• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keadaan Umum

Penggunaan teknik toping telah memperlihatkan pertumbuhan pada satu minggu setelah toping (MST), ditandai dengan munculnya tunas, terbentuknya benih, dan bertambah tingginya ukuran benih sehingga dapat dilakukan panen benih pada benih pisang anakan yaitu klon pisang tanduk dan klon pisang mas dan pada benih kultur jaringan yaitu klon pisang ITC-1 dan ITC-2.

Tabel 1. Jumlah dan Persentase Keberhasilan Tunas Pisang yang Hidup Menjadi Benih Siap Panen pada 1-9 MST.

Jenis Benih Konsentrasi BA (ppm) Jumlah Tunas Jumlah Benih Keberhasilan (%) Anakan Pisang Tanduk 0 42 21 50.00 25 64 15 23.43 50 32 16 50.00 Pisang Mas 0 30 23 76.66 25 32 14 43.75 50 28 17 60.71 Kultur Jaringan Pisang ITC-1 0 32 32 100.00 25 23 20 86.95 50 28 28 100.00 Pisang ITC-2 0 46 41 89.13 25 32 30 93.75 50 35 34 97.14

Keberhasilan tunas pisang yang tumbuh menjadi benih siap panen ditunjukkan pada Tabel 1. Persentase jumlah tunas yang tumbuh menjadi benih pada pisang asal anakan klon pisang tanduk dengan perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm secara berturut-turut adalah 50 %, 23.43 %, dan 50 %, pada pisang anakan klon pisang mas dengan perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm secara berturut-turut adalah 76.66 %, 43.75 %, dan 60.71 %. Sedangkan pada pisang asal kultur jaringan klon pisang ITC-1 dengan perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm secara berturut-turut adalah 100 %, 86.95 %, dan 100 %, pada pisang

anakan klon pisang ITC-2 dengan perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm secara berturut-turut adalah 89.13 %, 93.75 %, dan dan 97.14 %.

Persentase kematian tunas yang terjadi pada periode 1-5 MST adalah 2.06 % pada percobaan 1 dan 3.50 % pada percobaan 2. Kematian pada tunas tersebut diduga terjadi karena terlalu basahnya bonggol dan serangan penyakit busuk akar. Tunas yang mati ditandai oleh warna hitam pada tunas dan layu serta tunas yang basah dan membusuk (Gambar 9).

(a) (b)

Gambar 9. Kematian Tunas yang Terjadi pada Benih Pisang Asal Anakan Busuk Akar (a) dan Layu yang Berwarna Hitam (b).

Selain tunas yang mati juga terdapat tunas yang belum tumbuh menjadi benih. Tunas yang belum tumbuh menjadi benih menyebabkan jumlah benih yang dipanen lebih sedikit dibandingkan dengan tunas potensial yang muncul. Tunas yang belum tumbuh menjadi benih diduga terjadi karena persaingan dengan tunas lain dalam pertumbuhannya. Pertumbuhan tunas yang terbentuk lebih awal lebih cepat dan mendominasi pertumbuhan sedangkan tunas yang baru lebih lambat pertumbuhannya karena persaingan (Gambar 10).

Persaingan yang terjadi antar tunas yang tumbuh pada bonggol yang sama mungkin bisa diatasi dengan pemberian nutrisi tambahan pada bonggol saat masa pertumbuhan tunas. Perlakuan penambahan pupuk mungkin bisa dilakukan untuk diteliti lebih lanjut. Selain itu, teknik panen yang baik juga perlu diteliti lebih lanjut untuk mengatasi permasalahan ketika panen dilakukan. Teknik panen yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan pemisahan tunas-tunas yang bergerombol dari bonggol untuk ditumbuhkan pada suatu media tanam yang sesuai untuk

pertumbuhan tunas menjadi benih siap panen. Media yang digunakan misalnya campuran antara arang sekam dan pupuk kandang. Penggunaan teknik panen yang tepat diharapakan dapat mengurangi permasalahan berkurangnya jumlah benih yang dapat dipanen akibat rusaknya tunas ketika panen dilakukan.

