• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Struktur Biaya dan Pendapatan UMK Kabupaten Bogor

Analisis terhadap UMK bidang pengolahan di Kabupaten Bogor dilakukan untuk mengetahui efisiensi usaha berdasarkan struktur biaya. Berdasarkan struktur biaya, dapat diketahui komponen-komponen biaya yang dikeluarkan selama proses produksi, efisiensi suatu usaha dan keuntungan yang diperoleh selama produksi. Analisis pendapatan dilakukan untuk mengetahui besarnya pengeluaran dan pendapatan selama produksi. Analisis pendapatan juga dilakukan untuk mengetahui keefisienan sebuah usaha.

7.27% 5.45% 16.36% 7.27% 20.00% 14.55% 29.09% Penundaan pembayaran oleh pembeli Pemutusan hubungan dengan pelanggan Selera pelanggan berubah

Sarana dan prasarana transportasi kurang memadai

Harga jual berfluktuasi

Permintaan produk menurun

Persaingan dengan pelaku usaha/produk lainnya

25

Analisis Struktur Biaya Usaha Mikro dan Kecil Bidang Pengolahan di Kabupaten Bogor

Analisis struktur biaya diperlukan untuk mengetahui alokasi biaya sehingga dapat mengontrol biaya tersebut. Apabila diketahui terjadi pemborosan pada penggunaan salah satu atau beberapa komponen biaya variabel, maka perlu dilakukan pengurangan penggunaan komponen tersebut atau bahkan komponen tersebut tidak dipergunakan lagi. Begitu juga halnya pada biaya tetap, apabila komponen tersebut bisa dihilangkan atau dikurangi (Damayanti, 2011).

Struktur Biaya UMK Pengolahan Makanan Minuman

Dari hasil penelitian, biaya tetap dari UMK pengolahan makanan minuman meliputi biaya listrik, telefon, pajak bumi dan bangunan (PBB), dan penyusutan. UMK pengolahan makanan minuman dibagi menjadi tiga produk, yaitu kerupuk kulit, kue, dan manisan pala.

Biaya penyusutan UMK pengolahan makanan minuman per tahun sebesar Rp 1.421.053 atau 0,417 persen dari biaya total yang merupakan komponen biaya tertinggi, begitupun pada masing-masing produk UMK pengolahan makanan minuman seperti kerupuk kulit, pengolahan kue, dan manisan pala biaya penyusutan merupakan biaya yang tertinggi dengan nilai 6,188 persen, 4,014 persen, dan 0,133 persen dari total biaya produksi. Biaya penyusutan pada UMK bidang pengolahan makanan-minuman meliputi biaya penyusutan aset berupa kios dan oven. Besarnya biaya penyusutan ini dipengaruhi oleh penggunaan dan umur teknis aset. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Struktur biaya tetap dan persentase tiap komponen biaya tetap, UMK pengolahan makanan-minuman per tahun

Komponen biaya tetap

Besar biaya UMK pengolahan kerupuk kulit per tahun (Rp)

Besar biaya UMK pengolahan

kue per tahun (Rp)

Besar biaya UMK pengolahan manisan

pala per tahun (Rp)

Besar biaya UMK pengolahan makanan minuman per tahun (Rp) Listrik 0,000 171.429 0,000 63.158 (0,000*) (0,268*) (0,000*) (0,019*) Telefon 0,000 14.286 10.000 10.526 (0,000*) (0,022*) (0,002*) (0,003*) PBB 0,000 571.429 32.500 227.632 (0,000*) (0,892*) (0,005*) (0,067*) Penyusutan 500.000 2.571.429 800.000 1.421.053 (6,188*) (4,014*) (0,133*) (0,417*) Total biaya tetap 500.000 3.328.571 842.500 1.722.369 (6,188*) (5,197*) (0,140*) (0,505*)

Keterangan: (*) = Persentase terhadap total biaya produksi (%)

