Kondisi Umum Lapangan
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan September 2009, bertempat di Kebun Percobaan Leuwikopo. Curah hujan rata-rata selama penelitian berdasarkan data statistik dari Stasiun Klimatologi Dramaga yaitu 248.27 mm/bulan, suhu udara rata-rata berkisar 26.10oC dengan kelembaban udara rata-rata 81.00% (Lampiran 1). Pada awal pertanaman banyak tanaman dari tiap genotipe yang mati karena suhu yang terlalu panas. Tanaman yang mati tiap genotipe cabai berkisar antara 20-50%. Penyulaman dilakukan pada tanaman yang mati.
Hama yang menyerang pada tanaman cabai diantaranya aphids, belalang dan lalat buah akan tetapi serangan belalang dan lalat buah tidak terlalu parah. Hama aphids merupakan hama yang cukup banyak menyerang tanaman cabai. Penyakit yang menyerang pada tanaman cabai adalah penyakit layu bakteri, layu fusarium, phytophthora, rebah semai dan antraknosa (Gambar 4). Penyakit layu bakteri merupakan penyakit yang paling banyak menyerang tanaman cabai. Penyakit layu bakteri ini disebabkan oleh Ralstonia solanacearum dan penyakit layu fusarium yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum.
Gambar 4. Tanaman yang terserang penyakit. A. Phytophthora, B. Layu Fusarium, C. Rebah Semai, D. Antraknosa, E. Layu Bakteri
Penyakit antraknosa menyerang pada fase tanaman sedang berbuah. Penyakit antraknosa yang menyerang di pertanaman cabai disebabkan oleh
Colletotrichum capsici. Pengendalian hama dan penyakit menggunakan
insektisida dan fungisida. Pengendalian lalat buah menggunakan perangkap yang telah diberi meutil eugenol. Penyemprotan dilakukan seminggu sekali
Gulma yang terdapat pada lahan pertanaman diantaranya Mimosa pudica,
Eleusine indica, Mikania micrantha dan Cyperus rotundus. Pengendaliaan gulma
dengan cara mencabut tanaman gulma.
Laboratorium
Pada penelitian di laboratorium secara umum tidak terdapat kendala yang serius. Kendala yang sempat dihadapi adalah umur konidia cendawan yang masih muda sehingga tidak dapat digunakan untuk inokulasi pada cabai karena jumlah konidia tidak memenuhi syarat minimum untuk inokulasi. Isolat yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari tiga isolat Colletotrichum acutatum BGR 027, PYK 04 dan BKT 05 (Gambar 2). Ketersediaan isolat tersebut untuk penelitian dalam jumlah cukup, akan tetapi umur isolat PYK 04 masih banyak yang terlalu muda sehingga untuk inokulasi dibutuhkan lebih banyak biakan konidia yang dipakai.
Gambar 5. Isolat C. acutatum yang digunakan. A. Isolat BKT 05, B. Isolat PYK 04, C. Isolat BGR 027
Karakter Kuantitatif
Karakter kuantitatif yang diamati yaitu tinggi tanaman, tinggi dikotomus, diameter batang dan lebar tajuk, waktu berbunga, waktu panen, bobot buah per tanaman, bobot per buah, panjang buah, diameter ujung buah, diameter tengah
buah, diameter pangkal buah, tebal daging buah, bobot buah layak pasar per tanaman dan jumlah buah per tanaman. Rekapitulasi sidik ragam karakter kuantitatif disajikan pada Tabel 5. Rekapitulasi ini disarikan dari Lampiran 3-17. Hasil analisis ragam menunjukkan adanya perbedaan diantara 17 genotipe cabai yang diuji. Semua peubah menunjukkan perbedaan yang sangat nyata kecuali untuk peubah waktu berbunga menunjukkan perbedaan yang nyata. Nilai
koefisien keragaman (KK) untuk karakter kuantitatif berkisar antara 2.43 – 25.44%.
