• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Bahan

Kayu yang digunakan dalam penelitian ini adalah kayu akasia, afrika dan jabon yang berasal dari daerah Dramaga, Ciampea Bogor dan Sindangbarang, Cianjur Jawa Barat. Kayu akasia diperoleh dalam bentuk balok ukuran 6 cm x 15 cm x 150 cm dengan perkiraan umur pohon ± 10 tahun, kayu afrika diperoleh dalam bentuk balok ukuran 6 cm x 12 cm x 400 cm dengan perkiraan umur pohon ± 6 tahun sedangkan kayu jabon diperoleh dalam bentuk balok ukuran 8 cm x 15 cm x 150 cm dan dalam bentuk log berdiameter ± 36 cm dengan perkiraan umur pohon ± 7 tahun.

Kayu akasia mempunyai susunan sel pembuluh tata baur, soliter dan berganda radial yang terdiri atas 2-3 pori. Parenkim kayu akasia bertipe paratakrea bentuk selubung di sekeliling pembuluh (Gambar 11a). Kayu afrika sel pembuluhnya berbentuk oval, sebagian soliter dan bergabung radial 2-4 sel pembuluh. Tipe sel parenkim adalah paratrakeal aliform sampai aliform bersambung. Sel jari-jarinya terbagi 2 macam yaitu sebagian ada yang lebar dan sebagian ada yang sempit (Gambar 11b). Struktur sel pembuluh kayu jabon jarang yang soliter, sebagian besar bergabung 2-3 dalam arah radial. Parenkim kayu jabon agak jarang, berbentuk 2-3 garis bersambungan dalam arah tangensial diantara jari-jari dan bersinggungan dengan sel pembuluh membentuk garis-garis panjang yang halus dan merupakan jaringan seperti jala dengan jari-jari (Gambar 11c).

Gambar 11 Penampang melintang kayu akasia (A), afrika (B) dan jabon (C).

Nilai berat jenis kayu akasia sebesar 0,53, kayu afrika 0,38 dan kayu jabon 0,35 sedangkan nilai kerapatan rata-rata kayu akasia sebesar 0,62 g/cm3, kayu afrika 0,44 g/cm3 dan kayu jabon 0,40 g/cm3

Perekat yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis perekat campuran dengan merk dagang P.I. Bond. Perekat tersebut diproduksi oleh PT. Polyoshika Co Ltd. Jepang dan didistribusikan oleh PT. Polychemie Asia Pacific Permai. Sesuai keterangan spesifikasi produk, perekat tersebut dikelompokkan sebagai WBPI dengan tipe produk PI-3100 untuk resin dan H-7 untuk hardener. Dalam aplikasinya perekat dicampur dengan perbandingan berat resin cair 100 bagian berat resin : 15 bagian berat hardener. Hasil determinasi menunjukkan bahwa resin solid content adalah rata-rata 52,53% untuk resin dan 94,35 % untuk hardener. Berdasarkan hasil pengamatan visual, perekat isosianat berwarna putih susu, bersih dan tidak ditemukan keberadaan benda asing baik itu berupa butiran padat, debu maupun benda lain seperti yang terlihat pada Gambar 12 :

. Penyusutan longitudinal, radial dan tangensial kayu akasia dari kondisi segar ke kering udara rata-rata sebesar 0,29%, 2,41% dan 4,62%. Kayu afrika rata-rata penyusutan longitudinal, radial dan tangensial sebesar 0,83%, 1,94% dan 3,04%, sedangkan rata-rata penyusutan kayu jabon sebesar 0,31%, 1,34% dan 4,89%. Nilai rata-rata kadar air kayu akasia pada kondisi basah dan kering udara sebesar 104,23%, 16,15% sedangkan untuk kayu afrika sebesar 63,35%, 14,21% dan kayu jabon sebesar 68,84%, 16,74%.

A B C

Gambar 12 Perekat WBPI yang terdiri dari base resin (A) dan hardener (B) serta kenampakan perekat campuran antara base resin dan hardener (C). Cairan perekat isosianat dapat membasahi permukaan kayu akasia, afrika dan jabon terlihat dari besarnya sudut yang dibentuk antara garis lengkung cairan

perekat isosianat dengan permukaan kayu akasia, afrika dan jabon sebesar ± 60,9 °C, ± 71,0 °C dan ± 55,8 °C, seperti pada Gambar 13 :

Gambar 13 Sudut kontak antara kayu akasia (A) , afrika (B dan jabon (C) dengan perekat isosianat.

