DAFTAR LAMPIRAN
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini dibahas tentang hasil penelitian beserta penjelasan aplikasi yang telah dibuat.
6
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB 6 PENUTUP
Pada bab ini dijelaskan kesimpulan dari hasil penelitian dan saran yang kedepannya dapat digunakan untuk pengembangan dari penelitian berikut.
7 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
BAB 2
LANDASAN TEORI
Sistem Informasi
Informasi merupakan data yang diolah menjadi bentuk yang berguna untuk membuat keputusan. Informasi bergua untuk membuat keputusan, karena informasi menurunkan ketidakpastian atau meningkatkan pengetahuan.
Informasi menjadi penting karena para pengelola dapat mengetahui kondisi obyektif perusahaanya. Informasi tersebut merupakan hasil pengolahan data atau fakta yang dikumpulkan dengan metode ataupun cara-cara tertentu (Muslihudin & Oktafianto, 2016).
Sistem informasi dapat didefinisikan sebagai suatu alat untuk menyajikan suatu informasi dengan cara sedemikian rupa, sehingga bermanfaat bagi penggunanya. Tujuannya adalah untuk menyajikan informasi guna pengambilan keputusan pada perencanaan, pemrakarsaan, pengorganisasian, pengendalian kegiatan operasi subsistem suatu perusahaan, dan menyajikan sinergi organisasi pada proses (Muslihudin & Oktafianto, 2016).
Sistem Informasi Akademik
SIAKAD (Sistem Informasi Akademik) adalah suatu sistem informasi akademik yang dibangun untuk memberikan kemudahan kepada pengguna dalam kegiatan administrasi akademik kampus secara online, seperti proses penerimaan mahasiswa baru (PMB), pembuatan kurrikulum, pembuatan jadwal kuliah, pengisian kartu rencana studi (KRS), pengisian nilai, pengelolaan data dosen & mahasiswa. Sistem ini juga dapat berfungsi sebagai pendukung untuk analisis data dalam menentukan keputusan kampus (Imelda
& Erik, 2014).
8
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
AIS UIN Jakarta
Academic information system (AIS) adalah sistem administrasi akademik yang baru dikembangkan oleh UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam hal ini dilaksanakan oleh Pusat Komputer dan Sistem Informasi (PUSKOM) sebagai leading sector-nya. Sistem ini sudah meliputi alur perkuliahan, diantaranya pengambilan KRS, validasi dosen penasihat akademik (PA), penilaian, sampai dengan wisuda. Dalam format laporannya AIS menggunakan fasilitas barcode sebagai alat validasi untuk hasil cetak yang dilakukan oleh semua stakeholder (mahasiswa, dosen, dan lain-lain). Sistem AIS dikembangkan dengan menggunakan Java sebagai bahasa programnya dan Postgres sebagai database.
Framework yang digunakan adalah ZKoss. AIS dapat diakses di alamat http://ais.uinjkt.ac.id (Pustipanda, 2017) .
Pengembangan Aplikasi Mobile
Terdapat tiga pendekatan yang digunakan untuk mengembangkan aplikasi mobile (Prasetya, 2013), diantaranya :
Aplikasi Native
Aplikasi native adalah aplikasi yang secara khusus ditujukan untuk platform mobile tertentu dan menggunakan bahasa pemrograman serta perangkat lunak pengembangan sesuai platform tersebut. Sebagai contoh, aplikasi native Android ditulis menggunakan bahasa pemrograman Java dan tool Eclipse, sementara iOS/iPhone dibuat menggunakan bahasa Objective-C dan tool Xcode (Prasetya, 2013).
Kelebihan Aplikasi Native
− Performa yang sangat baik karena ditulis secara native untuk platform spesifik,
− Mampu mengakses semua fitur perangkat keras smartphone, seperti info device, accelerometer, kamera, kompas, file.
− Menghasilkan antarmuka look and feel yang alami dan sangat baik
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Kelemahan Aplikasi Native
− Pengembangan yang tidak mudah karena menggunakan lingkungan, bahasa, dan API (Application Programming Interface) spesifik.
