• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Ekonomi Negara-Negara Anggota AIFTA

India sebagai salah satu negara mitra dagang ASEAN merupakan negara yang memiliki nilai GDP nominal dengan peringkat ke tujuh terbesar di dunia pada tahun 2015. Selain itu, pada tahun yang sama India menempati urutan ketiga sebagai negara dengan kemampuan daya beli (purchasing power parity) tertinggi dunia setelah China dan Amerika Serikat (IMF, 2015). Tingginya nilai GDP negara India disebabkan oleh banyak faktor salah satunya adalah karena India memiliki jumlah populasi penduduk usia mudanya lebih tinggi sehingga produktivitas yang dihasilkan pun lebih tinggi yang kemudian akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara India.

Gambar 9 menunjukkan perkembangan GDP nominal negara-negara anggota AIFTA sejak tahun 1998 hingga tahun 2014. Dapat dilihat bahwa India memiliki GDP tertinggi di antara negara-negara ASEAN. Pada tahun 2014, GDP nominal India mencapai lebih dari 2 triliun USD. Pertumbuhan ekonomi India cenderung meningkat dari tahun ke tahun sejak 1998 hingga tahun 2014.

Indonesia berada pada urutan kedua setelah India sebagai negara yang memiliki nilai GDP nominal tertinggi di antara negara-negara anggota AIFTA. Nilai GDP nominal Indonesia pada tahun 2014 mencapai lebih dari 888 milyar USD. Selanjutnya urutan negara dengan GDP nominal tertinggi setelah India dan Indonesia berurutan adalah Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, Brunei dan Kamboja.

Sumber : WDI (2015)

Gambar 9 Perkembangan GDP nominal negara-negara anggota AIFTA tahun 1998-2014

Sementara itu, Gambar 10 menjelaskan perkembangan GDP per kapita negara-negara anggota AIFTA sejak tahun 1998 hingga tahun 2014. GDP per kapita menggambarkan status keuangan atau finansial yang sebenarnya dari suatu negara. Selain itu, GDP per kapita juga sering digunakan untuk menggambarkan kesejahteraan pada suatu negara.

Berdasarkan Gambar 10 dapat dilihat bahwa negara anggota AIFTA yang memiliki nilai GDP per kapita tertinggi adalah Singapura, kemudian berurutan diikuti Brunei, Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina, India, Vietnam, dan Kamboja. Singapura sebagai negara dengan nilai GDP per kapita terbesar cenderung mengalami pertumbuhan ekonomi yang selalu meningkat dari tahun ke tahun sejak tahun 1998 hingga tahun 2014. Nilai GDP per kapita Singapura pada tahun 2014 mencapai lebih dari 36 ribu USD dengan rata-rata GDP per kapita dari tahun 1998 hingga tahun 2014 adalah sebesar 29477.29 USD. Brunei sebagai negara yang memiliki GDP per kapita terbesar kedua di antara anggota AIFTA memiliki rata-rata nilai GDP per kapita sebesar 25488.21 USD. Sedangkan Indonesia pada tahun 2014 hanya mencapai GDP per kapita sebesar 1880 USD dengan nilai rata-rata GDP per kapita dari tahun 1998 hingga tahun 2014 sebesar 1377.367 USD. 0 500000 1000000 1500000 2000000 2500000 Juta USD

Brunei India Kamboja Malaysia Filipina Singapura Thailand Vietnam Indonesia

Sumber : WDI (2015)

Gambar 10 Perkembangan GDP per kapita negara-negara anggota AIFTA tahun 1998-2014

Perbedaan yang terjadi pada tingkatan negara tertinggi yang memiliki GDP nominal dan GDP per kapita disebabkan karena adanya perbedaan populasi di antara negara-negara anggota AIFTA tersebut. Berdasarkan Gambar 11, dapat dilihat bahwa India memiliki tingkat populasi yang jauh lebih tinggi di antara negara anggota AIFTA lainnya. Populasi negara India pada tahun 2014 mencapai 1.295.291.543 jiwa. Hal ini lah yang menyebabkan rendahnya nilai GDP per kapita negara India. Begitu pula dengan Indonesia yang memiliki populasi sebanyak 254.454.778 jiwa pada tahun 2014 sehingga GDP riil Indonesia menjadi rendah. Singapura sebagai negara yang memiliki GDP riil tertinggi hanya memiliki populasi penduduk sebesar 5.469.700 jiwa pada tahun 2014.

