Variabilitas Tinggi Paras Laut di Perairan Selatan Jawa
Perairan Selatan Jawa merupakan perairan yang memiliki potensi perikanan yang tinggi serta menarik untuk dikaji. Selain itu perairan ini juga dipengaruhi oleh beberapa fenomena oseanografi seperti El Nino Southern Oscilation (ENSO), IOD (Indian Oscillation Dipole Mode), Sistem arus permukaan laut, Arus Lintas Indonesia (ARLINDO) dan pola pergerakan angin muson. Rata-rata anomali TPL selama tahun 2003 hingga 2012 terlihat pada Gambar 9 dan Lampiran 1. Anomali TPL di Perairan Selatan Jawa ditandai dengan paras laut positif dan negatif yang terjadi secara bergantian dengan intensitas yang berbeda-beda selama tahun pengamatan. Terjadinya anomali TPL negatif dan positif secara bergantian mengindikasikan bahwa di wilayah kajian terjadi intensitas penaikan maupun penurunan massa air, dimana hal tersebut merupakan besarnya penyimpangan yang terjadi terhadap kondisi rata-rata tinggi muka laut. Rata-rata anomali TPL bulanan selama tahun pengamatan berkisar antara -0.24 m sampai 0.32 m
Waktu
Gambar 9. Rata-rata anomali Tinggi Paras Laut
Pola sebaran anomali TPL sepanjang tahun pengamatan dari bulan Desember-Mei merata, kemudian dari bulan Juni-November pola sebarannya berubah dimana pada Musim Barat anomali TPL mencapai maksimum dan pada Musim Timur minimum. Hal ini disebabkan karena perairan Selatan Jawa dipengaruhi oleh sistem pola angin muson yang memiliki pola sirkulasi massa air yang berbeda dan bervariasi antara musim serta dipengaruhi adanya fenomena ENSO. Wyrtki (1961) menjelaskan bahwa sirkulasi massa air perairan Indonesia berbeda antara Musim Barat dan Musim Timur. Massa air pada saat Musim Barat umumnya mengalir ke arah Timur perairan Indonesia, dan sebaliknya ketika Musim Timur berkembang dengan sempurna suplai massa air yang berasal dari daerah upwelling di Laut Arafura dan Laut Banda akan mengalir menuju perairan lndonesia bagian Barat.
Terjadinya kenaikan maupun penurunan anomali TPL secara signifikan
mengindikasikan bahwa anomali TPL dipengaruhi adanya fenomena ENSO yang berdampak juga di perairan Selatan Jawa. Fenomena ENSO memiliki dua
fenomena yang saling berlawanan fase. Fase panas disebut sebagai kondisi
El Nino dan fase dingin disebut sebagai kondisi La Nina. ENSO atau El Nino Southern Oscillation merupakan kondisi abnormal iklim dimana suhu permukaan Samudra Pasifik di pantai Barat Ekuador dan Peru lebih tinggi dari rata-rata normalnya. Hal ini juga diperkuat pernyataan Susanto dan Gordon (2005) yang menjelaskan bahwa ENSO yang terjadi di Pasifik Ekuator Bagian Tengah dan Timur akan mempengaruhi kondisi perairan Indonesia. Pengaruh tersebut ditandai dengan terjadinya peningkatan durasi dan intensitas upwelling serta menaikkan lapisan termoklin sehingga menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun normal.
Siklus tahunan anomali TPL pada Gambar 10 menunjukkan bahwa grafik anomali TPL mulai meningkat dari bulan Januari, Februari dan mencapai puncak maksimum pada bulan Mei. Kemudian mulai menurun dari bulan Juni-Agustus dengan titik terendah terjadi pada bulan September, selanjutnya mulai meningkat sampai pada bulan Desember. Sehingga dapat ketahui bahwa pada Musim Barat terjadi penumpukan massa air dan pada Musim Timur terjadi pengurangan massa air.
