Analisis Risiko Pasca panen
Petani perkebunan kelapa sawit di Desa Tanah Datar dalam menjalankan kegiatannya, mengalami beberapa risiko. Salah satunya adalah risiko dalam penanganan pasca panen TBS dari proses pemanenan hingga berada di tempat pengolahan akhir (pabrik). Kegiatan pasca panen kelapa sawit merupakan salah satu kegiatan yang sangat mempengaruhi keadaan atau kondisi produksi TBS. Pada penanganan panen tanaman kelapa sawit memiliki beberapa tahap yang dilalui hingga sampai ke tempat pengolahan akhir TBS (Pabrik). Dari semua tahap yang dilalui, terdapat beberapa tempat atau rantai yang menimbulkan kehilangan (loss post-harvest) dari produksi TBS yang berbentuk brondolan maupun TBS mentah yang terpanen.
Kehilangan hasil produksi pada proses pasca panen kelapa sawit akan mempengaruhi jumlah produksi tandan buah segar (TBS) yang kurang optimal sehingga berbanding lurus dengan kurang optimalnya pendapatan petani. Pada penelitian ini akan dibahas apa saja yang menjadi sumber terjadinya risiko pasca panen yaitu kehilangan hasil produksi TBS di setiap tempat (post) proses pemanenan sampai ke pabrik (pengolahan TBS) dan menggambarkan sebaran kehilangan produksi di setiap rantainya.
Proses pasca panen tandan buah segar kelapa sawit di Desa Tanah Datar adalah melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah tahap pemanenan buah kelapa sawit yang berbentuk tandan buah segar (TBS). Pemanenan tersebut dilakukan oleh pemanen kelapa sawit maupun petani itu sendiri. Tahap kedua adalah pengangkutan TBS yang telah jatuh di area lingkaran pohon atau disekitar lahan sawit menuju ke tempat pengumpul hasil (TPH) dengan menggunakan alat sorongan atau angkong. Tahap ketiga adalah proses pengecekan TBS yang telah dipanen sebelum disusun ke TPH. Biasanya pada tahap ini akan terlihat TBS mentah yang terpanen oleh pemanen kelapa sawit. Tahap keempat adalah proses penimbangan, dimana TBS yang telah disusun di TPH akan ditimbang dan diangkut menuju mobil angkutan sawit atau truck. Tahap kelima, TBS yang berada di truck kemudian dibawa ke tempat pengolahan atau pabrik kelapa sawit (PKS). Tahap keenam atau tahap terakhir adalah TBS yang dibawa ke pabrik akan diseleksi di tempat sortasi. Proses sortasi ini dilakukan oleh karyawan pabrik yang bertugas menyeleksi TBS sehingga akan diperoleh TBS bersih yang didapat oleh petani. Berdasarkan uraian tahap tersebut diperoleh bahwa tempat yang dilalui TBS di Desa Tanah Datar pasca pemanenan adalah lahan sawit (piringan), tempat pengumpul hasil (TPH), transpotrasi (mobil angkutan/truck) dan pabrik (sortasi pabrik).
Kehilangan hasil produksi yang terjadi di mobil angkutan TBS atau truck,
berdasarkan pengamatan dan wawancara terhadap sopir mobil truck di Desa Tanah Datar diperoleh kehilangan produksi yang terjadi relatif sangat kecil dan bisa dianggap nol (tidak ada). Kapasitas rata-rata TBS yang diangkut oleh truck
adalah 7 sampai 8 ton dan hanya terdapat maksimal 10 butir buah kelapa sawit (brondolan) yang tertinggal di bak truck, bahkan ada truck yang brondolan nya tidak tertinggal sama sekali. Maka berdasarkan pengamatan tersebut, kehilangan (losses) pada transportasi TBS di Desa Tanah Datar dianggap tidak ada.
Berdasarkan pengamatan di lapang, loss post-harvest TBS kelapa sawit di Desa Tanah Datar terdapat di lahan, TPH (pengecekan TBS mentah dan brondolan tertinggal) dan sortasi pabrik. Dari ketiga tempat tersebut terdapat beberapa sumber risiko yang mengakibatkan hilangnya hasil produksi tandan buah segar (TBS).