Gambar 10. Pertumbuhan Tunas pada Benih Pisang Asal Anakan

Keterangan : Tunas yang Cepat Pertumbuhannya (a) dan Tunas yang Lambat Pertumbuhanya (b)

Teknik Toping Pada Benih Anakan

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa interaksi jenis klon dan BA tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas, jumlah benih, dan tinggi benih. Klon tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas, jumlah benih, dan tinggi benih. Begitu juga BA tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas, jumlah benih, dan tinggi benih (Tabel 2).

Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Analisis Ragam Teknik Toping pada Benih Anakan.

Peubah MST Perlakuan

Jenis Klon Konsentrasi BA Jenis Klon * BA

Jumlah Tunas 1-5 tn tn tn Jumlah Benih 1-9 tn tn tn Tinggi Benih 7 tn tn tn 8 tn tn tn Keterangan : tn = tidak nyata MST = minggu setelah toping

(b) (a)

Jumlah Tunas

Gambar 11 menunjukkan akumulasi tunas pisang tanduk selama periode 1-5 MST. Diketahui bahwa rata-rata pada 5 MST dari setiap benih klon pisang tanduk dengan pemberian BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm secara berurut-turut terbentuk 2.73 tunas, 5.26 tunas, dan 2.06 tunas.

Akumulasi tunas klon pisang tanduk perpolibag yang terbentuk pada perlakuan BA 0 ppm dan 25 ppm mencapai nilai tertinggi pada saat 4 MST yaitu 2.73 tunas dan 5.33 tunas. Sedangkan pada perlakuan BA 50 ppm nilai tertinggi terjadi pada 5 MST yaitu 2.40 tunas.

Gambar 12 menunjukkan akumulasi tunas pisang mas selama periode 1-5 MST. Diketahui bahwa rata-rata pada 5 MST dari setiap benih klon pisang mas dengan pemberian BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm secara berurut-turut terbentuk 2.73 tunas, 1.93 tunas, dan 1.60 tunas.

Akumulasi tunas potensial klon pisang mas perpolibag yang dihasilkan oleh perlakuan BA 0 ppm mencapai nilai tertinggi pada saat 3 MST yaitu 2.26 tunas. Sedangkan pada perlakuan BA 25 ppm dan 50 ppm mencapai nilai tertinggi pada saat 4 MST yaitu 2.00 tunas dan 1.73 tunas.

Gambar 11. Akumulasi Tunas Per Bonggol Klon Pisang Tanduk yang Dihasilkan Melalui Teknik Toping pada Benih Pisang Asal Anakan.

Gambar 12. Akumulasi Tunas Per Bonggol Klon Pisang Mas yang Terbentuk Melalui Teknik Toping pada Benih Pisang Asal Anakan.

Tunas yang muncul setelah aplikasi teknik toping merupakan tunas aksilar yang tumbuh pada bonggol. Tunas aksilar muncul disebabkan oleh perlakuan pematian titik tumbuh utama yang merupakan titik tumbuh tunas apikal. Pematian titik tumbuh ini memutuskan dominansi apikal sehingga terjadi pertumbuhan tunas lateral pada bonggol.

Sitokinin merangsang pembelahan sel dan pembentukan tunas adventif, dan mematahkan dominansi apikal (Pierik, 1987). Menurut Hopkins (1995) sitokinin cenderung bersifat melawan dominansi apikal dan merangsang pemunculan mata tunas lateral yang biasanya dormansi akibat pengaruh mata tunas apikal.

Tujuan dari pemberian sitokinin (BA) pada bonggol dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah tunas lateral yang muncul pada bonggol. Namun, pemberian BA pada konsentrasi 0 ppm, 25 ppm dan 50 ppm yang diaplikasikan dengan penyemprotan pada bonggol pisang tidak menunjukan pengaruh terhadap jumlah tunas lateral yang muncul pada bonggol pisang asal anakan. Hal ini menunjukan bahwa pemberian BA pada konsentrasi 0-50 ppm tidak berpengaruh terhadap jumlah tunas lateral yang muncul pada bonggol.

Selain itu, aplikasi BA dengan penyemprotan pada bonggol pisang diduga juga menjadi penyebab kurangnya respon bonggol terhadap pemberian BA. BA yang disemprotkan pada permukaan bonggol diduga tidak terserap baik oleh bonggol untuk memutus dormansi tunas lateral. Akibat dari tidak optimalnya penyerapan BA ini diduga menjadi penyebab beberapa tunas lateral yang masih dorman. Dengan demikian perlu ditemukan suatu teknik aplikasi BA yang memungkinkan penyerapan BA yang optimum oleh bonggol pisang.