Sumber : WDI (2015)

Gambar 11 Populasi negara-negara anggota AIFTA tahun 1998-2014 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 USD

Brunei India Kamboja Malaysia Filipina Singapura Thailand Vietnam Indonesia

0 200 400 600 800 1000 1200 1400 Juta Jiwa

Brunei India Kamboja

Malaysia Filipina Singapura

Gambaran Umum Kelapa Sawit Indonesia

Kelapa sawit merupakan salah satu sub sektor dari tanaman perkebunan yang menjadi sumber devisa dari sektor non migas bagi Indonesia. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Indonesia merupakan negara produsen dan pengekspor kelapa sawit terbesar di dunia. Cerahnya prospek komoditas kelapa sawit dalam perdagangan mendorong pemerintah Indonesia untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit.

Perkebunan kelapa sawit Indonesia rata-rata paling banyak tersebar di wilayah Sumatera dan wilayah Kalimantan. Sementara pihak yang mengelola perkebunan kelapa sawit Indonesia terbagi menjadi tiga bentuk pengusahaan yaitu Perkebunan Rakyat (Smallholder), Perkebunan Negara (Goverment), dan Perkebunan Swasta (Private). Tahun 2013, luas areal yang dimiliki oleh Perkebunan Rakyat mencapai 42 persen, Perkebunan Negara sebesar 7 persen, dan Perkebunan Swasta sebesar 51 persen dari total keseluruhan perkebunan kelapa sawit Indonesia (Ditjenbun, 2014).

Sumber : Ditjenbun (2014)

Gambar 12 Luas areal dan produksi kelapa sawit Indonesia tahun 1998 – 2014 Berdasarkan Gambar 12 dapat dilihat bahwa sejak tahun 1998 hingga tahun 2014 total luas areal serta produksi kelapa sawit Indonesia yang dikelola oleh seluruh pihak selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2014, luas areal perkebunan kelapa sawit Indonesia mencapai 16.612.336 Ha, sedangkan produksi kelapa sawit mencapai 35.213.375 ton. Sementara itu, peningkatan yang signifikan pada produksi kelapa sawit Indonesia terjadi pada tahun 2006.

Sejak tahun 2006 Indonesia telah berhasil menjadi produsen minyak sawit (CPO) terbesar di dunia. Pada waktu yang bersamaan, CPO juga berhasil menggeser minyak kedele yang selama 100 tahun mendominasi minyak nabati dunia. Pada tahun 2010, pangsa CPO mencapai 35 persen dari total minyak nabati dunia, sedangkan minyak kedele hanya 29 persen. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia berhasil menjadi produsen dan eksportir terbesar CPO dunia sekaligus minyak nabati dunia (PASPI, 2014).

Total produksi kelapa sawit Indonesia yang besar dan meningkat setiap tahunnya serta banyaknya permintaan dari negara lain membuat Indonesia mengekspor komoditas minyak sawit ke berbagai negara tujuan. Gambar 13

0 5000000 10000000 15000000 20000000 25000000 30000000 35000000 40000000

menunjukkan perkembangan nilai ekspor kelapa sawit (HS 1511) ke negara tujuan yang termasuk dalam anggota AIFTA. Sejak tahun 1998 hingga tahun 2014, nilai ekspor kelapa sawit Indonesia mengalami perkembangan yang fluktuatif. Namun, dapat dilihat bahwa pada tahun 2006 hingga 2008, nilai ekspor kelapa sawit Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan khususnya di negara India sebagai importir terbesar kelapa sawit Indonesia. Peningkatan ini disebabkan karena adanya kenaikan permintaan baik komoditas kelapa sawit dalam bentuk CPO maupun RPO.

