• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil analisa statistik menunjukan bahwa perlakuan pemberian vitamin C pada marmot menunjukan hasil yang tidak nyata seperti terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Bobot Hidup Akhir Marmot pada Berbagai Level Pemberian Vitamin C

Perlakuan Bobot Hidup Akhir (g) R1 (Kontrol, tanpa penambahan vitamin C) 396,67 + 23,09 R2 (Penambahan vitamin C sebanyak 3 mg) 391,67 + 36,85 R3 (Penambahan vitamin C sebanyak 4 mg) 403,30 + 25,16 R4 (Penambahan vitamin C sebanyak 5 mg) 410,00 + 17,32 R5 (Penambahan vitamin C sebanyak 6 mg) 423,33 + 32,14 R6 (Penambahan vitamin C sebanyak 7 mg) 470,00 + 40,00

Bobot hidup akhir dipengaruhi oleh kecepatan pertumbuhan ternak tersebut. Semakin ternak tersebut tumbuh maka berat hidup akan semakin besar. Menurut Winarno (2002) fungsi protein merupakan sebagai pengendalian pertumbuhan, oleh karena itu asupan protein dalam ransum akan mempengaruhi laju pertumbuhan seekor ternak. Ransum yang diberikan pada setiap perlakuan sama, dalam jumlah yang sama dan mengandung zat makanan (Energi dan Protein) yang sama sehingga bobot badan yang dihasilkan tidak banyak berbeda. Konsumsi ransum marmot yang diberi perlakuan penambahan vitamin C sampai pada level 7 mg/ekor/hari menujukan hasil yang tidak nyata yaitu sebesar 27,63-28,30 g/ekor/hari Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Yurmiati (1991) pada kelinci bahwa perbedaan jumlah ransum memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap bobot hidup akhir. Pemberian vitamin C sampai pada level 7 mg belum memberikan hasil yang nyata, ini dikarenakan vitamin C tidak langsung berperan dalam peningkatan bobot hidup akhir melainkan bergantung kepada jumlah asupan energi dan proteinnya. Bobot hidup akhir yang dihasilkan pada penelitian ini berkisar antara 391,67-470 g.

Persentase Karkas

Persentase karkas dihitung dengan membandingkan bobot karkas dengan bobot hidup akhir dikalikan 100 %. Persentase karkas menjadi salah satu indikator produksi ternak yang dihasilkan.

Tabel 3. Persentase Karkas Marmot pada Berbagai Level Pemberian Vitamin C

Perlakuan Persentase Karkas (%) R1 (Kontrol, tanpa penambahan vitamin C) 38,04B + 0,74 R2 (Penambahan vitamin C sebanyak 3 mg) 37,96B + 0,47 R3 (Penambahan vitamin C sebanyak 4 mg) 40,42A + 0,51 R4 (Penambahan vitamin C sebanyak 5 mg) 38,47B + 0,70 R5 (Penambahan vitamin C sebanyak 6 mg) 38,54B + 1,00 R6 (Penambahan vitamin C sebanyak 7 mg) 38,05B + 0,50

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan perbedaan yang sangat nyata (p<0,01) ditandai dengan huruf besar.

Sidik ragam memberikan hasil yang sangat nyata (p<0,01). Perlakuan R3 (40,42 %) nyata lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hal ini disebabkan karena pertambahan bobot badan marmot yang diberi penambahan vitamin C sebanyak 4 mg memberikan hasil yang nyata pula yaitu sebasar 2,32 g/ekor/hari dengan kisaran 1,19-2,32 g/ekor/hari. PBB yang tinggi akan menghasilkan berat karkas yang tinggi sehingga persentase yang dihasilkan akan ikut meningkat.

Menurut Soeparno (1992) bahwa persentase karkas biasanya meningkat seiring dengan meningkatnya bobot badan. Persentase karkas pada penelitian ini berkisar antara 37,96-40,42 % (Tabel 3). Korelasi antara level vitamin C dengan persentase karkas mengikuti persamaan y = -0,0046 x + 38,596 dengan R2 = 8 x 10-5 seperti terlihat pada Gambar 2.