Tabel 5. Rekapitulasi Sidik Ragam Karakter Kuantitatif
No Peubah F hitung KK (%)
1 Panjang buah (cm) 46.17** 7.82
2 Bobot per buah (g) 50.22** 11.48
3 Tebal daging buah (mm) 21.55** 7.50
4 Diameter ujung buah (mm) 12.73** 12.04
5 Diameter tengah buah (mm) 12.49** 10.56
6 Diameter pangkal buah (mm) 6.38** 13.29
7 Jumlah buah per tanaman (buah) 14.91** 16.60
8 Bobot buah per tanaman (g) 4.81** 25.44
9 Tinggi dikotomus (cm) 37.67** 7.12 10 Diameter batang (mm) 7.11** 8.81 11 Lebar tajuk (cm) 7.33** 12.99 12 Tinggi tanaman (cm) 7.45** 12.68 13 Waktu berbunga (HST) 3.25* 8,58 14 Waktu panen (HST) 4.93** 2.43
15 Bobot layak pasar per tanaman (g) 6.98** 22.22
Keterangan : *= berbeda nyata pada taraf 5% ** = berbeda nyata pada taraf 1 %
Koefisien keragaman terendah pada peubah waktu panen, sedangkan koefisien keragaman tertinggi pada peubah bobot buah per tanaman. Menurut Gomez and Gomez (2007) koefisien keragaman (KK) menunjukkan tingkat ketepatan suatu peubah terhadap perlakuan yang diperbandingkan atau menyatakan galat percobaan sebagai persentase rataan. Nilai KK yang semakin tinggi menunjukkan semakin rendah keandalan percobaan tersebut.
Tinggi Tanaman, Tinggi Dikotomus, Diameter Batang dan Lebar Tajuk Nilai tengah untuk tinggi tanaman, tinggi dikotomus, diameter batang dan lebar tajuk disajikan pada Tabel 6. Tinggi tanaman cabai berkisar antara 34.8 - 73.28 cm. Genotipe IPB C110 memiliki tinggi tanaman yang paling tinggi dibandingkan dengan genotipe yang lain namun tidak berbeda nyata dengan genotipe IPB C105. Tinggi dikotomus tanaman cabai berkisar antara 10.04 - 22.67 cm. Genotipe IPB C110 memiliki tinggi dikotomus paling tinggi dibandingkan dengan genotipe yang lainnya.
Tabel 6. Nilai Tengah Tinggi Tanaman, Tinggi Dikotomus, Diameter Batang dan Lebar Tajuk pada Genotipe yang Diuji
Genotipe Tinggi Tanaman Tinggi Dikotomous Diameter Batang Lebar Tajuk (cm) (cm) (mm) (cm) IPB C2 63.85bcd 14.60fg 8.23bcd 88.10abc
IPB C4a 55.04cdefg 19.76cd 6.69defg 82.03bcd
IPB C5a 60.26bcde 16.94ef 8.01bced 87.65abc
IPB C10 54.78cdefg 21.24bcd 6.33fg 47.88g
IPB C14 56.16cdef 11.75hi 7.93bcdef 56.09efg
IPB C15 51.87cdefgh 10.35i 11.17a 82.10bcd
IPB C19 48.60defghi 22.12bc 7.60bcdef 76.39bcde
IPB C20 38.05hi 10.04i 6.40efg 47.88g
IPB C105 73.28ab 22.67b 8.11bcd 93.51ab
IPB C110 84.11a 30.09a 8.98b 106.96a
IPB C126 34.84i 15.41fg 5.38g 52.72fg
IPB C128 66.67bc 20.91bcd 8.94b 85.71abc
IPB C129 39.70fghi 11.88hi 8.29bcd 61.92defg
IPB C130 39.48ghi 13.36hg 8.16bcd 59.34efg
IPB C131 47.43defghi 15.22fg 8.08bcd 66.93cdefg
IPB C132 45.50efghi 15.61fg 8.70bc 71.30bcdef
IPB C133 53.31cdefgh 19.25de 7.02cdef 52.66fg
Keterangan: nilai tengah yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT pada taraf 5%
Pengukuran tinggi dikotomus tanaman dilakukan mulai dari permukaan tanah sampai percabangan pertama. Tanaman yang memiliki tinggi dikotomus yang pendek dapat menyebabkan buahnya bersentuhan dengan mulsa atau terkena
percikan air hujan. Karakter tinggi tanaman dan tinggi dikotomus memiliki arti penting dalam posisi buah terhadap permukaan. Buah dari tanaman yang lebih tinggi dan tidak menyentuh ke tanah dapat mengurangi percikan air dari tanah ke buah yang merupakan salah satu sumber infeksi cendawan. Tinggi dikotomus dan tinggi tanaman genotipe C110 seperti disajikan pada Gambar 6.