Sumber : UN Comtrade (2016)

Gambar 13 Nilai ekspor kelapa sawit Indonesia ke negara-negara anggota AIFTA tahun 1998-2014

Namun, pada tahun 2009 ekspor kelapa sawit Indonesia mengalami penurunan yang disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor penurunan nilai ekspor kelapa sawit Indonesia pada tahun 2009 adalah melemahnya harga minyak sawit (CPO) di pasaran dunia, pada tahun 2009 harga CPO turun sebesar 25.36 persen dari USD 862.94 per metrik ton pada 2008 menjadi USD 644.07 per metrik ton pada tahun 2008. Selain itu, faktor penyebab lainnya yang menurunkan ekspor kelapa sawit Indonesia adalah dimungkinkan karena dampak krisis keuangan global yang terjadi pada tahun 2008. Adanya krisis financial global yang terjadi pada pertengahan tahun 2008 menyebabkan terdepresiasinya nilai mata uang yang tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di beberapa negara importir kelapa sawit sehingga daya beli masyarakat mengalami penurunan (Ermawati dan Saptia, 2013). Setelah dilakukannya penandatanganan Trade in Goods Agreement di antara negara anggota AIFTA pada tanggal 13 Agustus 2009, nilai ekspor kelapa sawit Indonesia kembali mengalami peningkatan ke negara tujuan anggota AIFTA. Karena salah satu tujuan dilaksanakannya perjanjian Trade in Goods Agreement sendiri adalah untuk mengurangi hambatan perdagangan di antara negara anggota AIFTA. Namun, pada tahun 2012 nilai ekspor kelapa sawit Indonesia kembali mengalami penurunan kembali di beberapa negara tujuan. Berfluktuasinya nilai ekspor kelapa sawit ini juga diduga karena terdapatnya beberapa kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Indonesia terkait Bea Keluar periode 2009 hingga 2012 yang dibebankan kepada ekspor kelapa sawit Indonesia.

Beberapa kebijakan pemerintah Indonesia terkait dengan ekspor kelapa sawit Indonesia menjelaskan bahwa dalam rangka menjamin terpenuhinya kebutuhan

0 1000000 2000000 3000000 4000000 5000000 6000000 Ribu USD

Brunei India Kamboja Malaysia

bahan baku untuk industri minyak goreng serta menjaga stabilitas harga minyak goreng di dalam negeri, maka perlu dilakukan penyesuaian besaran tarif Bea Keluar atas ekspor kelapa sawit, CPO, dan RPO. Restrukturisasi tarif Bea Keluar dilakukan guna mendukung pelaksanaan hilirisasi industri sawit untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri (Kemenkeu, 2010).

Berdasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh Kusuma (2015), kebijakan pemerintah mengenai perdagangan kelapa sawit Indonesia telah ditetapkan sejak tahun 1978. Kemudian sejak tahun 2007 pemerintah Indonesia mengganti kebijakan pajak ekspor menjadi kebijakan Bea Keluar. Bea Keluar pada awalnya ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 94/PMK.011/2007. Bea Keluar yang ditetapkan sebesar 0 persen (untuk harga dibawah USD 550 per ton) hingga 10 persen (untuk harga di atas USD 850 per ton). Kemudian pada tahun 2008 terjadi kenaikan pada harga dunia untuk komoditas kelapa sawit. Sehingga dilakukan perubahan tingkat tarif atau Bea Keluar yang ditetapkan menjadi 0 persen (untuk harga dibawah USD 700 per ton) hingga 25 persen (untuk harga di atas USD 1.251 per ton) melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 159/PMK.011/2008 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 223/PMK.011/2008.

Bea Keluar dan tingkat harga referensi kembali mengalami perubahan pada tahun 2011 melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 128/PMK.011/2011. Bea Keluar yang ditetapkan menjadi sebesar 0 persen (untuk harga dibawah USD 750 per ton) hingga 22.5 persen (untuk harga di atas USD 1250). Kemudian pada tahun 2012 tingkat tarif atau Bea Keluar kembali mengalami perubahan untuk setiap tingkatan harganya namun masih menggunakan harga minimum USD 750 per ton dengan pajak sebesar 0 persen dan tingkat harga maksimum USD 1250 dengan pajak sebesar 22.5 persen melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 75/PMK.011/2012 (Kusuma, 2015).