Pada tabel diatas, besarnya biaya PBB UMK pengolahan makanan minuman Rp 227.632 atau memberikan kontribusi 0,067 persen dari total biaya produksi. Secara umum biaya PBB merupakan komponen biaya tetap tertinggi

26

kedua, tetapi tidak untuk masing-masing usaha. Hanya pada usaha pengolahan kue, biaya PBB sebesar Rp 571.429 atau 0,892 persen dari total biaya produksi menjadi komponen biaya tetap tertinggi setelah biaya penyusutan. Hal ini dikarenakan beberapa UMK yang menjalankan usaha tidak memiliki bangunan yang tetap untuk menjalankan usahanya sehingga tidak perlu membayar PBB.

Biaya variabel meliputi: biaya bahan baku, upah tenaga kerja, bahan tambahan, plastik/kemasan, bahan bakar dan biaya angkutan. Biaya ini menyumbang 99,495 persen dari total biaya produksi dan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan biaya tetap. Perincian presentase tiap komponen dapat dilihat pada Tabel 15.

Bahan baku memegang peranan yang cukup dominan didalam struktur biaya produksi UMK pengolahan makanan minuman. Keadaan ini ditunjukkan oleh kontribusi yang diberikannya terhadap total biaya produksi sebesar 43,951 persen, begitupun pada kerupuk kulit dan manisan pala dengan masing-masing nilai 55,693 persen dan 46,471 persen terhadap total biaya produksi. Besarnya biaya bahan baku disebabkan oleh kebutuhan bahan baku setiap produksinya yang berjumlah besar. Selain itu, harga kebutuhan bahan baku yang tinggi. Pada pengolahan kue, upah tenaga kerja merupakan komponen biaya tertinggi pada biaya variabel yaitu sebesar 75,339 persen terhadap total biaya produksi.

Biaya variabel terbesar kedua pada UMK pengolahan makanan minuman yaitu biaya bahan tambahan atau penunjang sebesar Rp 101.468.421 atau 29,746 persen dari total biaya produksi. Contoh bahan penunjang untuk UMK makanan minuman yaitu gula. Tingginya biaya ini disebabkan harga yang mahal. Selain itu, bahan penunjang atau tambahan sangat berpengaruh terhadap produksi sehingga dapat meningkatkan harga jual produk, contohnya pada usaha manisan pala, bahan penunjang atau tambahan yaitu gula memiliki harga yang tinggi dibanding kebutuhan lainnya. Hal ini menyebabkan biaya produksinya semakin tinggi dan menyebabkan struktur biaya meningkat.

Tabel 15. Struktur biaya variabel dan persentase tiap komponen biaya variabel, UMK pengolahan makanan-minuman per tahun

Komponen biaya variabel

Besar biaya UMK pengolahan kerupuk kulit per

tahun (Rp)

Besar biaya UMK pengolahan kue

per tahun (Rp)

Besar biaya UMK pengolahan manisan pala per

tahun (Rp)

Besar biaya UMK pengolahan makanan minuman per tahun (Rp) Bahan Baku Utama 4.500.000 6.221.143 279.600.000 149.923.579 (55,693*) (9,712*) (46,471*) (43,951*) Upah Tenaga Kerja 2.700.000 48.257.143 115.464.000 78.833.684 (33,416*) (75,339*) (19,191*) (23,110*) Bahan Tambahan 0,000 4.200.000 189.850.000 101.468.421 (0,000*) (6,557*) (31,554*) (29,746*) Plastik/Kemasan 380.000 1.594.286 14.952.000 8.496.842 (4,703*) (2,489*) (2,485*) (2,491*) Bahan Bakar 0,000 452.571 0,000 166.737 (0,000*) (0,707*) (0,000*) (0,049*) Biaya Angkutan 0,000 0,000 960.000 505.263 (0,000*) (0,000*) (0,160*) (0,148*) Total biaya variabel 7.580.000 60.725.143 600.826.000 339.394.526 (93,812*) (94,803*) (99,860*) (99,495*)