Selain itu persentase karkas marmot tertinggi ini diduga karena peranan vitamin C dalam pembentukan kolagen. Kolagen adalah salah satu protein serat yang merupakan komponen utama jaringan ikat dan kulit pembentuk tulang dan gigi. Serat kolagen yang baik akan membentuk tulang yang besar dan kuat sehingga secara tidak langsung akan memperbesar karkas yang dihasilkan.

20

y = -0.0046x + 38.596 R2 = 8E-05

Ket : y= Persentase Karkas (%) x= Level Vitamin C (mg) 36.5 37 37.5 38 38.5 39 39.5 40 40.5 41 0 3 4 5 6 7 Level Vitam in C (m g) P er s en tas e K ar k as ( % )

Gambar 2. Grafik Hubungan Level Vitamin C dengan Persentase Karkas Marmot.

Tanpa vitamin C maka serat yang terbentuk sedikit dan tidak normal sehingga dalam jangka panjang akan mengakibatkan tulang rapuh, gigi keropos karena serat kolegennya lemah dan rapuh (Piliang, 2004).

Kadar Air

Hasil sidik ragam menunjukan bahwa pemberian vitamin C berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap kadar air daging. Dengan uji jarak Duncan, rataan kadar air untuk R5 (73,64%) berbeda nyata dengan R1 (75,51%) dan R2 (76,83%) namun tidak berbeda nyata dengan R3 (74,48%), R4 (74,97%), R6 (74,46%).

Tabel 4. Kadar Air Daging Marmot pada Berbagai Level Pemberian Vitamin C

Perlakuan Kadar Air (%) R1 (Kontrol, tanpa penambahan vitamin C) 75,51ba + 0,78 R2 (Penambahan vitamin C sebanyak 3 mg) 76,83a + 0,89 R3 (Penambahan vitamin C sebanyak 4 mg) 74,48bc + 0,93 R4 (Penambahan vitamin C sebanyak 5 mg) 74,97bc + 0,86 R5 (Penambahan vitamin C sebanyak 6 mg) 73,64c + 0,65 R6 (Penambahan vitamin C sebanyak 7 mg) 74,46bc + 0,18

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan perbedaan yang nyata (p<0,05) ditandai dengan huruf kecil.

Kadar air daging pada penelitian ini berkisar antara 73,64-76,83%, hasil ini masih berada dalam kisaran yang dinyatakan oleh Soeparno (1992) bahwa daging mengandung sekitar 70 % air dengan kisaran antara 65-80 %. Selain itu juga, daging

dengan kadar air tinggi akan memicu pertumbuhan mikroba sehingga mempercepat pembusukan. Korelasi antara level vitamin C dengan kadar air daging mengikuti persamaan y = -0,4049 x + 76,415 dengan nilai R2 = 0,4873 seperti terlihat pada Gambar 3.

y = -0.4094x + 76.415 R2 = 0.4873

Ket : y= Kadar Air Daging Marmot (%) x= Level Vitamin C (mg) 72 73 74 75 76 77 78 0 3 4 5 6 7 Level Vitamin C (mg) Kad a r Ai r Dag in g M a rmo t ( % )

Gambar 3. Grafik Hubungan Level Vitamin C dengan Kadar Air Daging Marmot.

Khotijah (1999) melaporkan bahwa kadar air daging kelinci yang diberi penambahan vitamin E pada ransumnya menghasilkan perbedaan yang nyata dikerenakan fungsi vitamin E sebagai sebagai antioksidan, dimana dapat membantu menghambat proses oksidasi. Kerusakan sel diakibatkan dinding sel yang rusak akibat proses oksidasi. Dengan penambahan vitamin E diharapkan cairan dalam membran akan tetap terjaga sehingga secara tidak langsung akan mengurangi kehilangan cairan karkas.

Fungsi yang sama juga ditemukan pada vitamin C yaitu sebagai antioksidan, olehkarena itu penambahan vitamin C kemungkinan dapat menguragi kehilangan cairan sel tubuh yang secara tidak langsung kehilangan cairan karkas.