Sumber : World Bank (2016)

Gambar 14 Perkembangan tingkat harga kelapa sawit dunia

Gambar 14 menjelaskan perkembangan tingkat harga kelapa sawit dunia sejak bulan agustus 2011 hingga bulan April 2015. Harga kelapa sawit dunia mengalami fluktuasi yang cenderung menurun. Menurut kajian oleh Bea Cukai (2015), penurunan harga disebabkan karena menurunnya harga internasional minyak fosil, melimpahnya stok minyak nabati lainnya (soybean, rapeseed, dan biji bunga matahari) di negara Eropa dan Amerika, serta diikuti dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi negara pengimpor CPO utama yaitu China dan India.

0 200 400 600 800 1000 1200 1400 Ag u -1 1 Ok t-1 1 De s-1 1 Feb-1 2 Ap r-1 2 Ju n -1 2 Ag u -1 2 Ok t-1 2 De s-1 2 F eb -1 3 Ap r-1 3 Ju n -1 3 Ag u -1 3 Ok t-1 3 De s-1 3 F eb -1 4 Ap r-1 4 Ju n -1 4 Ag u -1 4 Ok t-1 4 De s-1 4 F eb -1 5 Ap r-1 5 USD

Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan dalam kebijakan mengenai Bea Keluar kelapa sawit Indonesia. Akhir tahun 2014, harga kelapa sawit dunia berada di bawah harga minimum atau ambang batas yang ditetapkan untuk pengenaan Bea Keluar kelapa sawit Indonesia yaitu sebesar USD 709 per ton. Penurunan harga kelapa sawit dunia terus mengalami penurunan yang menyebabkan Indonesia tidak lagi mendapat penerimaan dari pengenaan Bea Keluar atas ekspor kelapa sawit. Maka sejak 1 Oktober 2014 pemerintah memberlakukan tarif Bea Keluar sebesar 0 persen sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 128/PMK.011/2013.

Oleh sebab itu, dibentuklah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.01/2015 sekaligus resmi menjadi Badan Layanan Umum pada tanggal 11 Juni 2015. Maksud dari dibentuknya badan ini adalah menghimpun dana dari pelaku usaha perkebunan atau CPO Supporting Fund (CSF) yang akan digunakan sebagai pendukung program pengembangan kelapa sawit yang berkelanjutan (Kemenkeu, 2015).

Dana yang dihimpun oleh BPDPKS berasal dari penerimaan tarif atau pungutan ekspor yang bebankan kepada dua hal yaitu pertama tarif pungutan dana perkebunan atas ekspor kelapa sawit, CPO, dan atau RPO. Besarnya tarif setiap produk CPO dan atau RPO berbeda sesuai dengan keputusan yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 114/PMK.05/2015. Kemudian satu bulan kemudian peraturan mengenai pungutan dana direstrukturisasi kembali oleh Peraturan Menteri Keuangan Nomor 133/PMK.05/2015 yang kemudian direvisi melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 30/PMK.05/2016. Sementara itu, sumber tarif pungutan dana yang kedua berasal dari iuran pelaku usaha perkebunan kelapa sawit. Besarnya iuran ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara badan pengelola dengan pelaku usaha.

Pungutan dana perkebunan oleh BPDPKS mulai beroperasi tanggal 16 Juli 2015. Pungutan diberlakukan terhadap dua puluh empat item produk CPO dan turunannya (RPO) seperti: crude palm oil, minyak goreng, crude palm kernel oil, tandan buah segar, cangkang kelapa sawit, dan lainnya. Pungutan dana kelapa sawit, CPO dan produk turunannya tersebut berkisar antara USD 10 per ton sampai dengan USD 50 sesuai dengan PMK Nomor 133/PMK.05/2015 juncto 30/PMK.05/2016.

