• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Geografis

Desa Hutagaol Peatalun berada di Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara. Tofografi daerah umumnya pegunungan, ketinggian tempat berkisar 905 - 1200 m dari permukaan laut dan desa Hutagaol Peatalun mempunyai luas wilayah 1032 ha. Secara geografis desa Hutagaol Peatalun terdiri dari wilayah dataran tinggi dengan suhu 27-31 °C, curah hujan tinggi pada bulan September sampai Desember sedangkan musim kemarau pada bulan Januari sampai Agustus dan sebagai daerah pertanian tanaman pangan yang cukup subur ditanami padi sepanjang tahun.

Secara administratif, batas batas daerah penelitian ini adalah sebagai berikut :

- Sebelah Utara berbatasan dengan : Desa Huta Bulu Mejan - Sebelah Selatan berbatasan dengan : Kabupaten Tapanuli Utara - Sebelah Barat bertasan dengan : Desa Parsuratan

- Sebelah Timur berbatasan dengan : Desa Matio

Desa Hutagaol Peatalun yang memiliki luas wiayah 1302 ha dimana penggunaan lahan adalah persawahan yaitu 220 ha, ladang 438 ha, perkebunan rakyat 298 ha dan 40 ha untuk pemukiman dan prasarana lainnya.

Kondisi Demografis

Desa Hutagaol Peatalun memiliki penduduk sebanyak 1710 Jiwa dengan jumlah kepala keluarga 344 KK. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Distribusi Penduduk menurut Jenis Kelamin di Desa Hutagaol Peatalun Tahun 2010

No. Jenis Kelamin Jumlah (jiwa) Persentase (%)

1 Laki laki 751 43,9

2 Perempuan 959 56,1

Jumlah 1710 100

Sumber : Kantor Kepala Desa Hutagaol Peatalun

Berdasarkan Tabel 5, dapat dilihat bahwa jumlah penduduk laki laki sebanyak 751 jiwa (43,9%) dan perempuan sebanyak 959 jiwa (56,1%).

Dari data yang diperoleh keadaan penduduk menurut umur di Desa Hutagaol Peatalundapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Distribusi Penduduk menurut Umur di Desa Hutagaol Peatalun Tahun 2010 No Kelompok Umur (Tahun) Jumlah Penduduk (Jiwa) Persentase (%)

1 0-4 60 3,5 2 5-9 103 6,0 3 10-14 106 6,2 4 15-19 115 6,7 5 20-24 109 6,4 6 25-29 128 7,5 7 30-34 133 7,8 8 35-39 147 8,6 9 40-44 137 8,0 10 45-49 130 7,6 11 50-54 152 8,9 12 55-59 147 8,6 13 60-64 140 8,2 14 >65 103 6,0 Jumlah 1710 100

Sumber : Kantor Kepala Desa Hutagaol Peatalun

Pada Tabel 6, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk menurut umur yang terbesar adalah 50 - 54 tahun yaitu sebanyak 152 jiwa (8,9%) dan yang terkecil adalah kelompok umur 0 - 4 tahun yaitu 60 jiwa (3,5%). Usia produktif antara 25 - 54 tahun.

Keadaan penduduk menurut mata pencaharian di Desa Hutagaol Peatalun dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Distribusi Penduduk menurut Mata Pencaharian di Desa Hutagaol Peatalun Tahun 2010

No. Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1 Petani 674 87,53

2 PNS 32 4,15

3 Konstruksi 5 0,65

4 Angkutan dan Komunikasi 26 3,38

5 Nelayan - - 6 Buruh 2 0,26 7 Karyawan 4 0,52 8 Jasa 12 1,56 9 Pedagang 15 1,95 Jumlah 770 100

Sumber : Kantor Kepala Desa Hutagaol Peatalun

Berdasarkan Tabel 7, bahwa sebagian besar penduduk Desa Hutagaol Peatalun bermata pencaharian petani yaitu 674 jiwa (87,53%), PNS 32 jiwa (4,15%), konstruksi 5 jiwa (0,65%), angkutan dan komunikasi 26 jiwa (3,38%), buruh 2 jiwa (0,26%), karyawan 4 jiwa (0,52%), jasa 12 jiwa (1,56%), dan pedagang 15 jiwa (1,95%). Keadaan penduduk menurut agama yang dianut di Desa Hutagaol Peatalun dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Distribusi Penduduk menurut Agama yang Dianut di Desa Hutagaol Peatalun Tahun 2010.

