• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Risiko Pasca Panen Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit (Kasus : Desa Tanah Datar Kecamatan Kunto Darussalam Kabupaten Rokan Hulu Provinsi RIAU)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Risiko Pasca Panen Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit (Kasus : Desa Tanah Datar Kecamatan Kunto Darussalam Kabupaten Rokan Hulu Provinsi RIAU)"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2013

ANALISIS RISIKO PASCA PANEN TANDAN BUAH SEGAR

(TBS) KELAPA SAWIT

(Kasus : Desa Tanah Datar Kecamatan Kunto Darussalam

Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau)

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Risiko Pasca Panen Tandan Buah Segar (TBS) (Kasus: Desa Tanah Datar kecamatan Kunto Darussalam Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juni 2013

Nazar Al Haddad Samosir

(4)

ABSTRAK

NAZAR AL HADDAD SAMOSIR. Analisis Risiko Pasca Panen Tandan Buah Segar (TBS) (Kasus: Desa Tanah Datar Kecamatan Kunto Darussalam Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau). Dibimbing oleh NETTI TINAPRILLA

Desa Tanah Datar merupakan salah satu sentra perkebunan kelapa sawit yang ada di Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Hasil produksi kelapa sawit yang dihasilkan oleh petani adalah tandan buah segar (TBS). Pada proses pasca panen TBS kelapa sawit memiliki beberapa tahap yang harus dilalui, mulai dari TBS berada di lahan sampai ke pabrik kelapa sawit (PKS). Produksi TBS yang dihasilkan oleh petani kurang maksimal, karena hilangnya hasil produksi di setiap tahap pasca panen kelapa sawit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besar kehilangan hasil produksi yang ada serta menganalisis dampak yang ditimbulkan dari kehilangan hasil produksi TBS disetiap tahap pasca panen kelapa sawit. Hasil analisis yang diperoleh menunjukkan bahwa hilangnya hasil produksi TBS berada di lahan, pada proses pengecekan TBS mentah, di TPH, dan sortasi pabrik. Adapun besar persentasi kehilangan hasil produksi terhadap total produksi TBS yang dihasilkan adalah sebesar 1.70 persen untuk di lahan, 0.51 persen untuk proses pengecekan TBS mentah (TPH), 0.27 persen untuk TBS di TPH (brondolan) dan 2.70 persen di sortasi pabrik (PKS). Dampak kerugian yang ditimbulkan dari loss post-harvest TBS secara total per dua hektar lahan sebasar Rp 412 207.24 perbulan dan jika dijumlahkan selama satu tahun akan mencapai dampak kerugian sebesar Rp 4 946 486.88.

Kata kunci : Produksi, Kelapa sawit, Loss post-harvest.

ABSTRACT

Tanah Datar village is one of the centers of oil palm plantations in the Rokan Hulu Regency of Riau Province. Palm oil production generated by farmers is the fresh fruit bunches (FFB). On the post-harvest process oil palm FFB has several stages that must be traversed, from FFB are on land to palm oil factory. Production of FFB produced by farmers less than the maximum, due to loss of production results in every phase of post harvest oil palm. The purpose of this research is to know the result of large production loss and analyze the impacts of lost production at every stage of the FFB post harvest oil. Analysis of the results obtained shows that the loss of production result in the FFB land, on checking process FFB raw, FFB in TPH, and sorting plant. As for the large percentage of total production loss of production of FFB produced amounted to 1.70 percent at the land, 0.51 percent on the process of checking the FFB raw, 0.27 percent when FFB in TPH and 2.70 percent at sorting plant. The impact of the losses arising from the loss of post-harvest TBS in total per two hectares of land is Rp 412 265.14 per month and if combined for one year will reach Rp 4 946 486.88.

(5)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Agribisnis

ANALISIS RISIKO PASCA PANEN TANDAN BUAH SEGAR

(TBS) KELAPA SAWIT

(Kasus : Desa Tanah Datar Kecamatan Kunto Darussalam

Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau)

NAZAR AL HADDAD SAMOSIR

DEPARTEMEN AGRIBISNIS

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(6)
(7)

Judul Skripsi: Analisis Risiko Pasca Panen Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit (Kasus : Desa Tanah Datar Kecamatan Kunto Darussalam Kabupaten Rokan Hulu Provinsi RIAU)

Nama : Nazar Al Haddad Samosir NIM : H34090057

Disetujui oleh

Dr Ir Netti Tinaprilla, MM Pembimbing

Diketahui oleh

Dr Ir Nunung Kusnadi, MS Ketua Departemen

(8)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2013 ini ialah risiko pasca panen, dengan judul Analisis Risiko Pasca Panen Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit (Kasus : Desa Tanah Datar Kecamatan Kunto Darussalam Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau)

Terima kasih penulis ucapkan kepada Ibu Dr Ir Netti Tinaprilla, MM selaku pembimbing skripsi yang telah banyak membimbing dalam proses penelitian ini. Begitu juga dengan pihak Koperasi Sawitra yang telah banyak membantu memberikan data yang dibutuhkan serta pendekatan kepada petani di Desa Tanah Datar. Teman-teman Agribisnis angkatan 46, BOS (Budaya Olahraga dan Seni) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Tingkat Persiapan Bersama (TPB) angkatan 46, serta BEM Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB yang telah memberikan masukan dan dukungan dalam proses penelitian ini.

Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh keluarga besar Muladi Samosir, atas segala doa dan kasih sayangnya.

Bogor, Juni 2013

(9)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI vii

DARTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR ix

DAFTAR LAMPIRAN ix

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 4

Tujuan Penelitian 5

Manfaat Penelitian 6

Ruang Lingkup Penelitian 6

TINJAUAN PUSTAKA 6

Tanaman Kelapa Sawit 6

Kriteria Matang Panen Tandan Buah Segar 7

Penanganan Tandan Buah Segar 7

Kehilangan Hasil dalam Penanganan Pasca Panen 8

KERANGKA PEMIKIRAN 9

Kerangka Pemikiran Teoritis 9

METODE PENELITIAN 18

Lokasi dan Waktu Penelitian 18

Jenis dan Sumber Data 18

Metode Pengumpulan Data 18

Metode Analisis 19

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 24

HASIL DAN PEMBAHASAN 26

Analisis Risiko Pasca panen 26

Analisis Kemungkinan Terjadinya (Probabilitas) Loss post-harvest TBS 33 Analisis Dampak Kehilangan Hasil Produksi (loss post-harvest) TBS 37 Pemetaan Kehilangan Hasil Produksi (loss post-harvest) TBS 39 Rekomendasi Strategi Penanganan Loss post-harvest TBS 41

SIMPULAN DAN SARAN 46

Simpulan 46

Saran 47

DAFTAR PUSTAKA 47

LAMPIRAN 49

(10)

DARTAR TABEL

1 Jumlah petani dan tenaga kerja (KK+TK) pada subsektor unggulan

perkebunan Nasional 2010a 1

2 Nilai ekspor komoditi perkebunan indonesia 2010a 2 3 Luas perkebunan kelapa sawit dan produksi CPO pada tahun 2010a 3

4 Metode Pengambilan Data 19

5 Tabel data potensi Desa Tanah Datar tahun 2012a 25

6 Jumlah penduduk Desa Tanah Datar tahun 2012a 25

7 Sebaran persentase kehilangan hasil pasca panen kelapa sawit di Desa

Tanah Datar 32

8 Analisis perhitungan probabilitas losses di bagian lahan 34

9 Analisis probabilitas TBS mentah 35

10 Analisis probabilitas TPH (brondolan tertinggal) 36 11 Probabilitas kehilangan hasil produksi di pabrik (sortasi) 37

12 Analisis dampak kehilangan hasil produksi TBS 38

13 Status risiko pada loss post-harvest kelapa sawit di Desa Tanah Datar 39

DAFTAR GAMBAR

1 Perkembangan produk CPO tahun 2011 2

2 Hubungan total utility dengan kekayaan 11

3 Proses pengelolaan risiko 13

4 Kerangka pemikiran operasional 17

5 Peta risiko 21

6 Peta risiko Preventif dan Mitigasi 22

7 Peta hasil identifikasi loss postharvest TBS 40

8 Strategi penanganan Preventif loss post-harvest TBS di Desa Tanah

Datar 43

9 Strategi penanganan Mitigasi loss post-harvest TBS di Desa Tanah

Datar 45

DAFTAR LAMPIRAN

1 Gambar keadaan perkebunan kelapa sawit di Desa Tanah Datar 49

2 Produksi tandan buah segar (TBS) petani responden tahun 2012 51

3 Jumlah brondolan yang tertinggal di lahan 52

4 Jumlah TBS mentah yang terpanen oleh petani responden tahun 2012 53

5 Jumlah brondolan tertinggal di TPH petani kelapa sawit di Desa Tanah Datar 54

(11)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dalam perekonomian Indonesia, sektor pertanian dikenal sebagai sektor penting karena sebagai sumber utama pangan dan pertumbuhan ekonomi. Terbukti sektor pertanian telah menyumbang pendapatan perekonomian negara dari segi ekspor, penyaluran tenaga kerja, dan menjadi bahan baku alternatif energi (Statistik makro sektor pertanian 2012)

Salah satu keunggulan dari pertanian di Indonesia yaitu subsektor perkebunan dimana mengalami pertumbuhan yang konsisten setiap tahunnya. Seperti kontribusi dalam PDB, penerimaan ekspor, penyediaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, dan pembangunan wilayah di luar Jawa (Kementerian pertanian 2012). Salah satu komoditas perkebunan nasional adalah kelapa sawit. Kelapa sawit memiliki peranan penting pada sektor perkebunan di Indonesia karena mampu menjadi salah satu andalan perekonomian Negara. Seperti yang tertera pada tabel 2, bahwa nilai ekspor komoditi kelapa sawit tahun 2010 mencapai 15 milyar US dollar atau paling tinggi dibandingkan komoditi perkebunan lainnya. Selain itu, perkebunan kelapa sawit juga berperan dalam penyerapan tenaga kerja dimana pada tahun 2011 subsektor perkebunan kelapa sawit menempati urutan kedua terbanyak dalam penyerapan tenaga kerja yang dijelaskan pada tabel 1.

