• Tidak ada hasil yang ditemukan

Data deskriptif bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan kambing PE disajikan pada Tabel 1. Rataan dan standar eror bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan masing-masing 3.78±0.03; 10.57±0.11; 17.02±0.25; 32.01±0.95 and 48.66±0.80 kg. Rataan bobot lahir pada penelitian ini lebih tinggi

10

dibandingkan dengan hasil penelitian Sodiq (2012 dan 2005) pada kambing PE di Kaligesing kabupaten Purworejo sebesar 3.44 dan 3.29 kg. Rataan bobot lahir pada penelitian ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa penelitian dengan bangsa kambing yang berbeda (Al-Shorepy et al. 2002 dan Rashidi et al.

2011). Atabany et al. (2001) menyampaikan bahwa rataan bobot lahir kambing PE antara 2.63-4.29 kg. Jinemez-Badillo et al. (2009) melaporkan perbedaan kecepatan pertumbuhan bobot badan anak kambing dapat disebabkan oleh

maternal ability, periode menyusui, kuantitas dan kualitas susu yang dihasilkan oleh induk.

Rataan bobot sapih penelitian ini lebih rendah dibandingkan dengan penelitian Sodiq (2012) sebesar 14.75 kg pada bangsa kambing yang sama. Hal yang sama juga diperoleh pada penelitian Al-Saef (2013) rataan bobot sapih kambing Saudi Aradi sebesar 14.78 kg. Boujenane dan El-Hazzab (2008) menyampaikan rataan nilai bobot sapih pada kambing Draa di Maroko sebesar 9,13 kg. Rataan bobot 6 bulan pada penelitian ini lebih rendah dibandingkan dengan beberapa penelitian dengan bangsa kambing yang berbeda (Zhang et al.

2009; Rashidi et al. 2011; Al-Saef 2013). Sodiq (2012) menyampaikan bobot badan 6 bulan kambing PE di Kaligesing sebesar 18.86 kg. Al-Saef (2013) memperoleh nilai rataan bobot badan 12 bulan pada kaming Saudi Aradi lebih tinggi daripada hasil penelitian ini. Hal yang berbeda diperoleh bahwa rataan bobot badan 12 bulan pada penelitian ini lebih tinggi daripada rataan bobot badan 12 bulan kambing Dwraf sebesar 8.04 (Bosso et al. 2007). Rataan bobot badan 18 bulan pada penelitian ini lebih tinggi daripada rataan bobot badan kambing Jawarandu dewasa (Batubara et al. 2011). Perbedaan rataan bobot badan yang diperoleh disebabkan oleh bangsa kambing yang berbeda dan pengaruh lingkungan (Zhang et al. 2009).

Pengaruh Non-Genetik

Rataan dan standar eror bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan dengan berbagai pengaruh non-genetik disajikan pada Tabel 2 dan 3. Jenis kelamin sangat berpengaruh (P<0.01) terhadap bobot lahir, sapih dan 6 bulan tetapi tidak berpengaruh (P>0.01) terhadap bobot 12 bulan dan 18 bulan. Hasil penelitian ini sesuai dengan beberapa penelitian yang menyatakan bahwa jenis kelamin sangat berpengaruh terhadap bobot badan sebelum ternak disapih (Zhou Tabel 1 Data deskriptif bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan

kambing Peranakan Etawah

Sifat n Rataan (kg) Standar eror Koefisien Keragaman Bobot Lahir 316 3.78 0.03 15.54 Bobot Sapih 316 10.57 0.11 17.93 Bobot 6 Bulan 259 17.02 0.25 23.86 Bobot 12 Bulan 259 32.01 0.95 27.92 Bobot 18 Bulan 165 48.66 0.80 21.11

11

et al. 2003; Wenzhong et al. 2005; Zhang et al. 2009 dan Sodiq 2012). Hal yang berbeda disampaikan oleh Liu et al. (2005) bahwa jenis kelamin sangat berpengaruh terhadap bobot 18 dan 24 bulan pada kambing Angora.

