IV.1. Hasil
Dalam penelitian ini, secara keseluruhan terkumpul 341 ekor nyamuk A.aegypti dari rumah-rumah penduduk yang sedang dan atau pernah menderita DBD menurut data Puskesmas setempat atau Dinas Kesehatan kota Medan dari 5 Kecamatan yang endemis DBD di kota Medan, yaitu Medan Helvetia, Medan Amplas, Medan Selayang, Medan Baru dan Medan Sunggal. Dari keseluruhan nyamuk A.aegypti, diambil masing-masing 20 ekor nyamuk A.aegypti betina dari masing-masing Kecamatan sebagai sampel dengan total 100 sampel nyamuk A.aegypti betina. Perincian proporsi jumlah nyamuk A.aegypti betina dari masing-masing Kecamatan dapat dilihat dalam tabel berikut.
Tabel 1. Asal dan Jumlah Nyamuk A.aegypti betina dari Masing-Masing Kecamatan di Kota Medan
Asal Nyamuk A.aegypti Persentase Jumlah (Kecamatan) (%) Medan Helvetia 20 20,0 Medan Amplas 20 20,0 Medan Selayang 20 20,0 Medan Baru 20 20,0 Medan Sunggal 20 20,0 Total 100 100,0
34
Dari tabel 1 di atas, terlihat persentase nyamuk A.aegypti betina untuk masing-masing Kecamatan sama yaitu 20% atau 20 ekor, dengan total 100 ekor. Keseluruhan 100 sampel nyamuk A.aegypti betina, dinomori dari 1 sampai dengan 100 dimulai dari sampel yang berasal dari Kecamatan Medan Helvetia (nomor 1 sampai 20), Medan Amplas (nomor 21 sampai 40), Medan Selayang (nomor 41 sampai 60), Medan Baru (nomor 61 sampai 80), dan Medan Sunggal (nomor 81 sampai 100).
Sampel-sampel tersebut diekstraksi, dan didapatkan RNA virusnya. RNA hasil ekstraksi tersebut dirubah menjadi DNA dan diamplifikasi dengan RT-PCR menggunakan primer DEN-4. Hasil RT-PCR dielektroforesis dan difoto utuk melihat pita untaian DNA. Dikatakan positif bila ditemukan pita berukuran 398 pasangan basa (bp). Sebagai pembanding dari pasangan basa yang dihasilkan, digunakan kontrol positif untuk virus Dengue serotipe DEN-4.
Dalam 1 kali elektroforesis, dapat diproses 10 sampel sehingga diperoleh 10 gambar hasil elektroforesis dari 100 sampel yang berasal dari 10 kali proses elektroforesis. Gel agarose yang digunakan dalam penelitian adalah 2% dengan sisir yang memiliki 15 sumur. Sumur pertama diisi dengan marker 100 bp DNA ladder, sumur kedua diisi dengan kontrol negatif free water nucleus, sumur ketiga diisi dengan kontrol positif untuk virus Dengue serotipe DEN-4 yaitu 398 bp. Selanjutnya sumur keempat sampai dengan ketigabelas diisi dengan 10 sampel nyamuk A.aegypti betina hasil PCR. Sumur keempatbelas dan kelimabelas tidak digunakan dalam penelitian ini karena letaknya yang paling ujung kemungkinan pada foto dapat
35
memberikan hasil yang kurang baik. Marker yang digunakan dalam penelitian adalah marker universal yang secara keseluruhan memiliki 11 pita yang berbeda-beda pasangan basa, dimulai dari 2072 bp untuk pita pertama sampai dengan 100 bp untuk pita kesebelas. Pasangan basa dari virus Dengue serotipe DEN-4 adalah 398 bp yang terletak antara pita kedelapan 400 bp dan pita kesembilan 300 bp. Berikut gambar 1 ini adalah potongan gambar dari marker 100 bp DNA ladder yang digunakan dalam penelitian.
Gambar 1. Marker 100 bp DNA Ladder
Berikut gambar 2 ini adalah potongan hasil kontrol positif RT-PCR dari keseluruhan serotipe virus Dengue yang dapat digunakan sebagai pembanding dalam penelitian ini.
36
bp (marker 100 bp DNA ladder)
400 300 398 (6) 500 200 100
Gambar 2. Hasil Kontrol positif RT-PCR dari Keseluruhan Serotipe Virus Dengue
Keterangan: 1. Kontrol (+) DEN-2 119 bp 2. Kontrol (+) DEN-3 290 bp 3. Kontrol (+) DEN-4 398 bp 4. Kontrol (+) DEN-1 482 bp 5. Marker 100 bp DNA ladder
6. Virus Dengue serotipe DEN-4
Dari gambar 2 terlihat untuk virus Dengue serotipe DEN-4, pita pasangan basa yang diharapkan muncul terletak antara 400 bp dan 300 bp. Dalam penelitian ini tidak ditemukan satupun pita pasangan basa yang terletak antara 400 bp dan 300 bp. Dengan menggunakan primer D4, maka gambaran hasil penelitian tidak menunjukkan adanya virus Dengue serotipe DEN-4 yang dapat dilihat dari hasil foto elektroforeseis berikut.
37
400 bp 398 bp
Gambar 3. Hasil RT-PCR virus Dengue dari sampel 1 sampai dengan 10 dari Kecamatan Medan Helvetia
Keterangan : 1. Marker 100 bp DNA 7. Sampel 4 : (-) ladder 8. Sampel 5 : (-) 2. Kontrol (-) 9. Sampel 6 : (-) 3. Kontrol (+) 10. Sampel 7 : (-) 4. Sampel 1 : (-) 11. Sampel 8 : (-) 5. Sampel 2 : (-) 12. Sampel 9 : (-) 6. Sampel 3 : (-) 13. Sampel 10 : (-)
Gambar 3 menunjukkan hasil RT-PCR sampel virus Dengue dari nomor 1 sampai dengan 10 yang berasal dari Kecamatan Medan Helvetia. Dari gambar ini, terlihat marker 100 bp DNA ladder pada sumur pertama, kontrol negatif pada sumur
38
kedua, dan kontrol positif pada sumur ketiga. Hasil dari foto ini menunjukkan tidak ditemukannya virus Dengue serotipe DEN-4 pada sampel nomor 1 sampai dengan 10 dari Kecamatan Medan Helvetia.
400 bp
Gambar 4. Hasil RT-PCR dari virus Dengue dari sampel 11 sampai dengan 20 dari Kecamatan Medan Helvetia
Keterangan : 1. Marker 100 bp DNA ladder 2. Kontrol (-) 3. Kontrol (+) 4. Sampel 11 : (-) 5. Sampel 12 : (-) 6. Sampel 13 : (-) 7. Sampel 14 : (-) 8. Sampel 15 : (-) 9. Sampel 16 : (-) 10. Sampel 17 : (-) 11. Sampel 18 : (-) 12. Sampel 19 : (-) 13. Sampel 20 : (-) 398 bp
39
Gambar 4 menunjukkan hasil RT-PCR sampel virus Dengue dari nomor 11 sampai dengan 20 yang berasal dari Kecamatan Medan Helvetia. Dalam gambar ini, terlihat marker 100 bp DNA ladder pada sumur pertama, kontrol negatif pada sumur kedua, dan kontrol positif pada sumur ketiga. Hasil dari foto ini menunjukkan bahwa tidak ditemukannya virus Dengue tipe DEN-4 pada sampel nomor 11 sampai dengan 20 dari Kecamatan Medan Helvetia.
400 bp
398 bp
Gambar 5. Hasil RT-PCR dari virus Dengue dari sampel 21 sampai dengan 30 dari Kecamatan Medan Amplas
Keterangan : 1. Marker 100 bp DNA ladder 2. Kontrol (-) 3. Kontrol (+) 4. Sampel 21 : (-) 5. Sampel 22 : (-) 6. Sampel 23 : (-) 7. Sampel 24 : (-) 8. Sampel 25 : (-) 9. Sampel 26 : (-)
40
10. Sampel 27 : (-) 11. Sampel 28 : (-) 12. Sampel 29 : (-)
13. Sampel 30 : (-)
Gambar 5 menunjukkan hasil RT-PCR sampel virus Dengue dari nomor 21 sampai dengan 30 yang berasal dari Kecamatan Medan Amplas. Dalam gambar ini, terlihat marker 100 bp DNA ladder pada sumur pertama, kontrol negatif pada sumur kedua, dan kontrol positif pada sumur ketiga. Hasil dari foto ini menunjukkan bahwa tidak ditemukannya virus Dengue tipe DEN-4 pada sampel nomor 21 sampai dengan 30 dari Kecamatan Medan Amplas.
Gambar 6. Hasil RT-PCR dari virus Dengue dari sampel 31 sampai dengan 40 dari Kecamatan Medan Amplas
Keterangan : 1. Marker 100 bp DNA
ladder
2. Kontrol (-) 3. Kontrol (+) 400 bp
41 4. Sampel 31 : (-) 5. Sampel 32 : (-) 6. Sampel 33 : (-) 7. Sampel 34 : (-) 8. Sampel 35 : (-) 9. Sampel 36 : (-) 10. Sampel 37 : (-) 11. Sampel 38 : (-) 12. Sampel 39 : (-) 13. Sampel 40 : (-)
Gambar 6 menunjukkan hasil RT-PCR sampel virus Dengue dari nomor 31 sampai dengan 40 yang berasal dari Kecamatan Medan Amplas. Dari gambar ini, terlihat marker 100 bp DNA ladder pada sumur pertama, kontrol negatif pada sumur kedua, dan kontrol positif pada sumur ketiga. Hasil dari foto ini menunjukkan tidak ditemukannya virus Dengue serotipe DEN-4 pada sampel nomor 31 sampai dengan 40 dari Kecamatan Medan Amplas.
400 bp 398 bp
Gambar 7. Hasil RT-PCR dari virus Dengue dari sampel 41 sampai dengan 50 dari Kecamatan Medan Selayang
42
Keterangan : 1. Marker 100 bp DNA ladder 2. Kontrol (-) 3. Kontrol (+) 4. Sampel 41 : (-) 5. Sampel 42 : (-) 6. Sampel 43 : (-) 7. Sampel 44 : (-) 8. Sampel 45 : (-) 9. Sampel 46 : (-) 10. Sampel 47 : (-) 11. Sampel 48 : (-) 12. Sampel 49 : (-) 13. Sampel 50 : (-) Gambar 7 menunjukkan hasil RT-PCR sampel virus Dengue dari nomor 41 sampai dengan 50 yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang. Dari gambar ini, terlihat marker 100 bp DNA ladder pada sumur pertama, kontrol negatif pada sumur kedua, dan kontrol positif pada sumur ketiga. Hasil dari foto ini menunjukkan tidak ditemukannya virus Dengue serotipe DEN-4 pada sampel nomor 41 sampai dengan 50 dari Kecamatan Medan Selayang.
Gambar 8. Hasil RT-PCR dari virus Dengue dari sampel 51 sampai dengan 60 dari Kecamatan Medan Selayang
400 bp
43
Keterangan : 1. Marker 100 bp DNA ladder 2. Kontrol (-) 3. Kontrol (+) 4. Sampel 51 : (-) 5. Sampel 52 : (-) 6. Sampel 53 : (-) 7. Sampel 54 : (-) 8. Sampel 55 : (-) 9. Sampel 56 : (-) 10. Sampel 57 : (-) 11. Sampel 58 : (-) 12. Sampel 59 : (-) 13. Sampel 60 : (-)
Gambar 8 menunjukkan hasil RT-PCR sampel virus Dengue dari nomor 51 sampai dengan 60 yang berasal dari Kecamatan Medan Selayang. Dari gambar ini, terlihat marker 100 bp DNA ladder pada sumur pertama, kontrol negatif pada sumur kedua, dan kontrol positif pada sumur ketiga. Hasil dari foto ini menunjukkan tidak ditemukannya virus Dengue serotipe DEN-4 pada sampel nomor 51 sampai dengan 60 dari Kecamatan Medan Selayang.
400 bp
Gambar 9. Hasil RT-PCR dari virus Dengue dari sampel 61 sampai dengan 70 dari Kecamatan Medan Baru
44
Keterangan : 1. Marker 100 bp DNA ladder 2. Kontrol (-) 3. Kontrol (+) 4. Sampel 61 : (-) 5. Sampel 62 : (-) 6. Sampel 63 : (-) 7. Sampel 64 : (-) 8. Sampel 65 : (-) 9. Sampel 66 : (-) 10. Sampel 67 : (-) 11. Sampel 68 : (-) 12. Sampel 69 : (-) 13. Sampel 70 : (-)
Gambar 9 menunjukkan hasil RT-PCR sampel virus Dengue dari nomor 61 sampai dengan 70 yang berasal dari Kecamatan Medan Baru. Dari gambar ini, terlihat marker 100 bp DNA ladder pada sumur pertama, kontrol negatif pada sumur kedua, dan kontrol positif pada sumur ketiga. Hasil dari foto ini menunjukkan tidak ditemukannya virus Dengue serotipe DEN-4 pada sampel nomor 61 sampai dengan 70 dari Kecamatan Medan Baru.
400 bp
398 bp
Gambar 10. Hasil RT-PCR dari virus Dengue dari sampel 71 sampai dengan 80 dari Kecamatan Medan Baru
45
Keterangan : 1. Marker 100 bp DNA ladder 2. Kontrol (-) 3. Kontrol (+) 4. Sampel 71 : (-) 5. Sampel 72 : (-) 6. Sampel 73 : (-) 7. Sampel 74 : (-) 8. Sampel 75 : (-) 9. Sampel 76 : (-) 10. Sampel 77 : (-) 11. Sampel 78 : (-) 12. Sampel 79 : (-) 13. Sampel 80 : (-) Gambar 10 menunjukkan hasil RT-PCR sampel virus Dengue dari nomor 71 sampai dengan 80 yang berasal dari Kecamatan Medan Baru. Dari gambar ini, terlihat marker 100 bp DNA ladder pada sumur pertama, kontrol negatif pada sumur kedua, dan kontrol positif pada sumur ketiga. Hasil dari foto ini menunjukkan tidak ditemukannya virus Dengue serotipe DEN-4 pada sampel nomor 71 sampai dengan 80 dari Kecamatan Medan Baru.
Gambar 11. Hasil RT-PCR dari virus Dengue dari sampel 81 sampai dengan 90 dari Kecamatan Medan Sunggal
400 bp 398 bp
46
Keterangan : 1. Marker 100 bp DNA ladder 2. Kontrol (-) 3. Kontrol (+) 4. Sampel 81 : (-) 5. Sampel 82 : (-) 6. Sampel 83 : (-) 7. Sampel 84 : (-) 8. Sampel 85 : (-) 9. Sampel 86 : (-) 10. Sampel 87 : (-) 11. Sampel 88 : (-) 12. Sampel 89 : (-) 13. Sampel 90 : (-)
Gambar 11 menunjukkan hasil RT-PCR sampel virus Dengue dari nomor 81 sampai dengan 90 yang berasal dari Kecamatan Medan Sunggal. Dari gambar ini, terlihat marker 100 bp DNA ladder pada sumur pertama, kontrol negatif pada sumur kedua, dan kontrol positif pada sumur ketiga. Hasil dari foto ini menunjukkan tidak ditemukannya virus Dengue serotipe DEN-4 pada sampel nomor 81 sampai dengan 90 dari Kecamatan Medan Sunggal.
Gambar 12. Hasil RT-PCR dari virus Dengue dari sampel 91 sampai dengan 100 dari Kecamatan Medan Sunggal
400 bp 398 bp
47
Keterangan : 1. Marker 100 bp DNA ladder 2. Kontrol (-) 3. Kontrol (+) 4. Sampel 91 : (-) 5. Sampel 92 : (-) 6. Sampel 93 : (-) 7. Sampel 94 : (-) 8. Sampel 95 : (-) 9. Sampel 96 : (-) 10. Sampel 97 : (-) 11. Sampel 98 : (-) 12. Sampel 99 : (-) 13. Sampel 100 : (-)
Gambar 12 menunjukkan hasil RT-PCR sampel virus Dengue dari nomor 91 sampai dengan 100 yang berasal dari Kecamatan Medan Sunggal. Dari gambar ini, terlihat marker 100 bp DNA ladder pada sumur pertama, kontrol negatif pada sumur kedua, dan kontrol positif pada sumur ketiga. Hasil dari foto ini menunjukkan tidak ditemukannya virus Dengue serotipe DEN-4 pada sampel nomor 91 sampai dengan 100 dari Kecamatan Medan Sunggal.
Hasil dari pemeriksaan 100 sampel nyamuk A.aegypti betina yang berasal dari kecamatan Medan Helvetia, Medan Amplas, Medan Selayang, Medan Baru dan Medan Sunggal dapat dilihat pada lampiran 2. Rangkuman dari keseluruhan persentase nyamuk A.aegypti betina dalam penelitian yang mengandung virus Dengue serotipe DEN-4 dapat dilihat dalam tabel 3 sebagai berikut.
Tabel 3. Rangkuman Hasil Penelitian
Kecamatan Jumlah Sampel Sampel (+) Persentase (ekor) DEN-4 (%) Medan Helvetia 20 - 0 Medan Amplas 20 - 0 Medan Selayang 20 - 0 Medan Baru 20 - 0 Medan Sunggal 20 - 0 Jumlah 100 - 0 IV.2. Pembahasan
Pemeriksaan RT-PCR dalam penelitian ini dengan menggunakan marker 100 bp DNA ditujukan untuk mengetahui berapa pasangan basa yang dihasilkan dari sampel virus Dengue dengan primer D4 dari nyamuk A.aegypti betina yang dikumpulkan.
Dinamika transmisi virus Dengue dipengaruhi oleh interaksi berbagai faktor lingkungan fisik, biologi, dan sosial. Di dalam interaksi tersebut mencakup aspek virus Dengue, vektor maupun orang. Nyamuk, vektor dan orang bergerak menurut tempat dan waktu, sehingga dinamika transmisi virus Dengue dipengaruhi oleh peran banyak faktor untuk keempat serotipe virus Dengue.
Soedjoko Hariadhi dkk dari Universitas Airlangga menunjukkan data laporan penelitian di Jakarta dari tahun 2004 sampai dengan 2007 menggambarkan keunikan masing-masing serotipe virus Dengue yang memicu terjadinya wabah/KLB berdasarkan kondisi geografis dan periode waktu yang berbeda-beda. Hal ini
menunjukkan bahwa populasi masing-masing serotipe virus Dengue dapat dominan pada waktu-waktu tertentu dan dipengaruhi kondisi geografis tertentu. Hal ini dapat ditunjukkan dari gambaran grafik yang ada berikut.
Gambar 13. Gambar pola dominansi serotipe virus Dengue dari serum manusia pada periode yang berbeda-beda selama tahun 2004-2007
Dari gambar 13 di atas, terlihat bahwa pola dominansi virus Dengue serotipe DEN-4 pada serum umumnya dijumpai sekitar bulan Januari sampai dengan Februari setiap tahunnya dari tahun 2004 sampai dengan 2007. Namun hal ini belum tentu dapat disamakan dengan pola dominansi virus Dengue serotipe DEN-4 pada nyamuk A.aegypti secara keseluruhan, menimbang salah satu pola perkembangbiakan nyamuk A.aegypti betina yang transovarian yang memungkinkan penurunan gen virus Dengue
kepada generasi berikutnya baik jantan maupun betina, sedangkan yang menghisap darah hanya nyamuk A.aegypti betina. Hal ini menjadi alasan kenapa hanya dikumpulkan nyamuk A.aegypti betina dalam sampel penelitian ini. Oleh karena penelitian ini mengumpulkan sampel nyamuk A.aegypti betina, memungkinkan terjadinya persamaan dominansi serotipe virus antara sampel serum dari penderita DBD dengan sampel dari nyamuk A.aegypti betina. Namun apabila jumlah serotipe virus Dengue tertentu dalam serum penderita DBD pada suatu daerah sedikit, belum tentu menggambarkan jumlah serotipe virus Dengue pada keseluruhan nyamuk A.aegypti juga sedikit di daerah tersebut mengingat nyamuk A.aegypti jantan juga dapat mengandung virus Dengue melalui pembuahan transovarian, demikian juga sebaliknya. Karena belum adanya peta dominansi serotipe virus Dengue yang berasal dari sampel nyamuk A.aegypti, maka gambar 13 di atas masih dapat dijadikan sumber rujukan salah satu penyebab tidak ditemukannya virus Dengue serotipe DEN-4 dalam penelitian ini, yang pengumpulan sampelnya dilakukan pada bulan September sampai dengan November 2008 menimbang koherensi antara serotipe virus Dengue yang ada pada nyamuk A.aegypti betina dengan pada serum penderita DBD masih erat hubungannya. Latar belakang pemilihan waktu penelitian ini dikaitkan dengan musim-musim yang ada di Indonesia. Di Indonesia terdapat 2 musim, yaitu musim kemarau yang terjadi dari bulan Maret sampai dengan Agustus dan musim penghujan yang terjadi dari bulan September sampai dengan Februari. Pengumpulan nyamuk dilakukan pada puncak musim penghujan pada bulan September sampai dengan November 2008 di mana banyak terdapat air yang
tergenang, seperti pada sisa-sisa kaleng bekas, tempat penampungan air bersih, ban bekas dan benda-benda lain yang sangat sesuai untuk tempat perindukan nyamuk A.aegypti. Berdasarkan penelitian Soedjoko Hariadhi dkk di Jakarta berdasarkan gambar 13, dominansi virus Dengue serotipe DEN-4 dari serum penderita DBD terjadi pada bulan Januari sampai dengan Februari. Hal ini mungkin disebabkan oleh pergerakan faktor pejamu, yaitu manusia di Jakarta, terutama anak-anak yang umumnya pada bulan Januari sampai dengan Februari sesudah berakhirnya masa liburan di luar Jakarta akan kembali ke Jakarta untuk memulai masa sekolah. Hal ini menyebabkan banyaknya faktor pejamu sesudah masa perkembangbiakan nyamuk A.aegypti pada penghujung tahun yang sangat berperan dalam dominansi serotipe virus Dengue. Hasil ini akan lebih terlihat apabila penelitian dilakukan sepanjang tahun. Berdasarkan pantauan Badan Meterologi dan Geofisika, sepanjang tahun 2008 di Indonesia terjadi perubahan iklim yang cukup signifikan akibat pemanasan global di mana terjadi penipisan lapisan ozon yang bermakna dan sangat mempengaruhi pola kehidupan makhluk hidup. Hal ini mengakibatkan sepanjang tahun 2008 terjadi musim pancaroba yang sulit diprediksi setiap bulannya, di mana setiap bulan sepanjang tahun terdapat musim kemarau bersamaan dengan curah hujan yang cukup tinggi yang sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk A.aegypti. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya penderita DBD setiap bulannya sepanjang tahun 2008. Oleh karena itu ’iklim’ sepanjang tahun 2008 sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk A.aegypti.
Pada tahun 2007 Departemen Kesehatan RI pernah mengeluarkan peta penyebaran keempat serotipe virus Dengue yang berasal dari serum penderita DBD berdasarkan hasil penelitian di 19 kota-kota besar di Indonesia selama tahun 2003 sampai dengan 2005 terlihat pada gambar 14 sebagai berikut.
Sumber : Depkes RI, 2007
Gambar 14. Peta populasi penyebaran serotipe virus Dengue yang berasal dari serum penderita DBD dari 19 kota yang ada di Indonesia (2003- 2005)
Dari peta tersebut dikaitkan dengan penelitian ini, terlihat bahwa di kota Medan virus Dengue serotipe DEN-4 dari serum penderita DBD pernah ditemukan pada tahun 2003 sampai dengan 2005. Hal ini tidak menutup kemungkinan ditemukannya virus Dengue serotipe DEN-4 dari nyamuk A.aegypti betina yang ada di kota Medan selama periode penelitian pada tahun 2008. Namun berpedoman pada peta
penyebaran tersebut, terlihat bahwa virus Dengue serotipe DEN-2 adalah yang paling dominan pada penderita DBD di kota Medan dari tahun 2003 sampai dengan 2005, diikuti oleh DEN-3 dan DEN-4. Hal ini menggambarkan beberapa kemungkinan antara lain virus Dengue serotipe DEN-4 yang sebelumnya ada di kota Medan, namun sekarang memang tidak dijumpai kemungkinan karena adanya pergeseran dominansi distribusi serotipe virus Dengue, di mana virus Dengue serotipe DEN-4 yang populasi sebelumnya memang terkecil di kota Medan dan tidak dijumpai saat ini. Berpedoman pada epidemi DBD yang terjadi 5 tahun sekali, sangat besar kemungkinan virus Dengue serotipe DEN-4 akan dijumpai kembali 5 tahun sesudah tahun 2005, yakni tahun 2010. Hal ini dapat memberikan gambaran bagi perburukan keadaan klinis DBD pada tahun 2010 menimbang serotipe virus Dengue yang bakal muncul akan semakin banyak dengan keberadaan virus Dengue serotipe DEN-4. Berdasarkan teori Halstead, semakin banyak serotipe virus yang ditemukan di suatu daerah akan memperbesar kemungkinan semakin parahnya penyakit DBD atau SSD yang diderita di daerah tersebut. Kemungkinan lain dari tidak ditemukannya virus Dengue serotipe DEN-4 pada nyamuk A.aegypti betina dalam penelitian ini adalah bahwa nyamuk A.aegypti betina yang mengandung virus Dengue serotipe DEN-4 pada tahun 2005 sebagian besar menghasilkan keturunan nyamuk A.aegypti jantan yang tetap ada sampai saat ini, namun tidak termasuk dalam sampel penelitian. Sedangkan keturunan nyamuk A.aegypti betina yang dihasilkan jumlahnya sangat sedikit dan saat ini tidak dijumpai lagi terkait pengaruh seleksi alam, sehingga tidak ditemukan dalam penelitian. Faktor distribusi pejamu juga sangat berperan mengingat pada saat ini
