Analisis Lembaga, Fungsi, dan Saluran Tataniaga
Analisis terhadap lembaga tataniaga dapat menjelaskan lembaga-lembaga tataniaga yang terlibat dalam distribusi hasil penen kedelai petani responden, fungsi dari setiap lembaga yang terlibat, dan penjelasan tentang saluran tataniaga yang terjadi diantara lembaga tataniaga kedelai yang terlibat hingga ke konsumen akhir.
Analisis Lembaga Tatatniaga
Proses pendistribusian kedelai dari petani sebagai produsen primer hingga sampai ke sebagai konsumen akhir melibatkan beberapa lembaga tataniaga. Lembaga tataniga yang terlibat didalam pendistribusian kedelai dari petani responden Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut diantaranya; pedagang pengumpul kecil dan pedagang pengumpul besar.
a. Pedagang pengumpul kecil
Pedagang pengumpul kecil dalam penelitian ini adalah lembaga tataniaga berada di tingkat desa dan melakukan kegiatan pembelian kedelai dari petani kemudian melakukan penjualan kedelai ke lembaga tataniga berikutnya. Pedagang pngumpul kecil yang menjadi responden berjumlah 3 orang, 2 orang diantaranya selain menjadi pengumpul yang sifatnya musiman juga sebagai petani kedelai sedangkan 1 diantaranya sepenuhnya berprofesi sebagai pedagang pengumpul kecil sepenuhnya.
b. Pedagang pengumpul besar
Pedagang pengumpul besar dalam penelitian ini adalah lembaga tataniaga yang melakukan pembelian kedelai dari pedagang pengumpul kecil dan petani kemudian menjualnya ke industri tahu-tempe atau konsumen akhir. Pada umumnya skala pembelian atau penjualan yang dilakukan dalam jumlah besar (minimal 1 kwintal per transaksi). Pengumpul besar yang menjadi responden tidak hanya menampung hasil panen petani kedelai Kabupaten Garut tetapi mereka juga melakukakn pembelian kedelai impor dari agen yang ada di Jakarta untuk memenuhi permintaan industri tahu-tempe yang ada di Kabupaten Garut.
Analisis Saluran Tataniaga
Saluran tataniaga terbentuk akibat dari interaksi dan transaksi antar lembaga tataniga kedelai dengan masing-masing fungsinya dan dengan tujuan utama pendistribusian kedelai sampai ke konsumen akhir. Bentuk saluran tataniga akan menggambarkan secara umum proses pendistribusian kedelai dari petani hingga ke konsumen akhir. Berdasarkan identifikasi pola saluran tataniaga kedelai dari petani responden Kecamatan Banyuresmi hingga ke konsumen akhir terbagi menjadi lima pola saluran, diantaranya:
44
Saluran I : Petani Pedagang Pengumpul Kecil Pedagang Pengumpul Besar Konsumen Akhir (Industri Tahu-Tempe)
Saluran II : Petani Pedagang Pengumpul Besar Konsumen Akhir (Industri Tempe-Tempe)
Saluran III: Petani Pedagang Pengumpul Besar Konsumen Akhir (Petani) Saluran IV: Petani Konsumen Akhir (Petani)
Saluran V : Petani Konsumen Akhir ((Unit Pertanian Terpadu Daerah (UPTD)). Berdasarkan pemanfaatan akhir dari kedelai saluran I sampai saluran V dikelompokan menjadi dua kelompok saluran yaitu saluran I dan II adalah saluran yang mendistribusikan kedelai untuk dikonsumsi, sedangkan saluran III, IV, dan V adalah saluran yang mendistribusikan kedelai untuk dijadikan benih oleh petani. Saluran tataniaga I
Saluran I dari aktivitas tataniaga dan pendistribusian kedelai di Kabupaten Garut adalah kedelai dari petani didistribusikan ke pedagang pengumpul kecil selanjutnya ke didistribusikan ke pedagang pengumpul besar selanjutnya didistribusikan ke industri tahu serta tempe sebagai konsumen akhir. Pada saluran I jumlah lembaga tataniaga yang terlibat dalam pendistribusian kedelai dari petani hingga ke konsumen akhir cukup banyak jika dibandingkan dengan saluran yang lain. jumlah lembaga tataniaga yang terlibat sebanyak dua lembaga diantaranya pedagang pengumpul kecil dan pedagang pengumpul besar. Harga jual per kilogram kedelai ditingkat petani adalah Rp 7000, harga jual ditingkat pedagang pengumpul kecil Rp 8.000, harga jual ditingkat pedagang pengumpul besar Rp 8800, dan harga beli ditingkat industri tahu-tempe Rp 8800. Volume pendistribusian kedelai pada saluran I sebanyak 2050 (6.21 persen) kg biji kedelai dengan jumlah petani yang memilih saluran I sebanyak 8 petani kedelai (26.67 persen) di Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut. Sebagian besar petani pada saluran I adalah petani gurem dengan produksi kedelai rata-rata 50 Kg sampai 400 Kg sehingga mereka lebih memilih menjual ke pedagang pengumpul kecil yang lokasinya lebih dekat dan tidak membutuhkan biaya pengangkutan yang cukup besar seperti penjualan langsung ke pedagang pengumpul besar.