No Agama yang dianut Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1 Kristen Protestan 1638 95,79 2 Kristen Katolik - - 3 Islam 72 4,21 4 Hindu - - 5 Budha - - 6 Konghuchu - -

Jumlah 1710 100 Sumber : Kantor Kepala Desa Hutagaol Peatalun

Berdasarkan Tabel 8, diketahui bahwa penduduk Desa Hutagaol Peatalun mayoritas menganut agama Kristen Protestan yaitu sebanyak 1638 jiwa (95,79%) dan Islam 72 jiwa (4,21%).

Keadaan penduduk menurut Tingkat Pendidikan di Desa Hutagaol Peatalun dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Distribusi Penduduk menurut Tingkat Pendidikan di Desa Hutagaol Peatalun Tahun 2010.

No Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase (%)

1 Belum/Tidak Sekolah 682 39,88 2 TK/PAUD 232 13,57 3 SD 248 14,50 4 SMP 138 8,07 5 SMA 163 9,53 6 D1 92 5,38 8 D3 85 4,98 9 S1 70 4,09 Jumlah 1710 100

Sumber : Kantor Kepala Desa Hutagaol Peatalun

Berdasarkan Tabel 9, bahwa pendidikan di Desa Hutagaol Peatalun bervariasi dan dapat digolongkan baik hal ini dapat dilihat dari jumlah penduduk yang sudah banyak lulus perguruan tinggi yaitu S1 70 jiwa (4,09%), D3 85 jiwa (4,98%), D1 92 jiwa (5,38%), SMA 163 jiwa (9,53%), SMP 138 jiwa (8,07%), SD 248 jiwa (14,50%), TK/PAUD 232 jiwa (13,57%), belum/tidak sekolah 682 jiwa (39,88%).

Sarana dan Prasarana Sarana

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan atau lebih ditujukan kepada benda benda yang bergerak seperti komputer dan mesin mesin.

Sarana yang tersedia di Desa Hutagaol Peatalun sangat mempengaruhi perkembangan dan kemajuan masyarakat. Semakin baik sarana maka semakin mudah desa tersebut dijangkau dan semakin cepat perkembangannya.

Adapun sarana yang terdapat di Desa Hutagaol Peatalun dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Sarana di Desa Hutagaol PeatalunTahun 2010.

No Sarana Jumlah (unit)

1 Kendaraan Roda dua 42

2 Kendaraan Roda 3/Becak 12

3 Kendaraan Roda 4 15

4 Kendaraan Roda ≥6 7

Sumber : Kantor Kepala Desa Hutagaol Peatalun

Berdasarkan Tabel 10 sarana yang terdapat di Desa Hutagaol Peatalun terdiri dari : kendaraan roda dua, Kendaraan Roda 3/Becak, Kendaraan Roda 4, Kendaraan Roda ≥6. Hal ini menunjukkan bahwa sarana di Desa Hutagaol Peatalun sudah cukup memadai.

Prasarana

Pengertian Prasarana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses atau lebih ditujukan untuk benda benda yang tidak bergerak seperti gedung , ruang dan tanah.

Prasarana yang tersedia di Desa Hutagaol Peatalun akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan masyarakat desa. Semakin baik prasarana pendukung maka akan semakin mudah desa tersebut untu melakukan perkembangan desa.

Prasarana dapat dikatakan baik apabila dari segi ketersediaan dan pemanfaatannya sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat sehingga dapat mempermudah masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya.