Kadar air tertinggi ada pada perlakuan R2 yaitu sebesar 76,82 % memiliki bobot badan terrendah yaitu sebasar 391,67 g. Menurut Sutardi (1980) pada ternak dewasa bahwa kadar air berbanding terbalik dengan kadar lemak tubuh, semakin tinggi bobot badan ternak maka kadar lemaknya semakin tinggi sehingga kadar air dalam tubuhnya pun semakin rendah, begitu pula sebaliknya.

22

Abu

Abu adalah bahan anorganik sisa dari pembakaran bahan organik. Berdasarkan hasil analisa statistik bahwa penambahan vitamin C tidak berpengaruh nyata terhadap kadar abu daging.

Tabel 5. Kadar Abu Daging Marmot pada Berbagai Level Pemberian Vitamin C

Perlakuan Kadar Abu (%) R1 (Kontrol, tanpa penambahan vitamin C) 1,34 + 0,25 R2 (Penambahan vitamin C sebanyak 3 mg) 1,27 + 0,04 R3 (Penambahan vitamin C sebanyak 4 mg) 1,37 + 0,12 R4 (Penambahan vitamin C sebanyak 5 mg) 1,49 + 0,42 R5 (Penambahan vitamin C sebanyak 6 mg) 1,56s + 0,26 R6 (Penambahan vitamin C sebanyak 7 mg) 1,39 + 0,11

Pemberian vitamin C sampai pada level 7 mg pada marmot dewasa tidak menunjukan adanya pengaruh yang nyata. Hal ini diduga karena vitamin C tidak berkaitan secara langsung dengan kadar abu daging melainkan pada penyerapan mineral di dalam tubuh. Vitamin C dapat menyebabkan peningkatan beberapa ion metal di dalam tubuh (Piliang, 2004), salah satunya dalam metabolisme Fe, terutama membantu penyerapan Fe di usus dan pemindahannya ke dalam darah (Linder, 1992). Kadar abu pada penelitian ini berkisar antara 1,27-1,56 % (Tabel 5). Menurut Forest et al. (1975) bahwa kadar abu daging relatif konstan yaitu sekitar 1%.

Protein

Protein terdiri dari asam-asam amino yang mengandung unsur-unsur C, H, O dan N yang tidak dimiliki oleh karbohidrat dan lemak. Protein berfungsi sebagai zat pembangun, pengatur dan sebagai bahan bakar bagi tubuh (Winarno, 1992). Hasil sidik ragam menunjukan bahwa pemberian vitamin C tidak berpengaruh nyata terhadap protein daging seperti terlihat pada Tabel 6. Hal ini diduga karena protein yang banyak dipengaruhi oleh vitamin C adalah kolagen yang merupakan protein serat komponen pembentuk tulang dan gigi sedangkan protein terbesar yang terdapat pada daging adalah aktin dan miosin sehingga penambahan vitamin C sampai pada level 7 mg tidak memberikan perbedaan yang nyata pada kadar protein daging

Tabel 6. Kadar Protein Daging Marmot pada Berbagai Level Pemberian Vitamin C

Perlakuan Protein (%)

R1 (Kontrol, tanpa penambahan vitamin C) 18,71 + 1,57 R2 (Penambahan vitamin C sebanyak 3 mg) 18,19 + 1,20 R3 (Penambahan vitamin C sebanyak 4 mg) 20,24 + 0,74 R4 (Penambahan vitamin C sebanyak 5 mg) 20,06 + 1,03 R5 (Penambahan vitamin C sebanyak 6 mg) 17,97 + 1,59 R6 (Penambahan vitamin C sebanyak 7 mg) 19,74 + 1,74

Kadar protein daging lebih banyak dipengaruhi oleh kadar protein ransum yang diberikan. Ransum yang diberikan pada penelitian ini sama, mengandung protein yang sama dan diberikan dalam jumlah yang sama diduga menyebabkan hal ini terjadi. Kadar protein yang tidak nyata dikarenakan konsumsi ransum yang tidak nyata pula seperti dilaporkan Setiawati (2006) bahwa konsumsi marmot pada setiap perlakuan relatif sama yaitu sebesar 27,63-28,30 g/ekor/hari. Kadar protein daging pada penelitian ini berkisar antara 17,97-20,24%. Hasil ini lebih rendah jika dibandingkan dengan yang diperoleh Wikipedia (1999) yaitu sebesar 21%. Forrest et al. (1975) menyatakan bahwa protein daging relatif konstan antara 18-22%.