Saluran tataniaga II
Saluran II pada tataniaga kedelai di Kabupaten Garut diantaranya adalah petani mendistribusikan kedelainya ke pedagang pengumpul besar selanjutnya didistribusikan ke industri tahu serta tempe sebagai konsumen akhir. Jumlah lembaga tataniaga yang terlibat pada saluran II sebanyak satu lembaga tataniga, jumlah tersebut lebih sedikit jika dibandingakan pada saluran I dengan dua lembaga tataniga. Lembaga tataniaga yang terlibat adalah pedagang pengumpul besar. Harga kedelai per kilogramnya yang ada di saluran II sama dengan di saluran I.
Volume pendistribusian kedelai pada saluran II sebanyak 23250 Kg kedelai (70.48 persen), volume penjualan tersebut paling besar jika dibandingkan dengan saluran yang lain. Jumlah petani yang memilih saluran II sebanyak 16 petani (53.33 persen), jumlah petani tersebut paling banyak jika dibandingkan dengan
45 jumlah petani pada saluran yang lain. Petani yang memilih saluran II adalah petani yang mempunyai produksi kedelai lebih besar yaitu dengan produksi kedelai sebanyak 400 Kg sampai 3300 Kg setiap satu kali transaksi. Alasan petani memilih saluran II adalah harga jual yang lebih besar yaitu Rp 8000 per kilogram kedelai jika dibandingkan pada harga jual petani di saluran I seharga Rp 7000 per kilogram kedelai.
Petani pada saluran II melakukan aktivitas pengangkutan ke pedagang pengumpul besar dengan menggunakan mobil bak terbuka dengan biaya sewa Rp 150 000 per 1 ton kedelai. Jika petani menyewa jasa angkut tetapi jumlah kedelai yang akan di angkut kurang dari 1 ton biaya angkutnya akan disamakan dengan biaya mengangkut 1 ton kedelai. Biaya tersebut belum termasuk biaya bongkar muat sebesar Rp 20 per kilogram kedelai. Pada saluran II juga ada petani yang menjual kedelai ke pengumpul besar yang menggunakan angkutan umum sebagai alat pengangkut dengan biaya Rp 50 000 per angkut atau menggantikan biaya 10 penumpang. Kondisi tersebut hanya dilakukan oleh petani kedelai dengan lokasi yang dekat dengan jalan yang dilewati angkutan umum.
Saluran tataniaga III, IV, dan V
Saluran III, IV, dan V adalah saluran yang menditribusikan kedelai untuk benih. Pada saluran III kedelai dari petani didistribusikan ke pedangang pengumpul besar selanjutnya didistribusikan ke petani sebagai konsumen akhir. Jumlah lembaga tataniaga yang terlibat pada saluran III hanya satu lembaga tataniga yaitu pedagang pengumpul besar. Volume kedelai yang didistribusikan pada saluran III sebanyak 300 Kg (0.91 persen). Jumlah petani responden yang memilih saluran ini adalah satu orang (3.3 persen). Alasan petani memilih saluran III adalah harga belinya yang cukup tinggi dan sudah berlangganan. Harga jual kedelai di tingkat petani pada saluran III adalah Rp 10000 per kilogram dan harga jual di tingkat pedagang pengumpul besar adalah Rp 12000 per kilogram. Pada saluran III konsumen akhirnya adalah petani yang akan menggunakan bibit kedelai untuk ditanam di lahan mereka.