27 Dari hasil penelitian, total biaya produksi UMK pengolahan makanan minuman sebesar Rp 341.116.895. Tingginya biaya produksi dikarenakan biaya variabel yang tinggi yang disebabkan dari tingginya biaya bahan baku. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Struktur biaya produksi UMK pengolahan makanan-minuman per tahun Uraian

Besar biaya UMK pengolahan kerupuk

kulit per tahun (Rp)

Besar biaya UMK pengolahan kue

per tahun (Rp)

Besar biaya UMK pengolahan manisan pala per

tahun (Rp)

Besar biaya UMK pengolahan makanan minuman per tahun (Rp) TFC (Rp)/tahun 500.000 3.328.571 842.500 1.722.369 (6,188*) (5,197*) (0,140*) (0,505*) TVC (Rp)/tahun 7.580.000 60.725.143 600.826.000 339.394.526 (93,812*) (94,803*) (99,860*) (99,495*) TC per tahun (Rp) 8.080.000 64.053.714 601.668.500 341.116.895 (100,000*) (100,000*) (100,000*) (100,000*)

Keterangan: (*) = Persentase terhadap total biaya produksi (%)

UMK pengolahan makanan minuman dibagi menjadi tiga produk, yaitu kerupuk kulit, kue, dan manisan pala. UMK kerupuk kulit menggunakan bahan baku berupa kulit sapi yang berjumlah 300 buah tiap tahunnya dengan harga Rp 30.000 per buah. Produk yang dihasilkan adalah kerupuk kulit dengan jumlah 12.720 bungkus/tahun dengan harga jual Rp 6.000/bungkus. Berat masing-masing kerupuk kulit tiap bungkusnya berkisar 100 hingga 250 gram. Omset yang dihasilkan sebesar Rp 37.500.000 per tahun, jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 8.080.000, sehingga akan menghasilkan pendapatan sebesar Rp 29.420.000 per tahun. Siklus produksi dapat dilihat pada Gambar 17.

Kerupuk kulit 12.720 bungkus Kulit sapi 300 buah Gambar 17. Siklus produksi usaha kerupuk kulit per tahun

Usaha kerupuk kulit terdiri dari 2 UMK yang mempunyai omset sebesar Rp 45.000.000 dan Rp 30.000.000. Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008, UMK kerupuk kulit termasuk ke dalam usaha mikro. Kendala yang dihadapi selama menjalankan usaha kerupuk kulit dari sisi permodalan yaitu adanya modal yang terbatas, tidak memiliki informasi pinjaman modal, dan bunga pinjaman yang tinggi. Pada kendala produksi adanya harga bahan baku yang meningkat dan mesin produksi yang kurang memadai. Pada kendala pemasaran terdapat harga jual berfluktuasi, permintaan produk menurun, dan persaingan

Pendapatan per tahun

Rp 29.420.000 Siklus

produksi

Total biaya per tahun Rp 8.080.000

28

dengan pelaku atau usaha lain. Produk usaha kerupuk kulit dapat dilihat pada Gambar 18.

Gambar 18. Kerupuk kulit usaha pengolahan makanan minuman Kabupaten Bogor

Usaha kue menggunakan bahan baku berupa tepung terigu sebanyak 1.740 kg. Pada usaha kue juga memerlukan bahan tambahan seperti gula pasir sebanyak 1.200 kg tiap tahunnya. Produk yang dihasilkan berupa 949.680 kue per tahun dengan harga jual Rp 3.000 per kue. Omset yang dihasilkan sebesar Rp 316.794.286 per tahun, sementara total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 64.053.714 sehingga UMK ini mengalami pendapatan yang positif sebesar Rp 252.740.571 per tahun. Siklus produksi dapat dilihat pada Gambar 19.