Teknik toping pada beberapa bonggol pisang asal anakan menunjukan jumlah tunas yang sangat banyak yaitu mencapai 17 tunas per bonggol. Tunas- tunas lateral pada bonggol tersebut diduga muncul karena bonggol mampu menyerap BA dengan optimum. Namun, ini terjadi hanya pada beberapa bonggol pisang asal anakan saja dan sebagian besar bonggol pisang asal anakan tidak menghasilkan tunas sebanyak ini.

Gambar 13 menunjukkan tunas yang mucul pada bonggol pisang. Tunas yang muncul pada bonggol ada yang seragam dan ada juga yang tidak seragam. Terdapat bonggol seperti Gambar 13a yang menghasilkan tunas potensial sangat banyak mencapai 15 tunas yang sangat rapat. Tunas tersebut merupakan tunas potensial untuk menjadi benih siap panen. Namun, pada penelitian ini belum ditemukan metode panen untuk memanen tunas yang sangat banyak tersebut, sehingga ketika dilakukan panen terhadap satu benih maka benih yang belum siap panen terbawa ataupun rusak akibat luka pada saat pemanenan. Tunas yang sangat banyak ini perlu penanganan panen dengan metode khusus.

(a) (b)

Gambar 13. Keragaman Tunas yang Terbentuk Melalui Teknik Toping pada Benih Pisang Asal Anakan Tidak Seragam (a) dan Seragam (b).

Sebagian tunas yang muncul sudah tumbuh menjadi benih yang siap dipanen dan sebagian lagi belum siap panen dan ada juga yang mati. Perhitungan jumlah benih yang dihasilkan dilakukan berdasarkan jumlah tunas yang mampu tumbuh menjadi benih yang siap dipanen.

Jumlah Benih yang Dihasilkan

Panen benih klon pisang tanduk baru bisa dilakukan pada saat 7 MST. Gambar 14 menunjukkan jumlah benih per bonggol dari klon pisang tanduk yang dipanen. Akumulasi rata-rata dari setiap benih klon pisang tanduk yang dihasilkan pada perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm pada 7-8 MST secara berturut- turut adalah 1.39 benih, 0.99 benih, dan 1.06 benih. Benih yang dipanen selama periode 0-8 MST pada perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm secara berturut- turut adalah 21 benih, 15 benih, dan 16 benih.

Gambar 14. Jumlah Benih Per Bonggol Klon Pisang Tanduk yang Dihasilkan Melalui Teknik Toping pada Benih Pisang Asal Anakan.

Benih klon pisang mas dipanen setelah mencapai umur 7 MST. Gambar 15 menunjukkan jumlah benih per bonggol dari klon pisang mas yang dihasilkan. Diketahui bahwa akumulasi rata-rata dari setiap benih klon pisang mas pada perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm pada 7-8 MST secara berturut-turut adalah 1.53 benih, 0.93 benih, dan 1.13 benih. Benih yang dipanen selama periode

0-8 MST pada perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm secara berturut-turut adalah 23 benih, 14 benih, dan 17 benih

Gambar 15. Jumlah Benih Per Bonggol Klon Pisang Mas yang Dihasilkan Melalui Teknik Toping pada Benih Pisang Asal Anakan

.

Tinggi Benih yang Dipanen

Gambar 16 menunjukkan benih yang telah dipanen. Benih yang siap dipanen ditanam kembali dipolibag dengan media tanam arang sekam dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1. Benih yang dipanen memiliki tinggi yang tidak seragam. Ketidakseragaman tinggi benih diduga karena pertumbuhan benih dipengaruhi oleh persaingan yang terjadi antar benih dalam bonggol yang sama.

