Pelaksanaan Program Penyuluhan
Dalam kenyataan di lapangan, tidak semua program rencana kerja penyuluh pertanian dapat terlaksana dengan baik. Namun setidaknya penyuluh berusaha untuk melakukan yang terbaik kepada petani dan mendampingi mereka dalam menjalankan usahatani nya.
Program penyuluhan yang dilakukan di daerah penelitian ini adalah kunjungan ke kelompok tani yang dilakukan secara teratur dan berkesinambungan. Program kunjungan atau biasa disebut LAKUSUSI (Latihan kunjungan dan supervisi) merupakan program penyuluhan yang wajib dilakukan di setiap desa. Program ini dilakukan secara rutin setiap minggu, biasanya dilakukan pada hari senin. Kunjungan yang dilakukan oleh penyuluh biasanya untuk memantau kegiatan petani. Pertemuan ini biasanya dimanfaatkan petani untuk menyampaikan masalah-masalah yang sedang mereka hadapi dilapangan. Dengan adanya penyuluh, diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah pertanian yang sedang dihadapi di lapangan. Adapun pelatihan yang telah dilakukan di daerah penelitian adalah:
1. Program pembuatan pupuk kompos dengan EM4
Kelangkaan pupuk menjadi salah satu masalah yang dihadapi petani di daerah penelitian. Oleh karena itu penyuluh mengadakan pelatiahan pembuatan pupuk kompos dengan EM4. Selama ini masih banyak petani yang belum memahami cara pembuatan pupuk kompos yang baik dan masih menggunakan pupuk kimia untuk tanaman mereka. Dengan adanya pelatihan pembuatan pupuk kompos dengan EM4 ini petani dapat membuat pupuk organik yang baik yang tentunya jauh lebih baik digunakan untuk tanaman mereka.
2. Program pemanfaatan urine kambing untuk pupuk cair
Menurut penelitian yang telah didapat, ternyata urine kambing mengandung zat yang baik yang dapat digunakan sebagai pupuk cair untuk tanaman. Didalam urine kambing mengandung zat auxin dan giberalin yang diperlukan oleh tanaman untuk merangsang pertumbuhan tunas dan pucuk muda. Oleh karena itu penyuluh melakukan pelatihan kepada petani untuk memanfaatkan urine kambing untuk dijadikan pupuk pelengkap cair. Dan hasilnya petani telah mengunakannya untuk tanaman mereka.
3. Program pelatihan pengaturan air padi sawah
Selama ini masih banyak petani yang belum memahami tentang sistem pengaturan air yang baik utuk padi sawah mereka. Dalam pelatihan ini penyuluh mengajarkan pengaturan air sistem intermintan ( 2,5 – 3 – 2 – 2 ) yang artinya 2,5 cm tinggi genangan air – 3 hari air dimasukkan – 2 hari air diberhentikan dan kemudian dibiarkan macak-macak – 2 minggu sebelum panen air dikeringkan. Setelah mengikuti pelatihan ini petani akhirnya mengerti dan kemudian mengaplikasikannya pada lahan sawahnya.
4. Program pelatihan panen dan pasca panen padi sawah
Dalam kegiatan ini petani diajarkan tentang kriteria padi yang siap panen. Padi yang siap panen yaitu memiliki kriteria 80% padi telah menguning. Dalam kegiatan ini penyuluh juga menganjurkan petani untuk menggunakan sabit yang bergerigi pada saat pemanenan. Sabit yang bergerigi digunakan agar bulir padi yang dipanen tidak banyak yang rontok. Setelah mengikuti pelatihan, petani telah memahami dan mengaplikasikannya pada tanaman padi mereka.
5. Program budidaya tanaman jeruk nipis
Dalam pelatihan ini, petani diajarkaan tentang teknik menanam jeruk nipis yang dapat menghasilkan produksi yang baik. Penyuluh mengajarkan teknik penanaman jeruk nipis dengan cara cangkok dan okulasi. Bibit dari hasil mencangkok dapat menghasilkan produksi tanaman jeruk nipis yang lebih baik. Dengan mengikuti pelatihan ini petani memperoleh pengetahuan tentang cara mencangkok dan mengokulasi serta telah mengaplikasikannya pada tanaman jeruk nipis mereka.