Adapun prasarana yang terdapat di Desa Hutagaol Peatalun dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Prasarana di Desa Hutagaol PeatalunTahun 2010.

No Prasarana Jumlah (unit)

1 Kantor kepala desa 1

2 Gereja 2 3 Musholla 1 4 PAUD 1 5 SD 3 6 Polindes 2 7 Kilang padi 2 8 Kios saprodi 2

Sumber : Kantor Kepala Desa Hutagaol Peatalun

Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa prasarana yang terdapat di Desa Hutagaol Peatalun terdiri dari : Kantor kepala desa, Gereja, Mushollah, PAUD, SD, Polindes, Kilang padi, dan Kios saprodi. Hal ini menunjukkan bahwa prasarana di desa Hutagaol Peatalun sudah memadai.

Perbedaan Produksi Tanaman Padi Sawah Hasil Ubinan pada Petak Perlakuan PHT dan Petak Perlakuan Petani (PP) dalam Pelaksanaan Program Pertanian SLPHT Padi Sawah.

Pelaksanaan Program penyuluhan Pertanian Sekolah Lapangan Pengendalian Hama terpadu (SLPHT) sangat berpengaruh terhadap produksi padi sawah di Desa Hutagaol Peatalun, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir. Kegiatan ini bisa dikatakan berhasil dalam meningkatkan jumlah produksinya.

Produksi padi sawah pada musim panen Tahun 2010 di Desa Hutagaol Peatalun, mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh adanya Program Penyuluhan Pertanian Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu di Desa tersebut. Panen padi tahun 2010 ini rata-rata meningkat 0,51 ton / 0,44 ha (2 kali panen, yaitu sebelum program SLPHT dan Setelah adanya Program SLPHT). Hal ini dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Perbedaan Produksi Tanaman Padi Sawah Hasil Ubinan pada Petak Perlakuan PHT dan Petak Perlakuan Petani (PP) dalam Pelaksanaan Program Pertanian SLPHT Padi Sawah

Luas Lahan (ha) Produksi Padi dengan Perlakuan Petani (ton) Produksi Padi dengan perlakuan PHT (ton) Perbedaan Produksi Padi sawah Total 11,05 66,54 79,30 12,76 Rataan 0,44 2,66 3,17 0,51

Sumber : Diolah dari Lampiran 2

Pada Tabel 12 menunjukkan adanya perbedaan produksi padi sawah dengan perlakuan petani dan dengan perlakuan PHT dalam pelaksanaan program penyuluhan pertanian Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT), yaitu sebesar 0,51 ton / 0,44 ha.

Keberhasilan Program Penyuluhan Pertanian SLPHT

Keberhasilan program penyuluhan pertanian dapat diketahui dari petani bersedia melaksanakan anjuran yang diberikan PPL dan tercapainya target yang telah ditetapkan yaitu peningkatan produksi, pengetahuan petani bertambah, penurunan hama dan penyakit serta terkoordinirnya tanaman.

Suatu inovasi yang dianjurkan PPL dalam Program Penyuluhan Pertanian Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) adalah sebagai berikut :

1. Pemahaman dan keterampilan aspek metode PHT

Petani padi sawah di Desa Hutagaol Peatalun hampir setengah tidak menerapkan anjuran yang diberikan PPL mengenai pemahaman dan keterampilan aspek metode PHT, hal ini dikarenakan anjuran yang diberikan dianggap sudah hal yang biasa oleh petani dan tidak terlalu dipikirkan lagi karena setiap musim tanam petani selalu mengalami serangan hama tikus dan serangga serta penyakit pada padinya. Dari data

yang dikumpulkan maka diperoleh hasil bahwa keberhasilan petani dalam melaksanakan pemahaman dan keterampilan aspek metode PHT sesuai dengan anjuran adalah 52% (13 KK), sedangkan petani yang melakukan pemahaman dan keterampilan aspek metode PHT tidak sesuai anjuran adalah 48% (12KK).