Pengukuran tinggi benih pisang dilakukan pada saat pemanenan dilakukan yang merupakan fase vegetatif. Menurut Haryadi (1996) terdapat tiga proses penting pada fase ini yaitu pembelahan sel, perpanjangan sel, dan tahap awal dari diferensiasi sel. Pada saat tahapan-tahapan ini berlangsung tanaman memerlukan karbohidarat dalam jumlah besar untuk menunjangnya. Pada saat tanaman telah mampu membentuk karbohidrat melalui fotosintesis dengan baik maka pembelahan dan pemanjangan sel berjalan dengan cepat. Apabila laju pembelahan dan pemanjangan sel berjalan dengan cepat maka pertumbuhan batang, daun dan akar juga semakin cepat.

Gambar 16. Keragaman Tinggi Benih Pisang Hasil Panen yang telah Dipindahkan ke Polibag pada Benih Pisang Asal Anakan.

Tinggi benih diukur pada saat panen dilakukan dengan menggunakan penggaris. Setelah diukur kemudian benih dipanen dengan pisau cutter yang steril untuk menghindari organisme pengganggu tanaman yang mungkin masuk pada saat panen dilakukan.

Gambar 17 menunjukkan tinggi benih pisang tanduk yang dipanen pada periode 7 dan 8 MST. Diketahui bahwa tinggi benih rata-rata selama periode 7-8 MST pada perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm secara berturut-turut adalah 6.66 cm, 5.56 cm, dan 5.16 cm.

Gambar 18 menunjukkan tinggi benih pisang mas yang dipanen pada periode 7 dan 8 MST. Diketahui bahwa tinggi benih rata-rata selama periode 7-8 MST pada perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm secara berturut-turut adalah 8.46 cm, 8.56 cm, dan 7.14 cm.

Gambar 17. Tinggi Benih Klon Pisang Tanduk yang Dipanen pada Benih Pisang Asal Anakan.

Gambar 18. Tinggi Benih Klon Pisang Mas yang Dipanen pada Benih Pisang Asal Anakan.

Teknik Toping Pada Benih Kultur Jaringan

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pengaruh tunggal maupun interaksi antara jenis klon dan BA tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas 1-5 MST dan tinggi benih yang dipanen 9 MST. Jenis klon berpengaruh sangat

nyata terhadap terhadap tinggi benih yang dipanen 5-6 MST, dan jenis klon berpengaruh nyata terhadap jumlah benih yang dipanen 1-9 MST, dan tinggi benih yang dipanen 7-8 MST (Tabel 3).

Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Analisis Ragam Teknik Toping pada Benih Pisang Asal Kultur Jaringan.

Peubah MST Perlakuan

Jenis klon Konsentrasi BA Klon * BA

Jumlah Tunas 1-5 tn tn tn Jumlah Benih 1-9 * tn tn Tinggi Benih 5-6 ** tn tn 7-8 * tn tn 9 tn tn tn Keterangan : tn = tidak nyata * = nyata ** = sangat nyata

MST = minggu setelah toping

Jumlah Tunas

Gambar 19 menunjukkan akumulasi tunas pisang ITC-1 selama periode 1-5 MST. Diketahui bahwa rata-rata pada 5 MST dari setiap benih dengan pemberian BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm secara berurut-turut terbentuk 2.26 tunas, 1.61 tunas, dan 1.86 tunas.

Akumulasi tunas klon pisang ITC-1 perpolibag yang dihasilkan oleh perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm mencapai nilai tertinggi pada saat 3 MST, yaitu secara berturut-turut 2.26 tunas, 1.83 tunas, dan 1.86 tunas. Akumulasi jumlah tunas mengalami penurunan pada pengamatan selanjutnya karena adanya tunas yang mati.

Gambar 20 menunjukkan akumulasi tunas pisang ITC-2 selama periode 1-5 MST. Diketahui bahwa rata-rata pada 5 MST dari setiap benih dengan pemberian BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm secara berurut-turut terbentuk 3.06 tunas, 2.13 tunas, dan 2.33 tunas.

Gambar 19. Akumulasi Tunas Per Bonggol Pisang ITC-1 yang Dihasilkan Melalui Teknik Toping pada Pisang Kultur Jaringan.

Akumulasi tunas klon pisang ITC-2 perpolibag yang dihasilkan oleh perlakuan BA 0 ppm dan 25 ppm, dan 50 ppm mencapai nilai tertinggi pada saat 3 MST secara berturut-turut yaitu 3.13 tunas, 2.46 tunas, dan 2.33 tunas. Akumulasi jumlah tunas mengalami penurunan pada pengamatan selanjutnya karena adanya tunas yang mati.