Gambar 6. Tanaman di Lapangan. A. Genotipe IPB C110, B. Genotipe IPB C14 Genotipe IPB C110 memiliki tinggi tanaman dan tinggi dikotomus tertinggi dibandingkan dengan genotipe lain. Genotipe ini akan terhindar dari percikan air hujan yang membawa patogen penyebab busuk buah jika dibandingkan dengan genotipe yang memiliki tinggi tanaman dan tinggi dikotomus yang lebih pendek. Sebagai contoh pada Gambar 6 adalah genotipe IPB C14 yang tinggi dikotomus dan tinggi tanamannya lebih pendek dari genotipe IPB C110. Genotipe cabai yang memiliki ukuran tinggi tanaman dan tinggi dikotomus yang terlalu tinggi ada kemungkinan mudah rebah karena tiupan angin.
Nilai tengah diameter batang disajikan pada Tabel 6. Diameter batang cabai berkisar antara 5.38 - 11.17 cm. Genotipe IPB C15 (11.17 cm) memiliki diameter batang paling besar dibandingkan dengan genotipe yang lain. Genotipe IPB C126 (5.38 cm) merupakan genotipe yang memiliki diameter paling kecil dibandingkan dengan genotipe yang lain namun tidak berbeda nyata dengan genotipe IPB C14, IPB C10 dan IPB C20.
Lebar tajuk cabai berkisar antara 47.88 - 106.96 cm (Tabel 6). Genotipe IPB C110 memiliki tajuk paling lebar dibandingkan dengan genotipe yang lain tetapi tidak berbeda dengan genotipe IPB C2, IPB C5a, IPB C105 dan IPB C128. Tajuk tanaman yang semakin lebar akan menyebabkan populasi tanaman per satuan luas semakin sedikit. Menurut Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura dalam Maula (2008), lebar kanopi tanaman cabai berkisar
A
A B
antara 50-90 cm. Genotipe IPB C110 (Gambar 7) merupakan tanaman yang memiliki tajuk yang paling lebar (106.96 cm) diantara genotipe yang lain akan tetapi jika berdasarkan Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, genotipe ini memiliki tajuk yang terlalu lebar. Tajuk yang terlalu lebar selain menyebabkan jumlah populasi tanaman per hektar menjadi semakin kecil, juga akan menyebabkan kesulitan dalam waktu pemanenan terutama jika dalam satu bedeng terdapat dua baris tanaman (doublé row). Tajuk yang semakin lebar juga mempengaruhi iklim mikro terutama kelembaban yang dapat menyebabkan munculnya penyakit terutama yang disebabkan oleh golongan cendawan.
B C A B CC A A B CC A A B CC A A Gambar 7. Bentuk Tajuk. A. Genotipe IPB C110, B. Genotipe IPB C20 C. Genotipe IPB C19
Waktu Berbunga dan Waktu Panen
Nilai tengah waktu berbunga dan waktu panen disajikan pada Tabel 7. Waktu berbunga berkisar antara 25.00 - 34.50 Hari Setelah Tanam (HST). Genotipe IPB C5a menunjukkan waktu berbunga paling cepat dibandingkan dengan genotipe yang lain tapi tidak berbeda dengan genotipe IPB C2, IPB C4a, IPB C10, IPB C14, IPB C20, IPB C105, IPB C126, IPB C128, IPB C129, dan IPB C130. Genotipe IPB C131 memiliki waktu berbunga paling lama.