Tabel 13. Jumlah dan Persentase Petani yang Melaksanakan Pengolahan Tanah Sesuai dengan Anjuran.

Uraian Tidak Sesuai

Anjuran Sesuai Anjuran Total

Jumlah (KK) 12 13 25

Persentase (%) 48 52 100

Sumber : Diolah dari Lampiran 3

2. Pemilihan Benih

Pemilihan benih yang diterapkan oleh petani padi sawah di daerah penelitian pada umumnya menggunakan benih unggul bersertifikat yang diberikan pihak pemerintah kepada para petani tetapi masih banyak juga petani yang menggunakan benih sendiri yang dihasilkan dari hasil panen sebelumnya, karena mereka beranggapan bahwa bibit dari pemerintah tidak bagus dan banyak yang sudah kadaluwarsa akibat terlalu lama disimpan dalam gudang.

Dari data yang dikumpulkan diperoleh hasil bahwa petani yang menggunakan benih sesuai dengan anjuran yaitu 52% (13 KK) dan yang menggunakan benih tidak sesuai anjuran yaitu 48% (12 KK).

Tabel 14. Jumlah dan Persentase Petani yang Melaksanakan Pemilihan Benih Sesuai dengan Anjuran.

Uraian Tidak Sesuai

Anjuran Sesuai Anjuran Total

Jumlah (KK) 12 13 25

Persentase (%) 48 52 100

Sumber : Diolah dari Lampiran 3 3. Penanaman

Dari hasil wawancara yang disertai dengan pengamatan ternyata petani di daerah penelitian masih mengandalkan tradisi penanaman yang sudah dijalankan turun temurun yaitu penanaman sembarang jarak, karena mereka sangat percaya dengan sistem tanam yang sudah ada sebelumnya yaitu jarak sembarang, kedalaman penanaman kurang diperhatikan serta jumlah bibit dalam satu lubang pun tidak dihitung. mereka beranggapan bahwa anjuran yang diberikan PPL terlalu rumit dan terlalu buang buang waktu dengan menghitung jumlah bibit setiap lubang, menghitung kedalaman lubang dan jarak harus sama. Namun, setelah adanya kegiatan SLPHT banyak petani yang mengikuti anjuran yang diberikan, hal ini dikarenakan dengan adanya Program penyuluhan SLPHT dapat meningkatkan produksi padi sawah mereka. Dari data yang dikumpulkan diperoleh hasil bahwa petani yang melakukan penanaman sesuai dengan anjuran yaitu 64% (16 KK) dan yang tidak melakukan penanaman sesuai dengan anjuran yaitu 36% (9 KK).

Tabel 15. Jumlah dan Persentase Petani yang Melaksanakan Penanaman Sesuai dengan Anjuran.

Uraian Tidak Sesuai

Anjuran Sesuai Anjuran Total

Jumlah (KK) 9 16 25

Persentase (%) 36 64 100

Sumber : Diolah dari Lampiran 3 4. Pemupukan

Proses pemupukan sebaiknya dilakukan dengan berpedoman pada prinsip tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu, tepat cara, dan tepat tempat. Tepat jenis adalah jenis

pupuk yang digunakan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Tepat jumlah berarti jumlah masing masing pupuk yang digunakan sesuai dengan dosis yang ditentukan.

Dari hasil wawancara dan observasi ternyata pemupukan tanaman padi sawah bisa dibilang sesuai dengan anjuran yang diberikan PPL. Dari data yang dikumpulkan diperoleh hasil bahwa petani yang melakukan pemupukan sesuai dengan anjuran yaitu 64% (16 KK) dan yang tidak melakukan pemupukan sesuai dengan anjuran yaitu 36% (9 KK)

Tabel 16. Jumlah dan Persentase Petani yang Melaksanakan Pemupukan Sesuai dengan Anjuran.