Bobot jantan yang diperoleh pada penelitian ini lebih besar dibandingkan dengan bobot betina (Tabel 2 dan Tabel 3). Sodiq (2012) menyatakan bobot lahir, 30 hari, 60 hari dan 90 hari jantan lebih besar dibandingkan dengan bobot badan betina pada kambing Peranakan Etawah. Hal yang sama disampaikan oleh beberapa penelitian dengan bangsa kambing yang berbeda Mioč et al. (2011) pada kambing Croatian, Sodiq et al. (2010) pada kambing Kacang, Zhang et al. (2009) pada kambing Boer, Vargas et al. (2007) pada kambing Creole dan Browning et al. (2004) pada kambing Boer. Perbedaan bobot badan jantan dan betina dapat disebabkan oleh proses fisiologi dimana pada betina terdapat hormon estrogen yang akan menghambat pertumbuhan (Baneh dan Hafezian 2009).

Paritas tidak berpengaruh (P>0.01) terhadap bobot lahir namun sangat berpengaruh terhadap (P<0.01) terhadap bobot sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan (Tabel 2 dan Tabel 3). Zhang et al. (2009) melaporkan bahwa paritas berpengaruh terhadap bobot lahir pada kambing Boer. Paritas berpengaruh terhadap bobot lahir, 30 hari, 60 hari dan 90 pada kambing Peranakan Etawah (Sodiq 2012). Rataan seluruh bobot badan pada paritas pertama lebih tinggi Tabel 2 Rataan dan standar eror (SE) bobot lahir, sapih dan 6 bulan kambing

Peranakan Etawah (kg)

Sifat

Bobot lahir (n) Bobot sapih (n) Bobot 6 bulan (n) Jenis Kelamin:

Jantan 3.87±0.05a (138) 10.90± 0.16a (138) 18.12±0.38a(116) Betina 3.71±0.04b (178) 10.30±0.14b (178) 16.41±0.37b(143) Paritas:

1 3.79±0.04a (172) 11.50 ± 0.12a(172) 19.65±0.27a(138) 2 3.75±0.06a (130) 9.40 ± 0.14b (130) 14.19±0.36b(107) 3 3.99±0.19a (14) 9.30 ± 0.37b (14) 14.06±0.71b (14) Tipe Kelahiran:

Tunggal 4.18±0.09a (44) 10.80 ± 0.28a (44) 17.06±0.62a (37) Kembar 2 3.77±0.04b(224) 10.50 ± 0.13a(224) 17.01±0.34a(180) Kembar 3 3.46±0.05c (48) 10.90 ± 0.24a (48) 18.35±0.51a (42) Tahun:

2007 3.72±0.03a(124) 11.90 ± 0.13a(124) 20.17±0.25a(124) 2008 4.04±0.18a (29) 10.40 ± 0.25b (29) 15.00±0.65bc (3) 2009 3.66±0.18a (16) 10.10± 0.16bc (16) 17.85±1.03ab (6) 2010 3.73±0.64a (35) 10.50 ± 0.16b (35) 16.62±1.08b (17) 2011 3.81±0.06a(112) 9.20± 0.14c (112) 13.83±0.32c(109) Musim:

Kemarau 3.79±0.04a(237) 11.00± 0.16a(237) 18.32±0.30a(189) Hujan 3.73±0.68a (79) 9.20± 0.21b (79) 14.14±0.37b (70)

Keterangan : n = jumlah individu a

Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 1%.

12

dibandingkan dengan paritas kedua dan ketiga. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian yang disampaikan oleh Sodiq (2012) bahwa peningkatan rataan bobot badan seiring dengan peningkatan paritas. Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian dengan bangsa kambing yang berbeda (Jimenez-Badillo et al. 2009 dan Valencia et al. 2007). Perbedaan pengaruh paritas dapat disebabkan oleh kondisi tubuh induk dan proses fisiologi yang terjadi pada induk berakibat terhadap pertumbuhan dan perkembangan uterus seiring dengan peningkatan umur induk dan paritas (Zhang et al. 2009).

Tipe kelahiran sangat berpengaruh (P<0.01) terhadap bobot lahir, 12 bulan dan 18 bulan akan tetapi tidak berpengaruh (P>0.01) terhadap bobot sapih dan 6 bulan. Sodiq (2012) melaporkan bahwa tipe kelahiran pada kambing Peranakan Etawah berpengaruh terhadap bobot lahir, 30 hari, 60 hari dan 90 hari. Hasil yang sama diperoleh pada beberapa penelitian dengan bangsa yang berbeda, Zhang et al. (2009) pada kambing Boer, Mandal et al. (2006) pada domba Muzaffarnagari, Liu et al. (2005) pada kambing Angora, Zhou et al. (2003) pada kambing Mongolia cashmere dan Al-Shorepy et al. (2002) pada kambing Emirati.