Gambar 20. Akumulasi Tunas Per bonggol Pisang ITC-2 yang Dihasilkan Melalui Teknik Toping pada Pisang Kultur Jaringan.

1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST

Menurut Salisbury dan Ross (1995) nisbah sitokinin : auksin berperan penting dalam mengendalikan dominansi apikal ; nisbah yang tinggi mendorong perkembangan tunas lateral dan nisbah yang rendah mendorong dominansi apikal. Efek morfologi yang paling jelas akibat sitokinin yang tinggi adalah berkembangnya sejumlah besar tunas lateral.

Tujuan dari pemberian sitokinin (BA) pada bonggol dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah tunas lateral yang muncul pada bonggol. Namun, pemberian BA pada konsentrasi 0 ppm, 25 ppm dan 50 ppm yang diaplikasikan dengan penyemprotan pada bonggol pisang asal kultur jaringan tidak menunjukan pengaruh nyata terhadap jumlah tunas lateral yang muncul pada bonggol pisang asal anakan. Hal ini menunjukan bahwa pemberian BA pada konsentrasi 0-50 ppm tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas lateral yang muncul pada bonggol.

Selain itu, aplikasi BA dengan penyemprotan pada bonggol pisang diduga juga menjadi penyebab kurangnya respon bonggol terhadap pemberian BA. BA yang disemprotkan pada permukaan bonggol diduga tidak terserap baik oleh bonggol untuk memutus dormansi tunas lateral. Akibat dari tidak optimalnya penyerapan BA ini diduga menjadi penyebab beberapa tunas lateral yang masih dorman. Dengan demikian perlu ditemukan suatu teknik aplikasi BA yang memungkinkan penyerapan BA yang optimum oleh bonggol pisang.

Jumlah Benih yang Dihasilkan

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa jenis klon berpengaruh nyata terhadap jumlah benih yang dipanen pada 5-9 MST (Tabel Lampiran 8). Uji lanjut dengan DMRT menunjukkan bahwa klon pisang ITC-1 berbeda nyata dengan klon pisang ITC-2. Klon pisang ITC-2 menghasilkan benih yang lebih banyak, yaitu 2.33 benih, sedangkan Klon pisang ITC-1 hanya menghasilkan 1.75 benih (Tabel 4).

Tabel 4. Pengaruh Jenis Klon Terhadap Jumlah Benih yang Dipanen pada Pisang Kultur Jaringan.

Jenis Klon Jumlah Panen

ITC-1 (A1) 1.75 b

ITC-2 (A2) 2.33 a

Keterangan : Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5 %.

Panen benih klon pisang ITC-1 mulai dilakukan pada saat 5 MST. Gambar 21 menunjukkan jumlah benih per bonggol dari klon pisang ITC-1 yang dihasilkan. Diketahui bahwa akumulasi rata-rata dari setiap benih klon pisang ITC-1 yang dihasilkan pada perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm pada 5-9 MST secara berturut-turut adalah 2.28 benih, 1.42 benih, dan 2.00 benih. Benih yang dipanen selama periode 0-9 MST pada perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm secara berturut-turut adalah 32 benih, 20 benih, dan 28 benih.

Gambar 21. Jumlah Benih Per Bonggol Klon Pisang ITC-1 yang Dihasilkan Melalui Teknik Toping pada Benih Kultur Jaringan.

Jumlah benih per bonggol yang dihasilkan dari klon pisang ITC-1 terlihat pada Gambar 21. Diketahui bahwa akumulasi rata-rata dari setiap benih klon

6 MST

pisang ITC-1 yang dihasilkan pada perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm pada 5-9 MST secara berturut-turut adalah 2.26 benih, 1.41 benih, dan 1.99 benih. Total benih yang dihasilkan selama periode 0-9 MST dari semua taraf konsentrasi BA dari 45 bonggol benih pisang ITC-1 adalah 80 benih.