Uraian Tidak Sesuai

Anjuran Sesuai Anjuran Total

Jumlah (KK) 9 16 25

Persentase (%) 36 64 100

Sumber : Diolah dari Lampiran 3

5. Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit yang dilakukan petani di daerah penelitian lebih dari setengah tidak melakukan sesuai dengan anjuran dikarenakan petani masih berpegang pada pengalaman, mengandalkan cara sendiri, dibatasi atas kesanggupan dalam pembelian pestisida serta pemakaian pestisida tidak sesuai waktu serta dosisnya akibatnya banyak tanaman yang terabaikan pertumbuhannya dan akhirnya berdampak pada produksi padi.

Dari data yang dikumpulkan diperoleh hasil bahwa petani yang melakukan pengendalian hama dan penyakit sesuai dengan anjuran yaitu 52% (13 KK) dan yang tidak melakukan pengendalian hama dan penyakit sesuai dengan anjuran yaitu 48% (12 KK).

Tabel 17. Jumlah dan Persentase Petani yang Melaksanakan Pengendalian Hama dan Penyakit Sesuai dengan Anjuran.

Uraian Tidak Sesuai

Anjuran Sesuai Anjuran Total

Persentase (%) 52 48 100 Sumber : Diolah dari Lampiran 3

6. Panen

Dalam hal pemanenan, petani tidak terlalu mempunyai kendala menerapkan anjuran asalkan cuaca yang mendukung serta tersedianya tenaga kerja pada saat akan dilakukannya pemanenan.

Dari data yang dikumpulkan diperoleh hasil bahwa petani yang melakukan pemanenan sesuai dengan anjuran yaitu 96% (24 KK) dan yang tidak melakukan pemanenan sesuai dengan anjuran yaitu 4% (1 KK).

Tabel 18. Jumlah dan Persentase Petani yang Melaksanakan Panen Sesuai dengan Anjuran.

Uraian Tidak Sesuai

Anjuran Sesuai Anjuran Total

Jumlah (KK) 1 24 25

Persentase (%) 4 96 100

Sumber : Diolah dari Lampiran 3 7. Pasca Panen

Dalam hal pasca panen masih ada petani yang tidak melaksanakan anjuran dimana setelah panen hampir semua hasil panennya dijual tanpa melalui proses pengeringan dan penggilingan sehingga hanya sedikit yang di simpan sebagai stok.

Dari data yang dikumpulkan diperoleh hasil bahwa petani yang melakukan pasca panen sesuai dengan anjuran yaitu 83,33% (25 KK) dan yang tidak melakukan pasca panen sesuai dengan anjuran yaitu 16,67% (5 KK).

Tabel 19. Jumlah dan Persentase Petani yang Melaksanakan Pasca Panen Tanah Sesuai dengan Anjuran.

Uraian Tidak Sesuai

Anjuran Sesuai Anjuran Total

Jumlah (KK) 14 11 25

Persentase (%) 56 44 100

Dari uraian diatas dapat disimpulkan secara ringkas petani yang melaksanakan inovasi Program Penyuluhan Pertanian Pengaturan Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) sesuai anjuran pada Tabel 20.

Tabel 20. Persentase Pelaksanaan Program Penyuluhan Pertanian Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) Sesuai dengan Anjuran Pada Petani Padi Sawah di Desa Hutagaol Peatalun, Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir

No Pelaksanaan Program Penyuluhan Pertanian SLPHT

Anjuran Persentase Petani yang

melakukan Anjuran Skor

1 Pemahaman dan keterampilan aspek metode PHT - Mendefenisikan

beberapak aspek ; hama, musuh alami, siklus hidup dan penyakit.

- Menunjukkan cara

pencegahan yang sangat penting, terutama untuk pengendalian tikus serangga dan penyakit. - Dapat mengambil sampel

di lahan yang terserang tikus, serangga hama dan kerusakan tanaman dengan menggunakan cara sebenarnya dan secara pendugaan.