Gambar 10. Grafik Rata-rata Bulanan anomali TPL 2003-2012
Hasil analisis secara temporal dari data anomali TPL menunjukkan pada bulan Januari hingga Maret atau saat berlangsungnya Musim Barat hingga memasuki awal Musim Peralihan I, anomali TPL di wilayah pesisir lebih tinggi dibanding di laut lepas yang mengarah ke Bagian Selatan, hal serupa juga terjadi pada bulan November sampai dengan Desember atau pada akhir Musim Peralihan II hingga berlangsungnya Musim Barat. Sedangkan saat berlangsungnya Musim Timur, umumnya anomali TPL di wilayah pesisir terlihat lebih rendah jika dibandingkan pada wilayah perairan yang jauh dari daratan atau laut lepas.
-0.1 -0.05 0 0.05 0.1 0.15 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 T P L ( m ) Bulan
Hasil penelitian tidak berbeda jauh dengan hasil penelitian Marpaung dan Harsanugraha (2014) dimana menunjukkan pada Bulan Januari, Februari, Maret, November dan Desember diperairan Selatan Anomali di wilayah pantai lebih tinggi dibanding di laut lepas ke arah Selatan. Pada bulan Juni sampai Oktober tampak anomali diwilayah pantai lebih rendah dibandingkan wilayah perairan yang jauh dari daratan. Pola anomali TPL selama tahun pengamatan dapat dilihat pada Gambar 11 dan 12. Pada awal Musim Barat yaitu sekitar bulan Desember distribusi anomali TPL ditandai dominannya paras laut positif dimana penumpukan massa air terlihat sepanjang pesisir Selatan Jawa yang dimulai dari 7.5o LS hingga 9.5o LS. Memasuki bulan Januari hingga Februari atau saat berlangsungnya Musim Barat intensitas paras laut positif sudah mengarah lebih ke Selatan Samudera Hindia atau pada daerah lintang tinggi yang berkisar antara 9.5o LS hingga 12o LS. Hasil analisis diperkuat oleh hasil penelitian Naulita (1998), dimana selama bulan November hingga Maret (Musim Barat), arus ekuator di Samudra Hindia mengalir kuat dan menyumbangkan massa air ke Barat Daya Sumatera dan Selatan Jawa-Sumbawa yang merupakan wilayah aliran keluar Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), sehingga meningkatkan tinggi permukaan air laut, sehingga menyebabkan gradien tekanan dari Samudra Pasifik ke Samudra Hindia menjadi lebih kecil dan aliran transport ARLINDO menjadi minimum.
Memasuki Musim Peralihan I yang dimulai pada bulan Maret hingga Mei menunjukan bahwa anomali TPL positif terjadi sepanjang pantai perairan Selatan Jawa selama bulan Maret pada 8.5°– 10.5° LS, anomali TPL positif yang terjadi diakibatkan masih adanya pengaruh dari peralihan Musim Barat ke Musim
Peralihan I. Memasuki bulan April hingga Mei, anomali TPL negatif terjadi di laut lepas pada 9°–12° LS dan pada daerah pantai mengalami anomali TPL
positif. Umumnya pada Musim Peralihan I anomali TPL terendah terjadi pada 11.5°–12° LS sedangkan anomali TPL tertinggi berada di 9.5°-10° LS.
Anomali TPLmemasuki Musim Timur, terendah berada di 11°–12° LS dan anomali TPL tertinggi berada di 11.5°-12° LS. Terlihat pula pada saat berlangsungnya Musim Timur, TPL negatif berada disekitar pesisir Selatan Jawa dan berada di lintang rendah yang menyebabkan terjadinya perbedaan gradien tekanan, daerah tekanan tinggi ditandai dengan tingginya topografi, sedangkan daerah bertekanan rendah ditandai dengan topografi rendah. Pola anomali TPL saat berlangsungnya Musim Timur (Juni-Agustus) dapat dilihat pada Gambar 12.