Kehilangan Hasil Produksi di Lahan
Pada proses pemanenan kelapa sawit, hal utama yang harus dipersiapkan oleh seorang pemanen adalah peralatan panen sesuai dengan kriteria pohon kelapa sawit. Tanaman kelapa sawit di Desa Tanah Datar sendiri sudah berumur 23/24 tahun (>20 tahun) sehingga alat untuk memanen buah berupa egrek (alat panen berbentuk parang sabit dengan tangkai yang panjang) yang tinggi bambunya disesuaikan dengan tinggi tanaman. Selain menyiapkan alat-alat pemanenan, hal terpenting berikutnya adalah dengan menentukan rotasi panen dari tanaman kelapa sawit tersebut. Pada umumnya di perusahaan perkebunan kelapa sawit terdapat suatu data taksiran (taksasi) dan data lain mengenai keadaan tanaman kelapa sawit di lapang sehingga dapat ditentukan sebaran perkiraan panen setiap blok yang akan dipanen (rotasi panen). Rotasi panen sendiri berguna dalam menentukan (dalam bentuk taksiran/ramalan) seberapa banyak jumlah TBS yang akan dipanen di setiap kapling atau blok. Kegunaan rotasi panen lainnya adalah sebagai target banyaknya TBS yang akan di panen.
Petani perkebunan kelapa sawit di Desa Tanah Datar pada umumnya memanen buah kelapa sawit dengan menggunakan alat yang biasa digunakan oleh pemanen secara umum yaitu egrek karena tanaman kelapa sawit di Desa Tanah Datar sudah cukup tinggi. Salah satu yang membedakan proses pemanenan di Desa Tanah Datar adalah pemanen tidak menggunakan prinsip rotasi panen. pemanen memilih buah yang dipanen berdasarkan pengamatan dan feeling
(kebiasaan). Pengamatan disini berarti bahwa setiap pemanen melakukan pemanenan dengan pengamatan langsung di lapang ketika panen, tanpa adanya perhitungan atau taksasi terlebih dahulu. Maka hasil panen bisa maksimal jika si pemanen mampu melihat buah matang secara maksimal. Sebaliknya, jika pemanen kurang maksimal dalam penglihatan buah matang maka akan menimbulkan losses yaitu TBS matang tertinggal di pohon. Akibatnya, buah yang seharusnya dipanen tidak dipanen oleh pemanen dan akan dipanen pada periode panen berikutnya sehingga buah kelapa sawit akan membrondol. Selain buah matang yang tertinggal dipohon, hilangnya hasil panen TBS disebabkan oleh buah mentah yang terpanen oleh pemanen. Padahal buah tersebut seharusnya dipanen pada periode panen berikutnya. TBS mentah ini akan terdeteksi oleh petugas yang akan menimbang hasil produksi ketika TBS berada ditempat pengumpul hasil (TPH).
Berdasarkan observasi langsung di lapang dan wawancara kepada petani di Desa Tanah Datar, diketahui bahwa kehilangan produksi TBS yang terjadi di lahan kelapa sawit adalah berbentuk brondolan yang terlepas dari janjang (tandan sawit) dan TBS mentah yang terpanen oleh pemanen. Sumber hilangnya brondolan TBS yang ada di area lahan petani disebabkan oleh beberapa sumber, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Waktu panen
TBS yang matang ditandai dengan membrondolnya buah sawit sebanyak 2 butir per kilogram TBS (Pahan 2006) jika tidak dipanen maka akan meningkatkan persentasi brondol sampai TBS berbentuk janjang kosong dan menjadi kehilangan hasil produksi TBS (losses).
Siklus panen kelapa sawit di Desa Tanah Datar dilakukan dua kali selama satu bulan. Selang waktu panen pertama ke panen berikutnya adalah selama 14 hari, namun terkadang tidak untuk kondisi penghujan atau pada masa panen puncak. Pada umumnya selang waktu panen pertama ke panen berikutnya bisa lebih dari 14 hari bahkan ada yang kurang dari 14 hari.
Kejadian panen yang lebih dari 14 hari disebabkan karena jalanan rusak / becek akibat air hujan yang menggenangi jalan sehingga TBS yang akan dipanen sulit untuk dibawa keluar dari lahan perkebunan dan kegiatan panen terganggu. Alhasil buah matang yang tidak dipanen akan meningkatkan persentasi brondolan buah kelapa sawit. Selain itu, pada musim panen puncak TBS matang yang berada dipohon sudah terlalu banyak sehingga waktu pelaksanaan panen dipercepat dari waktu panen sebelumnya.