Pada saluran IV pendistribusian kedelai dilakukan dari petani langsung ke petani sebagai konsumen akhir. Volume kedelai yang didistribusikan pada saluran IV sebanyak 50 Kg (0.15 persen) benih kedelai. Jumlah petani responden yang memilih saluran IV adalah satu petani yang juga menjual kedelai pada saluran dua. Aktivitas tataniga yang terjadi pada saluran IV adalah petani yang bertindak sebagai konsumen akhir melakukan pemesanan terlebih dahulu bahwa pada musim tanam berikutnya dia akan membeli benih kedelai sejumlah sekian, kemudian petani yang bertindak sebagai penjual kedelai akan melakukan pemilihan kedelai yang layak dijadikan benih sebelum semuanya di jual ke pedagang pengumpul besar. Harga jual dari petani penjual ke petani konsumen akhir adalah Rp 12000. Petani penjual memilih saluran ini hanya jika ada pemesanan dari petani konsumen akhir. Sedangkan petani konsumen akhir memilih saluran enam karena tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli benih kedelai ke pedagang pengumpul besar maupun ke pasar yang menyediakan benih kedelai.
Saluran yang terakhir adalah saluran V yaitu pendistribusian kedelai dilakukan dari petani langsung ke UPTD sebagai konsumen akhir. Volume kedelai yang didistribusikan pada saluran V sebanyak 7340 Kg benih kedelai atau
46
22.25 persen dari total kedelai untuk benih. Jumlah petani yang ada pada saluran lima adalah empat orang atau 13.3 persen dari total petani responden. Harga jual ditingkat petani pada saluran lima lebih murah yaitu sebesar Rp 8000 per kilogram benih kedelai jika dibandingkan dengan saluran lima dan enam dengan harga per kilogramnya mencapai Rp 10000 dan Rp 12000. Harga tersebut adalah harga yang ditetapkan oleh UPTD. Petani dan UPTD pada saluran lima telah melakukan perjanjian kerjasama dimana UPTD memberi pupuk, pestisida, dan benih kepada petani. Kemudian petani harus menjual hasil panennya ke UPTD. Kedelai yang dijual ke UPTD selanjutnya akan didistribusikan kembali ke petani yang lainnya sebagai benih.
47
Gambar 3. Saluran tataniaga kedelai di Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut Keterangan: : Saluran I : Saluran II : Saluran III : Saluran IV : Saluran V
** Garis bantu untuk membedakan kelompok saluran, saluran di kiri garis bantu adalah saluran yang mendistribusikan kedelai untuk tujuan akhir konsumsi sedangkan saluran yang berada di sebelah kanan adalah saluran yang mendistribusikan kedelai untuk benih.
48
Analisis Struktur Pasar
Struktur pasar tataniaga kedelai di Kabupaten Garut akan menjelaskan karakteristik lembaga tataniaga yang mempengaruhi sifat kompetisi dan harga kedelai di pasaran. Struktur pasar kedelai dari petani responden Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut dianalisis menggunakan metode kualitatif yaitu dengan mengidentifikasi jumlah penjual dan pembeli kedelai, keseragaman produk dalam pasar, kemudahan keluar masuk pasar, dan bentuk persaingannya. Berdasarkan teori dari Dahl dan Hammond (1997) struktur pasar yang dihadapi oleh petani dan lembaga tataniaga kedelai di Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut adalah sebagai berikut ;
Tabel 22 Struktur pasar yang dihadapi lembaga tataniaga di Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut tahun 2014
Karakteristik Struktur Pasar
Penjual Pembeli Keluar Jumlah Sifat Info Sisi Sisi masuk penjual/ produk pasar penjual pembeli pasar pembeli
Petani Pedagang Rendah Banyak/ Homogen Mudah Oligop- Oligop- pengumpul cukup soni soni
kecil banyak
Pedagang Pedagang Rendah Cukup Homogen Mudah Oligop- Oligo- pengumpul pengumpul banyak/ soni poli kecil besar sedikit
Pedagang Industri Tinggi Sedikit/ Homogen Mudah Oligo- Oligop- Pengumpul tahu/tempe Cukup poli soni
Besar banyak
sumber: data primer (diolah)
Struktur Pasar di Tingkat Petani
Struktur pasar yang dihadapi petani sebagai penjual dan pedagang pengumpul kecil sebagai pembeli di Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut adalah struktur pasar oligopsoni murni atau persaingan tidak sempurna. Penentuan struktur pasar di tingkat petani oligopsoni berdasarkan beberapa karakteristik seperti pada tabel 20 yaitu hambatan keluar masuk pasar rendah, jumlah penjual banyak, jumlah pembeli sedikit, sifat produk homogen, dan informasi pasar mudah.