Tabel 1 Jumlah petani dan tenaga kerja (KK+TK) pada subsektor unggulan perkebunan Nasional 2010a

Komoditi Perkebunan Penyerapan Tenaga Kerja (orang)

Karet (Rubber) 2 293 130

Kelapa Sawit (Palm Oil) 3 375 398

Kelapa (Coconut) 7 043 369

Kopi (Coffee) 1 940 684

Kakao (Cocoa) 1 611 139

Jambu Mete (Cashewnut) 829 577

Lada (Pepper) 321 498

Cengkeh (Clove) 1 060 877

Teh (Tea) 278 700

Jarak Pagar (Jatropha C) 94 595

Kemiri Sunan 1 892

Tebu (Sugar cane) 956 466 Kapas (Cotton) 22 496 Tembakau (Tobacco) 68 936 Nilam (Pacthouli) 63 615

Jumlah 20 582 733

a

(12)

Perkembangan kelapa sawit di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Peningkatan tersebut berupa jumlah produksi dan kegiatan ekspor CPO (crude palm oil). Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, volume ekspor kelapa sawit Indonesia mencapai 20.4 juta ton dan menempati ranking satu dunia, dengan share sebesar 74 persen dari keseluruhan produksi CPO yang ada di dunia. Hal ini merupakan prestasi dalam perkebunan kelapa sawit walaupun yang di ekspor masih berwujud bahan baku mentah atau CPO (crude palm oil). Bahkan Direktorat Jendral Pajak tahun 2009 memproyeksikan bahwa pada tahun 2025 produksi CPO yang dihasilkan Indonesia mencapai 30 juta ton.

Tabel 2 Nilai ekspor komoditi perkebunan Indonesia 2010a Komoditas Nilai Ekspor (dalam 000 US$)

Kelapa 703 239

Luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 55.3 persen dari total keseluruhan luas perkebunan kelapa sawit dunia yang luasnya lebih kurang 15 juta hektar (Patriawan, 2010) bahkan untuk produksi yang dihasilkan, Indonesia telah menjadi urutan pertama penghasil CPO dunia, mengalahkan para pesaing utama yaitu Malaysia. Seperti yang ditampilkan pada Gambar 1.

Gambar 1 Perkembangan produk CPO tahun 2011 Sumber : Tinjauan ekonomi regional, BI 2012

(13)

Pada Gambar 1 terlihat bahwa hasil produk CPO Indonesia menempati urutan pertama dan di tahun 2011, sumbangan CPO Indonesia menguasai hampir seperempat juta ton dari total seluruh CPO yang ada di dunia. Produksi CPO Indonesia memiliki tren yang positif seiring dengan permintaan dunia terhadap CPO meningkat setiap tahunnya.

Salah satu sentra perkebunan kelapa sawit Indonesia adalah terletak di Provinsi Riau dimana memiliki luas perkebunan kelapa sawit terbesar dibandingkan dengan Provinsi lainnya seperti yang dijelaskan pada tabel 1. Kelapa sawit memang menjadi komoditas unggulan di Provinsi Riau bahkan hampir 70 persen masyarakat Riau menjadikan kelapa sawit sebagai mata pencaharian mereka (Zulher 2012). Selain menjadi mata pencaharian masyarakat Riau secara umum, hasil CPO Provinsi Riau menjadi penyumbang terbanyak dari total produksi CPO nasional. ini terlihat dari data Badan Kebijakan Fiskal Kementrian Keuangan RI tahun 2012, bahwa penerimaan bea keluar dari ekspor CPO secara Nasional adalah 28.9 triliun rupiah dan 9.55 triliun rupiah berasal dari Provinsi Riau.

Tabel 3 Luas perkebunan kelapa sawit dan produksi CPO pada tahun 2010a Provinsi Luas Areal

(14)

CPO yang dihasilkan oleh Kabupaten Rokan Hulu setiap tahunnya mengalami tren yang positif seiring dengan permintaan CPO di pasar domestik maupun internasional (Riau dalam angka 2010). Apalagi dengan tingginya minat masyarakat perdesaan terhadap usahatani kelapa sawit, luas area perkebunan dan hasil TBS bisa semakin bertambah setiap tahunnya.

Permintaan terhadap minyak kelapa sawit di dunia meningkat setiap tahunnya tetapi hasil produksi sawit (CPO) mengalami fluktuasi, walaupun masih dalam garis tren yang positif (BI 2012). Di benua Amerika dan Eropa sangat membutuhkan energi terbaharukan dan ramah lingkungan seperti biofuel maupun biodiesel yang dihasilkan dari minyak nabati. CPO merupakan salah satu alternatif energi yang dibutuhkan karena mengandung minyak nabati yang lebih banyak, biaya yang lebih murah serta kandungan minyak nabati yang lebih baik dibanding dengan tanaman pengasil minyak nabati lainnya. Sehingga peluang permintaan minyak kelapa sawit dunia akan semakin meningkat dan berdampak pada permintaan tandan buah segar (TBS). Oleh karena itu dibutuhkan penanganan dalam mengoptimalkan produksi TBS agar dapat memenuhi permintaan yang ada. salah satunya adalah penanganan yang optimal di bagian pasca panen kelapa sawit.

Kelapa sawit merupakan tanaman yang dapat berkembang dengan baik di lingkungan tropis, salah satunya di Indonesia. Dibandingkan dengan tanaman perkebunan yang lain, kelapa sawit mampu bertahan terhadap serangan hama dan kondisi lingkungan yang cukup ekstrim bahkan risiko yang dihadapi oleh petani kelapa sawit lebih terlihat dari segi pasca panen. Seperti penanganan panen TBS, pengangkutan dan rotasi pemanenan buah kelapa sawit (belum matang atau kelewat matang) (Tyas 2008).

Salah satu kerugian yang diterima petani dari pasca panen kelapa sawit adalah kehilangan hasil tandan buah segar (TBS) dari setiap rantai yang dilalui sampai ke pengolahan akhir (loss post-harvest). Di bagian awal pemanenan, aktivitas pemanenan yang tidak sesuai dengan standar mengakibatkan kurang optimalnya hasil TBS yang diperoleh seperti brondolan yang terlepas maupun TBS mentah yang terpanen. Ketika di pabrik, TBS kelapa sawit yang dihasilkan oleh petani akan diseleksi sesuai dengan standar pabrik sehingga menimbulkan

losses berupa pengurangan hasil produksi akibat TBS tidak sesuai dengan kriteria pabrik.

Sehingga dampak risiko pasca panen sangat merugikan bagi petani baik dari segi produksi maupun dari pendapan usahataninya. Oleh karena itu analisis risiko pasca panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit sangat dibutuhkan dalam mengurangi kehilangan hasil produksi dan kerugian bagi petani kelapa sawit.

Perumusan Masalah

Dalam dunia agribisnis selalu dihadapkan oleh suatu risiko yang ada di setiap subsistemnya. Begitu juga agribisnis kelapa sawit yang tidak lepas dari risiko (Pahan 2008). Salah satu risiko yang sering dihadapi agribisnis kelapa sawit adalah risiko pasca panen yaitu kehilangan hasil tandan buah segar (TBS) dari setiap rantai pasca panen yang dilaluinya (loss post-harvest).

(15)

dalam proses panen kelapa sawit masih sederhana. Hal ini disebabkan karena buah kelapa sawit (brondolan) yang rentan terlepas dari tandan nya apalagi pada saat matang penuh dimana brondolan akan terlepas sebanyak 2 butir perkilogram TBS kelapa sawit (Pahan 2008). Selain brondolan yang terlepas dari tandan kelapa sawit, penanganan pasca panen yang belum sesuai standar mengakibatkan TBS mentah terpanen oleh pemanen kelapa sawit.

Begitu juga dengan pengangkutan hasil TBS menuju tempat pengolahan, banyak brondolan yang berserakan dan tertinggal di setiap tahap (post) pasca panen TBS. selain itu, TBS yang telah di panen harus segera dibawa ke tempat pengolahan (pabrik) pada hari panen itu juga karena jika TBS dibiarkan lebih dari 1 hari akan membuat kandungan CPO dan mutu buah menjadi lebih rendah akibat peningkatan kandungan asam lemak bebas (ALB) yang ada di dalam buah kelapa sawit (pahan 2008).

Keadaan tersebut terus terjadi setiap pelaksanaan panen kelapa sawit di Desa Tanah Datar dan secara umum tidak diketahui oleh petani kelapa sawit yang ada di Desa Tanah Datar. Adapun dampak yang ditimbulkan adalah hasil TBS maupun kandungan CPO kurang optimal serta kerugian terhadap turunnya pendapatan petani.