- Mendemonstrasikan gejala keracunan, menghitung dosis pestisida, pemeliharaan alat penyemprot dan cara penyemprotan.

- Mensimulasi perubahan populasi serangga atau patogen yangdisebabkan varietas yang resisten dan pestisida. Lanjutan . . . No Pelaksanaan Program Penyuluhan Pertanian SLPHT

Anjuran Persentase Petani yang

melakukan Anjuran Skor

2 Pemilihan Benih

- Memilih benih yang mempunyai ketahanan terhadap penyakit, dan serangga hama.

- Menggunakan satu jenis benih pada satu lahan yang diusahakan atau bibit

(varietas) yang seragam.

3

Penanaman

- Bibit ditanam pada kedalaman 3-5 cm - Penanaman bibit 3-4

batang/lubang

- Tanam bibit muda umur 15-20 hari

- Tanam sistem legowo

64% (16 KK) 41 4 Pemupukan - Pemakaian pupuk berimbang yaitu : e) Urea = 200 Kg/Ha f) SP36 = 150 Kg/Ha g) KCl = 100 Kg/Ha h) ZA = 75 Kg/Ha Jumlah = 525 Kg/Ha - Pemakaian pupuk tersebut

dapat dicampurkan bersamaan.

- Pemakaian pupuk tersebut harus disesuaikan dengan kondisi perkembangan tanaman dan keadaan fisik tanah.

- Penggunaan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dan Penggunaan Pupuk Cair (PPC) 64% (16 KK) 41 Lanjutan . . . No Pelaksanaan Program Penyuluhan Pertanian SLPHT

Anjuran Persentase Petani yang

melakukan Anjuran Skor

5 Pengendalian Hama dan Penyakit - Pengendalian jasad pengganggu tanaman secara terpadu - Pengendalian berbagai jenis hama dan penyakit

yang akan terjadi pada padi sawah adalah lebih mengandalkan cara pencegahan dibanding pengobatan, yaitu dengan cara pemilihan benih yang bersertifikat dengan mutu yang terjamin.

- Menggunakan pestisida dan racun lainnya apabila populasi hama dan penyakit diatas diatas 25%.

- Pengendalian dan

pemberantasan hama dan penyakit menggunakan racun harus sesuai dengan dosis, cara dan waktu yang tepat. Lanjutan . . . No Pelaksanaan Program Penyuluhan Pertanian SLPHT

Anjuran Persentase Petani yang

6

Panen

- Butir gabah menguning mencapai sekitar 80% dan tangkainya sudah menunduk - Pemanenan dapat dilakukan 100-115 sesuai jenis benihnya - Menggunakan sabit pemotong - Perontokan dilakukan dengan power thresser (alat mesin perontok) yang diberi alas berupa terpal untuk meminimalisasi gabah banyak terbuang.

96% (24 KK) 49

7

Pasca Panen

- Dilakukan pengeringan dibawah sinar matahari sekitar 1-3 hari tergantung intensitas cahaya matahari agar gabah tahan lama disimpan.

- Dilakukan penggilingan dengan mesin alat penggiling

- Penyimpanan beras dilakukan setelah

pengemasan dalam karung plastik.

44% (11 KK) 36

Pada Tabel 20 dapat dikemukakan bahwa penyuluhan pertanian SLPHT di Desa Hutagaol Peatalun berhasil dapat dilihat dari persentase tingginya petani yang melaksanakan anjuran, hal ini dikarenakan inovasi SLPHT yang diberikan PPL kepada petani mempunyai kesamaan dengan kebiasaan sehingga petani tidak terlalu mempunyai kesulitan dalam menerapkannya, petani hanya butuh penyesuaian dan penyempurnaan agar semua anjuran dapat diterapkan sehingga target yang telah ditentukan dapat tercapai.