Hambatan keluar masuk pasar sebagai petani rendah karena teknik dalam melakukan usahatani kedelai sifatnya sederhana sehingga mampu dilakukan oleh siapapun, modal yang digunakan juga cenderung kecil, penjualan hasil panen bebas dan mudah, serta tidak ada persaingan antar petani dalam menjual hasil panennya. Jumlah penjual atau petani yang lebih banyak jika dibandingkan dengan pedagang pengumpul kecil yang jumlahnya sedikit yaitu satu setiap desa responden dan pedagang pengumpul besar yang jumlahnya juga sedikit yaitu satu dan dua di pasar Garut dan Wanaraja. Kedudukan petani dalam penentuan harga
49 jual kedelai cenderung sebagai penerima harga atau price taker karena petani tidak memiliki posisi tawar yang kuat sehingga petani tidak dapat mempengaruhi harga yang berlaku dipasaran. Produk yang dijual-belikan cenderung bersifat homogen yaitu berupa biji kedelai konsumsi dan bibit kedelai. Informasi harga yang dimiliki petani cukup baik karena petani dan pedagang pengumpul kecil masih satu lokasi, antar petani saling bertukar informasi harga, dan lokasi petani Kecamatan Banyuresmi yang dekat dekat dengan pedagang pengumpul besar dapat diakses dengan satu kali naik angkutan umum menambah kemudahan petani untuk akses informasi harga di pasaran.
Struktur Pasar di Tingkat Pedagang Pengumpul Kecil
Struktur pasar di tingkat pedagang pengumpul kecil sebagai penjual dengan pembelinya adalah pedagang pengumpul besar cenderung bersifat oligopsoni karena jumlah pedagang pengumpul kecil (penjual) lebih banyak dibandingkan dengan pedagang pengumpul besar (pembeli) yang lebih sedikit. Hambatan pedagang pengumpul kecil untuk keluar dan masuk pasar rendah karena pedagang kecil pada umumnya melakukan penjualan dalam skala kecil sehingga tidak menggunakan modal yang begitu besar. Selain itu penjualan yang dilakukan oleh pedagang pengumpul kecil ke pedagang pengumpul besar sangat mudah prosesnya. Produk yang diperjual-belikan bersifat homogen yaitu biji kedelai. Akses terhadap informasi harga di pasaran oleh pedagang pengumpul kecil cukup mudah diperoleh melalui sesama pedagang pengumpul kecil atau langsung menghubungi beberapa pedagang pengumpul besar.
Struktur Pasar di Tingkat Pedagang Pengumpul Besar
Struktur pasar di tingkat pedagang pengumpul besar sebagai penjual dengan pembelinya adalah industri tahu/tempe cenderung bersifat oligopli. Penentuan struktur pasar oligopoli berdasarkan jumlah pedagang pengumpul besar sebagai penjual lebih sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan industri tahu/tempe yang jumlahnya cukup banyak. Hambatan keluar dan masuk pasar menjadi pedagang pengumpul besar kedalai relatif tinggi hal tersebut dikarenakan modal yang digunakan cukup besar dan pengusahaan perebutan pangsa pasar yang ada sedikit sulit dilakukan karena industri tahu/tempe yang ada saat ini lebih percaya membeli di tempat pedagang pengumpul besar langganan. Di tingkat pedagang besar sifat produk homogen untuk industri tahu/tempe. Akses terhadap informasi harga pasar di tingkat pedagang pengumpul besar mudah dilakukan karena pedagang pengumpul besar cenderung sebagai penentu harga atau price maker kedelai di tingkat pedagang pengumpul kecil, petani, dan industri tahu/tempe. Penentuan harga beli dan jual yang dilakukan oleh pedagang pengumpul besar menggunakan referensi harga kedelai impor.
Sifat produk di tingkat pedagang pengumpul besar (Wanaraja) akan bersifat heteogen jika pedagang pengumpul besar dihadapkan dengan petani yang menjual kedelai untuk benih dan petani menjual kedelai untuk konsumsi. Namun kondisinya pedagang pengumpul besar lebih banyak dan sering melakukan transaksi jual-beli kedelai untuk konsumsi alasannya permintaan kedelai untuk bahan produksi tahu/tempe lebih banyak dan berkelanjutan. Sedangkan permintaan terhadap benih kedelai sangat jarang melihat pola tanam kedelai yang di lakukan petani di Kabupaten Garut sebagian besar melakukan satu kali tanam
50
musim kedelai per satu tahun. Selain itu sebagian besar petani menggunakan sudah mampu membuat benih sendiri untuk masa tanam berikutnya.