Berdasarkan uraian yang disampaikan diatas, maka dapat disimpulkan rumusan masalah dari penelitian ini adalah :

1. Apa saja sumber-sumber yang mengakibatkan loss post-harvest TBS kelapa sawit di setiap rantai pasca panen yang dilalui hingga ke tempat pengolahan akhir (pabrik)?

2. Berapa besar kehilangan hasil TBS kelapa sawit di setiap rantai pasca panen yang dilalui mulai dari lahan sampai ke tempat pengolahan akhir (pabrik)? 3. Berapa kemungkinan kejadian, dampak dan status loss post-harvest TBS

kelapa sawit di setip rantai yang dilalui?

4. Bagaimana rekomendasi manajemen risiko pasca panen yang tepat agar bisa diterapkan oleh petani kelapa sawit di Desa Tanah Datar?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Mengindentifikasi sumber-sumber loss post-harvest tandan buah segar (TBS) di setiap rantai (tahap) pasca panen yang dialami oleh petani di Desa Tanah Datar.

2. Menganalisis besar kehilangan hasil TBS di setiap rantai yang dilalui mulai dari petani (panen) sampai ke tempat pengolahan akhir (pabrik).

3. Menganalisis probabilitas dan dampak yang ditimbulkan dari loss post-harvest

TBS serta status loss post-harvest disetiap rantai (tahap) pasca panen.

(16)

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi petani, perusahaan, lembaga-lembaga terkait serta pembaca. Bagi perusahaan maupun lembaga-lembaga terkait, penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan serta menjadi bahan referensi dalam penanganan risiko produksi pada kehilangan pasca panen tandan buah segar (TBS). Kemudian bagi petani kelapa sawit di Desa Tanah Datar diharapkan dapat membantu menangani kehilangan hasil produksi yang dihadapi serta dapat memberikan alternatif manajemen risiko yang sesuai dengan petani. Sedangkan bagi pembaca, penelitian ini diharapkan dapat memberikan ilmu yang bermanfaat dan dapat digunakan sebagai masukan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.

Ruang Lingkup Penelitian

Dalam sistem agribisnis kelapa sawit di Desa Tanah Datar Kecamatan Kunto Darussalam Kabupaten Rokan Hulu terdapat dua alur distribusi Tandan Buah Segar (TBS) dari Petani hingga tempat pengolahan akhir (Pabrik). Pertama, alur distribusi TBS dari petani langsung ke pabrik dan alur kedua adalah dari petani – tengkulak – pabrik. Namun dalam penelitian kali ini, alur distribusi TBS yang diteliti adalah alur yang pertama yaitu dari petani langsung ke pabrik karena memudahkan dalam pengambilan data dan sampel yang dibutuhkan dalam proses penelitian.

TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman Kelapa Sawit

Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, kelapa sawit memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Kelapa sawit menjadi salah satu komoditi andalan untuk ekspor dan komoditi yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan harkat petani perkebunan Indonesia. Kelapa sawit bukanlah tanaman asli Indonesia, tanaman baru ini mulai ditanam secara komersil pada tahun 1991. Istilah kelapa mungkin dimaksudkan sebagai istilah umum untuk jenis palm. Meskipun demikian perkataan sawit sudah ada sejak lama. Beberapa tempat (Desa di pulau jawa) sudah ada yang menggunakan nama “sawit” sebelum kelapa sawit masuk ke Indonesia (Sihotang 2010).

(17)

dengan standar yang ditetapkan dan dapat memenuhi permintaan pasar maupun memenuhi persedian dalam negeri.

Kriteria Matang Panen Tandan Buah Segar

Persiapan panen yang akurat akan memperlancar pelaksanaan panen. Persiapan ini meliputi kebutuhan tenaga kerja, peralatan, pengangkutan, dan pengetahuan kerapatan panen, serta sarana panen. Panen adalah pekerjaan penting di perkebunan kelapa sawit, karena langsung menjadi sumber pemasukan uang ke perusahaan melalui penjualan minyak kelapa sawit (MKS) dan inti kelapa sawit (IKS). Tujuan panen kelapa sawit adalah memperoleh produksi yang baik dengan rendemen minyak yang tinggi. Kualitas minyak sangat dipengaruhi oleh cara pemanenan, maka kriteria panen yang menyangkut matang panen, cara dan alat panen, rotasi dan sistem panen, serta mutu panen harus diikuti (Tim Penulis Penebar Swadaya 1992).

Kelapa sawit berbuah setelah berumur 2.5 tahun dan buahnya masak 5.5 bulan setelah penyerbukan. Suatu areal sudah dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60 persen buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat satu tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada dua buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada satu buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih (Lubis 1992).

Penanganan Tandan Buah Segar

Penanganan tandan buah segar merupakan seluruh kegiatan yang dilakukan dari memetik buah sampai dengan tandan buah segar tersebut akan diolah di tempat pengolahan. Penanganan TBS sangat dipengaruhi oleh kegiatan sistem potong buah yang dilakukan, seperti kegiatan persiapan panen dan bagaimana organisasi potong buah dilaksanakan.

Hal-hal yang perlu dilakukan dalam mempersiapkan pelaksanaan pekerjaan potong buah menurut Pahan (2008) yaitu: (1) persiapan kondisi areal, (2) penyediaan tenaga potong buah, (3) pembagian seksi potong buah, dan (4) penyediaan alat-alat kerja. Selain itu perlu juga dilakukan perbaikan jalan dan jembatan, pembersihan piringan tanaman, pasar rintis, dan rintis tengah, pemasangan titi rintis, pembuatan tempat pengumpulan hasil (TPH), serta pembuatan tangga-tangga dan tapak kuda untuk areal berbukit.

(18)

sampai terkena tandan; (3) mengorek dan sogrok semua berondolan yang tersangkut di ketiak pelepah; (4) pelepah disusun di gawangan mati; (5) mengutip berondolan, tetapi masih tetap dipiringan serta bebas dari sampah-sampah dan batu; dan (6) memindahkan atau memajukan berondolan ke pokok berikutnya. Setelah memotong satu ancak, pemanen harus mengeluarkan buah ke TPH dan menyusun tandan dengan rapi, kemudian diberi nomor pemanen.

Transport buah sudah dapat dimulai paling lambat pukul 09.00 waktu setempat. Terdapat beberapa alat angkut yang dapat digunakan untuk mengangkut TBS dari perkebunan ke pabrik, yaitu lori, traktor gandengan, atau truk. Pengangkutan dengan lori lebih baik daripada dengan alat angkut lain. Guncangan selama perjalanan lebih banyak terjadi pada pengangkutan dengan truk atau traktor gandengan sehingga pelukaan pada buah sawit juga lebih banyak dan dapat meningkatkan kadar ALB pada buah yang diangkut. Asam lemak bebas terbentuk karena adanya kegiatan enzim lipase yang terkandung di dalam buah dan berfungsi memecah lemak/minyak menjadi asam lemak dan gliserol. Kerja enzim tersebut semakin aktif bila struktur sel buah matang mengalami kerusakan (Pahan 2008).

Penanganan TBS yang baik bertujuan untuk meningkatkan kualitas TBS, meningkatkan produktivitas pekerja, menjaga agar asam lemak bebas (ALB) 2 sampai 3 persen, menjaga keamanan TBS di lapangan, dan pengeluaran biaya yang minimum. Menurut Pahan (2008), cara panen yang tepat akan mempengaruhi kuantitas produksi (ekstraksi), sedangkan waktu yang tepat akan mempengaruhi kualitas produksi.

Kehilangan Hasil dalam Penanganan Pasca Panen

Dunia pertanian memiliki berbagai risiko yang dihadapi dalam menjalakan kegiatan pertanian tersebut. Salah satu risiko yang dihadapi oleh para petani dalam menjalankan pertanian adalah risiko pasca panen. Risiko kehilangan pasca panen merupakan salah satu faktor dalam risiko pasca panen yang melibatkan kapasitas barang serta keterlambatan dalam penanganan. Berdasarkan tinjauan langsung di lapang perkebunan kelapa sawit, risiko kehilangan pasca panen yang dihadapi masih belum disadari oleh petani. Ini menyangkut dengan tata cara pemanenan, karena cara pemanenan yang tepat akan mempengaruhi kuantitas produksi, sedangkan waktu pemanenan yang tepat akan mempengaruhi kualitas produksi. Produksi akan dapat mencapai maksimal apabila kehilangan (losses) produksi minimal (Pahan 2006). Sehingga penanganan pasca panen secara tidak tepat dapat menimbulkan kerugian, terutama susut atau kehilangan baik mutu maupun fisik.

(19)

penelitian tersebut didapat bahwa dari semua objek perlakuan yang dilakukan, risiko kehilangan yang paling besar terdapat pada bagian pemanenan sebesar 2.57-3.07 persen dari 13.35 persen total kehilangan hasil pasca panen padi, kemudian dari segi penggilingan menempati urutan kedua yaitu sebesar 2.16 persen. Kehilangan pada bagian pemanenan paling dominan dipengaruhi oleh alat beserta alat panen dan perilaku tenaga pemanen tersebut (budaya).

