : Debt to equity ratio (DER) berpengaruh terhadap return saham.
4. Pengaruh total assets turnover (TATO) terhadap return saham TATO merupakan salah satu ukuran yang digunakan untuk menila i efisiensi manajemen dalam menjalankan perusahaan. TATO yang tinggi mengindikasikan bahwa manajemen perusahaan dapat mengoptima lka n seluruh aktiva yang dimilikinya untuk mendatangkan revenue bagi perusahaan dan hal ini dianggap dapat meningkatkan keuntunga n perusahaan. TATO yang tinggi berpotensi menarik investor untuk terus berinvestasi di perusahaan. Penelitian Devi (2017) menunjukkan bahwa TATO berpengaruh terhadap return saham, sehingga hubungan total assets turnover terhadap return saham dapat dihipotesiskan sebagai berikut :
19
H4 : Total assets turnover berpengaruh terhadap return saham.
5. Pengaruh kebijakan deviden mampu memoderasi current ratio terhadap return saham
Penelitian ini menjadikan kebijakan dividen sebagai variabel moderasi untuk mengetahui apakah kebijakan dividen ini akan memperkuat atau memperlemah pengaruh current ratio terhadap return saham. Kebijakan dividendijadikan sebagai dasar pertimbangan investor untuk berinvestasi. Melalui besarnya dividen yang akan dibagikan akan berkaitan dengan besarnya return saham yang akan diterima oleh pemegang saham. Manajemen akan mengambil kebijakan dividen berdasarkan besar atau rendahnya laba yang diperoleh perusahaan.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka hipotesis penelitian ini sebagai berikut :
H5 : Kebijakan deviden mampu memoderasi pengaruh current ratio terhadap return saham.
6. Pengaruh kebijakan deviden mampu memoderasi return on assets terhadap return saham
Penelitian ini menjadikan kebijakan dividen sebagai variabel moderasi untuk mengetahui apakah kebijakan dividen ini akanmemperkuat atau memperlemah pengaruh return on assets terhadap return saham.
Kebijakan dividendijadikan sebagai dasar pertimbangan investor untuk berinvestasi. Melalui besarnya dividen yang akan dibagikan akan berkaitan dengan besarnya return saham yang akan diterima oleh pemegang saham. Manajemen akan mengambil kebijakan dividen
20
berdasarkan besar atau rendahnya laba yang diperoleh perusahaan.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka hipotesis penelitian ini sebagai berikut :
H6 : Kebijakan deviden mampu memoderasi pengaruh return on assets terhadap return saham.
7. Pengaruh kebijakan deviden mampu memoderasi dept to equity ratio terhadap return saham
Penelitian ini menjadikan kebijakan dividen sebagai variabel moderasi untuk mengetahui apakah kebijakan dividen ini akan memperkuat atau memperlemah pengaruh debt to equity ratio terhadap return saham.
Kebijakan dividendijadikan sebagai dasar pertimbangan investor untuk berinvestasi. Melalui besarnya dividen yang akan dibagikan akan berkaitan dengan besarnya return saham yang akan diterima oleh pemegang saham. Manajemen akan mengambil kebijakan dividen berdasarkan besar atau rendahnya laba yang diperoleh perusahaan.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka hipotesis penelitian ini sebagai berikut :
H7 : Kebijakan deviden mampu memoderasi pengaruh debt to equity ratio terhadap return saham.
8. Pengaruh kebijakan deviden mampu memoderasi total assets turnover terhadap return saham
Penelitian ini menjadikan kebijakan dividen sebagai variabel moderasi untuk mengetahui apakah kebijakan dividen ini akan memperkuat atau memperlemah pengaruh total assets turnover terhadap return saham.
21
Kebijakan dividendijadikan sebagai dasar pertimbangan investor untuk berinvestasi. Melalui besarnya dividen yang akan dibagikan akan berkaitan dengan besarnya return saham yang akan diterima oleh pemegang saham. Manajemen akan mengambil kebijakan dividen berdasarkan besar atau rendahnya laba yang diperoleh perusahaan.
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka hipotesis penelitian ini sebagai berikut :
H8 : Kebijakan deviden mampu memoderasi pengaruh total assets turnover terhadap return saham.
D. Model Penelitian
Dalam berbagai penelitian terdapat beberapa variabel yang dapat di gunakan untuk menganalisis return saham antara lain: kebijakan hutang, kinerja keuangan, kebijakan deviden, rasio keuangan, kebijakan deviden, ukuran perusahaan, pengaruh inflasi, nilai tukar. Dalam penelitian ini di gunakan variabel rasio keuangan. Ada beberapa kategori rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur berbagai aspek dari hubungan risiko dan return yaiturasio likuiditas, leverage, aktivitas, profitabilitas, dan menambahkan kebijakan deviden sebagai variabel moderasi untuk mengetahui apakah kebijakan deviden dapat memperlemah atau memperkuat hubungan antara variabel rasio keuangan dengan return saham, maka dapat di gambarkan kerangka berpikir sebagai berikut :
22
Gambar 2.1 Model Penelitian Sumber: model penelitian, 2018
current ratio
dept to equity ratio
Return saham Saham return on assets
Total assets turnover
kebijakan deviden
H1
H2
H3
H4
H5 H6 H7 H8
23
23 BAB III
METODA PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Berdasar jenis data dan analisis yang digunakan, penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif karena mengacu pada perhitunga n data berupa angka. Penelitian ini bersifat asosiatif kausal, yaitu penelit ia n yang mencari pengaruh hubungan sebab akibat kausal karena bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas independen terhadap variabel terikat dependen Sugiyono (2012). Penelitian ini bertujuan untuk menguj i seberapa jauh pengaruh variabel independen, yaitu Likuiditas (CR), Leverage (DER), Provitabilitas (ROA) dan Aktivitas (TATO) terhadap variabel dependen, yaitu Return Saham dengan Kebijakan deviden (DPR) sebagai variabel moderasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diambil dari laporan keuangan perusahaan sampel dan telah diaudit. Populasi yang ada dalam penelitian ini adalah perusahaan yang termasuk dalam kelompok perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang diperoleh dari website http://www.idx.co.id dan berbagai sumber media lainnya.
B. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Menurut Sugiyono (2012) populasi adalah wilayah generalisasi terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
24
ditarik kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 83 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2014-2017.
2. Sampel
Perusahaan yang dijadikan sampel adalah perusahaan-perusa haa n manufaktur yang masuk dalam Bursa Efek Indonesia.Tek nik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan tehnik purposive sampling. Purposive sampling merupakan teknik penentuan sampel dengan berbagai pertimbangan dan kriteria tertentu sesuai tujuan penelitian. Kriteria sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2014-2017.
b. Perusahaan mempunyai data harga saham (closing price) pada saat laporan keuangan di publikasikan pada tahun 2014-2017.
c. Perusahaan menyampaikan return saham secara continue.
d. Perusahaan memberikan deviden secara kontinue selama periode pengamatan 31 Desember 2014 sampai dengan 31 Desember 2017.
C. Variabel Penelitian dan Pengukuran Variabel
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini ada tigs, yaitu variabel independen, variabel dependen dan variabel moderasi.Variabe l independen/penjelas yang digunakan adalah rasio likuiditas diproksikan dengan current ratio. Rasio leverage diproksikan dengan debt to equity ratio. Sementara itu rasio aktivitas diproksikan dengan total asset turn over, sedangkan rasio profitabilitas diproksikan dengan return on asset.
25
Tabel. 3.1
Definisi Operasional Variabel No Jenis
(merupakan hasil yang diperoleh dari investasi.)
πππ‘π’ππ π πβππ
6 ROA(X4) Profitabiltas
(Rasio ini digunakan untuk menilai seberapa efisien pengelola perusahaan dapat mencari keuntungan atau laba untuk setiap penjualan yang dilakukan.)
π ππ΄
= ππΌπ΄π
πππ‘ππ π΄π π ππ‘π₯ 100%
26
D. Metoda Analisis Data 1. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk mengana l isa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpula n yang berlaku untuk umum atau generalisasi Sugiyono (2012). Statistik deskriptif dapat digunakan bila peneliti hanya ingin mendeskrips ika n data sampel.
2. Uji Asumsi Klasik
Digunakan untuk menguji apakah model regresi benar-benar menunjukkan hubungan yang signifikan dan representatif dengan metode estimasi Ordinary Least Squares (OLS). Metode analisis yang diterapkan dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda. Secara teoritis model regresi yang digunakan dalam penelitian akan menghasilkan nilai parameter model penduga yang akurat bila dipenuhi asumsi klasik. Menurut Ghozali (2013) yang dilakukan dalam melaksanakan uji asumsi klasik yaitu:
1) Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah model regresi, variabel pengganggu atau residu memiliki distribusi normal Ghozali (2013). Seperti yang diketahui bahwa uji t dan uji f mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribus i normal. Untuk mendeteksi apakah variabel residual berdistrib us i
27
normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik dan analis is statistik Ghozali (2013). Uji normalitas yang banyak digunakan adalah uji Jarque β Bera (JB). Uji Jarque Bera adalah untuk uji normalitas dengan sampel besar (asymptotic). Dengan mempertimbangkan nilai Sig. dengan Ξ± = 0.05 Ghozali, (2013).
2) Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 atau periode sebelumnya Ghozali (2013). Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Menurut Ghozali cara mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi dapat dilakukan dengan uji Durbin Watson (D-W test). Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi:
Tabel 3.2
Durbin Watson d test : Pengambilan Keputusan
Hipotesis Nol Keputusan Jika Tidak ada autokorelasi positif
Tidak ada autokorelasi positif Tidak ada autokorelasi negatif Tidak ada autokorelasi negatif Tidak ada autokorelasi positif atau negatif
28
3) Uji Heteroskedastisitas
Uji Heterokesdatisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu observasi ke observasi yang lain. Dalam penelitian ini untuk menguji heterokesdatisitas dari masing- masing persamaan digunakan Uji Breusch-Pagan-Godfrey yang dilakukan dengan meregresikan variabel-variabel bebas terhadap nilai absolut residualnya Ghozali (2013). Kriteria yag digunakan untuk menyatakan apakah terjadi heterokedastisitas atau tidak dapat dijelaskan dengan menggunakan koefisien signifikansi dengan ketentuan jika koefisien korelasi semua variabel terhadap residualnya > 0.05.
4) Uji Multikolinearitas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas atau tidak. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikoloniaritas didalam model regresi dapat diketahui dari nilai toleransi dan lawannya nilai variance inflation factor (VIF). Model regresi yang bebas multikoinearitas adalah mempunyai nilai tolerance diatas 0,1 atau VIF dibawah 10. Ada beberapa cara untuk mengatasi permasalahan multikolinear itas yaitu Ghozali (2013):
29
a. Mengeluarkan salah satu variabel bebasnya / independen yang tidak signifikan dari model penelitian.
b. Mengubah variabel yaitu dengan melakukan suatu pembedaan, membuat rasio, atau dengan mengubah bentuk dari X menjadi 1/X atau π2 dan lain-lain.
c. Menambah atau mengurangi data.
c. Menambah atau mengurangi data.