Sumber : UN Comtrade (2016)

Gambar 15 Nilai impor kelapa sawit Indonesia dari negara-negara anggota AIFTA tahun 1998-2014 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000 Ribu USD

Brunei India Kamboja Malaysia

Meskipun Indonesia adalah negara eksportir terbesar kelapa sawit di dunia. Indonesia masih melakukan impor kelapa sawit yang berasal dari berbagai negara meski dalam jumlah yang sedikit. Gambar 15 menunjukkan nilai impor kelapa sawit Indonesia yang berasal dari negara-negara anggota AIFTA. Nilai impor kelapa sawit Indonesia paling besar berasal dari Malaysia yang merupakan pesaing Indonesia sebagai negara pengekspor minyak sawit terbesar dunia. Nilai impor kelapa sawit Indonesia yang terbesar berasal dari Malaysia yaitu pada tahun 2010 dengan nilai 34348.1 ribu USD. Impor komoditas kelapa sawit Indonesia yang berasal dari Malaysia lebih banyak dalam bentuk RPO dibandingkan CPO yang mencapai lebih dari 76 persen dari total impor. Indonesia melakukan impor karena Indonesia kurang mampu melakukan pengembangan perkebunan kelapa sawit dalam industri hilir sehingga tidak tercukupinya permintaan komoditas RPO domestik.

Daya Saing Kelapa Sawit Indonesia

Daya saing kelapa sawit Indonesia di empat belas negara tujuan dihitung dengan menggunakan metode Revealed Comparative Advantage (RCA). Tabel 4 menunjukkan nilai RCA kelapa sawit Indonesia ke negara-negara yang termasuk dalam anggota AIFTA. Sedangkan Tabel 5 menunjukkan nilai RCA kelapa sawit Indonesia ke negara tujuan diluar anggota AIFTA.

Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa rata-rata nilai RCA kelapa sawit Indonesia dari tahun 1998 hingga tahun 2014 ke delapan negara anggota AIFTA yaitu Brunei, India, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam memiliki nilai RCA yang berada di atas (RCA>1). Hal ini menunjukkan bahwa kelapa sawit Indonesia secara garis besar (penggabungan komoditas CPO dan RPO) memiliki keunggulan komparatif pada komoditas kelapa sawit (di atas rata-rata dunia), sehingga komoditas kelapa sawit memiliki daya saing kuat. Sedangkan di negara tujuan Kamboja, nilai rata-rata RCA kelapa sawit Indonesia adalah sama dengan satu yang berarti bahwa secara garis besaar komoditas kelapa sawit Indonesia memiliki daya saing yang tidak kuat.

Negara tujuan yang memiliki nilai rata-rata RCA tertinggi adalah Malaysia yang memiliki nilai RCA yang berkisar di antara 14.56 hingga 41.46 dengan nilai rata-rata RCA sebesar 25.14. Kemudian negara tujuan yang memiliki nilai rata-rata tertinggi yang kedua adalah India sebagai importir terbesar kelapa sawit Indonesia yang berkisar di antara 7.19 hingga 34.80 dengan nilai rata-rata RCA sebesar 20.76. Kemudian nilai rata-rata RCA berurutan dari tinggi ke rendah setelah Malaysia dan India disusul oleh negara Vietnam, Singapura, Brunei, Filipina, Thailand, dan Kamboja. Rendahnya nilai rata-rata RCA di negara kamboja disebabkan karena rendahnya nilai ekspor kelapa sawit Indonesia ke negara Kamboja.

Beberapa negara seperti Bangladesh, India, Kamboja, Malaysia, dan Vietnam memiliki nilai RCA dengan tren yang cenderung menurun pada tahun-tahun terakhir. Menurunnya nilai RCA yang mengindikasikan menurunnya daya saing komoditas kelapa sawit ini salah satunya disebabkan oleh menurunnya daya saing CPO Indonesia di negara tujuan tersebut. Sedangkan daya saing produk RPO di negara tujuan tersebut cenderung mengalami peningkatan (Kusuma, 2015).