Cairan dapat dikatakan membasahi bahan padat jika besar sudut kontak terletak antara 0°C dan 90°C dan dikatakan tidak membasahi bahan padat jika besar sudut kontak terletak antara 90°C dan 180°C. Keterbasahan menentukan sejauh mana cairan akan ditarik oleh permukaan, mempengaruhi absorpsi, adsorpsi, penetrasi, dan penyebaran (Marra 1992). Untuk memungkinkan terjadinya ikatan antara perekat dan permukaan, perekat harus lebih dulu membasahi permukaan dengan kata lain perekat harus diaplikasikan dalam bentuk cairan.

Pemilahan dan Penyusunan Lamina

Pemilahan lamina dengan NDT menghasilkan nilai MOE yang digunakan untuk pengelompokan lamina. Nilai MOE pada setiap ukuran tebal dibagi menjadi 3 kelompok dengan rentan nilai tertentu dan diberi symbol E1, E2 dan E3, dimana E1>E2>E3 (Lampiran 1, 2 dan 3). MOE dan jumlah masing-masing kelompok untuk setiap ukuran tebal dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Nilai MOE dan jumlah setiap kelompok lamina pada masing-masing ukuran tebal Jenis kayu Tebal lamina (cm) MOE (x104 kg/cm2) jumlah minimal maksimal jangkauan rataan E1 E2 E3

Akasia 1,67 6,12 16,06 10,15 10,65 8 8 4 1,00 7,66 17,09 9,43 13,63 16 8 8 0,71 8,06 19,18 11,12 13,09 16 8 20 ∑ 40 32 24 Afrika 1,67 6,36 9,64 3,28 7,94 8 8 8 1,00 7,26 11,85 4,58 8,97 16 16 8 0,71 5,45 10,88 5,43 8,46 16 16 24 ∑ 40 32 48 Jabon 1,67 4,35 10,11 5,77 7,51 8 8 12 1,00 4,32 12,74 8,42 6,88 16 24 8 0,71 4,72 13,77 9,05 7,27 16 24 28 ∑ 40 32 72 Tabel 3 menunjukkan secara umum nilai rataan MOE kayu akasia untuk semua ukuran tebal lebih tinggi dibandingkan dengan kayu afrika dan jabon. Nilai rataan MOE untuk kayu jabon 6,88 x 104-7,51 x 104 kg/cm2, kayu afrika 7,94 x 104-8,97 x 104 kg/cm2 dan kayu akasia 10,65 x 104-13,65 x 104 kg/cm2

Selain cacat tersebut, terdapat juga cacat berupa pingul yaitu adanya kulit atau tidak semupurnanya sudut-sudut pada pinggir atau sudut-sudut dari sepotong kayu. Cacat lain yang terdapat pada lamina ketiga jenis kayu adalah cacat akibat proses pengeringan karena adanya perbedaan penyusutan antara arah radial dan tangensial serta pengaruh internal stress akibat perbedaan distribusi kadar air dalam kayu (Tsoumis 1991). Cacat-cacat tersebut diantaranya membusur (bowing), melengkung (crooking) dan mencawan (cupping). Meskipun disebutkan bahwa jenis cacat ini tidak mempengaruhi nilai MOE namun cacat ini menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan lamina karena dapat menyulitkan dalam proses pengempaan.

. Nilai MOE ini berhubungan dengan kerapatan ketiga jenis kayu, disamping adanya cacat seperti mata kayu dan serat miring. Mata kayu dan serat miring lebih banyak terdapat pada kayu afrika. Hasil penelitian Alifianto (2007) bahwa cacat yang dominan pada kayu afrika adalah serat miring (48,4%) dan mata kayu (40,3%).