− Aplikasi hanya berjalan pada platform yang sudah dispesifikasikan di awal pengembangan. Apabila ingin tersedia di platform lain maka harus ditulis dengan menggunakan tool pengembangan yang sesuai.
Aplikasi Web
Aplikasi web merupakan aplikasi website yang secara spesifik dioptimalkan untuk penggunaan di lingkungan smartphone. Aplikasi ini dibangun menggunakan standar teknologi web, seperti HTML5, CSS3, dan JavaScript. Pendekatan write-once-run-anywhere pada aplikasi web menghasilkan aplikasi mobile cross-platform yang mampu bekerja pada platform mobile berbeda (Prasetya, 2013).
Kelebihan Aplikasi Web
− Dapat berjalan baik di semua browser pada platform mobile.
− Tahap pengembangan yang mudah karena menggunakan teknologi-teknlogi web yang sudah ada.
Kelemahan Aplikasi Web
− Kemampuan aplikasi sangat terbatas, yakni tidak dapat mengakses fitur-fitur perangkat keras smartphone.
− Sesuai karakteristiknya, aplikasi web mobile hanya tersedia secara online
− Performa kurang stabil dan bergantung pada konektivitas yang ada.
Aplikasi Hybrid
Intuisi dari aplikasi hybrid adalah menanamkan aplikasi mobile HTML5 ke dalam container native. Aplikasi ini berupaya mengombinasikan kelebihan-kelebihan pendekatan aplikasi web mobile HTML5 dan aplikasi native. Sederhananya, pendekatan ini akan mengonversi aplikasi web mobile HTML5 ke aplikasi native smartphone target. Untuk mengimplementasikan hal ini diperlukan dukungan
10
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
perangkat lunak spesifik, yaitu framework pengembangan aplikasi mobile (Prasetya, 2013).
Kelebihan Aplikasi Hybrid
− Tahap pengembangan yang familiar, karena memanfaatkan standar teknologi web.
− Hasil pembuatan aplikasi dapat berjalan pada hampir semua platform mobile dan didistribusikan secara native.
− Penggunaan framework aplikasi mobile memungkinkan akses ke fitur-fitur perangkat keras.
Kelemahan Aplikasi Hybrid
− Memerlukan perangkat lunak bantu framework pengembangan aplikasi mobile berbasis web yang stabil dan mendukung lintas platform.
− Performa aplikasi hybrid belum bisa menyamai aplikasi native.
Berdasarkan penjelasan di atas, penulis membuat sebuah tabel perbandingan kelebihan dan kelemahan pengembangan aplikasi mobile yang tertera dibawah ini.
Tabel 2.1.Tabel Perbandingan Kelebihan dan Kelemahan Pengembangan Aplikasi Mobile
Aplikasi Kelebihan Kelemahan
Aplikasi Native - Performa yang lebih baik di antara pengembangan aplikasi lainnya
- Akses ke perangkat pada smartphone
- Tidak multiplatform - Biaya yang besar
dalam maintenance
Aplikasi Web - Dapat dibuka pada semua browser smartphone - Pengembangan
menggunakan bahasa yang familiar
- Tidak bisa mengakses fitur perangkat pada smartphone
- Untuk mengakses aplikasi, harus dalam kondisi online.
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Aplikasi Hybrid - Aplikasi yang dihasilkan multiplatform
- Dapat mengakses beberapa fitur perangkat pada smartphone
- Kinerja masih di bawah dari aplikasi native
- Menggunakan framework dalam pengembangannya
Melihat dari kelebihan dan kelemahan di atas aplikasi native unggul dalam segi performa dibanding aplikasi web maupun aplikasi hybrid. Akses ke perangkat dimiliki oleh aplikasi native, sementara hybrid bisa mengakses beberapa perangkat.
