Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit Desa Bandar Baru. Desa Bandar Baru merupakan salah satu desa di Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang. Adapun Desa Bandar Baru berbatasan dengan :
1. Sebelah Utara Desa Suka Makmur Kecamatan Sibolangit 2. Sebelah Selatan Kabupaten Karo
3. Sebelah Timur Desa Sikeben Kecamatan Sibolangit 4. Sebalah Barat Sei Betimus Kecamatan Sibolangit
Kelompok hutan seluas 51.600 ha yang terdapat berbagai objek wisata hutan seperti air terjun. Salah satu air terjun yang terdapat di Kecamatan Sibolangit adalah Air Terjun Dua Warna yang terdapat di Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit Desa Bandar Baru .
Karakteristik Masyarakat
Karakteristik masyarakat penting untuk mengetahui siapa saja yang menjadi responden untuk penelitian ini. Beberapa karakteristik yang perlu diketahui adalah jenis kelamin, umur, dan pendidikan terakhir.
Tabel 1. Perbandingan jenis kelamin responden
No Jenis kelamin Jumlah orang Persentase (%)
1 Laki-laki 14 70
2 Perempuan 6 30
Jumlah total 20 100
Tabel 1 menunjukkan bahwa Responden lebih banyak berjenis kelamin laki-laki yaitu 14 orang. Banyaknya jumlah responden laki-laki karena jenis
didominasi oleh laki-laki. Adapun jenis kelamin perempuan cenderung mengurus rumah dan anak.
Tabel 2. Perbandingan Kelas Usia Responden
No Usia Jumlah orang Persentase (%)
Tabel 2 menunjukkan bahwa persentase usia responden di Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit berbeda yaitu kelas usia 20-29 tahun adalah 20
%, kelas usia 30-39 tahun 20 %, kelas usia 40-49 tahun 20 %, kelas usia 50-59 tahun 40 %. Rentan usia kisaran 50-59 tahun merupakan kisaran usia yang paling banyak dari keseluruhan responden. Menurut Sukmaningrum dan Imron (2017) Penduduk belum produktif adalah penduduk yang memiliki usia dibawah 15 tahun. Penduduk usia tersebut dikatakan sebagai penduduk yang belum mampu menghasilkan barang maupun jasa dalam kegiatan ketenagakerjaan. Penduduk usia produktif adalah penduduk yang masuk dalam rentang usia antara 15-64 tahun. Penduduk usia itu dianggap sudah mampu menghasilkan barang maupun jasa dalam proses produksi. Penduduk usia produktif dianggap sebagai bagan dari penduduk yang ikut andil dalam kegiatan ketenagakerjaan yang sedang berjalan.
Mereka dianggap sudah mampu dalam proses ketenagakerjaan dan mempunyai beban untuk menanggung hidup penduduk yang masuk dalam katagori penduduk belum produktif dan non produktif.
Tabel 3. Perbandingan Tingkat Pendididikan Responden
No Tingkat pendidikan Jumlah orang Persentase (%)
1 Tidak bersekolah 0 0
Tabel 3 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden yang paling banyak pada tingkat SMA yaitu 13 orang, Diploma 4 orang, SD 2 orang, tingkat SMP 1 orang dimana tidak ada didapati responden yang tidak bersekolah. Dari berbagai tingkat pendidikan responden tingkat SMA lebih dominan daripada tingkat pendidikan yang lebih tinggi yaitu diploma.
Adapun jenis pekerjaan yang paling dominan pada tingkat pendidikan responden tingkat SMA yaitu pedagang 7 orang, pemandu wisata 3 orang, sewa tenda 1 orang, pengelola pemandian 1 orang dan petugas parkir 1 orang. Jenis pekerjaan yang paling dominan pada tingkat pendidikan responden tingkat Diploma yaitu pedagang 4 orang. Jenis pekerjaan pendidikan responden pada tingkat SD yaitu pedagang 1 orang dan pengelola penginapan 1 orang. Jenis pekerjaan pendidikan responden pada tingkat SMP yaitu pedagang 1 orang.
Aktivitas Ekonomi masyarakat Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit Jenis mata pencaharian di Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit yang berjumlah 186 Kepala Keluarga sebelum dan sesudah terjadinya bencana banjir bandang di ekowisata Air Terjun Dua Warna dapat dilihat dari Tabel 4.
Tabel 4.Jenis Mata Pencaharian di Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit Desa Bandar Baru.
No Jenis pekerjaan Status Jumlah orang
1 Pedagang makanan Masih ada 13
Jumlah total 20 orang
Tabel 4 menunjukkan pekerjaan masyarakat sebelum terjadinya bencana banjir bandang adalah sebagai pedagang, pemandu wisata, pengelola pemandian, pengelola penginapan, petugas parkir dan sewa tenda. Adapun setelah terjadinya bencana banjir bandang jenis pekerjaan yang sudah tidak ada lagi adalah yang
bekerja sebagai pemandu wisata. Hal tersebut membuat masyarakat yang bekerja sebagai pemandu wisata kehilangan mata pencaharian yang selama ini menopang perekonomian keluarga. Adapun saat ini mereka bekerja sebagai buruh harian misalnya bekerja di ladang orang atau tergantung pekerjaan apa orang lain butuhkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Aktivitas ekowisata berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat dan membuka lapangan pekerjaan.
Sesuai dengan pendapat Aryunda (2011) bahwa aktivitas ekowisata sebagai salah satu bagian industri pariwisata akan berintraksi dari berbagai aspek. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya aktivitas ekowisata ini akan mempengaruhi jalanya perekonomian dan berbagai fenomena sosial dan budaya setempat.
