Dosis VCO ditentukan berdasarkan pada penggunaannya secara empiris di masyarakat yaitu 45 ml (3 x 1 sendok makan) per hari, selanjutnya dikonversikan ke dosis tikus yaitu 0,81 ml/200 gram berat badan setara dengan 4 ml/kg berat badan (Laurence & Bacharach, 1864). Variasi dosis yang dibuat adalah 2; 4 dan 8 ml/kg bb. Pengamatan perubahan kadar gula darah (KGD) selama 6 hari dengan pemberian VCO setiap hari sesuai dosis masing-masing.
Hasil penelitian kenaikan KGD pada tikus diabetes yang diamati selama 6 hari ditunjukkan pada Tabel 4.1 dan Gambar 4.1.
Tabel 4.1 Perubahan KGD tikus diabetes yang diinduksi STZ (Rerata ± SEM)
Pengamatan Nama perlakuan Normal H1 H3 H6 Kontrol negatif 162.9 ± 24.7 405 ± 122 567 ± 61 547 ± 63 VCO 2 ml/kgbb 174.0 ± 22.0 382 ± 69 543 ± 64 433 ± 30 VCO 4 ml/kgbb 192.2 ± 18.8 431 ± 137 434,5 ± 131 288 ± 77 VCO 8 ml/kgbb 176.3 ± 21.6 424 ± 96 402 ±73 250 ± 96
Glibenklamid 1 mg/kgbb 164.6 ± 20.4 387 ± 103 352 ± 104 187 ± 101
Keterangan :setiap kelompok perlakuan menggunakan 6 ekor tikus
40
Gambar 4.1:Diagram yang menunjukkan keadaan KGD selama 6 hari dengan pemberian VCO, glibenklamid dan kontrol negatif (CMC 0,5%) P<0,05
Diagram di atas menunjukkan KGD tikus diabetes yang diinduksi STZ dengan setiap kelompok yang terdiri dari 6 ekor. Berdasarkan grafik di atas nampak bahwa pada hari pertama (H1) masing-masing kelompok pemberian VCO dosis 2; 4; dan 8 ml/kg bb; glibenklamid 1 mg/kg bb dan kontrol memiliki KGD
di atas 250 mg/dl, ini menunjukkan bahwa hewan yang digunakan telah memenuhi persyaratan sebagai hewan uji. KGD tikus diabetes nampak tidak berbeda, hal ini didukung dari analisis statistik Anava bahwa pada hari pertama terjadi peningkatan KGD semua kelompok perlakuan tidak berbeda nyata. Respon KGD terhadap dosis STZ 40 mg/kg bb yang diberikan, nampak adanya respon yang seragam pada hewan percobaan.
Pada hari ketiga (H3) nampak bahwa kelompok kontrol negatif tikus diabetes tanpa pemberian VCO dan glibenklamid dan kelompok tikus diabetes dengan pemberian VCO dosis 2 ml/kg bb menunjukkan peningkatan KGD, ini
mengisyaratkan bahwa pada hari ketiga masih terjadi kerusakan sel β sehingga
KGD terus mengalami peningkatan, sedangkan pemberian VCO dosis 2 ml/kg bb terjadi penurunan dibanding kontrol negatif (Gambar 4.1 dan Tabel 4.2) namun tidak menunjukkan perbesaran yang signifikan. Artinya ketersediaan hayati VCO yang terabsorpsi dalam darah belum dapat memberikan efek penurunan KGD yang signifikan.
Kelompok tikus diabetes dengan pemberian VCO dosis 4; 8 ml/kg bb dan glibenklamid 1 mg/kg bb mengalami penurunan KGD yang berbeda nyata (Gambar 4.1 dan Tabel 4.2). Ketersediaan hayati VCO pada dosis 4 dan 8 ml/kg bb yang terabsorpsi telah dapat menurunkan KGD pada tikus diabetes (Tabel 4.2).
Tabel 4.2 Uji beda rata-rata lanjutan Duncan pada hari ke-3
α = 0,05 Perlakuan N 1 2 Glibenklamid 1 mg/kg bb 6 352,33 VCO 8 ml/kg bb 6 401,67 VCO 4 ml/kg bb 6 434,50 VCO 2 ml/kg bb 6 543,17 Kontrol negatif (CMC 0,5%) 6 566,67
Sig. 0,151 0,658 Keterangan :rata-rata kelompok yang sama ditunjukkan dalam satu kolom
Berdasarkan Tabel 4.2 nampak bahwa kelompok kontrol dan VCO dosis 2 ml/kg bb terdapat dalam satu kolom, ini menunjukkan telah terjadi peningkatan KGD pada kelompok kontrol dan VCO dosis 2 ml/kg bb meskipun tidak berbeda nyata secara statistik.