Selanjutnya berdasarkan nilai MOE pada Tabel 3 dapat diketahui bahwa nilai MOE tidak dipengaruhi oleh ukuran tebal lamina tetapi lebih pada kondisi

lamina terutama adanya cacat mata kayu dan serat miring. Nilai MOE lamina yang bervariasi disebabkan pada penelitian ini tidak dilakukan pembatasan nilai minimal atau maksimal yang digunakan dalam pembuatan balok CLT. Pemilahan yang dilakukan lebih ditujukan untuk pengelompokkan lamina menjadi kategori tinggi (E1), sedang (E2) dan rendah (E3) sehingga diharapkan semua lamina dapat digunakan.

Penyusunan nilai MOE pada setiap balok CLT diusahakan merata agar diperoleh balok CLT yang memilki kekuatan relatif homogen. Prinsip penyusunan ini adalah dengan menempatkan lamina yang memiliki nilai MOE yang lebih tinggi dibagian luar, sedangkan lamina yang memilki nilai MOE yang rendah ditempatkan dibagian dalam. Balok CLT 3 lapis tersusun atas 3 lapisan lamina tebal 1,67 cm dengan kombinasi penyusunan lamina sejajar bagian luar atas dan bawah serta lamina silang bagian dalam. Lamina yang memiliki nilai MOE tertinggi (E1) ditempatkan pada bagian luar bawah dan E2 ditempatkan bagian terluar atas serta pada bagian tengah ditempatkan E3 (Lampiran 4). Sementara itu, balok CLT 5 lapis disusun lamina dengan tebal 1 cm, kombinasi penyusunannya terdiri dari 2 lapisan sejajar bagian luar, 2 lapisan silang dan 1 lapisan sejajar bagian dalam. Balok CLT 7 lapis disusun oleh lamina tebal 0,71 cm dengan kombinasi penyusunan lamina sebagai berikut 2 lapisan sejajar bagian luar, 2 lapisan sejajar bagian dalam dan 3 lapisan silang. Penyusunan Lamina Balok CLT 5 dan 7 lapis adalah E1 ditempatkan sebagai lapisan luar, E2 sebagai lapisan kedua dan E3 sebagai lapisan dalam (Lampiran 5 dan 6).

Lamina yang memiliki nilai MOE yang tinggi ditempatkan pada bagian yang mengalami tegangan maksimum pada saat balok mengalami lenturan yaitu pada zona tekan (bagian atas balok) dan zona tarik (bagian bawah balok). Lamina yang ditempatkan pada zona tekan memiliki nilai MOE yang lebih rendah dibandingkan dengan lamina yang ditempatkan pada zona tarik bertujuan untuk mengoptimalkan kekakuan lentur balok CLT. APA (2003) menyatakan bahwa pada balok tidak seimbang (unbalanced beams) kualitas lamina yang digunakan pada zona tarik lebih tinggi dibandingkan lamina yang digunakan pada zona tekan, dimana hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya kayu.

Karakteristik Cross Laminated Timber Kerapatan

Sifat fisis kayu sangat erat hubungannya dengan sifat kekuatan kayu. Yap (1997) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi sifat mekanis kayu salah satunya adalah sifat fisis kayu. Oleh karena itu perlu diketahui nilai kerapatan balok CLT sebelum dapat menentukan sifat kekuatan kayu. Hasil perhitungan kerapatan diperoleh dari potongan balok CLT yang berbentuk kubus dengan ukuran sekitar 50 mm x 50 mm x 50 mm pada kondisi kering udara. Dari hasil pengujian terhadap kerapatan diperoleh nilai rataan kerapatan balok CLT akasia berkisar 0,64-0,65 g/cm3, balok CLT afrika 0,42-0,43 g/cm3, balok CLT jabon 0,42-0,46 g/cm3, balok CLT campuran akasia-jabon 0,55-0,57 g/cm3, balok CLT campuran afrika-jabon 0,42-0,44 g/cm3, balok CLT jabon-afrika 0,43-0,45 g/cm3 (Gambar 14).

Gambar 14 Histogram nilai rataan kerapatan balok CLT dari berbagai jenis kayu dan jumlah lapisan.