Bobot lahir kelahiran tunggal pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dengan kelahiran kembar dua dan tiga akan tetapi bobot sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan kelahiran tunggal lebih rendah daripada kelahiran kembar dua dan Tabel 3 Rataan dan standar eror (SE) bobot 12 bulan dan 18 bulan kambing

Peranakan Etawah (kg)

Sifat

Bobot 12 bulan (n) Bobot 18 bulan (n) Jenis kelamin:

Jantan 33.20±1.42a (116) 50.41±1.09a (79)

Betina 30.43±1.31a (143) 47.20±1.13a (94)

Paritas: 1 44.27±1.07a (138) 52.60±0.75a (128) 2 17.15±0.42b (107) 34.87±1.04b (31) 3 17.56±0.92b (14) 33.74±1.92b (6) Tipe kelahiran: Tunggal 22.51±1.49c (37) 40.62±2.52b (17) Kembar 2 31.08±1.22b (180) 48.53±1.02a (109)

Kembar 3 42.25±1.87a (42) 52.47±0.90a (39) Tahun: 2007 46.68±0.89a(124) 53.31±0.58a (123) 2008 22.28±0.98bc (3) 37.53±6.26bc (3) 2009 27.33±3.80b (6) - 2010 22.85±1.12b (17) 40.16±0.91b (15) 2011 16.27±0.33c(109) 31.08±1.01c (24) Musim:

Kemarau 36.35±1.11a(189) 52.1±0.77a (130)

Hujan 18.80±0.98b (70) 35.40±1.48b (35)

Keterangan: n = jumlah individu a

Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 1%.

13 tiga. Zhang et al. (2009) melaporkan kelahiran tunggal memiliki bobot badan yang lebih tinggi dibandingkan kelahiran kembar dua dan tiga pada kambing Boer. Atabany et al. (2001) juga melaporkan bahwa bobot lahir tunggal lebih tinggi dibandingkan dengan lahir kembar dua, tiga dan empat pada kambing Peranakan Ettawa masing-masing 4.29; 4.08; 3.17 dan 2.63 kg. Kelahiran tunggal memiliki bobot lahir yang lebih tinggi disebabkan tidak adanya kompetisi kebutuhan nutrisi yang diberikan oleh induk saat kebuntingan. Sebaliknya kelahiran kembar dua dan tiga nutrisi yang diberikan terbagi kepada anak saat induk bunting (Zhang et al. (2009). Liu et al. (2005) melaporkan bahwa bobot lahir kelahiran kembar dua dan tiga lebih rendah dibandingkan dengan kelahiran tunggal disebabkan oleh penurunan pengaruh induk seperti nutrisi yang diberikan induk kepada anak selama kebuntingan.

Tahun kelahiran tidak berpengaruh (P>0.01) terhadap bobot lahir namun sangat berpengaruh (P<0.01) terhadap bobot sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan. Pola rataan bobot lahir, sapih dan 18 bulan dari yang tertinggi ke terendah 2007>2010>2008>2009>2009> Pola rataan bobot 6 bulan dan 12 bulan dari yang tertinggi ke terendah 2007>2009>2010>2008>2011. Perbedaan dengan beberapa penelitian disebabkan oleh perubahan iklim, curah hujan yang berbeda, pakan, kondisi tubuh ternak dan manajemen (Zhou et al. 2003 dan Haile et al. 2009).

Musim tidak berpengaruh (P>0.01) terhadap bobot lahir namun sangat berpengaruh (P<0.01) terhadap bobot sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan. Secara keseluruhan bobot badan pada penelitian ini lebih tinggi pada musim kemarau dibandingkan dengan musim penghujan. Hal ini menunjukkan bahwa ternak yang lahir pada musim kemarau lebih baik performanya daripada ternak yang lahir pada musim penghujan. Zhang et al. (2009) melaporkan bahwa anak kambing yang lahir pada musim kemarau memiliki bobot badan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak kambing yang lahir musim yang lain. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh ketersediaan pakan saat induk bunting. Pengaruh musim terhadap bobot badan dapat disebabkan manajemen seperti perkawinan, perkandangan dan pakan pada lokasi ternak tersebut dipelihara (Gunawan dan Noor 2006). Al-Shorepy et al. (2002) juga melaporkan bahwa perbedaan bobot badan pada musim yang berbeda dapat disebabkan oleh perbedaan musim penghujan sehingga ketersediaan pakan juga berbeda.