Selama Musim Timur pola perubahan anomali TPL di perairan Selatan Jawa dari positif ke negatif atau sebaliknya efektif terjadi di daerah lebih besar dari 108 o BT. Pada Musim Peralihan II (September-November) di sebelah Selatan Jawa Timur memiliki anomali TPL yang lebih rendah dengan daerah pada lintang rendah yang memiliki topografi lebih tinggi. Sepanjang berlangsungnya Musim Timur hingga memasuki Musim Peralihan II, anomali TPL negatif hampir mendominasi perairan Selatan Jawa yang berada sekitar 11°–12° LS.
Hasil penelitian ini tidak berbeda jauh dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, dimana Tomczak dan Godfrey (1994) dalam Naulita (1998) menyebutkan bahwa selama bulan Mei hingga September (Musim Timur), arus di Samudra Hindia digantikan oleh arus ekuator Selatan yang menyebar ke arah Utara sehingga mendorong massa air menjauh dari Samudra Hindia bagian Timur. Rendahnya permukaan air laut di wilayah tersebut dibandingkan Samudra Pasifik menghasilkan aliran transpor ARLINDO yang maksimum. Tingginya aliran tersebut disebabkan pada Musim Timur gerakan angin pasat tenggara di Pasifik Selatan menyebabkan topografi Samudra Hindia lebih rendah dibanding Samudra Pasifik Barat. Perbedaan tekanan tersebut mengakibatkan aliran arus yang mengalir ke Samudra Hindia cukup besar (Gordon, 2005).
Besarnya aliran ARLINDO dan arus musiman berperan penting terhadap topografi muka laut hal ini terlihat karena bulan Desember – Januari – Februari – Maret – April topografi rendah terlihat hanya sampai lintang 9o LS, sedangan pada bulan Mei – Juni –Juli – Agustus – Agustus topografi rendah terlihat lebih luas sampai lintang 10o – 13o LS (Lutfiati 2014). Hal ini juga dipengaruhi oleh sistem monsun. Menurut Bima et al. (2014), sistem monsun di perairan bagian Selatan Pulau Jawa dicirikan dengan pembalikan arah angin secara musiman yang menyebabkan pola pergerakkan massa air yang berbeda. Hal lain yang diduga berpengaruh adalah posisi geografis, dimana perairan Selatan Jawa terdapat di laut terbuka dengan pengaruh sirkulasi dari Samudera Hindia.
Gambar 12. Anomali TPL Rataan Bulanan Juli-Desember 2003 - 2012
Pola Arus Permukaan di Selatan Jawa
Hasil visualisasi arus geostropik dari data altimetri selama tahun 2003
hingga 2012 menunjukkan bahwa rata-rata kecepatan arus berkisar antara 0.37 sampai 1.19 m/det (Lampiran 2). Arus geostropik bergerak dari slope tinggi
(H) ke slope lebih rendah (L) dan dibelokkan ke kiri karena daerah kajian berada di Belahan Bumi Selatan, berlawanan jarum jam, sehingga secara umum arus
geostropik bergerak dari Timur menuju perairan Barat Sumatera, Selatan Jawa
hingga bagian Tenggara Samudera Hindia. Pola arus geostropik yang terjadi di Perairan Selatan Jawa diakibatkan adanya pengaruh gaya coriolis serta letak
topografi daerah kajian. Selain kedua hal tersebut dijelaskan oleh Wyrtki (1961) bahwa keberadaan Monsum juga menyebabkan suatu sirkulasi musiman yang khas dari arus permukaan di perairan Selatan Jawa yang masih terletak dengan pantai, dimana pada Musim Barat pola arus bergerak dari Barat ke Timur sedangkan saat Musim Timur cenderung bergerak dari Timur menuju Barat.
Faktor lain yang berperan dalam sirkulasi arus geostropik menurut Gordon (2005) dan Susanto (2012) ialah aliran ARLINDO. ARLINDO memiliki keragaman yang tinggi baik secara musiman maupun tahunan. Keragaman musiman berkaitan dengan adanya pergantian arah angin di Indonesia. Pada bulan Desember– Februari atau berlangsungnya Musim Barat arah arus tidak memperlihatkan perbedaan yang signifikan setiap bulan. Sepanjang Musim Barat aliran cenderung mengalir ke arah Tenggara dan Selatan sebagaimana terlihat pada Gambar 13. Kecepatan rata-rata arus pada musim ini sebesar 0.71 m/s.