Android
Android adalah OS berpengalaman yang telah menjadi salah satu dari pelaku terbesar dalam teknologi komputer di masa kini. Android menggunakan teknologi yang tersedia secara terbuka dan gratis seperti Linux dan Java, serta standar terbuka seperti XML, CSS, MPEG, JPEG, PNG, MP3, WebM, WebP, OpenGL dan HTML5. Android menyatukan semua sumber daya open source tersebut agar mereka dapat mengajak para pengembang Android mengembangkan konten dan aplikasi secara gratis (Jackson, 2014).
RAD
Rapid Application Development (RAD) adalah model pengembangan perangkat lunak yang bersifat inkremental terutama untuk waktu pengerjaan yang pendek (Rosa. A.S. & Shalahudin, 2016). Menurut Kendall & Kendall, (2011) proses RAD terdiri dari 3 tahap, yaitu fase perencanaan syarat-syarat, fase desain sistem (Workshop Design) dan fase implementasi.
1. Fase perencanaan syarat-syarat
Dalam fase ini, pengguna dan penganalisis bertemu untuk mengidentifikasikan tujuan-tujuan aplikasi atau sistem serta untuk
12
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
mengindentifikasikan syarat-syarat informasi yang ditimbulkan dari tujuan-tujuan tersebut. Orientasi dalam fase ini adalah menyelesaikan masalah-masalah perusahaan. Meskipun teknologi informasi dan sistem bisa mengarahkan sebagian dari sistem yang diajukan, fokusnya akan selalu tetap pada upaya pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.
2. Fase desain sistem
Fase ini adalah fase untuk merancang dan memperbaiki yang bisa digambarkan sebagai workshop. Penganalisis dan pemrograman dapat bekerja membangun dan menunjukkan representasi visual desain dan pola kerja kepada pengguna. Workshop desain ini dapat dilakukan selama beberapa hari tergantung dari ukuran aplikasi yang akan dikembangkan. Selama workshop desain RAD, pengguna erespon prototipe yang ada dan penganalisis memperbaiki modul-modul yang dirancang berdasarkan respon pengguna.
3. Fase implementasi
Pada fase implementasi ini, penganalisis bekerja dengan para pengguna secara intens selama workshop dan merancang aspek-aspek bisnis dan nonteknis perusahaan. Segera setelah aspek-aspek ini disetujui dan sistem-sistem dibangun dan disaring, sistem-sistem baru atau bagian dari sistem diujicoba dan kemudian diperkenalkan kepada organisasi.
Gambar 2.1. Tahapan pengembangan aplikasi pada RAD (Sumber : Kendall & Kendall, 2011)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Kelebihan Rapid Application Development (RAD)
Kelebihan menggunakan metode RAD menurut Yurindra (2017), antara lain :
− Fleksibel karena pengembang dapat melakukan proses desain ulang pada saat yang bersamaan.
− Mempercepat waktu pengembangan sistem.
Kekurangan Rapid Application Development (RAD)
Kekurangan menggunakan metode RAD menurut Yurindra (2017), antara lain :
− Lebih banyak terjadi kesalahan apabila hanya mengutamakan kecepatan dibandingkan dengan biaya dan kualitas.
− Fasilitas-fasilitas banyak yang dikurangi karena terbatasnya waktu yang tersedia.
Web Service
Menurut W3C Web services Architecture Working Group pengertian Web service adalah sebuah sistem software yang di desain untuk mendukung interoperabilitas interaksi mesin ke mesin melalui sebuah jaringan.
Interfaceweb service dideskripsikan dengan menggunakan format yang mampu diproses oleh mesin (khususnya WSDL). Sistem lain yang akan berinteraksi dengan web service hanya memerlukan SOAP, yang biasanya disampaikan dengan HTTP dan XML sehingga mempunyai korelasi dengan standar Web (Web Service Architecture, 2004) .
Web service dapat diartikan juga sebuah metode pertukaran data, tanpa memperhatikan dimana sebuah database ditanamkan, dibuat dalam bahasa apa sebuah aplikasi yang mengkonsumsi data, dan di platform apa sebuah data itu dikonsumsi. Web service mampu menunjang interoperabilitas. Sehingga web service mampu menjadi sebuah jembatan penghubung antara berbagai sistem yang ada.