Pada gambar 14 dapat diketahui bahwa kerapatan balok CLT akasia lebih tinggi 13,4% dari balok CLT campuran akasia-jabon, sedangkan balok CLT campuran akasia-jabon lebih tinggi 20,9-24,2% dibandingkan balok CLT dari kayu afrika, jabon dan campuran kedua kayu tersebut. Berdasarkan analisis statistik (Lampiran 23) terhadap nilai kerapatan pada selang kepercayaan 95% diperoleh hasil bahwa jenis kayu berpengaruh signifikan terhadap kerapatan sedangkan jumlah lapisan dan interaksi antara jenis kayu dan jumlah lapisan

0,0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 K er apa ta n (g/ cm 3) 3 lapis 5 lapis 7 lapis

pengaruhnya tidak signifikan. Hal ini berarti bahwa jenis kayu memberikan pengaruh yang beragam terhadap kerapatan sedangkan jumlah lapisan memberikan pengaruh yang sama terhadap nilai kerapatan.

Hasil uji lanjut DMRT (Lampiran 23) menunjukkan bahwa nilai kerapatan balok CLT dari jenis kayu akasia berbeda nyata dengan balok CLT dari jenis kayu yang lain, begitu juga dengan balok CLT campuran kayu akasia-jabon berbeda nyata dengan balok CLT lainnya. Sedangkan balok CLT Jabon berbeda nyata dengan balok CLT akasia dan campuran akasia-jabon tetapi tidak berbeda nyata dengan balok CLT campuran jabon-afrika, campuran afrika-jabon dan afrika.

Nilai rataan kerapatan terbesar adalah balok CLT akasia dan kerapatan terendah balok CLT afrika. Hal ini dikarenakan berat jenis kayu akasia lebih besar dibandingkan kayu afrika maupun jabon. Menurut Pandit dan Kurniawan (2008), Semakin tinggi berat jenis suatu kayu maka akan semakin tinggi nilai kerapatan kayu tersebut. Pandit dan Kurniawan (2008) juga menyebutkan bahwa berat jenis rata-rata kayu akasia 0,61 (0,43-0,66). Yani (2009) melaporkan berat jenis rata- rata kayu jabon dengan diameter setinggi dada ± 36 cm sebesar 0,30, sedangkan kisaran berat jenis untuk kayu afrika menurut Abdurachman dan Hadjib (2006) sebesar 0,39-0,44.

Kadar air

Kadar air adalah banyaknya air yang terkandung dalam kayu yang dinyatakan dalam persen terhadap berat kering tanurnya (Brown et al. 1952). Untuk mengurangi kesulitan dalam pengolahan kayu maka kadar air tersebut harus diturunkan sampai pada kadar air rata-rata yang dicapai selama penggunaannya (Bowyer et al. 2003). Kadar air dalam kayu berpengaruh pada kekuatan kayu dan terhadap perekatan kayu. Kadar air balok CLT disyaratkan pada waktu perekatan tidak lebih dari kadar air saat pemakaian balok CLT dalam konstruksinya. Kadar air kayu berpengaruh terhadap kekuatan kayu, semakin rendah kadar air dibawah titik jenuh serat maka kekuatan kayu akan meningkat. Menurut Hoyle (1973) dalam Soelaeman (1998) balok laminasi biasanya dibuat dengan kadar air rata-rata 10-16%.

Kadar air balok CLT akasia berkisar 14,41-15,53%, balok CLT afrika 12,72-13,31%, balok CLT jabon 13,78-14,68%, balok CLT campuran akasia- jabon 13,87-15,15%, balok CLT campuran afrika-jabon 13,01-13,59% dan balok CLT campuran jabon-afrika 13,16-13,84% (Gambar 15).

Gambar 15 Histogram nilai rataan kadar air balok CLT dari berbagai jenis kayu dan jumlah lapisan.

Pada gambar 15 dapat diketahui bahwa kadar air balok CLT 3 lapis dari kayu akasia memiliki nilai lebih tinggi jika dibandingkan dengan balok CLT lainnya sedangkan balok CLT yang memiliki nilai kadar air paling rendah adalah balok CLT 7 lapis dari kayu afrika. Berdasarkan hasil analisis statistik (Lampiran 23) terhadap nilai kadar air pada selang kepercayaan 95% menunjukkan bahwa jumlah lapisan, jenis kayu dan interaksi antara jumlah lapisan dan jenis kayu berpengaruh signifikan terhadap kadar air balok CLT yang dihasilkan. Hal ini berarti bahwa jenis kayu dan jumlah lapisan memberikan pengaruh yang beragam terhadap kadar air balok CLT.