Tabel 4 Nilai RCA kelapa sawit Indonesia ke negara anggota AIFTA

Tahun Negara

Brunei India Kamboja Malaysia Filipina Singapura Thailand Vietnam

1998 0.55 7.19 0 36.57 1.31 1.09 8.76 0 1999 5.88 11.14 0.23 41.46 0.38 2.83 0.01 3.44 2000 2.33 15.45 0.17 32.22 0.66 7.63 2.20 11.68 2001 0.00 15.17 0.31 14.95 10.67 7.39 0.44 5.22 2002 0.19 17.48 1.39 34.26 8.05 8.57 0.08 6.20 2003 1.38 20.41 4.66 31.87 7.50 8.58 4.01 12.01 2004 3.64 26.05 0.18 31.61 4.70 10.44 0.06 14.89 2005 1.67 32.04 0 29.68 6.88 11.42 2.04 13.15 2006 3.49 34.80 1.40 26.84 10.49 12.71 0.18 9.75 2007 11.32 32.73 2.22 21.71 10.59 12.24 0 16.20 2008 6.49 27.50 1.94 21.17 6.14 10.85 13.73 18.94 2009 4.33 22.25 1.45 18.17 6.58 12.08 3.41 19.23 2010 8.36 22.88 0.56 17.42 2.82 10.80 0.02 15.76 2011 16.34 18.57 0.29 15.93 1.86 9.30 11.30 12.63 2012 20.93 17.22 1.17 16.56 3.88 11.34 9.12 12.92 2013 12.33 16.10 0.39 16.46 6.47 12.31 0.04 10.47 2014 11.58 15.89 0.63 20.53 7.98 12.55 11.21 9.82 Rata-Rata 6.51 20.76 1.00 25.14 5.70 9.54 3.92 11.31 Nilai RCA di negara tujuan Malaysia yang lebih tinggi daripada nilai RCA di negara tujuan India yang merupakan importir terbesar kelapa sawit Indonesia salah satunya disebabkan karena adanya pengaruh pangsa pasar eksportir lain di negara tujuan. Gambar 16 menjelaskan nilai ekspor kelapa sawit dari negara-negara eksportir terbesar dunia ke negara Malaysia. Dapat dilihat bahwa ekspor kelapa sawit yang berasal dari Indonesia mendominasi pasar kelapa sawit yang diimpor negara Malaysia. Hal ini mengindikasikan bahwa Indonesia merupakan eksportir terbesar untuk Malaysia. Sementara, untuk nilai ekspor yang berasal dari negara eksportir kelapa sawit lainnya berada jauh dibawah ekspor kelapa sawit Indonesia. Hal inilah yang menyebabkan tingginya nilai rata-rata RCA kelapa sawit Indonesia di Malaysia. Sehingga kelapa sawit Indonesia memiliki keunggulan komparatif di negara Malaysia.

Sumber : UN Comtrade (2016)

Gambar 16 Nilai ekspor kelapa sawit eksportir terbesar dunia ke negara Malaysia

0 500000 1000000 1500000 2000000 R ib u USD

Sementara itu, berbeda kondisinya dengan pasar di negara India. Gambar 17 menjelaskan nilai ekspor kelapa sawit eksportir terbesar dunia ke negara India. Dapat dilihat bahwa eksportir terbesar kelapa sawit di negara India adalah Indonesia yang kemudian disusul oleh Malaysia sebagai eksportir kedua terbesar. Pangsa pasar kelapa sawit Indonesia di negara India dipengaruhi oleh pangsa pasar negara Malaysia atau dengan kata lain kelapa sawit Indonesia bersaing dengan kelapa sawit yang berasal dari Malaysia. Pangsa pasar kelapa sawit Malaysia yang juga besar di negara India mempengaruhi fluktuasi nilai RCA kelapa sawit Indonesia di negara India. Sehingga Indonesia dan Malaysia sama-sama memiliki keunggulan komparatif untuk komoditas kelapa sawit di negara India. Hal inilah yang menyebabkan nilai RCA di negara tujuan Malaysia yang lebih tinggi daripada nilai RCA di negara tujuan India.