Waktu panen berkisar antara 71.00 - 80.00 HST. Genotipe IPB C10 memiliki waktu panen yang paling cepat dibandingkan dengan genotipe yang lain tetapi tidak berbeda genotipe IPB C2, IPB C4a, IPB C10, IPB C14, IPB C20, IPB C105, IPB C126, IPB C128, IPB C132, dan IPB C133. Waktu berbunga dan waktu panen menentukan genjah atau dalamnya umur tanaman cabai. Para petani umumnya menginginkan tanaman cabai yang berumur genjah.
Tabel 7. Nilai Tengah Waktu Berbunga dan Waktu Panen pada Genotipe yang Diuji
Genotipe Waktu Berbunga Waktu Panen
(HST) (HST)
IPB C2 25.50de 72.50cde IPB C4a 26.00cde 73.50cde IPB C5a 25.00e 74.50bcde IPB C10 27.00bcde 71.00e IPB C14 26.00cde 71.50e IPB C15 31.50abcd 78.00ab IPB C19 35.00a 78.50ab IPB C20 27.00bcde 72.00de IPB C105 28.00bcde 73.50cde IPB C110 32.00abc 80.00a IPB C126 28.50bcde 73.00cde IPB C128 27.50bcde 73.50cde IPB C129 27.50bcde 76.00abcd IPB C130 28.50bcde 76.50abc IPB C131 34.50a 80.00a IPB C132 31.50abcd 75.00bcde IPB C133 32.50ab 73.50cde
Keterangan: nilai tengah yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT pada taraf 5%
Diameter Buah
Karakter diameter buah cabai yang diukur terdiri dari diameter pangkal buah, tengah buah dan ujung buah. Nilai tengah untuk karakter diameter pangkal buah, tengah buah dan ujung buah disajikan pada Tabel 8. Diameter pangkal buah berkisar antara 5.86 - 21.08 mm. Genotipe IPB C130 memiliki ukuran diameter pangkal buah paling besar dibandingkan dengan genotipe yang lain tapi tidak berbeda dengan genotipe IPB C15, IPB C19 dan IPB C129. Genotipe IPB C110 memiliki ukuran diameter pangkal buah yang paling kecil dibandingkan dengan genotipe yang lainnya.
Nilai tengah untuk diameter tengah buah berkisar antara 5.86 - 15.37 mm. Genotipe IPB C130 memiliki ukuran diameter tengah buah paling besar dibandingkan dengan genotipe yang lain tapi tidak berbeda dengan genotipe IPB C19. Genotipe yang memiliki diameter tengah buah paling kecil adalah IPB C110.
Tabel 8. Nilai Tengah Diameter Pangkal Buah, Tengah Buah, dan Ujung Buah pada Genotipe yang Diuji
Genotipe Diameter Pangkal Buah Diameter Tengah Buah Diameter Ujung Buah (mm) (mm) (mm) IPB C2 13.57de 11.03ed 4.45cdef
IPB C4a 13.54de 10.92ed 4.23cdef
IPB C5a 13.07de 11.58ed 4.94bcde
IPB C10 8.06fg 6.64fg 3.36f
IPB C14 13.27de 12.13dc 4.45cdef
IPB C15 18.19ab 12.14dc 5.39bc
IPB C19 17.79abc 14.48abc 5.11bcd
IPB C20 14.40cde 12.63bcd 7.31a IPB C105 10.60ef 9.17ef 3.72def IPB C110 5.86g 5.86g 3.46ef IPB C126 10.71ef 7.84fg 3.85def IPB C128 14.87bcd 11.92dc 4.30cdef IPB C129 18.98a 15.00ab 6.30ab IPB C130 21.08a 15.37a 6.05ab IPB C131 12.31de 10.49ed 4.02cdef IPB C132 14.85bcd 12.25dc 4.33cdef IPB C133 8.03fg 6.62fg 3.51ef
Keterangan: nilai tengah yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT pada taraf 5%
Nilai tengah diameter ujung buah berkisar antara 3.36- 7.31mm. Genotipe IPB C20 memiliki diameter ujung buah yang paling besar dibandingkan dengan genotipe yang lain sedangkan genotipe yang memiliki diameter ujung buah paling kecil adalah genotipe IPB C10. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 01-4480-1998 (Lampiran 2) untuk tanaman cabai, kriteria mutu cabai berdasarkan diameter pangkal buah dan panjang buah. Genotipe yang memenuhi kriteria mutu I (1.5-1.7 cm) diameter pangkal buah cabai besar yaitu IPB C19, IPB C128, dan IPB C132. Genotipe IPB C2, dan IPB C15 termasuk kriteria mutu II (1.3-1.5 cm). Genotipe yang memenuhi kriteria mutu I (1.3-1.5 cm) diameter pangkal buah cabai keriting yaitu IPB C4a sedangkan genotipe IPB C105 termasuk dalam mutu II (1.0-<1.3 cm).