2. Teknik pemanenan dan SDM panen
Salah satu sumber membrondolnya buah kelapa sawit dari TBS diakibatkan dari teknik pemanenan. Petani perkebunan kelapa sawit memiliki pemanen yang berbeda-beda. Ada pemanen yang disepakati oleh kelompok taninya maupun pemanen yang disewa secara pribadi (individu)
oleh masing-masing petani. Dari pemanen yang ada, tidak semua yang memiliki skill atau kemampuan panen yang sama. Apalagi panen TBS di Desa Tanah Datar tidak memakai sistem rotasi panen (peramalan panen) dimana, pemanen memanen TBS dengan penglihatan secara langsung di lapang sehingga kemampuan dan teknik panen sangat mempengaruhi kondisi dan bentuk TBS yang berhasil dipanen. Contohnya seperti memotong TBS yang berada di antara pelepah (TBS terhimpit oleh 2 pelepah), jika pemanen tidak memiliki teknik potong yang baik, tangkai janjang buah akan tidak terpotong dengan sempurna sehingga berakibat pada brondolan buah kelapa sawit yang berserakan (terlepas) ketika TBS jatuh ke tanah.
Buah TBS mentah yang terpanen juga diakibatkan oleh ketelitian dan pengetahuan pemanen dalam menentukan TBS apakah sudah bisa dipanen atau belum. Apalagi tanaman kelapa sawit di Desa Tanah Datar berumur lebih dari 20 tahun dimana tinggi pohon sudah mencapai 8 meter lebih (> 8 meter) sehingga dibutuhkan pengamatan yang baik dalam proses pemanenannya. Selain itu sinar matahari yang mengenai buah kelapa sawit akan menyebabkan buah terlihat sangat kilat dan berwarna kemerah- merahan, sehingga jika pemanen tidak mampu mengetahui karakteristik buah yang matang akan menyebabkan TBS mentah tersebut terpanen. Kerugian akibat memotong buah mentah yaitu kehilangan sebahagian potensi produksi minyak kelapa sawit (MKS), menggangu pelestarian produksi, dan melukai pokok sehingga mengalami stress (Pahan 2008).
Kejadian lain yang sering dilakukan oleh pemanen di Desa Tanah Datar adalah buah matang yang tidak terpanen akibat pemanen kurang teliti dalam melihat TBS yang akan dipanen. Buah matang yang tidak terpanen tersebut akan membrondol sampai masuk ke waktu panen berikutnya dan menjadi kehilangan (losses) hasil produksi TBS.
3. Kebersihan piringan disekitar pohon dan area lahan
Tanaman perkebunan merupakan salah satu tanaman hutan dimana sekeliling tanaman terdapat beberapa tanaman liar yang mudah tumbuh dan berkembang secara cepat. Tanaman gulma yang sering menyerang tanaman kelapa sawit adalah gulma ilalang. Ilalang sendiri adalah gulma yang sangat berbahaya dan mutlak harus dikendalikan. Perkembangan gulma ilalang sangat cepat karena proses perkembangbiakannya dengan bunga dan
rhizoma (akar-akaran). Selain itu gulma ilalang menyerap unsur hara yang disimpan dalam rhizome sehingga merugikan bagi tanaman kelapa sawit sendiri. Untuk itu, setiap pohon tanaman kelapa sawit dibuat piringan pohon yang berbentuk lingkaran di sekitar area pohon kelapa sawit. piringan tersebut berukuran jari-jari 2 meter untuk tanaman belum menghasilkan (TBM) dan berjari-jari 2,5 meter untuk tanaman menghasilkan (TM). Fungsi dari piringan tersebut adalah sebagai pengendalian rumput dan gulma ilalang, memudahkan kontrol dan penyebaran pupuk serta daerah tempat jatuhnya buah dan brondolan.
Piringan tersebut harus dibersihkan secara rutin terutama rumput dan ilalang yang berada diarea piringan. selain memudahkan untuk penyebaran pemupukan, piringan yang bersih akan memudahkan pengutipan brondolan yang jatuh. Jika piringan tersebut tidak dirawat dan banyak terdapat
tanaman liar (gulma) maka akan mengganggu petani dalam pengutipan brondolan yang berserakan, bahkan brondolan tidak terlihat sama sekali akibat tertutup oleh rumput. Hal tersebut akan merugikan bagi petani karena brondolan yang hilang akan menjadi kehilangan (losses) hasil produksi buah kelapa sawit.