14
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Application Programing Interface (API)
Application Programing Interface merupakan suatu kumpulan fungsi, perintah, protokol yang menjembatani komunikasi antara aplikasi yang satu dengan yang lain. Dengan menggunakan API, kita dapat menggunakan sumber daya dari aplikasi lain tanpa perlu tahu aplikasi itu dibuat (Wijayanto, 2018).
Sementara menurut Uzayr (2016) API adalah sekumpulan perintah, fungsi, dan protokol yang dapat digunakan oleh programmer saat membangun perangkat lunak untuk sistem operasi tertentu. API memungkinkan programmer untuk menggunakan fungsi standar untuk berinteraksi dengan sistem operasi lain.
JavaScript Object Notation (JSON) Definisi JSON
Menurut website resmi JSON, JSON adalah format pertukaran data yang ringan, mudah dibaca dan ditulis oleh manusia, serta mudah diterjemahkan dan dibuat (generate) oleh komputer. JSON merupakan format teks yang tidak bergantung pada bahasa pemprograman apapun karena menggunakan gaya bahasa yang umum digunakan oleh programmer keluarga C termasuk C, C++, C#, Java, JavaScript, Perl, Python dll. Oleh karena sifat-sifat tersebut, menjadikan JSON ideal sebagai bahasa pertukaran-data.
Struktur JSON
Menurut website resmi JSON, JSON terdiri dari dua struktur :
− Kumpulan pasangan nama/nilai. Pada beberapa bahasa, hal ini dinyatakan sebagai objek (object), rekaman (record), struktur (struct), kamus (dictionary), tabel hash (hash table), daftar berkunci (keyed list), atau associative array.
− Daftar nilai terurutkan (an ordered list of values). Pada kebanyakan bahasa, hal ini dinyatakan sebagai larik (array), vektor (vector), daftar (list), atau urutan (sequence).
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Struktur-struktur data ini disebut sebagai struktur data universal. Pada dasarnya, semua bahasa pemprograman modern mendukung struktur data ini dalam bentuk yang sama maupun berlainan. Hal ini pantas disebut demikian karena format data mudah dipertukarkan dengan bahasa-bahasa pemprograman yang juga berdasarkan pada struktur data ini.
Bentuk-bentuk Json
Menurut website resmi JSON, JSON menggunakan bentuk sebagai berikut:
− Objek
Objek adalah sepasang nama/nilai yang tidak terurutkan. Objek dimulai dengan { (kurung kurawal buka) dan diakhiri dengan } (kurung kurawal tutup). Setiap nama diikuti dengan : (titik dua) dan setiap pasangan nama/nilai dipisahkan oleh , (koma).
Gambar 2.2. Json Objek (Sumber : Website resmi JSON)
− Larik
Larik adalah kumpulan nilai yang terurutkan. Larik dimulai dengan [ (kurung kotak buka) dan diakhiri dengan ] (kurung kotak tutup). Setiap nilai dipisahkan oleh , (koma).
Gambar 2.3. Json Larik (Sumber : Website resmi JSON)
− Nilai
16
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Nilai (value) dapat berupa sebuah string dalam tanda kutip ganda, atau angka, atau true atau false atau null, atau sebuah objek atau sebuah larik. Struktur-struktur tersebut dapat disusun bertingkat.
Gambar 2. 4. Json Nilai (Sumber : Website resmi JSON)
− String
String adalah kumpulan dari nol atau lebih karakter Unicode, yang dibungkus dengan tanda kutip ganda. Di dalam string dapat digunakan backslash escapes "\" untuk membentuk karakter khusus.
Sebuah karakter mewakili karakter tunggal pada string. String sangat mirip dengan string C atau Java.
Gambar 2.5. Json String (Sumber : Website resmi JSON)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
− Angka
Angka adalah sangat mirip dengan angka di C atau Java, kecuali format oktal dan heksadesimal tidak digunakan
.