Hasil uji lanjut DMRT (Lampiran 23) jenis kayu terhadap kadar air menunjukkan bahwa nilai kadar air balok CLT dari jenis kayu akasia berbeda nyata dengan balok CLT dari jenis kayu yang lain, balok CLT dari jenis kayu campuran akasia-jabon tidak berbeda nyata dengan balok CLT jabon tetapi berbeda nyata dengan balok CLT dari jenis kayu yang lain. Balok CLT campuran afrika-jabon mempunyai nilai kadar air yang tidak berbeda nyata dengan balok CLT campuran jabon-afrika tetapi berbeda nyata dengan balok CLT lainnya.

0 2 4 6 8 10 12 14 16 K ada r A ir (%) 3 lapis 5 lapis 7 lapis

Sedangkan balok CLT afrika mempunyai nilai rataan kadar air yang berbeda nyata dengan balok CLT yang lain. Kadar air tertinggi adalah balok CLT dari kayu akasia dan balok CLT yang memiliki kadar air terendah adalah balok CLT dari kayu afrika.

Hasil uji lanjut DMRT (Lampiran 23) jumlah lapisan terhadap kadar air balok CLT menunjukkan bahwa nilai kadar air balok CLT 3 lapis berbeda nyata dengan balok CLT 5 dan 7 lapis, sedangkan balok CLT 5 lapis nilai rataan kadar airnya berbeda nyata dengan balok CLT 7 lapis. Nilai rataan kadar air tertinggi adalah balok CLT 3 lapis dan yang terendah adalah balok CLT 7 lapis. Hal ini berarti bahwa semakin tebal lamina penyusun balok CLT semakin besar nilai rataan kadar air balok CLT yang dihasilkan. Ketebalan lamina mempengaruhi lamanya proses pengeringan, semakin tebal lamina semakin lama waktu yang diperlukan dalam proses pengeringan.

Berdasarkan uji lanjut DMRT (Lampiran 23), interaksi antara jumlah lapisan dan jenis kayu menunjukkan bahwa nilai rataan kadar air jenis kayu akasia pada balok CLT 3 lapis berbeda nyata dengan balok CLT 5 dan 7 lapis, sedangkan balok CLT 5 lapis tidak berbeda nyata dengan balok CLT 7 lapis. Interaksi jenis kayu afrika dengan jumlah lapisan penyusun balok CLT terlihat bahwa balok CLT 5 lapis tidak berbeda nyata dengan balok CLT 3 lapis namun berbeda nyata dengan balok CLT 7 lapis, sedangkan balok CLT 3 lapis tidak berbeda nyata dengan balok CLT 7 lapis. Balok CLT 3 lapis jabon tidak berbeda nyata dengan balok CLT 5 lapis namun berbeda nyata dengan balok CLT 7 lapis jabon. Interaksi antara jenis kayu campuran akasia-jabon dengan jumlah lapisan balok CLT terlihat bahwa kadar air balok CLT 3 lapis berbeda nyata dengan balok CLT 5 dan 7 lapis sedangkan balok CLT 5 lapis tidak berbeda nyata dengan balok CLT 7 lapis. Jenis kayu campuran afrika-jabon menunjukkan bahwa nilai rataan kadar balok CLT 3 lapis tidak berbeda nyata dengan balok CLT 5 lapis namun berbeda nyata dengan balok CLT 7 lapis. Interaksi antara jenis kayu campuran jabon- afrika terlihat bahwa balok CLT 3 lapis tidak berbeda nyata dengan balok CLT 5 lapis namun berbeda nyata dengan balok CLT 7 lapis sedangkan balok CLT 5 lapis tidak berbeda nyata dengan balok CLT 7 lapis.