Pada penelitian Tyas (2008) mengenai pengelolaan risiko panen kelapa sawit di Perkebunan Pantai Bunati Estate, Kalimantan Selatan. Penyebab utama kehilangan produksi karena rotasi panen yang tinggi/terlambat dalam penanganannya. Rotasi panen yang terlambat menyebabkan tingginya persentase buah lewat matang dan janjang kosong. Selain itu rotasi panen terlambat juga berpengaruh terhadap tingginya rasio brondolan tinggal dan rasio brondolan tinggal tertinggi berdasarkan pengamatan terdapat pada piringan dan ketiak pelepah. Kehilangan hasil pada proses pengangkutan antara lain buah restan atau buah yang tidak terangkut dan diolah pada hari setelah pemanenan. Nilai angka kerapatan panen di Pantai Bunati Estate menurut data pengamatan sebesar 20 sampai 25 persen. Dari data pengamatan disimpulkan bahwa sumber - sumber kehilangan produksi di Pantai Bunati Estate antara lain buah mentah, buah masak tinggal di pokok, brondolan tidak dikutip, buah atau brondolan di curi dan administrasi yang tidak akurat. Sumber utama penyebab angka losses atau kehilangan hasil tinggi di Pantai Bunati Estate adalah terlambatnya rotasi panen. metode yang digunakan oleh Tyas (2008) adalah dengan cara metode diskriptif dan pengamatan langsung di perkebunan Pantai Bunati Estate.

Berdasarkan literatur diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko kehilangan hasi TBS disetiap rantai pasca panen dan pengaruhnya terhadap pendapatan petani kelapa sawit di Desa Tanah Datar Kecamatan Kunto Darussalam Kabupaten Rokan Hulu dengan menggunakan metode Nilai Standar seperti yang dilakukan oleh Nugraha et al. (2007) dan pendekatan deskriptif maupun pendekatan nilai risiko yang dilakukan oleh Tyas (2008). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugraha et al. (2007) dan Tyas (2008) adalah besarnya risiko yang ditimbulkan dari faktor-faktor penyebab kehilangan hasil pasca panen digambarkan dengan bentuk nominal pendapatan petani. Sehingga terlihat besaran kehilangan finansial (pendapatan) dari setiap tahap pasca panen yang mengalami losses hasil produksi.

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka Pemikiran Teoritis

(20)

Konsep Risiko

Risiko merupakan suatu kejadian yang dapat diramalkan dan mendatangkan kerugian bagi pengambil keputusahan atau pengusaha. Menurut Kountur (2006), risiko adalah kemungkinan kejadian yang menimbulakan kerugian. Risiko memiliki tiga unsur yang sangat penting yaitu : 1) risiko itu adalah suatu kejadian, 2) kejadian tersebut masih mengandung kemungkinan yang bisa terjadi atau tidak bisa terjadi, dan 3) jika terjadi, ada akibat yang ditimbulkan berupa kerugian. Risiko menurut Umar (1998) adalah kesempatan timbulnya kerugian, peluang terjadinya kerugian, ketidakpastian, penyimpangan aktual dari yang diharapkan, terjadi jika probabilitas suatu hasil akan berbeda dari yang diharapkan.

Risiko sering disamakan dengan ketidakpastian dan digunakan secara bersamaan. Namun secara ilmiah, risiko dan ketidakpastian itu memiliki arti yang berbeda. Risiko merupakan peluang kejadian yang dapat diperhitungkan oleh pengambil keputusan, sedangkan ketidakpastian merupakan suatu peluang yang tidak dapat diperhitungan kejadiannya. Menurut Kountur (2008), ketidakpastian terjadi akibat kurangnya atau tidak tersedianya informasi yang menyangkut apa yang akan terjadi. Sedangkan risiko terjadi karena adanya pengaruh dari dalam perusahaan dan luar perusahaan. Pengaruh terjadinya risiko yang berasal dari luar perusahaan diantaranya terjadi karena kondisi dunia internasional sehingga mempengaruhi kondisi ekonomi negara Indonesia, teknologi yang dapat menimbulkan inovasi usaha atau efesien dalam operasional usaha, peraturan pemerintah terhadap dunia usaha serta kekuatan ekonomi masyarakat dalam membeli produk yang dihasilkan perusahaan.

Pengaruh terjadinya risiko dari dalam perusahaan dapat berupa sumber daya manusia perusahaan kurang ahli dibidangnya sehingga mempengaruhi produktivitas produk yang dihasilkan dan dapat mempengaruhi pendapatan perusahaan. Selain itu. Kondisi keuangan perusahaan juga akan mempengaruhi risiko yang akan dihadapi oleh perusahaan, apabila perusahaan banyak melakukan pinjaman maka pendapatan dari perusahaan tersebut akan berkurang karena sebagian pendapatan perusahaan dikeluarkan untuk membayar bunga pinjaman.

Dalam menghadapi risiko, setiap pelaku bisnis memiliki pandangan yang berbeda dan perilaku yang berbeda atas keputusan yang akan diambil. Ada pelaku usaha yang sengaja mengambil risiko dengan prinsip bahwa high risk high return

namun ada juga yang selalu berusaha agar menghindari risiko. Bahkan ada juga pelaku usaha yang tidak terpengaruh (netral) terhadap risiko. Menurut Kountur (2006), pada teori tentang utility (Utility theory) pembuat keputusan dalam menghadapi risiko dapat klarifikasikan menjadi tiga kategori yaitu yang menyukai risiko (risk taker), yang tidak menyukai risiko (risk avertion) dan orang yang tidak terpengaruh terhadap risiko (risk netral).

(21)

Risk Aversion

Kekayaan (Rp)

2. Risk Netral merupakan orang yang tidak terpengaruh dengan ada atau tidaknya risiko. Rendah atau tingginya kekayaan yang didapat tidak berpengaruh terhadap manfaat yang diterima oleh pembuat keputusan. 3. Risk Taker menunjukkan bahwa utility yang diterima dengan adanya

peningkatan kekayaan lebih besar dari utility yang dikorbankan dengan penurunan kekayaan pada jumlah yang sama. Kebahagiaan yang diterima jika berhasil lebih besar dari sengsara yang diderita jika rugi dengan jumlah yang sama.

Berikut gambar hubungan antar risk taker, risk avertion dan risk netral :

Sumber-Sumber Risiko

Menurut Harwood et al (1999), ada beberapa risiko yang dapat mempengaruhi perusahaan secara langsung maupun tidak langsung, diantaranya adalah :

1. Risiko pasar yaitu pergerakan harga yang berdampak negatif terhadap perusahaan. Risiko pasar atau yang lebih dikenal dengan market risk

merupakan risiko yang terjadi karena adanya pergerakan harga pada input dan output yang dihasilkan oleh perusahaan.

2. Risiko produksi yaitu risiko yang berasal dari kejadian-kejadian yang tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan dan biasanya berhubungan dengan keadaan alam seperti curah hujan yang berubah secara tidak menentu, perubahan cuaca yang tidak sesuai dengan perkiraan, serta serangan hama dan gulma.

3. Risiko institusional yaitu risiko yang terjadi karena adanya perubahan kebijakan pemerintah yang dapat mempengaruhi perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti kebijakan harga bibit tanaman, kebijakan harga, kebijakan penggunaan bahan kimia, maupun kebijakan ekspor dan impor.

4. Risiko sumber daya manusia yaitu risiko yang dihadapi oleh perusahaan yang berkaitan dengan prilaku manusia, maupun hal-hal yang dapat mempengaruhi perusahaan, seperti kesalahan dalam pencatatan data, Gambar 2 Hubungan total utility dengan kekayaan

Sumber : Kountur 2008 Total Utility

(22)

kesalahan dalam memberikan pupuk, mogok kerja, ataupun meninggalnya tenaga kerja dalam menjalankan pekerjaannya.

5. Risiko finansial yaitu risiko yang dihadapi perusahaan dalam bidang finansial, seperti perubahan modal, perubahan bunga kredit bank, maupun perubahan UMR (Upah Minimum Regional).

Resiko juga dapat diklasifikasi dari sudut pandang penyebab timbulnya risiko, akibat yang ditimbulkan, aktivitas yang dilakukan dan sudut pandang kejadian (Kountur 2008)

1. Risiko dari sudut pandang penyebab

Berdasarkan sudut pandang penyebab kejadian, risiko dapat dibedakan kedalam risiko keuangan dan risiko operasional. Risiko keuangan disebabkan oleh faktor-faktor keuangan seperti perubahan harga, tingkat bunga, dan mata uang asing. Risiko operasional disebabkan oleh faktor-faktor non keuangan seperti manusia, teknologi, dan alam.

2. Risiko dari sudut pandang akibat

Berdasarkan dari sudut pandang akibat, risiko ini dibagi atas tiga, yaitu :

a) Risiko murni versus risiko spekulatif

Risiko dianggap sebagai risiko murni jika suatu ketidakpastian terjadi, maka kejadian tersebut pasti menimbulkan kerugian, tidak ada kemungkinan akan menghasilkan keuntungan seperti barang rusak karena terbakar, barang hilang karena banjir, kerusakan mesin, dan kahancuran gudang. Risiko spekulatif yaitu risiko dimana perusahaan mengharapkan terjadinya untung dan rugi seperti dalam usaha kerugian akibat spekulatif akan merugiakan individu tertentu tetapi akan menguntungkan individu lainnya.

b) Risiko statis versus risiko dinamis

Munculnya risiko statis ini dari kondisi keseimbangan tertentu. Contonya risiko murni statis adalah ketidakpastian terjadinya sambaran petir dan angin topan. Risiko dinamis mungkin murni mungkin juga spekulatif. Contoh risiko dinamis adalah urbanisasi, perkembangan teknologi yang kompleks dan perubahan undang-undang atau peraturan pemerintah.

c) Risiko subjektif versus risiko objektif

Risiko subjektif adalah ketidakpastian secara kejiwaan yang berasal dari sikap mental atau kondisi pemikiran seseorang. Risiko objektif adalah probabilitas penyimpangan aktual yang diharapkan (dari rata-rata) sesuai pengalaman. Risiko objektif lebih mudah diamati secara akurat dibandingkan dengan risiko subjektif karena dapat diukur.