Gambar 2.6. Json Angka (Sumber : Website resmi JSON)
Metodologi Penelitian Metodologi Penelitian
Secara umum penelitian diartikan sebagai proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Pengumpulan dan analisis data itu menggunakan metode-metode ilmiah, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif, eksperimental maupun non eksperimental, interaktif maupun noninteraktif (Sudaryono, 2015).
Langkah-Langkah Penelitian
Penelitian merupakan suatu proses yang terdiri atas beberapa langkah.
Langkah-langkah tersebut bukanlah sesuatu yang sekuensial atau harus diikuti secara kaku. Proses penelitian merupakan suatu kegiatan interaktif antara peneliti dengan logika, masalah, desain, dan interpretasi (Sudaryono, 2015).
Adapun langkah-langkah penelitian yaitu mengidentifikasi masalah, merumuskan dan membatasi masalah, melakukan studi kepustakaan, merumuskan hipotesis atau pertanyaan penelitian, menentukan desain dan metode penelitian, menyusun instrumen dan mengumpulkan data,
18
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
menganalisis data dan menyajikan hasil, dan menginterpretasikan temuan serta membuat kesimpulan dan saran (Sudaryono, 2015).
Metode Pengumpulan Data Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara atau teknik yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Pengumpulan data dalam penelitian dimaksudkan untuk memperoleh bahan, keterangan, kenyataan, dan informasi yang dapat dipercaya (Sudaryono, 2015).
Pengertian Data
Menurut Husda & Wangdra (2016), data merupakan sesuatu yang belum mempunyai arti bagi penerimanya dan masih memerlukan adanya suatu pengolahan. Data bisa berujut suatu keadaan, gambar, suara, huruf, angka, matematika, bahasa ataupun simbol-simbol lainnya yang bisa digunakan sebagai bahan untuk melihat lingkungan, obyek, kejadian ataupun suatu konsep.
Instrumen Pengumpulan Data
Menurut Sudaryono (2015) instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatan mengumpulkan data agar tindakannya itu sistematis dan lebih mudah.
Berikut merupakan tabel metode dan instrumen pengumpulan data :
Tabel 2.2. Metode dan Instrumen Pengumpulan Data
No. Jenis Jenis Instrumen
1. Angket (questionnaire)
a. Angket
b. Daftar cek (checklist) c. Skala (scala)
d. Inventori (inventory)
2. Wawancara (interview)
a. Lembar pengamatan (observation sheet) b. Panduan pengamatan
(observation schedule)
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
(Sumber : Metodologi Riset dibidang TI, 2014)
Menurut Sudaryono (2015) instrumen pengumpulan data antara lain:
1. Angket
Angket/kuesioner (questionnaire) adalah suatu teknik atau cara pengumpulan data secara langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden). Instrumen atau alat pengumpulan datanya, yang juga disebut angket, berisi sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang harus dijawab atau direspons oleh responden. Tujuan penyebaran angket adalah untuk mencari informasi yang lengkap mengenai suatu masalah dari responden tanpa merasa khawatir bila responden memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kenyataan dalam pengisian daftar pertanyaan.
2. Wawancara
Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Wawancara digunakan bila kita ingin mengetahui hal-hal dari responden, yang jumlahnya sedikit, secara lebih mendalam. Ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi arus informasi dalam wawancara, yaitu pewawancara, responden, pedoman wawancara, dan situasi wawancara.
3. Pengamatan
Pengamatan atau observasi adalah suatu teknik atau cara untuk mengumpulkan data dengan mengamati kegiatan yang sedang berlangsung. Pengamatan dapat dilakukan dengan partisipasi ataupun nonpartisipasi. Dalam pengamatan partisipatori (participatory
20
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
observation) pengamat ikut serta dalam kegiatan yang sedang berlangsung. Pengamat ikut sebagai peserta rapat atau peserta pelatihan. Sementara dalam pengamatan nonpartisipatori (nonparticipatory observation) pengamat tidak ikut serta dalam kegiatan. Pengamat hanya berperan mengamati kegiatan.