Pada kelompok tikus diabetes yang diberi glibenklamid, VCO dosis 4 dan 8 ml/kg bb ditampilkan dalam satu kolom, menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata KGD antar perlakuan satu sama lain. Hal ini VCO mungkin dapat dijadikan alasan penurunan KGD kedua dosis tersebut secara statistik tidak berbeda signifikan.
Pada H6 nampak semua kelompok perlakuan mengalami penurunan KGD dan lebih rendah dibanding H3 (Gambar 4.1), hal tersebut sejalan dengan pemberian VCO sampai hari keenam, disini kemungkinkan terjadi penetralanan
oksigen reaksif yang diinduksi STZ yang berperan merusak sel β pankreas
(Agung, 2006), sehinga pada hari keenam perbaikan semakin meningkat yang ditandai dengan penurunan KGD. Hasil analisis anava menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antar kelompok perlakuan. Untuk melihat perbedaan antar kelompok ditunjukkan pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Uji beda rata-rata lanjutan Duncan pada hari ke-6
α = 0,05 Perlakuan N 1 2 3 4 Glibenklamid 1 mg/kg bb 6 187,33 VCO 8 ml/kg bb 6 249,83 249,83 VCO 4 ml/kg bb 6 287,83 VCO 2 ml/kg bb 6 432,83 Kontrol negatif 6 547,33 Sig. 0,177 0,406 1,00 1,00
Berdasarkan Tabel 4.3 di atas nampak bahwa kelompok kontrol negatif menunjukkan nilai KGD yang paling besar (547,33 mg/dl) dan menunjukkan perbedaan yang nyata dengan kelompok perlakuan yang lain (Glibenklamid; VCO 2, VCO 4,5 dan VCO 8 mg/dl). Kelompok VCO 8 ml/kg bb memiliki besar KGD yang tidak berbeda nyata dengan glibenklamid 1 mg/kg bb, hal ini menunjukkan efek hipoglikemik VCO 8 ml/kg bb memiliki kemampuan yang sama dengan
glibenklamid. Pada hari keenam, telah terjadi perbaikan sel β pankreas akibat
induksi STZ, medium chain fatty acids (MCFs) yang terkandung dalam VCO
diduga berperan penting dalam perbaikan sel β dan asam laurat dapat merangsang
pelepasan insulin (Garfinkel et al., 2009).
Pulau Langerhans yang terdapat dalam kelenjar pankreas merupakan kumpulan sel ovoid yang tersebar diseluruh pankreas. Di dalam pulau tersebut terdapat beberapa jenis sel berdasarkan sifat pewarnaan dan morfologinya. Ada 4 jenis sel yaitu: sel α, β, δ, dan sel λ. Jumlah sel β terbanyak terdapat di dalam kelenjar pankreas hampir 60-75% merupakan sumber insulin. Insulin bekerja jika kadar glukosa tinggi dan sifatnya akan menurunkan kadar glukosa sampai normal(Winarno dkk., 2003).
STZ sebagai antibiotik berspektrum luas yang bersifat onkolitik, onkogenik
dan diabetogenik menyebabkan kerusakan sel β pankreas dan ini terjadi setelah
hari ketiga (Aldo et al., 1977).
sa
Pl
MCFA adalah asam laurat yang terkandung dalam VCO (Rozaline, 2005)dapat menstimulasi pelepasan insulin dan antioksidan serta meningkatkan aktivitas antiokidan dalam tubuh (Garfinkel, 2009; Anonim 2009 dan Ahkam, 2006). VCO berhasil menghambat dan menetralisir STZ karena merupakan donor NO (nitric oxide) yang mempunyai kontribusi terhadap kerusakan sel tersebut
Pl Pl Pl sa Pl sa Pl Pl Pl Pl
melalui peningkatan aktivitas guanin siklase dan pembentukan cGMP. NO dihasilkan sewaktu STZ mengalami metabolisme dalam sel. Selain itu, STZ juga mampu membangkitkan oksigen reaktif yang berperan mengakibatkan kerusakan
sel β pankreas (Agung, 2006).
sa Pl
Pl
Mengacu pada nilai KGD nampaknya ada penurunan dengan meningkatnya dosis VCO. MCFA yang terkandung dalam VCO tidak dirubah menjadi lipoprotein tapi langsung dipecah menjadi molekul kecil, diserap tubuh masuk ke dalam hati untuk di rubah menjadi energi sehingga kebutuhan energi tercukupi dalam waktu singkat dan tidak akan menyebabkan penimbunan lemak tubuh, peningkatan kadar kolesterol, dan trigliserida dalam darah. Di samping itu MCFA dapat menetralisir senyawa radikal bebas dan meningkatkan aktivitas antioksidan dalam tubuh (Anonim, 2009 dan Ahkam, 2006), oleh sebab itu terjadinya penurunan KGD dan meningkatnya luas pulau langerhans kemungkinan dapat dihubungkan dengan kemampuan VCO sebagai sumber energi tanpa penimbunan lemak dan sekaligus bertindak sebagai penetralisir radikal bebas akibat STZ.