Kue 949.680 buah Tepung terigu 1.740 kg Gambar 19. Siklus produksi usaha kue per tahun

Usaha kue terdiri dari 7 UMK pengolahan kue, berdasarkan omset yang diterimanya menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008, sebanyak 5 UMK termasuk kategori usaha mikro dan 2 UMK lainnya termasuk ke dalam usaha kecil. Kendala yang dihadapi oleh usaha kue pada permodalan yaitu keterbatasan modal, sulit mengakses pinjaman ke bank, dan bunga pinjaman yang tinggi. Pada kendala produksi yang dihadapi yaitu bahan baku atau tambahan yang sulit diperoleh, pasokan bahan baku atau tambahan tidak kontinu, harga bahan baku yang meningkat, alat produksi yang rusak, dan permasalahan dengan tenaga kerja. Dari kendala pemasaran yaitu adanya persaingan dengan produk atau pelaku usaha lain. Produk usaha kue dapat dilihat pada Gambar 20.

Gambar 20. Kue usaha pengolahan makanan minuman Kabupaten Bogor

Total biaya per tahun Rp 64.053.714 Pendapatan per tahun

29 Buah pala digunakan sebagai bahan baku pada UMK manisan pala. Jumlah buah pala yang digunakan adalah 456 ton dengan harga Rp 5.000.000/ton, selain itu terdapat pula bahan tambahan yaitu gula sebanyak 425,16 ton dengan harga Rp 11.000.000 per ton. Setiap tahunnya, jumlah manisan pala yang dihasilkan adalah 645.600 kg yang dijual dengan harga Rp 25.000/kg. Omset yang dihasilkan sebesar Rp 868.000.000 per tahun dengan pendapatan Rp 266.331.500 per tahun. Siklus produksi dapat dilihat pada Gambar 21.

Manisan pala 645.600 kg Pala 456 ton Gambar 21. Siklus produksi usaha manisan pala per tahun

Manisan pala terdiri dari 10 UMK. Berdasarkan UU No 20 Tahun 2008, semua usaha manisan pala ini termasuk ke dalam usaha kecil. Pada usaha manisan pala kendala yang dihadapi yaitu dari sisi produksi karena harga bahan baku atau tambahan yang terbatas, harga bahan baku meningkat, dan permasalahan terkait tenaga kerja. Produk usaha manisan pala dapat dilihat pada Gambar 22.

Gambar 22. Manisan pala usaha pengolahan makanan minuman Kabupaten Bogor Struktur Biaya UMK Pengolahan Logam/Kayu/Bambu

UMK pengolahan logam/kayu/bambu dibagi menjadi tiga produk, yaitu usaha logam, usaha kayu, dan usaha bambu. Berdasarkan Tabel 17, komponen biaya penyusutan merupakan komponen biaya tetap tertinggi yang dikeluarkan dari total biaya UMK pengolahan logam/kayu/bambu. Besarnya biaya penyusutan Rp 3.440.625 memberikan kontribusi 1,362 persen dari total biaya produksi, begitupun dengan ketiga produknya yaitu golok, kandang burung, dan furniture kayu dengan masing-masing nilai 0,542 persen, 0,719 persen, dan 1,605 persen terhadap total biaya produksi. Biaya penyusutan pada UMK bidang pengolahan

Pendapatan per tahun Rp 266.331.000

Total biaya per tahun Rp 601.668.500 Siklus

30

logam/kayu/bambu meliputi biaya penyusutan aset berupa kios, alat pemotong, blower, mesin bobok, dan plener.