3. Risiko dari sudut pandang aktifitas

Banyakanya risiko dari sudut pandang penyebab adalah sebanyak jumlah aktivitas yang ada. Segala aktivitas dapat menimbulkan berbagai macam risiko misalnya aktivitas pemberian kredit oleh bank yang dikenal dengan risiko kredit.

4. Risiko dari sudut pandang kejadian

(23)

Manajemen Risiko

Menurut Lam (2007) manajemen risiko dapat didefenisikan dalam pengertian bisnis seluas-luasnya. Manajemen risiko adalah mengelola keseluruhan risiko yang dihadapi oleh perusahaan sehingga dapat mengurangi potensi risiko yang bersifat merugikan yang terkait dengan upaya untuk meningkatkan peluang keberhasilan sehingga perusahaan dapat mengoptimalkan profit.

Menurut Kountur (2008) manajemen risiko perusahaan adalah cara bagaimana menangani semua risiko yang ada di dalam perusahaan tanpa memilih risiko tertentu saja. Penanganan risiko dapat dianggap sebagai salah satu fungsi dari manajemen. Ada beberapa fungsi manajemen yang telah diketahui yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan (actuating), dan pengendalian (controling) atau dikenal dengan istilah POAC. Ada beberapa alasan mengapa penanganan risiko dapat dianggap sebagai salah satu fungsi manajemen yaitu manajer adalah orang yang harus bertanggungjawab atas risiko-risiko yang terjadi di unitnya. Semua manajer bertanggungjawab atas risiko-risiko di unitnya masing-masing. Itu sebabnya manajemen risiko merupakan pekerjaan yang harus dilakukan oleh setiap manajer sehingga menjadi salah satu fungsi manajemen yang tidak boleh diabaikan.

Manejemen risiko bertujuan agar mengelola risiko dengan baik dan pelaku usaha menjadi sadar akan apa risiko yang di hadapi maupun yang akan dihadapi. Berdasarkan gambar 3, terlihat bahwa strategi pengelolaan risiko merupakan proses yang berulang pada periode produksi (Kountur 2008).

PROSES OUTPUT

Daftar Risiko

Expected Return

StrategiPengelolaan Risiko

Keterangan : garis proses garis output

Konsep Penanganan Risiko

Menurut Kountur (2008) berdasarkan hasil dari penilaian risiko dapat diketahui stategi penanganan risiko seperti apa yang tepat untuk dilaksanakan. Ada dua strategi penanganan risiko, yaitu :

1. Preventif

Strategi preventif merupakan strategi menghindari terjadinya risiko. Strategi ini dilakukan apabila probabilitas risiko besar. Strategi preventif dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya :

Evaluasi

Penanganan Risiko Pengukuran Risiko Identifikasi Risiko

(24)

a) Membuat atau memperbaiki sistem dan prosedur b) Mengembangkan sumber daya manusia

c) Memasang atau memperbaiki fasilitas fisik 2. Mitigasi

Strategi ini dimaksudkan untuk memperkecil dampak yang ditimbulkan oleh risiko. Strategi mitigasi ini dilakukan untuk menangani risiko yang memiliki dampak yang sangat besar. Adapun beberapa cara yang termasuk ke dalam strategi ini adalah sebagai berikut :

a) Diversifikasi

Cara diversifikasi yaitu dengan menempatkan komoditi atau harta dibeberapa tempat sehingga jika salah satu terkena musibah maka tidak akan menghabiskan semua komoditi yang ada. strategi ini merupakan salah satu strategi yang paling efektif dalam mengurangi dampak risiko. b) Penggabungan

Cara ini merupakan salah satu menanggulangi risiko dengan cara melakukan kegiatan penggabungan dengan perusaan lain. Sebagai contoh adalah kegiatan merger atau akuisisi.

c) Risiko

Cara ini dikenal juga dengan istilah transfer of risk yaitu merupakan cara penanganan risiko dengan mengalihkan dampak risiko ke pihak lain. Sebagai contoh perusahaan melakukan kegiatan asuransi kepada semua asset agar resiko yang diterima bisa di alihkan ke jasa asuransi. Dan contoh lainnya melakukan leasing, autsourcing, dan hedging.

Loss Postharvest (Kehilangan Hasil Pasca panen)

Pasca panen merupakan salah satu kegiatan yang berada di subsistem hulu pada sistem agribisnis. Kegiatan pasca panen ini sangat penting karena proses nilai tambah dan kualitas mutu komoditas ada pada proses ini. Sehingga penanganan yang tepat sangat dibutuhkan pada kegiatan pasca panen. menurut spurgeon (1976) sistem pasca panen meliputi dari pasca pemanenan hasil, pengiriman, waktu serta tempat komoditi yang dihasilkan hingga ke proses akhir dengan kerugian yang minimum, efisiensi yang maksimal serta memaksimalkan keuntungan dari rantai yang terlibat.

Sistem pasca panen meliputi serangkaian aktivitas yang dapat dibedakan menjadi dua yaitu dari kegiatan teknis dan kegiatan ekonomis. Dari kegiatan teknis pasca panen meliputi pemanenan, pengeringan, perontokan, pembersihan, pengeringan tambahan, penyimpanan dan pengolahan. Sedangkan untuk kegiatan ekonomis meliputi transportasi, pemasaran, kontrol kualitas, gizi, penyuluhan dan informasi, administrasi serta manajemen. Namun yang menjadi elemen utama dalam sistem pasca panen yaitu berupa pemanenan, pengeringan, transportasi/pengangkutan, pengumpulan, penyimpanan, proses pengolahan dan pemasaran (Grolleaud 2002).

(25)

mandiri secara berabad-abad harus mengalami kerugian makanan (hasil) 20 persen atau lebih (Ceres 1982). Kehilangan hasil panen tidak hanya berdampak pada keadaan kuantitas atau fisik hasil tanaman (produksi) semata, namun berdampak pada kerugian tenaga kerja, lingkungan, sumberdaya dan sebagainya yang dibutuhkan untuk memproduksi komoditas tersebut. Jika kehilangan hasil pasca panen mencapai 30 persen maka 30 persen dari semua faktor yang berkontribusi untuk memproduksi tanaman juga terbuang (Ceres 1998)

Kebanyakan petani yang berada di Negara berkembang memiliki kendala berupa keterbatasan sumber daya khususnya keterbatasan dalam finansial dan teknologi sehingga kehilangan hasil pasca panen masih sangat rentan. Apalagi bagi petani kecil yang bergantung pada sektor pertanian. Kebanyakan kehilangan hasil produksi disebabkan oleh hasil produksi yang kelewat matang, kerusakan pada saat pemanenan, pembusukan dan kerusakan fisik yang dialami ketika proses pengangkutan, pengemasan dan pengemasan (Acedo & Weinberger 2006).

Berdasarkan data di atas, penanganan pasca panen yang sesuai dengan standar sangat penting dilakukan agar dapat mengurangi kerugian yang diterima oleh petani apalagi di Negara berkembang seperti Indonesia ini.

Dalam jurnal publikasi FAO karangan Michel Grolleaud (2002) kerugian pada pertanian terdapat perbedaan dari segi kualitas dan kuantitas. Kerugian kuantitatif yaitu kerugian dalam hal substansi fisik baik kehilangan volume, berat, dan sesuatu yang dapat di ukur. Sedangkan kerugian kualitatif adalah kerugian yang berhubungan nilai makanan atau nilai hasil produksi yang membutuhkan berbagai jenis evaluasi.

Ada berbagai teknologi pasca panen yang dapat di adopsi untuk meminimalisasi kerugian yang ditimbulkan dari kehilangan hasil produksi pasca panen. seperti penanganan pra-panen, pendinginan, teknologi transportasi, penyimpanan, dan penanganan area pasar. teknologi yang direkomendasikan tergantung pada jenis kerugian yang dialami pada kondisi tanaman. Contoh teknologi yang bisa diterapkan adalah penyortiran produk sesuai dengan kualitas, pengendalian serangga, memberikan perlindungan dari sinar matahari langsung (tenda dan alat teduh lainnya), tempat pendinginan, pengendalian suhu, transportasi yang aman dan lebih efisien dalam pengangkutan (Kader 2003).

Kerangka Pemikiran Operasional

(26)

Sumber-sumber risiko pasca panen yang menyebabkan hilangnya hasil produksi tersebut tersebar disetiap tahap pasca panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Desa Tanah Datar. Sumber – sumber risiko pasca panen yang tersebar di setiap tahap pasca panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit diperoleh dan dijelaskan dengan cara analisis deskriptif melalui wawancara dengan petani kelapa sawit di Desa Tanah Datar, karyawan yang bertugas di pabrik kelapa sawit (PKS) terkait serta observasi dan pengamatan langsung ke lahan perkebunan kelapa sawit di Desa Tanah Datar maupun tempat sortasi TBS yang ada di pabrik kelapa sawit (PKS).

Setelah mengetahui permasalahan yang ada, langkah selanjutnya adalah menggambarkan kehilangan risiko yang terdapat pada setiap post yang dilalui oleh TBS mulai dari di petani sampai ke tempat pengolahan akhir (pabrik) dengan menunjukkan seberapa besar persentase losses di setiap tahap pasca panen.