Pada Tabel 20 diperoleh hasil bahwa keberhasilan petani yang melaksanakan anjuran yang tertinggi adalah panen 96% (24 KK), penanaman dan

pemupukan 64% (16 KK), pemahaman dan keterampilan aspek metode PHT dan pemilihan benih 52% (13 KK), Pengendalian hama dan penyakit 48% (12 KK), dan yang paling rendah adalah pasca panen yaitu 44% (11 KK).

Tabel 21. Kriteria Penilaian Keberhasilan Pelaksanaan Program SLPHT Berdasarkan Skor Jumlah Sampel yang Melaksanakan Anjuran

Jumlah Skor Kategori Jumlah sampel yang melaksanakan anjuran

Persentase (%)

7 Gagal 1 4

8-14 Berhasil 24 96

Sumber : Diolah dari Lampiran 3

Dari Tabel 21 dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan anjuran program SLPHT di Desa Hutagaol Peatalun dikategorikan berhasil terbukti jumlah sampel yang melaksanakan anjuran 24 Orang (96%) sedangkan yang tidak melaksanakan sesuai anjuran 1 orang (4%).

Dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan program penyuluhan pertanian SLPHT dinilai dari sejauh mana petani malaksanakan anjuran dari 7 komponen inovasi SLPHT yang ada. Penilaian keberhasilan pelaksanaan SLPHT dilakukan dengan pemberian skor pada setiap parameter yang diukur terhadap kegiatan petani padi sawah dengan rentang skor 0-14. Inovasi SLPHT yang diberikan kepada petani yaitu Pemahaman dan keterampilan aspek metode PHT, pemilihan benih, penanaman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, panen dan pasca panen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 22. Skor Tingkat Pelaksanan Program Penyuluhan Pertanian SLPHT Sesuai dengan Anjuran Tahun 2010

No Inovasi Skor Harapan Skor Rerata yang Tercapai Persentase Ketercapaian 1 Pemahaman dan keterampilan aspek metode PHT 2 1,52 76 2 Pemilihan Benih 2 1,52 76 3 Penanaman 2 1,64 82

4 Pengendalian Hama dan Penyakit 2 1,64 82 5 Pemupukan 2 1,48 74 6 Panen 2 1,96 98 7 Pasca Panen 2 1,44 72 Jumlah 14 11,20 560 Rataan 2 1,60 80

Sumber : Diolah dari Lampiran 3

Dari Tabel 22 diketahui bahwa belum semua anjuran inovasi SLPHT dapat dilaksanakan petani, persentase ketercapaian yang tertinggi yaitu panen (98%), penanaman dan pengendalian hama terpadu (82%), pemahaman dan keterampilan aspek metode PHT dan pemilihan benih (76%), pemupukan (74%) dan pasca panen (72%) sedangkan dari rataan keseluruhan yaitu 80% yang dapat dikategorikan bahwa pelaksanaan program SLPHT di Desa Hutagaol Peatalun Kecamatan Balige adalah berhasil.

Karakteristik Petani Sampel

Petani sampel yang dimaksud yaitu petani yang mengusahakan padi sawahnya dan telah mengetahui adanya sosialisasi penyuluhan pertanian Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) di Desa Hutagaol Peatalun, dan yang menjadi subjek karakteristik petani yang menjadi sampel dalam penelitian meliputi umur, tingkat pendidikan, lamanya berusaha tani, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan, dan produksi.

Tabel 23. Karakteristik Sosial Ekonomi Petani di Desa Hutagaol Peatalun Tahun 2010. No Karakteristik Sosial Ekonomi Petani Satuan Range Rerata

1 Umur tahun 38-60 48

2 Tingkat Pendidikan tahun 9-12 10

3 Lama Berusahatani tahun 7-32 20

4 Luas lahan ha 0.10-1.00 0.44

5 Jumlah Tanggungan jiwa 2-8 4

Sumber : Diolah dari Lampiran 1

Pada Tabel 23 diketahui bahwa umur petani sampel di Desa Hutagaol Peatalun berkisar antara 38-60 tahun dengan rata rata 48 tahun, tingkat pendidikan petani sampel berkisar antara 9-12 tahun dengan rata rata 10 tahun, lamanya berusaha tani petani sampel berkisar antara 7-32 tahun dengan rata rata 20 tahun, luas lahan petani sampel berkisar antara 0,10-1,00 ha dengan rata rata 0,44 ha jumlah tanggungan keluarga petani sampel berkisar antara 2-8 jiwa dengan rata rata 4 orang, produksi petani sampel berkisar antara 0.82-6.50 ton dengan rata rata 2.66 ton.