Tabel 17. Struktur biaya tetap dan persentase tiap komponen biaya tetap, UMK pengolahan bahan dasar logam/kayu/bambu per tahun

Komponen biaya tetap Besar biaya UMK pengolahan golok per tahun (Rp) Besar biaya UMK pengolahan kandang burung per tahun (Rp) Besar biaya UMK pengolahan furniture kayu per tahun (Rp)

Besar biaya UMK pengolahan logam/kayu/bambu per tahun (Rp) Listrik 2.100.000 0,000 296.250 558.750 (0,471*) (0,000*) (0,152*) (0,221*) Telefon 0,000 0,000 791.250 791.250 (0,000*) (0,000*) (0,407*) (0,313*) PBB 0,000 0,000 1.562.500 1.562.500 (0,000*) (0,000*) (0,804*) (0,618*) Penyusutan 2.416.667 300.000 3.119.792 3.440.625 (0,542*) (0,719*) (1,605*) (1,362*) Total biaya tetap 4.516.667 300.000 5.769.792 6.353.125 (1,014*) (0,719*) (2,968*) (2,514*)

Keterangan: (*) = Persentase terhadap total biaya produksi (%)

Berdasarkan Tabel 17, biaya tetap tertinggi kedua secara umum adalah biaya PBB sebesar 0,618 persen dari total biaya produksi. Hal ini dikarenakan pelaku usaha sudah memiliki tempat usaha yang tetap. Tempat usaha yang digunakan juga berukuran besar sehingga pajak bumi dan bangunan yang harus dikeluarkan besar.

Biaya variabel pada UMK pengolahan bahan dasar logam/kayu/bambu berkontribusi sebesar 97,486 persen dari total biaya produksi. Biaya bahan baku memegang peranan yang dominan dalam struktur biaya produksi, memegang bagian 69,761 persen dari total biaya produksi. Pada produk furniture kayu bahan baku dominan terhadap total biaya produksi dengan nilai 81,169 persen. Hal ini disebabkan karena tingginya harga kayu, logam, dan bambu. Contohnya untuk harga kayu Rp 500.000/m3, harga bambu Rp 125.000/batang, dan harga logam Rp 7.500/kg.

Biaya terbesar berikutnya pada UMK pengolahan logam/kayu/bambu adalah upah tenaga kerja sebesar 19,084 persen dari total biaya produksi. Pada pengolahan golok, upah tenaga kerja merupakan biaya tertinggi pertama pada komponen biaya variabel yaitu sebesar 54,529 persen terhadap total biaya produksi. UMK pengolahan bahan dasar logam/kayu/bambu termasuk padat karya atau usaha yang menggunakan tenaga kerja sebagai faktor penting dalam proses produksi. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 18.

31 Tabel 18. Struktur biaya variabel dan persentase tiap komponen biaya variabel,

UMK pengolahan bahan dasar logam/kayu/bambu per tahun Komponen biaya

variabel

Besar biaya UMK pengolahan golok per tahun (Rp) Besar biaya UMK pengolahan kandang burung per tahun (Rp) Besar biaya UMK pengolahan furniture kayu per tahun (Rp)

Besar biaya UMK pengolahan logam/kayu/bambu per tahun (Rp) Bahan Baku Utama 139.020.000 18.000.000 157.781.250 176.283.750 (31,196*) (43,165*) (81,169*) (69,761*) Upah Tenaga Kerja 243.000.000 1.800.000 17.737.500 48.225.000 (54,529*) (4,317*) (9,125*) (19,084*) Bahan Tambahan 900.000 0,000 2.343.750 2.456.250 (0,202*) (0,000*) (1,206*) (0,972*) Plastik/Kemasan 0,000 0,000 7.500 7.500 (0,000*) (0,000*) (0,004*) (0,003*) Bahan Bakar 21.600.000 0,000 546.000 3.246.000 (4,847*) (0,000*) (0,281*) (1,285*) Biaya Angkutan 36.600.000 21.600.000 10.200.000 16.125.000 (8,213*) (51,799*) (5,247*) (6,381*) Total biaya variabel 441.120.000 41.400.000 188.616.000 246.343.500 (98,986*) (99,281*) (97,032*) (97,486*)

Keterangan: (*) = Persentase terhadap total biaya produksi (%)