Bobot per Buah, Tebal Daging Buah dan Panjang Buah
Nilai tengah bobot per buah, tebal daging buah dan panjang buah disajikan pada Tabel 9. Bobot per buah berkisar dari 0.89 - 11.10 g. Genotipe IPB C19 merupakan genotipe yang memiliki bobot per buah paling besar diantara genotipe yang lain tapi tidak berbeda dengan genotipe IPB C130.
Panjang buah genotipe berkisar antara 3.41 - 13.9 cm. Genotipe IPB C4a yang memiliki ukuran buah paling panjang dibandingkan dengan genotipe yang lain tapi tidak berbeda dengan genotipe IPB C2, IPB C19, IPB C110, dan IPB C128. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia No. 01-4480-1998 (Lampiran 2) untuk tanaman cabai, genotipe yang memenuhi mutu I (12-14 cm) panjang buah cabai merah besar yaitu: IPB C2, IPB C15, IPB C128, IPB C130, IPB C131 dan IPB C132. Genotipe IPB C129 termasuk dalam kriteria mutu II (9-11 cm). Genotipe IPB C5a, dan IPB C14 termasuk dalam mutu III (<10 cm). Genotipe yang termasuk mutu I (12-17 cm) panjang buah cabai keriting adalah genotipe IPB C4a, IPB C105 dan IPB C110.
Secara keseluruhan genotipe yang memenuhi kriteria yang sesuai dengan SNI cabai baik itu untuk panjang buah dan diameter pangkal buah khususnya untuk cabai besar yaitu genotipe IPB C128 dan IPB C132 sementara genotipe yang lain hanya memenuhi salah satu kriteria, baik itu panjang buah atau diameter pangkal buah, sebagai contoh genotipe IPB C2 untuk kriteria panjang buah bisa terpenuhi sebagai cabai besar dengan mutu I akan tetapi untuk kriteria diameter pangkal buah belum bisa terpenuhi. Genotipe IPB C2 memiliki diameter pangkal buah 13.57 mm, padahal kriteria diameter pangkal buah cabai besar mutu I adalah berkisar antara 15-17 mm, sehingga jika berdasarkan SNI genotipe IPB C2 tidak termasuk dalam cabai mutu I karena kriteria yang disyaratkan salah satunya tidak terpenuhi.
Tebal daging buah berkisar antara 0.98 - 2.28 mm. Genotipe IPB C130 memiliki tebal daging buah paling besar dibandingkan dengan genotipe yang lain tapi tidak berbeda dengan genotipe IPB C2, IPB C19, IPB C128, IPB C129, dan IPB C132.