sa
VCO merupakan salah satu hasil olahan buah kelapa (Cocos nucifera) tua
segar. VCO mengandung MCFA yang merupakan komponen asam lemak berantai sedang yang mampu merangsang produksi insulin, meningkatkan kemampuan sel ß pankreas serta memperbaiki sekresi insulin dan penggunaan glukosa. VCO dapat menurunkan kadar glukosa darah pada pemberian per oral pada tikus putih jantan diabetes yang diinduksi aloksan, namun efeknya lebih rendah dibanding glibenklamid (Shinta, 2009).
Pemberian Glibenklamid 1 mg/kg bb terhadap anatomi pulau langerhans , tampak lebih luas dibanding dosis VCO dosis 8 ml/kg bb namun secara visual
bentuk pulau langerhans dengan pemberian glibenklamid tidak beraturan (tidak oval) dibanding dengan pemberian VCO dimana pankreas normal memiliki pulau langerhans yang berbentuk oval (Winarno, 2003). Netralisir radikal bebas yang disebabkan STZ oleh VCO di kelenjar pankreas dapat dijadikan penjelasan, sedangkan glibenklamid tidak menunjukkan ada efek penetralan terhadap radikal bebas.
Pl sa
Pada Tabel 4.4 ditunjukkan perubahan berat badan tikus diabetes dengan pemberian VCO dan glibenklamid.
Tabel 4.4 Perubahan berat badan sebelum dan setelah pemberian STZ (rerata ± SEM) Pengamatan Nama perlakuan Normal H1 H3 H6 Kontrol negatif 163 ± 21 159 ± 20 149 ± 19 141 ± 18 VCO 2 ml/kgbb 174 ± 21 171 ± 21 167 ± 20 160 ± 24 VCO 4 ml/kgbb 192 ± 26 188 ± 24 184 ± 23 177 ± 23 VCO 8 ml/kgbb 176 ± 26 174 ± 25 170 ±25 165 ± 26 Glibenklamid 1 mg/kgbb 164 ± 20 160 ± 20 157 ± 19 153 ± 28
Keterangan :setiap kelompok perlakuan menggunakan 6 ekor tikus
Pada Tabel 4.4 di atas nampak bahwa hari pertama sampai hari keenam terus terjadi penurunan berat badan semua kelompok perlakuan. NO yang berasal
dari STZ yang mempunyai kontribusi terhadap kerusakan sel β tersebut melalui
peningkatan aktivitas guanil siklase dan pembentukan cGMP. Selain itu, STZ juga
mampu membangkitkan oksigen reaktif yang berperan dalam kerusakan sel β
pankreas. Kerusakan ini menyebabkan diabetes melitus yang ditandai dengan kenaikan KGD dengan ciri khas penderita yaitu poliuria, polidipsia, dan polifagia. Peningkatan volume urin terjadi disebabkan oleh diuresis osmotik (akibat peningkatan kadar glukosa darah atau hiperglikemik) dan benda-benda keton dalam urin. Lebih lanjut, diuresis osmotik tersebut akan mengakibatkan kondisi
dehidrasi, kelaparan dan shock. Gejala haus dan lapar merupakan akibat dari kehilangan cairan dan ketidakmampuan tubuh menggunakan nutrisi (Agung, 2006). Pada hari keenam berat badan hewan percobaan belum menampakkan peningkatan.
Pengamatan terhadap tikus diabetes pada hari ke enam ditunjukkan pada Ganbar 4.2. Tikus sehat (normal) yang tidak diberi STZ memiliki berat badan rata-rata 174,02 g.
KGD pada masing-masing perlakuan tampak bahwa kelompok perlakuan kontrol negatif memiliki nilai yang paling tinggi. Untuk kelompok VCO penurunan nilai KGD, semakin besar dosis yang diberikan. Dosis VCO 8 ml/kg bb memiliki nilai KGD tidak berbeda nyata dengan kelompok glibenklamid.
Pengamatan terhadap berat badan tikus cendrung menurun, namun penurunan yang terjadi cendrung fluktuatif diantara masing-masing kelompok perlakuan. Hubungan antara berat badan dan kadar gula darah ditunjukkan (Gambar 4.2).
BAB V