Kehilangan Hasil Produksi di Tempat Pengumpul Hasil (TPH)
Setelah proses panen TBS, pemanen akan membawa TBS yang berhasil diturunkan dari pohon dengan menggunakan angkong atau sorongan menuju ke tempat pengumpul hasil (TPH) dan disusun secara berbaris di area TPH agar mempermudah dalam perhitungan buah. TPH merupakan tempat pengumpulan seluruh TBS yang telah dipanen sebelum diangkut oleh truck/dump truck menuju ke pabrik kelapa sawit (PKS). TPH tersebut berada dipinggir lahan sawit atau lebih tepatnya berada disamping jalan pasar (utama) agar memudahkan untuk proses pengangkutan buah ke dalam truck/dump truck. Bentuk dan ukuran TPH berupa persegi panjang dengan ukuran 4 x 7 meter dan biasanya setiap satu kapling yang dimiliki oleh petani terdapat satu TPH.
TPH di lahan petani perkebunan kelapa sawit Desa Tanah Datar permukaannya berupa tanah biasa yang rentan terhadap rumput atau gulma ilalang. Selain rentan terhadap tanaman liar, ketika hujan maka area TPH akan sedikit rusak bahkan bagi TPH yang tidak dirawat dengan benar akan tergenang oleh air/lumpur. Hal ini akan menjadi sumber risiko bagi mutu buah sendiri khususnya bagi brondolan. Ketika proses penimbangan, buah yang telah tersusun di TPH akan diangkut ke tempat penimbangan kemudian buah langsung diangkut kembali menuju mobil angkutan (truck).
Ketika pengangkutan antara TPH-alat timbangan-truck, beberapa brondolan akan terlepas dari janjang nya (TBS) dan jatuh maupun berserakan di area TPH. Bagi TPH yang lahannya datar, bersih dan kering maka proses pengumpulan brondolan akan mudah dilakukan. Brondolan yang berserakan di TPH akan di ambil dengan cara dikeruk dengan alat pengerukan sampai brondolan tersebut diangkut semua sebersih mungkin. Namun TPH di Desa Tanah Datar tidak semua yang bersih dan datar, bahkan ada TPH yang mudah tergenang air. Sehingga brondolan yang ada di area TPH tidak terambil secara maksimal dan brondolan yang tertinggal di TPH menjadi kehilangan (loss) hasil produksi TBS bagi petani di Desa Tanah Datar.
Selain proses pengangkutan dan penimbangan, banyaknya brondolan yang tertinggal di TPH disebabkan karena buah yang dipanen tidak langsung dibawa ke pabrik. Buah yang telah disusun di TPH akan diangkut pada keesokan harinya sehingga menimbulkan penyusutan TBS serta brondolan yang meningkat akibat di diamkan selama satu hari. Brondolan yang jatuh tersebut diakibatkan oleh ALB (asam lemak bebas) yang terkandung didalam minyak kelapa sawit menjadi meningkat dan mempengaruhi mutu minyak kelapa sawit.
Kehilangan Hasil Produksi di Pabrik (sortasi TBS)
Setelah proses penimbangan di tempat pengumpul hasil (TPH), maka TBS akan di angkut kedalam truck dan langsung dibawa ke pabrik kelapa sawit (PKS). Sampai di PKS, tandan buah segar (TBS) akan dibawa menuju tempat sortasi dimana buah akan diseleksi kembali oleh petugas/karyawan sortasi pabrik. Proses
sortasi sendiri dilakukan oleh petugas sortasi (karyawan pabrik) dengan cara pengamatan langsung pada buah yang akan diturunkan menuju tempat perebusan buah (pengolahan buah). Jumlah petugas sortasi sendiri sebanyak 2-3 orang per
truck yang mengangkut TBS dari Desa Tanah Datar. Jumlah potongan yang diberikan berdasarkan rata-rata pengamatan oleh petugas sortasi. Setelah disepakati, maka ditentukan berapa besar potongan yang diberikan kepada petani. Pada umumnya potongan yang diberikan bervariasi tergantung kondisi dan keadaan buah. Selama ini berdasarkan wawancara langsung dengan beberapa petugas sortasi yang ada di pabrik kelapa sawit (PKS), maksimal potongan yang diterima oleh petani sebesar 5% dan minimalnya sebesar 1 % dari total yang diangkut. Setelah proses seleksi TBS di sortasi selesai, maka akan diperoleh berat bersih produksi yang dihasilkan dari lahan kelapa sawit di petani. Sedangkan potongan persentase dari petugas sortasi tersebut menjadi kehilangan (losses) produksi yang diterima oleh petani.