Lemak

Kadar lemak daging memiliki peranan penting dalam menentukan aroma dan keempukan daging (Forest et al., 1975). Berdasarkan hasil analisa statistik bahwa pemberian vitamin C menunjukan hasil yang tidak nyata terhadap kadar lemak daging. Kisaran kadar lemak daging yang dihasilkan pada penelitian ini adalah 1,32-1,81%, Forrest et al. (1975) menyatakan bahwa kadar lemak daging bervariasi sekitar 1,5-13%.

Hal ini diduga karena jenis komposisi pakan yang diberikan selama pemeliharaan relatif sama sehingga kadar lemak daging yang dihasilkan tidak jauh berbeda. Anggorodi (1973) menyatakan bahwa persentase lemak daging pada umumnya tergantung kadar bahan makanan yang dikonsumsi.

24 Tabel 7. Kadar Lemak Daging Marmot pada Berbagai Level Pemberian

Vitamin C

Perlakuan Lemak (%)

R1 (Kontrol, tanpa penambahan vitamin C) 1,61 + 0,45 R2 (Penambahan vitamin C sebanyak 3 mg) 1,44 + 0,41 R3 (Penambahan vitamin C sebanyak 4 mg) 1,62 + 0,20 R4 (Penambahan vitamin C sebanyak 5 mg) 1,81 + 0,06 R5 (Penambahan vitamin C sebanyak 6 mg) 1,51 + 0,34 R6 (Penambahan vitamin C sebanyak 7 mg) 1,32 + 0,21

Vitamin C berperan dalam pembentukan karnitin yang berfungsi membantu asam-asam lemak masuk ke mitokondria untuk dirombak kembali menjadi energi (Lehninger,1982) sehingga lemak tidak banyak tertimbun di dalam tubuh. Ini menghasilkan kadar lemak daging marmot lebih rendah bila dibandingkan dengan daging ternak lain. Peranan vitamin C dalam perombakan lemak menjadi energi terlihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Peranan Vitamin C pada Perombakan Lemak menjadi Energi (Lehninger, 1982).

Lisin dan Metionin

EnzimHidroksilase + Vitamin C

Karnitin

Karnitin transferase

Transport Asam Lemak ke Mitokondria

Kolesterol

Kolesterol merupakan bagian penting dalam sel dan jaringan-jaringan tubuh, otak, syaraf, ginjal, hati serta memegang peranan dalam produksi asam empedu, beberapa hormon dan sintesis vitamin D (Suhardjo dan Kusharto, 1989). Hasil sidik ragam menunjukan bahwa pemberian vitamin C berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap kolesterol daging.

Tabel 8. Kolesterol Daging Marmot pada Berbagai Level Pemberian Vitamin C

Perlakuan Kolesterol (mg%)

R1 (Kontrol, tanpa penambahan vitamin C) 1,59A + 0,18 R2 (Penambahan vitamin C sebanyak 3 mg) 1,56A + 0,07 R3 (Penambahan vitamin C sebanyak 4 mg) 1,34B + 0,05 R4 (Penambahan vitamin C sebanyak 5 mg) 1,31B + 0,15 R5 (Penambahan vitamin C sebanyak 6 mg) 1,07C + 0,05 R6 (Penambahan vitamin C sebanyak 7 mg) 1,11C + 0,01

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang sama menunjukan perbedaan yang sangat nyata (p<0,01) ditandai dengan huruf besar

Dengan uji jarak Duncan rataan kolesterol R1 (1,59 mg%) dan R2 (1,56 mg%) tertinggi, kemudian diikuti R3 (1,34 mg%) dan R4 (1,31 mg%) serta R5 (1,07 mg%) dan R6 (1,11 mg%) (tabel 8). Kolesterol daging yang dihasilkan pada penelitian ini berkisar antara 1,07-1,59 mg%. Korelasi antara kadar kolesterol daging marmot dengan level vitamin C adalah negatif yaitu semakin tinggi level vitamin C yang diberikan maka kadar kolesterol di dalam daging marmot semakin menurun dengan persamaan y = - 0,1114 x + 1,72 dengan R2 = 0,9168 seperti terlihat dalam Gambar 5.