Pengaruh Genetik Heritabilitas

Nilai heritabilitas bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan yang diperoleh pada penelitian ini disajikan pada Tabel 4. Nilai heritabilitas merupakan bagian keragaman total dari suatu sifat yang diakibatkan oleh pengaruh keturunan termasuk semua pengaruh gen aditif, dominan dan epistasis. Pendugaan nilai heritabilitas yang diperoleh hanya berlaku bagi populasi yang diamati dalam waktu tertentu (Noor 2008). Nilai heritabilitas bobot badan pada penelitian ini sedang sampai tinggi dengan nilai 0.37-0.68. Nilai heritabilitas dikatakan rendah jika nilainya antara 0.0-0.2, sedang antara 0.2-0.4 dan tinggi lebih dari 0.4 (Noor 2008). Nilai heritabilitas bobot lahir pada penelitian ini 0.54±0.12 lebih tinggi dibandingkan beberapa laporan penelitian kambing di daerah tropis. Al-Shorepy

14

et al. (2001) melaporkan nilai heritabilitas bobot lahir pada kambing Emirati dengan menggunakan analisis Derivative Free Restricted Maximum Likehood

(DFREML) sebesar 0.39. Bosso et al. (2007) melaporkan nilai heritabilitas bobot lahir pada kambing Dwraf dengan menggunakan analisis ASREML sebesar 0,50. Nilai heritabilitas bobot lahir pada kambing Syrian Damascus dan Boer masing-masing sebesar 0.41 dan 0.30 (Zhang et al. 2009 dan Al-Saef 2013).

Nilai heritabilitas bobot sapih pada penelitian ini sebesar 0.35±0.07. Nilai heritabilitas pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian oleh Zhang et al. (2009) pada kambing Boer dengan menggunakan analisis DFRML. Nilai heritabilitas yang diperoleh pada penelitian ini sesuai dengan kisaran nilai heritabilitas beberapa penelitian dengan bangsa kambing yang berbeda (Al-Saef 2012; Boujenane dan El-Hazzab 2008 dan Al-Shorepy et al. 2002). Nilai heritabilitas bobot sapih pada kambing Emirati dan Syrian Damascus masing-masing sebesar 0.45 dan 0.21. Peningkatan genetik bobot sapih disebabkan oleh pengaruh fertilitas, prolifikasi, adaptasi anak dan kelangsungan induk dari perkawinan sampai sapih (Zhang et al. 2009). Makgahlela et al. (2008) menyatakan bahwa perbedaan nilai heritabilitas dikarenakan perbedaan variasi genetik antar populasi, perbedaan model statistik yang digunakan untuk analisis dan perbedaan kondisi lingkungan.

Nilai heritabilitas bobot 6 bulan yang diperoleh pada penelitian ini sebesar 0.37±0.09. Boujenane dan El-Hazzab (2008) melaporkan bahwa nilai heritabilitas bobot 6 bulan menggunakan analisis Multi Traits Derivative Free Restricted Maximum Likelihood (MTDFREML) dengan kisaran 0.11-0.23. Al-Saef (2013) juga melaporkan nilai heritabilitas bobot 6 bulan dengan menggunakan analisis yang sama sebesar 0.36. Nilai heritabilitas bobot 12 dan 18 bulan yang diperoleh pada penelitian ini masing-masing sebesar 0.68±0.16 dan 0.63±0.19. Nilai heritabilitas yang diperoleh pada penelitian ini lebih rendah dibandingkan dengan nilai heritabilitas yang diperoleh oleh Bosso et al. (2007) pada kambing Dwarf sebesar 0.73. Namun, nilai heritabilitas yang diperoleh pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dengan yang diperoleh oleh Oczana et al. (2005) pada domba Merino, Safari et al. (2005) pada domba dan Gizawa pada domba Menz.