Perbedaan kadar air balok CLT disebabkan oleh adanya perbedaan kadar air lamina sebelum direkat, perbedaan kadar air lamina disebabkan perbedaan ketebalan lamina dan jenis kayu. Pengeringan lamina dilakukan dengan menggunakan kipas angin sehingga lamina yang memiliki ketebalan 1,67 cm memiliki kadar air yang lebih besar dibandingkan lamina yang memiliki ketebalan 0,71 cm. Ketebalan lamina mempengaruhi lamanya proses pengeringan, semakin tebal lamina semakin lama waktu yang diperlukan kayu untuk mengering. Begitu juga dengan jenis kayu, semakin besar kerapatan kayu semakin susah kayu tersebut dikeringkan.

Kadar air mempengaruhi sifat kekuatan kayu, pengembangan dan penyusutan. Perubahan kadar air di atas titik jenuh serat akan memberikan pengaruh yang berarti pada kayu tersebut. Namun sebaliknya perubahan kadar air di bawah titik jenuh serat akan mempengaruhi keteguhan, pengembangan dan penyusutan dimensi kayu. Kadar air semakin rendah pada umumnya kayu akan bertambah kuat (Bowyer et al. 2003).

Moody et al. (1999) menyatakan bahwa perbedaan maksimum kadar air tiap lamina adalah sebesar 5 %. Jika dilihat dari nilai kadar air lamina pada setiap ketebalan, perbedaan kadar air lamina masih dibawah 5%, dimana perbedaan kadar air lamina dari semua jenis kayu dengan ketebalan 1,67 cm sebesar 4,32%, lamina dengan ketebalan 1 cm sebesar 4,76% dan lamina dengan ketebalan 0,71 cm sebesar 4,75%. Perbedaan kadar air lamina kayu akasia dengan ketebalan 1,67 cm, 1 cm dan 0,71 cm secara berurutan sebesar 0,91%, 2,64% dan 3,30%. Jenis kayu afrika perbedaan kadar air antar lamina untuk masih-masing ketebalan 1,67 cm, 1 cm, 0,71 cm sebesar 1,86%, 2,20%, 3,25% sedangkan untuk kayu jabon sebesar 1,53%, 4,09% dan 3,72%.

Modulus of Elasticity (MOE) dengan Non Destructive Test (NDT)

Pengujian MOE dengan NDT dilakukan pada 2 posisi pengujian yaitu posisi baring (flatwise) dan posisi tegak (edgewise) seperti pada Gambar 16.

Gambar 16 Pengujian MOE dengan NDT pada posisi baring (A) dan tegak (B) balok CLT.

Nilai pengujian diperoleh dari pengukuran defleksi yang terjadi pada keempat sisi balok utuh dan balok CLT. Setiap posisi pengujian diperoleh 2 nilai MOE yaitu MOE muka 1 dan MOE muka 2, nilai MOE posisi baring dan tegak merupakan rata-rata nilai MOE muka 1 dan muka 2 pada setiap posisi pengujian.

Rataan hasil pengujian MOE dengan NDT pada posisi baring dapat dilihat pada Gambar 17, nilai rataan MOE untuk balok CLT akasia berkisar antara 9,50- 11,40 x 104 kg/cm2, balok CLT afrika 6,10-6,99 x 104 kg/cm2, balok CLT jabon 5,46-6,66 x 104 kg/cm2, balok CLT akasia-jabon 8,61-10,37 x 104 kg/cm2, balok CLT afrika-jabon 6,25-7,31 x 104 kg/cm2 dan balok CLT jabon-afrika 5,56-7,01 x 104 kg/cm2.

Gambar 17 Histogram nilai rataan MOE balok CLT dengan NDT pada posisi baring.

Sementara untuk posisi tegak nilai rataan MOE balok CLT akasia 7,61-8,91 x 104 kg/cm2, balok CLT afrika 5,46-5,81 x 104 kg/cm2, balok CLT jabon 4,56- 5,25 x 104 kg/cm2, balok CLT akasia-jabon 7,68-8,70 x 104 kg/cm2, balok CLT afrika-jabon 5,50-6,39 x 104 kg/cm2 dan balok CLT jabon-afrika 4,76-5,76 x 104 kg/cm2 (Gambar 18).

Gambar 18 Histogram nilai rataan MOE balok CLT dengan NDT pada posisi tegak.