6. Program pengendalian hama dan penyakit
Hama dan penyakit merupakan salah satu masalah yang mengganggu dalam pertanian. Hama penyakit dapat menyebabkan kerugian bagi petani kaerna hasil tani mereka banyak yang cacat atau bahkan gagal panen. Masih banyak petani yang belum mengetahui cara untuk membasmi hama dan penyakit tersebut. Oleh karena itu penyuluh memberikan informasi tentang hama penyakit yang menyerang tanaman mereka dan juga memberikan penjelasan tentang cara pencegahan dan pengendalian tanaman yang terserang hama
penyakit. Dengan demikian petani dapat mengenali dan mencegah hama penyakit yang menyerang tanaman mereka.
Dari program-program penyuluhan diatas didapatkan bahwa program 3, 4 dan 6 merupakan program yang berasal dari usulan petani (bottom up). Program-program lain yang dilakukan merupakan perpaduan dari Program-program yang diberikan penyuluh kepada petani dengan melihat potensi daerah yang ada.
Keberhasilan Program Penyuluhan di WKPP Namorih dan Bintang Meriah.
Model CIPP merupakan model yang berorientasi kepada pemegang keputusan. Model ini membagi evaluasi dalam empat macam, yaitu : evaluasi konteks (melayani keputusan perencanaan), evaluasi input (untuk menolong mengatur keputusan menentukan sumber-sumber yang tersedia, alternatif-alternatif yang diambil, serta prosedur kerja untuk mencapai tujuan yang dimaksud), evaluasi proses (membantu keputusan sampai sejauh mana program telah dilaksanakan), evaluasi produk (yaitu meninjau kembali keputusan).
Keempat macam evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) tersebut dapat divisualisasi ke dalam aspek penilaian pelaksanaan Program Penyuluhan di daerah penelitian pada tabel di bawah ini.
Tabel 11. Pelaksanaan Program Penyuluhan di Kecamatan Pancur Batu
NO Model
Evaluasi CIPP
Indikator Kinerja
1. Context (Konteks) 1. Program Penyuluhan disusun berdasarkan kebutuhan petani
2. Program Penyuluhan dibuat untuk meningkatkan hasil produksi petani.
3. Tersedianya sarana dan prasarana pendukung yang sesuai dengan kebutuhan petani.
2. Perencanaan program penyuluhan pertanian, penyediaan bibit unggul dan cara pengendalian hama. 3. Pemberian informasi mengenai teknologi dan informasi
sesuai program.
3. Process (proses) 1. Terlaksananya program penyuluhan pertanian, penerapan benih unggul dan pengendalian hama tanaman.
2. Frekuensi Pelaksanaan pengawasan oleh penyuluh. 3. Frekuensi pelatihan yang berkaitan dengan program
yang sedang berjalan.
Sambungan Tabel 11. Pelaksanaan Program Penyuluhan di Kecamatan Pancur Batu
4 Product (Produk) 1. Peningkatan produksi pada usaha tani.
2. Tingkat peneraapan teknologi yang diberikan penyuluh kepada petani.
3. Kemampuan mengolah usaha tani
Dari tabel 11 dapat dilihat penilaian pelaksanaan Program Penyuluhan dapat diukur menurut indikator aktivitas mulai dari konteks, input, proses hingga produk. Berdasarkan indikator penilaian pelaksanaan yang telah diuraikan sebelumnya maka dapat diketahui hasil transformasi pelaksanaan program penyuluhan di daerah penelitian yang dapat dilihat pada tabel.