Gambar 13. Pola Arus Permukaan Rataan Bulanan Januari-Juni 2003 - 2012 Pada bulan Maret – Mei yang merupakan Musim Peralihan I menuju Musim Timur, pola arus masih belum mengalami perubahan yang signifikan. Kecepatan rata-rata pada Musim Peralihan I sebesar 0.76 m/s dan pergerakkan arah arus terjadi ke arah Barat Daya dan Selatan Samudera Hindia.
Selanjutnya pada bulan Juni – Agustus yang merupakan puncak Musim Timur kecepatan arus rata-rata sebesar 0.70 m/s. Menurut Gordon dan Susanto (2003), laju transpor tertinggi ditemukan pada saat Muson Tenggara, yaitu selama bulan Juni sampai Agustus. Pada musim ini ARLINDO memiliki intensitas kecepatan yang besar, aliran tersebut mengalir dari Selat Lombok menuju Samudra Hindia dan bergerak mengalir ke Barat Daya, secara bersamaan terdapat Arus Selatan Ekuator atau South Equatorial Current (SEC) dan Arus Selatan
Jawa (South Java Current atau SJC). SEC selalu bergerak ke Barat dan berada jauh di sebelah Selatan pulau Jawa-Nusa Tenggara sedangkan pola arus
SJC bergerak sepanjang Pantai Selatan Jawa. Memasuki Musim Peralihan II yaitu bulan September – November arah arus mulai bergerak cenderung ke arah Barat Laut dan Utara dengan kecepatan rata-rata sebesar 0.68 m/s.
Distribusi Spasial Mesoscale Eddies di Perairan Selatan Jawa
Hasil visualisasi dengan menggunakan program Integrated Data Viewer
(IDV) dari data arus geostropik selama tahun 2003 hingga 2012 dan TPL dalam skala bulanan, diketahui bahwa selama tahun pengamatan terbentuk mesoscale eddies di perairan Selatan Jawa. Eddies yang terbentuk di perairan tersebut dapat mencapai 3 kejadian per bulannya, dimana secara spasial terjadi di perairan Selatan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Rata-rata kejadian Eddies
di perairan Selatan Jawa dapat berlangsung selama satu hingga beberapa bulan selain itu Eddies yang terbentuk memiliki diameter yang tetap atau bertambah walaupun pergerakannya berpindah.
Eddies sendiri terbentuk karena ketidakseimbangan massa air laut akibat pengaruh adanya transport Ekman dan gaya coriolis sehingga terjadi perbedaan gaya gradien tekanan secara horisontal. Pada perairan Selatan Jawa gaya coriolis
menyebabkan putaran cyclonic eddies searah jarum jam disebut cold eddies dan
warm eddies berputar berlawanan arah jarum jam (anticyclonic eddies). Putaran
cyclonic memiliki inti dingin dan ketinggian permukaan air bagian pusat lebih rendah daripada sekitarnya sedangkan putaran antycyclonic memiliki inti hangat dan ketinggian permukaan air bagian pusat lebih tinggi daripada sekitarnya.
Hasil analisis menunjukkan selama tahun 2003 hingga 2012 terbentuk sebanyak 29 kejadian Eddies (Tabel 3) di perairan Selatan Jawa Barat baik yang memiliki arah cyclonic maupun antycyclonic. Eddies yang terbentuk di perairan
Selatan Jawa Barat secara umum memiliki titik pusat pada 105o BT sampai 108o BT dan 9o LS sampai 11o LS. Sebanyak 44 kejadian Eddies terbentuk di perairan Selatan Jawa Tengah (Tabel 4). Eddies yang terbetuk di perairan ini
mempunya titik pusat pada 108o BT sampai 109.5o BT dan 8.5o LS sampai 12o LS.