Sumber : UN Comtrade (2016)

Gambar 17 Nilai ekspor kelapa sawit eksportir terbesar dunia ke negara India Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, selain di pasar India, Indonesia dan Malaysia juga merupakan dua negara eksportir kelapa sawit besar di dunia. Sama halnya dengan Indonesia, meskipun sebagai negara eksportir kedua terbesar dunia, Malaysia juga masih melakukan impor kelapa sawit. Gambar 18 menjelaskan nilai ekspor produk turunan kelapa sawit yaitu minyak sawit (CPO), dan produk olahan atau turunan sawit (RPO) Indonesia dan Malaysia. Dapat dilihat bahwa ekspor kelapa sawit Indonesia ke negara Malaysia lebih banyak dalam bentuk CPO dengan nilai ekspor terbesar pada tahun 2011 mencapai sekitar 1.3 milyar USD. Sementara untuk ekspor CPO dan RPO Indonesia ke dunia mengalami fluktuasi namun cenderung meningkat untuk komoditas RPO. Komoditas RPO Indonesia terus mengalami peningkatan sejak tahun 2009 hingga tahun 2014. Hal ini salah satunya disebabkan karena dampak positif dari ditetapkannya kebijakan pemerintah Indonesia mengenai bea keluar kelapa sawit sehingga meningkatkan kegiatan pada industri hilir kelapa sawit dalam negeri.

Sementara itu, sejak tahun 1998 Malaysia sudah lebih giat dalam

memproduksi, mengolah dan mengekspor komoditas-komoditas RPO

dibandingkan komoditas CPO. Nilai ekspor komoditas RPO Malaysia berada jauh di atas nilai ekspor komoditas CPO-nya. Hal ini dikarenakan terdapatnya nilai tambah dalam proses pengolahan pada RPO. Nilai ekspor komoditas RPO Malaysia terbesar mencapai lebih dari 13 milyar USD pada tahun 2011.

0 1000000 2000000 3000000 4000000 5000000 6000000 Ribu USD

Sumber : UN Comtrade (2016)

Gambar 18 Nilai ekspor produk CPO dan RPO Indonesia dan Malaysia Berdasarkan Gambar 18 juga dapat dilihat bahwa ekspor CPO Indonesia baik ke Malaysia maupun ke dunia pada tahun 2011 ke tahun 2012 mengalami penurunan. Pada tahun yang sama terjadi penurunan nilai ekspor RPO Malaysia ke dunia disertai terjadinya peningkatan ekspor CPO Malaysia ke dunia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kusuma (2015), ekspor baik komoditas kelapa sawit dalam bentuk CPO maupun RPO negara Indonesia dan Malaysia memiliki sifat komplementer (saling melengkapi) dibandingkan dengan kompetisi. Arti dari komplementer yaitu pada tahun-tahun tertentu ekspor CPO Indonesia akan tinggi tetapi ekspor CPO Malaysia rendah, dan pada tahun-tahun tertentu lainnya, ekspor CPO Indonesia rendah sedangkan ekspor CPO Malaysia tinggi. Begitu pula yang terjadi pada komoditas kelapa sawit dalam bentuk RPO.

Kemudian Tabel 5 menjelaskan nilai RCA kelapa sawit Indonesia ke negara tujuan selain anggota AIFTA. Daya saing kelapa sawit Indonesia ke negara tujuan non anggota AIFTA rata-rata memiliki daya saing yang kuat karena memiliki nilai rata-rata RCA lebih dari 1 (RCA>1). Hal ini menunjukkan bahwa kelapa sawit Indonesia secara garis besar memiliki keunggulan komparatif pada komoditas kelapa sawit (di atas rata-rata dunia).

Nilai rata-rata RCA tertinggi adalah negara Belanda dengan nilai RCA yang berkisar di antara 43.96 dan 83.47 dengan nilai rata-rata 68.73. Kemudian disusul oleh China dengan nilai rata-rata 26.21, Kolombia dengan nilai rata-rata 25.52, Amerika Serikat dengan nilai rata-rata 16.99, Bangladesh dengan nilai rata-rata 16.38, dan Australia dengan nilai rata-rata 1.90. Perbedaan nilai rata-rata RCA di negara tujuan selain anggota AIFTA ini juga sama halnya dengan nilai RCA di antara negara anggota AIFTA, yaitu karena dipengaruhi oleh pangsa pasar di masing-masing negara tujuan.

Secara keseluruhan Belanda memiliki nilai rata-rata RCA tertinggi di antara empat belas negara tujuan ekspor kelapa sawit Indonesia. Artinya, kelapa sawit Indonesia memiliki keunggulan komparatif di Belanda. Hal ini juga didukung dengan Belanda merupakan salah satu importir terbesar komoditas kelapa sawit

Dokumen terkait