Besarnya persentase potongan tersebut diambil berdasarkan pengamatan oleh petugas sortasi terhadap beberapa aspek. Aspek tersebut merupakan menjadi sumber risiko kehilangan hasil yang diterima oleh petani. Adapun sumber-sumber nya sebagai berikut :
1. Rumput, pasir dan sampah yang terbawa oleh TBS
Rumput, pasir maupun sampah yang terbawa bersama TBS dikarenakan TPH yang berada di lahan petani tidak bersih dan kotor. Apalagi permukaan TPH berupa tanah biasa yang rentan terhadap rumput, gulma maupun sampah.
2. Tangkai janjang yang masih panjang
Secara teori tangkai janjang buah tidak boleh melebihi 2 cm di pangkal ujung buah atau TBS. Jika tidak dipotong akan merugikan bagi PKS karena tangkai tersebut akan mempengaruhi berat TBS serta akan ikut diolah bersama TBS sehingga menjadi sampah bagi pabrik kelapa sawit (PKS)
3. Janjang kosong atau mentah terbawa oleh petani
Walaupun TBS yang akan diangkut ke PKS sudah diseleksi oleh petugas timbangan di TPH petani, namun terkadang masih saja janjang yang sudah kosong (tidak ada buah kelapa sawit) dan TBS mentah terbawa sampai ke pabrik. Hal ini disebabkan karena petugas yang menyeleksi di lapangan kurang teliti melihat buah yang ada di TPH. Biasanya terjadi pada saat TBS sangat banyak di TPH dan pada masa panen puncak. Selain kurang telitinya petugas timbangan yang menyeleksi di lapangan, adanya human error yang dilakukan petani dengan sengaja memasukkan janjang kosong ke mobil angkutan agar hasil TBS yang dibawa menjadi lebih banyak dan bisa menambah pendapatannya.
4. Target rendemen yang ditetapkan oleh pabrik
Setiap pabrik memiliki target rendemen minyak kelapa sawit yang harus dihasilkan pada periode tertentu. Jika rendemen pabrik tidak tercapai maka pabrik akan mengalami kerugian dan sebaliknya jika pabrik mencapai target rendemen yang ditentukan atau bahkan melebihi target tersebut, maka perusahaan mengalami surplus pendapatan. Rendemen tersebut akan tercapai jika TBS yang masuk dan diolah di pabrik sesuai dengan standarnya. Maka bentuk buah, kebersihan serta kematangan buah sangat
diperhatikan oleh pabrik. Hal ini juga berpengaruh terhadap persentasi potongan yang diberikan kepada petani terhadap hasil TBS nya. Jika target rendemen pabrik tercapai, maka potongan yang diberikan kepada petani relatif lebih kecil. Sedangkan target rendemen pabrik belum tercapai maka potongan yang diberikan petani relatif tinggi.