Tabel 3. Kejadian eddies di Perairan Selatan Jawa Barat
Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Januari 1 - - - - - 1 - - - 2 Februari 1 - *1 1 1 - 1 - 1 - 6 Maret - - - - - - - - 1 1 2 April - 1 - - 1 - - - 1 - 3 Mei - - - 1 - - - - - 1 2 Juni - 1 1 - 1 1 - 1 - - 5 Juli - - - - - - - 1 - 1 2 Agustus 1 - - - - - - - - - 1 September - - 1 1 - - - - - 1 3 Oktober - 1 - - - - 1 - - - 2 November - - - - - - - - - - - Desember *1 - - - - - - - - - 1 Jumlah 4 3 3 3 3 1 3 2 3 4 29 * Arah antycyclonic
Tabel 4. Kejadian eddies di Perairan Selatan Jawa Tengah Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Januari - - - - - - - - 1 - 1 Februari 1 - - - - - - - *1 1 2 Maret *1 - - - - - - - - - 1 April - 1 - - - - 1 - - - 2 Mei 1 - - 1 - 1 1 - - - 3 Juni - - 1 1 1 1 - - - 1 5 Juli 1 1 - - 1 1 1 - 1 - 5 Agustus - - 1 - - 1 1 - - 1 4 September 1 1 1 1 1 1 - - 1 1 7 Oktober - - 1 1 1 1 - 1 - - 5 November 1 - - - - 1 - - 1 1 3 Desember 1 - - - - - - - - - 1 Jumlah 7 3 4 4 4 7 4 1 5 5 44 * Arah antycyclonic
Eddies yang terbentuk di Selatan Jawa Timur selama tahun 2003 hingga 2012 sebanyak 82 kejadian dan ditemukan hampir sepanjang tahun (Tabel 5). Terbentukya eddies di perairan ini berhubungan erat dengan adanya aliran ARLINDO yang juga terjadi sepanjang tahun. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan Godfrey (2011) bahwa ARLINDO yang masuk ke Samudera Hindia melalui Selat Lombok ini kemudian bertemu dengan arus kuat yang
mengalir ke arah Barat, yaitu AKS dimana eddies berkembang dan terbentuk di daerah tersebut. Kecepatan eddies pada perairan ini cenderung lebih tinggi
dibandingkan kecepatan pada perairan Selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Mann dan Lazier (2006) bahwa kecepatan
pusaran eddies yang dekat dengan arus utama cenderung lebih tinggi, hal yang sama juga dijelaskan oleh Godfrey (2011), arus utama yang membentuk eddies di perairan Selatan Jawa Timur –Bali adalah AKS dan ARLINDO.
Tabel 5. Kejadian eddies di Perairan Selatan Jawa Timur
Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Januari 1 - 1 1 1 1 1 1 - - 7 Februari 1 1 - 1 1 - 1 1 - 1 6 Maret 1 1 1 1 1 - - - - 1 5 April - - - - 1 1 1 - 1 1 4 Mei 1 1 - 1 1 1 1 1 1 - 8 Juni 1 1 1 1 - 1 1 1 1 1 8 Juli - 1 1 1 1 1 1 1 1 - 8 Agustus 1 1 1 - 1 - 1 1 1 1 7 September 1 1 1 1 - 1 - - 1 1 6 Oktober - - 1 1 1 1 - 1 - 1 5 November 1 1 - - 1 2 1 - - - 6 Desember - - 1 - - - 1 - 1 1 3 Jumlah 8 8 8 8 9 9 9 7 7 8 82 * Arah antycyclonic
Hasil visualisasi arus geostropik dan TPL dalam skala bulanan, secara umum menunjukkan bahwa eddies yang terbentuk di perairan Selatan Jawa Timur berputar searah jarum jam. Arah eddies secara cyclonic (lingkaran biru) memiliki tinggi muka laut lebih rendah dibandingkan dengan ketinggian muka laut disekitar eddies tersebut. Sebaliknya pusat eddies yang bergerak berlawanan arah jarum jam atau antycyclonic (lingkaran merah) memiliki ketinggian muka laut lebih tinggi dari perairan sekitarnya.