Dari risiko pasca panen tersebut memiliki dampak kerugian, dimana losses

TBS yang ada di setiap tahap proses pasca panen memiliki dampak kerugian berupa berkurang nya hasil produksi yang dikonversi kedalam bentuk rupiah (pendapatan). Sehingga dari seluruh kerugian yang ada di setiap tahap pasca panen tersebut akan ditotal menjadi besar dampak kerugian loss post-harvest

tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Desa Tanah Datar. Selain itu, kemungkinan kejadian (probabilitas) losses TBS yang ada di setiap tahap pasca panen dapat dihitung melalui perhitungan metode nilai standar (z-score). Sehingga dari nilai z-score yang diketahui dan nilai besar nya dampak kerugian yang ditimbulkan di setiap tahap pasca panen TBS akan menunjukkan status risiko. Dalam hal ini status risiko yang ditampilkan adalah status loss post-harvest yang ada di setiap tahap pasca panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kemudian digambarkan kedalam peta risiko yang menunjukkan probabilitas dan dampak yang dihasilkan termasuk kategori besar atau kecil.

Setelah mengetahui status loss post-harvest dan digambarkan ke dalam peta risiko, langkah selanjutnya adalah mengrekomendasikan penanganan risiko yang dapat diterapkan bagi petani kelapa sawit di Desa Tanah Datar dalam menanggulangi hilangnya hasil produksi di setiap tahap pasca panen TBS. adapun penangan risiko bersifat preventif dan mitigasi. Prefentif merupakan penanganan yang dimaksudkan agar probabilitas losses TBS di setiap tahap pasca panen menjadi lebih kecil. Begitu juga dengan penanganan dengan cara mitigasi, dimana penanganan ini dimaksudkan agar dampak kerugian yang ditimbulkan oleh loss post-harvest di setiap tahap pasca panen menjadi lebih kecil. Adapun kerangka operasional penelitian ini, dapat dijelaskan pada Gambar 4.

(27)

Keterangan : --- Cakupan penelitian Sumber-sumber

risiko pasca panen Kelapa sawit :

 Waktu panen

 SDM proses pasca panen

 Kebersihan lahan

 Kebersihan TPH

 Ukuran TPH

 Tangkai janjang

 Rendemen Pabrik

Perbedaan Jumlah produksi tandan buah segar (TBS) disetiap tahap pasca panen

Adanya risiko pasca panen yaitu kehilangan hasil produksi (loss post-harvest)

TBS disetiap tahap yang dilalui

Tahap Pasca panen

Lahan Pengecekan TBS mentah

TPH

Pabrik Transportasi ke Pabrik Dampak

Kerugian

Probabilitas (kemungkinan

kejadian)

Pemetaan dan Status Risiko

Rekomendasi Strategi Penanganan

(28)

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di perkebunan kelapa sawit yang berada di Provinsi Riau tepatnya petani kelapa sawit yang berada di Desa Tanah Datar Kecamatan Kunto Darussalam Kabupaten Rokan Hulu. Pemilihan lokasi penelilitian dilakukan secara sengaja (Purposive) dengan mempertimbangkan bahwa Desa Tanah Datar merupakan salah satu sentra Penghasil TBS yang ada di Kabupaten Rokan Hulu. Adapun waktu pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2013.

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung, pencatatan, dan wawancara langsung dengan 30 (tiga puluh) petani perkebunan kelapa sawit yang ada di Desa Tanah Datar untuk mengetahui jumlah produksi, risiko kehilangan pasca panen yang dihadapi oleh petani serta upaya-upaya yang telah dilakukan untuk menanggulangi sumber risiko tersebut. Selain dengan petani, pengamatan serta wawancara langsung dilakukan kepada lembaga terkait seperti perusahaan pengolah hasil produksi kelapa sawit (TBS) yaitu pabrik kelapa sawit (PKS) PTPN V Sei Intan.

Data sekunder diperoleh melalui data yang ada pada organisasi kelompok tani disetiap blok kelapa sawit Desa Tanah Datar berupa produksi yang dihasilkan setiap bulannya selama satu tahun (tahun 2012) dan perusahaan pengolah kelapa sawit (dalam hal ini PTPN V Kebun Sei Intan) yang ada di Desa Tanah Datar berupa data potongan tandan buah segar (TBS) yang diberikan kepada petani di Desa Tanah Datar, data harga yang berlaku dan jumlah pasokan Tandan Buah Segar (TBS). Data lain yang mendukung dalam penelitian ini adalah data dari BPS kabupaten Rokan Hulu, BPS Provinsi Riau, Departemen Pertanian Provinsi maupun Kabupaten, serta literatur dan jurnal-jurnal pertanian yang berhubungan dengan penelitian ini

Metode Pengumpulan Data

(29)

Pengambilan sampel sebanyak 30 petani juga dimaksudkan agar dapat menggambarkan keseluruhan perkebunan kelapa sawit yang ada di Desa Tanah Datar Secara ringkas akan dijelaskan dalam tabel berikut:

Tabel 4 Metode Pengambilan Data No Responden Jumlah

(30)

Analisis deskriptif dilakukan berdasarkan penilaian objektif yang ada pada aktivitas pemanenan, teknik panen, serta kegiatan pasca panen selanjutnya hingga tandan buah segar (TBS) menuju ke tempat pengolahan akhir (pabrik).

Pengukuran Kemungkinan Terjadinya Risiko

Risiko dapat diukur jika diketahui kemungkinan terjadinya risiko dan besarnya dampak risiko terhadap perusahaan. Ukuran pertama dari risiko adalah besarnya kemungkinan terjadinya yang mengacu pada seberapa besar probabilitas risiko akan terjadi. Metode yang digunakan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya risiko adalah metode nilai standar atau z-score. Metode ini dapat digunakan apabila ada data historis dan berbentuk kontinus. Pada penelitian kali ini, data yang digunakan adalah data hasil produksi tandan buah segar (TBS) petani kelapa sawit perbulan yaitu pada bulan Januari sampai Desember tahun 2012. menurut Kountur (2008), langkah yang perlu dilakukan untuk melakukan perhitungan kemungkinan terjadinya risiko menggunakan metode ini dan di aplikasikan pada kehilangan hasil yang terjadi pada tandan buah segar (TBS) kelapa sawit adalah :

1. Menghitung rata-rata kejadian berisiko (kehilangan tandan buah segar) Rumus yang digunakan adalah :

� = ��

� �=1

Dimana :

� = Rata-rata dari kejadian risiko pasca panen (lost post-harvest) xi= Nilai per periode kajadian berisiko (selama 12 bulan)

n = Jumlah data (12 bulan)

2. Menghitung nilai standar deviasi dari kejadian berisiko Menggunakan rumus :

� = (��− � ) 2

� �=1

� −1

Dimana :

S = Standar Deviasi dari kejadian berisiko xi= Nilai per periode kejadian berisiko n = Jumlah data (12 bulan)

3. Menghitung z-score

Menggunakan rumus :

�= � − �

Dimana :

z = Nilai z-score dari kejadian risiko

(31)

Gambar 5 Peta risiko Sumber : Kountur (2008)

jika hasil z-score yang diperoleh bernilai negatif, maka nilai tersebut berada di sebelah kiri nilai rata-rata pada kurva distribusi normal dan sebaliknya jika nilai z=score positif, maka nilai tersebut berada di sebelah kanan kurva distribusi z (normal).

4. Mencari probabilitas terjadinya risiko produksi

Probabilitas diperoleh dari tabel distribusi z. Cari nilai z pada sisi kiri dan bagian atas, pertemuan antara nilai z pada isi tabel merupakan probabilitas. Sehinga dapat diketahui berapa persen kemungkinan terjadinya keadaan dimana produksi TBS mendatangkan kerugian.

Analisis Dampak Risiko

Metode yang paling efektif digunakan dalam mengukur dampak risiko adalah VaR (Value at Risk). VaR adalah kerugian terbesar yang mungkin terjadi dalam rentang waktu tertentu yang diprediksikan dengan tingkat kepercayaan tertentu. Penggunaan VaR dalam mengukur dampak risiko hanya dapat dilakukan apabila terdapat data historis sebelumnya. Analisis ini dilakukan untuk mengukur dampak dari risiko pasca panen berupa kehilangan hasil dari tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :

���=� +� ( �

�)

Dimana :

VaR = Dampak kerugian yang ditimbulkan oleh kejadian berisiko � = Nilai rata-rata kerugian (kehilangan hasil)

z = Nilai z-score

s = Standar deviasi kerugian akibat kejadian berisiko n = Banyaknya kejadian berisiko

Status dan Pemetaan Risiko

Menurut (Kountur 2008), sebelum dapat menangani risiko, hal pertama yang dilakukan adalah membuat peta risiko. Peta risiko adalah gambaran mengenai posisi risiko pada suatu peta dari dua sumbu, yaitu sumbu vertikal yang menggambarkan probabilitas dan sumbu horizontal yang menggambarkan dampak, ataupun sebaliknya. Contoh layout peta risiko dapat dilihat pada Gambar 5.

Probabilitas (%)

Besar

Kecil

Dampak (Rp)

Kecil Besar

Kuadran 1 Kuadran 2

(32)

Probabilitas atau kemungkinan terjadinya risiko dibagi menjadi dua bagian, yaitu besar dan kecil. Dampak risiko juga dibagi menjadi dua bagian, yaitu besar dan kecil. Batas antara probabilitas atau kemungkinan besar dan kecil ditentukan oleh manajemen, tetapi pada umumnya risiko yang probabilitasnya diatas 20 persen atau lebih dianggap sebagai kemungkinan besar, sedangkan dibawah 20 persen dianggap sebagai kemungkinan kecil (Kountur 2008).