Tabel 12. Hasil Transformasi Nilai Pelaksanaan Program Penyuluhan Pertanian di Kecamatan Pancur Batu
No Uraian Indikator Nilai yang
diharapkan Nilai yang diperoleh Persen Ketercapaian 1 Context (konteks) 3-9 7.5 82.59 2 Input (masukan) 3-9 7.66 84.81 3 Process (proses) 3-9 7.2 80 4 Product (produk) 3-9 7.53 83.70
Total nilai yang diharapkan : 12-36 Total nilai yang diperoleh : 28,98 Total persentase ketercapaian : 80,05%
Dari tabel 12, dapat diketahui bahwa untuk indikator kinerja berdasarkan pada konteks (context) didapatkan nilai yang diharapkan pada kisaran 3-9 dan nilai yang diperoleh sebesar 7.5. Dengan persentase ketercapaiaan sebesar 82.59 %, maka dapat diketahui bahwa dalam perencanaan program penyuluhan ini di dalam konteks (context) dapat ditingkatkan kinerjanya sebesar 17.41 % lagi (sisa dari 82.59 %) agar mencapai nilai yang optimal.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, dapat dilihat bahwa konteks (context) pelaksanaan program penyuluhan di daerah penelitian belum mencapai nilai maksimal, tetapi telah dapat dikatakan berjalan baik karena sudah memperoleh nilai yang memuaskan. Untuk mencapai nilai maksimal, dinas pertanian perlu lebih memperhatikan kebutuhan para petani dalam menyusun suatu program.
Dari tabel 12, dapat diketahui bahwa untuk indikator input (masukan) didapatkan nilai yang diharapkan pada kisaran 3-9, dan nilai yang diperoleh sebesar 7.66, dengan persentase ketercapaian sebesar 84.81. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, ketercapaian nilai indikator masukan (input) belum mencapai nilai maksimal karena masih terdapat beberapa kekurangan dalam pelaksanaan indicator input yaitu :
- Belum semua petani merasa dilibatkan dan diberdayakan langsung didalam pengelolaan program penyuluhan.
- Belum optimalnya perencanaan program dan pemberian informasi yang sesuai dengan program penyuluhan..
Dari tabel 12, dapat diketahui bahwa untuk indikator pelaksanaan program berdasarkan Process (proses) didapatkan nilai yang diharapkan pada kisaran 3-9
dan nilai yang diperoleh sebesar 7.2, dengan persentase ketercapaian sebesar 80%. Maka dapat diketahui bahwa penyuluh di daerah penelitian dapat meningkatkan kinerjanya dalam indikator proses sebesar 20 % persen lagi agar mencapai nilai yang maksimal.
Dari hasil penelitian yang diperoleh di lapangan, program penyuluhan yang dilaksanakan di daerah penelitian belum mencapai nilai optimal dimana dapat dilihat dari pelaksanaan program yg belum berjalan dengan baik. Selain itu juga kurangnya pengawasan dan pelatihan yang dilakukan oleh penyuluh di daerah penelitian.
Indikator lainnya dalam pelaksanaan program penyuluhan adalah Product
(produk). Dalam bagian ini dapat dilihat hasil akhir dari semua tahapan yang dilaksanakan dalam pelaksanaan program penyuluhan. Dari tabel 12, dapat kita lihat bahwa nilai yang diperoleh pada tahapan produk ini mencapai 7.53 dengan persentase ketercapaian sebesar 83.70 %. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan program penyuluhan didaerah penelitian sudah berjalan dengan baik walaupun belum mencapai nilai yang maksimal.
Kemampuan petani dalam mengolah usaha tani juga sudah mengalami perubahan dan dengan diterapkan nya teknologi yang diberikan oleh penyuluh, petani dapat meningkatkan produksi usaha tani mereka.
Dari tabel 12 diatas, dapat dilihat bahwa proses pelaksanaan program penyuluhan di WKPP Namorih dan Bintang Meriah dapat digolongkan pada kategori berhasil, dengan nilai keberhasilan 28.98 dengan persentase ketercapain program sebesar 80.05 %.
Pengaruh Jarak WKPP (Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian) terhadap pelaksanaan program penyuluhan
Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap penyuluh pertanian lapangan (PPL) diperoleh bahwa tidak ada pengaruh jarak WKPP (Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian) terhadap pelaksanaan program. Penyuluh sebagai pendamping petani harus tetap menjalani tugasnya meskipun dia ditempatkan di daerah yang terpencil sekalipun. Meskipun jarak WKPP yang ditempuh oleh penyuluh sangat jauh, penyuluh tetap menjalankan tugasnya untuk tetap membantu petani untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi.
Pada tabel berikut ini dapat dilihat data jarak WKPP (Wilayah Kerja Penyuluh Pertanian) dari kantor kecamatan dan jadwal kunjungan penyuluh di Namorih dan Bintang Meriah.