Gambar 14. Arah cyclonic dan antycyclonic dari eddies
Distribusi Temporal Eddies di Perairan Selatan Jawa
Berdasarkan hasil visualisasi software IDV, secara temporal dapat diindikasikan bahwa satu eddies yang terbentuk di perairan Selatan Jawa dapat berlangsung selama satu hingga beberapa bulan. Dari pola arus geostropik menunjukan adanya eddies baik syclonic maupun antycyclonic yang sering
terbentuk di perairan Selatan Jawa Timur, beberapa kejadian juga ditemukan di perairan Selatan Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Musim Barat
Pada Musim Barat eddies yang terbentuk berada di Selatan Jawa Barat berada sekitar 9° LS. Diindikasikan hal tersebut terjadi karena pada musim ini mengalir Arus Pantai Jawa (APJ), sehingga eddies selalu terbentuk di bawah batas selatan APJ yang mencapai 9° LS. Menurut Priyono (2013), memasuki Musim Barat arus South Java Current (SJC) berada pada kondisi maksimum dan bergerak hingga ujung timur pulau Jawa. ARLINDO yang mengalir melewati Selat Lombok pada Musim Barat di bulan Januari memiliki kecepatan arus yang tidak besar dan bergerak ke arah Selatan.
Pola arus geostropik menunjukkan adanya pusaran cyclonic di Barat hingga Timur perairan Selatan Jawa terlihat pada lintang 8.5° – 12° LS, pusaran cyclonic
tersebut terjadi karena pertemuan arus dari Arus Ekuator Selatan atau South Equator Current (SEC) yang berasal dari laut Timor bergerak mengalir hingga ke Barat. Daerah cyclonic ditandai dengan rendahnya tinggi muka laut.
Umumnya pada lintang 10°-11.5° LS memiliki topografi rendah ditandai dengan adanya divergensi yang menyebabakan adanya kekosongan massa air di lapisan bawah.
Musim Peralihan I
Eddies di perairan Selatan Jawa mulai terbentuk pada Musim Peralihan I yaitu sekitar bulan April. Pada musim ini juga terbentuk arus eddy di perairan
Selatan Jawa Barat. Puncak musim peralihan I terjadi pada bulan Mei yang merupakan awal dari musim timur sehingga mengalami masa transisi pada sistem arus di selatan Jawa. Arus geostropik mulai mengalami penguatan karena adanya aliran arus yang disebabkan oleh SECmengalami peningkatan, dan arus musiman yang bergerak kearah timur masih terlihat. Aliran ITF yang terjadi pada musim Peralihan I juga mengalami penguatan, aliran arus yang mengalir dari Samudera Pasifik ke Samudera Hindia melalui Selat Lombok cukup kuat.
Aliran SJC yang dipengaruhi musim dan masih terlihat kearah Barat selalu bergerak kearah garis pantai. Jika dilihat selama musim Peralihan I berlangsung pada perairan Selatan Jawa pusaran cyclonic terlihat cukup jelas sehingga mampu membangkitkan upwelling di pesisir pantai. Adanya pengaruh distribusi angin permukaan pada musim Peralihan I sudah mulai mengalami pembelokan yang bergerak dari arah Barat ke Timur. Pembelokan arah angin tersebut diperkuat teori Wrykti (1961), dimana dalam penjelasannya mengatakan bahwa pembelokan tersebut mempengaruhi aliran arus dan akibat pengaruh gaya coriolis yang bekerja terjadi pembelokan aliran massa air menuju laut lepas, sehingga menyebabkan terjadinya kekosongan massa air di pesisr pantai Selatan Jawa dan mengakibatkan terjadinya perbedaan topografi muka laut.
Musim Timur
Musim Timur merupakan puncak terbentuknya eddies di perairan Selatan Jawa. Eddies paling sering terentuk pada musim ini diduga terjadi akibat adanya kekuatan angin pada musim ini lebih kuat dari musim lainnya, hal ini juga sesuai dengan penelitian Martono (2013) dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa angin yang bertiup di atas perairan Selatan Jawa pada bulan Juli memiliki kecepatan yang sangat tinggi dan mengarah ke Barat Laut.