Rataan nilai MOE pada pengujian posisi baring lebih tinggi dibandingkan pada posisi tegak, hal ini dikarenakan perubahan defleksi yang terjadi akibat beban yang diberikan pada balok CLT posisi tegak lebih besar dibandingkan pada posisi baring. Pada Gambar 16 dapat dilihat bahwa pengujian posisi baring, beban

0 2 4 6 8 10 12 MOE ( 10 4 kg/ cm 2) 3 lapis 5 lapis 7 lapis 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 MOE ( 10 4kg/ cm 2) 3 lapis 5 lapis 7 lapis

yang diberikan mengenai lapisan sejajar balok CLT dimana lamina-lamina penyusun balok CLT bersatu menjadi satu kesatuan untuk menahan beban yang diberikan sehingga perubahan defleksi yang terjadi lebih kecil. Sedangkan pada pengujian posisi tegak, beban yang diberikan mengenai lapisan silang balok CLT dimana lapisan silang yang satu dengan lapisan silang yang lain belum menjadi satu kesatuan sehingga setiap lapisan silang dimungkinkan masih berdiri sendiri dalam menahan beban yang diberikan hal ini mengakibatkan perubahan defleksi yang terjadi lebih besar.

Berdasarkan analisis statistik (Lampiran 23) jenis kayu dan jumlah lapisan berpengaruh signifikan terhadap nilai rataan MOE pada posisi baring sedangkan interaksi antara jenis kayu dan jumlah lapisan tidak berpengaruh signifikan. Hal ini berarti bahwa jenis kayu dan jumlah lapisan memberikan pengaruh yang beragam pada nilai MOE balok CLT pada posisi baring.

Berdasarkan hasil uji lanjut DMRT (Lampiran 23) jenis kayu terhadap MOE posisi baring menunjukkan bahwa nilai rataan MOE balok CLT jenis kayu akasia berbeda nyata dengan balok CLT dari jenis kayu lainnya. Balok CLT dari jenis kayu akasia-jabon berbeda nyata dengan balok CLT dari jenis kayu lainnya. Balok CLT afrika-jabon tidak berbeda nyata dengan balok CLT afrika tetapi berbeda nyata dengan balok CLT dari jenis kayu lainnya. Balok CLT afrika tidak berbeda nyata dengan balok CLT afrika-jabon, balok CLT jabon-afrika dan balok CLT jabon tetapi berbeda nyata dengan balok CLT akasia dan balok CLT akasia-jabon. Sedangkan balok CLT jabon mempunyai nilai rataan MOE yang berbeda nyata dengan balok CLT dari jenis kayu lainnya. Nilai rataan MOE tertinggi pada posisi baring adalah balok CLT dari jenis kayu akasia dan terendah balok CLT dari jenis kayu jabon, hal ini berkaitan dengan kerapatan kayu dimana kerapatan kayu akasia lebih besar dibandingkan kerapatan kayu jabon.

Hasil uji lanjut DMRT (Lampiran 23) jumlah lapisan terhadap MOE posisi baring menunjukkan bahwa rataan MOE posisi baring balok CLT 3 lapis berbeda nyata dengan balok CLT 5 lapis dan 7 lapis, sedangkan balok CLT 5 lapis berbeda nyata dengan balok CLT 7 lapis. Nilai rataan MOE posisi baring tertinggi adalah balok CLT 3 lapis dan nilai rataan terendah adalah balok CLT 7 lapis.

Berdasarkan analisis statistik (Lampiran 23) jenis kayu dan jumlah lapisan berpengaruh signifikan terhadap nilai rataan MOE pada posisi tegak sedangkan interaksi antara jumlah lapisan dan jenis kayu tidak berpengaruh signifikan. Hal ini berarti bahwa jenis kayu dan jumlah lapisan memberikan pengaruh yang beragam pada nilai MOE pada posisi tegak.

Berdasarkan hasil uji lanjut DMRT (Lampiran 23) jenis kayu terhadap MOE posisi tegak menunjukkan bahwa nilai rataan MOE balok CLT akasia-jabon tidak berbeda nyata dengan balok CLT akasia tetapi berbeda nyata dengan balok CLT dari jenis kayu lainnya. Balok CLT afrika-jabon tidak berbeda nyata dengan

Dokumen terkait