Nilai heritabilitas tertinggi yang diperoleh pada penelitian ini pada bobot 12 bulan. Peningkatan mutu genetik kambing Peranakan Etawah pada penelitian ini dapat dilakukan dengan menyeleksi ternak pada bobot 12 bulan berdasarkan nilai heritabilitas tertinggi pada bobot badan tersebut. Perbedaan nilai heritabilitas yang diperoleh dapat disebabkan oleh perbedaan bangsa kambing, analisis statistik, Tabel 4 Nilai heritabilitas dan standar eror (SE) bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12

bulan dan 18 bulan kambing Peranakan Etawah

Sifat n h2±SE Bobot Lahir 316 0.54±0.12 Bobot Sapih 316 0.35±0.07 Bobot 6 Bulan 259 0.37±0.09 Bobot 12 Bulan 259 0.68±0.16 Bobot 18 Bulan 165 0.63±0.19

15 metode seleksi dalam populasi, jumlah sampel dan lingkungan (Zhang et al. 2009).

Ripitabilitas

Ripitabilitas merupakan suatu pengukuran kesamaan suatu sifat yang diukur berkali-kali pada ternak yang sama. Nilai ripitabilitas suatu sifat ditentukan oleh keragaman komponen-komponen penyusunnya seperti gen aditif, dominan, epistasis dan komponen lingkungan (permanen dan sementara) (Noor 2008). Nilai ripitabilitas bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan yang diperoleh pada penelitian ini disajikan pada Tabel 5. Nilai ripitabilitas pada penelitian ini tinggi dengan kisaran 0.71-0.98. Noor (2008) menyatakan bahwa nilai ripitabilitas berkisar antara 0-1 dan digolongkan ke dalam tiga kategori yaitu rendah antara 0.0-0.2, sedang antara 0.2-0.4 dan tinggi lebih dari 0.4.

Nilai ripitabilitas yang tinggi menandakan ternak mampu berproduksi dengan ukuran yang hampir sama setiap tahun dan seleksi sangat potensial dilakukan untuk meningkatkan mutu genetik. Nilai ripitabilitas pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa penelitian dengan bangsa kambing yang berbeda (Snyman dan Olivier 1999 dan Yalcin. 1982). Gifford et al. 1991 melaporkan nilai ripitabilitas bobot badan kambing sebesar 0.18. Perbedaan dalam status reproduksi dapat menyebabkan nilai ripitabilitas yang berbeda pada bobot badan kambing (Snyman dan Olivier 1999).

Korelasi Genetik dan Fenotipik

Nilai korelasi genetik dan fenotipik bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan yang diperoleh pada penelitian disajikan pada Tabel 6. Korelasi genetik terendah diperoleh antara bobot lahir dengan bobot 12 bulan sebesar 0,03 dan tertinggi diperoleh antara bobot 12 bulan dengan bobot 18 bulan sebesar 0,87. Korelasi genetik bobot badan pada bangsa kambing yang berbeda dilaporkan oleh beberapa penelitian sebesar 0,19 sampai 0,92 (Bosso et al. 2007; Zhang et al. 2008; Zishiri et al.2009 dan Wang et al. 2011). Korelasi genetik yang diperoleh pada penelitian ini adalah rendah sampai tinggi dan positif. Korelasi genetik yang positif antara bobot badan menunjukkan bahwa peningkatan mutu genetik suatu sifat akan diikuti oleh sifat yang lain dan dapat menjadi rujukan untuk melakukan seleksi dini (Boujenane dan El-Hazzab 2008). Noor (2008) menyatakan bahwa korelasi genetik terjadi karena adanya pengaruh gen-gen yang bersifat pleitropy

yaitu satu gen dapat mempengaruhi dua atau lebih sifat.

Korelasi genetik bobot lahir pada penelitian ini rendah berkisar antara 0.03 sampai 0.35. Hasil ini sesuai dengan penelitian Bosso et al. (2007) dan Al-Saef Tabel 5 Nilai ripitabilitas dan standar eror (SE) bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12

bulan dan 18 bulan kambing Peranakan Etawah

Sifat n R±SE Bobot Lahir 28 0.98±0.01 Bbobot Sapih 28 0.97±0.01 Bobot 6 Bulan 23 0.94±0.03 Bobot 12 Bulan 26 0.71±0.12 Bobot 18 Bulan 21 0.91±0.04

16

(2013) yang menyatakan bahwa korelasi genetik bobot lahir rendah. Namun, Boujenane dan El-Hazzab (2008) melaporkan bahwa korelasi genetik bobot lahir pada kambing Draa tinggi. Korelasi genetik tertinggi (0.88) yang diperoleh pada penelitian ini antara bobot 12 bulan dengan bobot 18 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa seleksi pada bobot 12 bulan sangat efektif untuk meningkatkan mutu genetik pada generasi berikutnya. Hasil penelitian yang berbeda disampaikan oleh Bosso et al. 2007 yang menyatakan bahwa korelasi genetik tertinggi (0.74) diperoleh antara bobot lahir dengan bobot satu tahun pada kambing Dwarf.