Penempatan risiko pata peta risiko didasarkan atas perkiraan posisinya berada dimana dari hasil perhitungan probabilitas dan dampak. Untuk mengetahui posisi yang sebenarnya, maka perlu dihitung status risiko nya (Kountur 2008).

Status Risiko diperoleh dari hasil perkalian antara probabilitas dan dampak. Dari status risiko tersebut akan diketahui mana risiko – risiko yang paling besar dan seterusnya sampai yang paling kecil. Status risiko hanya menggambarkan urutan risiko dari yang paling berisiko sampai dengan yang paling tidak berisiko.

Penanganan Risiko

berdasarkan hasil pemetaan risiko, maka selanjutnya dapat ditetapkan strategi penanganan risiko yang sesuai. Terdapat dua strategi yang dapat dilakukan untuk menangani risiko, yaitu :

Probabilitas (%)

Besar

Kecil

Dampak (Rp)

Kecil Besar

Keterangan : Preventif, Mitigasi

1. Penghindaran risiko (Preventif)

Strategi preventif dilakukan untuk risiko yang tergolong dalam probabilitas risiko yang besar. Strategi preventif akan menangani risiko yang berada pada kuadran 1 dan 2. Penanganan risiko dengan menggunakan strategi preventif akan membuat risiko yang ada pada kuadran 1 bergeser menuju kuadran 3 dan risiko yang berada pada kuadran 2 akan bergeser menuju kuadran 4 (Kountur 2008). Penanganan risiko menggunakan strategi preventif dapat dilihat pada Gambar 6.

Kuadran 1 Kuadran 2

Kuadran 3 Kuadran 4

(33)

2. Mitasi risiko

Strategi mitigasi digunakan untuk meminimalkan dampak risiko yang terjadi. Penanganan mitigasi ini bertujuan agar risiko yang memiliki dampak yang besar akan berkurang menjadi lebih kecil. Strategi mitigasi akan menangani risiko sedemikian rupa sehingga risiko yang berada pada kuadran 2 bergeser ke kuadran 1 dan risiko yang berada pada kuadran 4 bergeser ke kuadran 3. Strategi mitigasi dapat dilakukan dengan metode diversifikasi, penggabungan, dan pengalihan risiko (Kountur 2008). Mitigasi risiko dapat dilihat pada Gambar 6.

Pengukuran Kehilangan Hasil TBS

Pengukuran kehilangan hasil TBS ini dihitung sesuai dengan alur yang dilewati oleh TBS dari petani hingga ke tempat pengolahan akhir (pabrik). Pengukuran ini akan menggambarkan seberapa besar kehilangan tandan buah segar (TBS) di setiap alur yang dilewatinya dengan menggunakan rumus berdasarkan referensi jurnal ilmiah Nugraha et al. (2007) yaitu besarnya kehilangan ketika pemanenan adalah sebagai berikut :

KHPP = G1

G1 + G2 x 100%

Dimana :

KHPP = Kehilangan hasil pada saat panen (%)

G1 = Berat berondolan atau buah yang tercecer pada saat pemanenan G2 = Berat TBS yang dipanen

Ketika selesai pemanenan, biasanya TBS akan diangkut menuju ke tempat berikutnya dan akan dikumpulkan di suatu tempat agar bisa diangkut dengan hasil produksi TBS petani lainnya. Maka dengan kata lain, TBS akan menuju ketempat kedua, dimana TBS akan di angkut dan disimpan dan biasanya TBS tersebut dikumpulkan dan dingkut keesokan harinya. Berat TBS ketika diangkut ke tempat lain dan diangkut kembali akan ada perbedaan berat dari total TBS yang dibawa karena terdapat brondolan atau buah kecil yang tidak terangkut. Maka rumus yang digunakan untuk menghitung tingkat kehilangan ketika pengangkutan berdasarkan referensi jurnal ilmiah Enobakhare and Law-Ogbomo (2002) yaitu :

Wt. loss =(Wi−Wf)

Wi x 100%

Dimana:

Wt.loss = Jumlah yang hilang (%)

Wi = Berat awal sebelum di angkut (kg) Wf = Berat setelah di angkut (kg)

(34)

TR = P x Q Dimana :

TR = Total Revenue dari brondolan yang hilang (Rp) P = harga kelapa sawit per kg

Q = jumlah brondolan atau TBS yang hilang (kg)

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Tanah Datar, Kecamatan Kunto Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Desa Tanah Datar Memiliki potensi yang baik untuk ditanami tanaman perkebunan, khususnya tanaman kelapa sawit yang memiliki produktivitas yang tinggi. Kecamatan Kunto Darussalam memiliki 12 Desa diantaranya Desa Kota Intan, Desa Kota Raya, Desa Koto Baru, Desa Pasir Luhur, Desa Pasir Indah, Desa Sei Kuti, Desa Tanah Datar, Desa Intan Jaya, Desa Muara Intan, Desa Bukit Intan Makmur, Desa Bagan Tujuh dan Desa Kota Lama. Secara administratif, Kecamatan Kunto Darussalam berbatasan dengan :

Sebelah utara : Kecamatan Bonai Darussalam Sebelah selatan : Kecamatan Tandun

Sebelah timur : Kecamatan Sinamanenek Sebelah barat : Kecamatan Pagaran Tapah

Desa Tanah Datar yang memiliki luas 20 065 Ha ini merupakan Desa yang terletak di daerah paling ujung di kecamatan Kunto Darussalam dengan wilayah yang cukup datar dibanding Desa lainnya. Secara administrative, wilayah Desa Tanah Datar berbatasan dengan :

Sebelah utara : PT Sumber Jaya Indonesia Sebelah selatan : Desa Kepanasan

Sebelah Timur : Desa Intan Jaya Sebelah Barat : PT SIP

(35)

Tabel 5 Tabel data potensi Desa Tanah Datar tahun 2012a

Sumber: Monografis Desa Tanah Datar tahun 2012. ;bDalam hektar (Ha)

Tanaman Perkebunan kelapa sawit di Desa Tanah Datar pertama kali ditanam serentak seluruh Desa Tanah Datar pada tahun 1989/1990 sehingga umur tanam kelapa sawit di Desa Tanah Datar adalah 24/23 tahun. Walaupun memiliki umur yang tidak ekonomis lagi (diatas 23 tahun) namun produksi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Desa Tanah Datar bisa dibilang masih konsisten bahkan produksi perbulannya masih diatas jumlah rata-rata normal produksi perbulan. (diatas 4000 kg perbulan)

Jarak lokasi penelitian dengan pemerintahan Kecamatan Kunto Darussalam sekitar 12 km dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor selama ± 45 menit. Kondisi jalan menuju lokasi penelitian cukup bagus dan cukup besar bahkan ketika memasuki wilayah Desa jalan utama nya sudah berbentuk aspal yang panjangnya ± 3 km sehingga memudahkan akses untuk menuju ke tempat lokasi penelitian. Jalan yang di tempuh menuju ke Desa Tanah Datar melewati jalan utama menuju perkebunan – perkebuna swasta maupun perkebunan BUMN sehingga kondisi jalan cukup bagus walaupun ketika musim penghujan datang akan mempengaruhi kondisi jalan seperti jalan menjadi berlubang dan berlumpur namun masih dapat di akses menuju ke lokasi penelitian. Adapun kendaraan yang banyak digunakan oleh masyarakat Desa Tanah Datar adalah sepeda motor, mobil truk / dump truck, dan mobil pribadi lainnya.

Desa Tanah Datar merupakan Desa dengan populasi penduduk yang dibilang cukup sedikit. Tabel 5 memperlihatkan bahwa jumlah penduduk Desa Tanah Datar tahun 2012 adalah sebanyak 1568 jiwa yang terdiri atas laki-laki sebanyak 803 orang (51.21 persen) dan perempuan sebanyak 765 orang (48.79 persen).

Tabel 6 Jumlah penduduk Desa Tanah Datar tahun 2012a

Kategori Jumlah (orang) Persentase (%)

Laki-laki 803 51.21

Perempuan 765 48.79

Total laki-laki dan perempuan 1568 100.00

a

(36)

Penduduk Desa Tanah Datar sebahagian besar memiliki mata pencaharian sebagai petani maupun buruh tani (pemanen) di sub-sektor perkebunan yaitu perkebunan kelapa sawit. walaupun data mengenai jumlah penduduk Desa berbasarkan pencaharian tidak di temukan di administrasi Desa, jumlah penduduk yang bekerja sebagai petani kelapa sawit sebanyak 90% dan sisanya bekerja sebagai buruh tani atau disebut juga dengan pemanen sawit. informasi ini diambil berdasarkan wawancara yang dilakukan kepada kepala Desa dan Penyuluh Praktek Lapang (PPL) setempat pada bulan Maret tahun 2012.

Tingginya profesi petani kelapa sawit pada masyarakat di Desa Tanah Datar disebabkan karena tradisi yang diteruskan oleh keluarga sebagai petani kelapa sawit dan pada umumnya petani di Desa Tanah Datar memiliki kepemilikan lahan minimal 2 hektar (1 kapling). Sehingga banyak pemuda yang ada di Desa memutuskan untuk meneruskan usaha keluarga dan bahkan menjadi pemanen kelapa sawit. selain itu lemahnya kepedulian terhadap pendidikan juga menjadi faktor utama tingginya profesi petani di Desa Tanah Datar.