Analisis Perilaku Pasar
Analisis perilaku pasar yang dihadapi petani kedelai responden Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut dilakukan melalui identifikasi kegiatan penjualan dan pembelian, sistem penentuan harga dan transaksi, sistem pembayaran, dan bentuk kerjasama yang dilakukan petani kedelai dengan lembaga tataniaga kedelai atau antar sesama lembaga tataniaga kedelai.
Praktik Pembelian dan Penjualan
Praktik pembelian dan penjualan di tingkat petani yaitu petani menjual hasil panen kedelainya ke pedagang pengumpul kecil atau besar. Petani yang menjual hasil panennya ke pedagang pengumpul kecil kebanyakan petani gurem dengan hasil panen yang sedikit sehingga akan lebih efisien jika dijualnya ke pedagang pengumpul kecil meskipun harganya lebih murah jika dibandingkan langsung menjual ke pedagang pengumpul besar. Sistem penjualan yang dilakukan oleh petani yaitu sistem tebas dan sistem kiloan. Sistem tebas lebih sering dilakukan oleh petani gurem.
Praktik pembelian dan penjualan di tingkat pedagang pengumpul kecil yaitu pedagang pengumpul kecil membeli kedelai dari petani kemudian menjualnya ke pedagang pengumpul besar. Pedagang pengumpul kecil melakukan pembelian dengan sistem tebas dan kiloan. Pembelian dengan sistem tebas dilakukan dengan memperikaraka hasil panen yang akan diperoleh kemudian memperhitungkan nilai jual ke lembaga tataniaga berikutnya. Selanjutnya pedagang pengumpul akan menawar ke petani dengan harga lebih rendah dari estimasi penerimaan yang dilakukan pedagang pengumpul. Sedangkan pembelian kiloan sistemnya petani akan membawa sendiri hasil panennya ke tempat pedagang pengumpul kecil untuk dijual.
Praktik pembelian dan penjualan di tingkat industri tahu/tempe yang berlangsung yaitu industri tahu/tempe membeli kedelai langsung dari pedagang pengumpul besar kemudian menjual produk hasil olahannya ke konsumen akhir. Sistem penjualannya tidak lagi menggunakan ukuran kiloan tapi menjual satuan. Sistem Penentuan Harga dalam Transaksi
Sistem penentuan harga kedelai dari petani responden Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut cenderung berpusat di lembaga tataniaga tingkat pedagang pengumpul besar. Penentuan harga kedelai didasarkan pada harga kedelai impor, jumlah permintaan, jumlah penawaran, dan jumlah ketersediaan kedelai. Harga jual kedelai unruk konsumsi dipasaran Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut di tingkat petani responden berkisar Rp 7.000 sampai Rp 8.000 per kilogramnya. Petani hanya mengikuti harga dipasaran yang berlaku dan tidak mampu memepengaruhi harga yang ada karena rendahnya daya tawar yang dimiliki petani sehingga petani hanya sebagai penerima harga atau price taker. Berbeda dengan petani, pedagang pengumpul kecil mempunyai kekuatan penentuan harga lebih baik diatas petani. Pedagang pengumpul kecil dapat
51 menentukan harga pembelian kedelai dari petani tapi sifatnya terbatas. Orientasi utama pedagang pengumpul kecil adalah memperoleh keuntungan dari marjin pemasaran yang diusahakan sendiri, sehingga pedagang pengumpul kecil akan menentukan harga beli kedelai dari petani serendah mungkin dari harga yang ditawarkan oleh pedagang pengumpul besar agar memperoleh keuntungan yang lebih. Penentuan harga yang dilakukan pedagang pengumpul kecil tetap memperhatikan keuntungan bagi petani dan biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul kecil sendiri. Harga beli kedelai untuk konsumsi oleh pedagang pengumpul kecil dari petani responden berkisar Rp 7.000 sampai Rp 7.500 per kilogramnya dan dijual kembali ke pedagang besar seharga Rp 8.000 per kilogramnya.