Tabel 9. Nilai Tengah Bobot per Buah, Panjang Buah dan Tebal Daging Buah pada Genotipe yang Diuji
Genotipe Bobot per Buah Panjang Buah Tebal Daging Buah
(g) (cm) (mm)
IPB C2 7.01de 12.34abd 2.09abcd IPB C4a 7.76d 13.91a 1.94bcde IPB C5a 3.97g 7.69e 1.73ef IPB C10 0.89i 3.51g 0.98g IPB C14 4.87fg 8.29e 1.75ef IPB C15 5.73ef 11.52bcd 1.79def IPB C19 11.10a 13.18 ab 2.21ab IPB C20 2.44h 3.41g 1.83def IPB C105 4.27g 10.64cd 1.73ef IPB C110 2.523h 12.64 ab 1.14g IPB C126 2.00hi 5.85f 1.23g IPB C128 9.38bc 13.90a 2.03abcde IPB C129 8.32dc 10.37d 2.15abc IPB C130 10.20ab 11.53bcd 2.28a IPB C131 5.99ef 11.52bcd 1.85cede IPB C132 7.89d 11.57bcd 2.26a IPB C133 0.94i 3.59g 1.02g
Keterangan: nilai tengah yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT pada taraf 5%
Bobot Buah Layak Pasar per Tanaman, Bobot Buah per Tanaman dan Jumlah Buah per Tanaman
Nilai tengah bobot buah layak pasar per tanaman, bobot buah per tanaman dan jumlah buah per tanaman disajikan pada Tabel 10. Bobot buah layak pasar per tanaman berkisar antara 75.92- 437.76g. Bobot buah layak pasar yang tertinggi adalah genotipe IPB C15 tapi tidak berbeda dengan genotipe IPB C2, IPB C14, IPB C105, IPB C110, IPB C128, IPB C131, dan IPB C132. Ciri produksi tanaman yang baik ditentukan berdasarkan bobot buah total yang tinggi. Bobot buah layak pasar per tanaman adalah bobot total buah yang berkualitas baik yaitu buah yang bebas dari hama penyakit dan baik penampilan fisiknya. Genotipe IPB C15 memiliki bobot buah layak pasar per tanaman paling tinggi diantara genotipe yang lain. Genotipe IPB C15 ini merupakan tanaman yang paling jarang terkena
penyakit khususnya penyakit antraknosa sehingga jumlah buah yang terserang penyakit menjadi lebih sedikit sehingga bobot buah layak pasar per tanaman menjadi semakin tinggi. Bobot buah per tanaman tinggi namun bobot buah layak pasarnya rendah kemungkinan disebabkan oleh serangan antraknosa dan lalat buah. Pada penelitian ini serangan lalat buah tidak terlalu parah.
Tabel 10. Nilai Tengah Bobot Buah Layak Pasar per Tanaman, Bobot Buah per Tanaman dan Jumlah Buah per Tanaman pada Genotipe yang Diuji
Genotipe
Bobot Buah Layak Pasar per
Tanaman
Bobot Buah per Tanaman
Jumlah Buah per Tanaman
(g) (g) (buah)
IPB C2 321.15abcd 371.49abc 83ef
IPB C4a 264.33ced 303.31abcd 90de
IPB C5a 207.77def 264.79bcde 89de
IPB C10 88.56f 102.69e 161bc
IPB C14 370.85abc 428.66ab 110de
IPB C15 437.76a 469.52a 132cd
IPB C19 292.13bcd 379.34abc 42ef
IPB C20 135.81ef 193.97cde 102de
IPB C105 308.61abcd 359.68abc 208a
IPB C110 295.32abcd 329.96abc 190ab
IPB C126 75.92f 92.90e 78ef
IPB C128 376.96abc 439.11ab 88de
IPB C129 273.95ced 501.91a 67ef
IPB C130 275.21ced 372.34abc 75ef
IPB C131 434.32ab 459.23ab 106de
IPB C132 323.31abcd 335.15abc 67ef
IPB C133 114.71f 132.70de 204a
Keterangan: nilai tengah yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata berdasarkan DMRT pada taraf 5%
Bobot buah per tanaman yang tinggi akan mencerminkan potensi produktivitas tanaman cabai yang tinggi. Bobot buah per tanaman berkisar antara 92.90 - 501.91g. Salah satu cabai non hibrida yang telah dilepas adalah varietas Tanjung-2. Potensi bobot buah per tanaman varietas Tanjung-2 sekitar 0.86 kg (Balai Penelitian Tanaman dan Sayur, 2009). Potensi bobot buah per tanaman genotipe IPB C129 (501.91g) hampir mendekati varietas Tanjung-2.