Hal ini karena vitamin C dapat memicu kolesterol di dalam tubuh untuk membentuk asam empedu sehingga dengan mudah terbuang melalui feses. Atmosukarto dan Rahmawati (2003) menyatakan bahwa vitamin C merupakan salah satu antioksidan yang dapat menurunkan kolesterol dalam tubuh serta dapat menurunkan tekanan darah dan kekurangan vitamin C dapat menyebabkan penggumpalan darah yang dapat memicu penyakit jantung dan stroke.

26

y = -0.1114x + 1.72 R2 = 0.9168

Ket : y= Kolesterol Daging Marmot (mg%) x= Level Vitamin C (mg) 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 0 3 4 5 6 7 Level Vitamin C (mg) K o le s te rol D a ging M a rm ot (m g % )

Gambar 5. Grafik Hubungan Level Vitamin C dengan Kadar Kolesterol Daging Marmot.

Vitamin C berperan pada tahap awal pembentukan asam empedu yaitu merangsang enzim 7 α-Hidroksilase untuk melakukan reaksi 7 α-Hidroksilasi kolesterol sehingga terbentuklah asam-asam empedu seperti asam taurokolat, asam deoksikolat dan asam litokolat, seperti terlihat pada gambar 6. Pembentukan asam empedu merupakan satu-satunya jalan bagi kolesterol untuk keluar dari tubuh. Oleh karena itu defisien vitamin C akan mengganggu pembentukan asam empedu dan akan menyebabkan penumpukkan kolesterol (Harper et al., 1979).

Marmot merupakan hewan yang membutuhkan serat ransum yang tinggi sekitar 10-30 % (Smith dan Mangkoewidjojo, 1988). Serat merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan kadar kolesterol di dalam darah. Pakan yang banyak mengandung serat maka akan lebih kuat mengikat asam empedu, karena serat mempunyai daya ikat yang kuat terhadap asam empedu. Akibatnya asam empedu bersama serat dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk kotoran. Dengan demikian semakin banyak serat yang dimakan, bertambah pula feses yang dikeluarkan, sehingga berbagai macam sterol juga dikeluarkan (Muchtadi et al., 1992).

Kolesterol

(Vitamin C)

7-α-hidroksikolesterol

7-α-hidroksi-4-kolesten-3-on 3α, 7α- dihidroksi-kolestan

7a, 12a- dihidroksi-4-kolesteen-3-0n Kenodeoksikolil- Ko A

3a,7a,12a-trihidroksikolestan Asam tauro dan gliko kenodioksikolat

3α,7α12α-2-6-tetrahidroksi kolestan Asam Litokolat

3α,7α12α-Trihidroksi kolestanoil-Ko A

Kolil Ko-A Asam Taurokolat

Asam glikokolat

Asam deoksikolat

Gambar 6. Biosintesis Asam-asam Empedu dari Kolesterol (Harper et al.,

1979).

Supaya sistem metabolisme lemak tidak terganggu, asam empedu baru dalam sistem pencernaan harus tersedia. Asam empedu baru dibentuk dari kolesterol tubuh. Peningkatan sekresi empedu menyebabkan semakin banyak pula eksresi kolesterol melalui feses sehingga konsentrasi kolesterol tubuh akan menurun. Astawan et al. (2005) melaporkan dalam penelitiannya pada tikus bahwa kandungan serat yang tinggi dalam ransum secara nyata dapat menurunkan kadar kolesterol total. Hal ini disebabkan antara lain banyaknya asam empedu yang diikat oleh serat ransum sehingga terbawa keluar melalui feses.

Dokumen terkait