Nilai korelasi fenotipik yang diperoleh pada penelitian ini berkisar antara 0.08 (antara bobot lahir dengan bobot 12 bulan) sampai 0.93 (antara bobot 12 bulan dengan 18 bulan). Korelasi fenotipik antara bobot badan pada penelitian ini memiliki pola yang sama dengan beberapa penelitian pada bangsa kambing yang berbeda (Xu et al. 2005 dan Han et al. 2005). Al-Shorepy et al. (2002) melaporkan korelasi genetik dan fenotipik antara bobot lahir, satu bulan dan 3 bulan positif dengan kisaran 0.45-0.99. Korelasi fenotipik tertinggi (0,99) juga diperoleh antara bobot 12 bulan dengan bobot 18 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa seleksi sangat efektif dilakukan pada bobot 12 bulan.

Nilai Pemuliaan

Nilai pemuliaan pejantan terbaik pada bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan disajikan pada Tabel 7. Nilai pemuliaan adalah hal yang menunjukkan suatu kedudukan individu dalam populasi (Bourdon 2000). Nilai pemuliaan setiap ekor pejantan diperoleh berdasarkan nilai heritabilitas dikalikan dengan diferensial seleksi (Becker 1995).

Tabel 6 Nilai korelasi genetik (dibawah diagonal) dan korelasi fenotipik (diatas diagonal) bobot lahir (BL), sapih (BS), 6 bulan (B6), 12 bulan (B12) dan 18 bulan (B18) kambing Peranakan Etawah

BL BS B6 B12 B18 BL 0.17 0.30 0.08 0.23 BS 0.35 0.69 0.65 0.64 B6 0.04 0.64 0.83 0.74 B12 0.03 0.71 0.77 0.93 B18 0.15 0.55 0.59 0.88

Tabel 7 Peringkat keunggulan lima ekor pejantan terbaik berdasarkan nilai pemuliaan (NP) bobot lahir (BL), sapih (BS), 6 bulan (B6), 12 bulan (B12) dan 18 bulan (B18) kambing Peranakan Etawah

No ID n Peringkat BL BS B6 B12 B18 NP NP NP NP NP 1649 36 1 0.04 0.02 0.03 0.03 0.03 1645 40 2 0.03 0.01 0.01 0.05 0.02 1711 43 3 0.02 0.01 0.04 0.03 0.02 1643 28 4 0.02 0.01 0.02 0.02 0.01 1699 29 5 0.01 0.00 0.01 0.01 0.04

17 Jumlah pejantan yang dievaluasi sebanyak 28 ekor. Berdasarkan nilai pemuliaan yang diperoleh maka dipilih lima pejantan terbaik sebesar 18 % dari populasi. Berdasarkan nilai pemuliaan diperoleh pejantan terbaik pada penelitian ini adalah nomor identitas 1649 dengan nilai pemuliaan bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan masing-masing +0.04; +0.01; +0.02; +0.03 dan +0.03. Sedangkan pejantan nomor 1699 pada penelitian ini memiliki nilai pemuliaan terendah pada bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan masing-masing +0.01; +0.00; +0.01; +0.01 dan +0.04.

Bobot 12 bulan memiliki nilai pemuliaan tertinggi dibandingkan dengan bobot lahir, sapih, 6 bulan dan 18 bulan. Nilai pemuliaan tertinggi dapat dijadikan salah satu kriteria dalam seleksi untuk memilih pejantan yang unggul dari populasi karena diturunkan kepada generasi berikutnya (Bourdon 2000). Program seleksi pada bobot 12 bulan sangat efektif untuk meningkatkan mutu genetik bobot badan. Tiga pejantan terbaik dari lima pejantan yang diseleksi disarankan sebagai pejantan di BPTU-HPT Pelaihari.