Genotipe IPB C129 merupakan genotipe yang memiliki karakter bobot buah per tanaman paling tinggi tapi tidak berbeda dengan genotipe IPB C2, IPB C4a, IPB C14, IPB C15,IPB C19, IPB C105, IPB C110, IPB C128, IPB C130, IPB C131 dan IPB C132. Bentuk buah genotipe IPB C129 seperti pada Gambar 8.
Gambar 8. Bentuk Buah. A. Genotipe IPB C129, B. Genotipe IPB C130, C. Genotipe IPB C14
Menurut Kirana dan Sufiari (2007) bahwa untuk meningkatkan bobot buah per tanaman dapat dilakukan dengan meningkatkan jumlah buah per tanaman. Jumlah buah per tanaman berkisar antara 42 – 208 buah. Genotipe IPB C105 merupakan genotipe yang memiliki jumlah buah paling banyak dibandingkan dengan genotipe yang lain tapi tidak berbeda dengan genotipe IPB C110 dan IPB C133.
Genotipe IPB C105 merupakan jenis cabai yang tergolong cabai keriting (Gambar 9). Jumlah buah per tanaman akan mengindikasikan bahwa semakin banyak buah akan berpengaruh terhadap bobot buah per tanaman. Salah satu cara untuk meningkatkan jumlah buah per tanaman adalah dengan menyilangkan tanaman cabai yang memiliki sifat vasiculate. Tanaman cabai yang memiliki sifat
vasiculate ini diharapkan pada tiap ruasnya akan terdapat lebih dari satu buah
cabai sehingga jumlah buah per tanaman akan semakin banyak.
C B
A B CC
A
Gambar 9. Bentuk Buah. A. Genotipe IPB C15, B. Genotipe IPB C129, C.Genotipe IPB C105
C B
A B C
Ketahanan Terhadap Penyakit Antraknosa
Karakter yang diamati pada pengujian ketahanan terhadap penyakit antraknosa ini meliputi kejadian penyakit (KP) dan diameter nekrosis.
Kejadian Penyakit (KP)
Genotipe yang diinokulasi dengan isolat C. acutatum BGR 027 (Tabel 11) menunjukkan kejadian penyakit berkisar antara 45% sampai 100%. Terdapat satu genotipe yang termasuk dalam kriteria rentan yaitu genotipe IPB C15, sementara genotipe yang lain termasuk dalam kriteria sangat rentan.
Genotipe yang diinokulasi dengan isolat C. acutatum PYK 04 menunjukkan kejadian penyakit berkisar antara 2.5% (IPB C15) sampai 67.5% (IPB C19). Terdapat satu genotipe yang termasuk kriteria sangat tahan yaitu IPB C15. Dua genotipe termasuk dalam kriteria tahan yaitu IPB C20 dan IPB C128. Delapan genotipe termasuk dalam kriteria moderat yaitu IPB C4a, IPB C5a, IPB C10, IPB C105, IPB C126, IPB C131, IPB C132, dan IPB C133. Lima genotipe termasuk dalam kriteria rentan yaitu IPB C2, IPB C14, IPB C19, IPB C110, IPB C129, dan IPB C130.
Genotipe yang diinokulasi dengan isolat C. acutatum BKT 05 menunjukkan kejadian penyakit berkisar antara 0% (IPB C15) sampai 77.5% (IPB C110). Terdapat satu genotipe yang termasuk kriteria sangat tahan yaitu IPB C15. Empat genotipe termasuk dalam kriteria moderat yaitu IPB C2, IPB C126, IPB C131, dan IPB C132. Sembilan genotipe termasuk dalam kriteria rentan yaitu IPB C4a, IPB C5a, IPB C14, IPB C20, IPB C105, IPB C128, IPB C129, IPB C132, dan IPB C133. Tiga genotipe termasuk dalam kriteria sangat rentan yaitu IPB C10, IPB C19, dan IPB C110.