Sistem penentuan harga yang terjadi di tingkat pedagang pengumpul besar pada umumnya menggunakan referensi harga kedelai impor, ketersediaan kedelai, dan jumlah permintaan. Harga beli kedelai ditingkat pedagang pengumpul besar dari petani dan pedagang pengumpul kecil responden yaitu berkisar Rp 7.800 sampai Rp 8.000 per kilogramnya. Sedangkan harga jual dari pedagang pengumpul besar ke industri tahu/tampe seharga Rp 8.800 per kilogramnya. Sistem Pembayaran
Sistem pembayaran yang terjadi diantara petani, pedagang pengumpul kecil, pedgang pengumpul besar, industri tahu/tempe adalah tunai. Sistem pembayaran tunai yang dimaksud adalah pembayaran total yang dilakukan oleh pembeli setelah ada serah terima kepemilikan kedelai yang dilakukan oleh penjual, pembayaran berdasarkan harga yang telah disepakati penjual dan pembeli. Khusus untuk transaksi antara petani dengan pedagang pengumpul kecil ada kalanya sistem pembayaran setengah terlebih dahulu sebagai tanda jadi kemudian sisanya dibayar ketika pedagang pengumpul kecil telah menjual ke pedagang pengumpul besar, pelunasan dilakukan biasanya paling lama dua hari setelah pembayaran pertama.
Sistem Kerjasama Antar Lembaga Tataniaga
Sistem kerjasama antar lembaga tataniaga terjadi dengan sendirinya tanpa disadari selama bertahun-tahun. Kerjasama yang dilakukan antara lembaga tataniaga dengan petani dan antar sesama lembaga tataniga didasarkan atas kepentingan masing-masing berupa memperoleh keuntungan. Kerjasama terbentuk karena ada peluang untuk dimanfaatkan menjadi keuntungan dan adanya keterbatasan sumber daya sehingga memerlukan peran pihak lain atau kerjasama dengan pihak lain. Bentuk sistem kerjasama yang terjadi diantaranya adalah pemenuhan pasokan kedelai oleh pedagang pengumpul kecil kepada pedagang pengumpul besar, ketersedian pedagang pengumpul besar membeli kedelai dari pedagang pengumpul kecil, aktivitas berbagi informasi harga antar sesama pedagang pengumpul kecil maupun besar, pengusahaan penyediaan kedelai oleh pedagang pengumpul besar terhadap industri tahu/tempe, dan ketersediaan pedagang besar memberikan pengangkutan gratis terhadap pembelian dengan skala tertentu.
Selain kerjasama antar lembaga tataniaga ada juga kerjasama yang dilakukan antara petani dengan UPTD. Kerjasama dalam bentuk: UPTD memberikan benih, pupuk, dan pestisida kepada petani secara gratis kemudian
52
petani harus menjual hasil panen ke UPTD dengan harga yang telah ditentukan oleh UPTD yaitu Rp 8.000 per kilogramnya.
Analisis Fungsi Tataniaga
Lembaga tataniaga yang terlibat dalam pendistribusian kedelai dari petani hingga ke konsumen akhir akan menjalankan fungsi tataniaga masing-masing. Dampak dari fungsi yang dilakukan setiap lembaga tataniga salah satunya adalah kenaikan harga kedelai ke lembaga tataniaga berikutnya. Setiap lembaga tataniaga mempunyai fungsi tataniaga yang berbeda-beda dengan lembaga tataniaga lainnya. Fungsi tataniaga yang dilakukan oleh lembaga tataniaga kedelai di Kabupaten Garut meliputi; fungsi pertukaran (fungsi pembelian dan penjualan), fungsi fisik (penyimpanan, pengolahan, dan pengangkutan), dan fungsi fasilitas (sortasi, pembiayaaan, penanggungan risiko, dan informasi pasar). Secara keseluruhan dan lebih rincinya fungsi tataniaga yang dilakukan lemabaga tataniaga responden seperti pada data tabel 23.
Tabel 23 Fungsi tataniaga dari lemabaga tataniaga responden kedelai di Kabupaten Garut
Lembaga Tataniaga Fungsi Tataniaga Aktivitas dan Fungsi Tataniaga Pedagang Pengumpul Pertukaran Penjualan
Kecil Pembelian
Fisik Pengangkutan
Penyimpanan Pengemasan
Fasilitas Penanggungan Risiko Pembiayaan
Informasi Pasar Standardisasi Pedagang Pengumpul Pertukaran Penjualan
Besar Pembelian
Fisik Pengangkutan
Penyimpanan Pengemasan
Fasilitas Penanggungan Risiko Pembiayaan Informasi Pasar Standardisasi Sumber: Data Primer (Diolah)
Fungsi tataniga di Tingkat Pedagang Pengumpul Kecil
Pedagang pengumpul kecil merupakan lembaga tataniaga yang