Tabel 13. Data Jarak WKPP dan Jadwal Kunjungan Penyuluh
Namorih Bintang Meriah
Jarak WKPP (Wilayah Kerja Penyuluh
Pertanian) dari kantor Kecamatan
± 1 km (terdekat) ± 7 km (terjauh)
Jadwal kunjungan - senin dan selasa: kelompok tani bunga ncole I dan II - rabu: posko kecamatan
- kamis: kelompok tani ulih latih dan aronta
- jumat: kelompok tani baru
- senin: kelompok tani tutus dan ola kisat
- selasa: kelompok tani ate jadi
- rabu: posko kecamatan - kamis: kelompok tani tunas dan sugau
- jumat: kelompok tani teneras
Sumber : Kantor Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) tahun 2010
Masalah yang dihadapi penyuluh biasanya adalah masalah yang dihadapi oleh petani, karena masalah penyuluh salah satunya timbul dari petani, apa kendala dan hambatan petani itu merupakan salah satu dari masalah penyuluh. Dari hasil wawancara yang dilakukan kepada penyuluh dan petani,terdapat beberapa masalah yang dihadapi di daerah penelitian. Adapun masalah tersebut adalah sebagai berikut:
PETANI
1. Kelangkaan pupuk dan bibit unggul. Sulitnya memperoleh pupuk dan bibit unggul di kios-kios sangat dikeluhkan oleh petani. Sehingga saat musim tanam tiba petani harus mencari pupuk sampai keluar daerah, dan kalaupun ada harganya sangat mahal dan merugikan petani
2. Lemahnya permodalan juga merupakan salah satu masalah yang dihadapi petani mengingat semakin meningkatnya harga-harga input usahatani (pupuk, pestisida, benih dan upah tenaga kerja).
3. Hama dan penyakit yang menyerang usaha tani. Meskipun petani sudah menggunakan obat-obatan seperti yang dianjurkan oleh penyuluh, namun tidak gampang untuk memberantas hama dan penyakit yang menyerang tanaman petani. Hal ini yang membuat produkrivitas dan kualitas menurun.
4. Rendahnya harga hasil produksi pertanian. Harga produk pertanian yang rendah disebabkan karena panjangnya rantai tata niaga dan juga disebabkan oleh sikap para agen yang menentukan harga sembarangan.
PENYULUH
Kurangnya kesadaran petani untuk menerima teknologi yang diberikan penyuluh kepada mereka. Sehingga walaupun program telah diberikan tetapi tidak dijalankan sesuai dengan anjuran sehingga tidak tercapai perubahan seperti yang diharapkan.
Upaya yang Dilakukan Dalam Mengatasi Masalah di Daerah Penelitian
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelangkaan pupuk bersubsidi dan juga benih unggul adalah dengan melakukan pengajuan permohonan pupuk bersubsidi melalui GAPOKTAN kepada dinas pertanian dibantu oleh penyuluh dan BPP. Untuk mengatasi permodalan yang dialami petani, sebaiknya petani mengelola dana PUAP yang telah diberikan oleh pemerintah dengan baik atau juga dengan meminjam dana kepada Bank atau lembaga keuangan yang ada di daerah penelitian.
Upaya untuk menyelesaikan masalah hama dan penyakit yang menyerang tanaman, sebaiknya petani mengikuti anjuran yang telah diberikan oleh penyuluh dan lebih giat untuk mencari informasi tentang cara mencegah timbulnya hama dan penyakit yang menyerang tanaman mereka.
Untuk mengatasi masalah rendahnya harga hasil produksi pertanian adalah dengan meningkatkan mutu produk pertanian sehingga menghasilkan produk yang unggul. Untuk menyadarkan minat petani agar mau menerima teknologi anjuran yang diberikan sebaiknya penyuluh pertanian melakukan pendekatan kepada petani melalui pertemuan-pertemuan untuk membahas masalah usaha tani dan memberikan pandangan bagi petani bahwa program yang diberikan
dimaksudkan untuk dapat meningkatkan produksi pertanian dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik dan dapat meningkatkan pendapatan petani.