Tabel 5. Perubahan pendapatan sebelum dan sesudah terjadinya bencana banjir bandang
Jenis pekerjaan pendapatan / bulan
Sebelum Sesudah
Pedagang >Rp. 2.000.000 Rp. 500.000 - >2.000.000
Pemandu wisata Rp. 500.000-2.000.000 <Rp. 500.000 Pengelola pemandian Rp. 500.000-2.000.000 <Rp. 500.000
Pengelola villa/penginapan >Rp. 2.000.000 Rp. 500.000 - 2.000.000 Petugas parkir Rp. 500.000-2.000.000 >Rp. 500.000
Sewa tenda >Rp. 2.000.000 Rp. 500.000-2.000.000
Rata- rata pendapatan masyarakat yang paling rendah adalah yaitu < Rp.
500.000 dan yang paling tinggi yaitu > Rp. 2.000.000. Pada Tabel 5 menunjukkan bahwa penurunan rata-rata pendapatan pada setiap jenis pekerjaan sebelum dan sesudah terjadi bencana banjir bandang ekowisata Air Terjun Dua Warna yaitu pendapatan dari > Rp. 2.000.000 menurun menjadi Rp. 500.000- >2.000.000 dan pendapatan dari Rp. 500.000- 2.000.000 menurun menjadi < Rp. 500.000 pada setiap jenis pekerjaan. Pendapatan / penghasilan setiap kepala keluarga masyarakat di Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit setelah dan sebelum terjadinya bencana banjir bandang memliki perubahan yang berbeda-beda. Hal ini sesuai dengan pernyataan Parma, (2010) bahwa ekowisata memiliki dampak yang
berbeda-beda bagi masyarakat sekitar seperti dampak pada lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya, dampak yang dirasakan tergantung bagaimana masyarakat sekitar dapat memanfaatkan dan mengelola ekowisata. Golongan pendapatan dapat dibedakan menjadi 4 golongan yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang dan rendah dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Golongan pendapatan
No Pendapatan / bulan Golongan pendapatan
1 >Rp. 3.500.000 Sangat tinggi
2 Rp. 2.500.000-3.500.000 Tinggi 3 <Rp. 1.500.000-2.500.000 Sedang
4 <Rp.1.500.000 Rendah
(Sumber : BPS dalam Indrawati, 2015).
Persentase perubahan golongan pendapatan/penghasilan kepala keluarga di Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit sebelum dan sesudah terjadinya bencana banjir bandang di air terjun Dua Warna dapat dilihat pada pada Tabel 7.
Tabel 7. Persentase Pendapatan /penghasilan responden sebelum dan sesudah terjadinya banjr bandang di ekowisata air terjun Dua Warna
Jumlah orang Persentase (%)
No Pendapatan Sebelum Setelah Sebelum Setelah Golongan
1 <Rp. 500.000 0 9 0 45 Rendah
(sumber : kuesioner masyarakat di Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit, 2018) Tabel 7 menunjukkan bahwa pendapatan / penghasilan Kepala Keluarga di lokasi ekowisata sebelum dan sesudah terjadinya bencana banjir bandang sangat berdampak terhadap pendapatan masyarakat sekitar. pendapatan masyarakat yang paling dominan adalah golongan pendapatan tinggi Rp. > 2.000.000 sebelum terjadinya banjir bandang sebanyak 13 orang yaitu 65 % dan berkurang setelah terjadinya banjir bandang hanya 1 orang yaitu 5 %.
Obyek wisata Air Terjun Dua Warna sangat membantu meningkatkan
mengakibatkan kurangnya pendapatan masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Ferdinan dkk., (2010) bahwa apabila banyak wisatawan yang datang pada objek wisata daerah tersebut secara tidak langsung dapat meningkatakan pendapatan asli daerah itu sendiri
Setelah Air Terjun Dua Warna di tutup oleh pihak TAHURA. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit tidak hanya menggantungkan kehidupan mereka dari pekerjaan seperti pedagang, pemandau wisata, pengolahan penginapan, petugas parkir dan pengelola pemandian alam beberapa masyarakat sekitar ada yang mengolah lahan pertanian dan sebagai buruh harian untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga.
Untuk memulihkan ekonomi masyarakat sekitar sebelum obyek wisata Air Terjun Dua Warna dibuka kembali dilakukan strategi alternatif lain yang dapat menarik minat pengunjung dengan menawarkan berbagai wahana yang baru tanpa merusak hutan. Yang dapat bemanfaat untuk tempat rekreasi, pendidikan, dan penelitian. Seperti wahana tempat berfoto, sarana bermain anak-anak, sehingga pengunjung semakin tertarik untuk datang yaitu dengan pengelolaan wisata yang meminimalkan risiko bencana misalnya adanya peringatan-peringatan tertentu sehingga keamanan pengunjung menjadi prioritas. Menurut Purwanto, (2013) Keberadaan ekowisata dalam era pembangunan berwawasan lingkungan merupakan suatu misi pengembangan pariwisata alternatif yang tidak banyak menimbulkan dampak negatif, baik terhadap lingkungan maupun terhadap sosial budaya dan daya tarik wisata lainnya.
Manajemen ekowisata harus dapat dikelola dengan cara yang bersifat menjamin kenyamanan bagi setiap pengunjung. Lingkungan ekowisata harus bertumpu memuaskan pengunjung tanpa mencemari atau mengganggu lingkungan sekitar. Dengan demikian tercapai sistem ekowisata yang lesatari. Program pemulihan ekonomi yang diberikan oleh Pemerintah adalah program pelatihan pembuatan kerajinan atau souvenir yang dapat dibawa pengunjung saat kembali dari ekowisata dan dibuatnya jalur tracking yang aman bagi para pengunjung.