Besarnya biaya produksi pada UMK pengolahan bahan dasar logam/kayu/bambu sebesar Rp 252.696.625. Tingginya biaya produksi dikarenakan tingginya bahan baku utama. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 19. Tabel 19. Struktur biaya produksi UMK pengolahan bahan dasar

logam/kayu/bambu per tahun

Uraian

Besar biaya UMK pengolahan golok per tahun (Rp) Besar biaya UMK pengolahan kandang burung per tahun (Rp) Besar biaya UMK pengolahan furniture kayu per tahun (Rp)

Besar biaya UMK pengolahan logam/kayu/bambu per tahun (Rp) TFC (Rp)/tahun 4.516.667 300.000 5.769.792 6.353.125 (1,014*) (0,719*) (2,968*) (2,514*) TVC (Rp)/tahun 441.120.000 41.400.000 188.616.000 246.343.500 (98,986*) (99,281*) (97,032*) (97,486*) TC per tahun (Rp) 445.636.667 41.700.000 194.385.792 252.696.625 (100,000*) (100,000*) (100,000*) (100,000*)

Keterangan: (*) = Persentase terhadap total biaya produksi (%)

UMK pengolahan logam/kayu/bambu dibagi menjadi tiga produk, yaitu usaha logam, usaha kayu, dan usaha bambu. Usaha logam menggunakan bahan baku berupa 240 batang besi tiap tahunnya dengan harga per batang sebesar Rp

32

71.000. Produk yang dihasilkan adalah golok 21.840 buah/tahun dan dijual dengan harga Rp 84.000 per buah. Omset yang dihasilkan sebesar Rp 922.000.000 per tahun, jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan total biaya yang dikeluarkan dalam setahun sebesar Rp 445.636.667, sehingga akan menghasilkan pendapatan sebesar Rp 476.363.333 per tahun. Siklus produksi dapat dilihat pada Gambar 23.

Golok 21.840 buah 240 batang besi Gambar 23. Siklus produksi usaha golok per tahun

UMK pengolahan logam terdiri dari 2 UMK. Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008, semua usaha logam termasuk ke dalam usaha kecil. Kendala yang dihadapi pada usaha golok pada produksi yaitu harga bahan baku yang meningkat dan permasalahan terkait tenaga kerja. Pada kendala pemasaran yaitu penundaan pembayaran oleh pembeli, pemutusan hubungan dengan pelanggan, selera pelanggan yang berubah, sarana transportasi kurang memadai, harga jual berfluktuasi, permintaan produk menurun, dan persaingan dengan pelaku usaha lain. Produk usaha logam dapat dilihat pada Gambar 24.

Gambar 24. Golok usaha logam Kabupaten Bogor

Usaha kayu menggunakan 1.215/m3 kayu per tahun. Produk yang dihasilkan berupa 134.860 buah kayu dengan harga jual Rp 62.000 per buah selama setahun. Omset yang dihasilkan sebesar Rp 503.911.250 per tahun, sementara total biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 194.385.792 dan pendapatan yang diperoleh sebesar Rp 309.525.458 per tahun. Siklus produksi dapat dilihat pada Gambar 25.

Furniture kayu 134.860 buah Kayu 1.215 m3 Gambar 25. Siklus produksi usaha furniture kayu per tahun Pendapatan per tahun

Rp 476.363.333

Total biaya per tahun Rp 445.636.667 Siklus

produksi

Pendapatan per tahun

Rp 309.525.458 Siklus

produksi

Total biaya per tahun Rp 194.385.792

33 Usaha kayu terdiri dari 13 UMK pengolahan kayu. Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008, sebanyak 8 UMK pengolahan kayu merupakan usaha kecil, sisanya sebanyak 5 UMK pengolahan kayu merupakan usaha mikro. Kendala yang dihadapi pada usaha furniture kayu dari sisi permodalan yaitu adanya keterbatasan modal, sulit mengakses pinjaman ke bank, dan bunga pinjaman yang tinggi. Pada kendala produksi yaitu bahan baku yang sulit diperoleh, pasokan bahan baku tidak kontinu, harga bahan baku meningkat, alat yang kurang memadai, mesin produksi yang rusak, dan permasalahan terkait tenaga kerja.