Pola Genetik dan Fenotipik

Pola genetik bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan disajikan pada Gambar 1. Secara umum, pola genetik seluruh bobot badan pada penelitian ini berfluktuasi dari tahun 2007 sampai 2011. Pola genetik bobot lahir meningkat dari tahun 2007 sampai 2008 dan konstan sampai tahun 2009. Kemudian pada tahun 2009 menurun sampai tahun 2011. Pola genetik bobot sapih menurun drastis pada tahun 2008 dan meningkat pada tahun 2009. Setelah tahun 2009 menurun drastis sampai 2011. Pola genetik bobot 6 bulan meningkat dari tahun 2007 sampai 2009. Namun pada tahun 2009 sampai 2011 menurun. Pola genetik bobot 12 bulan meningkat sampai tahun 2008 namun menurun pada tahun 2009. Setelah tahun 2009 meningkat sampai 2010 dan kembali menurun sampai tahun 2011. Pola genetik bobot 18 bulan konstan dari tahun 2007 sampai 2008 dan menurun sampai tahun 2009. Dari tahun 2009 sampai 2010 konstan dan kemudian menurun sampai tahun 2011. Hal yang sama diperoleh oleh Bosso et al. (2007) bahwa pola genetik bobot lahir, 120 hari dan 180 hari pada kambing Dwraf berfluktuasi.

Berdasarkan Tabel 8 rataan nilai pemuliaan bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan masing-masing sebesar -0.019; -0.02; 0.003; 0.009 dan 0.005 kg/tahun. Bosso et al. (2007) melaporkan rataan nilai pemuliaan bobot lahir, 120 hari dan 180 hari masing-masing sebesar 0.01; 0.02 dan 0.08 kg/tahun. Perbedaan rataan nilai pemuliaan yang diperoleh dengan penelitian yang lain disebabkan oleh perbedaan program seleksi, model analisis, metode perhitungan, bangsa kambing dan lingkungan (Shaat et al. 2004 dan Zhang et al. 2009). Penurunan pola genetik bobot badan secara keseluruhan mengindikasikan bahwa seleksi yang telah dilakukan berdasarkan nilai pemuliaan yang rendah. Perbaikan nilai pemuliaan dapat dilakukan dengan penggunaan pejantan baru yang unggul pada populasi tersebut.

Pola fenotipik bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan disajikan pada Gambar 2. Pola fenotipik bobot lahir dan sapih stabil dari tahun 2007 sampai 2011. Pola fenotipik bobot 6 bulan menurun dari tahun 2007 sampai 2008 dan dari

18

tahun 2008 sampai 2010 meningkat serta menurun kembali sampai tahun 2011. Pola fenotipik bobot 12 dan 18 bulan sama dimana pola fenotipik menurun dari tahun 2007 sampai 2008 dan meningkat dari tahun 2008 sampai 2009. Tahun 2009 sampai 2011 kembali menurun.

Berdasarkan Tabel 8 rataan nilai fenotipik bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan masing-masing sebesar -0.02; -0.53; -1.11; -2.23 dan -5.18

Gambar 1 Pola genetik bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan kambing Peranakan Ettawa

(keterangan: )

Gambar 2 Pola fenotipik bobot lahir, sapih, 6 bulan, 12 bulan dan 18 bulan kambing Peranakan Ettawa

19 kg/tahun. Performa fenotipik pada penelitian ini dapat ditingkatkan dengan perbaikan manajemen. Perbaikan manajemen dapat berupa peningkatan kualitas hijauan, perbaikan strategi pengelolaan pastura, perbaikan cara pemeliharaan dan kesehatan ternak (Intaratham et al. 2008).

Koefisien determinasi (R2) sangat perlu dipertimbangkan dalam menentukan persamaan regresi sebagai alat penduga karena semakin besar nilai R2 yang didapat maka persamaan regresi sebagai alat penduga akan semakin akurat. Sebaliknya dengan nilai R2 yang rendah maka persamaan regresi sebagai alat penduga tidak akan akurat. Persamaan regresi pola genetik dan fenotipik terbaik yang dihasilkan pada penelitian ini adalah pada persamaan regresi bobot 12 bulan dan 18 bulan dengan nilai koefisien determinasi masing-masing 69.4-78.7 dan 65.8-90.5. Hal ini menunjukkan bahwa mulai bobot 12 bulan sampai 18 bulan sangat efektif dan efisien dijadikan sebagai acuan untuk menyeleksi bobot badan kambing Peranakan Ettawa di BPTU-HPT Pelaihari. Koefisien determinasi yang rendah dapat disebabkan oleh program seleksi dan kemajuan genetik yang lambat (Gunawan et al. 2011).

5 SIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait