Hasil
Perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya berpengaruh terhadap pertumbuhan benih ikan tengadak yaitu pertambahan bobot ikan (Gambar 3) dan pertambahan panjang ikan (Gambar 4).
Gambar 3. Grafik pertambahan bobot benih ikan tengadak selama pemeliharaan dengan perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya
Gambar 4. Grafik pertambahan panjang benih ikan tengadak selama
pemeliharaan dengan perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya
8
Pertambahan bobot benih ikan tengadak relatif lebih cepat pada perlakuan L12I550 (lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 550 lux) dan L18I550 (lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 550 lux). Pertambahan panjang benih ikan tengadak pada awal pemeliharaan hingga hari ke-10 mengalami peningkatan yang cepat, kemudian mengalami peningkatan panjang ikan secara perlahan-lahan. Pertambahan panjang benih ikan tengadak yang lebih cepat pada perlakuan L18I550 (lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 550 lux).
Pengaruh perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya terhadap laju pertumbuhan spesifik, panjang mutlak, dan sintasan pada benih ikan tengadak dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Rata-rata laju pertumbuhan spesifik (LPS), panjang mutlak (PM),
sintasan (SR) pada benih ikan tengadak dengan perlakuan perbedaan
lama penyinaran dan intensitas cahaya setelah dipelihara selama 30 hari
Perlakuan Parameter LPS (%) PM (cm) SR (%) L6I250 4.99±0.26a 1.16±0.07ab 92.67±7.02a L6I400 5.11±0.37ab 1.13±0.18a 92.67±1.15a L6I550 5.07±0.14ab 1.20±0.11ab 96.00±4.00a L12I250 5.22±0.46ab 1.22±0.18abc 96.67±5.77a L12I400 5.31±0.40ab 1.30±0.13abcd 97.33±4.62a L12I550 5.64±0.23b 1.42±0.18cd 96.67±3.06a L18I250 5.19±0.28ab 1.27±0.04abcd 96.67±4.16a L18I400 5.40±0.33ab 1.40±0.03bcd 95.33±1.15a L18I550 5.62±0.37ab 1.46±0.05d 97.33±1.15a a
Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (uji selang berganda Duncan). (L6I250) lama penyinaran 6 jam dan intensitas cahaya 250 lux, (L6I400) lama penyinaran 6 jam dan intensitas cahaya 400 lux, (L6I550) lama penyinaran 6 jam dan intensitas cahaya 550 lux, (L12I250) lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 250 lux, (L12I400) lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 400 lux, (L12I550) lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 550 lux, (L18I250) lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 250 lux, (L18I400) lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 400 lux, (L18I550) lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 550 lux.
Laju pertumbuhan spesifik benih ikan tengadak tertinggi pada perlakuan
L12I550 (lama penyinaran 12 jam dengan intensitas cahaya 550 lux) yaitu
5.64±0.23% (p<0.05). Sedangkan laju pertumbuhan spesifik benih ikan tengadak terendah pada perlakuan L6I250 (lama penyinaran 6 jam dengan intensitas cahaya 250 lux) yaitu 4.99±0.26%. Panjang mutlak tertinggi pada perlakuan L18I550 (lama penyinaran 18 jam dengan intensitas cahaya 550 lux) yaitu 1.46±0.05 cm, namun tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (p>0.05) dengan perlakuan L12I550 (lama penyinaran 12 jam dengan intensitas cahaya 550 lux) yaitu 1.42±0.18 cm. Sedangkan panjang mutlak benih ikan tengadak terendah pada perlakuan L6I400
9 (lama penyinaran 6 jam dengan intensitas cahaya 400 lux) yaitu 1.13±0.18 cm. Nilai sintasan pada semua perlakuan tidak menunjukkan perbedaan nyata (p>0.05) yang berkisar antara 92.67% sampai dengan 97.33%.
Pengaruh perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya terhadap jumlah konsumsi pakan dan efesiensi pakan pada benih ikan tengadakseperti ditunjukkan pada Tabel 3.
Tabel 3. Rata-rata jumlah konsumsi pakan (JKP) dan efesiensi pakan (EP) pada
benih ikan tengadak dengan perbedaan lama penyinaran dan intensitas
cahaya setelah dipelihara selama 30 hari
Perlakuan Parameter JKP (g) EP (%) L6I250 54.61±1.80a 49.9±2.89a L6I400 55.08±1.62a 51.48±7.59a L6I550 55.33±2.49a 50.67±4.71a L12I250 62.68±3.97b 47.13±7.49a L12I400 58.32±3.06ab 52.14±6.36a L12I550 63.47±2.66b 52.54±2.96a L18I250 60.76±2.87ab 47.92±4.79a L18I400 59.67±4.14ab 54.75±12.57a L18I550 64.44±5.10b 50.36±3.45a a
Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (uji selang berganda Duncan). (L6I250) lama penyinaran 6 jam dan intensitas cahaya 250 lux, (L6I400) lama penyinaran 6 jam dan intensitas cahaya 400 lux, (L6I550) lama penyinaran 6 jam dan intensitas cahaya 550 lux, (L12I250) lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 250 lux, (L12I400) lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 400 lux, (L12I550) lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 550 lux, (L18I250) lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 250 lux, (L18I400) lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 400 lux, (L18I550) lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 550 lux.
Hasil penelitian memperlihatkan adanya pengaruh lama penyinaran dan intensitas cahaya terhadap jumlah konsumsi pakan dan efesiensi pakan pada benih tengadak. Jumlah konsumsi pakan benih ikan tengadak terbanyak pada perlakuan
L18I550 (lama penyinaran 18 jam dengan intensitas cahaya 550 lux) yaitu
64.44±5.10 g tetapi tidak berbeda nyata (p>0.05) dengan perlakuan L12I550 (lama penyinaran 12 jam dengan intensitas cahaya 550 lux) yaitu 63.47±2.66 g dan perlakuan L12I250 (lama penyinaran 12 jam dengan intensitas cahaya 250 lux) yaitu 62.68±3.97 g, sedangkan jumlah konsumsi pakan benih ikan tengadak terendah pada perlakuan L6I250 (lama penyinaran 6 jam dengan intensitas cahaya 250 lux) yaitu 54.61±1.80g. Efesiensi pakan benih ikan tengadak tertinggi pada perlakuan
L18I400 (lama penyinaran 18 jam dengan intensitas cahaya 400 lux) yaitu
54.75±12.57%. Sedangkan efesiensi pakan benih ikan tengadak terendah pada perlakuan L12I250 (lama penyinaran 12 jam dengan intensitas cahaya 250 lux) yaitu
10
47.13±7.49%. Namun demikian, efesiensi pakan benih ikan tengadak pada semua perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (p>0.05).
Sebaran ukuran ikan di akhir penelitian memperlihatkan adanya pengaruh perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya terhadap pertumbuhan ikan. Selain itu, ukuran benih ikan berpengaruh terhadap harga jualnya, ikan yang lebih besar harga jualnya lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran yang lebih kecil. Sebaran bobot benih ikan tengadak setelah dipelihara pada perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Sebaran bobot benih ikan tengadak dengan perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya setelah dipelihara selama 30 hari Hasil penelitian memperlihatkan perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya berpengaruh terhadap sebaran bobot benih ikan tengadak. Populasi benih ikan tengadak yang memiliki bobot ≥0.7 g, terbanyak pada perlakuan L 12I550 (lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 550 lux) yaitu 45.06% dan paling sedikit pada perlakuan L6I250 (lama penyinaran 6 jam dan intensitas cahaya 250 lux) yaitu 22.02%. Populasi benih ikan tengadak yang memiliki bobot antara 0.51 g dan 0.69 g, terbanyak pada perlakuan L18I400 (lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 400 lux) yaitu 24.50% dan paling sedikit pada perlakuan L18I250 (lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 250 lux) yaitu 18.01%. Sedangkan populasi benih ikan tengadak yang memiliki bobot ≤0.5 g, terbanyak pada
perlakuan L6I250 (lama penyinaran 6 jam dan intensitas cahaya 250 lux) yaitu 59.34% sedangkan paling sedikit pada perlakuan L12I550 (lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 550 lux) yaitu 32.99%.
11 Populasi benih ikan tengadak setelah dipelihara dengan perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya menyebabkan sebaran panjang tubuh ikan, dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Sebaran panjang benih ikan tengadak dengan perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya setelah dipelihara selama 30 hari Populasi benih ikan tengadak yang memiliki panjang tubuh ≥3.6 cm,
terbanyak pada perlakuan L12I550 (lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 550 lux) yaitu 37.48% dan paling sedikit pada perlakuan L6I250 (lama penyinaran 6 jam dan intensitas cahaya 250 lux) yaitu 10.95%. Populasi benih ikan tengadak yang memiliki panjang tubuh antara 3.1 cm dan 3.5 cm, terbanyak pada perlakuan L6I250 (lama penyinaran 6 jam dan intensitas cahaya 250 lux) yaitu 50.72% dan paling sedikit pada perlakuan L6I400 (lama penyinaran 6 jam dan intensitas cahaya 400 lux) yaitu 31.70%. Sedangkan populasi benih ikan tengadak yang memiliki panjang tubuh ≤3.0 cm, terbanyak pada perlakuan L6I400 (lama penyinaran 6 jam dan intensitas cahaya 400 lux) yaitu 48.07% dan paling sedikit pada perlakuan L18I550 (lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 550 lux) yaitu 19.13%.
Hasil pengujian tingkat daya tahan tubuh benih ikan tengadak terhadap kecepatan arus dapat dilihat pada Gambar 7. Benih ikan tengadak yang paling banyak terbawa arus dari perlakuan L18I550 (lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 550 lux) yaitu 8.1% (p<0.05).
12
Gambar 7. Tingkat daya tahan tubuh benih ikan tengadak terhadap arus air setelah dipelihara dengan perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya. Huruf-huruf yang sama diatas balok data menunjukkan pada tiap perlakuan tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (uji selang berganda Duncan)
Kualitas air selama pemeliharaan benih ikan tengadak dapat dilihat pada Tabel 4. Berdasarkan hasil pengukuran kualitas air media pemeliharaan selama penelitian masih layak untuk kehidupan dan pertumbuhan benih ikan tengadak.
13 Tabel 4. Kualitas air selama pemeliharaan benih ikan tengadak dengan perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya
Perlakuan DO Suhu pH NH3 Alkalinitas Kesadahan
(mg/l) (oC) (mg/l) (mg/l CaCO3) (mg/l CaCO3)
L6I250 4.56-4.73 24.0-24.7 7.60-7.71 0.29-0.31 85.26-105.21 75.2-96.0 L6I400 4.72-5.06 24.0-24.9 7.50-7.59 0.20-0.31 83.44-90.70 97.6-102.4 L6I550 4.61-5.36 24.1-25.0 7.50-7.70 0.25-0.34 72.56-78.00 94.4-100.8 L12I250 4.72-5.14 24.0-24.5 7.64-7.70 0.19-0.37 85.26-90.70 78.4-100.8 L12I400 4.91-5.31 23.6-24.3 7.50-7.63 0.24-0.37 87.07-97.95 70.4-129.6 L12I550 4.91-5.35 23.8-24.5 7.60-7.64 0.24-0.38 92.51-96.14 76.8-100.8 L18I250 4.77-4.82 24.3-25.1 7.60-7.70 0.17-0.43 87.07-108.84 75.2-97.6 L18I400 4.68-5.04 24.4-25.3 7.60-7.71 0.47-0.51 81.63-107.03 83.2-97.6 L18I550 4.73-4.87 24.7-25.4 7.50-7.66 0.25-0.37 81.63-90.70 83.2-137.6
(L6I250) lama penyinaran 6 jam dan intensitas cahaya 250 lux, (L6I400) lama penyinaran 6 jam dan intensitas cahaya 400 lux, (L6I550) lama penyinaran 6 jam dan intensitas cahaya 550 lux, (L12I250) lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 250 lux, (L12I400) lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 400 lux, (L12I550) lama penyinaran 12 jam dan intensitas cahaya 550 lux, (L18I250) lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 250 lux, (L18I400) lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 400 lux, (L18I550) lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 550 lux.
14
Pembahasan
Ikan tengadak mempunyai respon terhadap rangsangan yang disebabkan cahaya (fototaksis) melalui penglihatan oleh mata. Boeuf and Le Bail (1999) respon ikan muda terhadap rangsangan cahaya lebih besar daripada respon ikan dewasa dan setiap jenis ikan mempunyai intensitas cahaya optimum dalam melakukan aktifitasnya. Cahaya dapat mempengaruhi tingkah laku, sintasan, dan metabolisme ikan. Hasil penelitian ini memperlihatkan adanya interaksi antara lama penyinaran dan intensitas cahaya yang mempengaruhi sintasan dan pertumbuhan benih ikan tengadak (Tabel 2). Pertumbuhan adalah perubahan ikan, baik bobot tubuh maupun panjang dalam jangka waktu tertentu (Effendie 1997). Pada umumnya ikan membutuhkan intensitas cahaya yang cukup untuk perkembangan secara normal dan pertumbuhannya, namun beberapa spesies dapat berkembang dan tumbuh pada intensitas cahaya yang rendah bahkan tanpa adanya cahaya (Boeuf and Le Bail 1999). Benih ikan tengadak pada saat awal pemeliharaan terjadi pertambahan panjang yang lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan bobot ikan (Gambar 4), selanjutnya diiringi dengan pertambahan bobot ikan secara perlahan (Gambar 3).
Pertumbuhan benih ikan tengadak relatif lebih cepat pada lama penyinaran 18 jam dan intensitas cahaya 550 lux, namun tidak berbeda nyata (p>0.05) dengan perlakuan lama penyinaran 12 jam dengan intensitas cahaya 550 lux setelah dipelihara selama 30 hari. Ikan tengadak merupakan ikan diurnal dan habitatnya di iklim tropis. Lama penyinaran cahaya pada iklim tropis rata-rata 12 jam, Boeuf and Le Bail (1999) mengatakan intensitas penyinaran minimal diperlukan sehingga ikan dapat membedakan cahaya dari kegelapan, sebagian besar ikan mengikuti ritme alami (diurnal atau musiman) periode cahaya untuk aktifitasnya termasuk ritme pola makan. Pada benih ikan Mirror carp Cyprinus carpio setelah dipelihara selama 90 hari dengan lama penyinaran 24 jam meningkatkan pertumbuhan dan efesiensi pakan (Yagci and Yigit 2009). Pertumbuhan Rainbow trout lebih baik bila dipelihara dengan lama penyinaran 16 jam (Ergun et al. 2003; Sonmez et al. 2009; Barimani et al. 2013).
Pemeliharaan benih ikan tengadak pada intensitas cahaya 550 lux menghasilkan pertumbuhan bobot dan panjang ikan relatif lebih cepat dengan lama penyinaran yang sama daripada intensitas cahaya 250 lux dan 400 lux, dan sebaliknya. Hal ini diduga pada intensitas cahaya 550 lux, benih ikan tengadak lebih mudah melihat dan memakan pakan yang diberikan selama pemeliharaan sehingga menyebabkan pertumbuhan ikan lebih cepat. Selain itu, nutrisi yang terserap oleh tubuh ikan akan meningkatkan daya tahan tubuh ikan yang berdampak pada sintasan ikan. Pada saat kondisi cahaya gelap, benih ikan tengadak cenderung bergerak menyebar sehingga membutuhkan energi yang lebih tinggi. Aktifitas metabolisme yang tinggi memerlukan energi yang besar. Sedangkan pada saat kondisi cahaya terang, benih ikan tengadak cenderung berkumpul dan diam di satu tempat sehingga aktifitas metabolismenya tidak memerlukan energi yang tinggi. Menurut Boeuf and Le Bail (1999) pada umumnya intensitas cahaya yang lebih tinggi akan meningkatkan pertumbuhan yang optimal, intensitas cahaya 600-1300 lux menyebabkan pertumbuhan optimal
ikan Seabream. Karakatsouli et al. (2010), pertumbuhan Mirror common carp
15 Benih ikan tengadak selama penelitian diberikan pakan komersil secara at satiation karena sumber energi pada ikan adalah pakan tetapi energi dalam pakan tidak dapat digunakan sampai pakan tersebut dicerna dan diserap oleh sistem pencernaan. Pakan yang dimakan oleh ikan, setelah masuk ke dalam rongga mulut akan ditelan dan setelah itu melalui segmen esophagus akan masuk ke dalam lambung. Selanjutnya pakan tersebut secara perlahan-lahan akan bergerak ke segmen bagian belakang. Di dalam usus terjadi penyerapan zat-zat pakan hasil pencernaan dan sisa pakan yang tidak dicerna akan dikeluarkan melalui anus berupa feses (Affandi et al. 2004). Oleh karena itu, untuk menjaga kualitas air selama penelitian dilakukan pensiponan setiap hari untuk membuang sisa pakan dan feses yang dikeluarkan oleh benih ikan tengadak. Menurut Fujaya (2004) komponen pakan berupa protein, lemak, dan karbohidrat dipecah menjadi senyawa-senyawa yang sederhana, nutrien ini yang dapat diserap oleh enterosit dan diedarkan ke seluruh tubuh untuk selanjutnya digunakan mensintesis senyawa baru (anabolisme) dan menghasilkan energi (katabolisme).
Pada penelitian ini diduga semakin lama penyinaran dan peningkatan intensitas cahaya akan meningkatkan jumlah konsumsi pakan benih ikan tengadak, dan sebaliknya (Tabel 3). Hal ini sejalan dengan Boeuf and Le Bail (1999), cahaya mempengaruhi pertumbuhan ikan dan juga merangsang laju
konsumsi pakan. Pada keadaan cukup pakan, ikan akan mengkonsumsi pakan
hingga memenuhi kebutuhan energinya, penggunaan energi untuk metabolisme
dan pertumbuhan sesuai dengan ukuran ikan (Fujaya 2004). Menurut Affandi et
al. (2004) proses pencernaan dan penyerapan zat makanan membutuhkan energi
yang besarnya tergantung pada kualitas pakan dan kuantitas pakan yang dikonsumsi oleh ikan.
Indikator untuk menentukan efesiensi pakan ikan dalam memanfaatkan pakan adalah persentase nilai efesiensi pakan. Efesiensi pakan merupakan suatu ukuran yang menyatakan rasio untuk menghasilkan biomassa ikan dengan jumlah pakan yang diberikan selama pemeliharaan. Efesiensi pakan pada semua perlakuan lama penyinaran 6 jam, 12 jam, 18 jam dan intensitas cahaya 250 lux, 400 lux, 550 lux tidak berbeda nyata (p>0.05), hal ini diduga bahwa penyerapan nutrisi pakan yang diberikan pada benih ikan tengadak relatif sama. Efesiensi
pakan tidak berbeda nyata (p>0.05) pada benih Mirror carp Cyprinus carpio
dengan lama penyinaran 12 jam dan 16 jam (Yagci and Yigit 2009), dan juga
benih Rainbow trout dengan lama penyinaran 16 jam dan 24 jam (Ergun et al.
2003).
Benih ikan tengadak setelah dipelihara pada perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya juga mempengaruhi sebaran ukuran bobot dan panjang ikan (Gambar 5 dan Gambar 6). Populasi benih ikan tengadak dengan lama penyinaran 6 jam pertumbuhan bobot dan panjang tubuhnya relatif lebih lambat dibandingkan dengan lama penyinaran 12 jam dan 18 jam. Pertumbuhan bobot dan panjang tubuh benih ikan tengadak lebih cepat pada intensitas cahaya 550 lux dibandingkan dengan 250 lux dan 400 lux. Sebaran pertumbuhan benih ikan tengadak ini dapat dijelaskan bahwa perilaku makan untuk mendeteksi dan menangkap pakan dipengaruhi oleh intensitas cahaya dan lama penyinaran melalui penglihatan oleh mata ikan tengadak.
16
Perubahan lingkungan direkam oleh alat indra dan salah satu diantaranya oleh mata yang memungkinkan untuk dapat melihat pada hampir ke seluruh bagian dari lingkungan sekelilingnya, dan retina merupakan bagian terpenting dari mata yang terdiri atas jaringan uraf saraf peka cahaya. Jarak penglihatan pada ikan, tidak hanya tergantung pada sifat indera penglihat saja tetapi juga pada keadaan penglihatan di dalam air. Pada kejernihan air yang baik dan terang maka jarak penglihatan ikan akan lebih jelas. Sedangkan dalam keadaan air yang keruh, kemampuan daya penglihatan ikan di dalam air akan sangat jauh berkurang. Maka dari itu, selama penelitian dijaga kejernihan air sehingga intensitas cahaya yang diberikan tidak berkurang. Boeuf and Le Bail (1999) ikan sensitif terhadap cahaya, sensitivitas dan ketajaman mata bergantung pada terangnya bayangan yang mencapai retina. Menurut Fujaya (2004) pada sejumlah besar spesies ikan dengan aneka ragam habitat, retina ikan memperlihatkan struktur yang bervariasi tergantung tekanan selektif intensitas cahaya dan spektrum dalam lingkungan. Perbedaan tekanan selektif tersebut menyebabkan perbedaan ketebalan retina, perbedaan subjenis sel retina (khususnya fotoreseptor), dan spesialisasi wilayah kon dan rod pada sel retina.
Pada penelitian ini benih ikan tengadak dipelihara dengan intensitas cahaya yang berbeda dan menggunakan spektrum cahaya putih (full spectrum). Spektrum cahaya putih digunakan supaya tidak terjadi bias adanya pengaruh panjang gelombang terhadap perlakuan lama penyinaran dan intensitas cahaya.
Karakatsouli et al. (2010) pertumbuhan Mirror common carp Cyprinus carpio
lebih baik dipelihara pada spektrum cahaya merah dan biru. Perkembangan kon di
retina mata Cyprinus carpio mencapai puncaknya pada panjang gelombang
cahaya berwarna merah, hijau, dan biru (Neumeyer 1992).
Ikan mampu mendeteksi perbedaan intensitas cahaya dan spektrum cahaya (panjang gelombang) oleh fotoreseptor sel retina. Kon dan rod adalah dua jenis fotoreseptor yang masing-masing berbentuk kerucut dan batang. Kumpulan kon diduga lebih banyak pada perlakuan dengan intensitas cahaya 550 lux daripada intensitas cahaya 250 lux dan 400 lux. Pada saat ikan dipelihara dalam kondisi cahaya terang maka akan banyak kumpulan kon (bertanggung jawab pada penglihatan terang/photopik), dan saat ikan dipelihara dalam kondisi gelap maka akan banyak rod (bertanggung jawab pada penglihatan cahaya samar atau gelap/scotopik). Dengan berkembangnya adaptasi terhadap gelap dan terang, maka ikan akan mudah memakan pakan. Aktifitas makan yang baik akan menunjang pertumbuhan ikan. Menurut Fujaya (2004) perbedaan kepekaan cahaya pada kon dan rod disebabkan oleh kandungan pigmen penglihatan yang berbeda. Kon mengandung rhodopsin yang merupakan gabungan retinen dan fotopsin yang peka terhadap warna, sedangkan rod adalah gabungan retinen dan scotopsin. Pada saat cahaya terang menyinari mata, kon bergerak menjauhi membran pembatas terluar, sedangkan rod diselimuti epithelium berpigmen. Saat cahaya samar atau gelap, rod mendekati membran pembatas terluar dan segmen terluar pada kon dilindungi oleh epithelium berpigmen.
Untuk mengetahui tingkat daya tahan tubuh benih ikan tengadak setelah dipelihara selama 30 hari dengan perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya, maka dilakukan pengujian terhadap kecepatan arus air sebesar 1.5 m/s artinya diujikan 2-3 kali lipat dari kecepatan arus air di alam aslinya. Ikan tengadak merupakan ikan endemik yang berasal dari Kalimantan yang habitatnya
17 di sungai besar dan sungai kecil, salah satunya di sungai Kapuas. Daerah estuari sungai Kapuas merupakan daerah yang sangat kompleks karena adanya pengaruh seperti sapuan arus, hempasan ombak dan pasang surut laut. Menurut Jumarang et
al. (2011), pergerakan massa air sungai Kapuas Kalimantan Barat pada kondisi
purnama lebih tinggi dibandingkan saat perbani dengan kecepatan arus 0.05–0.70 m/s. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian Agustini et al. (2013) kecepatan arus sungai Kapuas dengan kisaran 0.48-0.56 m/s. Hasil penelitian memperlihatkan adanya interaksi antara lama penyinaran dan intensitas cahaya terhadap daya tahan tubuh benih ikan tengadak, semakin lama penyinaran dengan intensitas cahaya semakin tinggi diduga akan menurunkan daya tahan tubuh benih ikan tengadak (Gambar 7). Menurut Boeuf and Le Bail (1999), intensitas cahaya yang intensif dapat menyebabkan stress bahkan kematian. Hasil penelitian Setiadi et al. (2002), kematian larva Red spotted grouper Epinephelus akaara diduga semakin tinggi seiring dengan peningkatan intensitas cahaya dan intensitas cahaya terbaik pada 500 lux.
Kualitas air mempunyai peran yang sangat penting dalam keberhasilan
budidaya ikan. Indikator kualitas air untuk menilai kelayakan budidaya ikan
biasanya didasarkan pada faktor fisika dan kimia air pada kolom air. Kualitas air selama pemeliharaan pada perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya masih layak untuk kehidupan dan pertumbuhan benih ikan tengadak karena dalam lingkungan terkontrol (Tabel 4). Oksigen terlarut merupakan faktor pembatas bagi ikan sehingga diperlukan dalam jumlah yang cukup. Kadar oksigen terlarut selama penelitian sekitar 4.56 - 5.36 mg/l, ikan dapat bertahan hidup dengan kadar oksigen terlarut lebih dari 3 mg/l (Boyd 1988). Suhu air selama pemeliharaan benih ikan tengadak pada semua perlakuan relatif stabil yang berkisar antara 23.6oC hingga 25.4oC, fluktuasi suhu air ± 3oC (Boyd 1988). Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7 – 8.5. Alkalinitas berperan sebagai sistem penyangga (buffer) agar perubahan pH tidak terlalu besar. Alkalinitas tinggi akan mengalami fluktuasi pH harian yang lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai alkalinitas rendah. Nilai alkalinitas yang terlalu tinggi tidak disukai oleh ikan karena biasanya diikuti dengan nilai kesadahan yang tinggi. Ammonia berasal dari limbah pakan karena pakan tidak dimanfaatkan sepenuhnya oleh ikan ikan, feses ikan, sisa metabolisme, dan nutrisi lain yang terlarut. Jumlahnya bervariasi tergantung intensitas, jenis ikan, ukuran ikan, dan jenis pakan yang digunakan dalam kegiatan budidaya ikan. Ammonia bersifat toksik bagi ikan, ikan tidak dapat bertahan pada ammonia bebas dengan kadar yang terlalu tinggi karena dapat mengganggu proses pengikatan oksigen oleh darah dan pada akhirnya dapat mengakibatkan sufokasi (Effendi 2000).
18