Pada kendala pemasaran untuk usaha furniture yaitu selera pelanggan yang berubah, sarana transportasi yang kurang memadai, harga jual yang berfluktuasi, permintaan produk menurun, dan persaingan dengan pelaku atau usaha lain. Produk usaha kayu dapat dilihat pada Gambar 26.

Gambar 26. Furniture kayu usaha kayu Kabupaten Bogor

UMK bambu menggunakan 144 batang dengan harga Rp 125.000 per batang dalam setahun. Jumlah output yang dihasilkan per tahun pada usaha bambu adalah 1.680 kandang burung dengan harga jual Rp 200.000 per buah. Omset yang dihasilkan sebesar Rp 100.000.000 per tahun dengan pendapatan yang diperoleh mencapai Rp 58.300.000. Siklus produksi dapat dilihat pada Gambar 27.

Kandang burung 1.680 buah Bambu 144 batang Gambar 27. Siklus produksi usaha kandang burung per tahun UMK pengolahan bambu hanya terdiri dari 1 UMK. Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008, usaha kayu termasuk ke dalam usaha mikro. Kendala yang dihadapi oleh usaha kandang burung pada kendala permodalan yaitu modal yang terbatas dan tidak memiliki informasi pinjaman modal. Pada kendala pemasaran sarana transportasi yang kurang memadai, harga jual

Pendapatan per tahun Rp 58.300.000

Total biaya per tahun Rp 41.700.000 Siklus

34

berfluktuasi, permintaan produk menurun, dan persaingan dengan pelaku usaha lainnya. Produk usaha bambu dapat dilihat pada Gambar 28.

Gambar 28. Kandang burung usaha bambu Kabupaten Bogor Struktur Biaya UMK Pengolahan Bahan Dasar Kulit

Komponen biaya tetap UMK pengolahan bahan dasar kulit sama dengan komponen biaya UMK makanan minuman. Biaya listrik merupakan biaya tetap yang tertinggi sebesar 9,140 persen dari total biaya produksi. Listrik yang digunakan yaitu untuk mesin jahit sebagai alat untuk pembuatan berbagai macam tas. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 20.

Tabel 20. Struktur biaya tetap dan persentase tiap komponen biaya tetap, UMK pengolahan bahan dasar kulit per tahun

Keterangan: (*) = Persentase terhadap total biaya produksi (%)

Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa biaya tetap tertinggi kedua merupakan biaya penyusutan. Biaya penyusutan sebesar Rp 778.000 atau 0,128 persen dari total biaya produksi. Biaya penyusutan pada UMK bidang pengolahan bahan dasar kulit meliputi biaya penyusutan aset berupa mesin jahit, mesin seset, dan mesin bordir.

Pada biaya variabel UMK pengolahan kulit, komponen bahan baku utama menjadi komponen biaya terbesar. Besarnya komponen bahan baku utama mencapai Rp 283.680.000 atau 46,544 persen dari total biaya produksi. Jumlah ini sangat besar jika dibandingkan komponen biaya variabel tertinggi kedua yaitu upah tenaga kerja sebesar Rp 199.120.000 atau 32,670 persen dari total biaya produksi.

Komponen biaya tetap Besar biaya UMK pengolahan kuit per tahun (Rp)

Listrik 55.710.000 (9,140*) Telefon 0,000 (0,000*) PBB 71.000 (0,012*) Penyusutan 778.000 (0,128*)

Total biaya tetap 56.559.000

35 Tingginya biaya yang dikeluarkan untuk bahan baku dikarenakan harga kulit yang sangat mahal, harga per rolnya mencapai Rp 1.300.000. UMK bidang pengolahan kulit ini merupakan jenis usaha yang padat karya atau menggunakan banyak tenaga kerja sehingga menyebabkan upah yang harus dikeluarkan menjadi lebih besar. Data biaya variabel UMK pengolahan kulit dapat dilihat pada Tabel 21.