Ketahanan cabai terhadap masing-masing isolat C. acutatum sangat beragam. Kriteria ketahanan cabai terhadap isolat C. acutatum BGR 027 hanya dua yaitu sangat rentan (SR) dengan rentan (R), sementara terhadap isolat
C. acutatum PYK 04 terdapat empat yaitu sangat tahan (ST), tahan (T), moderat
(M) dan rentan (R). Kriteria ketahanan cabai terhadap isolat C. acutatum BKT 05 terdapat empat yaitu sangat tahan (ST), moderat (M), rentan (R), dan sangat rentan (SR). Perbedaan kriteria ketahanan ini disebabkan oleh faktor patogen,
inang dan lingkungan. Pengujian untuk ketahanan penyakit antraknosa, faktor lingkungan dan inang telah diseragamkan, sehingga perbedaan kriteria ketahanan disebabkan oleh faktor genetik dari isolat yang digunakan.
Tabel 11. Kriteria Ketahanan Cabai Terhadap Penyakit Antraknosa
Genotipe Kejadian Penyakit (%) BGR 027 Kriteria PYK 04 Kriteria BKT 05 Kriteria IPB C2 100 SR 50 R 37.5 M IPB C4a 100 SR 22.5 M 70 R IPB C5a 100 SR 40 M 72.5 R IPB C10 100 SR 32.5 M 75 SR IPB C14 100 SR 62,5 R 65 R IPB C15 45 R 2.5 ST 0 ST IPB C19 100 SR 67.5 R 80 SR IPB C20 100 SR 17.5 T 52.5 R IPB C105 97.5 SR 37.5 M 65 R IPB C110 100 SR 62.5 R 77.5 SR IPB C126 100 SR 22.5 M 37.5 M IPB C128 100 SR 17.5 T 57.5 R IPB C129 92.5 SR 57.5 R 57.5 R IPB C130 100 SR 42.5 R 40 M IPB C131 97.5 SR 22.5 M 40 M IPB C132 100 SR 37.5 M 65 R IPB C133 100 SR 37.5 M 52.5 R
Keterangan : SR= sangat rentan, R= rentan, M= moderat, T= tahan, ST = Sangat Tahan BGR 027 = isolat C.acutatum Bogor 027
PYK 04 = isolat C.acutatum Payakumbuh 04
BKT 05 = isolat C.acutatum Bukittinggi 05
Berdasarkan Tabel 11, isolat C. acutatum BGR 027 merupakan isolat paling virulen dibandingkan dengan kedua isolat yang lain. Hal ini terlihat dari kriteria ketahanan hanya terdapat dua macam yaitu rentan (R) dan sangat rentan (SR). Genotipe cabai IPB C15 yang pada isolat PYK 04 dan BKT 05 termasuk dalam kriteria sangat tahan (ST) sedangkan pada isolat C. acutatum BGR 027
termasuk rentan (R). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat virulensi isolat
C. acutatum BGR 027 sangat tinggi dibandingkan dengan kedua isolat yang lain.
Virulensi isolat C. acutatum ini berbeda diduga disebabkan karena tempat pengujian yang dilakukan di Bogor. Kedua isolat yang lain merupakan isolat yang berasal dari luar Bogor. Isolat C. acutatum BKT 05 berasal dari Bukittinggi dan
isolat C. acutatum PYK 04 berasal dari Payakumbuh. Perbedaan yang paling mencolok adalah isolat C. acutatum BKT 05 merupakan C. acutatum yang berasal dari dataran tinggi sedangkan isolat C. acutatum BGR 07 merupakan C. acutatum yang berasal dari dataran rendah. Proses pengujian antraknosa ini dilakukan di Bogor yang merupakan daerah dataran rendah. Virulensi isolat C. acutatum BKT 05 diduga menurun karena perbedaan lingkungan.
Pembentukan penyakit sangat ditentukan oleh tiga komponen yang harus selalu berinteraksi. Komponen penyakit tumbuhan yaitu patogen, inang dan lingkungan abiotik dan biotik. Komponen-komponen tersebut dapat berubah-ubah sifatnya, sehingga bila satu komponen saja berubah maka akan mempengaruhi tingkat serangan penyakit pada inangnya (Sinaga, 2000). Isolat C. acutatum BKT 05 merupakan isolat dari dataran tinggi sehingga diduga virulensinya menjadi menurun karena dibawa ke daerah Bogor yang merupakan dataran rendah