Kegiatan organisasi kelompok tani di Desa Tanah Datar sudah baik dan teratur. Gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Desa tanah datar sudah memiliki struktur organisasi yang baik dan manajemen keanggotaan yang cukup mapan sehingga kegiatan rutin bulanan maupun tahunan selalu terlaksana. Dari segi lembaga penunjang agribisnis, di Desa Tanah Datar memiliki satu koperasi yang menaungi seluruh kelompok tani yang ada di Desa Tanah Datar yaitu koperasi Sawitra. Koperasi Sawitra sendiri merupakan salah satu mitra dari PTPN V kebun Sei Intan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Risiko Pasca panen

Petani perkebunan kelapa sawit di Desa Tanah Datar dalam menjalankan kegiatannya, mengalami beberapa risiko. Salah satunya adalah risiko dalam penanganan pasca panen TBS dari proses pemanenan hingga berada di tempat pengolahan akhir (pabrik). Kegiatan pasca panen kelapa sawit merupakan salah satu kegiatan yang sangat mempengaruhi keadaan atau kondisi produksi TBS. Pada penanganan panen tanaman kelapa sawit memiliki beberapa tahap yang dilalui hingga sampai ke tempat pengolahan akhir TBS (Pabrik). Dari semua tahap yang dilalui, terdapat beberapa tempat atau rantai yang menimbulkan kehilangan (loss post-harvest) dari produksi TBS yang berbentuk brondolan maupun TBS mentah yang terpanen.

(37)

Proses pasca panen tandan buah segar kelapa sawit di Desa Tanah Datar adalah melalui beberapa tahap. Tahap pertama adalah tahap pemanenan buah kelapa sawit yang berbentuk tandan buah segar (TBS). Pemanenan tersebut dilakukan oleh pemanen kelapa sawit maupun petani itu sendiri. Tahap kedua adalah pengangkutan TBS yang telah jatuh di area lingkaran pohon atau disekitar lahan sawit menuju ke tempat pengumpul hasil (TPH) dengan menggunakan alat sorongan atau angkong. Tahap ketiga adalah proses pengecekan TBS yang telah dipanen sebelum disusun ke TPH. Biasanya pada tahap ini akan terlihat TBS mentah yang terpanen oleh pemanen kelapa sawit. Tahap keempat adalah proses penimbangan, dimana TBS yang telah disusun di TPH akan ditimbang dan diangkut menuju mobil angkutan sawit atau truck. Tahap kelima, TBS yang berada di truck kemudian dibawa ke tempat pengolahan atau pabrik kelapa sawit (PKS). Tahap keenam atau tahap terakhir adalah TBS yang dibawa ke pabrik akan diseleksi di tempat sortasi. Proses sortasi ini dilakukan oleh karyawan pabrik yang bertugas menyeleksi TBS sehingga akan diperoleh TBS bersih yang didapat oleh petani. Berdasarkan uraian tahap tersebut diperoleh bahwa tempat yang dilalui TBS di Desa Tanah Datar pasca pemanenan adalah lahan sawit (piringan), tempat pengumpul hasil (TPH), transpotrasi (mobil angkutan/truck) dan pabrik (sortasi pabrik).

Kehilangan hasil produksi yang terjadi di mobil angkutan TBS atau truck,

berdasarkan pengamatan dan wawancara terhadap sopir mobil truck di Desa Tanah Datar diperoleh kehilangan produksi yang terjadi relatif sangat kecil dan bisa dianggap nol (tidak ada). Kapasitas rata-rata TBS yang diangkut oleh truck

adalah 7 sampai 8 ton dan hanya terdapat maksimal 10 butir buah kelapa sawit (brondolan) yang tertinggal di bak truck, bahkan ada truck yang brondolan nya tidak tertinggal sama sekali. Maka berdasarkan pengamatan tersebut, kehilangan (losses) pada transportasi TBS di Desa Tanah Datar dianggap tidak ada.

Berdasarkan pengamatan di lapang, loss post-harvest TBS kelapa sawit di Desa Tanah Datar terdapat di lahan, TPH (pengecekan TBS mentah dan brondolan tertinggal) dan sortasi pabrik. Dari ketiga tempat tersebut terdapat beberapa sumber risiko yang mengakibatkan hilangnya hasil produksi tandan buah segar (TBS).

Kehilangan Hasil Produksi di Lahan

(38)

Petani perkebunan kelapa sawit di Desa Tanah Datar pada umumnya memanen buah kelapa sawit dengan menggunakan alat yang biasa digunakan oleh pemanen secara umum yaitu egrek karena tanaman kelapa sawit di Desa Tanah Datar sudah cukup tinggi. Salah satu yang membedakan proses pemanenan di Desa Tanah Datar adalah pemanen tidak menggunakan prinsip rotasi panen. pemanen memilih buah yang dipanen berdasarkan pengamatan dan feeling

(kebiasaan). Pengamatan disini berarti bahwa setiap pemanen melakukan pemanenan dengan pengamatan langsung di lapang ketika panen, tanpa adanya perhitungan atau taksasi terlebih dahulu. Maka hasil panen bisa maksimal jika si pemanen mampu melihat buah matang secara maksimal. Sebaliknya, jika pemanen kurang maksimal dalam penglihatan buah matang maka akan menimbulkan losses yaitu TBS matang tertinggal di pohon. Akibatnya, buah yang seharusnya dipanen tidak dipanen oleh pemanen dan akan dipanen pada periode panen berikutnya sehingga buah kelapa sawit akan membrondol. Selain buah matang yang tertinggal dipohon, hilangnya hasil panen TBS disebabkan oleh buah mentah yang terpanen oleh pemanen. Padahal buah tersebut seharusnya dipanen pada periode panen berikutnya. TBS mentah ini akan terdeteksi oleh petugas yang akan menimbang hasil produksi ketika TBS berada ditempat pengumpul hasil (TPH).

Berdasarkan observasi langsung di lapang dan wawancara kepada petani di Desa Tanah Datar, diketahui bahwa kehilangan produksi TBS yang terjadi di lahan kelapa sawit adalah berbentuk brondolan yang terlepas dari janjang (tandan sawit) dan TBS mentah yang terpanen oleh pemanen. Sumber hilangnya brondolan TBS yang ada di area lahan petani disebabkan oleh beberapa sumber, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Waktu panen

TBS yang matang ditandai dengan membrondolnya buah sawit sebanyak 2 butir per kilogram TBS (Pahan 2006) jika tidak dipanen maka akan meningkatkan persentasi brondol sampai TBS berbentuk janjang kosong dan menjadi kehilangan hasil produksi TBS (losses).

Siklus panen kelapa sawit di Desa Tanah Datar dilakukan dua kali selama satu bulan. Selang waktu panen pertama ke panen berikutnya adalah selama 14 hari, namun terkadang tidak untuk kondisi penghujan atau pada masa panen puncak. Pada umumnya selang waktu panen pertama ke panen berikutnya bisa lebih dari 14 hari bahkan ada yang kurang dari 14 hari.

Kejadian panen yang lebih dari 14 hari disebabkan karena jalanan rusak / becek akibat air hujan yang menggenangi jalan sehingga TBS yang akan dipanen sulit untuk dibawa keluar dari lahan perkebunan dan kegiatan panen terganggu. Alhasil buah matang yang tidak dipanen akan meningkatkan persentasi brondolan buah kelapa sawit. Selain itu, pada musim panen puncak TBS matang yang berada dipohon sudah terlalu banyak sehingga waktu pelaksanaan panen dipercepat dari waktu panen sebelumnya.

2. Teknik pemanenan dan SDM panen

Gambar

Tabel 1  Jumlah petani dan tenaga kerja (KK+TK) pada subsektor unggulan perkebunan Nasional 2010a
Tabel 2  Nilai ekspor komoditi perkebunan Indonesia 2010a
Tabel 3  Luas perkebunan kelapa sawit dan produksi CPO pada tahun 2010a
Gambar 4  Kerangka pemikiran operasional
+7

Referensi

Dokumen terkait

Teknik konservasi air dengan cara membuat rorak pada lahan perkebunan kelapa sawit tidak hanya dapat meningkatkan ketersediaan air dalam tanah tetapi juga mampu

Judul yang dipilih dalam magang yang dilaksanakan dari bulan Februari hingga bulan Juni 2015 adalah Manajemen Panen dan Sistem Pengangkutan Tandan Buah Segar Kelapa Sawit (

Permasalahan dalam penelitian ini adalah “Apakah biaya produksi dan harga jual tandan buah segar (TBS) berpengaruh signifikan terhadap pendapatan petani kelapa

perkebunan kelapa sawit dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, perlu dikaji distribusi pendapatan yang diterima masyarakat pada sektor perkebunan.. tersebut, terutama

Salah satu kerugian yang diterima dari pasca panen kelapa sawit adalah kehilangan hasil Tandan Buah Segar (TBS) dari setiap rantai yang dilalui sampai ke pengolahan

Dari beberapa peristiwa di atas, maka penulis sangat tertarik untuk meneliti lebih lebih jauh tentang, bagaiman pelaksanaan praktek potongan jual beli kelapa

Teknik konservasi air dengan cara membuat rorak pada lahan perkebunan kelapa sawit tidak hanya dapat meningkatkan ketersediaan air dalam tanah tetapi juga mampu