Tabel 21. Struktur biaya variabel dan persentase tiap komponen biaya variabel, UMK pengolahan bahan dasar kulit per tahun

Komponen biaya variabel Besar biaya UMK pengolahan kuit per tahun (Rp)

Bahan Baku Utama 283.680.000

(46,544*)

Upah Tenaga Kerja 199.120.000

(32,670*) Bahan Tambahan 40.800.000 (6,694*) Plastik/Kemasan 29.328.000 (4,812*) Bahan Bakar 0,000 (0,000*) Biaya Angkutan 0,000 (0,000*)

Total biaya variabel 552.928.000

(90,720*) Keterangan: (*) = Persentase terhadap total biaya produksi (%)

Dari hasil penelitian, total biaya produksi UMK pengolahan bahan dasar kulit sebesar Rp 609.487.000. Tingginya biaya produksi dikarenakan biaya variabel yang tinggi yang disebabkan dari tingginya biaya bahan baku. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 22. Struktur biaya produksi UMK pengolahan bahan dasar kulit per tahun

Uraian Besar biaya UMK pengolahan kuit per tahun (Rp)

TFC (Rp)/tahun 56.559.000 (9,280*) TVC (Rp)/tahun 552.928.000 (90,720*) TC per tahun (Rp) 609.487.000 (100,000*) Keterangan: (*) = Persentase terhadap total biaya produksi (%)

Pada UMK pengolahan bahan dasar kulit difokuskan pada usaha tas. Tas terbuat dari 2.694 per rol kulit sintetis per tahun dengan harga Rp 1.300.000 per rol. Jumlah output yang dihasilkan dalam setahun pada usaha tas sebanyak 808.768 buah dengan harga jual Rp 75.000 per buah. Omset yang dihasilkan sebesar Rp 695.448.000 per tahun dengan pendapatan mencapai Rp 85.961.000 per tahun. Siklus produksi dapat dilihat pada Gambar 29.

36

Tas 808.768 buah Kulit sintetis 2.694 rol Gambar 29. Siklus produksi usaha tas per tahun

Usaha tas terdiri dari 5 UMK. Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008, sebanyak 1 UMK termasuk kategori usaha mikro, sedangkan 4 UMK termasuk ke dalam usaha kecil. Kendala permodalan pada usaha tas yaitu adanya modal yang terbatas. Kendala produksi yang dihadapi oleh usaha tas adalah bahan baku atau penolong yang sulit diperoleh, pasokan bahan baku yang tidak kontinu, harga bahan baku meningkat, dan alat produksi yang rusak atau using. Pada sisi pemasaran, kendala yang dihadapinya yaitu penundaan pembayaran oleh pembeli, pemutusan hubungan dengan pelanggan, selera pelanggan yang berubah, harga jual yang berfluktuasi, permintaan produk menurun, dan persaingan dengan pelaku atau usaha lain. Produk usaha tas dapat dilihat pada Gambar 30.

Gambar 30. Tas usaha pengolahan bahan dasar kulit Kabupaten Bogor Struktur Biaya UMK Pengolahan Konveksi

Biaya listrik menjadi komponen biaya terbesar yang harus dikeluarkan pada biaya tetap total UMK pengolahan konveksi. Besarnya biaya listrik mencapai Rp 5.598.667, jumlah ini sama dengan 2,495 persen dari total biaya produksi. Pada UMK bidang pengolahan bahan dasar konveksi, para pelaku usaha menggunakan listrik untuk mesin jahit untuk pembuatan jaket. Besarnya komponen biaya tetap pada UMK pengolahan bahan dasar konveksi dapat dilihat pada Tabel 23.

Pendapatan per tahun Rp 85.961.000

Total biaya per tahun

Dokumen terkait