Gambar 21 juga memperlihatkan pada 6 MST tidak ada benih yang dapat dipanen karena sudah terlebih dahulu habis dipanen pada 5 MST. Pemanen benih pisang ITC-1 dapat dilakukan pada 5 MST maupun 7 MST. Sedangkan pada 6 MST, 8 MST, dan 9 MST jumlah benih pisang yang dipanen sangat sedikit sehingga kurang tepat untuk menjadi waktu panen benih pisang ITC-1.

Gambar 22. Jumlah Benih Per Bonggol Klon Pisang ITC-2 yang Dihasilkan Melalui Teknik Toping pada Benih Kultur Jaringan.

Jumlah benih per bonggol yang dihasilkan dari klon pisang ITC-2 terlihat pada Gambar 22. Diketahui bahwa akumulasi rata-rata dari setiap benih klon pisang ITC-2 yang dihasilkan pada perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm pada 5-9 MST secara berturut-turut adalah 2.73 benih, 2.00 benih, dan 2.27 benih. Total benih yang dihasilkan selama periode 0-9 MST dari semua taraf konsentrasi BA dari 45 bonggol benih pisang ITC-1 adalah 105 benih.

(a) (b) (c)

Gambar 23. Pemanenan Benih (a), Benih yang Telah Dipanen (b), dan Benih yang Telah Dipindahkan Ke Polibag (c).

Gambar 23 memperlihatkan kegiatan panen dan hasil panen benih. Benih yang sudah layak panen adalah yang telah memiliki akar dan daun minimal 2 buah daun. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan pisau yang telah disterilisasi dengan alkohol 70%, dan dengan menyertakan bagian bonggol. Kemudian setelah dipanen maka benih dipindahkan ke polibag lain untuk pembenihan selanjutnya.

Tinggi Benih yang Dipanen

Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa jenis klon berpengaruh sangat nyata terhadap tinggi benih yang dipanen 5-6 MST dan berpengaruh nyata terhadap benih yang dipanen 7-8 MST. Uji lanjut dengan DMRT menunjukkan bahwa klon pisang ITC-1 berbeda nyata dengan klon pisang ITC-2. Klon pisang ITC-1 menghasilkan benih yang lebih tinggi pada 5-6 MST, yaitu 4.89 cm perbenih. Sedangkan pada 7-8 MST klon pisang ITC-1 berbeda nyata dengan klon pisang ITC-2. Klon pisang ITC-2 menghasilkan benih yang lebih tinggi yaitu 3.55 cm perbenih. Hasil tersebut tidak berbeda nyata pada 9 MST (Tabel 5).

Tabel 5. Pengaruh Jenis Klon Terhadap Tinggi Benih yang Dipanen pada Pisang Kultur Jaringan. Jenis Klon Waktu Panen 5-6 MST 7-8 MST 9 MST ITC-1 (A1) 4.89 a 2.36 b 2.55 a ITC-2 (A2) 4.42 b 3.55 a 3.38 a

Keterangan : Nilai yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada uji DMRT 5 %.

Data ditransformasi dengan

Gambar 24 menunjukkan tinggi benih pisang ITC-1 yang dipanen pada periode 5-9 MST. Diketahui bahwa tinggi benih rata-rata selama periode 5-9 MST pada perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm secara berturut-turut adalah 10.93 cm, 10.07 cm, dan 10.38 cm.

Gambar 25 menunjukkan tinggi benih pisang klon ITC-2 yang dipanen pada periode 5-9 MST. Diketahui bahwa tinggi benih rata-rata selama periode 5-9 MST pada perlakuan BA 0 ppm, 25 ppm, dan 50 ppm secara berturut-turut adalah 9.40 cm, 10.60 cm, dan 11.28 cm.                  

Gambar 24. Tinggi Benih Klon Pisang ITC-1 yang Dipanen pada Pisang Kultur Jaringan.

Gambar 25. Tinggi Benih Klon Pisang ITC-2 yang Dipanen pada Pisang Kultur Jaringan.

Gambar 26 menunjukkan benih yang telah dipanen. Benih yang telah dipanen ditanam kembali dipolibag dengan media tanam arang sekam dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1. Benih yang dipanen memiliki tinggi yang tidak seragam.

Gambar 26. Benih-Benih Pisang Hasil Produksi dengan Teknik Toping dari Bahan Benih Kultur Jaringan.

Dokumen terkait