Berdasarkan hasil indentifikasi tersebut, loss post-harvest TBS di perkebunan kelapa sawit milik petani Desa Tanah Datar adalah lahan, TPH, dan sortasi pabrik. Pada tahap buah berada di tempat pengumpul hasil (TPH), terdapat dua kegiatan yaitu pemerikasaan buah mentah dan kegiatan penimbangan TBS. dimana masing-masing kegiatan tersebut terdapat losses yang diterima oleh petani yaitu buah mentah terpanen dan brondolan yang tersisa di TPH. Berikut besar persentasi kehilangan hasil produksi tandan buah segar (TBS) di setiap pos nya (loss post-harvest) yang akan dijelaskan pada Tabel 7:
Tabel 7 Sebaran persentase kehilangan hasil pasca panen kelapa sawit di Desa Tanah Datar
No Tempat kehilangan (Post-losses) % Kehilangan Hasil Produksi (Losses) per 2 ha
1 Losses di Lahan 1.73
2 Losses pengecekan TBS mentah 0.51
3 Losses brondolan di TPH 0.27
4 Losses di Sortasi Pabrik 2.70
Total 5.21
Sumber : Data hasil penelitian (diolah)
Kehilangan hasil yang dijelaskan pada Tabel 7 diperoleh dengan cara membagi jumlah rata-rata kehilangan hasil produksi kelapa sawit disetiap rantai pasca panen dengan penjumlahan rata-rata hasil produksi petani responden (lampiran 2) dengan rata-rata kehilangan hasil produksi di setiap rantai pasca panen kelapa sawit. Maka dengan perhitungan tersebut diperoleh bahwa besar kehilangan hasil produksi di lahan sebesar 1.73 persen dari total hasil produksi kelapa sawit yang dihasilkan oleh petani. Kehilangan hasil produksi akibat TBS mentah yang terpanen serta brondolan yang tertinggal di TPH masing – masing sebesar 0.51 persen dan 0.27 persen dari total hasil produksi kelapa sawit yang dihasilkan. Kemudian, kehilangan hasil produksi kealapa sawit yang terjadi di sortasi pabrik adalah sebesar 2.70 persen dan pada tahap ini merupakan tahap yang paling banyak mengalami losses produksi.
Berdasarkan besar kehilangan hasil produksi kelapa sawit di Desa Tanah Datar yang telah diketahui, maka dapat dijumlahkan besar loss post-harvest yang terjadi pada perkebunan kelapa sawit di Desa Tanah Datar adalah sebesar 5.21 persen dari total rata-rata produksi TBS yang dihasilkan oleh petani kelapa sawit yaitu sebesar 4405.36 kilogram perbulan. Adapun kehilangan ini terus terjadi setiap proses pasca panen yang dilakukan oleh petani di Desa Tanah Datar dan banyak petani yang tidak mengetahuinya.
Analisis Kemungkinan Terjadinya (Probabilitas) Loss post-harvest TBS
Kegiatan pasca panen perkebunan kelapa sawit yang dilakukan oleh petani di Desa Tanah Datar terdapat suatu risiko dimana dapat mengakibatkan kurang maksimalnya hasil produksi TBS yang dihasilkan oleh petani. Hal tersebut diakibatkan karena hasil panen TBS yang dihasilkan menyusut (hilang) mulai dari TBS dipanen (dilahan) sampai TBS diangkut ke pabrik untuk diolah. Kehilangan (loss) hasil TBS ditiap pos yang dilalui akan mengurangi produksi yang seharusnya didapat oleh petani dan akibatnya adalah pendapatan yang diterima petani tidak maksimal.
Dalam pengendalian risiko tersebut dibutuhkan suatu pengukuran kemungkinan terjadinya risiko (probabilitas) agar dapat mengetahui tingkat risiko yang dihadapi tersebut. Pada penelitian kali ini akan dianalisis berapa persen kemungkinan terjadinya hasil produksi yang hilang (loss post-harvest) disetiap tahap (rantai) nya. Data yang digunakan untuk mengetahui probabilitas kehilangan hasil produksi disetiap pos nya adalah data produksi TBS tahun 2012, yaitu mulai dari produksi TBS bulan Januari sampai produksi TBS bulan Desember. Data tersebut merupakan rata-rata jumlah produksi 30 responden petani kelapa sawit di Desa Tanah Datar. Adapun analisis probabilitas yang dilakukan adalah sebagai berikut :
Probabilitas Kehilangan Hasil Produksi di Lahan
Data yang digunakan dalam menghitung probabilitas losses yang terjadi di lahan adalah produksi bersih TBS yang telah dikurangi losses yang terjadi di lahan perbulan nya dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember tahun 2012. Jumlah produksi yang telah dikurangi dengan jumlah losses TBS perbulan nya akan dijumlahkan selama satu tahun (2012) dan dihitung rata-rata produksi TBS nya. Setelah itu dilanjutkan dengan menghitung nilai z-score losses di bagian lahan pada proses pasca panen kelapa sawit. Berikut akan dijelaskan pada Tabel 8. Data produksi TBS perbulannya selama satu tahun (2012) diperoleh dengan cara meminta langsung data produksi yang ada di petani responden. Sedangkan jumlah losses yang terjadi di lahan diperoleh dengan cara wawancara dan observasi langsung ke lahan perkebunan petani kelapa sawit Desa Tanah Datar