Hubungan antara Karakteristik Sosial Ekonomi Petani dengan Keberhasilan Program Penyuluhan Pertanian SLPHT di Daerah Penelitian

Adapun Karakteristik sosial ekonomi petani yang dibahas dalam penelitian ini adalah umur, tingkat pendidikan, lama berusahatani, jumlah tanggungan, luas lahan dan produksi.

Hubungan antara Umur dengan Keberhasilan Pelaksanaan Program Penyuluhan Pertanian SLPHT.

Pada penelitian ini di duga bahwa ada hubungan antara umur dengan keberhasilan pelaksanaan suatu penyuluhan pertanian dengan asumsi bahwa semakin tinggi umur petani maka respon petani untuk melaksanakan anjuran dari penyuluh pertanian lapangan semakin berkurang. Dari hasil analisis diperoleh hasil bahwa tidak ada hubungan antara umur dengan keberhasilan pelaksanaan program SLPHT, lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 24.

Tabel 24. Hubungan antara Umur dengan Keberhasilan Pelaksanaan Program Penyuluhan Pertanian SLPHT.

Uraian Umur Keberhasilan Pelaksanaan

Program Penyuluhan Pertanian SLPHT

Range 38-60 7-14

Rerata 48 11,20

Rs 0,157

Hubungan umur petani dengan keberhasilan pelaksanaan program penyuluhan SLPHT diuji dengan uji korelasi Rank Spearman. Berdasarkan hasil analisis statistik diperoleh nilai Rs = 0,157 artinya korelasi antara umur dengan keberhasilan program adalah sebesar 15,7% sedangkan 84,3% diterangkan oleh faktor lain dan dengan tingkat signifikansi 0,455>0,05 artinya hubungan antara umur dengan keberhasilan program tidak signifikan. Dengan demikian Ho diterima dan H1 tidak diterima, artinya tidak terdapat hubungan antara umur dengan keberhasilan program SLPHT.

Oleh karena itu hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan antara umur dengan keberhasilan program tidak diterima

Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Keberhasilan Pelaksanaan Program Penyuluhan Pertanian SLPHT.

Tingkat pendidikan formal yang dimiliki petani akan menunjukkan tingkat pengetahuan dan wawasan yang luas untuk menerapkan apa yang diperolehnya untuk peningkatan usahataninya. Hasil analisis hubungan antara tingkat pendidikan dengan keberhasilan pelaksanaan program penyuluhan SLPHT diuraikan pada Tabel 25.

Tabel 25. Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Keberhasilan Pelaksanaan Program Penyuluhan Pertanian SLPHT.

Uraian Tingkat Pendidikan Keberhasilan Pelaksanaan Program Penyuluhan Pertanian

SLPHT

Range 9-12 7-14

Rerata 10 11,20

Rs 0,513

Sumber : Diolah dari Lampiran 4

Hubungan tingkat pendidikan petani dengan keberhasilan pelaksanaan program penyuluhan SLPHT diuji dengan uji korelasi Rank Spearman. Berdasarkan hasil analisis statistik diperoleh nilai Rs = 0,513 artinya korelasi antara tingkat pendidikan dengan keberhasilan program adalah sebesar 51,3% sedangkan 48,7% diterangkan oleh faktor

lain dan dengan tingkat signifikansi 0,009<0,05 artinya hubungan antara tingkat pendidikan dengan keberhasilan program signifikan. Dengan demikian Ho tidak diterima

Dokumen terkait