mobilitas manusia sangat tinggi dan fasilitas distribusi yang berkembang sangat pesat memungkinkan tidak seimbangnya arus masuk dan keluar nyamuk A.aegypti betina yang mengandung virus Dengue serotipe DEN-4 yang jumlahnya paling sedikit pada tahun 2005 dari kota Medan. Nyamuk A.aegypti betina yang mengandung virus Dengue serotipe DEN-4 yang terbawa oleh arus distribusi keluar dari kota Medan jumlahnya lebih banyak dari yang masuk ke kota Medan selama rentang waktu tersebut. Dengan jumlah nyamuk A.aegypti betina yang mengandung virus Dengue serotipe DEN-4 yang semakin berkurang memperbesar kemungkinan tidak ditemukan lagi pada saat ini yang tidak terlepas dari pengaruh seleksi alam atau terbawa masuknya nyamuk tersebut ke daerah yang tidak kondusif untuk bertahan hidup. Hal ini tidak menutup kemungkinan bisa saja ditemukan virus Dengue serotipe DEN-4 pada nyamuk A.aegypti jantan akibat pengaruh distribusi manusia. Kemungkinan lain adalah ditemukannya virus Dengue serotipe DEN-4 sebelumnya dan tetap ada sampai saat ini, hanya saja tidak ditemukan dalam penelitian menunjukkan bahwa saat ini hanya nyamuk A.aegypti jantan yang mengandung serotipe DEN-4 yang ada pada populasi di kota Medan. Namun kemungkinan keberadaan nyamuk A.aegypti betina yang mengandung virus Dengue serotipe DEN-4 tetap ada ke depannya terkait oleh masuknya arus distribusi manusia setiap harinya ke kota Medan.
Keseluruhan hasil yang negatif pada penelitian ini bukan berarti sampel nyamuk Aedes aegypti betina yang dikumpulkan tidak mengandung virus Dengue, akan tetapi karena primer yang digunakan dalam penelitian hanya primer D4 yang hanya dapat mendeteksi virus Dengue serotipe DEN-4. Dengan tidak ditemukannya
virus Dengue serotipe DEN-4 dari 5 Kecamatan di kota Medan yang endemik DBD, menunjukkan bahwa endemik DBD yang ada di kota Medan selama ini kemungkinan besar berasal dari virus Dengue serotipe yang lain, yakni DEN-1 atau DEN-2 atau DEN-3 atau infeksi campuran antara ketida serotipe virus Dengue tersebut. Di samping itu, kemungkinan lainnya adalah sebagian nyamuk A.aegypti betina yang menjadi sampel dalam penelitian merupakan nyamuk yang baru berkembang dari larva menjadi dewasa dan belum menghisap darah, sehingga belum mengandung virus Dengue serotipe apapun. Dengan tidak ditemukannya virus Dengue serotipe DEN-4 pada sampel nyamuk A. aegypti betina di 5 Kecamatan endemik DBD di kota Medan dapat mewakili seluruh Kecamatan di kota Medan karena penelitian ini mencakup lima Kecamatan endemis DBD di kota Medan, sehingga penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai awal dari penelitian virus Dengue pada nyamuk A.aegypti di kota Medan.
Tidak ditemukannya virus Dengue serotipe DEN-4 dari nyamuk A.aegypti betina di kota Medan dapat memberikan kelegaan sekaligus perhatian khusus dari Dinas Kesehatan mengingat virus Dengue serotipe DEN-4 tidak menghasilkan gejala klinis DBD yang terlalu berat dan memberikan masukan bahwa semakin berkurangnya serotipe virus Dengue yang terdapat di kota Medan. Hal ini akan semakin baik karena gejala klinis DBD yang diakibatkan oleh infeksi sekunder akan semakin kecil. Namun dengan tidak ditemukannya virus Dengue serotipe DEN-4 di kota Medan memungkinkan bahwa selama ini endemik DBD di kota Medan disebabkan oleh virus Dengue serotipe lainnya. Khusus untuk endemik DBD dikarenakan virus