Besarnya sirkulasi eddies selama Musim Timur dapat dilihat berdasarkan distribusi arus geostropik, terlihat adanya pusaran cyclonic selama Musim Timur umumnya terjadi pada lintang 8° LS hingga 10° LS. Analisa anomali TPL Musim Timur menunjukkan bahwa topografi terendah terjadi di sekitar pantai Selatan Jawa, sedangkan pada laut lepas atau lintang tinggi memiliki topografi tinggi. Rendahnya topografi dipantai karena adanya kekosongan massa air yang disebabkan terjadinya daerah divergensi akibat pembelokan gaya coriolis.
Eddies yang terbentuk di perairan Selatan Jawa hampir selalu terbentuk mulai Musim Timur dan puncaknya pada bulan Juli. Pada musim ini juga sering terbentuk eddies di perairan selatan Jawa Tengah sekitar bulan Juni hingga Agustus. Mann dan Lazier (2006) menyatakan bahwa eddies dapat terbentuk akibat interaksi aliran arus dengan topografi. Aliran arus permukaan tersebut kemudian bertemu dengan topografi Selatan Jawa Barat yang cenderung memiliki bentuk menyerupai cekungan sehingga dapat membentuk arus yang berputar di wilayah tersebut. Secara umum kejadian eddies di perairan Selatan Jawa Barat pada Musim Timur tidak pernah berada di bawah 9° LS. Ini diindikasikan terjadi karena pada musim ini Arus Pantai Jawa (APJ) cenderung tidak terbentuk, sehingga eddies terdorong oleh batas utara Arus Khatulistiwa Selatan menjadi lebih mendekati pesisir.
Musim Peralihan II
Arus permukaan selama Musim Peralihan II memberikan gambaran aktivitas eddies dari pusaran arus yang terjadi. Pola arus permukaan musim
perlaihan II masih sama dengan Musim Timur dimana SJC bergerak lebih kuat ke arah Barat, sedangkan ITF bergerak ke Barat Daya. Pertemuaan arus SJC dan ITF menyebabkan terjadinya sirkulasi cyclonic dan anticyclonic yang dipengaruhi oleh gaya coriolis.
Sebaran Suhu Permukaan Laut (SPL)
Berdasarkan data time series dapat dilihat variasi SPL sepanjang tahun pengamatan mengalami fluktuasi secara bergantian. Nilai rata-rata bulanan SPL pada periode Januari 2003 sampai Desember 2012 di Selatan Jawa berkisar antara 27,2 ˚C sampai 28,5 ˚C (Lampiran 4). Secara umum nilai SPL terendah umumnya ditemukan pada musim Timur dan nilai SPL maksimum ditemukan pada Musim Barat (Gambar 15). Nilai SPL dapat dipengaruhi oleh fenomena ENSO yang memiliki dua fase yang berbeda yaitu El Nino dan La Nina (Susanto et al. 2006). Selanjutnya dijelaskan bahwa kedua fase ini dapat diketahui terjadi melalui nilai
SOI (Southern Oscillation Index) dimana penentuan terjadinya El Nino dan
La Nina didasarkan pada fluktuasi nilai SOI. Meningkatnya intensitas kecepatan angin Muson Tenggara akan mengakibatkan meningkatnya intensitas upwelling.
Meningkatnya intensitas upwelling dari bulan Juni ke Agustus meningkatkan aliran air dingin dari lapisan bawah ke permukaan, suhu sebagai suatu parameter yang penting di perairan adalah besaran yang menyatakan banyaknya energi panas atau bahang (heat). Suhu perairan merupakan parameter yang penting bagi kehidupan berbagai organisme laut karena dapat mempengaruhi metabolisme maupun perkembangbiakan organisme tersebut, juga sebagai indikator fenomena perubahan iklim (Hutabarat dan Evans 1986). Suhu perairan juga berpengaruh besar terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di laut. Akibat pengaruh suhu perairan yang besar terhadap organisme dan terhadap